Palsukan Arang Shisha, Warga Jepara Ditangkap Bareskrim Polri

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Jepara kembali dibikin heboh dengan kasus tindak pidana. Kali ini, kasus tersebut berkaitan dengan pemalsuan produk arang bahan baku shisha dengan merek dagang Cocobrico yang dilakukan seorang warga Jepara berinisial TH.

Penangkapan berawal dari aduan pemilik Cocobrico, Yvonne S Lima, yang berada di Kalimantan. Yvonne kerap menerima aduan dan komplain adanya kriket palsu yang beredar di Rusia dan Jerman.

Ironisnya, pelaku sudah melakukan aksi pemalsuan produk Cocobrico hampir enam tahun sejak 2012 di pabrik palsu miliknya di Jepara. Selama itu, setidaknya pelaku sudah berhasil mengirim 11 kontainer Cocobrico ke Rusia dan Jerman melalui kargo laut dengan harga Rp 10 ribu per kotak.

Padahal, harga asli perkotak mencapai Rp 25 ribu atau 125 persen dari harga jual yang palsu. Hal itu mengakibatkan pemilik Cocobrico merugi hingga triliunan rupiah.

Direktur Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya mengatakan penegakan hukum yang dilakukan untuk menjaga bisnis dengan merek dagang yang benar. Apalagi kerugian yang ditimbulkan begitu besar.

”Ini (penangkapan) memang menjaga suatu proses bisnis yang benar. Artinya tidak ada persaingan bisnis yang seperti ini yang kemudian merugikan,” katanya, Jumat (9/3/2018) seperti dikutip detik.com.

Ia menjelaskan, dari hasil penyelidikan, terdapat sejumlah perbedaan antara produk asli dan palsu. Untuk yang orisinal tidak ada asap dan bau serta menyala terus-menerus dan ada standardisasi. Sedangkan yang palsu berasap dan berbau serta tanpa ada standar yang baik.

Perbedaan mencolok lainnya, lanjutnya, terlihat dari bentuk paket kemasan Cocobrico. Paket orisinal dikemas dengan kotak yang lebih kecil dan berwarna terang. Sedangkan produk palsu dikemas dengan kotak lebih besar dan berwarna gelap

”Sepintas memang sama, tapi kalau diamati jauh berbeda,” tegasnya.

Bareskrim juga berhasil mengamankan 1 kontainer Cocobrico palsu di Rusia. Akibatnya, pemilik produk dan merek Cocobrico orisinal diduga menderita kerugian hingga Rp 100 miliar.

Atas perbuatannya, TH diganjar dengan koridor Undang-Undang tentang Merek Dagang Nomor 20 Tahun 2016 Pasal 100 ayat 2 mengenai pemalsuan merek seluruh atau sebagian dengan ancaman 4 tahun penjara atau denda Rp 2 miliar.

Editor: Supriyadi

Hebat, Replika Kapal Phinisi Buatan Warga Jepara Jadi Buruan Warga Mancanegara

MuriaNewsCom, Jepara – Meskipun lahir dari bengkel sederhana, replika kapal Phinisi buatan warga Jepara ini, ternyata kerapkali dipesan oleh warga mancanegara. Apalagi, sang pembuat sangat memperhatikan bagian-bagian terkecil kapal. Akibatnya banyak yang ketagihan dan memburu kapal meski harganya cukup tinggi.

Adalah Eko Wiyoto (35) dan anak buahnya, yang membuatnya. Saat MuriaNewsCom bertandang Sabtu (30/12/2017) siang, ia mengaku sedang membuat replika kapal pesanan pengusaha Cina.

“Ini pesanan dari Korea, orangnya datang ke sini untuk memesan langsung. Katanya mau dibawa ke negaranya sana,” ujarnya.

Saat itu ia sedang menyelesaikan kapal Phinisi dengan panjang 3,5 meter dan tinggi 2,4 meter. Ia menyebut, untuk membuat kapal dengan dimensi itu membutuhkan waktu sekitar satu bulan.

Ditanya mengenai proses kreatif, Eko mengaku awal mula membuat kapal berawal dari suatu keterpaksaan. Saat itu, pada tahun 2006 ia hanya seorang buruh ukir dengan penghasilan Rp 30 ribu perhari.

“Saya rasa waktu itu dengan penghasilan itu rasanya tidak cukup, apalagi saat itu saya sudah nikah. Maka saya coba-coba membuat miniatur kapal. Awalnya sebagai sambilan, tetapi akhirnya jadi pekerjaan utama,” kenangnya.

Meskipun bergelut di dunia perkayuan, namun ia mengaku awalnya tak tahu akan pengetahuan membuat replika kapal. Sedikit nekat, ia lantas browsing ke internet, kemudian menemukan gambar-gambar tentang kapal, yang kemudian dicobanya untuk merealisasinya ke media kayu.

Selain kapal, ia mengaku membuat kerajinan lain seperti motor Harley Davidson atau mobil-mobilan mini.

“Ya awalnya coba-coba, kini sudah jadi yang utama. Bersama saudara-saudara saya, kini mengerjakan replika kapal. Untuk ukuran 3,5 meter harganya mencapai Rp 10 juta. Biasanya untuk dipajang di kafe-kafe,” tutup Eko.

Editor: Supriyadi

Hebat, Warga Welahan Jepara Ini Sulap Limbah Kerang Jadi Lampu Hias

Gupomo menunjukkan lampu hias kulit kerang buatannya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Gupomo (43) memanfaatkan limbah kerang laut untuk membuat lampu hias. Di bengkel kerjanya yang ada di Jl Kauman Lor, Desa Welahan, RT/RW : 2/4, Kecamatan Welahan, ia membuat berbagai kerajinan bermacam jenis. 

Ditemui di rumahnya, pertengahan minggu ini, ia nampak santai berbincang dengan rekan-rekan sekampungnya. Sambil duduk di sebuah sofa berhiaskan kerang simping, ia kemudian menyambut kedatangan MuriaNewsCom. 

Ia bercerita, usahanya dimulai pada tahun 2007 silam. Kala itu, ia baru saja menimba ilmu pembuatan lampu berbahan dasar kerang dari Cirebon. 

“Dulu memang saya pernah belajar di Cirebon, tentang pembuatan kerajinan tersebut. Setelahnya saya kemudian pulang ke Welahan dan memulai usaha sendiri,” katanya. 

Gupomo mengatakan, pembuatan kerajinan dari kerang sebenarnya cukup sederhana. Meskipun demikian, pengerjaannya membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Hal itu karena penataan letak kerang harus dilakukan secara manual. 

Selain kerang, unsur penting yang dibutuhkan dalam kerajinan ini adalah resin atau fiberglas. “Nah kalau untuk mencetak resin saya sudah punya cetakan yang saya buat sendiri. Mulai dari yang kecil hingga yang besar,” jelasnya. 

Untuk memromosikan barang kerajinannya, ia rajin mengikuti berbagai pameran pada awal tahun debutnya di Jepara. Selain itu, dirinya juga kerap menitipkan barangnya ke beberapa toko meubel besar. 

Adapun, barang-barang yang dihasilkannya seperti lampu hias, bingkai cermin, hingga kursi tamu yang dihias oleh kerang simping. 

“Selain itu, saya juga terkadang menerima order dari perusahaan meubel untuk memberikan ornamen kerang pada barang-barang dari kayu. Selebihnya, saya bereksperimen dengan berbagai macam bentuk lampu hias,” tuturnya. 

Karyanya ia jual dengan harga mulai Rp 150 ribu, hingga jutaan rupiah. Sementara bahan baku, diperolehnya dari lokal Jepara dan Demak. 

Dirinya menyebut, barang kerajinannya dipesan dari berbagai daerah semisal Yogyakarta, Jakarta, Semarang dan di Jepara sendiri. Kebanyakan konsumennya berasal dari Hotel

Meskipun telah mengikuti berbagai pameran dan promosi, namun ia mengeluh seretnya pesanan dari konsumen. Hal itu dimungkinkan, Jepara masih kalah dalam hal branding, dibandingkan Cirebon dalam hal lampu hias kerang. 

“Dukungan dari pemkab Jepara memang sudah banyak, selain pameran kita juga pernah diberikan alat untuk membersihkan kerang. Namun untuk pemasarannya saya kira masih sulit. Dulu pernah dibuatkan promosi secara online, namun tak berhasil. Ya sementara ini kalau ada pesanan saya kerjakan, kalau tidak ya nganggur,” ceritanya.

Editor: Supriyadi