Lima Kecamatan di Jepara Ini Steril dari Usaha Non Kayu

Seorang pengrajin kayu sedang memahat kayu menjadi relief dengan motif tertentu, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)l, Usaha 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten Jepara melakukan sterilisasi usaha (skala besar) non kayu di lima Kecamatan. Kelima kecamatan itu adalah Kedung, Jepara, Tahunan, Mlonggo dan Batealit.

Langkah itu, ujar Sudjarot, Asisten II Setda Jepara dilakukan untuk menjaga kesinambungan usaha meubel yang ada di wilayah tersebut. Di wilayah tersebut, menurutnya banyak usaha furniture yang menyerap banyak tenaga kerja. 

Selain itu, dengan tidak adanya usaha non kayu di kecamatan tersebut, diharapkan akan lebih memacu geliat usaha meubel yang telah menjadi kekhasan Jepara. Menurutnya, sektor furniture menyumbang perekonomian Jepara. 

“Sektor ini (meubel) menyumbang perekonomian Jepara sekitar 31 persen. Meskipun terjadi permasalahan terhadap furniture,” tutur Djarot Rabu (29/11/2017). 

Ia mengatakan, salah satu persoalan yang membelit usaha perkayuan adalah bahan baku. Hal itu terjadi karena regulasi dari pemerintah pusat yang menjadikan bahan baku cukup sulit dan mahal. 

Editor: Supriyadi

50 Motiv Ukir Asal Desa Petekeyan Jepara Diharapkan Bisa Bersaing Hingga Luar Negeri

Salah satu warga Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan sedang mengukir balokan kayu, belum lama ini.
(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perajin meubel di Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Jepara terus berupaya mengembangkan kreasi produk mereka. Kini setidaknya ada 50 kreasi khas yang diharapkan dapat bersaing di pasar furnitur baik dalam dan luar negeri.

“Kami berusaha agar lebih kreatif agar dapat mengembangkan motif dari perajin-perajin di Desa Petekeyan,” ujar Marsodiq, Ketua Kampung Sembada Ukir, Jumat (6/10/2017).

Menurutnya, di Desa Petekeyan khusus dikembangkan berbagai perabotan rumah dari kayu bermotif minimalis. Kreasi khas yang dibuat diantaranya almari berbentuk botol, biola dan botol air mineral. Kerajinan itu menurut Sodiq dikembangkan secara khusus oleh perajin di wilayah tersebut.

Get $10 Off using Tellhco Survey

Ia mengatakan, produktifitas warga Petekeyan dalam memroduksi perabot meubel juga sangat tinggi. Dalam satu minggu seorang perajin dapat memroduksi dua hingga empat set kursi dan meja.

Untuk masalah harga, satu set meubelair mentah terdiri dari dua kursi, satu meja dan sebuah bangku dihargai mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta.

“Itu untuk yang mentah artinya belum di finishing menggunakan cat dan sebagainya. Untuk satu set kualitas bagus harganya Rp 2,5 juta, sedang Rp 1,7 juta dan paling rendah Rp 1 juta,” katanya.

Editor: Supriyadi

Ini Penampakan Sandal Jepit di Jepara yang Bikin Kagum Dunia

 

Salah satu contoh karya seni kaligrafi di atas sandal di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu contoh karya seni kaligrafi di atas sandal di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pemuda asal Desa Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo, Jepara, M Nur Fawaid berhasil menjalankan bisnis ukir sandal jepit.Kegemarannya berjejaring sosial, ia manfaatkan untuk memasarkan produk kreativitasnya.

Selain motif dari barang stok, dia dan kawa-kawan pondoknya juga melayani permintaan motif sesuai keinginan pemesan. “Biasanya tokoh kartun seperti Doraemon, Naruto, Angry Birds atau logo klub sepak bola kesayangan seperti Barcelona, Real Madrid dan Manchester United,” kata Fawaid kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, dia juga dapat mengukir tokoh nyata seperti Sukarno persis yang ada dalam foto-foto yang selama ini beredar. Motif batik juga tak luput menjadi bahan kreasinya.

Hasil produk sandal jepit ukir yang ia buat juga tak monoton, itu-itu saja. Bisnis sandal carving Jepara-nya itu juga mampu membuat hiasan-hiasan dinding berbahan baku sandal jepit polos.

Selama ini ia kerap diminta membuatkan kaligrafi dengan menggabungkan dua pasang atau empat sandal jepit. Kemudian, hasil ukirannya ia bingkai dengan figura. Bahkan, hiasan dinding sandal jepit itu dikembangkan menjadi jam dinding kreatif.

Selama ini hasil ukiran yang menurutnya bagus adalah ketika mendapatkan pesanan membuat logo Nahdlatul Ulama menjadi hiasan dinding. Hasil produknya pernah diikutkan lomba bazar pelatihan Disdikpora di Banjarnegara mewakili Kabupaten Jepara pada 2014 lalu. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Waduh! Ancaman Kehilangan Pengukir di Jepara Kian Dekat

Seorang perempuan di Jepara sedang melakukan aktifitas mengukir (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Seorang perempuan di Jepara sedang melakukan aktifitas mengukir (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kabupaten Jepara yang terkenal sebagai kota ukir terancam kehilangan pengukir. Bahkan, ancaman tersebut semakin dekat, seiring dengan minimnya generasi muda yang bersedia menjadi pengukir. Ditambah lagi dengan makin banyaknya investor yang mendirikan pabrik non mebel, sehingga membuat generasi muda memilih menjadi karyawan pabrik.

Hal itu mulai dirasakan belakangan ini oleh sejumlah pengukir. Salah satunya Komunitas Pengukir Jepara yang diketuai Umam. Menurut Umam, pihaknya sudah mulai cemas jika nantinya citra Jepara sebagai Kota Ukir semakin terkikis secara pelan.

“Perhatian pemerintah terhadap ukir Jepara masih minim. Sehingga membuat kecemasan itu semakin besar,” kata Umam kepada MuriaNewsCom.

Kekhawatiran itu juga dikatakan Kabag Humas Pemkab Jepara Hadi Priyanto. Menurut Hadi, para tukang ukir dan kayu di jepara sudah mulai merasa gelisah. Salah satu alasannya karena upah mereka kecil hingga bidang ini tidak menarik lagi bagi generasi muda.

“Banyak yang kemudian memilih bekerja di pabrik dan bangunan. Mereka juga cemas citra Jepara sebagai Kota Ukir akan pupus,” katanya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Tukang Ukir dan Kayu di Jepara Dilanda Galau

Seorang perempuan di Jepara sedang melakukan aktifitas mengukir (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Seorang perempuan di Jepara sedang melakukan aktifitas mengukir (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ratusan bahkan ribuan tukang ukir dan kayu di Kabupaten Jepara sudah mulai merasakan kegelisahan dan keresahan. Karena, sejak dulu hingga saat ini gaji yang diperoleh mereka masih terbilang kecil. Akibatnya, generasi muda enggan menjadi pengukir dan tukang kayu. Mereka memilih bekerja di pabrik yang belakangan mulai berdiri di kota ukir.

“Dari dulu hingga sekarang, gaji pengukir tidak ada peningkatan yang signifikan. Hal ini yang menjadi alasan utama mengapa minat generasi muda untuk menjadi pengukir sangat kecil,” ujar Ketua Komunitas Tukang Ukir Jepara Umam kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, gaji seorang pengukir di Jepara yang notabene kota ukir, hanya berkisar Rp 40 ribu per hari. Jumlah tersebut dianggap masih jauh dari harapan, lantaran pekerjaan sebagai seorang pengukir tidaklah mudah.

”Kalau kami minta gaji yang lebih banyak, justru pekerjaan akan diserahkan ke orang lain. Kami tidak memiliki nilai tawar lagi,” kata Umam.

Dia menambahkan, sejauh ini pihaknya menginginkan agar Pemerintah Kabupaten Jepara dapat memperhatikan para pengukir dan tukang kayu. Sebab, label Jepara sebagai kota ukir sejak puluhan tahun lalu itu hanya dapat dipertahankan jika masih ada pengukir. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)