Cuaca Buruk, Petambak Udang Vaname di Rembang Rugi Puluhan Juta

 Salah seorang petani tambak udang vaname sedang memantau tambak udang miliknya usai panen. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah seorang petani tambak udang vaname sedang memantau tambak udang miliknya usai panen. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Hujan yang turun terus menerus berdampak pada panen udang vaname di Kabupaten Rembang. Kondisi cuaca berdampak pada hasil panen karena pertumbuhan udang yang tidak normal. Karena udang tumbuh tidak normal, hasil panen turun hingga 50 persen pada musim panen kali ini.

Seorang petani tambak udang di Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Sluke,  Kabupaten Rembang, Tasmuri mengaku, biasanya panen udang vaname pada usia empat bulan dengan hasil 4 ton pada kolam seluas 2.500 meter persegi miliknya.

“Tambak saya seluas 2.500 meter dengan tebaran bibit 200 ribu ekor dapatnya hanya 1,4 ton. Padahal kalau normal dapat memanen 4 ton udang. Usaha budidaya udang vaname kali ini, saya modal sekitar Rp 150 juta, tetapi panen hanya mendapatkan sekitar Rp 120 juta,” ujarnya.

Dengan hasil panen tersebut, dirinya mengalami kerugian hingga puluhan juta. Kerugian ini, juga karena adanya kenaikan harga pakan dan diperparah oleh cuaca buruk dan serangan penyakit WS (white spot/bintik putih), sehingga panen udang tidak maksimal. Kemudian, katanya, harga udang vaname saat ini juga turun, dari Rp 60 ribu per kilogram menjadi Rp 55 ribu kilogram.

Sementara itu, salah seorang pengepul udang Muklis membenarkan jika harga udang vaname mengalami penurunan. “Sebenarnya, kalau harganya fluktuatif ya, naik turun. Dan saat ini memang ada penurunan harga sekitar Rp 5 ribu,” ungkapnya.

Menurutnya, udang vaname yang dibeli dari petani tambak ini, nantinya akan disetor ke pabrik yang ada di Surabaya, yang kemudian katanya, udang tersebut diekspor lagi. Di antaranya ke Jepang.

Editor : Kholistiono

Petani Udang Vaname di Rembang Beralih ke Budidaya Bandeng

Lahan budidaya Udang Vaname yang berada di daerah Tireman Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Lahan budidaya Udang Vaname yang berada di daerah Tireman Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Petani Udang Vaname di Rembang, mulai beralih ke budidaya Bandeng untuk sementara. Hal itu dilakukan, sambil mengistirahatkan lahan agar siap untuk budidaya Udang sub tropis itu lagi.

Mahmud Yahya, petani Udang Vaname di Tireman Rembang, mengaku untuk sementara melakukan budidaya Bandeng sambil menunggu tambaknya siap untuk Udang Vaname. ”Lahan diistirahatkan dulu, sambil menyebar bandeng. Agar lahannya tidak nganggur,” katanya ketika berbincang dengan MuriaNewsCom, Kamis, (24/3/2016).

Sebagian kecil petani Udang Vaname yang mengistirahatkan lahannya, juga melakukan hal serupa seperti yang dilakukan oleh Yahya. ”Kalau di Tireman, hanya beberapa saja yang untuk sementara beralih ke budidaya Bandeng. Ada yang mengistirahatkan lahannya total dan ada juga yang masih tetap budidaya Udang,” imbuhnya.

Ia mengaku memiliki tiga petak lahan tambak. Masing-masing petak, ditebar 6 ekor Bandeng per meter perseginya. Sedangkan, untuk total keseluruhannya ia telah menyebar 22.500 ekor Bandeng untuk lahan seluas 3.000 meter persegi.

”Bandengnya mengambil dari daerah Tayu. Sejauh ini, sudah mengeluarkan 30 juta dengan umur Bandeng yang baru satu bulan. Pertumbuhannya bagus, selain itu risikonya lebih kecil. Jadi kami mencari aman dulu sambil menunggu lahan siap untuk budidaya Udang Vaname,” terangnya.

Sementara ini, Yahya mengaku belum berencana untuk langsung budidaya Udang setelah panen Bandeng nanti. Ia akan melihat dulu rincian biaya dan hasil panen Bandeng dulu.

Baru, kemudian memutuskan untuk melanjutkan budidaya Bandeng atau kembali ke Udang Vaname. ”Kita lihat hasil Bandeng dulu. Kalau Bandeng bisa mendekati hasil udang, maka kita lanjutkan,” tandasnya.

Dijelaskan olehnya, model yang diterapkan untuk budidaya Bandeng dengan cara semi intensif. Sehingga, ia yakin hasil panen Bandeng nantinya cukup memuaskan. ”Dulu tradisional, kalau sekarang semi intensif. Menggunakan kincir dan dikasih makan khusus. Seharusnya, kalau intensif ya potensial dan hasilnya lumayan,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Udang Vaname di Rembang Lesu, Lahan Diistirahatkan

Mahmud Yahya, salah satu petani Udang Vaname di Tireman Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Mahmud Yahya, salah satu petani Udang Vaname di Tireman Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sebagian besar petani Udang Vaname di Rembang mulai mengistirahatkan lahan tambaknya. Sebab, cuaca saat ini dinilai kurang mendukung untuk melanjutkan budidaya Udang Vaname.

Salah satu petani Udang Vaname, Mahmud Yahya warga Tireman mengaku mengistirahatkan lahannya karena takut gagal panen. ”Lahan diistirahatkan, kebanyakan pada gagal panen. Saat ini, cuaca dan suhu tidak mendukung untuk budidaya Udang Vaname,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/3/2016).

Selain itu, juga dikhawatirkan adanya penyakit dan virus yang tidak diinginkan. Sehingga mengganggu pertumbuhan Udang. Oleh karena, dengan diistirahatkan sekaligus dilakukan pembersihan agar lahan kembali steril dan sehat.

”Lahan sudah jenuh dan mulai pembusukan. Dengan diistirahatkan harapannya menjadi sehat dan bisa untuk membudidyakan lagi, khususnya bisa membersihkan virus dan penyakit yang tidak diinginkan,” imbuhnya.

Pengistirahatan lahan, kata Yahya, mulai banyak dilakukan dalam satu sampai dua bulan yang lalu. ”Kalau saya sendiri, baru satu bulan yang lalu. Kalau yang bagus ya sampai tiga bulan untuk mengistirahatkan lahan,” ujarnya.

Dijelaskan olehnya, sekitar 60 sampai 70 persen lahan untuk budidaya Udang Vaname, saat ini sedang diistirahatkan. Meski begitu, masih ada yang memilih untuk tidak mengistirahatkan lahannya dan sudah akan panen.

”Kalau kita lihat teman-teman yang masih terus budidaya sudah ada perkembangan. Pertumbuhannya sepertinya mulai membaik. Kalau dilihat, sepertinya hasil panennya bagus dibandingkan dengan panen yang sebelumnya,” terang Yahya.

Pada panen yang terakhir dilakukan olehnya, Yahya mengaku mengalami kerugian mencapai Rp 2,5 miliar dari total tiga petak tambak yang dimilikinya. Karena, hasil pertumbuhan Udang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga, dana yang digelontorkan untuk modal dan perawatan tidak bisa tertutup oleh hasil panen.

Editor : Titis Ayu Winarni