Bupati Haryanto Konsultasi ke Singapura untuk Pembangunan Pati

Bupati Pati Haryanto (kanan) bersama Wabup Pati Saiful Arifin, seusai dilantik Gubernur Jawa Tengah, Selasa (22/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto mengonsultasikan pengembangan wisata di Kabupaten Pati hingga ke Singapura dan Australia. Hal itu disampaikan Haryanto, usai dilantik sebagai Bupati Pati, Selasa (22/8/2017).

“Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan teman arsitektur dari Singapura dan Australia. Saya minta tolong untuk membantu perencanaan pembangunan di Pati, termasuk wisata,” ujarnya.

Sejumlah tempat wisata yang rencana akan dikembangkan lebih lanjut, antara lain Gunung Rowo, Gua Wareh, Jolong, dan Jrahi. Jauh-jauh hari, beberapa tempat wisata itu direncanakan untuk dibangun dengan tujuan menarik investasi.

Sebab, program pembangunan di Pati lima tahun ke depan tidak hanya fokus pada infrastruktur saja, tetapi juga wisata. Selain mengakomodasi potensi lokal, dunia pariwisata dinilai ikut meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Untuk wisata, saya sudah berkonsultasi kepada arsitektur tersebut. Sejumlah wisata di Pati yang saya sebutkan tadi itu pantasnya dibuat bagaimana biar memiliki daya tarik bagi pengunjung,” kata Haryanto.

Hanya saja, upaya untuk pengembangan wisata masih dalam tahap perencanaan. Ke depan, pembangunan infrastruktur berbasis pengembangan wisata akan dianggarkan sehingga Pati menjadi lebih dikenal dengan pariwisatanya.

“Pengembangan wisata sudah masuk dalam program Noto Projo Mbangun Deso. Doakan agar rencana untuk membangun Pati berjalan lancar dan sukses. Semuanya untuk warga Pati,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Destinasi Wisata di Pati yang Bisa Kamu Kunjungi Selama Liburan Lebaran

Seorang pengunjung tengah berjalan di salah satu spot kawasan wisata Bukit Pandang Ki Santamulya, Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati punya sejumlah destinasi wisata menarik yang bisa dikunjungi selama liburan Lebaran, baik wisata alam, religi maupun buatan.

Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Pati Sigit Hartoko mengatakan, tempat wisata di Pati bukan hanya menyuguhkan satu destinasi yang menarik, tetapi juga sangat terjangkau.

Karena itu, dia menyarankan kepada warga Pati maupun perantauan yang tengah pulang ke Pati untuk mengagendakan liburan di Pati. Ada beragam objek wisata yang bisa dinikmati di Pati.

Waduk Gunungrowo
Makan ikan bersama lalapan ditemani es kelapa muda di pinggiran waduk menjadi agenda paling digemari di Waduk Gunungrowo. Dengan view gunung Muria dan danau buatan yang indah membuat Anda takjub.

Pengendara sepeda motor dikenai tiket masuk Rp 2.000, sedangkan pengemudi mobil Rp 5.000. Kawasan ini sudah buka sekitar pukul 07.30 WIB sampai pukul 17.30 WIB.

Waduk Seloromo

Kawasan wisata yang terletak di Desa Gembong ini cocok bagi backpacker yang ingin menikmati indahnya waduk buatan pemerintah Hindia-Belanda.

Selain gratis dan tidak ada tiket masuk, kawasan ini buka kapan saja. Meski demikian, kunjungan pada malam hari tidak direkomendasikan.

Juwana Water Fantasy
Terletak di Jalan Juwana-Rembang Km 7, destinasi wisata yang akrab disebut JWF ini sangat direkomendasikan bagi keluarga yang ingin berwisata dengan sensasi wahaha air di Pati.

Buka dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB, tiket JWF bisa diperoleh dengan harga Rp 25 ribu untuk tiket biasa dan Rp 45 ribu untuk tiket terusan. Ini berlaku untuk hari biasa.

Sementara untuk Sabtu, Minggu dan tanggal merah, Anda harus merogoh kocek Rp 30 ribu untuk tiket biasa dan Rp 50 ribu untuk tiket terusan. Sangat terjangkau, bukan?

Gua Pancur
Ada beragam wahana yang bisa dinikmati pengunjung di Gua Pancur yang terletak di Jimbaran, Kayen ini. Anda bisa menjelajah gua sepanjang hampir satu kilometer di perut bumi dengan biaya Rp 20 ribu per orang.

Pengunjung juga bisa sekadar menikmati indahnya danau mini buatan dengan menyewa jasa bebek kayuh. Keluarga yang ingin outbond sederhana juga ada di kawasan ini.

Anda cukup membayar biaya parkir kendaraan Rp 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp 6 ribu untuk mobil. Adapun tiket masuk masih gratis. Berminat berkunjung ke sini? Jam buka sekitar pukul 07.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Bukit Pandang Ki Santamulya

Ada belasan spot menarik yang bisa dinikmati pengunjung di objek wisata yang terletak di Desa Durensawit, Kayen. Saksikan panorama paling indah dari bukit Gunung Kendeng di sini.

Lokasinya sekitar 10 menit sebelah timur RSUD Kayen. Buka mulai pukul 07.00 WIB sampai 17.30 WIB, pengunjung cuma merogoh kocek Rp 3 ribu sebagai tiket masuk untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak.

Sementara biaya parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil. Beragam spot yang bisa dinikmati di sana, antara lain rumah pohon, spot cinta, sarang burung raksasa, jembatan cinta, kupu-kupu, bunga matahari dan beragam spot menarik lainnya.

Kawasan pemancingan Talun
Di Desa Talun, Kayen, ada kawasan pemancingan ikan yang cukup populer. Buka dari pukul 08.00 WIB sampai 17.30 WIB, tempat ini menyuguhkan sensasi berburu kuliner ikan tawar dengan memancing.

Tiket masuk gratis dan pengunjung cukup pesan aneka masakan khas ikan tawar di sini. Bila ingin memancing, ada tarif khusus untuk per kilogram ikan yang didapatkan.

Editor : Kholistiono

Pengembangan Wisata Waduk Kletek Pati Dikelola BUMDes

Suasana peresmian Waduk Kletek, Pucakwangi sebagai destinasi wisata, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah wacana menunjukkan, objek wisata tidak akan berkembang di tangan pemerintah. Sebaliknya, objek wisata akan maju bila dikelola swasta.

Namun, hal itu tidak berlaku di Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi. Di sana, sebuah waduk yang dibuka sebagai destinasi wisata dikelola oleh pemerintah desa menggunakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Sekretaris Desa Kletek Samuri mengatakan, Waduk Kletek dikelola BUMDes Ngundi Makmur yang dianggarkan pemdes dari dana desa 2016. Pengembangan usaha di bidang pariwisata itu diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendapatan yang dikelola BUMDes.

“Embung ini awalnya sebatas berfungsi sebagai irigasi. Namun, setelah dilihat punya pemandangan yang cukup bagus, kami akhirnya memutuskan untuk mengembangkan sebagai objek wisata,” kata Samuri, Senin (15/5/2017).

Hasil dari pengelolaan wisata akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan memiliki peluang bagus dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka bisa membuka warung di sekitar objek wisata dan mendapatkan penghasilan dari sana.

Manajer BUMDes Ngundi Makmur Rusgianto menambahkan, pengembangan wisata Waduk Kletek didesain supaya bisa dikunjungi semua kalangan, baik anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua. Spot cinta, payung yang menggelantung di pepohonan dan hammock menjadi target pengunjung dari remaja.

Sementara wisata air ditargetkan bisa menyasar semua kalangan. Ke depan, pihaknya juga akan menambah sejumlah fasilitas seperti flying fox dan gembok cinta untuk menjawab kebutuhan pengunjung. Dia berharap, Waduk Kletek bisa meningkatkan dunia pariwisata di Kabupaten Pati.

Editor : Kholistiono

Waduk Kletek jadi Destinasi Wisata Baru di Pati

Pengunjung berfoto selfie di spot cinta Waduk Kletek, Pucakwangi, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah waduk kecil yang terletak di Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi, saat ini menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Pati. Setiap hari, ratusan wisatawan lokal mengunjungi kawasan tersebut.

Kendati berada di sebuah daerah terpencil dari kota, tetapi pesonanya membuat banyak muda-mudi bertandang ke Waduk Kletek. Tak sekadar menyuguhkan pemandangan alam, pengelola menawarkan beragam spot menarik untuk selfie.

Pratiwi (20), pengunjung asal Jaken mengaku penasaran dengan daerah tersebut. Dia tahu Waduk Kletek dibuka sebagai objek wisata melalui cerita dari teman dan media sosial, seperti Facebook dan Instagram.

“Saya tahu dari cerita teman, Facebook dan Instagram. Sebagian besar teman-teman mengunggahnya di Instagram. Penasaran dan akhirnya datang ke sana,” ujar Pratiwi.

Menurutnya, ada sejumlah spot yang menarik. Salah satunya, spot cinta dengan pemandangan danau. Ada pula hammock, payung, dan wahana air yang cocok dikunjungi bagi pasangan muda-mudi maupun keluarga saat menghabiskan waktu libur.

Pengelola Waduk Kletek Rusgianto mengungkapkan, kawasan tersebut dibuka sebagai destinasi wisata karena punya potensi yang bagus. Terbukti, banyak pengunjung yang datang setelah dibuka sebagai objek wisata dengan penambahan fasilitas-fasilitas baru.

Dalam waktu dekat, pengelola berencana akan menambahkan sejumlah fasilitas seperti gembok cinta dan flying fox. Pihaknya juga akan mengupayakan perbaikan infrastruktur jalan supaya akses menuju lokasi mudah dilewati.

Editor : Kholistiono

Bukit Pandang di Durensawit Pati Jadi Saksi Bisu Kerinduan Ki Santa Mulya

Sejumlah pengunjung berada di Bukit Pandang Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung berada di Bukit Pandang Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bukit Pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati yang saat ini dijadikan destinasi wisata baru di Pati selatan ternyata menyimpan nilai sejarah pada zaman Kerajaan Angling Darma. Bukit tertinggi di desa tersebut menjadi saksi bisu kerinduan Ki Santa Mulya, menantu Maesura, guru Angling Darma.

Tokoh setempat, Krisno kepada MuriaNewsCom menuturkan, istri Ki Santa Mulya saat itu berbuat kesalahan sehingga mendapatkan hukuman dari mertuanya, Maesura. Dia diasingkan di Pulau Anakan yang diduga saat ini bernama Pulau Seprapat, Juwana.

Suaminya, Ki Santa Mulya merasa rindu dengan istrinya lantaran saat itu tengah hamil. Namun, dia tidak bisa berbuat sesuatu karena ayahnya sendiri yang menghukumnya dengan mengasingkan di Pulau Anakan.

“Ki Santa Mulya kemudian melakukan kontak batin di puncak tertinggi di perbukitan Durensawit. Di sana, dia juga bisa melihat pulau anakan dari atas sehingga bisa sedikit mengobati rindunya kepada sang istri,” ujar Krisno, Kamis (19/1/2017).

Kisah tersebut, kata Krisno, diambil dari cerita tutur yang berkembang di Durensawit. Kisah itu terjadi pada zaman Kerajaan Malawapati yang dipimpin Prabu Angling Darma. Namun, kisah itu mulai pudar dari ingatan.

Sejak dibuka untuk dikunjungi, kawasan tersebut mulai ramai diserbu muda-mudi yang ingin melihat keindahan hamparan daratan Kabupaten Pati, serta pegunungan yang hijau. Warga yang rindu dengan atmosfer udara sejuk bisa berkunjung ke sana setiap hari, hanya dengan biaya parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil.

Editor : Kholistiono

Kurang Sekaya Apalagi Kabupaten Pati Itu?

Ali Muntoha muntohafadhil@gmail.com

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

GUNUNG punya, laut dan pantai membentang, areal pertanian begitu luasnya. Lalu kurang sekaya apalagi Bumi Mina Tani itu? Sumber daya manusia tak usah diragukan, Pati punya ribuan intelektual, cendekiawan, dan budayawan maupun tenaga-tenaga ahli yang sangat mumpuni di bidangnya masing-masing. Lalu kurang apa lagi coba?

Pati ini kalau diibaratkan sebuah makanan cepat saji, merupakan paket komplit, semuanya ada, semuanya dimiliki. Kekayaan alam luar biasa banyak, potensi wisatanya jangan ditanya, hampir semua wilayah di Pati, punya tempat-tempat wisata yang eksoktik. Namun di sisi inilah yang menurut penulis ada kurangnya.

Yang kurang adalah masalah kepedulian. Kepedulian pemerintah, kepedulian sektor pendukung, dan kepedulian warga sekitar. Padahal potensi wisata di Kabupaten Pati itu, jika dikemas dan dikelola dengan baik, maka akan sangat bisa mengalahkan tempat-tempat wisata di sekitarnya.

Potensi wisata alam di Kabupaten Pati menyebar, dan semuanya indah. Di kawasan utara yang lagi ngehits ada Pantai Cinta di Dukuhseti plus kawasan tempat pelelangan ikannya. Yang tak jauh dari kota Pati ada pantai mangrove khas Desa Sambilawang, Kecamatan Trangkil, Pati. Di Pati bagian selatan di sepanjang kaki Pegunungan Kendeng juga terhampar berbagai macam potensi wisata, mulai dari religi hingga wisata alamnya.

Di kawasan ini ada makam Syek Jangkung yang sangat terkenal di wilayah pantura timur, ada juga wisata-wisata gua, mulai dari Gua Pancur di Desa Jimbaran, Kayen, dan Gua Wareh di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, maupun kawasan pemancingan Talun.

Bergeser ke timur terutama di kawasan Juwana yang merupakan pesisir laut, tentu saja banyak sekali potensi wisata di tempat ini. Namun yang sudah lama dikenal di Juwana ini adalah wisata kulinernya, mulai dari kuliner mangut kepala manyung yang sangat terkenal, hingga wisata kampung batik Bakaran.

Lalu ke wilayah barat, dan ini menurut penulis paling lengkap. Di sini mulai dari wisata air hingga alam tersedia dan tinggal menikmati. Mulai di Kecamatan Gembong yang mempunyai dua waduk yakni Waduk Seloromo Gembong dan Waduk Gunungrowo. Sedikit naik ke atas ada air terjun yang baru saja mulai terkenal setelah terekspos di media sosial, yakni Air Terjun Tedunan, di Desa Siti Luhur, Kecamatan Gembong.

Ada juga kawasan perkebunan Jollong yang menawarkan berbagai macam keindahan alam, hamparan kebun kopi. Air terjun juga ada di kawasan ini namanya Air Terjun Grenjengan. Lokasi ini sudah tertata apik dan rapi. Ada juga agrowisata kebun buah naga di Jollong, di mana pengunjung bisa menikmati keindahan Waduk Gunung Rowo dan Waduk Seloromo Gembong dari atas, sembari memetik buah naga.

Semua kekayaan alam Pati ini tidak dimiliki di daerah lain. Namun sayangnya pengelolaanya yang kurang maksimal. Berbagai macam potensi wisata itu seakan berjalan sendiri-sendiri, sehingga ada yang terurus dan ada sama sekali yang tidak terurus.

Banyak wisatawan dari luar Pati yang terkejut saat mendatangi tempat wisata Pati. Tak hanya terkejut karena keindahannya, tapi juga terkejut dengan medan untuk mengaksesnya yang sangat-sangat buruk. Hingga banyak yang menyebut “piknik rekasa”.

Contohnya saja, setiap akhir pekan ribuan orang mendatangi Air Terjun Tedunan di Dukuhseti. Mereka terpikat lantaran massifnya orang yang meng-aploud keindahan air terjun ini ke media sosial. Memang air terjun ini benar-benar berbeda, bahkan belum ada yang menyamai di sekitar pantura timur ini. Namun karena akses masuknya yang sulit, membuat orang harus berpeluh keringat jika ingin menikmati keindahan air terjun ini.

Jalan masuk menuju lokasi sangat sempit, sehingga mobil sangat susah untuk masuk. Jarak tempat parkir dari lokasi harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 800-an meter. Jarak ini tak cukup jauh jika jalurnya landai, tapi ini sangat terjal, dengan jalan setapak. Terlihat para wisatawan bercucuran keringat untuk menuju lokasi, dan yang lebih parah lagi jika meninggalkan lokasi, karena jalurnya jadi sangat terjal menanjak. Sehingga banyak yang sempoyongan.

Sarana yang ada memang masih sangat minim, meskipun sudah cukup rapi. Ada fasilitas toilet sederhana, dan sepanjang jalan juga terdapat tong-tong sampah, sehingga lokasinya bersih dari sampah. Tak hanya di lokasi ini, di kawasan agrowisata Jollong juga demikian, untuk menikmati wisata di sana juga harus bercucuran keringat. Maka tak salah jika ada yang menyebut piknik di daerah ini adalah piknik yang rekasa.

Pemerintah memang terkesan setengah hati menjadikan potensi wisata di Pati sebagai salah satu fokusnya. Padahal jika potensi ini digarap dengan serius maka wisata Pati bisa setara dengan tempat-tempat wisata di luar negeri. Contohnya saja, dua waduk di Kecamatan Gembong itu jika digarap serius dan modern bisa menjadi wahana wisata yang sangat luar biasa.

Berbagai macam permainan air bisa diterapkan di waduk ini, mulai dari perahu wisata, banana boat atau yang lebih modern lagi. Namun memang tak mudah, karena biaya yang dikeluarkan pun tak sedikit. Tapi ini menjadi tantangan pemerintah, untuk membuat program-program wisata unggulan di Pati, tak hanya sekadar city tour yang entah bagaimana nasibnya saat ini. Jika potensi-potensi wisata ini digarap dengan apik dan serius, orang pun akan bangga mengkampanyekan “Visit Pati”. (*)

Ini Alasan 3 Daerah di Pati Ditetapkan sebagai Desa Hayati

Ketua Forum DAS Muria (paling depan) meninjau Air Terjun Tedunan di Desa Sitiluhur sebagai salah satu desa hayati di Pati kemarin. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua Forum DAS Muria (paling depan) meninjau Air Terjun Tedunan di Desa Sitiluhur sebagai salah satu desa hayati di Pati kemarin. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Muria dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Pemali-Jratun menetapkan tiga desa di Kabupaten Pati sebagai desa hayati. Ketiga desa tersebut adalah Desa Sitiluhur dan Plukaran, Kecamatan Gembong, serta Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal.

Ada sejumlah hal yang membuat ketiga desa tersebut ditetapkan sebagai desa hayati. Salah satunya, antuasiasme, partisipasi dan upaya pemberdayaan masyarakat setempat. Warga setempat dinyatakan punya kesadaran untuk mengembalikan Muria sebagai kawasan hutan lindung yang harus dilestarikan.

Selanjutnya, adanya dukungan dari pemerintah daerah (pemda) yang sepakat bila tiga desa di Pati tersebut ditetapkan sebagai desa hayati. Selain itu, aksesibilitas ketiga lokasi desa itu terbilang cukup mudah dijangkau dari pusat kota.

Sebab, desa hayati menjadi model yang tak hanya dinikmati penduduk sekitar, tetapi juga pengunjung dari luar daerah. Potensi sumber daya alam (SDA) yang ada di ketiga desa tersebut juga dianggap sangat tepat untuk dikembangkan, sekaligus diperhatikan kelestariannya.

“Hal yang paling penting, ketiga desa tersebut butuh untuk direhabilitasi dan dikonservasi. Kawasan di tiga desa tersebut diharapkan menjadi penyangga air yang baik bagi keberlangsungan ekosistem di kawasan Muria,” kata Ketua Forum DAS Muria Hendy Hendro kepada MuriaNewsCom.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Sitiluhur Suyuti mengaku akan menjaga reputasi Sitiluhur sebagai desa hayati. Pihaknya akan mengembangkan potensi wisata yang ada di desanya dengan memperhatikan pendekatan wisata hutan.

Selain potensi di Desa Sitiluhur yang bagus untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata, Suyuti sadar bila desanya tersebut punya peran penting untuk menjaga kelestarian Pegunungan Muria. Karena itu, pemdes setempat rencananya akan membuat sejumlah regulasi lokal untuk menjaga eksistensi hutan, aliran sungai yang jernih, termasuk habitat yang ada di kawasan Desa Sitiluhur.

Editor : Kholistiono

Forum DAS Muria Kunjungi 3 Desa Hayati di Pati

Forum DAS Muria meninjau Air Terjun Tedunan di Desa Sitiluhur, Gembong yang mulai dibuka sebagai objek wisata baru, Selasa (30/08/2016) (MuriaNewsCom/Lismanto)

Forum DAS Muria meninjau Air Terjun Tedunan di Desa Sitiluhur, Gembong yang mulai dibuka sebagai objek wisata baru, Selasa (30/08/2016) (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Muria mengunjungi tiga desa hayati yang ada di Kabupaten Pati, Selasa (30/8/2016). Ketiga desa hayati tersebut, antara lain Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, dan Desa Plukaran, Kecamatan Gembong.

Dalam kunjungan tersebut, anggota Forum DAS Muria mengecek sejumlah tempat yang dijadikan sebagai kawasan wisata baru. Di Desa Sitiluhur, misalnya. Di sana, pemdes dan kelompok sadar wisata (pokdarwis) membuka lokasi wisata baru bernama Air Terjun Tedunan.

Kunjungan itu untuk memastikan bila pembukaan wisata baru di desa hayati tidak merusak lingkungan yang berpotensi mengancam eksistensi Desa Sitiluhur sebagai desa hayati. Pasalnya, kawasan Pegunungan Muria pada era reformasi sudah mengalami kerusakan hebat akibat illegal logging.

“Kunjungan kita untuk memastikan bila pembukaan wisata baru tidak merusak lingkungan. Potensi wisata alam memang bagus untuk dikelola, selama metode manajemennya menggunakan pendekatan wisata hutan. Di satu sisi, wisata bisa berjalan dengan baik. Di sisi lain, Muria sebagai kawasan hutan lindung perlu dilindungi dengan konsep pendekatan wisata hutan,” ujar Ketua Forum DAS Muria, Hendy Hendro.

Usai meninjau Air Terjun Tedunan, Hendy mengaku bila objek tersebut memang laik dijadikan sebagai destinasi wisata di Desa Sitiluhur. Pohon dan hutan di sekitanya masih sangat asri. Begitu juga dengan bebatuan, jalan terjal dan curam, serta aliran sungai masih sangat jernih.

Karena itu, dia berpesan kepada pemerintah desa, pokdarwis, dan pengelola wisata bisa memperhatikan pengunjung dengan baik supaya tidak merusak ekosistem yang ada di dalamnya. Lebih dari itu, manajemen wisata diharapkan benar-benar memperhatikan kelestarian alam.

Editor : Kholistiono

Daya Tarik Plorotan Semar di Sumbersari Pati Masih Terabaikan

 Sejumlah pengunjung tengah mandi di bawah air terjun Plorotan Semar, Desa Sumbersari, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah pengunjung tengah mandi di bawah air terjun Plorotan Semar, Desa Sumbersari, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati yang dikelilingi pegunungan secara sambung-menyambung dari Muria, Pati Ayam hingga Kendeng memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Sayangnya, daya tarik alam yang potensial tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah.

Di Plorotan Semar, Desa Sumbersari, Kecamatan Kayen, misalnya. Daya tarik air terjun bertingkat tiga tersebut sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan lokal. Namun, tidak ada sarana dan prasarana, serta fasilitas untuk mendukung aktivitas wisatawan.

Berbekal spanduk bertuliskan “Obyek Wisata Lorotan Semar”, warga setempat memasangnya pada bagian depan sebelum masuk objek wisata. Tak perlu tiket masuk, pengunjung cukup membayar biaya parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor yang dititipkan warga.

Hal itu mendapatkan perhatian dari Ari Sofyan, salah satu pengunjung yang mandi di air terjun tingkat kedua. “Tempat ini sebetulnya sangat bagus dan berpotensi menjadi kawasan wisata alam di wilayah selatan. Sayangnya, tidak ada perhatian khusus dari pemerintah. Tidak ada fasilitas, sarana-prasarana, atau keamanan,” kata Ari.

Padahal, lanjutnya, sebagian besar pengunjung berasal dari anak-anak hingga remaja. Kondisi itu dikhawatirkan akan membahayakan anak-anak yang tidak tahu medan. Sebab, perlu melewati jalan terjal ke bawah untuk sampai ke lokasi wisata.

Senada dengan Ari, salah satu pengunjung lainnya, Sinarto berharap ada upaya penanganan dari pemda. Selain dunia pariwisata di Pati kian berkembang, penanganan yang serius diharapkan bisa mendongkrak perekonomian warga setempat, termasuk pendapatan asli daerah (PAD).

Editor : Kholistiono

 

Paket Wisata Sehari di Pati Dikembangkan untuk Umum

Guide lokal mengarahkan peserta "One Day Exotic Tour" di Waduk Gunung Rowo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Guide lokal mengarahkan peserta “One Day Exotic Tour” di Waduk Gunung Rowo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Paket wisata sehari di Pati bertajuk “One Day Pati Exotic Tour” yang saat ini melayani pelajar, rencananya akan dikembangkan untuk umum. Hal itu untuk mempromosikan objek wisata Pati yang selama ini belum banyak dikenali warganya sendiri.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Pemuda Olahraga (Disbudparpora) Pati Sigit Hartoko mengatakan, Pati selama ini banyak menyumbangkan wisatawan ke luar daerah. Dengan adanya ekspansi tersebut, warga Pati sendiri diharapkan bisa mencintai objek wisata yang ada di daerahnya.

“Awalnya, sasaran utama One Day Exotic Tour adalah siswa tingkat TK dan SD. Itu hasil kerja sama dengan Dinas Pendidikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta biro perjalanan. Namun, tidak menutup kemungkinan akan membuka layanan untuk umum,” ujar Sigit.

Hal itu diamini Direktur Naura Tour, Shinta Amarawati Widyaningrum yang bekerja sama dengan pemkab untuk melayani program One Day Exotic Tour. Pihaknya membuka peluang untuk masyarakat umum yang ingin mengikuti program wisata sehari di Pati.

“Untuk mengikuti program ini, minimal 16 orang. Masing-masing orang dikenakan biaya Rp 85 ribu. Itu sudah termasuk fasilitas, seperti welcome drink di Kebun Jolong, makan siang prasmanan di Waduk Gunung Rowo, Dawet Pesantenan di Genuk Kemiri, serta voucher makanan dan minuman di Pasar Pragola,” tutur Shinta.

Saat menjelajah ke sejumlah tempat wisata, wisatawan akan dipandu guide lokal untuk mendapatkan beragam panduan wisata. Mereka diajak berkeliling dan dikenalkan setiap kekayaan alam lokal di wisata setempat.

Editor : Akrom Hazami

Siswa Pati Diberi Kemudahan Berwisata

Ratusan siswa tampak menikmati indahnya pemandangan Waduk Gunung Rowo di Desa Sitiluhur, Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan siswa tampak menikmati indahnya pemandangan Waduk Gunung Rowo di Desa Sitiluhur, Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Naura Tour bekerja sama dengan pemkab Pati meluncurkan program “One Day Pati Exotic Tour”. Selain untuk mendongkrak potensi wisata di Bumi Mina Tani, program tersebut menjadi cara bagi pemkab untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.

Direktur Naura Tour, Shinta Amarawati Widyaningrum mengaku optimistis program tersebut bakal mendongkrak potensi wisata dan ekonomi warga, serta menimbulkan multiplayer effect di daerah sekitar wisata.

“Banyak orang Pati yang keluar daerah untuk wisata. Padahal, Pati itu punya potensi wisata yang besar. Kalau warga Pati suka dengan potensi wisatanya sendiri, ekonomi warga setempat bisa maju. Timbul multiplayer effect, masyarakat juga berdaya,” ujar Shinta kepada MuriaNewsCom, Rabu (6/4/2016).

Program One Day Pati Exotic Tour sendiri merupakan program wisata sehari di Kabupaten Pati yang melibatkan pelajar, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Mereka diajak mengelilingi objek wisata di Pati seperti Kebun Jolong, Waduk Gunung Rowo, Genuk Kemiri, dan Pasar Unggulan Pragola.

Setiap siswa dikenakan biaya Rp 85 ribu dengan mendapatkan beragam fasilitas, mulai dari makanan dan minuman yang disuguhkan di tempat wisata setempat, serta voucher untuk mendapatkan snack dan minuman di Pasar Pragola. Di Genuk Kemiri, mereka mendapatkan Dawet Pesantenan untuk mengenalkan dawet sebagai sejarah awal berdirinya Kabupaten Pati.

“Peluncuran pertama, sudah ada 552 pelajar yang ikut program ini. Mereka tampak ceria mengikuti program wisata sehari, mulai dari pengenalan kopi di Kebun Jolong, keindahan alam waduk, sejarah Pati di Genuk Kemiri, hingga produk-produk unggulan khas Pati di Pasar Pragola,” imbuhnya.

Program itu diakui sebagai tahap awal untuk mengenalkan potensi wisata di Pati. Selanjutnya, pihaknya akan mencari lokasi wisata lain yang dianggap punya sejuta potensi seperti Gua Pancur, dan lainnya.

Editor : Akrom Hazami

Wisata di Sambilawang Pati Memang Jos, tapi….

Sejumlah pengunjung menikmati indahnya kawasan Pantai Sambilawang di pinggiran anak sungai yang menuju pantai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung menikmati indahnya kawasan Pantai Sambilawang di pinggiran anak sungai yang menuju pantai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Upaya yang dilakukan Pemerintah Desa Sambilawang, Trangkil, Pati untuk membuka kawasan wisata di daerah pesisir pantai menemui kendala. Salah satunya, persoalan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan wisata.

Kepala Desa Sambilawang, Mustain mengaku kawasan itu sudah mulai dikenal warga sekitar sebagai tempat tujuan untuk wisata pantai, sekaligus wisata flora karena ribuan tanaman mangrove tersebar di lahan seluas 8 hektare sebagai sabuk pantai.

“Meski ramai, tapi sarananya minim. Warung yang berjualan di sekitar pantai saja tidak ada. Listrik juga tidak ada. Saat ini, kami mencoba mendekati warga yang mau berjualan di sana. Selain bisa mendukung aktivitas wisata, itu bisa meningkatkan ekonomi warga,” tutur Mustain berbincang dengan MuriaNewsCom, Sabtu (5/3/2016).

Selain itu, mereka khawatir bila ada kejahatan yang tak diinginkan saat warung dibuka, lantaran lokasinya sekitar 3 kilometer dari permukiman. Namun begitu, pihaknya bakal bekerja sama dengan Polsek Wedarijaksa untuk memantapkan area wisata dari sisi keamanan.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum saat dikonfirmasi mengaku siap mengamankan kawasan itu sebagai destinasi wisata baru. “Kami tidak hanya siap melakukan pengamanan, tapi juga siap mendukung sebagai kawasan wisata,” katanya.

Pihaknya berharap agar Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Pati memberikan perhatian terkait dengan upaya pemdes untuk menjadikan kawasan itu sebagai tempat wisata. “Kami mohon ada perhatian dari pemerintah. Lokasi ini prospektif jadi jujugan wisata baru di kawasan Pati bagian utara,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami
Baca juga : Pantai Sambilawang Jadi Destinasi Wisata Baru di Pati 

4 Tempat Wisata Keluarga di Pati yang Buat Liburanmu Berkesan

MuriaNewsCom, Pati – Libur akhir pekan bingung mau kemana? Sekarang segeralah siapkan diri Anda bersama keluarga, rekan, sahabat, dan teman untuk menikmati wisata keluarga di Pati.
Berikut informasi tempat wisata keluarga di Pati yang dihimpun MuriaNewsCom yang layak menjadi alternatif untuk dikunjungi.

1. Juwana Water Fantasy

Juwana_Water_Fantasy

Juwana Water Fantasy atau dikenal dengan nama (JWF) adalah tempat wisata keluarga yang terdapat di Kabupaten Pati. JWF adalah tempat wisata keluarga dengan bertemakan air. Sedangkan bentuk bangunan JWF terinspirasi Tembok Benteng Eropa.
tempatnya juga mudah dijangkau dari arah Jepara, Semarang maupun timur Rembang, Surabaya. Karena JWF terletak di depan jalan pantura yaitu Jalan Juwana – Rembang Km 8 Desa Bumimulyo, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati.
Juwana Water Fantasy merupakan sarana rekreasi yang dapat mewujudkan fantasi Anda akan banyaknya arena permainan darat dan air. Terdiri dari 37 wahana yang membuat tidak akan pernah bosan untuk terus datang. Dengan luas area 5 hektare, akan memanjankan pengunjung dengan permainan air dan lainnya.

2. Byar-Byur Water Park

Byar-Byur Waterpark adalah tempat wisata yang terdapat di Kabupaten Pati, yang terdapat di Kecamatan Winong. Ada beragam fasilitas permainannya. Yaitu waterboom, kolam arus, mandi bola, dan swimming pool.

3. Sendang Tirta Marta Sani

sendang tirta marta sani

Sendang Tirta Marta Sani adalah tempat wisata di Kabupaten Pati. Sendang Tirta Marta Sani adalah tempat wisata yang menyajikan kolam renang dan wisata spiritual.
Fasilitasnya antar lain, Paseban adalah tempat mengheningkan diri mohon pada Sang Pencipta, Padusan adalah sumber air yang berasal dari sendang, sumber air tersebut merupakan tempat air wudhu Sunan Kalijaga, tetapi “disisani” (bahasa Jawa) oleh pengawalnya. Pengawalnya kemudian disabda menjadi seekor bulus oleh Sunan Kalijaga.
Fasilitas lainnya adalah kolam renang dan arena permainan anak, kolam pemancingan ikan. Di kompleks tersebut juga terdapat makam Adipati Pragolo (Bupati Pati pada zaman Kerajaan Mataram), pendapa: sarana pentas kesenian khas Pati, dan areal parkir dan jalan beraspal, jarak ± 4 Km dari Kota Pati.

4. Kebun Binatang TPA Pati
TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) Pati di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati ini awalnya seperti berbagai TPA lainnya yang yang identik dengan gundukan sampah dan bau busuk.

Namun mulai beberapa tahun terakhir, Dinas Pekerjaan Umum Pati sebagai pengelola TPA Margorejo, berusaha mengubah itu. TPA Pati diharapkan menjadi tempat penimbunan dan pengelolaan sampah berbasis edukasi lingkungan hidup.

Di TPA Margorejo Pati itu, masyarakat dapat juga menikmati kebun binatang mini, arena outbond dan bumi perkemahan, taman kehati (keanekaragaman hayati), dan taman bacaan. Dan uniknya, semua itu dapat dinikmati dengan gratis.

Koleksi hewannya adalah merak hijau (Pavu muticus), rusa (Cervus sp.), burung kakatua (Cacatua sulphurea), Siamang (Symphalangus syndactylus), elang laut (Haliaeetus leucogaster), monyet, ular sanca (Python sp.), serta beberapa jenis monyet dan burung.

Editor : Akrom Hazami

Ini Cara Membuat Pestisida Pengusir Hama dari Kentang

Sejumlah petugas dari Lab PHPT Pati memotong kentang untuk dijadikan pestisida alami. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petugas dari Lab PHPT Pati memotong kentang untuk dijadikan pestisida alami. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Selain dijadikan bahan dasar pembuatan keripik yang dikenal seantero dunia, kentang ternyata bisa dimanfaatkan sebagai pestisida pengusir hama secara alami.

Penganalisis Diagnosis Organisme Pengganggu Tumbuhan Lab PHPT Pati Tri Adji kepada MuriaNewsCom, Kamis (10/12/2015) mengatakan, sari kentang yang dicampur gula melalui proses tertentu bisa menghasilkan semacam mikroba yang efektif membunuh berbagai macam hama pertanian.

”Bahan-bahan yang digunakan cukup mudah, yaitu kentang dan gula. Kentang dipotong-potong biasa seperti kalau mau membuat sambal goreng. Selanjutnya direbus hingga sepuluh menit. Air rebusan itu diambil dan direbus lagi dengan gula. Setelah dingin dimasukkan ke sebuah alat fermentasi,” tuturnya.

Ia mengatakan, ekstrak kentang plus gula sebagai media untuk pengembangan agens hayati cendawan entomopatogen / antagonsi dengan cara difermentasi menggunakan alat fermentor. Setelah proses fermentasi berhasil dapat digunakan untuk pengendalian OPT tertentu.

Berita ini sekaligus meralat berita berjudul Ini Cara Membuat Pestisida Pengusir Hama dari Kentang. Dalam berita itu disebutkan hasil fermentasi harus ditampung dalam galon sehingga tidak terkontaminasi dengan bakteri atau jamur. ”Jangan gunakan ember, karena bisa terkontaminasi. Kalau mau tanya lebih lanjut soal alatnya, bisa datang ke Laboratorium PHPT Pati,” imbuhnya.

Dilihat dari aspek biaya, pemanfaatan pestisida dari kentang bisa lebih murah ketimbang pestisida kimia. Jika pestisida kimia dibanderol paling murah Rp 25 ribu per liter, pestisida dari kentang hanya menelan biaya Rp 10 ribu per liter.

”Tak hanya murah, tetapi juga ramah lingkungan dan hasil pertanian yang dipanen bisa organik, bebas residu kimia. Kentangnya juga bisa dimanfaatkan untuk membuat aneka makanan,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ini Cara Membuat Pestisida Pengusir Hama dari Kentang

Sejumlah petugas dari Lab PHPT Pati memotong kentang untuk dijadikan pestisida alami. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petugas dari Lab PHPT Pati memotong kentang untuk dijadikan pestisida alami. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Selain dijadikan bahan dasar pembuatan keripik yang dikenal seantero dunia, kentang ternyata bisa dimanfaatkan sebagai pestisida pengusir hama secara alami.

Penganalisis Diagnosis Organisme Pengganggu Tumbuhan Lab PHPT Pati Tri Adji kepada MuriaNewsCom, Kamis (10/12/2015) mengatakan, sari kentang yang dicampur gula melalui proses tertentu bisa menghasilkan semacam mikroba yang efektif membunuh berbagai macam hama pertanian.

”Bahan-bahan yang digunakan cukup mudah, yaitu kentang dan gula. Kentang dipotong-potong biasa seperti kalau mau membuat sambal goreng. Selanjutnya direbus hingga sepuluh menit. Air rebusan itu diambil dan direbus lagi dengan gula. Setelah dingin dimasukkan ke sebuah alat fermentasi,” tuturnya.

Ia mengatakan, hasil fermentasi harus ditampung dalam galon sehingga tidak terkontaminasi dengan bakteri atau jamur. ”Jangan gunakan ember, karena bisa terkontaminasi. Kalau mau tanya lebih lanjut soal alatnya, bisa datang ke Laboratorium PHPT Pati,” imbuhnya.

Dilihat dari aspek biaya, pemanfaatan pestisida dari kentang bisa lebih murah ketimbang pestisida kimia. Jika pestisida kimia dibanderol paling murah Rp 25 ribu per liter, pestisida dari kentang hanya menelan biaya Rp 10 ribu per liter.

”Tak hanya murah, tetapi juga ramah lingkungan dan hasil pertanian yang dipanen bisa organik, bebas residu kimia. Kentangnya juga bisa dimanfaatkan untuk membuat aneka makanan,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Menengok Sejarah Pati dari Adipati Tombronegoro

Warga Kampung Kaborongan selalu menggelar sedekah bumi di Makam Adipati Tombronegoro. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga Kampung Kaborongan selalu menggelar sedekah bumi di Makam Adipati Tombronegoro. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Adipati Tombronegoro dalam catatan Babad Pati mendapatkan porsi sejarah yang cukup banyak. Ia diperkirakan hidup dan memimpin Pati pada tahun 1323.

Saat ini, makamnya berada di Kampung Kaborongan, Kelurahan Pati Lor, Kecamatan Pati, Kota. Sejumlah pejabat penting yang memimpin Pati acapkali ziarah di makam ini. Hal tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun.

”Dalam catatan Babad Pati, Adipati Tombronegoro berperan memindahkan pusat pemerintahan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan. Selain itu, beliau juga menetapkan nama Kadipaten Pati dari nama yang sebelumnya Kadipaten Pesantenan,” ujar Lurah Pati Lor Adi Rusmanto kepada MuriaNewsCom, Rabu (26/8/2015).

Ia mengusulkan agar pemerintah daerah mau memberikan ruang bagi situs-situs bersejarah di Pati, untuk dijadikan sebagai wisata sejarah. ”Keberadaan situs sejarah itu penting. Itu menjadi bagian untuk nguri-uri warisan peninggalan leluhur, sekaligus belajar sejarah yang menjadi pegangan untuk generasi bangsa,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Yuk Berwisata di Makam Tombronegoro Pati

 

Tradisi sedekah bumi di Makam Adipati Tombronegoro. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tradisi sedekah bumi di Makam Adipati Tombronegoro. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Bulan Apit dalam Kalender Jawa diyakini warga Pati sebagai bulan untuk memberikan sedekah kepada bumi yang selama ini menghidupi. Manusia, bumi dan Tuhan menjadi dua hal yang saling terkait dalam tradisi sedekah bumi.

Bahkan, tak jarang tradisi sedekah bumi justru dijadikan sebagai destinasi wisata budaya yang menarik. Salah satunya, Makam Adipati Pati Tombronegoro yang acapkali dijadikan destinasi wisata budaya dalam berbagai perayaan tradisi, mulai dari sedekah bumi, hari jadi kabupaten Pati, hingga peringatan kemerdekaan RI.

Adipati Tombronegoro sendiri merupakan putera dari Raden Kembangjaya yang memindahkan pusat pemerintahan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan, mengubah nama kadipaten Pesantenan menjadi kadipaten Pati. Kendati ahli sejarah saat ini banyak yang menanggap Tombronegoro sebagai tokoh fiktif, tetapi makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah.

”Warga Desa Kaborongan sendiri sudah biasa menggelar ritual sedekah bumi di Makam Adipati Tombronegoro setahun sekali. Semua ritual menggunakan cara Islam. Ini menjadi satu wisata budaya yang sayang untuk ditinggalkan,” kata Lurah Pati Lor Adi Rusmanto kepada MuriaNewsCom.

Ia menilai, generasi penerus mestinya tidak boleh lupa dengan jasa-jasa leluhurnya yang telah berjuang untuk daerah dan wilayahnya yang sampai kepada kita saat ini. Karena itu, tradisi penghormatan kepada makam leluhur itu penting agar ceritanya menjadi teladan. (LISMANTO/TITIS W)