Hebat!! Ibu di Krangganharjo Grobogan Ini Bisa Menunaikan Umrah Meski Hanya Jualan Cilok

MuriaNewsCom, GroboganSosok Sulastri, warga Dusun Kranggan, Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh ini barangkali bisa jadi panutan. Terutama, bagi mereka yang berniat menunaikan ibadah umrah. Meski hanya berjualan pentol atau cilok kelilingan, perempuan berusia 50 tahun itu akhirnya berhasil mewujudkan niatnya beribadah ke tanah suci.

”Alhamdulillah, saya akhirnya bisa beribadah umrah ke Tanah Suci. Saya berangkat umrah tanggal 1 dan kembalinya tanggal 9 Februari kemarin,” kata Sulastri saat ditemui di rumahnya, Sabtu (17/2/2018).

Selama menunaikan umrah, Sulastri mengaku diberi kelancaran mulai dari berangkat hingga pulang. Kemudian, selama pelaksanaan ibadah juga berjalan lancar tanpa hambatan. Bahkan, ia selalu mendapat kemudahan selama berada di tanah suci. Misalnya, kemudahan saat bisa mencium hajar aswad.

Selama di Tanah Suci, Sulastri juga mendapat fasilitas yang dinilai sangat istimewa. Mulai dari tempat menginapnya di hotel bintang 5 yang dekat dengan Masjid Nabawi di Madinah maupun Masjidil Haram di Makkah. Kemudian, soal menu makanan juga dinilai sangat memuaskan karena selalu tersedia aneka masakan serta beragam buah-buahan segar.

Tak hanya itu, Sulastri juga dapat kesempatan untuk melaksanakan badal umroh buat suami dan anaknya yang sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu.

”Yang pasti, saya bersyukur sekali mendapat kemudahan saat menunaikan umrah. Bahkan, banyak jamaah satu rombongan yang ngasih saya uang saku untuk beli oleh-oleh,” ungkapnya.

Sulastri, warga Dusun Kranggan, Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh saat menunaikan ibadah umroh di Tanah Suci. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Meski begitu, ibadah umroh yang dijalankan memang butuh perjuangan. Biaya untuk menunaikan ibadah umrah didapat dari menyisihkan penghasilan dari berjualan pentol sejak enam tahun lalu.

Selain ditabung di bank, sebagian penghasilan juga disisihkan dalam bentuk perhiasan dan kambing.

Sebelum umrah, Sulastri ternyata sudah mendaftar haji dan mendapat porsi keberangkatan tahun 2028. Dalam masa daftar tunggu inilah, ia punya niat untuk bisa menunaikan ibadah umrah terlebih dulu.

Namun, ia mengaku tidak tahu bagaimana cara mengurus keberangkatan umrah. Hingga akhirnya, Sulastri bertemu dengan Agus Triyono alias Gustri, salah seorang petugas dari Biro Penyelenggara Haji dan Umroh PT Arminareka Perdana Kantor Perwakilan Grobogan.

”Saya ketemu Pak Agus sekitar 1,5 tahun lalu di depan rumahnya, waktu keliling jualan pentol. Pak Agus rumahnya di Dusun Glonggong yang masih satu desa dengan saya. Saat bertemu itulah, saya disarankan untuk ikut program solusi umrah,” katanya.

Caranya, mengunci niat dengan bayar uang muka atau DP sebesar Rp 3,5 juta. Namun, saat itu, Sulastri hanya punya uang Rp 500 ribu. Akhirnya, Sulasti diminta melunasi biaya DP dengan model cicilan hingga akhirnya bisa dilunasi beberapa minggu kemudian.

Setelah itu, tinggal memikirkan mencari biaya buat pelunasan biaya umrah. Untuk pelunasan, setoran selanjutnya nominalnya minimal Rp 500 ribu dan jangka waktunya tidak terbatas hingga mencapai biaya yang ditentukan.

”Hingga akhirnya pelunasan biaya umroh bisa dilakukan dalam waktu sekitar 1,5 tahun kemudian,” kata Gustri yang ikut menemani Murianews.com saat berkunjung ke rumah Sulastri itu.

Menurut Gustri, sejauh ini, sudah ada ribuan warga Grobogan yang berangkat umrah lewat Arminareka Perdana. Namun, baru Sulastri inilah jamaah umrahnya yang latar belakang profesinya adalah penjual pentol.

Gustri menyatakan, kepercayaan dari masyarakat itu dinilai cukup wajar. Soalnya, lembaganya merupakan salah satu Biro Haji dan Umroh yang telah menerima sertifikat IATA. Yakni, sertifikat yang memberikan kemudahan kepada biro untuk mengurus visa langsung ke pemerintah Arab Saudi.

”Insya Allah kami akan melayani jamaah dengan sebaik mungkin. Jamaah tak perlu takut tidak dapat jatah visa karena kami telah mendapat sertifikat IATA,” sambung Gustri.

Menurut Gustri, selain itu, Arminareka Perdana memiliki sejumlah keunggulan dengan pengalamannya lebih dari 28 tahun melayani jasa perjalanan umroh dan haji. Gustri bahkan berani mengklaim kalau Arminareka merupakan biro perjalanan haji dan umrah terbesar di Indonesia.

”Arminareka Perdana adalah biro terbesar di Indonesia dan terbanyak  jamaahnya. Setiap hari, kami melayani keberangkatan jamaah umroh,” tegasnya.

Gustri menambahkan, dalam melayani jamaah, pihaknya juga mengutamakan fasilitas pelayanan terbaik. Antara lain, menyediakan hotel bintang 4 dan 5. Kemudian ada pelayanan penerbangan tanpa transit Solo-Jeddah yang memudahkan jamaah dari Grobogan dan sekitarnya. (NAO)

Editor: Supriyadi

Jemaah Umrah di Pati Gelar Aksi Solidaritas Kedaulatan Palestina dan Yerusalem

Jemaah umrah Zahiyya mengumpulkan donasi dalam aksi solidaritas untuk Palestina dan Yerusalem di Masjid Nurul Iman, Batursari, Batangan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusaan jemaah umrah dari biro umrah dan haji Zahiyya Rembang menggelar aksi solidaritas untuk Palestina di Masjid Nurul Iman, Desa Batursari, Batangan, Pati, Jumat (15/12/2017).

Aksi tersebut sebagai respons umat Islam di Indonesia atas sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Dalam aksi solidaritas tersebut, para jemaah sebelum berangkat berdoa bersama untuk keselamatan umat Muslim di Palestina. Bahkan, mereka juga berdoa agar Donald Trump dibukakan pintu hatinya dan mencabut klaim Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Usai berdoa bersama, mereka mengumpulkan donasi untuk disumbangkan kepada rakyat Palestina. Donasi berjumlah Rp 1,5 juta tersebut rencananya disalurkan melalui lembaga Nahdlatul Ulama (NU).

Ketua Jemaah Umroh, Hj Azizah menuturkan, aksi solidaritas untuk Palestina berlangsung secara spontan sebelum mereka berangkat ke Tanah Suci.

“Umat Islam di Palestina dilanda musibah berupa konflik yang tidak berkesudahan. Konflik semakin memanas saat AS mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Kami berdoa agar Palestina bisa segera merdeka,” harap Azizah.

Kepala Desa Batursari, Subur yang menjadi salah satu jemaah umrah mengaku terharu dengan solidaritas yang dilakukan sesama umat Islam. Mereka rela menyisihkan waktu dan uangnya untuk mendoakan Palestina sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Rencananya, mereka akan kembali berdoa untuk Palestina dan Yerusalem setibanya di Tanah Suci. Mereka yakin, doa di Tanah Suci akan dikabulkan sehingga konflik di Palestina segera selesai.

“Rasulullah mengajarkan, seluruh umat Muslim di dunia adalah saudara. Kalau mereka sakit, tentu kita merasakan sakit. Semoga saudara kita di Palestina segera mendapatkan kemerdekaan,” tegas Subur.

Editor: Supriyadi

150 Jemaah Umroh Arminareka Perdana Kantor Perwakilan Grobogan Dibekali Pengetahuan Manasik

Ratusan jemaah umroh Arminareka Perdana Kantor Perwakilan Grobogan mengikuti manasik, Sabtu (28/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Penyelenggara Haji dan Umroh PT Arminareka Perdana Kantor Perwakilan Grobogan, mengadakan kegiatan manasik, Sabtu (28/10/2017). Manasik yang dilangsungkan di aula Rumah Kedelai Grobogan itu diikuti 150 calon jemaah umroh yang berasal dari berbagai kecamatan.

“Pelaksanaan manasik ini dalam rangka pemberangkatan ratusan jemaah untuk melakukan ibadah umroh tanggal 23 Desember nanti. Alhamdulillah sejauh ini, kami masih mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai lembaga yang melayani perjalanan umroh dan haji,” jelas panitia pelaksana Agus Triyono yang akrab dipanggil Gustri, usai kegiatan manasik.

Gustri menyatakan, kepercayaan dari masyarakat itu dinilai cukup wajar. Soalnya, lembaganya merupakan salah satu Biro Haji dan Umroh yang telah menerima sertifikat IATA. Yakni, sertifikat yang memberikan kemudahan kepada biro untuk mengurus visa langsung ke pemerintah Arab Saudi.
Insya Allah kami akan melayani jemaah dengan sebaik mungkin. Jemaah tak perlu takut tidak dapat jatah visa karena kami telah mendapat sertifikat IATA,” sambung Gustri.

Menurut Gustri, selain itu, Arminareka Perdana memiliki sejumlah keunggulan dengan pengalamannya lebih dari 27 tahun melayani jasa perjalanan umroh dan haji. Gustri bahkan berani mengklaim kalau Arminareka merupakan biro perjalanan haji dan umrah terbesar di Indonesia.  
“Arminareka Perdana adalah biro terbesar di Indonesia dan terbanyak  jemaahnya. Setiap hari, kami melayani keberangkatan jemaah umroh,” tegasnya.

Gustri menambahkan, dalam melayani jemaah, pihaknya juga mengutamakan fasilitas pelayanan terbaik. Antara lain, menyediakan hotel bintang 4 dan 5. Kemudian ada pelayanan penerbangan tanpa transit Solo-Jeddah yang memudahkan jemaah dari Grobogan dan sekitarnya.

Editor : Akrom Hazami

Polres Grobogan Buka Posko Pengaduan Korban First Travel

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menunjukkan posko pengaduan korban First Travel yang ditempatkan di kantor Satreskrim. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kasus ribuan warga yang gagal diberangkatkan umrah oleh perusahaan penyelenggara ibadah umroh (PPIU) First Travel ternyata mendapat perhatian cukup serius dari Polres Grobogan.

Indikasinya, bisa dilihat dengan dibukanya posko pengaduan di ruang Satreskrim bagi warga Grobogan yang ikut jadi korban First Travel, Kamis (31/8/2017).

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menyatakan, pembukaan posko pengaduan bertujuan untuk menampung keluhan atau aduan dari warga. Pembukaan posko dilakukan karena dari informasi yang diterima, ada ratusan waga Grobogan yang mendaftarkan umrah lewat First Travel tetapi belum kunjung diberangkatkan.

”Sejauh ini memang belum ada aduan dari masyarakat yang jadi korban First Travel. Jika nanti ada laporan masuk, akan kami tindak lanjuti,” ungkapnya.

Sebelumnya, warga Grobogan yang jadi korban First Travel sempat mengadu ke kantor Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Jateng di Semarang. Jumlah pendaftar yang mengadu ke AMPHURI ini mencapai 160 orang. Dalam pengaduannya mereka menuntut uangnya dikembalikan atau segera diberangkatkan umrah.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali menyatakan, kasus yang menimpa korban First Travel itu bisa diselesaikan dengan baik. Harapannya, para korban nantinya bisa tetap berangkat menunaikan ibadah umroh atau setidaknya uangnya bisa dikembalikan.

Terkait kasus tersebut, Hambali meminta kepada masyarakat supaya mengambil hikmahnya. Untuk selanjutnya, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat memilih PPIU ketika ingin menunaikan ibadah umroh.

”Pesan saya, masyarakat agar lebih hati-hati. Cari informasi tentang PPIU yang menawarkan jasanya. Atau supaya lebih jelas, bisa minta informasi ke kantor Kemenag untuk mengetahui PPIU yang resmi dan sudah terakreditasi lembaganya,” pesannya. 

Editor : Supriyadi

160 Warga Grobogan Jadi Korban First Travel

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Grobogan – Jumlah warga Grobogan yang jadi korban perusahaan penyelenggara ibadah umroh (PPIU) First Travel ternyata cukup banyak. Jumlah pendaftar umroh yang belum bisa diberangkatkan mencapai 160 orang.

Beberapa hari lalu, korban First Travel ini bahkan sempat mengadu ke kantor Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Jateng di Semarang. Dalam pengaduannya mereka menuntut uangnya dikembalikan atau segera diberangkatkan umrah.

Informasi yang didapat menyebutkan, warga Grobogan yang tersebar di sejumlah kecamatan ini mendaftar lewat seorang koordinator bernama Adroi. Jumlah pendaftarnya sempat mencapai angka 380 orang. Namun, sebanyak 220 orang sudah diberangkatkan bertahap sejak tahun 2015.

Saat dihubungi wartawan, Adroi menyatakan, seluruh pendaftar sudah menyetorkan uang nilainya sekitar Rp 15 juta. Pemberangkatan 160 orang itu semua direncanakan April 2017. Namun, rencana itu akhirnya tertunda sampai sekarang.

Ia mengaku akan bertanggungjawab pada para pendaftar. Sebab, sejak awal memang menjembatani biro tersebut.

Saat ini, dia mengaku mengikuti perkembangan kasus tersebut. Terlebih ada 160 orang pendaftar yang belum berangkat.

“Sebelumnya, saya sempat bolak-balik ke Jakarta untuk menanyakan kepastian pemberangkatan pendaftar. Bulan Juni lalu, saya ke rumah pemilik First Travel Andika Surachman di Jakarta. Tapi rumahnya sudah kosong,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali menyatakan, kasus yang menimpa korban First Travel itu bisa diselesaikan dengan baik. Harapannya, para korban nantinya bisa tetap berangkat menunaikan ibadah umroh atau setidaknya uangnya bisa dikembalikan.

Terkait kasus tersebut, Hambali meminta kepada masyarakat supaya mengambil hikmahnya. Untuk selanjutnya, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat memilih PPIU ketika ingin menunaikan ibadah umroh.

“Pesan saya, masyarakat agar lebih hati-hati. Cari informasi tentang PPIU yang menawarkan jasanya. Atau supaya lebih jelas, bisa minta informasi ke kantor Kemenag untuk mengetahui PPIU yang resmi dan sudah terakreditasi lembaganya,” pesannya. 

Editor: Supriyadi

Duh, Korban First Travel Ternyata Ada yang Berasal dari Grobogan

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga yang jadi korban Perusahaan Penyelenggara Ibadah Umroh (PPIU) First Travel ternyata tidak hanya berasal dari kota besar saja. Sejumlah warga dari Grobogan dikabarkan juga ikut jadi korbannya, meski jumlahnya tidak signifikan.

Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali menyatakan, informasi yang didapat memang ada warga dari Grobogan yang sempat menadaftar ibadah umroh lewat PPIU tersebut. Hanya saja, jumlah pastinya belum diketahui karena belum ada yang laporan resmi ke kantornya.

”Memang ada orang Grobogan yang ikut jadi korban First Travel. Mereka langsung mengurus sendiri ke pusat dan tidak laporan ke sini,” kata Hambali, saat ditemui di kantornya, Senin (21/8/2017).

Hambali berharap, kasus yang menimpa korban First Travel itu bisa diselesaikan dengan baik. Harapannya, para korban nantinya bisa tetap berangkat menunaikan ibadah umroh atau setidaknya uangnya bisa dikembalikan.

Terkait kasus tersebut, Hambali meminta kepada masyarakat supaya mengambil hikmahnya. Untuk selanjutnya, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat memilih PPIU ketika ingin menunaikan ibadah umroh.

”Pesan saya, masyarakat agar lebih hati-hati. Cari informasi tentang PPIU yang menawarkan jasanya. Atau supaya lebih jelas, bisa minta informasi ke kantor Kemenag untuk mengetahui PPIU yang resmi dan sudah terakreditasi lembaganya,” pesannya. 

Editor: Supriyadi