Begini Cara Warga Gembong Pati Cangkok Tanaman Pepaya

Ketua Komunitas Gagego Organik Pati, Eny Prasetyowati menunjukkan pepaya cangkok yang dikembangkan Muhtadi, anggotanya warga Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua Komunitas Gagego Organik Pati, Eny Prasetyowati menunjukkan pepaya cangkok yang dikembangkan Muhtadi, anggotanya warga Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Muhtadi, warga Dukuh Godang RT 2 RW 10, Desa Gembong, Kecamatan Gembong, Pati sukses mengembangkan budidaya pepaya cangkok dari berbagai varietas. Ada beberapa tips yang harus diketahui, sebelum mencangkok tanaman pepaya.

Muhtadi membeberkan, pepaya tua yang sudah muncul tunas-tunas baru diambil bagian batangnya untuk dicangkok sepanjang 10 cm. Cara mengiris batang pepaya menggunakan teknik naik dan miring. Setelah sobek, bagian bawah diganjal kayu agar tidak bersatu lagi.

“Setelah itu, batang yang sudah diiris diberikan sekam basah, dibungkus dengan plastik ukuran satu kilogram, tapi ambil setengahnya saja. Satukan bekas irisan, lalu diikat,” beber Muhtadi, Kamis (8/12/2016).

Setelah tiga minggu hingga sebulan, akar pepaya sudah banyak bermunculan dan siap ditanam di polibag atau tanah yang subur. Disarankan, batas cangkokan dengan ujung daun sekitar 40 hingga 50 cm. Bila terlalu pendek, buah akan susah berkembang karena terhambat tanah.

Menurutnya, cepat tidaknya tanaman berbuah tergantung pada faktor media tanah yang digunakan. Media terbaik biasanya berasal dari perpaduan kompos, sekam, dan kotoran kambing. “Kalau medianya bagus, biasanya cepat berbunga,” kata Muhtadi.

Selain itu, tanaman harus terkena sinar matahari. Untuk efisiensi penyiraman, media bisa diberikan sabut kelapa pada bagian atas tanah untuk terus menjaga kelembaban saat disiram. Hasilnya, buah pepaya sama dengan indukan dan bisa dimanfaatkan untuk mempercantik pekarangan rumah.

Editor : Kholistiono

Warga Gembong Pati Sukses Kembangkan Pepaya Cangkok

 Muhtadi berfoto disamping pepaya cangkok yang ia kembangkan di pekarangan rumahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Muhtadi berfoto disamping pepaya cangkok yang ia kembangkan di pekarangan rumahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Cangkok tanaman pepaya mungkin terkesan mustahil, karena cangkok biasa dilakukan pada tanaman berkambium atau berkayu. Namun, hal itu bukan mustahil bagi Muhtadi, warga Dukuh Godang RT 2 RW 10, Desa Gembong, Kecamatan Gembong, Pati.

Dia berhasil mengembangkan budidaya pepaya yang dicangkok dari batang menggunakan sekam yang sudah dibasahi. Hasilnya, satu tanaman pepaya cangkok sudah bisa berbuah lebat dengan ketinggian pohon setengah meter saja.

Ide Muhtadi mengembangkan budidaya pepaya cangkok berawal dari aktivitas iseng untuk mencoba mencangkok pepaya yang tumbuh lebat di pekarangan rumah. Muhtadi berulang kali gagal mencangkok pepaya, karena menggunakan tanah atau sekam yang dicampur tanah.

“Awalnya, saya sering gagal mencangkok pepaya karena menggunakan tanah. Pernah juga pakai mos, kadang jadi, kadang akarnya busuk. Paling bagus pakai sekam, karena saya selalu berhasil,” ujar Muhtadi kepada MuriaNewsCom, Kamis (8/12/2016).

Hasil buah pepaya cangkok diakui sama dengan buah indukan. Hanya saja, pepaya cangkok bisa berbuah lebih cepat dan lebih pendek ketimbang pepaya yang tumbuh dari biji. Selama ini, Muhtadi hanya mencangkok varietas pepaya Thailand dan Jinggo.

Sayangnya, hasil pepaya cangkok Muhtadi belum dikembangkan untuk dijual, tetapi sebatas untuk konsumsi sendiri dan dibagikan kepada tetangga. Ke depan, dia akan mengembangkan pepaya cangkok untuk dijual di pasar bila sudah menemukan bibit pepaya California.

Editor : Kholistiono

Warga Pegerharjo Pati Raup Omzet Rp 6 Juta per Bulan dari Budidaya Pepaya

 Solehan Arif (54), warga Desa Pagerharjo, Wedarijaksa, sedang berada di kebun pepaya miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Solehan Arif (54), warga Desa Pagerharjo, Wedarijaksa, sedang berada di kebun pepaya miliknya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

 

MuriaNewsCom, Pati – Solehan Arif (52), warga Desa Pagerharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati berhasil meraup omzet Rp 6 juta per bulan dengan budidaya pepaya. Dengan modal awal Rp 2 juta pada Agustus 2014 lalu di lahan seluas 0,3 hektare, kini berkembang menjadi tiga hektare.

Jenis pepaya yang ditanam bukanlah pepaya lokal. Ada dua jenis pepaya yang ia tanam, yaitu California dan Thailand. Bibit pepaya itu didapatkan dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Awalnya hanya coba-coba, karena masih belum tahu soal distribusi dan pemasaran. Tapi, saya coba beranikan diri dengan memulai budidaya pepaya karena saat itu belum ada petani di bidang pepaya di Wedarijaksa,” ujar Solehan, Rabu (27/7/2016).

Ia kemudian berani memberanikan diri untuk menanam dan mengembangkan pepaya, setelah mendapatkan penyuluhan dari IPB melalui online. Dengan tekad yang bulat, ia memutuskan untuk mencoba menanamnya.

Saat ini, Solehan berhasil memanen buah pepaya sebanyak setengah ton hanya dalam waktu seminggu saja. Harga pepaya sendiri dihargai Rp 3 ribu per buah. “Soal penjualan, sudah ada pengepul yang mengambil buah pepayanya, kemudian dipasarkan di seluruh pulau Jawa. Hasilnya lumayan bagus dan sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kami senang bisa budidaya pepaya,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono