Pemahat Patung Jepara: Perlu Ritual Khusus untuk Bikin Patung Dewa

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang Tahun Baru Cina atau Imlek 2018 pemahat patung di Kelurahan Mulyoharjo, Jepara, mulai kebanjiran order. Pesanan kebanyakan adalah patung dewa atau yang bermotif oriental.

Sumarno (47) seorang perajin patung asal Kelurahan Mulyoharjo RT 5 RW 5, Kecamatan Kota Jepara mengatakan, pesanan datang jauh-jauh hari dari hari raya Imlek.

“Bulan-bulan Januari sudah mulai ada pesanan. Nantinya pada Februari, saat mendekati Imlek, patung-patung yang telah jadi akan dipajang,” urainya ditemui MuriaNewsCom, akhir pekan lalu.

Adapun patung-patung dewa yang dibuat di bengkel kerjanya diantaranya Dewa Bumi Tai San Lose, Dewa Kwan Kong hingga Dewi Kwan Im. Bentuknya pun bermacam-macam, dari yang ukuran kecil hingga besar.

Seperti patung dewa pesanan dari sebuah kelenteng yang ada di Makasar. Untuk membuatnya, ia mengaku memerlukan ritual khusus.

“Pada saat pertama kali mengguratkan tatah dimulai pada hari dan jam yang telah ditentukan. Bahkan diperlukan pembakaran dupa untuk memulainya. Saya hanya ikut membantu melaksanakan, dipandu melalui telepon untuk menatah pertama kalinya,” tutur Sumarno pemilik usaha ukir Tatah Antik Jepara itu

Terkait model, setiap pemesan biasanya telah menyertakan gambar patung. Sementara jenis kayu, ia menggunakan jenis Asam Jawa, Jati, Mahoni dan sebagainya.

Selain dari dalam negeri, pembelinya banyak juga berasal dari negeri seberang semisal Taiwan dan Malaysia. Untuk pasar lokal, produk buatannya telah sampai di Jakarta, Bandung, Medan, Bagan siapi-api dan Bangka Belitung.

Selain patung dewa yang mengikuti pakemnya sendiri, Sumarno juga berkreasi dengan patung yang berasal dari akar kayu jati lawas. Selain unik, kerajinan dari bahan tersebut tak bisa ditiru oleh mesin pengukir kayu.

“Ukiran akar kayu yang saya buat berasal dari pohon Jati tua asal daerah Bojonegoro. Selain padat dan ringan, motifnya tak bisa ditiru oleh mesin ukir kayu CNC Router yang kini telah banyak digunakan di luar negeri, seperti Cina,” terangnya.

Motif yang dibuat, kata Sumarno, masih didominasi oleh ornamen oriental Tionghoa.

Terkait harga patung dewa, ia menyebut harganya bervariasi. Hal itu bergantung pada tingkat kesulitan dan ukuran patung. Mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Editor: Supriyadi

APKJ Minta Seni Ukir Jepara Dijadikan Mulok Wajib di Sekolah

Ketua APKJ Achmad Zainudin saat menyampaikan orasinya terkait keinginan perajin agar seni ukir jadi mulok wajib di sekolahan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Asosiasi Perajin Kayu Jepara (APKJ) mendesak pemerintah kabupaten mengambil langkah strategis terkait pelestarian seni ukir di Bumi Kartini. Langkah itu terutama pada sektor pendidikan untuk menghadirkan kembali muatan lokal tentang motif ukir kepada pelajar. 

Achmad Zainudin Ketua APKJ menyebut, langkah tersebut penting untuk mengenalkan seni ukir tersebut secara dini kepada generasi muda Jepara. Menurutnya, hal itu penting untuk menumbuhkan rasa memiliki (handarbeni) terhadap kerajinan ukir. 

“Kami mohon kepada bupati agar mengajak dinas terkait dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk menjadikan pengetahuan tentang ukir sebagai muatan lokal (mulok) wajib untuk siswa SD dan SMP. Hal itu harapannya menjadikan pelajar mengenal motif-motif ukiran,” kata Zainudin, saat dilantik sebagai Ketua APKJ periode 2017-2022, kemarin di Pendapa Pemkab Jepara. 

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengaku akan segera mewujudkan aspirasi itu. Menurutnya, ia akan segera menginstruksikan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan olahraga untuk merealisasikannya.

“Kami akan menindaklanjuti hal tersebut dengan berkoordinasi dengan Disdikpora. Supaya apa yang menjadi aspirasi ini benar-benar terlaksana,” janji bupati.

Di kesempatan lain, Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara Hadi Priyanto menyebut Pemkab Jepara perlu serius menyusun peta pelestarian dan pengembangan seni ukir. Ia mengatakan, saat ini telah ada Perda no 1/2011 tentang pendidikan, yang mewajibkan semua satuan pendidikan menempatkan seni ukir sebagai muatan lokal wajib. Namun hal itu menurutnya tidak sepenuhnya berjalan dengan baik. 

“Selain itu adapula Perbup no 10/2014 tentang pemberian ornamen ukiran pada semua bangunan milik pemerintah. Akan tetapi hal itu tak diimplementasikan secara baik,” urainya. 

Disamping masalah kependidikan, animo generasi muda Jepara untuk mempelajari ukir-ukiran secara langsung drastis menurun. “Animo pemuda untuk nyantrik di brak-brak meubel semakin berkurang,” ungkap hadi. 

Editor: Supriyadi

Lima Kecamatan di Jepara Ini Steril dari Usaha Non Kayu

Seorang pengrajin kayu sedang memahat kayu menjadi relief dengan motif tertentu, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)l, Usaha 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten Jepara melakukan sterilisasi usaha (skala besar) non kayu di lima Kecamatan. Kelima kecamatan itu adalah Kedung, Jepara, Tahunan, Mlonggo dan Batealit.

Langkah itu, ujar Sudjarot, Asisten II Setda Jepara dilakukan untuk menjaga kesinambungan usaha meubel yang ada di wilayah tersebut. Di wilayah tersebut, menurutnya banyak usaha furniture yang menyerap banyak tenaga kerja. 

Selain itu, dengan tidak adanya usaha non kayu di kecamatan tersebut, diharapkan akan lebih memacu geliat usaha meubel yang telah menjadi kekhasan Jepara. Menurutnya, sektor furniture menyumbang perekonomian Jepara. 

“Sektor ini (meubel) menyumbang perekonomian Jepara sekitar 31 persen. Meskipun terjadi permasalahan terhadap furniture,” tutur Djarot Rabu (29/11/2017). 

Ia mengatakan, salah satu persoalan yang membelit usaha perkayuan adalah bahan baku. Hal itu terjadi karena regulasi dari pemerintah pusat yang menjadikan bahan baku cukup sulit dan mahal. 

Editor: Supriyadi

Seniman di Jepara Ini Bikin Pameran Tunggal Gara-gara Risau Ukir ”Disepelakan” Anak Muda

Roni (kiri) sedang menjelaskan makna karyanya kepada wabup Jepara Dian Kristiandi (kanan). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Roni, seniman sekaligus pengukir asal Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, menggelar pameran ukir bertajuk ”Eksistensi”, di Aula Museum Kartini Jepara, Senin-Jumat (13-17/11/2017). Dalam pameran tunggal itu ia ingin menampakan kerisauannya akan seni ukir Jepara yang mulai ditinggalkan generasi muda. 

Lewat karyanya berjudul Lumbung Padi, ia menggambarkan bagaimana Jepara diibaratkan sebagai lumbung seni ukir. Namun kini keberadaannya mulai ditinggalkan oleh anak-anak muda yang ia simbolkan dengan ayam-ayam yang mati di lumbung, meskipun terdapat padi yang melimpah.

“Karya saya Lumbung Padi, menggambarkan dua sosok orang yang terlihat putus asa dan kepayahan. Mereka saya diibaratkan sebagai sosok pegiat ukir senior yang putus asa akan perkembangan seni ukir. Sementara Jepara dikenal sebagai lumbung ukir namun ketertarikan generasi muda yang saya gambarkan dengan ayam, semakin menurun,” ucap Roni, Senin  malam (13/11/2017).

Pengunjung pameran sedang memperhatikan karya milik Roni yang dipamerkan di Aula Museum Kartini, Senin malam (13/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Dalam pameran tersebut ia menampilkan 19 karya. Meliputi dua dimensi, sampai tiga dimensi dan karya instalasi. Melalui karyanya tersebut, ia ingin mengajak generasi muda Jepara untuk lebih tertarik dan peduli terhadap seni ukir.

“Eksistensi menggambarkan dua hal. Pertama eksistensi seni ukir Jepara yang kedua eksistensi diri saya sendiri sebagai pengukir. Melalui acara ini, saya harap dapat menimbulkan inspirasi bagi pengukir muda, untuk lebih mengeksplor inovasi dan kreativitas agar dapat menghasilkan karya ukir yang apik. Selain itu saya ajak mereka untuk tidak sekedar terkungkung dalam pemikiran bahwa mengukir itu buruh,” urainya.

Menurut Roni, acaranya itu terselenggara berkat dukungan Direktorat Kesenian Kementrrian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain memamerkan karya, akan adapula diskusi tentang budaya. Adapun, pembukaan acara ini telah dihelat semalam, dihadiri Wakil Bupati Jepara, Dian Kristiandi, pada Senin (13/11/2017) malam.

Dian Kristiandi menilai, apa yang dipamerkan oleh Roni, dapat membawa kembali eksistensi seni ukir Jepara. Kegelisahan yang dialami seniman ukir itu, diakui pula oleh wakil bupati.

“Seandainya ada sosok-sosok lain yang seperti Roni, maka akan membawa kembali kejayaan ukir di Jepara,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Generasi Ukir Relief di Jepara Hijrah Jadi Karyawan Pabrik

Poster sindiran tentang keadaan seni ukir yang kalah dengan ekspansi pabrik yang ada di Jepara. Poster tersebut tertempel di ruas Jl Kyai H Wahid Hasyim. Kamis (26/10/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemuda-pemudi Desa Senenan, Kecamatan Tahunan-Jepara resah seni ukir kini mulai ditinggalkan generasi muda. Alih-alih bergulat denan kayu anak muda asal desa sentra relief tersebu memilih bekerja di pabrik. 

Hal itu terungkap pada sarasehan yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Putu Sentana, medio bulan Oktober 2017. Selain karena menjamurnya berbagai pabrik padat karya, kegelisahan tersebut juga dipicu tidak adanya lembaga pendidikan yang fokus pada pelesteraian seni ukir relief. 

Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara Hadi Priyanto mengatakan, ancaman tersebut nyata adanya. Hal itu satu diantaranya dipicu permasalahan finansial.

“Gaji seniman ukir yang rendah, pelestarian yang tidak optimal hingga kebijakan yang kurang berpihak pada perajin. Selain itu, lembaga sertifikasi ukir kayu hanya jalan ditempat,” ujarnya.

Ketakutan akan hilangnya generasi pengukir kini makin nyata, semenjak pabrik padat karya di Jepara menyedot puluhan tenaga kerja muda. Praktis para penerus meubel ukir ditinggalkan oleh pewarisnya. 

Selain itu, Hadi juga menyesalkan pembukaan jurusan dekorasi ukir di SMKN 2 Jepara yang gagal dilakukan. Meskipun, sempat bergulir beberapa saat namun akhirnya jurusan tersebut dilebur dalam sebuah program. 

“Jurusan tersebut sempat dibuka pada 12 April 2014, namun kemudian ditutup dan dimasukan kembali ke program keahlian dekorasi ukir, dengan alasan tidak ada nomenklatur program keahlian dekorasi ukir. Padahal dari jurusan itu telah melahirkan lulusan berbekal keahlian kriya kayu,” ungkapnya.

Sementara itu, pembicara lain Didin Ardiansyah mengajak anak muda untuk membuat momentum kebangkitan cinta pada budaya lokal. Menurutnya, hal tersebut dapat dilakukan dengna membuat berbagai kegiatan kreatif yang menggiring generasi muda untuk kembali mencintai seni ukir.

Editor: Supriyadi

Regenerasi Pengukir di Jepara Terancam Putus, Ini Alasannya

Kedubes Inggris belajar ukir saat berkunjung di Jepara beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Regenerasi pengukir kayu di Jepara dikhawatirkan terputus. Selain ekspansi industri massal yang menyerap ribuan tenaga kerja, minat anak muda terhadap seni kriya itu juga menurun. 

Marsodiq perajin meubel asal Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Jepara mengungkapkan hal itu kepada MuriaNewsCom, Jumat (6/10/2017). Menurutnya, hal itu merupakan tantangan bagi pemilik usaha di bidang kayu. 

“Tantangan kedepan satu diantaranya anak muda sekarang kok sudah tidak tertarik dengan mengukir. Takutnya tradisi mengukir bisa terputus,” tuturnya. 

Hal itu menurutnya sudah sering dipaparkan pada beberapa pertemuan. Oleh karenanya diperlukan campur tangan pemerintah kabupaten untuk menggalakan kembali kecintaan pada tradisi tersebut.

“Pada berbagai pertemuan, hal itu sudah disampaikan. Dinas pun sudah merespon dengan adanya pendidikan ukir untuk siswa SD dan SMP,” kata Ketua Kampung Sembada Ukir Desa Petekeyan. 

Untuk mewariskan tradisi ukir, Marsodiq mengaku telah melakukan beberapa upaya. Di antaranya adalah transfer pengetahuan akan desain furnitur dan pengetahuan tentang kubikasi kayu. 

Hal itu menurutnya sangat berguna, karena tradisi ukir juga memunyai nilai ekonomis yang tinggi. “Di paguyuban kami telah menyosialisasikan pengetahuan tentang desain kayu yang saya peroleh pada pelatihan, selain itu kami juga menyosialisasikan tentang kubikasi. Harapannya jika mengolah kayu gelondongan bisa lebih efisien,” pungkasnya. 

Editor: Supriyadi

Menengok Hebatnya Pengukir-pengukir Cantik Asal Desa Petekeyan Jepara

Salah satu warga Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan saat mengukir balokan kayu, Selasa (3/10/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pengukir kayu di Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Jepara didominasi oleh kaum perempuan. Sebanyak 60 persen dari total 38.000 Kepala Keluarga (KK) di desa itu kaum hawa.

“Di sini jumlah pengukir perempuan ada 60 persen. Sedangkan yang lelaki adalah tukang kayunya,” ujar Musodiq Ketua Kampung Sembada Ukir Petekeyan, Selasa (3/10/2017) sore.

Menurutnya, sebagian besar keterampilan mengukir diperoleh secara turun temurun. “Ibaratnya, dengan melihat saja perempuan di sini (Desa Petekeyan) bisa menjadi pengukir kayu,” tambahnya.

Jika ukir-ukiran yang dikerjakan lumayan besar uang ratusan ribu bisa dikantongi oleh pengukir perempuan.

“Kalau pengukir perempuan bisa menyelesaikan satu set kursi, mereka bisa mengantongi Rp 100.000 per hari,” papar Sodiq.

Namun demikian, kualitas ukiran perempuan masih kurang halus jika dibandingkan karya laki-laki. Hal itu berpengaruh pada honor yang mereka terima untuk setiap set perabotan.

“Kalau perempuan biasanya pengerjaannya kurang halus. Sehingga berpengaruh pada honornya. Kalau perempuan biasanya Rp 100.000 kalau laki-laki biasanya dibayar Rp 150.000,” tambahnya.

Hal itu dibenarkan oleh seorang pengukir perempuan Isfatul (27). Menurutnya, ia bisa mengukir sejak bersekolah di SMP. Namun karena kesibukannya bersekolah kemudian menikah dan mengurus anak, ketrampilan itu akhirnya harus terpendam hingga kini.

“Baru dua bulan ini saya menekuni ketrampilan mengukir. Ini sebagai sambilan saja sembari mengurus anak,” katanya.

Hal serupa diungkapkan oleh Listyowati (32). Ia mengaku saat ini menekuni mengukir sejak dua bulan terakhir.

“Ya saya punya usaha toko kecil-kecilan, jadi saya di rumah sambil iseng-iseng mengukir,” urainya.

Untuk setiap hiasan ukiran kayu ukuran kecil yang selesai diukir, kedua perajin itu mendapatkan upah Rp 1000. Sementara bila kayunya agak besar diupah Rp 1. 500.

Dalam sehari, ia bisa mengerjakan rerata 12 ukir-ukiran yang kemudian disetor kepada pengepul.

Editor: Supriyadi

Bisnis Ukiran Kaligrafi di Jepara Raup Untung Wah Selama Lebaran

Ukir Kaligrafi e

Nurahmad menunjukkan ukiran kaligrafi bentuk pedang dan penyekat ruangan di tempat usahanya, di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Di balik lesunya produk mebel dan olahan kayu pada umumnya. Ternyata tidak demikian dengan bisnis ukiran kayu berbentuk tulisan arab atau kaligrafi di Kabupaten Jepara.

Sebab, usaha ini mendapatkan untung besar dalam beberapa waktu terakhir. Utamanya, ketika momen Ramadan hingga Lebaran tahun ini. Diketahui, penjualan ukiran kaligrafi meningkat drastis dibanding hari-hari biasa.

Hal itu seperti yang dirasakan pengusaha ukiran kaligrafi di Sentra Patung dan Ukir Mulyoharjo, Kecamatan Jepara Kota, Wiwin Nurahmad Yasin. Dia mengaku momen Lebaran menjadi berkah tersendiri bagi pengusaha ukiran kaligrafi.

Momen besar umat Islam itu memberikan napas baru bagi kehidupan usaha itu. Bisnis ukiran kaligrafi laris di pasaran. “Dibandingkan dengan hari biasa, saat momentum hari besar Islam, seperti Ramadan dan Lebaran ini, omzet penjualan naik hingga sekitar 50 persen,” kata Wiwin Nurahmad, Kamis (14/7/2016).

Dirinya yang menggeluti usaha sejak 16 tahun silam itu membanderol hasil ukiran kaligrafinya mulai harga ratusan ribu hingga puluhan juta. Murah atau mahalnya bergantung pada bentuk, jenis bahan baku, dan sentuhan akhir (finishing). Semakin besar ukuran kaligrafi dan semakin banyak ukiran,  maka harganya lebih mahal.

“Dalam ilmu ukir dasar, di Jepara mengenal dua jenis model kalagrafi, yaitu lemahan dan bobokan. Kalau bobokan lebih mahal,” katanya sambil menunjukan kaligrafi berbentuk penyekat ruangan yang dibanderol Rp 25 juta yang dibuat dengan model bobokan.

Nurahmad yang menolak menyebutkan omzet normal dan selama Ramadan hingga Lebaran tak menampik jika bisnis yang digelutinya merupakan spesialis saat momen besar umat Islam itu. “Kenyataannya memang meningkat pesat. Pesanan masih ada selama bukan Syawal ini,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Kabar Baik, Pengusaha Mebel di Jepara Siap Tampung Lulusan Jurusan Ukir

Beberapa pelajar terlihat sedang mengukir. Kini Pengusaha mebel di Jepara siap tampung lulusan ukir (MuriaNewsCom)

Beberapa pelajar terlihat sedang mengukir. Kini Pengusaha mebel di Jepara siap tampung lulusan ukir (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Angin segar datang dari dunia industri ukir di Kabupaten Jepara. Pasalnya, lulusan jurusan ukir baik dari pendidikan formal maupun nonformal bakal mendapatkan tempat khusus di perusahaan-perusahaan mebel di Jepara. Sehingga kekhawatiran terkait masa depan siswa maupun pelajar ukir dapat hilang.

Pengusaha mebel ukir di Kabupaten Jepara menyatakan siap menampung lulusan ukir di Jepara. Hal itu dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap proses regenerasi tenaga ukir di Kota Ukir, Jepara.
Penasehat Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Komisariat Daerah Jepara Akhmad Fauzi mengatakan, sebenarnya pelaku usaha di bidang mebel dan ukir sejak lama siap menampung para pelajar yang hendak melakukan sekolah praktik, maupun dari pendidikan informal.

“Saat ini pun pengusaha mebel sebenarnya siap menampung pengukir. Sebab ,saat ini jumlah pengukir kian sedikit. Itu sebagai salah satu langkah sinkronisasi dunia usaha, industri dan dunia pendidikan,” ujar Fauzi, Jumat (29/4/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, pihaknya apresiasi kebijakan Pemkab Jepara yang akan membentuk lembaga sertifikasi profesi untuk melakukan standarisasi tenaga ukir lewat pemberian sertifikat.

Sebab itu bisa memberikan nilai tambah bagi pengukir di Jepara, sehingga kelak bisa memudahkan dalam mencari kesempatan kerja.“Diharapkan pula bisa menjadi pemicu agar generasi muda kembali meminati profesi ini,” kata dia.

Diakuinya, sejak adanya investor masuk ke Kabupaten Jepara untuk mendirikan beberapa pabrik, kini banyak pekerja yang terserap ke pabrik baru tersebut, sehingga berdampak secara signifikan terhadap pelaku usaha mebel dan ukir, karena kesulitan mencari pengukir.

Saat ini, menurut Fauzi, kondisi itu memang belum dialami semua pelaku usaha di bidang mebel. Namun secara perlahan, ketika tidak ada upaya dari berbagai pihak, tentunya akan dialami semua pelaku usaha mebel dan ukir di Jepara.

Editor : Kholistiono

Banyaknya Industri Nonmebel Mengancam Eksistensi Ukir dan Mebel di Jepara

Salah satu perajin ukir sedang mengukir kayu. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

Salah satu perajin ukir sedang mengukir kayu. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa waktu terakhir ini berdiri sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang nonmebeler. Keberadaan industri nonmebel di Kabupaten Jepara tersebut dituding mengancam eksistensi mebel, furnitur dan ukir-ukiran khas Bumi Kartini. Sektor mebel, furnitur dan ukir-ukiran kekurangan tenaga kerja karena banyak yang terserap di industri nonmebel, terutama industri garmen.

Salah satu pelaku usaha mebel di Pecangaan Jepara, Febti Estiningsih mengemukakan, dirinya terpaksa menolak beberapa kali pesanan dari luar negeri karena khawatir tak bisa mengirim produk tepat waktu. Pangkal persoalannya lantaran sulitnya mencari tenaga kerja sektor mebel.

”Kalau beberapa waktu lalu kita sulit mencari tukang ukir. Tapi sekarang tak hanya itu tukang finishing termasuk bagian amplas juga sulit. Mereka terserap di industri garmen semakin banyak,” kata Febti kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, dengan semakin sulitnya mendapatkan karyawan, tentu saja memperlambat pembuatan produk mebel. Sehingga, dirinya terpaksa menolak pesanan baik dari dalam maupun luar negeri.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Jepara Abdul Kohar mengatakan pihaknya menerima banyak keluhan dari pelaku usaha mebel, furnitur dan ukir-ukiran. Dan isi keluhan itu seperti yang disampaikan Febti Estiningsih.

Menurut Kohar, rongrongan industri garmen terhadap sektor usaha mebel, termasuk kain Troso khas Jepara memang nyata. Jika kondisi ini tak segera diantisipasi, maka bisa jadi julukan Jepara sebagai Kota Ukir tinggal kenangan. Dan berganti menjadi Kota Jahit atau Kota Obras Kain.

”Saya juga heran begitu mudahnya industri garmen memperoleh izin usaha di sini? Pemkab mestinya melakukan kajian imbas munculnya perusahaan garmen terhadap eksistensi usaha khas Jepara,” ujarnya.

Saat ini, jumlah perusahaan garmen yang mayoritas berbasis penanaman modal asing (PMA) terus bertambah di Jepara. Lokasi pabrik garmen itu tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Pecangaan dan Mayong.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Dampak Siswa Lulusan Seni Ukir Jepara Belum Kantongi Izin

Siswa di Jepara yang tengah mengikuti lomba mengukir di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Siswa di Jepara yang tengah mengikuti lomba mengukir di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Belum dimilikinya izin operasional pada jurusan Seni Ukir di SMK Negeri 2 Jepara yang dibuka dan diresmikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo 2014 lalu memiliki dampak bagi siswa lulusan sekolah itu.

Salah satu dampaknya adalah siswa lulusan jurusan Seni Ukir tidak mendapatkan ijizah bertuliskan jurusan Seni Ukir, melainkan jurusan yang sudah mendapatkan izin di sekolah tersebut.

Kepala SMK Negeri 2 Jepara, Subandi mengatakan, puluhan siswa yang saat ini belajar di jurusan Seni Ukir saat lulus mengantongi ijazah dari jurusan Kriya Kayu. Bukan Jurusan Seni Ukir. Hanya saja dengan spesifikasi Seni Ukir.

“Jika izin operasional masih juga belum turun, maka siswa terpaksa mendapatkan ijazah jurusan Kriya Kayu. Saat ini ada sekitar 50 siswa yang tengah belajar di jurusan Seni Ukir,” ujar Subandi kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya sudah berulang kali mengirimkan surat. Hanya sampai saat ini belum ada jawaban. Subandi berharap agar pemerintah pusat dapat memberikan izin operasional terhadap jurusan Seni Ukir di Jepara, mengingat tujuan dibukanya jurusan tersebut adalah untuk kepentingan bangsa, yakni demi eksistensi dan masa depan ukir di Indonesia, khususnya di Jepara.

Sementara itu, pemerhati Seni Ukir, Sutarya menyampaikan, pemkab harus berperan aktif untuk mengurai masalah ini. Sebab pelestarian Seni Ukir Jepara mutlak dibutuhkan melalui jalur pendidikan. Saat ini, generasi muda sudah mulai enggan belajar mengukir secara autodidak.

“Kami juga sedang berupaya agar mata pelajaran muatan lokal Seni Ukir tidak hanya sampai SMP, tapi juga sampai jenjang SMA,” ujar Sutarya, yang juga Wakil Dekan Fakultas Saintek Unisnu Jepara ini.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Jurusan Seni Ukir di SMK Jepara Tak Berizin, Padahal Diresmikan Gubernur, Lho 

Hadapi MEA, Kearifan Ukir Manual Jepara Harus Dijaga

Salah satu perajin ukir kayu Jepara yang masih mempertahankan ciri khas mengukir secara manual. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu perajin ukir kayu Jepara yang masih mempertahankan ciri khas mengukir secara manual. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Memasuki tahun 2016, kran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai dibuka di Indonesia. Sehingga produk dan kearifan harus dijaga, misalnya produk-produk kreatif yang dibuat secara manual dengan tangan manusia. Hal itu penting agar dapat bersaing dengan produk-produk instan dari luar negeri.

Hal itu dikatakan salah satu tokoh ukir Jepara, Sutarya. Menurut dia, ukiran manual atau tanpa mesin memang menjadi keunggulan dari ukiran Jepara, dan ukiran dalam negeri pada umumnya. Sebab dari sinilah ukir tetap menjadi karya seni. Bukan semata produk industri yang lebih mementingkan aspek kuantitas.

”Ada banyak keunggulan untuk produk manual menggunakan tangan para perajin ketimbang produk menggunakan mesin. Dari karya tangan itulah menjadi karya seni. Hal ini beda dengan produk dengan mesin yang hanya menjadi produk industri yang hanya mementingkan pasar,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengemukakan, untuk industri, lebih banyak mementingkan sisi kuantitas atau bagaimana caranya bisa membuat produk sebanyak-banyaknya sehingga menguasai pasar. Sedangkan karya seni yang dihargai adalah kualitasnya. Sehingga meski berproduksi sedikit, harganya tinggi.

”Dengan sejumlah peluang di dalam MEA, diharapkan perajin tetap mempertahankan ukiran handmade, meski saat ini ada godaan untuk membuat ukiran dengan mesin,” ungkapnya.

Dia menambahkan, meski lebih praktis, menggunakan mesin dinilai justru memperoleh kesulitan dalam pemasaran. Sebab kemungkinan di negara lain, atau juga daerah lain juga menggunakannya.

Selian itu, lanjut dia, sertifikasi terhadap pengukir memang harus diselesaikan. Hal ini untuk memberikan kualifikasi terhadap keahlian pengukir yang sekaligus mempengaruhi karyanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Video – Satu Relief  Perjamuan di Jepara Dibanderol Ratusan Juta

Salah satu pengusaha relief menunjukkan relief perjamuan yang saat ini tengah banyak di minati hingga luar negeri. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu pengusaha relief menunjukkan relief perjamuan yang saat ini tengah banyak di minati hingga luar negeri. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Sejumlah perajin maupun pengusaha relief perjamuan sejak dua bulan terakhir hingga saat ini tengah kebanjiran order. Sebab, dimomen jelang Natal seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak pemesan relief bagi umat Kristiani tersebut.

Salah satu pengusaha relief perjamuan, Maimunah mengatakan, harga satu bingkai relief  perjamuan suci dibanderol hingga ratusan juta rupiah. Ukuran terkecil 0,4 meter x 0,8 meter dibanderol Rp 1,5 juta, ukuran sedang 0,8 meter x 1,5 meter diahrgai harga Rp 4 juta. Sedangkan ukuran terbesar 1,5 meter x 5 meter dibanderol dengan harga Rp 125 juta.

”Harganya bervariasi, ukuran besar sampai ratusan juta, karena memang pembuatannya cukup sulit,” kata dia.

Lebih lanjut dia menerangkan, relief  jamuan suci merupakan ukiran tiga dimensi yang menggambarkan Yesus beserta 12 muridnya sedang mengadakan perjamuan suci. Relief yang diukir tersebut gambarannya sama persis dengan yang ada dalam lukisan Leonardo da Vinci, serta beberapa lukisan yang menggambarkan perjamuan terakhir dalam tradisi Kristiani itu.

Untuk membuat satu bingkai ukir relief, ungkapnya, dibutuhkan waktu satu hingga dua bulan. Lamanya proses pembuatan tersebut karena untuk membuat ukir relief motif tersebut dibutuhkan keahlian dan kesabaran, agar hasilnya memuaskan. Banyak ukiran tokoh yang harus dibuat secara detail, sehingga membutuhkan waktu cukup lama hingga dua bulan. (WAHYU KZ/TITIS W)

 

Jelang Natal, Relief Perjamuan di Jepara Laris Hingga Mancanegara

Dua pekerja relief di Desa Mulyoharjo sedang menyelesaikan proses pembuatan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Dua pekerja relief di Desa Mulyoharjo sedang menyelesaikan proses pembuatan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Mendekati peringatan Natal tahun 2015 ini, rupanya masih menjadi momen spesial bagi pengukir relief di Kabupaten Jepara. Pasalnya penjualan relief perjamuan terakhir (the last super) meningkat drastis. Bahkan, tak hanya banyak dipesan oleh umat Kristen domestik, tetapi juga banyak yang dari luar negeri.

Salah seorang pengusaha relief di Desa Mulyoharjo Jepara, Dewi mengatakan, menjelang natal tahun ini, permintaan relief perjamuan terakhir meningkat. Pesanan tak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga hingga mancanegara. Peningkatan pesanan mencapai 50 persen lebih.

Menurut dia, pesanan atas relief yang menyuguhkan gambaran perjamuan Yesus dengan para muridnya itu sudah berdatangan sejak November lalu. Sebab rata-rata pemesan merupakan konsumen lama yang sudah mengetahui, jika relief itu membutuhkan waktu yang lama.

”Jika pembelian tersebut memang untuk momentum natal, maka konsumen memesan sejak November bahkan Oktober lalu,” terang Dewi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (19/12/2015).

Istri pengukir profesional di Jepara itu juga mengatakan, pada bulan sebelumnya, rata-rata pesanan hanya 10 bingkai relief/bulan. Mulai November, pesanan naik menjadi 15 bingkai bahkan lebih. Di pasaran luar negeri, dia mengaku banyak menerima pesanan dari India. Selain itu juga ada dari Taiwan, Kanada, Italia dan Amerika Serikat.

Hal senada juga dikatakan Bayu Priyono, salah satu pemilik bengkel ukir di Desa Mulyoharjo yang khusus membuat relief yang menggambarkan momentum suci bagi umat Kristiani itu. Dia mengaku, sejak bulan Oktober hingga pertengahan Desember pesanan meningkat hingga 50 persen. (WAHYU KZ/TITIS W)

Mebel Jepara Terancam Boikot Produk Kayu Tropis

Salah satu pekerja sedang memahat kayu dan diukir membuat patung. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu pekerja sedang memahat kayu dan diukir membuat patung. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Selain sejumlah kelemahan di internal para pengusaha dan perajin ukir di Jepara ada faktor eksternal yang mengancam eksistensi kota ukir. Yakni kemungkinan biokot produk kayu tropis dengan munculnya pesaing baru seperti Vietnam, Malaysia, dan Tiongkok. Hal itu tidak lepas dari ancaman diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

”Tradisi banting harga, diberlakukannya masyarakat ekonomi asean, harga kayu yang selalu naik 2 – 3 tahun juga merupakan ancaman kongkrit,” kata dosen sekaligus pegiat seni ukir Jepara, Sutarya dalam acara forum koordinasi informasi dan kehumasan (FKIK) Kabupaten Jepara, Selasa (3/11/2015).

Meski begitu, lanjutnya, Jepara memiliki kekuatan yang diharapkan mampu bersaing. Mulai tenaga kerja yang didukung dengan adanya lembaga pendidikan dengan jurusan ukir, pola home industri, dan pengakuan hak kekayaan intelektual dari indikasi geografis untuk mebel ukir.

Dia optimistis peluang Jepara masih cukup besar karena iklim usaha dan budaya sangat mendukung. Disamping itu pengelolaan usaha jenis home industri lebih luwes sesuaikan dengan permintaan pasar.

”Kita harus segera melakukan langkah-langkah konkrit untuk melestarikan ukir serta menjaga, agar tidak ditinggalkan oleh generasi muda,” katanya.

Sementara Gunardi anggota FKIK dari Kecamatan Kembang mengusulkan agar semua kantor dan tugu batas kota dan pagar-pagar kantor dilengkapi dengan ornamen ukiran. Sedangkan anggota FKIK dari Unsur Kodim 0719, Candra mengusulkan upah tenaga ukir harus di perhatikan. Jangan sampai perajin terampil kita pindah keluar daerah atau bahkan keluar negeri. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ini Beberapa Kelemahan Industri Ukir Jepara

Salah seorang petugas di pusat promosi ukir Jepara menunjukkan sejumlah produk yang dijual. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang petugas di pusat promosi ukir Jepara menunjukkan sejumlah produk yang dijual. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Memiliki sebutan kota ukir tak membuat Kabupaten Jepara adem ayem dengan perkembangan industri mebeler yang sudah ada. Ada beberapa kelemahan yang harus diperhatikan serius oleh pemerintah maupun pihak-pihak terkait.

Hal itu disampaikan dosen fakultas sains dan teknologi Unisnu Jepara, Sutarya dalam acara forum koordinasi informasi dan kehumasan (FKIK) Kabupaten Jepara, Selasa (3/11/2015). Menurutnya, ada sejumlah kelemahan yang ada di industri mebel Jepara.

”Diantara kelemahan yang ada di internal sendiri adalah tingkat efisiensi dan produktivitas yang rendah, belum adanya standar ekspor, lemahnya penjualan langsung, rendahnya Sumber Daya Manusia dibidang manajerial, kurangnya promosi,” ujar Sutarya.

Selain itu, kata dia, industri mebel di Jepara kurang cepat menaggapi isu-isu internasional. Padahal hal itu juga sangat penting untuk mengembangkan bidang industri tersebut.

Sementara itu, Ketua FKIK Kabupaten Jepara, Hadi Priyanto mengatakan, industri kerajinan mebel ukir Jepara yang selama 15 tahun menjadi pilar utama Produk Domestik Regional Brutto (PDRB) memang masih memiliki banyak kelemahan.

”Harapan kami, pelestarian mebel ukir akan menjadi keinginan dan tekad bersama,” ujarnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Naiknya Dollar Membuat Eksportir Mebel Jepara Senang dalam Kegalauan

 

Aktivitas industri mebel di Jepara. Bagi sebagian eksportir mebel, naiknya Dollar justru membuat khawatir karena kebingunan dalam membuat perhitungan yang lebih akurat. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Aktivitas industri mebel di Jepara. Bagi sebagian eksportir mebel, naiknya Dollar justru membuat khawatir karena kebingunan dalam membuat perhitungan yang lebih akurat. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Berbeda dengan kebanyakan eksportir mebel yang menganggap naiknya mata uang Dollar terhadap Rupiah, ibarat durian runtuh alias sangat menguntungkan. Bagi sebagian eksportir lain menganggap kondisi ini justru mengkhawatirkan.

”Untung, tapi mengkhawatirkan,” kata salah satu eksportir mebel Jepara, Yusuf Harnanto kepada MuriaNewsCom, Jumat (28/8/2015).

Menurutnya, kenaikan Dollar terhadap Rupiah untuk saat ini dianggap sebagai sesuatu yang dramatis. Sebab, lonjakan Dollar terlalu cepat hingga menembus ke angka Rp 14 ribu per-Dollar.

”Ini hanya kesenangan sesaat saja, ibaratnya kesenangan dalam kegalauan,” tandasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kondisi yang dramatis tersebut justru membuat nilai mata uang tidak stabil. Hal itu tentu saja membuat para eksportir kebingunan dalam membuat perhitungan yang lebih akurat.

”Harapannya nilai tukar mata uang dapat stabil. Sebab, kami butuh perhitungan yang akurat mengenai bisnis kami,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jika memang naiknya nilai tukar Dollar terhadap Rupiah ini dapat stabil tentu bagi eksportir mebel di Jepara sangat diuntungkan. Hanya saja, di sektor lain tentu juga tidak sedikit yang dirugikan.

”Kalau eksportir mebel, yang keuntungannya tinggi adalah yang menggunakan bahan lokal. Di Jepara sampai saat ini masih mengandalkan bahan lokal,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Disdikpora Dinilai Tidak Cekatan Urus Izin Jurusan Dekorasi Ukir SMK Negeri 2 Jepara

Hadi Priyanto,  Ketua Lembaga Pelstari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara. (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

Hadi Priyanto, Ketua Lembaga Pelstari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara. (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

JEPARA – Ketua Lembaga Pelstari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara Hadi Priyanto menyayangkan langkah dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara yang lambat dalam menangani masalah minimnya animo siswa yang masuk ke Jurusan Ukir. Lanjutkan membaca

Pelestari Ukir Desak Pemkab Jepara untuk Berikan Insentif Kepada Siswa yang Mendaftar Jurusan Ukir

Hadi Priyanto,  Ketua Lembaga Pelstari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara. (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

Hadi Priyanto, Ketua Lembaga Pelstari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara. (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

JEPARA – Lembaga pelastari seni ukir telah menyurati Bupati Jepara agar memperhatikan lebih serius mengenai minimnya animo siswa yang masuk ke jurusan dekorasi seni ukir di SMK Negeri 2 Jepara. Perhatian yang dimaksud adalah dengan memberikan insentif, di antaranya pembebasan uang gedung, uang SPP dan bantuan peralatan pahat untuk siswa. Lanjutkan membaca

Lembaga Perlestari Seni Ukir Surati Bupati Jepara, Minta Ada Intervensi Pemerintah

Hadi Priyanto,  Ketua Lembaga Pelstari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara. (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

Hadi Priyanto, Ketua Lembaga Pelstari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara. (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

JEPARA – Lembaga pelestari seni ukir Jepara memandang minimnya animo lulusan SLTP masuk ke jurusan dekorasi seni ukir di SMKN 2 Jepara sebagai persoalan yang serius bagi masa depan Jepara. Alasannya, melalui lembaga pendidikan ini diharapkan dapat menjadi sumber pelestarian dan bahkan pengembangan seni ukir melalui jenjang pendidikan formal. Hal tersebut diungkapkan Hadi Priyanto, Ketua Lembaga Pelstari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara. Lanjutkan membaca

Kelas Ukir Sepi Peminat, Regenerasi Pengukir Terancam Gagal

Gubernur Ganjar Pranowo ketika memberikan ceramah kepada siswa SMKN 2 Jepara usai membuka secara resmi jurusan ukir tahun lalu. Kali ini minat siswa untuk masuk jurusan ukir sangat rendah. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

Gubernur Ganjar Pranowo ketika memberikan ceramah kepada siswa SMKN 2 Jepara usai membuka secara resmi jurusan ukir tahun lalu. Kali ini minat siswa untuk masuk jurusan ukir sangat rendah. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Regenerasi pengukir dan pelestari ukir Jepara terancam gagal. Pasalnya, peminat jurusan Dekorasi Seni Ukir yang dibuka di SMKN 2 Jepara sangat rendah. Bahkan, sampai hari ini, Jumat (26/6/2015) jumlah siswa lulusan SMP maupun sederajat hanya ada delapan siswa yang mendaftar melalui online.  Lanjutkan membaca

Warga Jepara Diimbau Ikut Peduli Masa Depan Ukir

Pengukir kayu Jepara. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

Pengukir kayu Jepara. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Warga Jepara terutama kalangan pengusaha mebel diimbau untuk ikut peduli terhadap masa depan ukir Jepara melalui lembaga pendidikan. Hal itu dikatakan Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara Hadi Priyanto. Menurut Hadi, untuk melestarikan ukir di Jepara dibutuhkan bantuan dari semua pihak, termamsuk semua warga Jepara melalui posisi dan perannya masing-masing.  Lanjutkan membaca