Disporbudpar Grobogan Sosialisasikan Raperda Perlindungan Benda Cagar Budaya

Berbagai pihak terkait mengikuti acara lokakarya perlindungan benda cagar budaya yang digelar Disporabudpar Grobogan, Selasa (19/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Disporabudpar Grobogan melangsungkan kegiatan lokakarya untuk menyosialisasikan rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang perlindungan benda cagar budaya (BCB), Selasa (19/12/2017).

Lokakarya yang dilangsungkan di gedung Wisuda Budaya Purwodadi ini dihadiri sejumlah pihak. Antara lain, dari instansi terkait dan pemerintah desa yang ada di kawasan benda cagar budaya, pemerhati budaya, dan tokoh masyarakat.

Kabid Kebudayaan Disporabudpar Grobogan Marwoto menyatakan, dalam pembuatan draf raperda tersebut, Pemkab Grobogan menggandeng kerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Raperda yang sudah selesai disusun terdiri 16 bab dan 53 pasal.

“Sesuai prosedur, sebelum kita serahkan ke DPRD Grobogan untuk dibahas lebih lanjut, Raperda perlu kita sosialisasikan terlebih dulu pada pihak terkait. Rencana, besok pagi, Raperda ini akan kita serahkan ke DPRD,” jelasnya.

Selain menyampaikan informasi adanya raperda tersebut, lokakarya juga dijadikan sarana untuk menampung masukan dari masyarakat. Nantinya, masukan tersebut akan coba diakomodir jika memang diperlukan agar isi dalam Raperda makin lengkap.

Marwoto menjelaskan, proses penyusunan draf raperda tersebut dilakukan dengan mempelajari payung hukum yang sudah ada. Menurutnya, ada satu hal yang menjadi perhatian dalam draf tersebut.

Yakni, kerjasama dengan beberapa pihak untuk menjaga benda cagar budaya. Peran serta masyarakat, pemerintah dan pihak-pihak lain perlu didorong untuk melindungi dan melestarikannya.

”Dalam hal ini, saya memberikan apresiasi pada Pemerintah Desa Banjarejo yang cukup antusias dalam menjaga dan melindungi berbagai temuan-temuan. Dengan adanya perda ini nanti, apa yang mereka lakukan akan semakin kuat karena ada payung hukumnya,” jelasnya.

Kasi Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Disporabudpar Grobogan Siswanto menambahkan, pembuatan Raperda tentang Perlindungan BCB diperlukan sebagai upaya melindungi benda purbakala dan cagar budaya yang sudah ditemukan selama ini. Banyaknya penemuan, terutama di Desa Banjarejo mendorong Pemkab Grobogan perlu menyiapkan sebuah payung hukum.

Editor: Supriyadi

Ini Alasan LMDH Batur Wana Makmur Berani Mengelola Obyek Wisata Air Terjun Widuri

Para pengunjung sedang menikmati keindahan obyek wisata air terjun Widuri yang sekarang dikelola LMDH Batur Wana Makmur dari Desa Kamadohbatur, Kecamatan Tawangharjo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganUpaya LMDH Batur Wana Makmur dari Desa Kamadohbatur, Kecamatan Tawangharjo untuk mengelola obyek wisata air terjun Widuri di kawasan Perhutani KPH Purwodadi mendapat apresiasi dari sejumlah pihak.

Soalnya, selama ini kerjasama LMDH yang sudah lama jadi mitra Perhutani tersebut, kebanyakan masih sebatas pemanfaatan lahan hutan untuk ditanami jagung dan ikut menjaga tanaman dengan model sharing.

Ketua LMDH Batur Wana Makmur Djarmo menyatakan, obyek wisata air terjun Widuri selama ini sudah dikenal banyak orang. Baik, dari wilayah Grobogan maupun luar daerah.

“Setiap tahun, kira-kira ada 4-5 ribu pengunjung air terjun Widuri. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kami berani mengelola obyek wisata tersebut karena potensinya cukup menjanjikan. Selain itu, keberadaan air terjun di Grobogan tidak banyak sehingga daya tariknya jadi lebih tinggi,” katanya.

Menurutnya, pengelolaan obyek wisata air terjun Widuri juga dilakukan dalam rangka meningkatkan sumber pendapatan bagi LMDH, diluar pengelolaan lahan garapan diwilayah hutan. Yakni, dari bagi hasil pendapatan yang didapat dari para pengunjung. Baik dari tiket masuk dan parkir kendaraan.

Djarmo menyatakan, pada tahun-tahun mendatang, jumlah pengunjung ke lokasi air terjun widuri diperkirakan bakal mengalami peningkatan. Salah satu sebabnya adalah sudah dilakukannya perbaikan jalan menuju Desa Kemadohbatur dengan konstruksi beton.

“Selama ini kendala yang dihadapai adalah kondisi jalan yang masih rusak. Sekarang, sebagian jalan sudah mulus meski belum seluruhnya dan beberapa tahun lagi diselesaikan. Makin bagusnya kondisi jalan saya perkirakan bakal berimbas dengan naiknya pengunjung,” katanya.

Ia menambahkan, untuk mendongkrak naiknya pengunjung, pihaknya tidak hanya mengandalkan perbaikan jalan dari pemerintah saja. Namun, pembenahan sarana dan prasarana di kawasan wisata yang dikelola juga mulai dilakukan. Misalnya, penyediaan tempat swafoto, toilet, mushola dan gubuk tempat istirahat pengunjung.

Editor: Supriyadi

Sebulan Berlalu, Waduk Kedungombo Grobogan Masih Ditutup Buat Wisatawan

Portal besi masih terpasang di pintu masuk menuju kawasan wisata Waduk Kedungombo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Penutupan Waduk Kedungombo untuk akses wisata terus berlanjut. Meski sudah lewat sebulan lebih, portal di pintu masuk menuju kawasan wisata masih terpasang.

Portal besi ini sudah diturunkan untuk menghalangi jalan masuk sejak Minggu (3/9/2017) lalu. Sebelumnya, sempat muncul kabar kalau penutupan akses wisatawan hanya berlangsung sepanjang September. Namun, meski bulan September sudah lewat, penutupan Waduk Kedungombo untuk wisata masih diberlakukan.

“Kunjungan wisata masih ditutup. Sampai sekarang, kami belum dapat penjelasan kapan mau dibuka lagi,” kata Sunarti, salah seorang pedagang Waduk Kedungombo, Sabtu (7/10/2017).

Baca Juga: Penutupan Obyek Wisata Waduk Kedungombo Diduga Karena Kasus Pungli

Meski sudah ditutup sebulan lamanya, namun masih banyak pedagang yang berjualan. Hal itu bisa dilihat dari masih banyaknya tenda atau lapak yang didirikan di sekitar pintu masuk.

“Masih ada yang jualan. Tapi jumlahnya tidak sebanyak dulu ketika belum ditutup. Soalnya, jumlah pengunjung turun drastis,” imbuh Kolik, pedagang lainnya.

Sebagian pedagang ada yang memilih pindah berjualan ke lokasi lain. Yakni, ke Wana Wisata Kedung Cinta di kawasan hutan Perhutani KPH Telawa. Lokasi wisata ini berada sekitar 3 km sebelah barat Waduk Kedungombo.

Baca Juga: Penasaran, Ratusan Warga Datangi Waduk Kedungombo Meski Ditutup

Wana wisata yang didalamnya terdapat warung apung ini juga berada di pinggiran waduk Kedungombo, namun wilayahnya sudah masuk Kabupaten Boyolali. Tepatnya, di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu.

“Informasi yang saya terima, memang ada banyak pedagang yang ingin pindah ke wana wisata. Selain kondisi makin sepi, alasan pedagang mau pindah karena belum ada kepastian wisata Kedungombo dibuka lagi untuk wisatawan,” jelas Kepala Desa Rambat, Kecamatan Geyer Trihadi Budi Sanyoto.

Menurut Trihadi, jumlah warganya yang selama ini mencari nafkah di Waduk Kedungombo mencapai 150 orang. Sebagian besar mereka itu berjualan ikan bakar atau pedagang asongan. Kalau momen liburan, jumlah warga yang terlibat di WADUK KEDUNGOMBO makin banyak. Biasanya, mereka membantu ngurusi parkir kendaraan yang jumlahnya mencapai ribuan kalau hari libur,” jelasnya.

Ia menambahkan, sejauh ini belum menerima pemberitahuan resmi perihal penutupan Waduk Kedungombo untuk akses wisata. Harapannya, persoalan yang terjadi segera terselesaikan dan obyek wisata Waduk Kedungombo bisa dibuka lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, salah satu alasan penutupan obyek wisata itu disebabkan adanya pemeriksaan yang dilakukan pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah terhadap pengelolaan Waduk Kedungombo.

Pihak Kejati melakukan pemeriksaan setelah adanya pengaduan masyarakat terkait penarikan retribusi terhadap pengunjung dan pedagang. Meski ada karcis dan kuitansi, penarikan retribusi yang dilakukan selama ini, diduga sebagai pungutan liar karena tidak ada dasar hukumnya. Dalam penanganan aduan itu, pihak Kejati juga melibatkan Kejaksaan Negeri Grobogan untuk melakukan kajian.

Editor: Supriyadi

Jalan Rusak Menuju Waduk Kedungombo Akhirnya Diperbaiki

Kendaraan berat telihat sedang meratakan material di ruas jalan rusak menuju Waduk Kedungombo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rencana perbaikan jalan rusak menuju Waduk Kedungombo yang berlokasi di Kecamatan Geyer, Grobogan akhirnya terwujud. Sejak beberapa hari lalu, sudah ada aktivitas perbaikan jalan yang menghubungkan wilayah Grobogan dengan Sragen dan Boyolali tersebut.

Dari pantauan di lapangan, aktivitas pekerja baru terlihat ruas jalan sebelum dan sesudah pintu masuk menuju kawasan wisata Waduk Kedungombo. Pekerjaan perbaikan jalan masih dalam tahap awal.

Tumpukan material terlihat di tengah jalan menunggu diratakan alat berat yang sudah disiapkan di lokasi. Beberapa dump truk tampak sedang menurunkan material pada titik yang sudah ditentukan.

“Jalan rusak ini akan diperbaiki dengan cara pengaspalan ulang. Sebelum diaspal, jalan rusak dilapisi material dulu supaya kondisinya rata,” ujar beberapa pekerja, Sabtu (7/10/2017).

Baca Juga: Objek Wisata Waduk Kedungombo Ditutup, Ratusan Pengunjung Kecewa

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kartosuro-Surakarta Satker Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Jawa Tengah Marjono mengatakan, perbaikan ruas jalan tersebut dianggarkan sekitar Rp 19 miliar. Total panjang jalan yang bakal diperbaiki sekitar 23,5 kilometer.

Dijelaskan, paket pekerjaan perbaikan jalan tersebut akan dilelang pada bulan ini. Perbaikan jalan akan dibagi dalam beberapa paket. Jalan rusak diperbaiki dengan cara pengaspalan ulang dan sebagian menggunakan konstruksi cor beton.

“Tidak bisa cor beton semua karena anggarannya tidak mencukupi,” katanya.

Dari survei yang sudah dilakukan, jalan yang paling rusak masuk wilayah Kecamatan Juwangi, Boyolali. Kemudian, ruas jalan yang melintasi Kecamatan Geyer, Grobogan dan Sumberlawang, Sragen kondisinya juga rusak dan terdapat rekahan ditengah jalan.

Beberapa waktu sebelumnya, Bupati Grobogan Sri Sumarni menyatakan, perbaikan jalan rusak itu sudah lama dinantikan warga. Mengingat butuh dana besar dan status jalan bukan milik Kabupaten, ia sempat mengajukan permohonan bantuan perbaikan jalan langsung pada Presiden Joko Widodo.

“Saya sudah meminta bantuan pada Pak Presiden Joko Widodo untuk perbaikan jalan menuju Kedungombo ketika ada pertemuan di Jakarta beberapa waktu lalu. Perbaikan jalan akan ditangani oleh kementerian PUPR,” jelasnya.

Selain menuju lokasi wisata, jalan tersebut juga jadi jalur alternatif menuju Sragen, Solo dan Boyolali. Saat jalur utama Purwodadi-Solo ada proyek perbaikan atau kemacetan, banyak kendaraan roda empat yang memilih lewat jalan ini.

Jalan tersebut sebagian besar membelah kawasan hutan KPH Gundih. Informasinya, jalan ini dibangun bersamaan dengan pembangunan waduk sekitar tahun 1991. Sejak dibangun, ruas jalan tersebut belum pernah tersentuh perbaikan.

Editor: Supriyadi

Pengunjung Obyek Wisata Waduk Kedungombo Tembus 100 Ribu Orang Tiap Tahun

Pengunjung sedang berfoto ria di lokasi wisata Waduk Kedungombo sebelum ditutup. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganTidak berlebihan jika penutupan obyek wisata Waduk Kedungombo (WKO) memantik reaksi dari berbagai pihak. Terutama, dari mereka yang selama ini sudah jadi langganan berwisata ke obyek wisata di Desa Rambat, Kecamatan Geyer tersebut.

Dari data yang didapat, jumlah pengunjung wisata di Waduk Kedungombo angkanya cukup tinggi. Tiap tahun wisatawan yang datang ke Waduk Kedungombo lebih dari 100 ribu orang.

Dengan banyaknya pengunjung sebesar ini maka tidak heran jika penutupan Waduk Kedungombo yang dilakukan sejak Minggu (3/9/2017) masih jadi trending topic sampai sekarang.

”Perlu diketahui, Waduk Kedungombo selama ini jadi andalan destinasi wisata di Grobogan. Oleh sebab itu, kami sangat menyayangkan penutupan Waduk Kedungombo untuk akses wisata. Meski kami tidak ikut mengelola, namun Waduk Kedungombo sudah jadi ikon wisata Kabupaten Grobogan,” kata Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Jamiat, Selasa (12/9/2017).

Dijelaskan, dari data yang dimiliki, sepanjang Januari-Juli 2017, jumlah pengunjung Waduk Kedungombo sebanyak 82.170 orang. Sedangkan, jumlah pengujung tahun 2016 lalu ada 114.467 orang. Jumlah pengunjung paling banyak tercatat tahun 2012 sebanyak 212.514 orang.

Menurut Jamiat, pengunjung Waduk Kedungombo jauh lebih besar dibandingkan pada obyek wisata yang dikelola Pemkab. Seperti Bledug Kuwu yang jumlah pengunjung tertinggi hanya 44.693 orang saja. Sedangkan pengunjung tertinggi di goa lawa dan goa macan ada 2.565.

Selain pemandangan, menu ikan bakar khas Waduk Kedungombo menjadi salah satu daya tarik pengunjung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dengan banyaknya pengunjung maka pendapatan retribusi yang didapat pengelola Waduk Kedungombo dinilai cukup besar. Dengan pengunjung diatas 100 ribu orang maka pendapatan yang didapat bisa mencapai Rp 400 juta lebih tiap tahun. Pendapatan ini dihitung dengan asumsi karcis retribusi terendah sebesar Rp 4 ribu per orang pada hari biasa.

“Kalau masalah pendapatan kami tidak tahu. Sejak 2012, Pemkab Grobogan sudah tidak terlibat dalam pengelolaan wisata Kedungombo,” jelas Jamiat.

Terkait dengan penutupan tersebut, Jamiat menyatakan, pihaknya sudah datang ke kantor Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana di Semarang untuk mencari tahu latar belakang penutupan Kedungombo untuk akses wisata. Hal itu perlu dilakukan karena penutupan Kedungombo yang ada di wilayah Grobogan bakal berdampak cukup besar. Khususnya dari sektor pariwisata karena banyak warga Grobogan yang ikut mencari nafkah dari banyaknya pengunjung wisata Kedungombo.

”Beberapa hari lalu, kami sudah bertemu dengan pihak BBWS Pemali Juana. Kami ingin tahu duduk persoalannya dan membuka kesempatan untuk dilibatkan dalam pengelolaan wisata Kedungombo kedepannya,” ungkap Jamiat.

Sebelumnya, Kasi Pidana Khusus Kejari Grobogan Bangun Setyabudi menyatakan, pendapatan dari retribusi yang dikelola Koperasi Jratun Seluna selama ini selalu dibukukan. Penarikan retribusi juga dilengkapi dengan karcis serta kwitansi. Tiap tahun, keuntungan yang disetorkan sebesar Rp 30 juta.

Editor: Supriyadi

Ketua DPRD Grobogan Sayangkan Penutupan Waduk Kedungombo

Pintu masuk objek wisata Waduk Kedungombo ditutup portal dan ditulisi ‘Tutup’ membuat ratusan pengunjung kecewa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSorotan terhadap penutupan Waduk Kedungombo untuk akses wisata terus berdatangan dari berbagai pihak. Bahkan, Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto juga ikut bereaksi terhadap penutupan Waduk Kedungombo.

”Apapun alasannya, penutupan Kedungombo untuk kunjungan wisata sangat disayangkan. Terlebih, penutupan dilakukan secara mendadak,” katanya.

Selama ini, Kedungombo sudah terlanjur jadi ikon wisata di Grobogan. Setiap tahun ada puluhan ribu orang berkunjung ke lokasi wisata yang ada di Desa Rambat, Kecamatan Geyer tersebut.

Baca Juga: Objek Wisata Waduk Kedungombo Ditutup, Ratusan Pengunjung Kecewa

Maraknya pengunjung disisi lain mendatangkan berkah bagi masyarakat sekitar. Yakni, ikut mencari pendapatan sebagai pedagang, tenaga parkir.

“Dengan tutupnya Kedungombo banyak pihak yang terkena dampak. Tidak hanya pengunjung wisata saja, tetapi juga pedagang dan masyarakat lainnya yang mengandalkan pencaharian dari Kedungombo,” jelas Agus.

Baca Juga: Penutupan Obyek Wisata Waduk Kedungombo Diduga Karena Kasus Pungli

Terkait penutupan Waduk Kedungombo, Agus meminta agar Pemkab Grobogan pro aktif menjalin koordinasi dengan pihak pengelola untuk menyikapi permasalahan itu. Harapannya, masalah itu bisa segera dicarikan solusi terbaik.

“Pemkab harusnya cepat ambil langkah untuk berkoordinasi dengan pihak pengelola Kedungombo. Kami dari pihak legislatif juga siap memberikan dukungan. Misalnya, jika nantinya diperlukan sebuah perda untuk dasar hukum pengelolaan Kedungombo.

Baca Juga: Kepala BBWS Pemali Juana Bantah Penutupan Waduk Kedungombo Karena Kasus Pungli

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Rubhan Ruzziyatno mengungkapkan, salah satu alasan penutupan Waduk Kedungombo  adalah dari pertimbangan keamanan.

Hal itu disampaikan menanggapi pertanyaan berbagai pihak soal penutupan Waduk Kedungombo untuk kunjungan wisata terhitung sejak Minggu (3/9/2017) lalu.

Menurutnya, Waduk Kedungombo merupakan salah satu obyek yang sangat vital.  Oleh sebab itu, perlu penanganan ekstra ditinjau dari sisi keamanan. Penutupan dilakukan demi keamaan waduk dari berbagai risiko yang mungkin terjadi.

“Kami mau tata ulang soal keamanannya. Seperti diketahui, waduk itu termasuk objek vital karena terdapat sekitar 700 juta kubik air,” katanya.

Editor: Supriyadi

Penutupan Obyek Wisata Waduk Kedungombo Diduga Karena Kasus Pungli

Pintu masuk objek wisata Waduk Kedungombo ditutup portal dan ditulisi ‘Tutup’ membuat ratusan pengunjung kecewa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Penyebab ditutupnya obyek wisata Waduk Kedungombo (WKO) yang sempat jadi trending topic banyak orang mulai sedikit terkuap. Informasi yang didapat menyebutkan, penutupan obyek wisata air itu disebabkan adanya pemeriksaan yang dilakukan pihak Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah terhadap pengelola WKO.

Pemeriksaan itu dilakukan penegak hukum setelah adanya pengaduan masyarakat terkait penarikan retribusi pengunjung dan para pedagang.

Meski ada karcis dan kuitansi, penarikan retribusi yang dilakukan selama ini, diduga dikategorikan sebagai pungutan liar (Pungli) karena tidak ada dasar hukumnya. Dalam penanganan aduan itu, pihak Kejati juga melibatkan Kejaksaan Negeri Grobogan untuk melakukan kajian.

Baca Juga: Objek Wisata Waduk Kedungombo Ditutup, Ratusan Pengunjung Kecewa

Kepala Kejaksaan Negeri Grobogan Edi Handojo ketika dimintai komentarnya membenarkan jika pihaknya tengah melakukan kajian soal penarikan retribusi di WKO. Menurut Edi, kajian dilakukan setelah ada permintaan dari Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, menyusul adanya laporan dari masyarakat.

Penarikan retribusi di WKO sudah berjalan bertahun-tahun dan dikelola oleh koperasi. Dari hasil kajian yang sudah dilakukan, dasar atau payung hukum untuk memungut retribusi itu tidak ada.

“Penarikan retribusi yang berjalan selama ini tidak punya dasar hukum. Saya beri rekomendasi agar membuat koperasi yang punya kewenangan untuk menarik retribusi,” ungkap Edi pada wartawan, Selasa (5/9/2017).

Baca Juga: Kena Dampak Penutupan Wisata Waduk Kedungombo, Puluhan Pedagang Merugi

Selain itu, pihaknya juga memberi rekomendasi agar penarikan retribusi di WKO dihentikan dulu untuk sementara waktu. Edi mengaku juga baru tahu kalau rekomendasi penarikan retribusi justru berdampak penghentian aktivitas kunjungan wisata.

Edi menambahkan, hasil kajian yang dilakukan sudah diserahkan pada pihak Kejati Jateng. Dia menegaskan, tidak dapat menyimpulkan adanya kesalahan seperti adanya pungutan liar atau pungli.

“Soal Pungli atau tidak, itu bukan kewenangan kami. Itu sudah jadi ranah Kejati Jateng dan kami di sini hanya menjalankan kajian,” tegasnya.

Besarnya retribusi yang ditarik dari pedagang sebesar Rp 20 ribu per bulan. Sedangkan retribusi pengunjung wisata Rp 4 ribu pada hari biasa dan Rp 5 ribu ketika hari libur.

Pemkab Grobogan ternyata pernah mendapat bagi hasil penarikan retribusi WKO beberapa tahun lalu. Namun, bagi hasil yang masuk ke kas daerah itu akhirnya jadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) karena tidak ada landasan hukumnya.

“Kita dulu memang pernah dapat bagi hasil retribusi dari Kedungombo. Tapi karena jadi temuan akhirnya dihentikan karena payung hukumnya tidak ada,” jelas Sekda Grobogan Moh Sumarsono. 

Editor: Supriyadi

Bule Australia Asyik Nikmati Liburan di Wana Wisata Jatipohon Grobogan

Bule dari Australia nikmati liburan di Wana Wisata Jatipohon (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Pengunjung tempat wisata di Grobogan saat Lebaran ternyata tidak hanya masyarakat lokal saja. Tetapi ada juga orang dari mancanegara, tepatnya dari Australia. Salah satu tempat wisata yang sempat disinggahi bule Australia ini adalah Wana Wisata Jatipohon di Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan.

Pengunjung dari luar negeri ini merupakan satu keluarga. Terdiri ayah dan ibu serta tiga orang anaknya. Selain menikmati pemandangan dan rimbunnya suasana kawasan hutan, mereka juga asyik mencoba beberapa wahana yang ada di lokasi tersebut. Seperti ayunan dan motor ATV.

“Mereka (orang Australia) itu berada di Wana Wisata Jatipohon tidak lama, sekitar satu jam. Selama berada di sini, saya lihat mereka tampak senang. Kebetulan, pas mereka ke sini saya sedang ada di lokasi wisata,” ujar Administrator Perhutani KPH Purwodadi Dewanto, Selasa (27/6/2017).

Menurut Dewanto, turis itu sebelumnya berada di Grobogan karena mengunjungi saudara angkatnya yang berasal dari Desa Jangkungharjo, Kecamatan Brati. Kemudian, oleh suadara angkatnya tersebut mereka diajak main ke Wana Wisata Jatipohon yang lokasinya tidak begitu jauh dari Desa Jangkungharjo.

“Jadi ceritanya mereka sampai ke sini seperti itu. Sayangnya, saya tidak sempat ngobrol banyak dengan mereka,” jelasnya.

Dewanto menyatakan, meski hanya sebentar namun kunjungan turis asing itu dinilai sangat membanggakan. Soalnya, baru kali ini ada orang satu keluarga yang piknik di Wana Wisata Jatipohon.

“Terus terang, saya sempat kaget waktu ketemu mereka di lokasi wisata. Semoga, kehadiran turis asing bisa membawa dampak positif bagi obyek wisata ini,” imbuhnya.

Ditambahkan, lokasi Wana Wisata saat ini pengelolaannya dilakukan kerja sama dengan pihak Desa Sumberjatipohon. Untuk meningkatkan animo pengunjung, sudah disiapkan beberapa wahana baru.

Editor : Kholistiono