Dibiarkan Rusak Bertahun-tahun, Jalan di Jepara Ini Berubah Jadi Wisata Jeglongan Sewu

MuriaNewsCom, Jepara – Selain terkenal dengan wisata pantai yang sangat indah, di Kabupaten Jepara, tepatnya di Kecamatan Nalumsari ternyata ada wisata jeglongan sewu loooh..

Ya, kata jeglongan sewu muncul dari warga sekitar yang kesal dengan sikap pemerintah daerah yang tidak kunjung memperbaiki jalan yang menghubungkan antara Desa Tunggul Pandean dengan Nalumsari. Jalan tersebut dibiarkan rusak lebih dari tiga tahun hingga membuat kekesalan warga memuncak.

Iin Wulandari (25), warga Tunggul Pandean mengaku sejak tahun 2014 jalan tersebut sudah rusak. Bahkan, kini semakin parah dan kubangan jalan semakin dalam dan lebar.

“Rusaknya semakin parah, tidak ada yang bisa dipilih, hingga membuat kami kesal dan membuat istilah jeglongan sewu,” ungkapnya.

Menurut Iin, selain ditempeli tulisan “selamat datang di wisata jeglongan sewu” jalan rusak sepanjang dua kilometer lebih itu juga ditanami pohon pisang dan pohon2 lainya. “Di jalan itu sampai ditanami pohon pisang, bahkan pisangmya tumbuh subur dan sampai berbuah,” jelasnya.

Dia berharap, ada perhatian dari Pemerintah daerah Kabupaten Jepara untuk segera memperbaiki jalan tersebut sehingga aktivitas warga lancar dan ekonomi kembali pulih.

“Saya berharap pemerintah segera memperbaiki jalanya jadi semua aktifitas warga kembali normal,” pinta guru SMK tersebut.

Seorang warga melintas di jalan rusak di Tunggul Pandean Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Zainal (27), warga Nalumsari juga mengungkapkan hal yang sama. Sejak jalan tersebut rusak, aktifitas antara dua desa tersebut lumpuh. “Harusnya Desa Tunggul ini dekat dengan Nalumsari, tapi karena jalanya rusak parah jadinya malas lewat jalan tersebut dan akhirnya memutar cukup jauh,” katanya.

Awalnya, tambah Zainal, saat kerusakanya masih sedikit, para warga iuran untuk membeli sertu untuk menguruk dan menutup jalan2 yang berlubang. Namun karena tidak perbaikan dari pemerintah, lama-lama warga kesal dan membiarkan jalan tersebut.

“Saya heran, apa bupati atau anggota DPRD kabupaten Jepara ini tidak pernah dengar? Atau tidak pernah ada aduan dari pemerintah kecamatan kalau ada jalan yang rusaknya sangat parah bertahun-tahun seperti ini,” tanyanya.

Dia berharap pemerintah segera memperbaikinya dan aktifitas warga tidak terganggu. “Kami sangat berharap jalanya segera diperbaiki agar warga tidak terganggu perjalananya. Apalagi saat hujan atai setelah hujan, sering pengendara motor jatuh karena terperosok dikubangan yang cukup dalam itu,” kata Zainal.

Editor: Supriyadi

Kelapa Park, Wahana Wisata Anyar di Jepara 

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara punya wahana wisata baru, yakni kelapa park. Berlokasi di Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, wana wisata itu menawarkan petualangan ala-ala alam liar dengan menggunakan kendaraan segala medan atau All Terrain Vehicle (ATV), di antara 2.000 pohon kelapa yang tumbuh disana.

Selain itu, adapula fasilitas flying fox dan burma bridge. Untuk track ATV disediakan jalur sepanjang 3,4 kilometer dan dibagi dalam dua kategori, yakni anak-anak dan dewasa.

Direktur utama Perusda Aneka Usaha Rifki Rosdani mengatakan, Kelapa Park merupakan pengembangan dari unit usaha pertanian, yakni budidaya kelapa. Dengan 2000 pohon, ada sekitar 300 butir kelapa siap panen setiap harinya.

“Saat ini di lokasi ini juga telah berdiri resto sederhana berkonsep alam, gardu pandang dan fasilitas yang tersebut diatas. Ini baru awal, nantinya kami kembangkan lagi dengan banyak fasilitas pendukung berupa penginapan,” kata Rifki.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Jepara Sholih menuturkan, wahana baru ini dapat memberikan kontribusi positif bagi daerah. Selain itu, pembangunan Kelapa Park sesuai visi Bupati-Wakil Bupati Jepara yang akan mengembangkan sektor pariwisata dalam lima tahun kedepan.

“Sebagai BUMD, Perusda juga dituntut menambah PAD. Potensi-potensi yang ada di daerah harus terus digali melalui unit usaha yang ada,” tegas Sholih.

Editor: Supriyadi

Liburan, Situs Gong Perdamaian Dunia di Jepara Banyak Dikunjungi Pelancong

Pengungjung bersiap mengambil foto dengan latar belakang Gong Perdamaian Dunia, yang ada di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji-Jepara, Senin (25/12/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Situs Gong Perdamaian Dunia (GPD) di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji-Jepara dikunjungi ratusan orang, dilibur Hari Natal. Tercatat ada 300 lebih pelancong yang datang ke tempat tersebut.

Dwi Hartono (47) satu diantaranya. Warga Peterongan, Kota Semarang itu mengaku baru kali pertama menginjakan kaki di GPD. Ia mengaku memanfaatkan hari libur untuk berwisata di Jepara. 

“Ini ada keperluan di rumah saudara saya yang ada di Desa Kerso, Kecamatan Kedung. Mumpung liburan, saya bersama keluarga datang kesini, pengen lihat. Kan ada di google juga,” kata dia, Senin (25/12/2017).

Ia mengaku sudah sering berkunjung ke tempat wisata pantai di Jepara. “Kalau pantai sudah sering, ini kami coba berwisata ke sini. Tempatnya tenang, namun tidak terlalu luas,” urainya.

Di lokasi tersebut terdapat tiga gong berukuran besar, yang dipasang pada tiga bangunan terpisah. Selain itu ada tempat penyimpanan sampel tanah dari berbagai belahan dunia. 

Kebanyakan turis memanfaatkan telepon pintar untuk mengambil foto-foto berlatar belakang gong. 

Arifin, pengurus GPD mengatakan sejak hari Sabtu (23/12/2017), pengunjung sudah mulai rame. Setiap hari, rerata ada 150 pengunjung yang datang.

“Kalau dua hari yang lalu jumlah pengunjungnya sekitar 300 orang. Kalau hari ini ya sekitar 150 pengunjung. Memang kalau liburan seperti ini wisatawan ramai,” tuturnya.

Gong Perdamaian Dunia sendiri adalah gong atau bende (alat musik dari perunggu atau besi), yang dimiliki oleh Djuyoto Suntani. Ia adalah Presiden Komite Perdamaian Dunia (World Peace Committee). Saat ini, GPD yang berasal dari Desa Plajan itu, telah ditempatkan di 202 negara.‎

Editor: Supriyadi

Hati-hati, Kawasan Wisata Muria Sering Macet

Kepadatan lalu lintas nampak di kawasan Wisata Colo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi para masyarakat yang hendak mengisi liburan ke kawasan Pegunungan Muria, haruslah berhati-hati. Karena, sepanjang perjalanan ke kawasan atas Kudus itu bakal menjumpai kepadatan lalulintas.

Nomi P, Warga Desa Colo Kecamatan Dawe mengatakan, kemacetan di kawasan atas tidak dapat dijadwalkan. Yang jelas, beberapa kali dalam sehari selalu terjadi kemacetan yang cukup parah disana.

“Seperti halnya semalam, Minggu (24/12/2017). Untuk menempuh jarak sekitar tiga kilometer atau dari portal masuk hingga rumah membutuhkan waktu hingga tiga jam,” katanya kepada MuriaNewsCom

Selain itu, kata dia, kemacetan kembali terulang lagi tadi pagi, Senin (25/12/2017) sekitar pukul 05.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB. Kepadatan lalulintas kembali terulang dengan banyaknya kendaraan yang menuju ke kawasan Wisata Colo.

Menurut dia, mendekati liburan panjang, banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk berlibur. Dan Pegunungan Muria atau obyek Wisata Colo termasuk lokasi wisata yang ramai dikunjungi.

Untuk itu, dia berharap adanya petugas khusus yang membantu lalu lintas agar tetap tertib. Sebab dia menduga penyebab kemacetan tak hanya banyaknya kendaraan yang datang. Melainkan juga dari asal selip kendaraan.

Kapolsek Dawe AKP Suharyanto membenarkan adanya kemacetan beberapa kali dikawasan atas. Namun dia memastikan kemacetan tak akan lama karena petugas langsung turun saat ada info kemacetan.

“Kami selalu siagakan petugas untuk mengatur lalulintas di kawasan Colo. Karena, saat seperti ini memang paling rawan tersendat dengan banyaknya peziarah yang datang,” ungkap dia.

Dia menyebutkan, kemacetan biasanya datang saat kendaraan peziarah jenis bus berdatangan. Biasanya tibanya saat sore atau malam hari.

Editor: Supriyadi

Asyik! Objek Wisata WKO Bakal Direlokasi ke Tempat Baru, Ini Bocorannya

Suasana Waduk Kedungombo Kabupaten Grobogan, Kamis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Objek wisata Waduk Kedungombo (WKO) yang sudah ditutup sejak Minggu (3/9/2017) lalu dipastikan tidak akan dibuka lagi. Namun, para pengunung wisata tidak perlu khawatir. Soalnya, akan disiapkan lokasi baru atau relokasi khusus bagi wisatawan supaya bisa tetap menikmati panorama WKO.

“Soal wisata sudah kita pikirkan bersama. Nanti akan dilakukan relokasi,” terang Kepala Dinas Pusdataru Jateng Pasetyo Budie Yuwono, usai membuka sosialisasi rencana tindak darurat (RTD) yang dilangsungkan di Waduk Kedungombo (WKO) di Desa Rambat, Kecamatan Geyer, Grobogan, Kamis (16/11/2017).

Menurutnya, relokasi untuk wisata rencananya akan ditempatkan pada lahan Perhutani di sebelah barat lokasi lama. Pihaknya, sudah mengadakan pembicaraan dengan Perhutani terkait relokasi dan mendapatkan lampu hijau.

“Soal relokasi tempat wisata ini sudah disiapkan supaya masyarakat bisa menikmati Waduk Kedungombo,” katanya.

Selain Perhutani, pembahasan relokasi juga akan melibatkan beberapa pihak lainnya. Seperti dari Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana dan pemkab setempat.

Seperti diberitakan sebelumnya, salah satu alasan penutupan objek wisata itu disebabkan adanya pemeriksaan yang dilakukan pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah terhadap pengelolaan WKO.

Pihak Kejati melakukan pemeriksaan setelah adanya pengaduan masyarakat terkait penarikan retribusi terhadap pengunjung dan pedagang. Meski ada karcis dan kuitansi, penarikan retribusi yang dilakukan selama ini, diduga sebagai pungutan liar karena tidak ada dasar hukumnya. Dalam penanganan aduan itu, pihak Kejati juga melibatkan Kejaksaan Negeri Grobogan untuk melakukan kajian.

Editor : Akrom Hazami

Kesadaran Rendah, Tempat Wisata di Jepara Masih Banyak Sampah

Kegiatan pungut sampah yang dilakukan di Pantai Semat, Kecamatan Tahunan, Minggu (29/10/2017). (GPS Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara kondang dengan berbagai spot wisatanya, namun pada sebagian tempat permasalahan sampah masih saja ditemukan. Catatan Komunitas Gerakan Pungut Sampah (GPS), mereka seringkali menemukan sampah dilokasi wisata, bahkan mencapai puluhan hingga ratusan kilogram. 

“Terakhir kali aksi pungut sampah dilaksanakan di Pantai Semat. Hasilnya kami memungut sampah sekitar 50 kilogram. Sampah tersebut terserak hampir disepanjang areal tersebut,” kata Kemal Eko, seorang pegiat GPS Jepara, Selasa (31/10/2017). 

Selain di Pantai Semat, kegiatan GPS yang telah dimulai sejak 2015 tersebut juga menyasar lokasi lain. Hasilnya sama, pelancong ataupun warga sekitar acuh terhadap sampah yang mereka hasilkan. Seperti di Pantai Teluk Awur dan Pantai Kartini. 

“Di Pantai Kartini kami melakukan kegiatan pembersihan sebanyak dua kali. Hasilnya sama, masih banyak sampah yang ditemukan. Di tempat pariwisata lain yakni Hutan Karet yang ada di Kelet, sampah wisatawan yang ditemukan bahkan mencapai satu truk, setelah hari raya Idul Fitri kemarin. Sampah dihasilkan oleh mereka yang berwisata tapi meninggalkan begitu saja sampahnya,” imbuhnya. 

Selain rendahnya kesadaran pelancong, masih minimnya fasilitas tempat sampah. Hal itu menyebabkan wisatawan menjadi malas untuk mengurus sampah yang dihasilkan. 

Untuk mengurangi produksi sampah diperlukan intervensi dari pemerintah. Campur tangan itu, menurut Kemal, adalah upaya untuk memberikan contoh. 

“Turun tangan ikut mengajak warga dalam menjaga kebersihan itu penting. Seperti halnya walikota Bandung yang ikut ber-GPS. Ajak warga dalam kegiatan bersih-bersih tiap minggu sekali,” tutup Kemal. 

Editor: Supriyadi

Taman Bajomulyo Juwana Dikembangkan Jadi Objek Wisata

Taman Bajomulyo yang saat ini mulai dikembangkan sebagai objek wisata di Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Taman Bajomulyo yang terletak Desa Bajomulyo RT 2 RW 3, Kecamatan Juwana saat ini mulai dikembangkan sebagai objek wisata. Taman tersebut awalnya dibangun sebagai ruang terbuka hijau (RTH).

Sekretaris Desa Bajomulyo Supriyadi mengatakan, pembangunan Taman Bajomulyo mendapatkan kucuran dana dari pemerintah pusat untuk membangun RTH. Pembangunan tersebut diprioritaskan untuk daerah kumuh.

“Desa Bajomulyo termasuk daerah kumuh, sehingga mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat supaya tidak kumuh lagi, termasuk pembangunan ruang terbuka hijau yang kami namakan Taman Bajomulyo,” ujar Supriyadi, Rabu (18/10/2017).

Meski fungsi awalnya sebagai ruang terbuka hijau, tetapi pihaknya akan mengelola sebagai objek wisata. Rencananya, pengelolaan Taman Bajomulyo akan diserahkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dia optimistis, Taman Bajomulyo bisa menjadi salah satu objek wisata andalan di Juwana. Pasalnya, ada tempat wisata penunjang lainnya seperti Pulau Seprapat dan TPI Juwana.

“Sementara ini baru ada taman bermain anak-anak, jogging track dan tempat nongkrong. Ke depan, kami akan terus kembangkan,” tuturnya.

Erina Septi Wulandari, salah pengunjung mengaku cukup terkejut dengan adanya Taman Bajomulyo. Sebab, Taman Bajomulyo awalnya lahan kosong dengan semak belukar.

“Sangat menarik, karena Bajomulyo yang panas dan semrawut kini punya taman. Saya sudah beberapa kali ke sini untuk santai bareng teman-teman,” ucap Septi.

Editor: Supriyadi

Disporapar Pati Bidik Potensi Wisata untuk Tingkatkan Pendapatan Daerah

Air Terjun Grenjengan Sewu di Desa Jrahi, Gunungwungkal yang jadi bidikan Disporapar Pati untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Pati membidik potensi wisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Upaya itu dilakukan bertepatan dengan momen melejitkan dunia pariwisata di Kabupaten Pati.

Kepala Disporapar Pati Sigit Hartoko mengatakan, ada empat destinasi wisata di Pati yang akan dikembangkan secara total tahun depan. Keempatnya adalah Gua Wareh di Sukolilo, Waduk Gunungrowo dan Agrowisata Jolong di Gembong, serta Desa Wisata Jrahi di Gunungwungkal.

“Kalkulasi yang kami lakukan, kalau empat destinasi wisata itu ditata dan kelola dengan baik akan menjadi daya tarik pengunjung. Imbasnya, perekonomian masyarakat dan PAD ikut meningkat,” ujar Sigit, Selasa (17/10/2017).

Dia menyebut, kunjungan wisatawan yang meningkat berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi bagi penduduk sekitar dan pemerintah daerah. Potensi itu yang akan dibidik Disporapar untuk meningkatkan perekonomian di Pati.

Dari empat destinasi wisata yang akan dikembangkan, Gua Wareh menjadi satu-satunya destinasi milik Pemkab Pati. Sementara Waduk Gunung Rowo milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Wilayah Pemali Juwana, Agrowisata Jolong milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, serta Jrahi milik pemdes dan penduduk setempat.

“Kami akan siapkan MoU (kerja sama) untuk pengembangan empat destinasi wisata di Pati. Sebetulnya potensi wisata di Pati sangat banyak, tapi kami akan fokus dengan empat target itu dulu,” tambah Sigit.

Khusus di Jrahi, Sigit menilai memiliki potensi alam yang luar biasa. Selain ada air terjun dan embung mini, Jrahi juga punya vihara besar dengan keindahan bangunan yang indah.

Selain itu, Jrahi punya potensi perkebunan, tradisi dan budaya kebhinnekaan yang menarik sebagai miniatur keberagaman Indonesia. Karena itu, dia berharap partisipasi semua pihak untuk meningkatkan potensi pariwisata di Pati.

Editor: Supriyadi

Festival Memedi di Candi Ngawen Magelang jadi Daya Tarik Wisata

Warga memeriahkan Festival Memedi di Candi Ngawen, Kabupaten Magelang. (Tribrata News Polres Magelang)

MuriaNewCom, Magelang – Festival “Memedi” Sawah di kompleks Candi Ngawen, Muntilan, Kabupaten Magelang, diyakini merupakan salah satu bagian dari daya tarik wisata di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Magelang Iwan Sutiarso di Magelang, mengatakan kegiatan ini antara lain bertujuan untuk menggerakkan desa wisata dan wisata perdesaan.

“Selain untuk melestarikan tradisi yang sudah ada, melalui kegiatan seperti ini kami berharap agar kunjungan wisatawan ke desa wisata bertambah. Kemudian, lama tinggal wisatwan juga meningkat sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” katanya di Magelang, Kamis (14/9/2017) dikutip dari Antarajateng.com.

Ia mengatakan Kabupaten Magelang memiliki tiga bidang unggulan, yakni pertanian, industri kecil, dan pariwisata. “Kami berharap, ketiganya bisa berkolaborasi untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya. 

Pada festival tersebut deretan memedi (orang-orangan) sawah mengelilingi kompleks Candi Ngawen. Benda yang biasa digunakan untuk mengusir hama burung itu sengaja dipamerkan setelah diarak keliling desa. “Tema pada festival kali ini adalah nasi wiwit dan memedi sawah. Keduanya merupakan tradisi yang harus tetap dilestarikan,” kata Ketua Panitia Festival Memedi Sawah AL Saptandyo.

Ia menjelaskan baik memedi sawah maupun nasi wiwit memiliki makna tersendiri. Nasi wiwit, dalam hal ini merupakan wujud syukur dari para petani atas panen yang telah dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada petani. 

“Pembuatan nasi wiwit dilakukan menjelang panen. Ini merupakan wujud syukur dan terima kasih petani karena diberikan panen yang baik. Wiwit juga berati mengawali benih yang baik untuk pertanian selanjutnya,” katanya.

Memedi sawah, katanya biasa digunakan oleh para petani untuk mengusir hama burung pipit yang kerap memakan padi. Bentuk atau wujud dari memedi sawah ini berbagai macam, tergantung selera pembuatnya. “Khusus untuk festival memedi sawah kali ini, kami membebaskan para peserta untuk membuat memedi dengan wujud dan bahan apa pun, kecuali dari bahan plastik,” katanya.

Ia mengatakan ada sebanyak 27 dusun di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, yang berpartisipasi dalam festival kali ini. 

Editor : Akrom Hazami

 

2018, Kudus Bangun Taman Mini. Ini Bocorannya

Museum Kretek bakal dilengkapi dengan Taman Mini (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus berencana melakukan pembangunan taman mininya Kudus di dalam wahana Museum Kretek. Pembangunan tersebut, rencananya akan dimulai tahun 2018 mendatang.

Kepala Disbudpar Kudus Yuli Kasianto mengatakan, jika TMII di Jakarta terdapat sejumlah bangunan asal provinsi se-Indonesia, maka Taman Mini Kudus, akan dibangun bangunan khas di sembilan kecamatan di Kudus.

“Masing-masing kecamatan memiliki bangunan khas. Jika tidak diduplikat, maka dikawatirkan bangunan akan punah dan tak dapat dinikmati hingga anak cucu,” katanya kepada MuriaNewsCom

Ia menjelaskan, pembangunan Taman Mini Kudus ditaksir akan menelan biaya hingga Rp 5 miliar. Namun karena anggaran yang terbatas, pembangunan akan dilakukan secara bertahap. 

Tahap pertama akan menggunakan dana dari APBD murni 2018. Dengan anggaran tersebut akan dibangun dua bangunan dari dua kecamatan, yakni dari Kecamatan Kota dan Kecamatan Jati. Sedang untuk kecamatan lainya akan masuk di APBD Perubahan dan APBD 2019.

Bangunan khas untuk Kecamatan Kota, kata dia, akan dibangun miniatur Masjid Wali Loram. Sedangkan untuk Kecamatan Kota, bakal dibangun miniatur rumah kembar. Tiap bangunan, akan dibangun dengan ukuran delapan kali sembilan meter.

“Di Museum Kretek banyak lahan kosong, seperti bangunan khas di tiap kecamatan, akan dibangun di bagian barat Musium Kretek,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Ini Komentar Haris dan Fani Usai Dinobatkan Sebagai Mas dan Mbak Jepara 2017

Haris Ihza Mahendra dan Regina Lulufani dinobatkan sebagai Mas dan Mbak Jepara 2017. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Haris Ihza Mahendra dan Regina Lulu Fani dinobatkan sebagai Mas dan Mbak Jepara 2017. Yuuk berkenalan lebih dekat dengan sosok yang nantinya menjadi tombak promosi pariwisata Bumi Kartini. 

Haris Ihza Mahendra (18) mengaku dengan gelar Mas (Duta Wisata) Jepara yang kini disandangnya, merupakan suatu penugasan yang harus diemban dengan penuh tanggungjawab. 

”Yang terpenting sebenarnya bukanlah cuman gelar duta wisata, tetapi yang terpenting dari itu bagaimana kita merealisasikan omongan-omongan kita, semua janji-janji kita, semua misi-misi dan visi saat akan mendapatkan gelar tersebut. Jadi jangan sampai setelah jadi duta wisata itu omongan-omongan janji-janji sebelumnya itu cuman sekedar omongan belaka, kita harus berusaha untuk merealisasikannya,” kata mahasiswa kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang itu, Sabtu (09/09/2017). 

Terkait persiapan sebelum ajang tersebut, Haris yang hobi travelling itu mengaku sempat melakukan riset kecil-kecilan terkait pengalaman wisatawan akan tempat pariwisata di Jepara. Menurutnya, untuk dapat menilai kekurangan dan kelebihan suatu tempat wisata terlebih dahulu perlu menjadi pelaku terlebih dahulu. 

”Misal ada sebuah tempat wisata yang kurang baik, kalau kita cuman melihat saja kita tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Tapi kalau kita sudah merasakannya kita pasti tau rasanya seperti apa, dan kita akan berfikir disana bagaimana kita bisa menangggulangi hal tersebut,” tutur putra dari pasangan dokter Hasvien dan Muhammad Ishaq itu. 

Disamping itu, lanjut Haris, guna perbaikan kepariwisataan Jepara dirinya kerap kali berkonsultasi dengan pelaku wisata seperti pemilik rumah makan dan hotel. Di tempat tersebut, menurutnya bisa terkumpul keluh kesah para wisatawan akan layanan pariwisata. 

”Relasi dengan perhotelan dan restoran harus dijaga karena disana banyak sekali turis yang datang,” kata pria yang memunyai akun Instagram di @harisihzam itu. 

Sementara itu Regina Lulu Fani (19) mengaku bahagia setelah mendapatkan gelar Mbak. Lantaran pada tahun 2015 saat mengikuti ajang tersebut, ia hanya menempati posisi runner up

”Karena selama ini yang saya perjuangkan dan menjadi tujuan saya dapat tercapai. Tapi, ini bukan yang terakhir karena ini sebuah awal untuk menuju ke tahap yang selanjutnya dan kita akan mempersiapkan menuju ke Jawa Tengah,” ujarnya, yang memiliki akun instagram di @reginaafani itu.

Mahasiswi UNNES Semarang Jurusan Ekonomi dan Pembangunan itu mengatakan tak ada persiapan khusus saat akan mengikuti ajang Mas dan Mbak 2017. Hanya saja, ia rajin membekali diri dengan pengetahuan tentang dunia kepariwisataan. 

Ditanya tentang fokus pengembangan dunia kepariwisataan Jepara, putri pasangan Fahmi Idris dan Nani Mujiati Pratik itu mengaku akan lebih getol mengenalkan kearifan lokal. 

“Fokus pariwisata Jepara, tentang saya lebih mengenalkan ke masyarakat kearifan lokal yang dimiliki Jepara, karena masih banyak masyarakat yang belum mengenal bahkan tau kearifan lokal yang dimiliki jepara. Padahal Jepara memiliki potensi yang harus selalu dibanggakan oleh para pemuda-pemudinya,” kata warga Desa Tahunan itu.

Editor: Supriyadi

Bupati Grobogan Ikut Meradang Gara-gara Waduk Kedungombo Ditutup, Ini Sebabnya

Akses jalan menuju Waduk Kedungombo yang rusak parah tahun ini akan diperbaiki dengan anggaran Rp 19 miliar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganTidak hanya pengunjung dan pedagang saja yang meradang dengan penutupan Waduk Kedungombo untuk akses wisata. Bahkan, Bupati Grobogan Sri Sumarni juga mengaku kaget dan menyayangkan penutupan Waduk Kedungombo sejak Minggu (3/9/2017) tersebut.

Hal itu disampaikan Sri saat dicegat wartawan di rumah dinasnya, Jumat (8/9/2017).

”Terus terang, saya kaget sekali ketika dapat kabar waduk Kedungombo ditutup bagi wisatawan. Sebagai bupati, saya kok tidak dapat pemberitahuan terkait penutupan itu. Ini yang bikin saya kaget dan heran,” tegasnya.

Menurut Sri, penutupan Waduk Kedungombo dinilai punya dampak luas. Terutama, bagi ratusan pedagang yang selama ini mencari nafkah dengan adanya pengunjung wisata. Meski saat ini mereka masih bisa jualan, namun pendapatannya pasti turun drastis.

”Sebagian besar orang yang mencari nafkah di Kedungombo adalah warga Grobogan. Kasihan sekali mereka setelah Kedungombo tutup,” ungkap Sri.

Sri menegaskan, meski tidak punya kewenangan mengelola namun selama ini, Kedungombo sudah terlanjur jadi ikon wisata di Grobogan. Bahkan, pengunjung di Kedungombo selama ini jumlahnya paling ramai dibandingkan obyek wisata lain yang ada di Grobogan.

Terkait dengan kondisi tersebut, Sri mengaku sudah menaruh perhatian serius untuk ikut membantu mengembangkan potensi wisata Kedungombo, secara tidak langsung. Yakni, memperbaiki jalan rusak yang sudah lama dinantikan warga.

Mengingat butuh dana besar dan status jalan bukan milik Kabupaten, ia sempat mengajukan permohonan bantuan perbaikan jalan langsung pada Presiden Joko Widodo. Permohonan itu disampaikan ketika berkesempatan bertemu presiden di Jakarta beberapa waktu lalu.

”Permohonan saya diperhatikan Pak Presiden. Perbaikan jalan menuju Kedungombo tahun ini dapat alokasi anggaran sekitar Rp 19 miliar melalui pihak kementerian PUPR. Saat ini, proses perbaikan jalan masih dalam tahap lelang pekerjaan,” jelasnya.

Selain menuju lokasi wisata, jalan tersebut juga jadi jalur alternatif menuju Sragen, Solo dan Boyolali. Saat jalur utama Purwodadi-Solo ada proyek perbaikan atau kemacetan, banyak kendaraan roda empat yang memilih lewat jalan ini.

Jalan tersebut sebagian besar membelah kawasan hutan KPH Gundih. Informasinya, jalan ini dibangun bersamaan dengan pembangunan waduk sekitar tahun 1991. Sampai saat ini, ruas jalan tersebut belum pernah tersentuh perbaikan.

”Sekarang jalannya mau diperbaiki namun obyek wisatanya malah ditutup. Saya sudah perintahkan Sekda untuk segera bertemu dengan pihak terkait untuk mencari kejelasan masalah penutupan Kedungombo,” tegasnya.

Editor: Supriyadi

Temuan Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan Mulai Diangkat

Fosil gajah purba berukuran cukup panjang berhasil diangkat dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses pengangkatan fosil hewan purba di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan mulai dikerjakan tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Tim ahli purbakala sudah tiba di Banjarejo sejak Senin (4/9/2017) siang.

Namun, pengangkatan fosil dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo baru mulai dikerjakan sehari berikutnya. Pada hari pertama, tim ahli masih melakukan observasi lapangan, pengambilan gambar serta persiapan pengangkatan fosil.

Dari pantauan di lapangan, kesibukan terlihat di lokasi penemuan yang berada di areal persawahan tersebut. Dalam kotak eskavasi terdapat belasan orang yang mempersiapkan pengangkatan fosil.

Baca Juga: 3 Mahasiswa Luar Negeri Kunjungi Lokasi Penemuan Gajah Purba Banjarejo Grobogan

Selain tim ahli dari BPSMP, ada beberapa anggota komunitas peduli fosil Banjarejo yang dilibatkan. Dalam lokasi penggalian berukuran 10 x 12 meter itu masih terlihat banyak fosil yang masih berada pada tempatnya semula.

“Selama dua hari, baru sekitar tujuh fosil yang sudah kita selamatkan. Kita prioritaskan dulu untuk fosil yang ukurannya besar,” jelas Albertus Nico, staf perlindungan BPSMP Sangiran yang memimpin pengangkatan fosil di Banjarejo, Rabu (6/9/2017).

Baca Juga: Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Dilakukan Pekan Depan

Fosil yang sudah diangkat semuanya adalah bagian tubuh dari gajah purba. Seperti gading, kaki depan, dan paha.

Proses pengangkatan fosil ditarget selesai dalam waktu delapan hari. Lamanya tenggat waktu pengangkatan itu disebabkan jumlah fosil yang ditemukan lebih dari 100.

“Jumlah fosilnya banyak sekali sehingga butuh waktu. Selain itu, proses pengangkatan juga butuh kehati-hatian dan ketelitian sehingga makan waktu cukup lama,” kata Nico.

Selain gajah purba, fosil yang terdapat dalam kotak eskavasi juga berasal dari jenis hewan lainnya. Antara lain, banteng dan buaya.

Editor: Supriyadi

Objek Wisata Waduk Kedungombo Ditutup, Ratusan Pengunjung Kecewa

Pintu masuk objek wisata Waduk Kedungombo ditutup portal dan ditulisi ‘Tutup’ membuat ratusan pengunjung kecewa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Para pengunjung Waduk Kedungombo kecewa berat saat datang ke obyek wisata tersebut, Minggu (3/9/2017). Kekecewaan itu terjadi karena semua pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke kawasan dekat waduk yang selama ini dijadikan tempat wisata.

Padahal pada hari libur kemarin, ada ratusan pengunjung yang datang. Selain warga Grobogan, banyak juga pengunjung dari kabupaten lain. Bahkan, beberapa di antaranya mengaku datang jauh-jauh dari Jawa Timur untuk menikmati pemandangan di Waduk Kedungombo.

”Libur Idul Adha ini sudah saya agendakan piknik ke Kedungombo dengan keluarga. Sampai sini, malah tidak boleh masuk ke lokasi wisata,” cetus Andrianto, pengunjung yang mengaku berasal dari Ngawi, Jawa Timur itu.

Dari pantauan di lokasi, jalan masuk menuju kawasan Waduk Kedungombo yang ada di Desa Rambat, Kecamatan Geyer itu sudah dipasang portal di depan pos retribusi dengan tulisan ”Tutup” dan sudah tidak ada penjaganya. Adanya portal menyebabkan semua kendaraan pengunjung harus parkir di pinggir jalan raya.

Dari pos retribusi, pengunjung masih bisa berjalan ke arah Waduk Kedungombo dalam radius 150 meter saja hingga gerbang utama. Pada lokasi ini, dipasang pagar teralis besi setinggi 1 meter dan diberi tulisan besar berbunyi ‘Batas Pengunjung’.

Para pengunjung hanya bisa melihat Waduk Kedungombo dari pintu gerbang ini saja. Padahal, lokasi yang selama ini dijadikan tempat wisata hanya berjarak 100 meter saja dari gerbang utama tersebut.

Dari kejauhan, lokasi di belakang gerbang utama praktis seperti kuburan. Biasanya, di sepanjang jalan itu ramai lalu lalang kendaraan. Terlebih saat hari Minggu atau tanggal merah.

”Di lokasi wisata sana tidak ada aktivitas. Soalnya, tidak boleh ada pengunjung masuk. Bahkan, pedagang juga tidak boleh jualan,” kata Kolik, warga setempat.

Editor: Supriyadi

Ini Mitos Telaga Sejuta Akar Bangsri Jepara, Objek Wisata Keren dan Menyejukkan

Warga menikmati Telaga Sejuta Akar yang ada di Dukuh Margokerto, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sedang melancong ke Jepara? Tidak ada salahnya menjajal objek wisata alam Telaga Sejuta Akar yang ada di Dukuh Margokerto, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri. Lantaran begitu memasuki areal ini, udara panas yang kini menerpa Bumi Kartini seolah sirna diterpa semilir angin yang berembus disela akar pohon Beringin Karet atau Ficus Elastica. 

Sesuai namanya, akar dari pepohonan beringin karet tersebut seolah melindungi telaga yang berada di tengahnya. Untuk memasuki objek wisata itu, per orang hanya dikenai biaya kebersihan sebesar Rp 2.500. 

Hadi Priyanto Ketua Pengelola Telaga Sejuta Akar mengatakan, konon tempat itu sudah ada sebelum desa tersebut dibangun. Mitosnya, tempat itu adalah petilasan Dewi Anjani yang kemudian melahirkan anak yang berupa kera putih Hanoman. 

“Mitosnya dulu telaga ini disebut sebagai Telaga Mandireja, tempat Dewi Anjani hamil dan kemudian melahirkan kera berwarna putih yang disebut Hanoman. Sehingga dulu, di sini banyak spesies tersebut. Namun kini sudah tidak ada jejaknya,” ujarnya, ditemui di wanawisata tersebut, Sabtu (2/9/2017). 

BacaAir Sumur Petilasan Empu Supo di Pati Diyakini Bisa Bikin Awet Muda

Kisah lain memaparkan, sebelum desa itu ditinggali oleh orang telaga tersebut telah ada. Konon, sesepuh desa tersebut bernama Mbah Isrom, sengaja tidak membabat pepohonan yang ada ditebang. 

“Dukuh ini ada sekitar tahun 1901. Dulu tempat ini disakralkan, konon orang yang menstruasi tidak boleh memasuki salah satu bagian dari tempat ini. Namun kalau sekadar berkunjung boleh. Akan tetapi itu dulu sekarang ya sudah tidak,” tambahnya. 

BacaIni Mitos Daun Jati dan Beras yang Tersisa Usai Buka Luwur Makam Sunan Kudus

Dirinya menuturkan, telaga tersebut sempat mengering karena banyaknya sedimentasi. Akhirnya pada sepuluh tahun lalu, warga bersama pemerintah desa mulai merevitalisasi tempat tersebut. 

Telaga tersebut diketahui tak hanya dipergunakan sebagai tempat wisata, namun berperan sebagai sumber pengairan bagi sawah-sawah di sekitarnya. Total ada 90 hektare sawah yang bisa teraliri air dari telaga tersebut.  

BacaMbah Bungkuk Mengaku Pernah Ditemui Angling Darma

“Ke depan, kami harap objek wisata ini dapat menjadi semacam laboratorium pendidikan alam. Soalnya pepohonan di sini juga cukup langka. Selain itu, kami ingin dengan merawat tempat ini, air yang digunakan untuk pengairan bisa terus tercukupi. Karena sejatinya tempat ini adalah anugerah dari Tuhan yang harus dijaga,” urainya. 

Selain bisa ngadem, tempat ini juga cocok untuk dijadikan lokasi camping atau memancing. Sebab di telaga tersebut telah ditebar bibit ikan seperti nila. 

BacaKhasiat Air Sendang, Dipercaya Bikin Awet Muda

Seorang pelancong Adi menuturkan baru kali tersebut ia menginjakan kaki di tempat tersebut. Berwisata bersama kawan-kawannya, ia mengaku takjub akan akar pepohonan yang menghujam ke tanah. “Banyak sekali akarnya, jadi seperti tirai dan bagus juga untuk foto-foto,” ujar warga Bangsri itu. 

Editor : Akrom Hazami

Ini Duta Wisata 2017 Kudus, Pati, Rembang, Blora dan Rembang

Duta Wisata Duta Wisata Kudus adalah Alan Ragil Maulana merupakan pelajar SMA Negeri 1 Kudus, dan Hima Choirun Nisa mahasiswa Unnes Semarang. (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Duta Wisata merupakan sosok yang diharapkan dapat menjadi bagian dalam menggali, memperkenalkan seni, budaya dan pariwisata daerah. Pemilihan duta wisata dilakukan dengan serangkaian tahap dan seleksi. Mereka bersaing menjadi yang terbaik untuk mengemban tugas sebagai Duta Wisata bagi daerahnya masing-masing.

Di wilayah eks Karesidenan Pati, Kabupaten Kudus, Pati, Rembang, dan Blora sudah memiliki Duta Wisata 2017. Sedangkan, Kabupaten Jepara baru akan melakukan pemilihan pada 8 September 2017. Adapun malam grand final Duta Wisata 2017 untuk Kabupaten Grobogan direncanakan berlangsung pada 9 September 2017.

Masa pendaftaran peserta Duta Wisata Grobogan sudah ditutup 25 Agustus lalu. Sampai hari terakhir, total ada 30 pendaftar. Rinciannya, 20 pendaftar adalah wanita dan 10 pria. Para pendaftar ini sebagian besar merupakan pelajar SMA dari beberapa sekolah di Grobogan.

Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Jamiat mengatakan, tahun ini, jumlah pendaftar pria memang lebih sedikit. Yakni, hanya 10 orang saja. Kalau pendaftar wanita jumlahnya dua kalinya.

“Jumlah pendaftar tahun ini juga lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 50 orang. Hal ini terjadi karena pihak panitia memang membatasi jumlah peserta maksimal hanya 30 orang saja. Pembatasan itu dilakukan supaya pelaksanaannya bisa cepat waktunya serta lebih efektif dan efisien,” kata Jamiat.

 

Adapun untuk Duta Wisata Kudus adalah Alan Ragil Maulana merupakan pelajar SMA Negeri 1 Kudus, dan Hima Choirun Nisa mahasiswa Unnes Semarang. Di Kabupaten Pati, Duta Wisata yang terpilih pada tahun ini adalah Farizki Bagus Kurniawan, dan Gunita Wahyu Sektyanti.

Di Kabupaten Blora, Duta Wisatanya adalah Frillian Gerry Hutama yang merupakan pelajar SMA Negeri 1 Blora,  dan Septiya Risqi Umami pelajar dari SMA Negeri 1 Blora. Di Kabupaten Rembang, Duta Wisatanya merupakan siswa SMA Negeri 1 Rembang Eza Faisal Meileno Rizqi, dan Intan Sugiarti merupakan mahasiswa kebidanan.

Editor : Akrom Hazami

Ini yang Bikin Istimewanya Objek Wisata Kura-kura Ocean Park, Sea Worldnya Jepara 

Pengunjung menikmati Kura-Kura Ocean Park atau KOP di Kabupaten Jepara, Sabtu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menikmati keindahan biota laut tak harus berbasah-basah menyelam. Di Jepara ada wahana bernama Kura-kura Ocean Park, Di dalamnya terdapat ratusan koleksi ikan, dari mulai ikan kembung hingga hiu sirip hitam. 

Kura-Kura Ocean Park atau KOP berada di dalam areal pariwisata Pantai Kartini. KOP berbentuk penyu raksasa berwarna cokelat. Untuk dapat masuk, wisatawan harus membayar tiket masuk Rp 17.500 bagi pengunjung dewasa, dan Rp 12.500 untuk mereka yang masih anak-anak. Wahana KOP sendiri buka setiap hari, Senin-Minggu dari pukul 08.00-16.00 WIB. 

Setelah membayar karcis, pengunjung dipersilakan memasuki pintu masuk yang terbuat dari baja tahan karat. Ketika pintu terbuka, pelancong akan disambut kolam besar berisi ikan raksasa yakni jenis Arapaima. 

Setelahnya, ada dua pilihan bagi pengunjung untuk melanjutkan petualangan air, berjalan ke sisi luar atau masuk ke wahana Misteri Bawah Laut. Jika memilih berjalan ke sisi luar, ada aquarium berukuran kecil dan akses untuk memandang laut lepas melalui beranda. 

Namun, jika memilih memasuki wahana Misteri Bawah Laut pengunjung akan dipertontonkan dengan biota laut. Di sisi kanan ada hiu sirip hitam yang berenang bersama penyu. Sementara di sisi kiri, ada fauna laut berupa kerapu, ikan kembung, ikan platar dan lainnya.  Sementara itu, di lantai dua ada wahana edukatif dan bioskop mini.

Wisatawan menikmati salah satu wahana Kura-Kura Ocean Park atau KOP di Kabupaten Jepara, Sabtu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

 

Baskoro seorang pelancong asal Semarang mengaku telah tiga kali mengunjungi KOP. Bersama keluarganya, ia mengaku senang mengamati biota laut yang disuguhkan.

“Biota lautnya bagus, seperti wahana di Jatim Park. Saya datang bersama keluarga untuk menikmati tempat ini, karena di Semarang tidak ada yang seperti ini,” ujar warga Pedurungan Semarang ini, Sabtu (5/8/2017).

Sementara itu, Wulan pengunjung asal Solo juga mengungkapkan apresiasinya. Baru kali pertama berkunjung dirinya mengaku fasilitasnya cukup bagus. “Bagus tempatnya bersih, ikannya juga banyak,” jawabnya, yang datang bersama rombongan teman-teman kuliahnya.  

Meskipun demikian, pengunjung mengeluhkan wahana edukasi di lantai dua yang terkesan tidak maksimal. Hal itu karena berbagai permainan dan komputer interaktif nampak mangkrak, atau tak dihidupkan. “Tapi yang wahana edukasinya di lantai dua kurang maksimal. Sayang sebenarnya, padahal biota lautnya bagus,” ujar Baskoro.

Hal itu juga diungkapkan Lia. Ia menyebut KOP sebenarnya cukup representatif, namun tidak demikian dengan lantai duanya. “Yah masih kurang kalau di lantai duanya,” tutup warga Solo ini. 

 

Editor : Akrom Hazami

 

Pemkab Jepara Seriusi Bidang Pariwisata untuk Genjot PAD

Diskusi santai terkait pengembangan pariwisata seni antara Pemkab Jepara dan pelaku wisata  serta seni di Bumi Kartini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sektor pariwisata akan serius digarap oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara sebagai penggenjot pendapatan daerah. Tahun depan, pemkab berencana menggelontorkan anggaran besar-besaran di bidang tersebut. 

Hal itu disebutkan oleh Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi, Kamis (2/7/2017). Menurutnya, sektor pariwisata merupakan salah satu bidang andalan bagi masyarakat pesisir utara laut Jawa itu. 

“Ketika sektor pariwisata digarap dengan serius, otomatis akan meningkatkan pendapatan dari pajak. Dengan sendirinya, akan meningkatkan pendapatan daerah. Tahun 2019 nanti, pemkab juga akan membebaskan bea retribusi ke objek pariwisata,” ucap dia. 

Untuk mewujudkan hal itu, berbagai langkah ditempuh. Selain memperbaiki infrastruktur menuju objek wisata, pihaknya juga meminta pemerintah desa untuk turut berperan serta. 

Hal itu bisa dilakukan dengan menyisihkan Dana Desa (DD) untuk ikut memperbaiki sarana jalan menuju tempat wisata. Hal itu tentu saja hanya berlaku bagi desa yang memiliki destinasi pariwisata. 

Di samping itu Pemkab Jepara juga terus berupaya membuka ruang terbuka hijau. Hal itu disampaikan oleh Zamroni Lestiaza Kabid Pariwisata Disparbud Jepara. Ia mengatakan, saat ini pihaknya tengah dalam usaha menata kembali ruang publik. 

“Hal itu sesuai dengan nawacita presiden, yakni mengembalikan budaya masyarakat yang guyub,” kata dia.

Editor : Kholistiono 

Sampai Semester I, Pendapatan Pariwisata Pemkab Kudus Telah Mencapai Target  

Mobil wisatawan tampak berada di objek wisata Colo, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Disbudpar Kudus bidang pariwisata tahun ini mendapatkan beban target pendapatan sebesar Rp 3,51 miliar. Sampai Juni 2017, pendapatannya baru mencapai sekitar Rp 1,3 miliar.

Kepala Bidang Pariwisata pada Disbudpar Sri Wahyuningsih, mengatakan pada semester pertama, bidang pariwisata sudah mencapai target pendapatan sekitar 52 persen.  Bidang Pariwisata yakin penyerapan pendapatan akan tercapai pada tahun ini.

“Kami yakin hingga akhir tahun nanti, akan mencapai target yang dibebankan,” kata Sri di Kudus, Sabtu (22/7/2017).

Guna mengejar target, pihaknya akan melakukan upaya. Misalnya, mengintensifkan komunikasi dengan antarobjek wisata yang ada di bawah naungan pemkab.

Dari hasil kordinasi yang dilakukan, lanjut Nining, masing-masing pengelola mengaku sudah memiliki sejumlah strategi nyata. Seperti Museum Kretek, yang akan menggelar sejumlah hiburan untuk menarik pengunjung.

Pihaknya mencatat, dari sejumlah objek wisata, pemasukan terbesar diperoleh dari objek wisata Colo yang  mencapai Rp 689,17 juta dari target setahun sebesar Rp1,23 miliar. Sedangkan untuk objek wisata Krida Wisata, kontribusinya sementara sebesar Rp150,8 juta dari target Rp 229,58 juta.

Di Museum Kretek  Rp 133,6 juta dari target Rp 273,64 juta, paling kecil  Taman Ria baru terealisasi Rp5,8 juta dari target Rp14,33 juta.  

“Sejauh ini baru lokasi wisata yang ramai, sedangkan hal lainya seperti penginapan,  dan olahraga masih cukup sedikit,” ungkap dia.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Romantisme Langit Eropa

Mirabell Palace, Austria (club-europe.co.uk)

MuriaNewsCom – Tak bisa dimungkiri jika Eropa tetap menjadi negara impian untuk melakukan traveling, apalagi berbulan madu. Terkenal dengan negara-negaranya yang romantis, membuat turis asal Indonesia jumlahnya semakin meningkat, ditahun 2014 saja terdapat 8,9 juta turis asal Indonesia yang berkunjung kesana.

Hal ini menjadi peluang bagi Garuda Indonesia untuk bisa mengantarkan para wisatawan menjajaki indahnya negara-negara di Eropa. Memiliki empat musim dan keunikan lanskapnya, ditambah dengan bangunan-bangunan tua nan eksotis menambah daya tarik negara-negara ini. Bahkan, tak jarang kesuksesan seseorang akan semakin diakui jika ia sudah berhasil berfoto di beberapa landmark terkenal di Eropa.

Cinque Terre, Italia (lonelyplanet.com)

Untuk Anda yang merencanakan akan pergi berlibur ke sana, ada beberapa hal yang harus disiapkan. Seperti paspor dan pengajuan visa. Mengajukan Visa schengen pun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah asuransi perjalanan.

Hanya dengan Visa Schengen, Anda sudah bisa mengunjungi negara-negara di Eropa. Maka, jangan sia-siakan kesempatan saat visa Schengen sudah di tangan. Silakan berkeliling Eropa dan manfaatkan kesempatan yang Ada.

Beberapa dokumen yang harus dilengkapi saat Anda mengajukan visa Schengen adalah, sebagai berikut:

  1. Passport
  2. Pas foto berwarna ukuran 3,5 cm x 4,5 cm dengan latar belakang putih dua buah.
  3. Biaya untuk pembuatan Visa, dibayarkan dalam rupiah dan cash. Biaya pembuatannya adalah 60 euro/orang untuk usia 12 tahun keatas, dan 35 euro untuk anak 6-12 tahun. Dan di bawah 6 tahun, tidak dikenakan biaya.
  4. Mendownload formulir dari website resmi kedutaan yang dituju, isi selengkap mungkin dan print out dokumen tersebut lalu bawa saat pendaftaran.
  5. Asuransi perjalanan
  6. Bukti keuangan, berupa rekening Koran selama 3 bulan, dan dana mengendap minimal 34 euro dikalikan lama tinggal di Eropa.
  7. Bukti booking pesawat. Untuk memudahkan, Anda bisa memesan tiket pesawat Garuda Indonesia di Traveloka karena buktinya akan langsung di kirim via email. Klik untuk detil selengkapnya.
  8. Bukti pemesanan penginapan.
  9. Surat keterangan kerja dan itinerary perjalanan selama di Eropa.

Asuransi perjalanan pada dasarnya akan sangat membantu dan perjalanan Anda akan semakin tenang, setiap perusahaan asuransi memiliki benefit-benefit masing-masing. Meski Garuda Indonesia selalu mengutamakan kenyamanan dan keamanan penumpang, namun dengan adanya asuransi perjalanan selain syarat untuk membuat visa namun juga Anda akan lebih merasa nyaman.

Garuda First Class (flightfox.com)

Penerbangan belasan jam dengan menggunakan Garuda Indonesia menyisir setiap jengkal langit menuju Eropa tak akan membuat Anda terlalu lelah, karena banyak fasilitas yang disediakan untuk menemani perjalanan Anda. Terlebih jika Anda menggunakan layanan first class. “The journey begins even before take off “. Anda akan dijemput dari titik penjemputan dan fasilitas ekslusif lainnya, di Bandara, Anda tak perlu melakukan check in. Karena semua diurus oleh assistant pribadi Anda.

Namun, tak hanya first class, di kelas Ekonomi pun Anda akan dimanjakan dengan fasilitas terbaik dari Garuda Indonesia, para awak kabin yang terkenal ramah siap membantu Anda selama di perjalanan. Jarak kursi yang cukup lega dan memungkinkan Anda untuk bisa mengistirahatkan kaki. Fasilitas hiburan selama di atas langitpun tak akan membuat Anda bosan. Dan hal ini telah diakui oleh dunia terbukti dengan diraihnya penghargaan oleh Garuda Indonesia untuk kategori Economy Class offers comfort and convenience like no other dari SkyTrax tahun 2013.

Sudah siap terbang menjelajah langit Eropa dengan Garuda Indonesia?

Editor : Akrom Hazami

Pemdes Tegaldowo Rembang Bakal Manfaatkan Embung jadi Wisata Keluarga

Warga menikmati pemandangan di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, kini bakal memanfaatkan embung desa setempat untuk dijadikan wisata keluarga atau wisata edukasi.

Kepala Desa Tegaldowo Suntono mengatakan, berhubung di sini ada embung, maka nantinya akan bisa dimanfaatkan sebagai wisata keluarga atau wisata edukasi. “Bagi siswa sekolah baik TK maupun SMP bahkan keluarga juga bisa berkunjung ke sini,” katanya.

Embung seluas 1,3 hektare yang dibangun di luar desa serta dikeliling perbukitan saat ini sudah ramai dikunjungi oleh wisatawan. “Untuk saat ini para wisatawan sudah mulai berdatangan. Khususnya bagi warga luar Tegaldowo. Sebab di sini memang ada beberapa fasilitas sederhana. Misalkan saja gazebo yang berukuran 6×4 2 buah, ayunan, mainan anak anak dan sejenisnya,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, saat libur sekolah atau menjelang sore, tempat ini ramai sekali. Sehingga cocok untuk dijadikan tempat alternatif sebagai wisata yang murah meriah. Kemudian saat ditanya mengenai tindak lanjut pemanfaatan sebagai wisata tersebut. Saat ini ia dan jajaran pemerintah desa lainnya akan membicarakannya lebih lanjut.

“Kalau tindak lanjutnya ke depannya kayak apa tentunya kita akan memanfaatkan ini dengan baik. Apakah nantinya ada retribusinya atau tidak, yang tentu itu urusan nomor kesekian. Yang penting embung ini bisa dimanfaatkan ganda. Yakni perairan sawah dan jujugan atau alternatif wisata keluarga atau edukasi,” imbuhnya.

Sementara itu, pengunjung embung dari Desa Wonokerto Sale Zainal (36) mengatakan, tempat ini sangat bagus. Terlebih ada fasilitas gazebonya. “Saat dilihat sekilas dari jarak kejauhan memang seperti tempat asing. Padahal ini di Rembang. Dan ini harus diekspos ke luar terlebih dahulu. Supaya eksotisme tempat ini bisa dikenal terlebih dahulu,” tambahnya.

 

Editor : Akrom Hazami

2017, Target Pendapatan Wisata Colo Kudus Meningkat

Peziarah melakukan wisata religi di makam Sunan Muria, Colo, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Peziarah melakukan wisata religi di makam Sunan Muria, Colo, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala UPT Colo Pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Mutrikah menyebutkan, pada 2017 ini target pendapatan dalam sektor wisata di Colo ditingkatkan. Meski pada 2016 tak tercapai, namun target tetap ditingkatkan di 2017.

Dia mengatakan, target pendapatan sektor wisata selalu naik setiap tahun. Hal itu sudah dianggap wajar, lantaran peningkatan target selalu dirasakan setiap tahun. Yang jelas upaya optimalkan target digiatkan. “Selama 2017 ini, target pendapatan dipatok sebesar Rp 1.512.649.000. target tersebut naik 0,9 persen dari target 2016 yang hanya Rp 1.387.291.000,” katanya di Kudus, Kamis (19/1/2017).

Menurutnya, target tersebut meliputi sejumlah objek wisata yang ada di Colo. Seperti pendapatan dari retribusi pengunjung, hotel, villa, pondok wisata dan pedagang kaki lima (PKL) Colo.

Dikatakan, upaya yang dilakukan selama ini dalam mengejar target terus ditingkatkan. Seperti halnya promosi dan juga pelayanan yang baik serta sebagainya. Hal itu terbukti di 2016 target meningkat  dibanding tahun sebelumnya.

“Mudah-mudahan dapat tercapai. Upaya jelas kami tingkatkan dan selalu kami evaluasi setiap saat. Jadi kami yakin tahun ini bakalan tercapai,” katanya yang biasa dipanggil Tika, yang baru menjabat setengah tahun.

Guna meningkatkan pendapatan pada 2017, pihaknya akan menawarkan sejumlah even untuk digelar di kawasan wisata Colo. Dengan adanya sejumlah even yang mampu menyedot banyak penonton. Diharapkan pendapatan ikut meningkat pula.

Editor : Akrom Hazami

Grobogan Siapkan Peraturan Bupati Tentang Tanda Daftar Usaha Pariwisata

Kasi Pemasaran Promosi dan Produk Wisata Ruswandi menyampaikan penjelasan rencana pembuatan Perbup tanda daftar usaha pariwisata di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasi Pemasaran Promosi dan Produk Wisata Ruswandi menyampaikan penjelasan rencana pembuatan Perbup tanda daftar usaha pariwisata di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Makin menggeliatnya sektor pariwisata di Grobogan mulai menjadi perhatian dari pemkab setempat. Indikasinya, pemkab bakal menyiapkan sebuah peraturan bupati (Perbup) mengani tanda daftar usaha pariwisata (TUDPar).

Terkait dengan masalah tersebut, Pemkab Grobogan melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata mengundang berbagai komponen yang berkaitan dengan dunia kepariwisataan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti, pengelola wisata, jasa transportasi, biro perjalanan wisata, jasa makanan dan minuman, akomodasi, hiburan dan rekreasi, serta penyelenggara pertemuan maupun pameran.

“Berbagai komponen yang berkaitan dengan usaha pariwisata sengaja kita kumpulkan. Tujuannya, untuk menyosialisasi dan meminta masukan terkait dengan rancangan pembuatan Perbup TUDPar,” kata Kabid Pariwisata Ngadino, Sabtu (24/12/2016).

Dijelaskan, pembuatan Perbup bertujuan memberikan  kepastian  hukum  dalam  penyelenggaraan usaha pariwisata. Kemudian, adanya Perbup bisa sebagai aturan untuk mengendalikan penyelenggaraan usaha pariwisata serta sebagai sarana informasi. Dengan adanya Perbup itu dimaksudkan bisa menjadi pedoman bagi  instansi terkait dalam  memberikan  pelayanan pendaftaran  usaha  dan  bagi  masyarakat  dalam menyelenggarakan usaha bidang pariwisata.

Dalam Perbup nanti akan mengatur berbagai hal yang bersifat teknis. Misalnya, syarat untuk mendapatkan TUDPar. Baik syarat administrasi, yuridis, dan teknis.

Selain itu, dilakukan pula penjelasan mengenai tahapan yang harus dilakukan pemohon untuk mendapatkan TUDPar. Dalam Perbup juga mengatur kewajiban dan larangan para pelaku usaha pariwisata serta sangsinya.

“Mereka yang diwajibkan memiliki TUDPar adalah setiap  orang  atau  badan  usaha  yang  menjalankan  kegiatan usaha  pariwisata. Untuk mendapatkan TUDPar nanti tidak dipungut biaya,” imbuh Kasi Pemasaran Promosi dan Produk Wisata Ruswandi.

Sementara itu, para peserta yang diundang dalam kesempatan itu menyambut baik rencana pembuatan Perbup yang khusus mengatur masalah usaha pariwisata. Sebab, adanya aturan ini akan memberikan kepastian para pelaku usaha.

Meski demikian, ada beberapa masukan yang disampaikan pelaku usaha pariwisata itu. Antara lain, peratuan yang dibuat jangan sampai tumpang tindih dengan aturan yang sudah berlaku selama ini.

“Kami berharap dalam pembuatan Perbup ini dikaji dengan cemat dengan aturan yang sudah ada, baik dari pusat maupun provinsi. Jangan sampai, adanya aturan baru justru akan menyulitkan pelaku usaha pariwisata,” kata Mulyadi, perwakilan dari pengelola jasa makanan dan minuman. 

Editor : Akrom Hazami

3 Air Terjun di Jepara Ini Bikin Wisatamu Berkesan Selamanya

Wisatawan menikmati pemandangan di Air Terjun Kedung Ombo Jepara. (Istiemewa)

Wisatawan menikmati pemandangan di Air Terjun Kedung Ombo Jepara. (Istiemewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Objek wisata di Jepara memang tidak ada habisnya dieksplorasi. Di antaranya adalah objek wisata alam seperti halnya air terjun.

Dikutip dari beberapa sumber yang diolah,sSetidaknya ada tiga objek wisata air terjun di Jepara yang bikin wisatawan betah berlama-lama menikmatinya.

 

  1. Air Terjun Songgo Langit
Suasana objek wisata Air Terjun Songgolangit, Jepara. (Istimewa)

Suasana objek wisata Air Terjun Songgolangit, Jepara. (Istimewa)

Objek wisata ini terletak di Desa Bucu, Kecamatan Kembang 30 km sebelah utara dari Kota Jepara. Air terjun ini mempunyai ketinggian 80 meter dan lebar 2 meter.

Panorama alam di sekitar objek wisata ini begitu indah dan udaranya cukup nyaman, sehingga sangat cocok untuk acara santai atau kegiatan rekreasi lainnya.

Di tempat pula banyak dijumpai kupu-kupu yang beraneka ragam jumlahnya dengan warna-warni yang cukup indah. Untuk mencapai objek wisata tersebut dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4 dengan kondisi jalan beraspal.

 

  1. Air Terjun Gembong
Sejumlah wisatawan asyik menikmati Air Terjun Gembong, Jepara. (istimewa)

Sejumlah wisatawan asyik menikmati Air Terjun Gembong, Jepara. (istimewa)

Objek wisata Air Terjun Gembong terletak di Dukuh Papasan, Bangsri, Jepara.

Dengan luasnya 49.246 Ha, Sebelah utara berbatasan dengan Desa Srikandang, sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tanjung, pada sebelah barat berbatasan dengan Desa Kepuk, dan di sebelah timur berbatasan dengan Desa Dudakawu.

Air Terjun Gembong terletak tidak jauh dari Air Terjun Kedung Ombo. Pengunjung bisa berjalan kaki sekitar 30 menit melewati jalan setapak yang telah disediakan. Tidak seperti Kedung Ombo, Air Terjun Gembong dilewati dengan sebuah perjalanan  yang lebih asyik dan menantang. Selain pengunjung tracking, wisatawan juga dapat melakukan olahraga motor trail di area ini karena medannya sangat mendukung dan menantang.

  1. Air Terjun Kedung Ombo
Suasana wisataw di Air Terjun Kedung Ombo, Jepara. (Istimewa)

Suasana wisataw di Air Terjun Kedung Ombo, Jepara. (Istimewa)

Objek  wisata Air Terjun Kedung Ombo terletak di Dukuh Papasan, Bangsri, Jepara.

Terdapat tumpukan bebatuan rapi berbentuk persegi, layaknya buatan manusia. Itu merupakan hasil dari aktivitas alamiah tanpa campur tangan manusia sama sekali.

Jalur trekking menuju Air terjun Kedung Ombo memiliki panjang 2Km dan selama perjalanan akan disuguhkan pemandangan indah yang masih alami. Dengan melewati medan persawahan, hutan dan sungai bebatuan yang masih alami serta udara yang sejuk sehingga membuat perjalanan semakin menyenangkan.

Editor : Akrom Hazami

Kendal Buka Trayek Karimunjawa, KMP Siginjai Jepara Tak Khawatir Ditinggal Penumpang

kapal

KMP Siginjai siap mengangkut penumpang ke Karimunjawa Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pelabuhan Tanjung Kendal telah resmi membuka trayek ke Karimunjawa, Jepara dengan pelayanan kapal cepat Express Bahari. Meski begitu, PT ASDP Cabang Jepara tak khawatir banyaknya penumpang yang bakal beralih pemberangkatan dari pelabuhan Jepara ke pelabuhan Kendal tersebut.

Kepala PT ASDP Cabang Jepara Yudhi Yanuar menjelaskan, pihaknya tidak khawatir akan ditinggalkan penumpang kapal yang dikelolanya yakni KMP Siginjai. Pasalnya, ia menilai segmentasi penumpang kapal cepat dengan KMP Siginjau sudah berbeda.

“Segmen penumpangnya berbeda, jadi kami tidak khawatir. KMP Siginjai segmennya masyarakat kelas menengah ke bawah, atau penduduk Karimunjawa dan wisatawan mancanegara,” ujar Yudhi kepada MuriaNewsCom, Selasa (23/8/2016).

Menurutnya, penumpang yang beralih ke Kendal diprediksi adalah wisatawan yang kelas menengah ke atas. Sebab, pelabuhan Kendal lebih dekat dari Bandara Ahmad Yani Semarang.

“Justru sebetulnya yang perlu khawatir adalah Pemkab Jepara. Sebab, dengan dibukanya trayek dari Kendal ke Karimunjawa, maka diprediksi banyak wisatawan kelas menengah ke atas lebih memilih lewat Kendal. Jadi potensi ukir, dan lainnya yang ada di Jepara, tidak bisa dilihat oleh mereka,” ungkapnya.

Ia menilai sejauh ini sejumlah wisatawan mancanegara banyak yang memilih menggunakan transportasi KMP Siginjai ketimbang kapal cepat. Salah satu alasannya, para turis asing tersebut lebih suka menikmati perjalanan laut.

“Kalau naik kapal cepat tidak bisa leluasa menikmati perjalanan laut. Tapi kalau KMP Siginjai bisa, dan itu yang lebih dipilih turis asing. Apalagi kalau mereka berlibur tidak dikejar-kejar jam kerja, lebih leluasa,” katanya.

Ia menambahkan, selain turis asing yang banyak menggunakan KMP Siginjai, pihaknya juga lebih memprioritaskan penumpang lokal terutama warga Jepara dan Karimunjawa sendiri.

Editor : Akrom Hazami