Diresmikan, Rumah Kreatif Grobogan Terbuka untuk Pengembangan Kreatifitas Warga

MuriaNewsCom, GroboganSarana untuk mewadahi berbagai kreatifitas warga Grobogan saat ini sudah tersedia. Yakni, keberadaan rumah kreatif Grobogan di jalan DI Panjaitan Purwodadi yang diresmikan hari ini, Selasa (20/3/2018).

Peresmian rumah kreatif ditandai dengan pengguntingan pita yang dilakukan Kepala Dinas Koperasi UMKM Grobogan Aditya Wahyu Wardana. Hadir dalam acara tersebut, Kajari Grobogan Edi Handojo dan perwakilan FKPD lainnya serta sejumlah pejabat terkait.

Rumah kreatif itu dulunya merupakan kantor Dinas Sosial Grobogan. Sejak beberapa bulan lalu, bangunan kantor dirombak sedemikian rupa dan digunakan jadi rumah kreatif.

Dalam rumah kreatif itu terdapat banyak ruangan. Antara lain, ruang pamer produk, ruang internet, ruang pertemuan dan beberapa ruangan kecil lainnya.

Kemudian, ada satu ruangan cukup luas khusus untuk sarana kuliner khususnya memasak. Pada ruangan ini terdapat sarana dan prasarana cukup lengkap untuk memasak.

Ketua Komunitas Kreatif Grobogan Suwoto menyatakan, pembuatan rumah kreatif dilakukan dengan bantuan dana dari Badan Ekonomi Kratif (Bekraf) senilai Rp 2,7 miliar. Dari dana itu, sebanyak Rp 1,8 miliar digunakan untuk revitalisasi sarana dan prasarana rumah kedelai dan kelengkapan IT. Sedangkan dana Rp 900 juta khusus untuk penyediaan sarana diruang workshop kuliner.

“Adanya rumah kreatif ini tentunya merupakan kabar gembira buat warga Grobogan yang saat ini punya beragam kreatifitas. Ada 16 sub sektor ekonomi kreatif yang bisa memanfaatkan fasilitas disini dan tidak dikenakan biaya. Jadi, mari kita manfaatkan bersama rumah kreatif ini,” katanya.

Editor: Supriyadi

Buka Pasar Rakyat, Bupati Grobogan Minta Promosi Produk UMKM Perlu Digencarkan

MuriaNewsCom, GroboganBupati Grobogan Sri Sumarni meminta agar promosi terhadap produk yang dihasilkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) maupun Industri Kecil Menengah (IKM) terus digencarkan. Tujuannya, supaya produk tersebut makin dikenal dan harapan jangka panjangnya bisa memperluas jangkauan pemasaran.

”Produk UMKM dan IKM kita cukup bagus dan saya nilai layak bersaing dipasar. Supaya produk berkualitas ini makin dikenal luas, upaya promosi harus terus digencarkan. Kalau promosinya digarap lebih profesional maka akan berdampak dengan meningkatkan pemasaran produk,” tegas bupati saat membuka acara Pasar Rakyat di alun-alun Purwodadi, Rabu (7/3/2018).

Sri menyatakan, meski jumlah pelaku UMKM terus bertambah namun beberapa masalah klasik masih dialami para pengusaha tersebut. Salah satunya adalah soal pemasaran yang dinilai sebagian pengusaha sebagai permasalahan utama.

Menurutnya, jika selama ini masih banyak pelaku usaha yang memasarkan barangnya secara tradisional. Khususnya, pelaku usaha yang bergerak dibidang makanan dan minuman. Oleh sebab itu, perlu adanya sebuah terobosan baru buat pengusaha tersebut agar memasarkan produknya dengan cara-cara yang lain dari biasanya.

”Soal pemasaran ini memang jadi masalah besar bagi kalangan UMKM disamping soal modal. Untuk itu, pemkab sudah pasti akan berusaha semaksimal mungkin membantu persoalan yang dihadapi pengusaha kecil ini. Salah satunya dengan mengencarkan promosi  lewat berbagai sarana. Mulai, pemberitaan media, dan pameran seperti saat ini,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Grobogan Karsono menyatakan, acara pasar rakyat digelar dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi ke-292 Kabupaten Grobogan. Dalam kegiatan itu ada sekitar 100 stand yang disediakan untuk pelaku usaha, UMKM, serta dinas/instansi.

Editor: Supriyadi

Pembangunan Rampung, Pasar BUMDESA di Jepon Blora Diresmikan 

MuriaNewsCom, Blora – Keberadaan Pasar Kawasan Perdesaan “Sumber Makmur” di Kecamatan Jepon, Blora akhirnya diresmikan penggunaannya. Peresmian pasar tersebut dilakukan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Pembangunan Kawasan Perdesaan (PKP) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) Ahmad Erani Yustika bersama Bupati Blora Djoko Nugroho, Jumat (2/3/2018).

Pasar tersebut selesai dibangun pada penghujung tahun 2017 kemarin. Pasar perdesaan itu merupakan unit usaha yang dikelola Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA). Yakni, antara Desa Puledagel, Desa Bacem dan Desa Kawengan Kecamatan Jepon. Pembangunan pasar itu didukung anggaran dari Kemendesa PDTT.

“Terimakasih saya sampaikan pada Pak Dirjen karena sudah memberikan bantuan pembangunan pasar untuk warga Puledagel, Kawengan dan Bacem yang selanjutnya akan dikelola BUMDESMA. Pasar ini nantinya akan menjadi pusat transaksi jual beli hasil pertanian dari beberapa desa. Dengan demikian sektor pertanian dan perdagangan akan lebih hidup,” ungkap Bupati Djoko Nugroho.

Menurut Djoko, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Blora saat ini sangat dipengaruhi oleh sektor pertanian dan perdagangan. Oleh sebab itu, kedua sektor ini akan terus dikembangkan dengan berbagai langkah strategis. Antara lain dengan melakukan revitalisasi pasar di pedesaan.

“Saat ini angka kemiskinan Blora terus berkurang. Sebelumnya peringkat 21 naik ke peringkat 19 dari 35 Kabupaten/Kota se Jawa Tengah. Hal ini juga karena adanya pertumbuhan ekonomi yang semakin baik di bidang pertanian dan perdagangan,” lanjutnya.

Bupati menyatakan bahwa saat ini di Blora tidak ada industri besar yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Sehingga sudah sepantasnya arah pembangunan pemerintah ditujukan ke sektor pertanian dan perdagangan yang kini tumbuh baik di pedesaan, termasuk UMKM.

Dirjen PKP Kemendesa PDTT Ahmad Erani Yustika menyatakan, pihaknya sependapat dengan pernyataan Djoko Nugroho. Menurut dia, sudah saatnya pembangunan banyak dilakukan di perdesaan. Oleh karena itulah pemerintahan Presiden Jokowi fokus memperhatikan pembangunan desa dengan membentuk Kementerian Desa, dan mengucurkan dana desa.

“Desa itu ibarat ibunya kehidupan, sedangkan pemerintah Indonesia ini anaknya. Jauh sebelum Indonesia merdeka, desa-desa sudah ada dan menghidupi masyarakat. Jadi jangan sampai setelah Indonesia merdeka, lantas pembangunan desa dikesampingkan. Dari desa inilah sumber pangan berada,” ucapnya.

Ia lantas menerangkan bahwa tahun 2018 ini dana desa diperbolehkan untuk membangun kawasan perdesaan. Dana desa yang sebelumnya hanya boleh digunakan untuk membangun desanya sendiri, kini bisa digunakan untuk “urunan” membangun kawasan perdesaan. Bisa dua desa, tiga desa, atau lima desa bekerjasama membangun fasilitas bersama.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Blora, Gunadi menyebutkan, Pasar Kawasan Perdesaan “Sumber Makmur” dibangun dana Rp 1 miliar melalui Ditjen PKP Kemendesa PDTT. Lahan seluas 5000 meter persegi yang ditempati untuk pasar merupakan lahan tanah kas desa dan tanah bengkok. Luas bangunan 300 meter persegi yang terdiri dari 8 kios dan 12 los selasar untuk 30 pedagang.

Editor: Supriyadi

Pacu UMKM, Tahun Depan Ekonomi di Jateng Harus Menanjak 6,2 %

Aktivitas UMKM di Jateng di bidang konveksi. Pemprov mendorong UMKM memanfaatkan Sadewa Market yang difasilitasi Pemprov Jateng. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng menargetkan perekonomian di provinsi ini tumbuh pesat. Targetnya, pertumbuhan ekonomi harus naik menjadi 5,9-6,2 persen.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sri Puryono yakin target itu bisa terpenuhi. Hal ini melihat potensi UMKM, pertanian dan industri yang terus berkembang.

Pihaknya juga mendorong pengembangan ekonomi daerah berbasis potensi UMKM dan industri kecil menengah (IKM). Apalagi sudah ada fasilitas Sadewa Market yang tidak hanya sebagai gerai online, tapi juga melakukan pembinaan kepada pelaku UMKM.

“Kita punya Sadewa Market untuk mendata UMKM dan sekaligus membantu pemasaran atas produk mereka. Dengan data yang valid, maka kesulitan-kesulitan mereka dapat kita ketahui, sehingga bisa segera diberikan intervensi bantuan,” katanya.

Ditambahkan, selain UMKM dan IKM, sektor pertanian juga terus dibangun, baik dari sisi on farm maupun off farm. Sektor pertanian pun didorong untuk “melek” teknologi. Dari mulai penggunaan kartu tani, hingga pemasaran secara online melalui regopantes.com

Di bidang industri, pihaknya mendorong peningkatan investasi dengan berbagai kemudahan perizinan, penyediaan infrastruktur yang memadai, serta menyediakan tenaga kerja terampil. Penyediaan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan keinginan investor dilakukan melalui pendidikan vokasional dan pelatihan-pelatihan.

Sektor pariwisata, terang sekda, juga terus dibenahi, mengingat pertumbuhan pariwisata akan memberikan multiplier effect bagi masyarakat. Saat ini, pihaknya tengah mengembangkan penataan pariwisata yang terintegrasi antara objek satu dengan yang lain.

“Saya pastikan Jateng akan terus berkreasi untuk memajukan sektor ekonomi di tahun depan. Tahun 2018 kita optimistis menetapkan angka pertumbuhan ekonomi 5,9-6,2 persen,” bebernya.

Editor : Ali Muntoha

Menggenjot UMKM di Keresidenan Pati Sadar Teknologi

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

MURIANEWSCOM telah beberapa kali menulis berita tentang pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) agar melek teknologi informasi. Yang terbaru di Pati, yang dimuat Rabu (25/10/2017).

Kepala Seksi Kemitraan dan Pengembangan UMKM Pati Edy Kuswantoro, mewanti-wanti agar para pelaku UMKM di Pati harus bisa mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan teknologi. Sebab, persaingan usaha di era global semakin ketat. Mereka sebagian besar memanfaatkan teknologi.

Benar dengan apa yang disampaikan Edy memang nyata terjadi hari ini. Di era teknologi informasi yang kian gencar dan berkembang setiap saat, peluang UMKM maju amat terbuka lebar. Dengan jalurnya melalui pemaksimalan teknologi informasi.

Hal ini menyadarkan para pelaku UMKM yang masih telat menyadari perkembangan teknologi. Yang terpenting, jangan telat terlalu lama. Terutama bila ingin usahanya maju dan berkembang. Tentu dalam hal ini adalah sisi pemasaran yang bagus lewat online.

Indikasi dari kemajuan teknologi adalah kian mudah dan murahnya gawai atau gadget dewasa ini. Hal itu berlaku juga di kawasan Keresidenan Pati. Di wilayah ini, berdiri banyak UMKM. Tidak sedikit dari pelaku UMKM yang telah menyadari kemajuan teknologi dan memanfaatkannya.

Meski sampai saat ini tercatat pula masih adanya UMKM yang konvensional dalam memasarkan produknya. Yakni mendirikan bangunan toko atau offline dengan pemasaran yang konvensional pula. Padahal dari segi biaya jelas lebih besar. Serta efektivitas pemasaran juga belum tentu bagus.

Ternyata ada juga perusahaan besar yang bangkrut hanya tak mampu bersaing di era digital seperti sekarang. Seorang ekonom senior Indef, Didik J Rachbini menilai keterpurukan PT Nyonya Meneer terjadi karena tidak bisa bersaing di era digital. Ada juga perusahaan besar lain yang mundur gara-gara tak bisa bersaing secara pemasaran online-nya.

Di era gadget yang semakin maju, seyogyanya pelaku UMKM melirik pasar online. Kemudahan bertransaksi, serta efektivitas kinerja yang mudah, amat menguntungkan pemasaran suatu produk. Jadi sebelum terjadi penurunan pemasaran, atau bangkrut, tak ada salahnya melirik pemasaran melalui sistem online.

Mulai sekarang pula, pelaku UMKM hendaknya bisa meningkatkan keterampilan di bidang IT. Bila tidak memungkinkan, karyawan yang paham IT wajib dimaksimalkan.  Ada beragam jalur pemanfaatan IT untuk pemasaran online.

Di antaranya melalui media website, blog, aplikasi di Playstore, dan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp, dan lainnya.

Pemasaran produk melalui online dinilai akan menunjang promosi, selain upaya konvensional juga harus digencarkan.  Yang jelas, mulai sekarang, mari manfaatkan teknologi yang kita miliki untuk memasarkan produk kita sendiri. Saatnya UMKM go internasional. (*)

Pelaku UMKM di Pati Diminta Melek Teknologi Informasi

Bimtek manajemen bisnis yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM Pati bersama sejumlah pelaku bisnis, Rabu (25/10/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Pati diminta untuk melek teknologi informasi. Hal itu disampaikan Kepala Seksi Kemitraan dan Pengembangan UMKM Pati Edy Kuswantoro, Rabu (25/10/2017).

“Para pelaku UMKM di Pati harus bisa mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan teknologi. Sebab, persaingan usaha di era global semakin ketat. Mereka sebagian besar memanfaatkan teknologi,” kata Edy.

Menurut dia, pelaku UMKM di Pati selama ini masih memasarkan produknya secara konvensional. Padahal, pemasaran produk saat ini berkembang pesat ke era gadget.

Karena itu, dia menyarankan agar pelaku UMKM bisa meningkatkan keterampilan di bidang IT. Bila tidak memungkinkan, karyawan yang paham IT mesti dioptimalkan.

“Kalau terpaksa tidak paham IT, mesti memanfaatkan karyawan yang paham IT untuk ikut memasarkan produk. Konsumen yang belanja melalui gadget sekarang menjadi tren tersendiri,” imbuhnya.

Pemasaran produk dengan pemanfaatan IT yang dimaksud, antara lain website, blog, aplikasi di Playstore, dan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp, dan masih banyak lagi lainnya.

Pemasaran produk melalui online dinilai akan menunjang promosi, selain upaya konvensional juga harus digencarkan. Hal itu yang banyak disinggung dalam bimbingan teknis Manajemen Bisnis yang dilakukan Dinas Koperasi dan UMKM Pati 

Editor: Supriyadi

Alfamart Siap Tampung Produk UMKM Kudus 

Dua orang pengunjung tampak santai di depan Alfamart. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabar gembira datang untuk pelaku UMKM di Kabupaten Kudus. Paslnya, salah satu minimarket di Kabupaten Kudus, yakni Alfamart siap menampung produk UMKM di Kudus.

Perwakilan dari Alfamart, Krisnajati mengatakan, pihaknya siap melaksanakan kemitraan dengan pelaku UMKM di Kudus. Apalagi, kemitraan sudah diatur dalam Perda, yang mana pengusaha minimarket harus menjalin mitra dengan masyarakat, khususnya UMKM.

“Model mitra sebenarnya sudah ada di Indonesia, tapi fokus di luar Jawa. Namun untuk Jawa, nampaknya, Kudus jadi tempat pertama yang akan menerapkannya,” katanya saat datang ke Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus.

Menurut dia, Perda No. 12 Tahun 2017 tentang Perpasaran Modern akan dilakukannya. Karena, hal itu sudah menjadi aturan bagi pengusaha agar mematuhinya. Selain itu, dengan bermitra, maka sesama pengusaha akan tetap bisa jalan.

Sementara, Kabid Fasilitasi Perdagangan Promosi dan Perlindungan Konsumen Imam Prayetno mengatakan, kalau konsep kerjasama atau mitra, dilakukan dengan membuat outlet dan memasukkan produk lokal di mini market tersebut.

Sehingga, lanjut dia, barang hasil masyarakat Kudus bisa laku terjual di Alfamart. Hanya mengenai teknisnya masih disusun lebih jauh lagi, termasuk soal display dan harganya.

“Selain itu, kami juga meminta Alfamart memberikan pembinaan bagi toko milik masyarakat. Agar, mampu mengelolanya dengan baik dan semakin besar. Selain itu, juga dapat kulakan ke Alfamart dengan harga yang miring,” ungkap dia.

Dia merencanakan kerjasama tak hanya dengan Alfamart saja. Namun minimarket jenis Indomaret juga sama. Rencananya, dalam waktu dekat ini komunikasi dengan Indomaret akan dijalin pula.

Editor: Supriyadi

Musthofa Dorong UMKM Jateng Naik Kelas

Bupati Kudus Musthofa saat menjadi pembicara diGebyar UKM di Gedung Telkom Semarang, Selasa (17/10/2017). (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Semarang – Bupati Kudus Musthofa mendorong Usaha Kecil dan Menengah (UKM) harus naik kelas. Untuk itu butuh semangat yang kuat dari para pelaku usaha. Juga tak kalah penting adalah dukungan negara/pemerintah dalam mendorong tumbuh kembang UKM.

Hal ini disampaikannya pada acara Gebyar UKM di Gedung Telkom Semarang, Selasa (17/10/2017). Acara yang diselenggarakan Markplus inc. ini juga menghadirkan akademisi Dr. Taswan dari Unisbank, pelaku UKM Syahnaz, serta Joko Raharjo dari Telkom.

Musthofa memberikan support agar kreativitas dan inovasi para pelaku UKM dioptimalkan dan terus digali. Added value produk sebagai pembeda akan menjadikan sebuah produk naik kelas dan tentu diikuti harga yang juga beda.

“Salah satunya adalah mengenai kemasan. Dengan kreativitas, sebuah barang bisa bernilai jual tinggi,” kata Musthofa yang siang itu menerima penghargaan sebagai policy maker pengembangan UKM.

Mengenai permodalan, lanjutnya, banyak fasilitas kredit yang ditawarkan. Diantaranya yaitu adanya kredit usaha dengan bunga ringan dan tanpa jaminan. Tentu ini diminati bagi para pelaku usaha mengembangkan bisnisnya.

Selain itu, sebagai pemangku kebijakan, dirinya turut berbangga dengan berbagai kesuksesan UMKM Kudus. Ini semua tidak bisa terwujud tanpa keuletan dan semangat terus belajar dan juga adanya support pemerintah daerah.

“Saya berpesan tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan. Ketika sukses, jangan lupa sama orang tua serta berbagi dengan sesama,” pesannya.

Pembicara lain menyampaikan sesuai dengan bidang yang digelutinya. Dr. Taswan sebagai akademisi mengatakan kepedulian kampusnya terhadap pelaku usaha. Termasuk untuk para mahasiswa.

Syahnaz menceritakan kesuksesannya dalam berbisnis tas. Bagaimana kegigigannya merintis usaha hingga menjadi besar seperti sekarang. Sedangkan Joko Raharjo siap memberikan bantuan permodalan usaha melalui CSR PT Telkom.

Pada acara tersebut, H. Musthofa diangkat sebagai koordinator International Council for Small Business (ICSB) Jawa Tengah. ICSB merupakan sebuah organisasi non profit  dunia yang mempunyai tujuan untuk melanjutkan pendidikan manajemen bagi pengusaha dan usaha kecil menengah. 

Pengangkatan ini didasarkan atas kinerja Bupati Kudus dua periode itu dalam membangkitkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kudus. Salah satunya adalah pengakuan Triyanto. Pengusaha sirup parijoto merasa telah diperhatikan untuk mengembangkan usahanya

Editor: Supriyadi

Ada 4 Juta UMKM Tumbuh di Jawa Tengah

Salah satu UMKM memarekan produknya dalam sebuah pameran beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng mencatata, selama 10 tahun terakhir jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Sejak 2006 hingga 2016 tercatat, sudah ada 4,13 juta pelaku UMKM. Hal ini berdasarkan data tebaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah.

“Rilis BPS Provinsi Jawa Tengah dalam sepuluh tahun terakhir, hingga tahun 2016 jumlah perusahaan di Jateng meningkat sebesar 13,06 persen untuk seluruh jenis usaha,” kata Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko

Ia merinci ada sekitar 4,17 juta usaha skala besar, menengah, kecil, dan mikro. Dari keseluruhan 4,17 juta usaha tersebut, hampir 99 persen di antaranya atau sekitar 4,13 juta adalah UMKM.

Mantan bupati Purbalingga ini mendorong agar pelaku UMKM semakin kreatif dan inovatif dalam memromosikan produk mereka. Penggunaan teknologi informasi, seperti media sosial (medsos), kini menjadi keharusan bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar.

“Ke depan, saya ingin promosi yang dilakukan tidak hanya melalui berbagai ajang pameran seperti ini saja. Tetapi harus lebih kreatif dan inovatif dalam berpromosi. Penggunaan medsos mutlak dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar. Promosi semacam ini tidak dibatasi sekat-sekat teritorial,” ujarnya.

Heru menyayangkan, apabila para pelaku UMKM telah berhasil menciptakan produk unggulan, namun produk itu tidak populer di tengah masyarakat. Ujung-ujungnya akan minim pembeli.

“Promosi yang gencar harus dilakukan kalau ingin produk lebih dikenal luas dan disukai masyarakat. Kalau (produk) bagus, tapi tidak dikenal itu sayang kan. Saya salut dengan kreativitas pelaku usaha yang semula barangnya tidak dikenal, tetapi malah nge-trend setelah dipasarkan,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Koperasi di Grobogan Diharapkan Permudah Modal UMKM

Bupati Grobogan Sri Sumarni memberangkatkan peserta jalan sehat dalam rangka Hari Koperasi, Jumat (14/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski keberadaan koperasi sudah berumur cukup lama namun sejauh ini berbagai permasalahan masih membelit lembaga tersebut. Kondisi itu menyebabkan koperasi kurang bisa bersaing dengan lembaga lainnya, padahal kesempatan untuk maju sangat terbuka. 

Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menghadiri acara jalan sehat dalam rangka Hari Koperasi, Jumat (14/7/2017).

Menurut Sri, permasalahan yang sering dihadapi koperasi adalah masih kurangnya sumber daya manusia yang dimiliki. Kondisi ini bisa berakibat pada kurangnya kemampuan mengakses pasar, modal dan menjalin kerja sama kemitraan dengan badan usaha lainnya.

”Keterbatasan mengakses potensi-potensi itulah yang menyebabkan koperasi kurang mampu bersaing. Oleh sebab itu, koperasi harus berbenah diri untuk lebih meningkatkan kemampuan SDM yang dimiliki supaya bisa eksis,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, bupati berharap kepada para pengelola koperasi agar memberikan perhatian yang lebih pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dalam hal ini, koperasi diharapkan mau memberikan suntikan modal yang lebih besar pada sektor UMKM ini, melalui koperasi simpan pinjam. Sebab, selama ini para pengusaha UMKM sering terhambat untuk mengembangkan usahanya akibat minimnya modal yang dimiliki.

Di sisi lain, para pengusaha UMKM cukup kesulitan untuk mendapatkan kucuran kredit dari lembaga perbankan. Hal ini disebabkan tidak memadainya agunan yang dimiliki para pengusaha UMKM dibandingkan dengan dana yang diminta.

Ia mengatakan, pada dasarnya, kelompok UMKM itu sebenarnya merupakan kelompok usaha yang tangguh. Terbukti, saat krisis ekonomi menghantam Indonesia, beberapa waktu lalu, tidak membuat pelaku UMKM ini gulung tikar. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa UMKM memiliki sisi positif lain, yakni punya daya tahan dan daya lentur yang baik dalam menjalankan usahanya.

”Dengan kenyataan ini saya berharap agar koperasi-koperasi yang ada mau memberikan kucuran modal yang lebih banyak pada pengusaha UMKM ini,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

UMK Adakan Goes to UMKM Lokal ke Level Global

Salah satu pembicara saat hadir dalam kegiatan Seminar Manajemen dan Goes to UMKM bertajuk Mengembangkan UMKM yang Kuat Guna Memenangkan Persaingan Global di Auditorium Kampus UMK, Senin (13/3/2017). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabupaten Kudus memiliki beragam potensi dan produk-produk yang berpeluang besar mendapatkan pasar di dunia global. Untuk itu, perlu upaya-upaya terus menerus agar berbagai produk lokal di Kudus, semakin banyak yang bisa diterima oleh pasar internasional.

Itu disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK) Mochamad Edris usai membuka Seminar Manajemen dan Goes to UMKM bertajuk Mengembangkan UMKM yang Kuat Guna Memenangkan Persaingan Global di Auditorium Kampus UMK, Senin (13/3/2017).

‘’Banyak potensi dari produk UMKM yang dimiliki Kabupaten Kudus. Tiga di antaranya yang sudah dikenal, yaitu Jenang Kudus, Batik Khas Kudus, dan Kopi Rempah,’’ ujarnya ditemui di sela-sela seminar.

Karena itulah, Edris mengemukakan, dalam seminar manajemen yang digelar untuk kali kedua ini, tiga pakar dari bidang usaha itu, dihadirkan sebagai narasumber. ‘’Agar mahasiswa tidak sekadar mengetahui teori terkait UMKM, produk UMKM hingga manajerialnya,’’ katanya.

Lebih dari itu, lanjutnya, supaya mahasiswa memiliki pemahaman yang luas, sehingga bisa mengambil manfaat besar bagi masa depannya. ‘’Kami berharap, ke depan di antara mahasiswa yang hadir ini, ada yang bisa membuka usaha berbasis keunggulan lokal,’’ tuturnya.

Yuli Astuti dari Muria Batik, mengutarakan, untuk membuka sebuah usaha, modal finansial bukanlah hal utama yang paling menentukan. ‘’Yang terpenting adalah tekad dan kemauan keras untuk belajar dan menekuni sebuah usaha,’’ paparnya.

Dia pun mengaku, menekuni usaha batik karena prihatin dengan hilangnya Batik Khas Kudus. ‘’Saya kemudian bertekad belajar serius sejak 2005, dan selama tiga tahun pertama belum banyak menghasilkan (keuntungan), sehingga hampir putus asa,’’ kisahnya.

Namun dia mengaku terpanggil untuk bertahan dan lebih serius memproduksi batik khas Kudus, sehingga buahnya pun sudah bisa dirasakan. ‘’Kini batik Kudus sudah dikenal luas. Saya sudah sering melakukan pameran ke berbagai kota, bahkan ke luar negeri,’’ paparnya.

Sementara itu, selain Yuli Astuti, hadir dalam kesempatan itu sebagai narasumber, M. Ikrom dari marketing dari PT. Mubarokfood Cipta Delicia) dan Nono Anik Sukasni dari Prima Pradnadita (Saqinano)

Editor : Akrom Hazami

 

Gubernur Kagum dengan Produk UMKM di Grobogan

Warga melihat stan pameran di Kabupaten Grobogan, Kamis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Acara Musrenbangwil eks Keresidenan Semarang yang digelar di pendapa kabupaten, Kamis (9/3/2017) juga diramaikan dengan pameran UMKM.

Selain dari Kabupaten Grobogan, Semarang, Demak, Kendal serta Kota Semarang dan Salatiga, stan pameran juga menampilkan produk UMKM dari beberapa dinas dan instasi setempat.

Dari pantauan di lapangan, beragam produk UMKM terpajang di stan pameran yang ditempatkan di pelataran kantor Setda Grobogan tersebut. Antara lain, kerajinan tangan, berbagai olahan produk makanan dan minuman, dan batik.

Ada juga produk hasil pertanian, perkebunan dan perternakan. Selain itu, ada juga stan dari Bank BKK Purwodadi, Bank Jateng, SMKN 2 Purwodadi dan Polres Grobogan yang ikut mendukung acara tersebut.Keberadaan stan pameran UMKM juga mengundang daya tarik para pejabat yang hadir serta masyarakat. Sebagian di antaranya bahkan terlihat membeli barang yang terpajang.

“Saya tertarik dengan produk tempe higienis produksi Dinas Pertanian Grobogan. Makanya, mumpung ada saya sempatkan beli untuk oleh-oleh,” kata salah seorang pengunjung stan pameran yang berasal dari Kota Semarang tersebut.

Tidak hanya pengunjung, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga menyatakan kekagumannya terhadap aneka produk UMKM tersebut. Hal itu terlihat saat Ganjar meninjau stan pameran, sebelum membuka acara Musrenbangwil.

Dalam kesempatan itu, Ganjar meminta agar lembaga keuangan pemerintah, khususnya Bank Jateng dan BKK ikut mendorong kemajuan pelaku UMKM. Caranya, dengan menyalurkan kredit lunak pada mereka.

“Salah satu kendala pelaku UMKM adalah soal modal. Makanya, kita dorong Bank Jateng dan BKK ikut menaruh perhatian pada mereka supaya usahanya bisa berkembang,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Sinergi Forum UMKM Kudus dengan Pegadaian, Buat Pelaku Usaha Makin Pintar dan Laris Produknya

Motivator bisnis Tommy Funz memberikan tips dan trik bagaimana meningkatkan pemasaran produk, kepada anggota Forum UMKM Kudus, dalam acara yang digelar Kamis (16/2/2017), di RM Ulam Sari. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kudus terus berupaya membuat anggotanya, menjadi pintar dalam usaha mereka. Salah satunya dengan membuat workshop yang menambah ilmu bagi anggotanya.

Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Pegadaian Kudus di Rumah Makan Ulam Sari, Kamis (16/2/2017), itu, memang menjadi salah satu upaya agar pelaku usaha di Kudus, mengetahui bagaimana membuat produk mereka menjadi laris di pasaran.

Ketua Forum UMKM Kudus Yuli Astuti mengatakan, kegiatan ini digelar sebagai salah satu bentuk upaya pemberdayaan kepada anggotanya. ”Supaya ilmu dari para anggota yang ada di forum, bisa semakin meningkat. Termasuk mengetahui strategi yang bisa dipakai dalam rangka membuat produk mereka laris di pasaran,” terangnya.

Pelaku usaha di Kudus, menurut Yuli, memang perlu untuk terus menambah ilmu mereka dalam hal pemasaran. Sehingga adanya kegiatan ini, dinilai tepat untuk membagi ilmu mengenai hal itu. ”Saya sangat senang karena memang acara ini juga didukung banyak pihak. Terutama pihak Pegadaian Kudus, ya. Sehingga kita bersinergi bersama. Terutama pelaku usaha supaya bisa meningkatkan jualan produknya,” tuturnya.

Salah satu pengisi acara adalah Tommy Funz, yang merupakan seorang entrepreuner dan motivatir bisnis. Kepada peserta, dia memaparkan bagaimana membuat jualan laris lewat internet. Banyak manfaat yang diperoleh, jika pelaku usaha memanfaatkan internet untuk jualan produk mereka.

”Misalnya saja di media sosial seperti Facebook. Banyak yang bisa kita dapatkan atau manfaatkan dari sana. Bagaimana membuat akun Facebook kita, menjadi tempat jualan. Kemudian juga kita sampaikan trik dan tipsnya, untuk bisa membuat produk kita makin dikenal orang dan makin laris,” paparnya.

Sementara itu, Deputi Bisnis Pegadaian Area Pati Musonif mengatakan, kegiatan ini selain memberikan ilmu kepada pelaku usaha di Kudus, juga bisa menjadi salah satu cara untuk menjadi ajang bersosialisasi dengan pihaknya.

”Karena Pegadaian itu sekarang kan, produknya macam-macam. Kita ingin supaya masyarakat juga memahaminya. Salah satunya dari sektor pelaku usaha ini. Ke depannya, kita bisa saling bersinergi dengan para pelaku usaha ini. Satu wadah yang sangat bagus saya pikir, dengan dibuatnya acara ini,” paparnya.

Editor: Akrom Hazami

 

Produk UMKM Kudus Direncanakan Dipamerkan ke Mancanegara

Pelaku UMKM melakukan pameran produk yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pelaku UMKM melakukan pameran produk yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus memberikan fasilitas kepada pengusaha Kudus guna memamerkan produknya ke tingkat yang lebih tinggi. Tak hanya lingkup Naisonal, namun juga pameran dipamerkan dalam skala internasional.

Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disdagsar) Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan, barang dagangan yang dipamerkan merupakan produk unggulan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Tujuannya adalah menebalkan dan mempromosikan agar pengusaha di Kudus juga makin laku dan diketahui oleh dunia luas.

“Kami juga bertujuan tak hanya mengangkat dan memperkenalkan produk Kudus dalam skala nasional, tetapi juga ke lingkup lebih luas hingga ke mancanegara,” ungkapnya Kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, beberapa lokasi di kota besar sudah dibidik dan bebebepa lainnya sudah dilakukan pameran. Seperti halnya di Semarang, Jakarta, Yogyakarta dan Kudus, yang berakhir dengan sukses dan meriah.

Sedangkan salam waktu dekat, pemkab kembali menggiatkan hal yang sama. Rencananya, ajang serupa di pusat perbelanjaan Thamrin City Mall Jakarta Pusat, awal Desember 2016. Rangkaian terakhir road show dagang untuk memperkenalkan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) digelar di Depo Pelita Mall Purwokerto, 8-11 Desember nanti.

Menurutnya, pameran di Jakarta akan diikuti 18 peserta dan di Purwokerto disiapkan 24 peserta untuk menjaring pembeli potensial di kawasan sekitar. Produk yang ditawarkan antara lain bordir, batik, hasil konveksi, jenang, dan kopi Muria. Upaya memperkenalkan produk unggulan Kudus tersebut telah dimulai dengan menggandeng Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) dari 20 kabupaten di Jawa Tengah.

“Kami juga akan menampilkan kembali pameran dagang di Jakarta, 1-4 Desember nanti. Yang kami pamerkan seperti bordir, diharapkan bisa menarik minat para buyer dari berbagai kalangan,” katanya.

Tiap peseta bakal mendapatkan transportasi, penginapan selama pameran berlangsung, berikut stan. Sedangkan untuk pemilik ditugasi menghias stan semenarik mungkin. Dijelaskan, kegiatan ini adalah mempromosikan produk Kudus ke luar. Dengan total anggaran Rp 7 miliar. Jumlah itu untuk semuanya, termasuk pula dengan publikasi.

Kata dia, Kudus memiliki sentra bordir di sejumlah tempat. Seperti di Desa Padurenan dan Karangmalang Kecamatan Gebog, Desa Purwosari di kawasan perkotaan, serta Desa Peganjaran Kecamatan Bae. Kualitas kerajinan bordir asal Kudus dikenal sangat bagus. Perdagangan bordir juga dinilai lebih menjanjikan.  Maka tak salah jika produk bordir yang ditawarkan dalam pameran dagang di pusat ibukota itu sebagian besar menyasar kalangan menengah ke atas.

Transaksi dagang  bukan menjadi sasaran utama, Tetapi yang lebih penting adalah pascakegiatan itu, yakni menjadikan produk UMKM Kudus bisa lebih dikenal. “Kami juga menggandeng artis Ivan Gunawan atau Igun. Dia juga siap mempromosikan hasil karya Kudus ke jenjang yang jaug lebih tinggi lagi Seperti Miss Universe di Filipina,” paparnya.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Kudus Ajak Kerja Sama UMKM dengan Blora

Bupati Kudus Musthofa bersalaman dengan Bupati Blora Djoko Nugroho dalam rangka kerja sama UMKM di Blora. (ISTIMEWA)

Bupati Kudus Musthofa bersalaman dengan Bupati Blora Djoko Nugroho dalam rangka kerja sama UMKM di Blora. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Blora – Tujuan utama keberadaan pemerintah adalah menyejahterakan masyarakat. Baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah di wilayah provinsi maupun kabupaten atau kota. Untuk bisa meraih tujuan tersebut ada tahapan dan proses yang harus dilewati. Sehingga, perlu adanya keseriusan bersama semua pihak. Salah satunya jalinan kerja sama antardaerah.

Sebagaimana yang berlangsung di pendapa rumah dinas Bupati Blora, Kamis (24/11/2016). Yakni berupa penandatanganan MoU kerja sama Pemkab Kudus dengan Pemkab Blora. Yang tujuannya adalah meraih kemajuan bersama di segala bidang. Salah satu poin dalam kerja sama tersebut adalah peningkatan kesejahteraan melalui ekonomi kerakyatan.

Untuk itu, juga dilakukan pengukuhan Forum UMKM Kabupaten Blora oleh Musthofa Bupati Kudus yang juga pembina Forum UMKM Jateng. Musthofa mengatakan bahwa dengan forum UMKM tersebut akan memperluas jaringan bisnis. Sehingga produk UMKM Blora tidak hanya dipasarkan di pasar lokal saja, melainkan bisa dikenal dengan semakin luas. “Apalagi jika didukung dengan pemanfaatan IT, pemasaran tak terbatas tempat dan waktu,” kata Musthofa.

Dikatakannya, kekuatan pelaku UMKM ini penyangga ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya. Potensi yang begitu besar akan menjadi luar biasa manakala potensi yang ada digerakkan dengan tepat. “Kami (negara) telah hadir memberikan fasilitas permodalan hingga pemasaran. Melalui fasilitas kredit apapun, silakan karena itu membantu peningkatan produktivitas usaha,” imbuhnya.

Adanya berbagai kredit usaha, ini sudah seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Yaitu KUR, Mitra25, atau KUP semua adalah fasilitas. Bahkan KUP hasil gagasannya memberikan pinjaman usaha tanpa jaminan dengan bunga ringan.

Sementara itu, Bupati Blora Djoko Nugroho menyambut baik terbentuknya forum UMKM Kabupaten Blora. Menurutnya ini kesempatan emas pelaku usaha semakin produktif untuk meraih sukses. “Saya berharap semua pelaku usaha ini tetap bersemangat dan memiliki kreativitas,” pesan Bupati Blora.

Editor : Akrom Hazami

Promosi UMKM lewat Program Inbox, Buat Kudus Dikenal Luas

iklan-pemkab-kudus-munyus-tyg-15-nov-2016

Bupati Kudus Musthofa saat ikut meramaikan perhelatan musik, Inbox, di alun-alun setempat, beberapa pekan lalu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Banyaknya produk dari para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Kabupaten Kudus ini, memang harus terus menerus dipromosikan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus memiliki banyak cara untuk mempromosikan produk-produk UMKM tersebut. Salah satu yang cukup membuat banyak orang suka adalah dengan masuk ke program televisi, Inbox SCTV.

Ya, beberapa waktu lalu, Kudus memang menjadi salah satu lokasi program acara Karnaval Inbox, yang berlangsung selama dua hari di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Dalam program yang disiarkan langsung itu, Bupati Kudus H Musthofa memperkenalkan aneka produk UMKM Kudus, yang memang patut dibanggakan. Ada batik, ada kerajinan tangan hiasan rumah, dan lain sebagainya. Termasuk biola bambu yang menjadi salah satu ciri khas dari Kudus.

”Ini adalah biola bambu yang memang satu-satunya dibuat di Kudus. Saya selalu mendorong pelaku UMKM untuk bisa membuat sesuatu yang berbeda. Salah satunya biola bambu ini,” katanya.

Dukungan Pemkab Kudus terhadap para pelaku UMKM juga terus dilakukan. Bupati mengatakan jika melalui Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM, pihaknya membantu penuh supaya produk-produk UMKM Kudus bisa dikenal luas.

”Salah satunya melalui program Inbox ini, semoga produk-produk UMKM dari Kudus bisa dilihat banyak orang. Seluruh Indonesia, bahkan dunia. Sehingga para pelaku UMKM yang ada di wilayah ini, akan semakin memiliki tempat, dan produknya akan laris,” tuturnya.

Belum melihat program Inbox yang berisi promosi produk UMKM Kudus itu, silakan tonton sendiri video berikut ini.

Editor: Merie

 

Pameran UMKM Kudus di 4 Kota Besar Terancam Gagal

Pelaku UMKM mengikuti salah satu kegiatan pameran produk, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pelaku UMKM mengikuti salah satu kegiatan pameran produk, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom,Kudus – Pameran produk UMKM Kudus di empat kota besar, terancam gagal. Sebab sampai sekarang, belum menemukan lokasi penyelenggaraan yang strategis.

Kepala Dinas Perdagangan dan Pasar (Dagsar) Kudus Sudiharti mengatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan ke beberapa lokasi yang diinginkan. Namun tempat itu sudah dipesan lebih dulu oleh pihak lain. “Kalaupun masih jalan, harus dilakukan pengecekan lokasi lainnya yang juga tidak kalah ramai. Sehingga, tujuan untuk mempromosikan perdagangan Kudus tidak hilang,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu

Kesiapan pameran tersebut, hingga kini masih dalam proses lelang. Padahal, rencananya kegiatan tersebut akan dilakukan mulai Oktober mendatang di empat kota besar.  Yaitu Semarang, Yogyakarta, Jakarta, dan Purwokerto. Kegiatan berjudul Sosialiasi,  Pengenalan Produk Perdagangan Kudus itu bakal berlangsung lama. Sebab, untuk tiap daerah akan berlangsung lima hari.

“Untuk peserta pameran kami lakukan seleksi. Jadi tidak semua yang mengajukan akan kami ajak. Sekarang ini juga masih dalam proses seleksi, dan bakal kami umumkan dalam waktu dekat,” ujarnya.

Tiap peserta bakal mendapatkan fasilitas transportasi, penginapan selama pameran dan stan. Peserta juga mendapat tugas menghias stan semenarik mungkin. Tujuan dari kegiatan ini adalah mempromosikan produk Kudus ke luar. Berbeda dengan pameran produk lainnya, kali ini semuanya berasal dari Kudus.

“Total anggaran Rp 7 miliar. Jumlah itu untuk semuanya, termasuk pula dengan publikasi,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Kudus Didorong jadi Kota Perdagangan

Pelaku UMKM melakukan pameran di salah satu ekspo di Kudus. (MuriaNewsCom)

Pelaku UMKM melakukan pameran di salah satu ekspo di Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Murianewscom, Kudus – Banyaknya pengusaha di Kudus membuat pemerintah setempat mendorongnya menjadi kota perdagangan. Hal itu kini sedang digagas dan diupayakan dengan berbagai hal.

Kabid Promosi dan Perlindungan Konsumen Ddisdagsar Kudus Imam Prayitno, menuturkan jika pengusaha di wilayahnya banyak. “Usaha sudah ada bermacam-macam, jadi kita dorong agar usahanya lancar . Dengan demikian, upaya menjadikan Kudus sebagai kota perdagangan juga dapat berwujud, ” katanya kepada Murianewscom.

Langkah yang dilakukan, kata dia, dibagi menjadi dua hal. Pertama melakukan kegiatan pameran dengan cara yang berbeda. Seperti halnya yang akan dilakukannya dalam waktu dekat ini, puluhan pedagang akan dibuatkan ekspo.

Itu untuk mengenalkan produk Kudus kepada masyarakat luas. Setelah dikenal, pedagang bisa meneruskannya.

Cara lain juga, adalah dengan membuatkan promosi berbasis web. Cara tersebut dianggap pas, lantaran sekarang sudah serba internet dan serba canggih.

“Ini merupakan program jangka pendek, sehingga ke depan, rencananya maksimal Desember harus sudah terealisasi semuanya,” ungkapnya.

Pihaknya berharap kejayaan Kudus dalam perdagangan bisa teraih lagi. Mengingat dulu pernah terjadi. “Seperti halnya Nitisemito. Dulu pada zamannya sangat dikenal, dan menjadi perdagangan yang besar . Kudus juga disebut sebagai Gusjijang, yang mana di antaranya adalah berdagang,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Cara Hemat Pelaku UMKM Ikut Kepesertaan BPJS

umk

Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi para pelaku usaha, terdapat cara khusus agar murah dalam mengikuti kepesertaan BPJS. Jika cara tersebut dilaksanakan, maka seluruh anggota keluarga menjadi tanggungan BPJS.

Kepala BPJS Kesehatan Kudus Agus Purwono, mengatakan kalau pelaku UMKM dapat dikenakan BPJS seperti seorang karyawan. Dalam membayar iuran, cukup 5 persen dari UMK Kudus saat ini.

“Tidak usah mandiri, nanti jatuhnya mahal. jadi daftarnya khusus. Nanti iurannya sama seperti karyawan, yakni 5 persen dari UMK,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jika UMK Kudus sekarang Rp 1,6 juta, maka 5 persen adalah di angka Rp 80 ribuan. Iuran itu dapat dibayarkan tiap bulan, dan mampu menanggung satu keluarga maksimal lima orang.

Dengan demikian, kata dia, pelaku usaha akan lebih hemat. Selain itu, jika ada hal yang tidak diinginkan menyangkut kesehatan, dapat segera ditangani tanpa khawatir soal biaya karena akan ditanggung.

Dia menambahkan, sebenarnya konsep BPJS berbeda dengan lainnya. Jika yang lain adalah iuran banyak manfaat kecil, maka di BPJS iuran minimal dengan manfaat yang besar. Hal itu, lantaran yang dilakukan adalah subsidi silang

“Kami sebenarnya juga sedang menggarap hal ini. Namun, hingga kini masih belum maksimal. Ke depan pelaku UMKM bakal menjadi sasaran agar menjadi peserta JKN KIS,” ungkapnya.

Menurutnya, Kabupaten Kudus menjadi kabupaten tertinggi kepesertaan BPJS. Sebab, untuk Kudus sudah di angka 70 persen ikut peserta. Hal itu, tertolong dengan adanya banyak perusahaan, yang sudah mendaftarkan karyawannya.

Editor : Akrom Hazami

 

Begini Cara Dinas Perinkop dan UMKM Pacu Pelaku Usaha Bisa Bersaing di Era MEA

f-UMKM

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kudus menginginkan, pelaku usaha di Kudus semakin terpacu dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Karena, penguatan ekonomi di Kudus tergantung dari tumbuh kembangnya pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Terkait dengan hal itu, Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kudus Hadi Sucipto melalui Kabid Perindustrian Koesnaini menyatakan, pihaknya bakal memberikan pelatihan terhadap pelaku usaha yang berhubungan dengan promosi produk.

“Setiap bulan ada pelatihan untuk pelaku usaha. Dalam hal ini, pelaku usaha juga dilatih bagaimana untuk memasarkan produk secara tepat dan bagaimana pula melakukan inovasi. Dengan begitu, diharapkan produk-produk milik UMKM bisa berkembang,” katanya.

Tidak hanya itu, untuk bisa bersaing di era MEA, dinas bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan di Kudus juga memberikan pelatihan bagi buruh pabrik yang terkena PHK.

Koesnaini mengatakan, hal ini juga untuk mengurangi angka pengangguran di Kudus, khususnya adanya PHK karyawan perusahaan.

”Kalau buruh dari pabrik diberhentikan bekerja, kemudian tidak ada bekal keterampilan sama sekali, bisa menambah daftar panjang angka pengangguran. Hal inilah yang harus dicegah, dan kami melalui pendekatan dengan pabrik di Kudus, agar buruh yang di PHK diajukan ke dinas untuk mendapatkan pelatihan usaha,” terangnya.

Dia menambahkan, dana pelatihan tersebut dari Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT). Menurutnya, buruh yang terkena PHK perusaan bisa melaporkan ke Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM untuk mendapatkan pelatihan kewirausahaan. Misalnya, pelatihan membuat kue, produk kerajinan tangan atau konveksi.

”Jadi perusahaan itu membekali keterampilan buruh yang dikeluarkan, dan uang pesangon yang diberikan bisa dimanfaatkan untuk membuka usaha, sehingga tidak terus menganggur,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

UMKM yang Dikelola Perempuan Diminta Harus Bisa Bersaing

 

 

Workshop Usaha Mikro Berbasis Perempuan Pedesaan di Pendopo Kabupaten Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Workshop Usaha Mikro Berbasis Perempuan Pedesaan di Pendopo Kabupaten Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dalam rangka memperingati HUT Jepara ke-467 dan Festival Kartini IV 2016, Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara mengadakan Workshop Usaha Mikro Berbasis Perempuan Pedesaan di Pendopo Kabupaten Jepara.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perempuan dalam pengelolaan usaha kecil dan juga dapat membantu keluarga sejahtera,” kata Kabid UMKM Ririen Hariyanti, dalam membuka acara tersebut, Kamis (14/4/2016).

Kegiatan ini diikuti sebanyak 58 peserta, yang semuanya dari kaum wanita yang mempunyai usaha bergerak di bidang batik, tenun, katering dan makanan ringan (camilan), dengan narasumber dari Surakarta seorang praktisi dan konsultan, yakni Sularni dan Hernia Eka K.

Menurut Sularni, perempuan tidak boleh kalah dengan laki-laki dalam berkarier dan berusaha. Dengan kemampuannya, perempuan dapat menjadikan sesuatu yang tidak berarti menjadi berarti untuk dapat meningkatkan kesejahteraan keluargannya.

“Dengan kegiatan ini, kita akan menjadikan wanita yang kreatif dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan, serta dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan serta kreativitas untuk dapat menjadi perempuan yang produktif di berbagai sektor,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, perempuan dapat meningkatkan partisipasiperempuan dalam masyarakat. Dia juga mengatakan, untuk menjadikan perempuan yang kreatif dan penuh adanya inovatif diperlukan keberanian untuk melakukan atau mendirikan kewirausahaan.

“Dengan kata lain, mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumberdaya untuk menemukan peluang dan perbaikan hidup merupakan pengembanngan diri kita untuk melakukan perubahan menjadi pengusaha,” ungkap Sularni.

Selanjutnya, Sularni mengemukakan bahwa untuk menjadi sukses seseorang harus proaktif dengan tujuan akhir dalam pikiran untuk berkarier, serta dapat mendahulukan prioritas dan berpikir, berusaha untuk mengerti terlebih dahulu dalam mewujudkan apa yang harus dilakukan.

“Diharapkan nantinya para perempuan di pedesaan dapat mempunyai peran yang penting dalam mengisi pembangunan di daerah masing-masing dapat memajukan dan menyejahterahkan hidup perempuan agar mampu bersaing dan berkiprah dalam berbagai usaha sama dengan pria,” jelasnya.

Sementara itu, Hernia Eka mengingatkan kepada kaum wanita yang mempuyai usaha harus sudah siap untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dimana MEA sudah diberlakukan pada bulan Desember 2015, hal ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kemajuan sosial dan pengembangan budaya serta meningkatkan mutu produktifitas agar bisa bersaing dengan negara lain yang ada di ASEAN.

“Untuk menghadapai MEA ini UMKM harus sudah siap dengan cara meningkatkan wawasan dan pengetahuan. Selalu melakukan inovasi produk yang dihasilkan dan dapat memasarkan dengan cepat, dengan melakukan sosialisasi melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik untuk dapat membangun kemitraan dengan beberapa produk lainnya,” kata Hernia Eka.

Editor : Kholistiono

Jepara Target Penambahan 1000 UMKM dan 25 Koperasi Tiap Tahun

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara menargetkan penambahan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 1000 usaha dan 25 Koperasi untuk setiap tahunnya. Program itu seiring dengan program pemerintah pusat yang menginginkan penambahan usaha kecil dan koperasi semakin banyak demi pembangunan.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Jepara, Dwi Riyanto mengemukakan, sampai saat ini, di Kabupaten Jepara terdapat 75 ribu UMKM dan 752 koperasi. Target tiap tahun, harus ada 1.000 UMKM baru dan 25 koperasi.

”Untuk saat ini saja ada puluhan pengajuan pendirian koperasi baru,” ucap Dwi Riyanto kepada MuriaNewsCom.

Khusus untuk pengajuan Koperasi memang ada aturan-aturan tersendiri, tidak seperti UMKM. Bahkan, mulai 8 April nanti pengajuan legalitas Koperasi harus langsung ke kementerian. Salah satu penyebabnya adalah di tingkat pusat sudah ada Kementerian secara khusus menangani bidang koperasi.

”Aturan baru itu berlaku bagi yang akan berdiri, maupun perubahan. Untuk koperasi lama tak perlu mengurus perizinan baru,” katanya.

Dia menjelaskan, biasanya proses pengajuannya dari notaris ke dinas koperasi lanjut ke Bupati. Namun nantinya akan ke Kementerian Koperasi. Meski demikian, adanya kebijakan ini bukan berarti bidang koperasi di Dinasnya tidak ada. Justru perlu dikuatkan sebab proses pengajuan tetap melalui dinasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Terbentur Aturan, UMKM di Jepara Hanya Dibantu Penguatan Sumber Daya Manusia

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara tidak mampu berbuat banyak untuk meningkatkan pembangunan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Para pengusaha UMKM di Jepara hanya mendapatkan pelatihan untuk penguatan sumber daya manusia (SDM), baik skill maupun pemasaran saja. Hal ini seiring dengan telah diberlakukannya kebijakan pelarangan pemberian bantuan berupa hibah.

Hal itu diakui oleh Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Jepara, Dwi Riyanto. Menurutnya, khusus untuk UMKM, sementara ini bantuan hanya diintensifkan untuk penguatan SDM. Terutama dengan memberikan pelatihan dengan intensitas yang lebih banyak. Seperti, pengiriman pelaku UMKM ke pelatihan skill atau keterampilan dan pemasaran.

Sebenarnya hal ini sudah diberlakukan sejak tahun lalu. Kami belum memiliki skema pengganti hibah. Sebab, anggaran untuk hibah untuk UMKM sudah tidak ada. Untuk sementara, pengalihannya dengan memberikan banyak pelatihan SDM dan pengembangan mutu,” ujar Dwi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (27/2/2016).

Lebih lanjut dia menjelaskan, kekurangan pemberian bantuan itu bisa ditutupi dengan program dari pemerintah pusat. Salah satunya dengan program pemberian pinjaman lunak. Untuk UMKM ada kredit usaha rakyat (KUR).

“Kami bersyukur karena pelaku usaha bisa memaklumi kondisi ini. Sejauh ini sudah tidak ada yang minta, sebab sudah tersosialisasi melalui berbagai cara, termasuk oleh bupati dan wabup, dan melalui kelompok usaha masing-masing,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Pelaku UMKM Jepara Berharap Produknya Tembus ke Pasar Modern

Wacana Pengelolaan IPAL Domestik dan UMKM di Rembang Bakal Direalisasikan 2016

Plt Kabid Penyajian Dampak dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Budi Priyanggodo (28/12/2015)

Plt Kabid Penyajian Dampak dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Budi Priyanggodo (28/12/2015)

 

REMBANG – Badan Lingkungan Hidup (BH) Kabupaten Rembang akan melakukan pengelolaan Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) domestik dan IPALUMKM pada tahun 2016 nanti.
Hal tersebut disampaikan oleh Plt Kabid Penyajian Dampak dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Budi Priyanggodo kepada MuriaNewsCom. Menurutnya, IPAL domestik akan diujicobakan ke lingkungan sekolah. Sedangkan IPAL UMKM direncanakan ke wilayah industri tekstil.

“Rencana untuk tahun 2016 kami anggarkan pembuatan limbah domestik yang akan diujicobakan di wilayah sekolah. Kami ingin menerapkan lingkungan yang bersih dan sehat dari lingkungan sekolah sebagai proyek percontohan bagi sekolah-sekolah yang lainnya,” ujarnya, Senin (28/12/2015).

Diharapkan, dengan adanya IPAL domestik, tingkat pencemaran lingkungan terutama di lingkungan sekolahan bisa diminimalisasi. Karena sebenarnya, lanjut Budi, limbah domestik jika diolah bisa menjadi bahan yang berguna atau bisa dijadikan pupuk organik.

“Kemudian, selain IPAL domestik kami juga akan mengadakan pengelolaan limbah UMKM. Rencananya nanti kita ke industri tekstil, karena di Rembang sendiri, industri tekstil banyak sekali dan berpotensi menimbulkan pencemaran. Nantinya kalau tidak dikelola dengan baik menjadi berbahaya,” jelasnya.
Budi menambahkan, BLH menfasilitasi pembuatan IPAL sebagai stimulan untuk melihat bagaimana perkembangannya. “Kalau perkembangannya bagus, nanti kita akan meningkatkan lagi. Selain dari APBD, nanti juga akan mencoba untuk bekerjasama dengan perusahaan dari anggaran CSR yang bisa untuk meningkatkan kegiatan yang lebih banyak lagi,” pungkasnya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Loram Expo 2015 Siapkan 120 Stan UMKM

Duta Wisata Loram Kulon yang turut hadir di Loram Expo juga membantu memperkenalkan potensi daerahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Duta Wisata Loram Kulon yang turut hadir di Loram Expo juga membantu memperkenalkan potensi daerahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sedikitnya 120 stan usaha mikro kecil menengah (UMKM) akan disedikan panita Loram Expo 2015. Pameran usaha kecil yang digelar di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, juga sekaligus untuk menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H.

Panitia Loram Expo Anis Aminuddin mengutarakan, untuk stan yang tersedia kurang lebih ada 120 tempat. Dan itupun harus mengacu pada kegiatan sebelumnya. Untuk sementara ini pendaftar sudah ada sekitar 60 pelaku UMKM. Baik dari Desa Loram ini maupun luar daerah. Dengan adanya pameran UMKM ini tentunya untuk meningkatkan kemajuan bagi pelaku usaha kecil.

”Untuk stan, nantinya kami bagi menjadi tiga tempat. Yakni Gedung Muslimat NU Loram Kulon, halaman Balai Desa Loram Kulom, dan sebelah utara Balai Desa Loram Kulon,” paparnya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, acara tesebut digelar satu pekan sebelum acara maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Kamis (24/12/2015).

”Acara ini dimulai tanggal 18 hingga 24 Desember 2015. Selain itu, untuk administrasi stan kami kenakan ada tiga kelas. Yakni yakni kelas I yang  berada dalam gedung Muslimat dikenakan Rp 250 ribu/pekan, kelas II yang berada di halaman balai desa Rp 150 ribu/pekan, serta kelas III yang ada disebelah utara balai desa Rp 125 ribu/pekan,” ujarnya.

Dia menambahkan, dari ke 120 stan yang disiapkan nantinya ada lima stan khusus yang berada di  gedung Muslimat yang diperuntukan untuk pelaku UMKM baru. Lima stan tersebut pun tanpa dipungut biaya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)