Malam Ini, FASBuK Bakal Dimeriahkan Musikalisasi Puisi Cempaka Putih

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) kembali digelar. Pada edisi Februari 2018 akan ditampilkan pertunjukan musik, puisi dan diskusi “Cempaka Putih” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Bae, Selasa (20/2/2018).

Acara yang menampilkan kelompok musik Cempaka Putih itu akan digelar mulai pukul 19.30 WIB. Dalam event tersebut, kelompok beranggotakan lima musisi muda itu akan membawakan musikalisasi puisi, yang dicipta oleh personel-personel mereka sendiri.

Ketua Badan Pekerja FaSBuk Arifin AM melalui siaran Persnya mengatakan, sebelum fokus bermusik sastra, Cempaka Putih terlebih dahulu memainkan musik dalam berbagai genre. Seperti Pop, Bossa Nova, Jazz dan rebana.

Nama Cempaka Putih sendiri‎ sendiri diambil dari makna bunga cempaka atau kantil. “Diartikan sebagai tali rasa sebuah kasih sayang secara mendalam tiada terputus. Hal tersebut terkait langsung dengan jiwa spiritual para personil yang kuat dalam meraih sebuah kesuksesan secara lahir batin,” ujarnya.

Selain pertunjukan, nantinya akan ada dialog interaktif terkait proses aktif yang dilakukan oleh grup Cempaka Putih.

FaSBuk sendiri rutin menggelar acara sastra dan seni budaya yang meliputi, sarasehan, pertunjukan musik, tari dan pementasan drama dan teater.

Editor: Supriyadi

SMA Islam Sultan Agung 2 Jepara Juarai Ajang LFC 2018

MuriaNewsCom, Kudus – SMA Islam Sultan Agung 2 Jepara rengkuh juara pertama pada ajang Law Futsal Competition 2018 yang didukung Sukun Spirit of Sport, Minggu (4/2/2018). Gelar itu diraih setelah tim tersebut menumbangkan SMKN 3 Jepara dengan skor 3-2.

Perjuangan Sula, julukan SMA Islam Sultan Agung, tidak mudah. Pada babak final, tim asuhan Fahmi Arif itu sempat tertinggal terlebih dahulu 0-1. Babak pertama, permainan Sula lebih banyak didikte SMKN 3 Jepara.

Ketika babak kedua dimulai, terjadi perubahan pola permainan. Sula lebih bisa mengimbangi permainan lawan. Gol balasan tercipta, dan menyeimbangkan kedudukan 1-1.

Tak mau kalah, SMKN 3 Jepara kemudian membalas. Skor pun saling kejar. Hingga akhirnya, determinasi dan kesabaran anak-anak Sula berbuah manis, mereka mengoleksi 3 gol. Sementara lawannya hanya dua.

“Memang tadi kita tertinggal terlebih dulu di babak awal. Lalu saya instruksikan anak-anak bermain lebih sabar, hingga dapat membalikkan keadaan. Alhamdulilah, kemenangan ini bekal kami untuk terus berlatih untuk pertandingan selanjutnya,” ungkap pelatih sekaligus guru di SMA Sula 2 Fahmi Arif, ditemui setelah acara di United Futsal Stadium.

Sementara itu, official SMKN 3 Jepara Ahmad Ainun Najib mengaku tak mempermasalahkan hasil tersebut. Ia mengaku raihan yang dicapai sudah melebihi ekspetaksi.

“Kami datang hanya bersembilan, pelatih kami tak bisa hadir, sedangkan guru olahraga kami sedang tugas di Solo. Kami berangkat dengan modal sendiri. Tidak ada rasa kecewa. Nanti kami akan perbanyak latihan dan masih banyak event futsal lain,” tuturnya.

Meskipun kalah, namun pemain-pemain SMKN 3 Jepara meraih banyak titel yakni gelar Top Scorer dan Best Player. Mereka adalah Muhammad Aan dan Deva yang didapuk sebagai pencetak gol terbanyak. Sedangkan Varrol diganjar titel Best Player.

Sementara itu dari pinggir lapangan, Battle Supporter juga berlangsung. Empat pendukung dari SMAN Nalumsari Jepara, SMKN 1 Kalinyamatan-Jepara, SMAN 1 Welahan dan SMA Muhammadiyah Kudus meramaikan tribun penonton.

Loyalitas, kreatifitas dan semangat suporter dalam mendukung tim menjadi salah satu unsur penilaian. Dari empat tim suporter, panitia akhirnya menilai pendukung dari SMA Muhammadiyah Kudus menjadi juara. Sedangkan Suporter SMAN Nalumsari di tempat kedua.

Wakil Ketua Panitia Muhammad Dicha mengatakan, masing-masing pemenang di kategorinya diganjar hadiah berupa uang tunai. Khusus untuk juara futsal, juga menerima trophy.

Untuk Top Scorer meraih masing-masing Rp 250.000, sama dengan nominal yang diraih Best Player. Sementara, juara tiga bersama yang diraih oleh SMA Wisuda Karya dan SMAN 1 Jepara diganjar uang Rp 750.000, masing-masing.

Juara dua LFC yang diraih SMKN 3 Jepara mendapatkan Rp 1,5 Juta. Sementara juara satu diberi hadiah uang Rp 2,5 juta. Adapun, untuk lomba suporter SMAN 1 Nalumsari dapat Rp 500.000 dan SMK Muhamadiyah 1 mendapatkan Rp 1 juta.

“Kedepan harapannya lebih baik. Ini ajang pertama kami, tahun depan kami rencanakan akan digelar lagi,” pungkasnya.

Editor : Supriyadi

Ini Jadwal Pertandingan LFC 2018, Babak 16 Besar

MuriaNewsCom, Kudus – Law Futsal Competition (LFC) 2018 memasuki babak 16 besar, Minggu (4/2/2016). Berikut tim-tim yang akan bertarung demi memperebutkan hadiah total Rp 8 juta rupiah.

Bertempat di United Futsal Stadium Kudus, babak 16 besar akan dimulai dengan pertandingan derby se-kota antara SMA 1 Welahan vs SMA Sultan Agung Jepara, pada pukul 10.00 WIB. Di lapangan B adapula pertandingan antara SMKN 3 Jepara kontra SMA Nalumsari.

Pertandingan selanjutnya, mempertemukan dua tim dari Kudus yakni, SMK Muhammadiyah (A) dan SMK Muhammadiyah (B). Kemudian SMA 1 Jepara bertemu dengan SMK Assaidiyah Kudus. Serta SMA 1 Kudus melawan SMK 1 Kalinyamatan Jepara.

Pertandingan lain ada SMA 1 Bangsri Jepara yang akan melawan SMK Islam Jepara. Dilanjutkan SMA Al Ma’ruf Kudus vs SMK Taman Siswa Kudus. Terakhir ada pertandingan SMK Wisuda Karya melawan SMK Maarif Kudus.

“Selain di dalam lapangan pertandingan yang dibagi dua yakni A dan B, kami memperkirakan Battle suporter pun semakin ramai,” ujar Ketua Penyelenggara LFC 2018 Muhammad Ridwan.

Editor : Ali Muntoha

BEM Fakultas Hukum UMK Gelar Law Futsal Competition 2018

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum UMK akan menggelar ajang Law Futsal Competition (LFC) 2018. Acara yang akan dihelat di United Futsal Stadium dan didukung I Love Futsal ini, berlangsung dari Sabtu-Minggu (3-4/2/2018).

Muhammad Ridwan Ketua pelaksana turnamen LFC 2018 mengungkapkan, peserta ajang ini berasal dari siswa SMA dan SMK yang ada di seluruh Jateng. Adapun, hadiah total yang diperebutkan adalah senilai Rp 8.000.000.

“Acara ini bertujuan merekatkan persaudaraan antar siswa SMA/SMK dan juga mengenakan fakultas hukum Universitas Muria Kudus kepada khalayak umum,” ujarnya, Rabu (1/2/2018).

Dirinya mengatakan, ajang LFC 2018 merupakan ajang perdana yang digelar oleh BEM Fakultas Hukum UMK. Acara ini dibarengkan dengan event tahunan Law Fair yang diadakan setiap tahun.

Ridwan berkata, ajang LFC 2018 merupakan kegiatan tambahan kegiatan Law Fair. Rencananya, kegiatan futsal ini akan rutin diadakan setiap tahunnya.

“Hingga saat ini sudah ada 35 tim dari SMA/SMK yang ada di eks karisidenan Pati ditambah Demak yang ikut serta. Pesertanya ada yang dari Jepara, Kudus, Grobogan, dan Grobogan yang ikut serta, kecuali tim dari Kabupaten Pati yang absen, karena berbarengan dengan ajang serupa,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Hebat! Shinta dan Drupadi Pukau Puluhan Penonton FASBuK

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) yang di dukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus dan MuriaNewsCom berhasil menyedot perhatian penonton, Senin (29/1/2018) malam.

Pertunjukan Teater Bledog dari STIKes Muhammadiyah Kudus dengan lakon Shinta karya Aslam Mufit dan Monolog “Drupadi” oleh Laila Alfiyah berhasil menghipnotis penonton di Auditorium Universitas Muria Kudus.

Ketua Badan Pekerja FASBuK, Arfin AM mengatakan, kedua pertunjukan tersebut adalah pertunjukan teater dengan naskah yang terinspirasi oleh kisah Ramayana. Naskah Shinta karya Aslam Mufit ini mengangkat sosok perempuan yang senantiasa melindungi kesetiaan dan janji suci atas cintanya.

”Sedangkan pertunjukan monolog Drupadi akan menceritakan sosok perempuan yang tangguh dalam menjalani suratan takdir,” katanya.

Sementara, sang sutradara Laila Alfiyah seolah ingin menyampaikan tentang dua sosok tokoh perempuan dari cerita yang berbeda namun memiliki satu kesamaan. Yakni sebuah tekad yang kuat untuk dijunjung tinggi dan diperjuangkan.

Apiknya, konsep ide pertunjukan yang dibangun juga disesuaikan dengan kondisi jaman pada saat sekarang ini. Praktis pertunjukan berhasil dinikmati dan terlihat hidup.

”Itu terlihat dari antusiasme penonton. Mereka seolah-olah ikut dalam pertunjukan,” tegasnya.

Selain itu, diskusi seputar pertunjukan serta proses penciptaan usai penampilan juga begitu hangat. Para seniman yang pentas juga terlihat begitu terbuka. Terutama dalam hal kritik yang dianggap sangat membangun.

Editor: Supriyadi

Seluruh Perusahaan di Jateng Dianggap Sanggup Bayar UMK 2018

Pendemo membentangkan spanduk aspirasi tentang UMK 2018 di depan Gedung DPRD Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Semarang – Seluruh perusahaan di Jawa Tengah dipastikan sanggup membayar pegawainya dengan ketentuan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) 2018 yang telah ditetapkan. Pasalnya, hingga batas akhir penangguhan UMK yang berlaku mulai 1 Januari 2018 tersebut.

Batas akhgir pengajuan penangguhan UMK 2018 yakni 21 Desember 2017. Namun hingga batas akhir itu, tak ada satupun perusahaan yang mengajukan penangguhan atau keberatan ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah.

Kepala Disnakertrans Jateng, Wika Bintang mengatakan, dengan tak ada perusahaan yang mengajukan penangguhan, semua perusahaan wajib memberlakukan ketentuan upah tersebut.

“Artinya setiap perusahaan wajib membayar minimal sesuai UMK 2018 mulai Januari mendatang,” katanya.

Ia menyebut, pihaknya akan melakukan pengawasan pemberlakukan UMK itu. Jika kedapatan ada perusahaan yang tak membayar pegawai sesuai ketentuan, maka pihaknya akan melakukan tindakan tegas. “Jangan sampai ada teguran apalagi sampai ada sanksi,” ujarnya.

Wika juga mengimbau bagi seluruh perusahaan untuk melaksanakan pemberian upah berdasar Struktur Skala Upah. Sebab sesuai perundangan, aturan itu sudah harus berlaku sejak Oktober 2017 lalu. “Ini sifatnya wajib,” tegasnya.

Pihaknya juga meminta peran serta masyarakat untuk melakukan pengawasan. Jika menemukan perusahaan yang tak mematuhi ketentuan UMK, diimbau untuk melapor ke Dinas Tenga Kerja di masing-masing kabupaten/kota atau Disnakertrans Jateng.

“Jika ditemukan pelanggaran, baik terhadap tidak diterapkannya nominal UMK dan tidak dibuatnya Struktur Sekala Upah, laporkan saja,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Teater Minatani Pati Pentaskan Karyanya di UMK Malam Ini

Sejumlah pemain dalam lakon Widji, teater Minatani Pati tampil begitu ekspresif saat memanggungkannya di Gedung Juang Pati beberapa waktu lalu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Setelah mementaskan karyanya di Pati, Teater Minatani kini melirik Kota Kudus sebagai tempat pementasannya yang kedua. Pentas dengan lakon “Widji” ini bakal digelar di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) pada Sabtu (9/12/2017) malam ini.

Lakon yang dibawakan itu sendiri merupakan hasil dari adaptasi naskah berjudul Buried Child yang ditulis pada tahun 1979 oleh Sam Shepard penulis terkemuka Amerika. Naskah itu kemudian diterjemahkan oleh Lacahya dan kemudian diadaptasi kembali.

Kata “Widji” yang berarti biji itu sendiri menjadi gagasan pokok dalam pertunjukan teater yang bakal dibawakan. Sutradara pertunjukan, Beni Dewa, mengatakan, lakon Widji merupakan gambaran kondisi masyarakat dalam skala kecil yakni keluarga, imbas dari perubahan sosial masyarakat agraris menjadi industri.

“Dalam membawakan naskah ini memang ada sejumlah tantangan. Apalagi dalam balutan pertunjukan realis, Sam Shepard dikenal sangat kental dengan nuansa absurditas,”ujarnya. 

Tak hanya itu, dalam naskah yang dibawakan dalam pertunjukan yang didukung oleh Djarum Foundation tersebut juga memiliki ciri yang kuat. Yakni konflik yang ada pada kekuatan kata-kata bukan sekadar pada pengadeganan.

“Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi kami bagaimana membawakan pementasan ini agar pesannya dapat tersampaikan,”ujarnya.

Diharapkan dengan adanya pementasan itu bisa turut menjadi pilihan baru dalam pewarnaan panggung teater Kudus. Sehingga gaya penggarapan teater dapat semakin ramai dan kaya.

“Silahkan hadir di Auditorium UMK untuk menyaksikan pementasan tersebut,”ujarnya.

Editor : Supriyadi

Sosialisasikan UMK 2018, Pemkab Kudus Buka Posko Pengaduan

Buruh melakukan aksi di depan kantor Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Kudus sebesar Rp 1.892.500 untuk tahun 2018 terus disosialisasikan kepada para pengusaha. Hal itu dilakukan supaya buruh di Kota Kretek bisa mendapatkan upah sesuai dengan keputusan bersama.

Dalam sosialisasi tersebut, Pemkab juga membuka posko pengaduan buruh yang tak digaji sesuai dengan ketentuan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UMKM Bambang TW mengatakan, sebenarnya posko aduan yang berjalan sudah berlangsung lama. Tempatnya di kantor Dinas Tenaga Kerja Koperasi dan UMKM.

“Bagi yang dirugikan perusahaan atau ada yang tidak diberikan haknya bisa langsung datang ke kantor. Akan kami bantu,” katanya kepada MuriaNewsCom

Untuk keamanan, lanjutnya, ia menjamin semua akan baik-baik saja. Karena itu, ia meminta buruh di Kudus tak perlu takut untuk melapor. Ia pun berjanji akan membantu hingga hak yang seharusnya didapat bisa diberikan secara penuh.

”Kadang ada yang khawatir dipecat. Kami pastikan itu tak akan terjadi. Identitas buruh akan kami jaga,” ungkapnya.

Di sisi lain, UMK Kudus memang sudah diputuskan Gubernur Jateng sesuai dengan usulan. Sehingga, Pemkab Kudus tinggal menindaklanjuti ke semua perusahaan dan mengawasinya.

“Sosialisasi sudah kami lakukan untuk perusahaan di Kudus, 29 Nopember lalu. Kami juga sudah memberikan surat kepada semua perusahaan di Kudus untuk membayar tenaga kerja sesuai dengan UMK 2018 nanti,” ujarnya

Dalam sosialisasi waktu itu, kata Bambang, perusahaan yang hadir adalah perwakilan perusahaan atau sejumlah 115 perusahaan. Meliputi perusahaan kecil, menengah dan besar. Selain perusahaan, sosialisasi juga diberikan kepada apindo, serikat pekerja, dewan pengupahan serta OPD.

Disebutkan, jumlah perusahaan di Kudus mencapai 798 perusahaan. Jumlah tersebut merupakan jumlah perusahaan yang terdata di Dinas Tenaga Kerja.

Editor: Supriyadi

Keberatan UMK 2018, Perusahaan di Jepara Dipersilahkan Ajukan Penangguhan

Buruh tengah menggelar unjuk rasa menuntut upah layak. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jepara tahun 2018 telah disepakati sebesar Rp 1.739.360 sejak 20 November 2017. Meski begitu, pemerintah kabupaten tetap membuka kemungkinan perusahaan yang hendak mengajukan penangguhan pemberlakuan upah tersebut. 

Edy Wijayanto Kepala Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Koperasi UMKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara mengungkapkan, penangguhan diberi tenggat hingga pertengahan bulan Desember 2017. Namun, setelah sepekan digedok, belum ada satupun perusahaan yang mengajukan hal tersebut. 

“Terkait peluang penangguhan UMK 2018 kepada perusahaan yang keberatan diberi tenggat pengajuan hingga 21 Desember 2017. Adapun, terkait besaran UMK tahun depan, telah kami sosialisasikan kepada perusahaan kemarin,” terang Edy, Rabu (30/11/2017). 

Ia menuturkan, hingga akhir November belum ada perusahaan yang mengajukan penangguhan. Adapun, sosialisasi terkait besaran UMK 2018 Jepara yang telah disetujui Gubernur Jateng, diikuti 80 perusahaan yang ada di Bumi Kartini. 

Menurutnya, besaran upah tahun depan merupakan kesepakatan dari Dewan Pengupahan. Didalamnya terdapat juga komponen dari pengusaha maupun serikat pekerja yang ada di Jepara. Dalam penentuannya dewan tersebut menggunakan PP 78 tahun 2015. 

Edy menuturkan, selain menyosialisasikan terkait besaran UMK Jepara 2018 pihaknya juga membeberkan ihwal struktur dan skala upah kepada perusahaan. Menurutnya, sesuai dengan peraturan, perusahaan wajib menerapkan penjejangan upah, sesuai dengan durasi kerja, jabatan dan latar belakang pendidikan. 

Editor: Supriyadi

Fathir dan Samuel Juarai Olimpiade Matematika dan IPA di UMK

Para juara olimpiade IPA dan Matematika berfoto bareng bersama panitia olimpiade, Sabtu (25/11/2017). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 163 siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) sederajat mengikuti olimpiade Matematika dan IPA yang digelar Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD), Fakultas Kegururan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (25/11/2017).

Keluar sebagai juara olimpiade bidang matematika yaitu Ahmad Boutros Fathir (SD Unggulan Terpadu Bumi Kartini Jepara). Di susul Steven Darren Wijaya wakil SD Cahaya Nur Kudus di peringkat kedua dan Dimas Arjuna Septhiyan Zivana (SDII Al Abidin Surakarta) di peringkat ketiga.

Sementara para pemenang di bidang IPA, Juara berhasil disabet Samuel Alexander Surya (SD Masehi Kudus), Juara II Michelle Keisha Natthaya (SD 2 Kanisius Pati), serta Juara III diraih oleh Uways Abdul Hamid (MI Ta’mirul Islam Surakarta).

Ahmad Boutros Fathir, selaku juara Olimpiade Matematika menyatakan perasaan bahagia. ”Saya sangat senang sekali telah mendapatkan juara I, terima kasih kepada guru Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan motivasi pada saya,” kata siswa yang memiliki hobi sepak bola yang beralamat di Demaan, Gang Sumur Towo Jepara.

Begitu juga dengan Samuel Alexander Surya, siswa SD Masehi Kudus yang memperoleh juara I olimpiade IPA itu juga sangat senang. Pria yang bercita-cita jadi dokter bedah itu puas dengan hasil yang diperoleh.

Guru pembimbing  Samuel, Aqnes Ikawati yang turut mendampingi lomba berharap kegiatan positif ini terus diadakan. Ini mengingat kegiatan ini sangat bermanfaat sekali untuk siswa, dan meningkatkan prestasi dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Sementara itu, ketua panitia Sekar Dwi Ardianti menambahkan, tujuan acara ini selain memberikan pengalaman dalam olimpide dan mencetak bibit unggul generasi bangsa, juga ajang saling sharing, silaturakhim guru antar sekolah, yang kebetulan pelaksanaan dilaksanaan pada hari Guru, 25 November.

”Kegiatan Olimpiade tahun ini merupakan kegiatan olimpiade pada tahun ketiga.  Alhamdulillah respon peserta dari luar kota banyak sekali, ada dari Kudus, Jepara, Pati, Grobogan, Demak, Surakarta dan sebagainya,” tandas Sekar.

Editor: Supriyadi

Besaran UMK Grobogan Tahun 2018 Diusulkan Naik Rp 125 Ribu

Pekerja melakukan perbaikan di Alun-alun Grobogan. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Grobogan – Usulan besaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Grobogan tahun 2018 ternyata ada kepastian. Hal itu disampaikan Kepala Disnakertrans Grobogan Nurwanto, Senin (20/11/2017).

“Surat usulan besaran UMK 2018 sudah kita serahkan pada bupati. Setelah dikaji segera dikirimkan ke Gubernur Jateng untuk dimintakan persetujuan,” ungkapnya.

Menurut Nurwanto, besaran UMK yang diusulkan ke Gubernur nilainya Rp 1.560.000. Angka ini dinilai sudah sesuai dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang akan tercapai pada 2018 dan 2020.

Usulan UMK tahun 2018 naik sedikit dibandingkan tahun 2017 yang besarnya Rp 1.435.000. Jika usulan ke Gubernur disetujui maka ada kenaikan UMK sekitar Rp 125 ribu. Pembahasan besaran UMK 2018 dilakukan Dewan Pengupahan Grobogan (DPG) sejak beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Grobogan Edy Joko Susilo menambahkan, penentuan besarnya UMK dilakukan dengan mempertimbangkan banyak faktor. Selain itu, penentuan UMK juga harus disesuaikan dengan PP No 78 tahun 2015 tentang pengupahan.

“Besaran UMK Kabupaten Grobogan tahun 2018 diusulkan Rp 1.560.000. Dalam masalah penentuan besaran UMK ini, Apindo ikut terlibat karena menjadi bagian dari Dewan Pengupahan. Untuk pastinya nanti nunggu persetujuan gubernur,” kata Joko.

Editor : Akrom Hazami

Pemkab Kudus Usulkan UMK 2018 Sebesar Rp 1,892,500 ke Gubernur

Puluhan buruh melakukan aksi tolak upah murah di depan kantor Pemkab Kudus saat peringatan Hari Buruh, Senin (1/5/2017) lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mengusulkan besaran Upah Minimum Kabupaten (UMK) tahun 2018 sebesar Rp 1,892,500. Nominal tersebut, saat ini sudah diusulkan kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk diproses.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UMKM Bambang TW mengatakan, UMK yang diusulkan mengalami kenaikan sebesar 8,71 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

“Penentuan usulan UMK 2018 sudah menyesuaikan Peraturan Pemerintah nomor 78/2015 tentang Pengupahan. Di mana dalam pengusulannya itu, juga mempertimbangkan upah lama, pertumbuhan ekonomi nasional, serta tingkat inflasi,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (14/11/2017).

Menurut dia, nominal tersebut sudah sampai di Gubernur Jateng beberapa waktu lalu. Saat ini, Pemkab Kudus tinggal menunggu evaluasi gubernur tentang UMK yang diusulkan.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini bisa keluar. Untuk segera kami sosialisasikan kepada para pengusaha di Kudus,” harapnya.

Dikatakan, usulan UMK yang diusulkan tersebut sudah diterima oleh dewan pengupahan. Buktinya, dari dewan pengupahan sudah menandatangani usulan tersebut sebelum dikirim ke Gubernur. Karena itu, ia berharap tak ada kendala.

“Semua pihak sudah sepakat, jadi bisa diusulkan kepada provinsi. Mudah-mudahan sesuai dengan keinginan semua pihak,” tegasnya.

Editor: Supriyadi

Sosialisasikan Pilkada, KPU Kudus Gelar Lomba Stand Up Comedy

MuriaNewsCom, Kudus – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus kembali melakukan trobosan baru untuk menyosialisasikan Pilkada. Terobosan tersebut berupa lomba stand up comedy yang akan digelar di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (29/11/2017) mendatang.

Eni Misdayani Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat KPU Kudus mengatakan, lomba yang digelar dengan kerjasama dengan PWI Kudus, UMK, dan MuriaNewsCom ini memiliki beberapa tema. Hanya saja, tema yang dipilih berkaitan dengan Pilkada.

“Ada lima tema yang bisa dipilih para peserta. Lima tema tersebut adalah demokrasi, pemilih cerdas, pemilih rasional, tolak golput, dan tolak money pilitik,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hanya saja, untuk peserta yang bisa berpartisipasi dibatasi untuk warga Kudus. Hal ini ditunjukkan dengan melampirkan salinan E-KTP atau Surat Keterangan (Suket) dari Disdukcapil Kudus.

”Untuk pendaftarannya dilakukan melalui aplikasi WhatsApp. Caranya dengan mengetik Nama Lengkap#TTL#Nomor Telepon, kemudian dikirim ke nomor 081232537998. Pendaftaran dibuka hingga Senin (27/11/2017) mendatang,” tegasnya.

Selain itu, dalam pendaftaran panitia juga tak memungut biaya pendaftaran sedikitpun kepada peserta. Malahan, hadiah jutaan rupiah disiapkan untuk para pemenangnya.

”Untuk hadiahnya total ada uang tunai Rp 4 juta. Rinciannya juara I dapat Rp 1,5 juta, juara Rp II Rp 1 juta, juara III Rp 750 ribu, harapan I Rp 500 ribu, dan harapan II dapat 250 ribu,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Buruh Jepara Tuntut UMK 2018 Rp 2,4 Juta

Ratusan buruh menggelar aksi di depan kantor Bupati Jepara, Senin (30/10/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ratusan buruh yang tergabung dalam serikat buruh berdemo di depan Kantor Bupati Jepara, Senin (30/10/2017). Mereka menuntut Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jepara 2018 Rp 2.400.000.

Jumlah tersebut, diklaim berdasarkan survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) 2018 oleh serikat buruh, yakni sebesar Rp 2.425.432. Besaran tersebut juga sudah disampaikan serikat buruh saat pertemuan dengan bupati.

“Kami ingin UMK berdasarkan survey KHL, yakni sebesar Rp 2,4 juta. Bukan PP 78 tahun 2015. Masih ada waktu satu tahun untuk menetapkan UMK sesuai PP 78. Sementara untuk saat ini harus sesuai KHL,” ucap seorang orator. 

Baca: Tolak Penetapan UMK Berdasarkan PP 78, Buruh Jepara Demo di Depan Kantor Bupati

Di sisi lain, Sutarno, seorang pekerja dari PT Parkland World Indonesia mengaku, selama ini buruh menerima upah sebesar Rp 1.600.000. Dengan besaran tersebut, ia mengaku masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

“Untuk kontrakan sebulan saja Rp 500.000, belum lagi untuk yang lain-lain,” katanya yang bekerja sebagai pengawas gudang. 

Ia menuntut, pemberian UMK bagi buruh minimum adalah Rp 2.400.000. Ditanya tentang fasilitas jaminan kesehatan, keselamatan kerja dan THR, ia mengaku sudah mendapatkannya. Adapun sebagai pengawas, ia digaji sebesar Rp 2.600.000 per bulan. 

Hal serupa dikatakan oleh Sila Santika, buruh di PT Sami Yazaki. Menurutnya selama tiga bulan bekerja di pabrik tersebut ia hanya mendapatkan upah sebesar Rp 1.600.000.

“Yang kami tuntut keadilan, kalau bisa gajinya Rp 2.3 juta,” ujarnya.

Demonstrasi tersebut diikuti oleh pekerja dari Sami Yazaki dan Parkland World Indonesia. Mereka  dari PT Parkland yang berdemo kebanyakan masuk pada shift malam, sementara dari PT Sami, saat ini tengah ada kegiatan family gathering. 

Di sisi lain, Pemkab Jepara melalui Dewan Pengupahan memakai skema PP 78/2015. Dalam komponen tersebut, tidak disertakan besaran survei KHL. Jika menggunakan skema tersebut, maka besaran UMK 2018 adalah sebesar 1.739.360. Angka tersebut naik Rp 139.360, dari UMK sebelumnya Rp 1.600.000. 

Editor: Supriyadi

Pembahasan UMK Jepara Masih Menunggu Data Inflasi 

Sejumlah pekerja menyelesaikan pekerjaannya di salah satu pabrik di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Pembahasan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jepara untuk tahun 2018 masih menunggu data terkait pertumbuhan ekonomi dan inflasi resmi dari Pemprov Jawa Tengah.

Selain itu, karena anggota Dewan Pengupahan (Apindo, Serikat Pekerja) banyak yang pensiun, maka pihaknya harus melakukan pengusulan kepada bupati terlebih dahulu. 

“Senin (23/10/2017) kami akan mengajugak daftar nama baru pengisi Dewan Pengupahan Jepara kepada bupati, untuk segera disahkan,” kata Edy Wijayanto Kabid Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Koperasi, UMKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jumat (20/10/2017) siang. 

Dengan demikian, pembahasan terkait besaran UMK 2018 dimungkian terjadi pada awal bulan November. Meskipun mengaku tenggat waktunya terlalu mepet, namun hal itu tidak menjadi persoalan karena mekanisme yang digunakan adalah sesuai dengan PP 78/2015. 

Ia berharap, penetapan angka UMK 2018 bisa disetujui oleh pihak-pihak yang berkait, sehingga bisa segera diajukan ke meja Gubernur Jateng. 

Perlu diketahui besaran UMK Jepara pada tahun 2017 adalah sebesar Rp 1.600.000 dari sebelumnya Rp 1.350.000. Dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah Jepara mengalami kenaikan upah tertinggi dari tahun sebelumnya yakni  sekitar 18 persen. 

Dengan menerapkan skema pengupahan berdasarkan PP 78/2015 maka kenaikan upah buruh satu di antaranya dipengaruhi oleh nilai inflasi dan pertumbuhan produk domestik bruto. 

Editor: Supriyadi

Dosen PGSD UMK Pamerkan Alat Peraga Edukatif untuk Siswa SD

Sejumlah siswa mencoba menggunakan alat peraga buatan Tim Dosen PGSD Universitas Muria Kudus. (Dok.UMK)

MuriaNewsCom, Kudus – Tim Dosen PGSD Universitas Muria Kudus membuat bermacam usaha produksi Alat Peraga Edukatif Sekolah Dasar (APE SD) yang dipamerkan dalam acara Pameran Media dan Talkshow Inspirasi di SD 3 Hadipolo Kudus, Kamis (5/10/2017).

Kegiatan Talkshow inspirasi bertajuk “Berani Bermimpi dan Kejarlah” tersebut menghadirkan tiga narasumber yaitu Eka Zuliana (Peneliti dan Dosen UMK), Bripda Marlita Fitria (Polisi Wanita, Polres Kudus), dan Yoga Yuni Mukhlis (Enginnering dan Teknisi Produksi).

Dalam Talkshow tersebut, Bripda Marlita Fitria selau Polisi Wanita, Polres Kudus menekankan pentingnya memiliki cita-cita. ”Untuk menggapai cita-cita kita harus bekerja keras, terus belajar, dan harus disiplin,” katanya dalam rilis yang dikirim ke MuriaNewsCom.

Pernyataan Bripda Marlita juga diamini Yoga Yuni Mukhlis. Ia bahkan memberikan beberapa tips untuk sukses mengejar cita-cita yang ingin digapai.

”Kalau pengen sukses kita harus selalu berusaha, kerja keras, dan tekun beribadah,” paparnya dihadapan banyak peserta.

Sementara itu, Eka Zuliana menyampaikan Talkshow dengan materi tentang pentingnya memiliki cita-cita agar sukses. Saat menyampaikan materi Eka menggunakan bermacam alat peraga seperti Cubbercraf si Unyil dengan sangat menarik.

Peserta yang berjumlah ratusan siswa itu tampak antusias dan tertarik dengan cerita inspirasi kesuksesan dan motivasi dengan bantuan alat peraga pendidikan.

Produk alat peraga pendidikan tersebut merupakan hasil produksi dari Unit usaha Alat peraga Pendidikan PGSD UMK. Unit usaha yang diketuai oleh Eka Zuliana ini merupakan hasil dari pelaksanaan Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) yang sangat dibutuhkan para siswa, guru, khususnya guru Sekolah Dasar.

Produk yang dibuat oleh unit usaha itu ada sepuluh produk kreatif dan inovatif. Pertama Diorama Simulasi Pemilu, Kedua Buku Dongeng Asal Usul Batik Bakaran Pati, Ketiga Boneka Tangan Asal Usul Batik Bakaran Pati Jawa Tengan, Marionette tangram, Cubeecraft si Unyil, Monopoli Engklek, Siputmatika (Simetri Putar Matematika), Puzzle Peta Tematik Budaya Jawa Tengah, Alat Peraga Edukatif (APE) Rangka Manusia, APE Gerhana, dan  Diorama Lalu Lintas.

”Alat peraga edukatif Sekolah Dasar yang kami buat dan kami produksi ini dapat bermanfaat dan berperan dalam membantu siswa mengkonstruks sendiri konsep yang dipelajari sehingga menumbuhkan rasa senang dan minat dalam belajar,” tutur Eka Zuliana dengan ramah.

Editor: Supriyadi

Bupati Kudus Motivasi Mahasiswa Pertanian UMK

Bupati Kudus Musthofa memberi motivasi mahasiswa pertanian di Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (22/9/2017).

MuriaNewsCom, Kudus – Kedaulatan pangan adalah hidup-matinya bangsa. Jika tidak terpenuhi bisa terjadi malapetaka. Untuk itu perlu upaya maksimal untuk mewujudkannya demi tercapainya ketahanan pangan. 

Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Kudus Musthofa memberi motivasi mahasiswa pertanian di Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (22/9/2017). Bupati mengutip pernyataan Presiden Soekarno mengenai pentingnya kedaulatan pangan bagi sebuah bangsa.

Melihat adanya tantangan mengenai pengembangan pertanian, Bupati meminta mahasiswa UMK tidak hanya belajar secara normatif. Namun harus bisa berinovasi mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

“Silakan para mahasiswa datang ke Dinas Pertanian dan Pangan Kudus. Penandatangan MoU ini sebagai wujud kebersamaan pemerintah dan civitas akademika memajukan pertanian,” tegas Bupati yang baru saja meneken MoU kerjasama dengan Rektor UMK ini.

Pemkab Kudus pun telah berupaya untuk mengoptimalkan lahan pertanian yang ada. Salah satunya dengan membangun infrastruktur berupa bendungan Logung. Target rampung di 2018 bisa memberikan manfaat secara maksimal bagi para petani.

“Termasuk adanya kemajuan teknologi adalah hal yang tidak bisa dihindari. Untuk itu mahasiswa bersama para penyuluh diminta menjadi pelopor penerapan teknologi ini,” imbuhnya pada acara yang dihadiri penyuluh pertanian dari wilayah pantura timur ini.

Upaya lain Pemkab yakni dengan pengaturan musim tanam, penyusunan RDKK pupuk bersubsidi, serta adanya coverage asuransi bagi petani. Tentunya ini butuh kebersamaan bersama para petani, penyuluh, dan peran mahasiswa.

Acara ini juga dihadiri Rektor UMK Dr. Suparnyo serta dua pembicara lain. Yakni Prof. Dr. Darsono dari UNS serta Warsana dari Ketua DPW Perhitani Jateng.. Juga dirangkai dengan agro expo yang menyajikan berbagai produk unggulan pertanian.

Rektor mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menggali dan memperkenalkan produk pertanian lokal. Khususnya di kawasan pegunungan Muria. Agar siap menghadapi persaingan pasar bebas.

Editor: Supriyadi

Santri TBS Senang Pentaskan Puisi Kedamaian dalam Acara FASBuK

Anggota Teater Oncor perpoto bersama sebelum pentas. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah santri Madrasah Aliyah TBS, yang tergabung dalam Teater Oncor sangat senang mendapat kesempatan mementaskan puisi bertema perdamaian. Mereka bertambah senang, manakala yang dipentaskan adalah puisi karya pribadi.

Seperti diungkap M Rizal Arifuddin, siswa kelas 10 Madrasah Aliyah TBS. Puisi berjudul indahnya perdamaian sengaja dibuat olehnya untuk pementasan FASBuK di Auditorium UMK Rabu (20/9/2017) malam.

“Puisi ini juga diciptakan untuk mengajak sesama berdamai, sehingga dalam sebuah negara tak ada permusuhan, kekerasan dan tercipta kedamaian,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, belakangan ini santer terdengar kabar adanya kekerasan di Rohingya di Myanmar. Akibat kekerasan tersebut negara menjadi bergejolak dan jauh dari kata damai. Padahal, diakui atau tidak, damai tentu sangat indah.

Seperti kalimat dalam puisi “Damai, indahnya perdamaian, ciptakanlah perdamaian, pasti tenteram hidup ini.

Sementara, panitia pementasan Arfin menyebut, Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus  pertunjukan musik, puisi, dan diskusi dengan menghadirkan tema “Lantunan Kedamaian”.

“Puisi seringkali memuat beberapa pesan dan kesan yang mendalam pada setiap daya tangkap beberapa orang, melalui kata demi kata Sang Penyair akan mengungkapkan segala daya imajinasi kreatif yang ditujukan pada suatu keadaan atau perasaan tertentu,” ujarnya

KrogerFeedback Fuel Points win for free

Bertepatan dengan tanggal 21 September yang merupakan Hari Perdamaian Dunia, para penyair muda ini akan membawakan puisi karya mereka yang sesuai dengan tema bulan ini “Lantunan Kedamaian“ berisi tentang sajak-sajak yang akan memberikan makna luas tentang indahnya persatuan dan kesatuan.

Editor: Supriyadi

Ini Tips Jitu Kapolda Jateng Tangkal Berita Hoax

Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono saat mengisi kuliah umum di UMK, Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kapolda Jateng  Irjen Pol Condro Kirono memberikan tips bagaimana cara menangkal berita hoax. Tips tersebut, lebih ditujukan kepada kaum awam, yang tidak terlalu paham akan kebenaran berita ataukah tidak.

Hal itu disampaikan saat mengisi kuliah umum di Auditorium UMK, Jumat (15/9/2017. Menurut dia, cara ini juga bisa dipakai mahasiswa supaya tak termakan berita hoax.

“Caranya mudah, pertama yaitu dengan melihat konten berita yang dibuat. Jika berita tersebut saat dibaca menimbulkan kebencian. Bisa jadi berita tersebut merupakan berita hoax,” katanya saat mengisi kuliah umum.

Baca Juga: Begini Cara Kapolda Jateng Usir Kemiskinan dari Indonesia

Hal lain yang juga menjadi indikasi adalah adanya berita yang modelnya hujatan. Berita tersebut ditandai dengan editan pada gambar, termasuk merubah gambar orang-orang besar seperti presiden.

Saat menjumpai hal semacam itu, kata dia, baiknya langsung dihapus. Hal itu bisa menyelamatkan pembaca lain agar terhindar dari beredarnya berita hoax. 

“Jangan malah di-share ke grup yang nantinya semua temannya membaca. Kemudian temannya share lagi. Akibatnya beritanya hoax menyebar luas dan memakan banyak korban,” imbuh dia.

Baca Juga: Kapolda Jateng Isi Kuliah Umum di UMK

Karena itu, dia mengajak mahasiswa agar lebih kritis untuk menyikapi adanya berita yang tak benar. Selain dianggap faham informasi, mahasiswa sering melakukan kajian yang bisa dipertanggungjawabkan.

”Nah, dari situ saya yakin mahasiswa bisa memilah. Paling tidak mengecek berita tersebut di media-media yang terdaftar di dewan pers,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Begini Cara Kapolda Jateng Usir Kemiskinan dari Indonesia

Peserta kuliah umum di Auditorium UMK bertanya kepada Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono saat sesi tanya jawab, Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kuliah umum bersama Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono di Auditorium Universitas Muria Kudus berlangsung meriah, Jumat (15/09/2017).

Dalam kuliah umum berdurasi kurang lebih dua jam itu, Kapolda beberapa mendapat pertanyaan tentang sudut pandangnya terkait bangsa Indonesia.

Salah satu pertanyaan dilayangkan Yuni Rahma. Peserta kuliah umum itu menanyakan, Indonesia merupakan negara yang besar, namun kenapa masih sulit berkembang dan menjadi negara kuat.

“Apa yang harus diperbuat jika Indonesia dalam keadaan seperti ini,” tanyanya pada Kapolda Jateng.

Baca Juga: Kapolda Jateng Isi Kuliah Umum di UMK

Mendapat pertanyaan itu Kapolda pun menjawab dengan tegas. Bagi dia, Indonesia menjadi negara yang besar sangatlah mungkin. Itu karena, pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini sangat tinggi.

Hanya, untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi, hal yang perlu dijalankan adalah menumbuhkan jiwa entrepreneur menjadi pengusaha ketimbang menjadi pekerja.

“Cara itu dapat memerangi kemiskinan. Saat banyak tercipta peluang kerja, maka kesejahteraan masyarakat juga akan naik. Dampaknya, orang miskin di Indonesia akan berkurang,” jawabnya.

Kapolda menjelaskan, saat ini warga Indonesia masih banyak yang berada di zona miskin. Persoalan itu menjadi masalah bersama, yang dapat dipecahkan dengan memperbanyak jiwa entrepreneur.

“Jadi bisa menjadi mahasiswa yang pintar, bagus sehingga banyak menciptakan peluang kerja. Tak harus bekerja dalam birokrat,” tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini, pemerintah sudah banyak membantu memberi dukungan kepada kemajuan usaha. Langkah konkrit yang dilakukan adalah memperbaiki infrastruktur seperti jalan dan jembatan agar mudah dijangkau. Termasuk juga dengan memperbanyak tol hingga seluruh Indonesia.

Editor: Supriyadi

Kapolda Jateng Isi Kuliah Umum di UMK

Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono saat mengisi kuliah umum di UMK, Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono menjadi dosen tamu dalam kuliah umum bertema merajut kebhinekaan dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di Auditorium Universitas Muria Kudus, Jumat (15/09/2017).

Dalam kuliah umum berdurasi kurang lebih dua jam itu, Kapolda mengajak semua peserta kuliah umum untuk menjaga perbedaan. Beberapa kali, ia mendapat pertanyaan tentang sudut pandangnya terkait bangsa Indonesia.

”Kita harus merawat keberagaman. Mulai dari menghargai pendapat orang lain dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini” ujar Kapolda Jateng.

Selain pendapat orang lain, menjaga keberagaman dan toleransi antarumat beragama juga sangat penting. Ini lantaran isu SARA terbukti sangat ampuh untuk menumbuhkan percikan api di antara masyarakat.

”Karena itu sebagai mahasiswa, kita bisa menjadi teladan dalam merawat kebhinekaan. Indonesia ini terdiri dari berbagai suku, ras, agama, ataupun golongan, jadi jangan sesekali ada yang berusaha merong-rong kesatuan dengan hal-hal tersebut,” katanya.

Selain isu SARA, lanjutnya, ujaran kebencian dan berita hoax juga sering kali menjadi bumbu pedas dalam memecah persatuan bangsa. Karena itu, semua harus bisa bekerjasama untuk menjaga perdamaian mulai dari pelosok desa hingga perkotaan.

”Damai itu indah. Jadi wajib kita jaga,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Tentukan Upah Minimum, Pemkab Jepara Siap Gunakan PP 78

Sejumlah pekerja menyelesaikan tanggung jawabnya di salah satu pabrik di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jepara tahun 2018 akan mengikuti skema  PP 78/2015. Rencananya, pembahasan soal tersebut akan dilaksanakan pada akhir bulan September.

“Rencananya pembahasan UMK 2018 akan dilakukan akhir bulan ini, kalaupun mundur maka akan dilakukan pada awal bulan Oktober,” kata Kepala Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Koperasi UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara, Senin (11/9/2017).  

Ia mengatakan telah melakukan koordinasi awal dengan pihak yang termasuk dalam Dewan Pengupahan Jepara, seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Konfederasi Serikat Pekerja seluruh Indonesia (KSPSI). Hal itu terkait dengan penentuan wakil yang nantinya diutus dalam pembahasan UMK Jepara 2018.

Menurutnya, pembahasan upah pekerja pada tahun 2018 nanti, akan berpatok pada Peraturan Pemerintah nomor 78 tahun 2015 atau lazim disebut PP Pengupahan. 

Dalam penerapannya, salah satu pertimbangan upah akan berpatokan pada tingkat inflasi nasional dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun berjalan. Berdasarkan penjelasan PP 78/2015 formulasi perhitungan upah minimum adalah UMn : UMt + (UMt x (Inflasi + % PDBt)). UMn adalah upah minimum yang akan ditetapkan, sedangkan UMt upah minimum tahun berjalan.

Penetapan upah minimum dimaksudkan sebagai jaring pengaman agar upah yang dibayarkan tak lebih rendah dari upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Selain itu formulasi tersebut bertujuan agar tidak membahayakan gizi pekerja sehingga tidak mengganggu kemampuan kerja. 

Menurut Edy, berdasarkan nilai dari upah minimum tersebut akan diajukan ke gubernur sebagai batas terendah usulan. 

“Nanti kita hanya  akan berpatok pada PP 78/2015. Sebelumnua memang masih mengakomodir skema perhitungan lainnya seperti survei Kebutuhan Hidup Layak dan Peraturan Gubernur,” ujarnya.

Adapun besaran UMK Jepara pada tahun 2017 adalah sebesar Rp 1.600.000 dari sebelumnya Rp 1.350.000. Dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah Jepara mengalami kenaikan upah tertinggi dari tahun sebelumnya yakni  sekitar 18 persen. 

Editor: Supriyadi

Guru Honorer di Jepara Minta Upah Disesuaikan UMK

Puluhan pegawai Golongan II dan III Honorer K-1 dan K-2 Kabupaten Jepara saat mengikuti Pendidikan dan Latihan Prajabatan (Diklat Prajab) tahun lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Forum Komunikasi Guru Tidak Tetap (FK-GTT) Jepara meminta pemerintah kabupaten melakukan penyesuaian honor sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK). Hal itu lantaran, sejak tahun 2016 honor mengajar yang didapatkan hanya Rp 500 ribu per bulan. 

Ketua FK GTT Jepara Ahmad Khoiron Nasir mengungkapkan, dengan honor tersebut kesejahteraan guru tak tetap masih jauh dari layak. Belum lagi, kondisi ril di lapangan dimana sebagian sekolah menghapus pemberin honor dari internal sekolahan.  

“Berdasarkan survei kebutuhan hidup layak, penghasilan guru honorer masih jauh untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok. Kenyataan di lapangan masih ditemui sekolah yang memotong bahkan menghapus honor yang berasal dari sekolah. Alasannya yang bersangkutan telah menerima honor dari Pemkab,” ujarnya, Jumat (8/9/2017).

Subiyanto Kabid Anggaran Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jepara menanggapi keluhan tersebut. Menurutnya pemerintah kabupaten telah memikirkan masak-masak terkait hal tersebut. Hanya saja, dengan banyaknya pekerja honorer, tak selaras dengan kemampuan keuangan daerah. 

“Semuanya sudah dipikirkan, hanya saja hal ini juga harus dilihat kemampuan anggaran APBD yang sangat terbatas,” kata dia. 

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi C DPRD Jepara Ahmad Solihin mengajak para guru honorer untuk bersabar. Menurutnya, keadaan mereka jauh lebih baik ketimbang guru-guru PAUD. 

“Anggaran untuk tahun 2018 belum dibahas. Kami harap nanti ada tambahan. Kondisi yang dialami oleh teman-teman K2 ini jauh lebih baik dibandingkan guru-guru PAUD yang batal mendapatkan tambahan penghasilan dari Pemkab lantaran ada pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat,” urainya. 

Lebih lanjut, Sholikin meminta guru honorer untuk dapat menerima besaran honor tersebut hingga akhir tahun 2017. Disamping itu dirinya akan menyerap keluhan ini sebagai bahan saat reses nanti. 

Editor: Supriyadi

Mahasiswa UMK Buat Aplikasi untuk Atasi Kredit Macet Koperasi

Empat mahasiswa UMK pembuat aplikasi Simako berfoto bersama dengan dosen dan wakil rektor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Empat mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) membuat aplikasi untuk mengatasi kredit macet pada anggota koperasi. Mereka adalah Budi Hantomo, Nurul Ismi, Ardi Irfanto dan Tajul Alwi.

Budi mengatakan, aplikasi tersebut diciptakan melalui program kreativitas mahasiswa yang diadakan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Dalam uji coba aplikasi, mereka menggandeng Forum Komunikasi dan Kerjasama Koperasi Indonesia (FK3I) Kabupaten Pati.

“Aplikasi ini kami namakan Simako, sebuah aplikasi untuk mengatasi kredit macet pada koperasi. Untuk memudahkan pengguna, aplikasi ini berbasis pada mobile,” ucap Budi.

Simako sendiri diambil dari kata Sistem Informasi Anggota Koperasi. Cara kerjanya, anggota koperasi bisa mengecek seseorang yang memiliki kredit macet di suatu koperasi yang juga memiliki Simako.

Dengan cara itu, sebuah koperasi tidak perlu repot mencari informasi nama-nama yang memiliki track record kredit macet pada koperasi tertentu. Cukup mencari nama pada aplikasi Simako berbasis online, data kredit macet akan segera diketahui.

“Uji coba pertama kami terapkan di Kabupaten Pati. Kami menggandeng FK3I. Jika di Pati nanti jalan, baru kami akan sosialisasikan ke daerah lain, kalau perlu secara nasional,” kata Budi.

Hanya saja, aplikasi itu akan berfungsi dengan baik bila semua koperasi memiliki Simako secara bersamaan. Sebab, pemilik Simako bisa memasukkan data kredit macet yang bisa diakses semua pemilik aplikasi.

Menurutnya, perkembangan teknologi yang semakin pesat harus dimanfaatkan dengan baik. Pegawai koperasi yang ingin mengetahui kredit macet tidak perlu mencari informasi secara manual yang butuh waktu cukup lama.

Dengan Simako, pegawai koperasi cukup memasukkan nama, kemudian muncul keterangan apakah nama tersebut mengalami kredit macet di koperasi lain atau tidak. Aplikasi ini diharapkan bisa mengantisipasi kredit macet yang berpotensi merugikan koperasi.

Editor : Kholistiono