Bali Ndeso, Mahasiswa Sowan Kidul Jepara Tularkan Virus Masuk Perguruan Tinggi

MuriaNewsCom, Jepra – Sebanyak 30 mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Sowan Kidul (IMSAK) mengadakan “Safinah goes to Campus” di MA Safinatul Huda, Desa Sowan Kidul, Jepara.

Acara tersebut ditujukan untuk memotivasi dan memberikan informasi tentang perkuliahan serta mewujudkan gerakan satu rumah satu sarjana di desa tersebut. Hal ini tak lepas dari minimnya minat melanjutkan ke perguruan tinggi.

”Dulu dalam satu periode, warga yang melanjutkan ke jenjang perkuliahan hanya berkisar antara tiga sampai lima orang. Itu pun karena mereka dari keluarga yang berkecukupan,” kata Ketua Panitia Hikmatul Ummah, Sabtu (3/2/2018).

Ironisnya lagi, lanjutnya, anak yang lulus SMA ataupun MA selalu mencita-citakan untuk bekerja di pabrik. Bahkan sedikit sekali yang menginginkan melanjutkan kuliah. Di samping faktor ekonomi, motivasi yang dimiliki anak sangat rendah.

Atas dasar itu, selama tiga tahun terakhir IMSAK memberikan motivasi dari sekolah ke sekolah. Mereka juga memberikan kegiatan bimbingan tes SBMPTN & Ujian Mandiri selama dua bulan serta pendampingan pendaftaran kuliah.

”Selama tiga tahun itu pula IMSAK telah berhasil menorehkan kinerjanya. Setidaknya ada sekitar 50 anak yang berhasil kuliah di berbagai kampus di Indonesia,” ungkapnya.

Melihat fakta itu, ia berharap gerakan yang dilakukan IMSAK ini dapat menjamur di berbagai desa melalui kesadaran pemerintah dan mahasiswa setempat. Dengan begitu, mimpi satu sarjana satu rumah bisa terlaksana.

”Kami yakin jika setiap rumah sedikitnya ada satu sarjananya akan bisa ikut membantu saudaranya melanjutkan pendidikan tinggi demi kesejahteraan keluarganya. Tidak hanya itu, gerakan ini juga akan memudahkan mewujudkan bangsa Indonesia yang cerdas yang mampu bersaing di dunia internasional,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

Dicurigai Terjangkit Difteri, 2 Bocah di Grobogan Dirawat di Ruang Isolasi RSUD

Ilustrasi

MuriaNewsCom, GroboganDua orang yang masih kategori anak-anak mendapat perawatan khusus di ruang isolasi RSUD dr R Soedjati Purwodadi, Grobogan. Ditempatkannya kedua anak itu diruang isolasi karena dicurigai terkena penyakit difteri. Kedua anak itu masing-masing berinisial BK (3), warga Kecamatan Purwodadi dan AN (8), warga Kecamatan Toroh.

Sekretaris Dinas Kesehatan Grobogan Slamet Widodo ketika dikonfirmasi membenarkan adanya dua anak yang dirawat di ruang isolasi RSUD Purwodadi sejak beberapa hari lalu itu. Dari pemeriksaan yang dilakukan, kedua anak itu masih dicurigai atau suspect difteri. Hal ini berdasarkan gejala dan kondisi fisik yang dialami kedua anak tersebut.

“Jadi statusnya masih suspect atau dicurigai terkena penyakit difteri. Sesuai prosedur, suspect difteri memang harus ditempatkan dalam ruang perawatan khusus untuk langkah pengamanan,” jelasnya, Selasa (19/12/2017).

Untuk menentukan apakah keduanya positif mengidap difteri masih perlu dilakukan pemeriksaan laborat lebih lanjut. Pemeriksaan perlu dilakukan di laborat Dinas Kesehatan Provinsi Jateng karena di Grobogan belum memiliki peralatan lengkap.

“Setelah dilakukan pemeriksaan di Semarang nanti baru bisa diketahui hasilnya. Apakah positif atau negatif difteri,” tegasnya.

Kasi Imunisasi, Surveilan dan Kejadian Luar Biasa Dinas Kesehatan Grobogan Djatmiko menambahkan, beberapa waktu lalu ada sekitar enam orang yang dicurigai menderita difteri. Namun, setelah diperiksa laborat di Semarang melalui pengecekan kultural, hasilnya negatif semua.

Menurut Djatmiko, kondisi kedua anak yang masih dirawat di RSUD sudah berangsung membaik. Pihaknya, sudah memberikan Anti Difteri Serum (ADS)‎ pada kedua pasien yang ditempatkan di ruang isolasi.

“Difteri ini bisa menular. Oleh sebab itu, untuk pencegahannya kedua anak itu ditempatkan di ruang isolasi,” jelasnya.

Ditambahkan, ia sudah mengambil sampel swab tenggorokan kedua anak itu untuk diuji laborat di Dinkes Jateng. Biasanya, dalam beberapa hari lagi sudah akan dikirimkan hasilnya.

Editor: Supriyadi