Edarkan Uang Palsu, Warga Welahan Jepara Ditangkap Polisi 

MuriaNewsCom, Jepara – Dhorikin (43) dicokok  polisi karena edarkan uang palsu (upal). Aksinya terpegok warga, saat ia mencoba membelanjakan uang palsu pecahan 50 ribu untuk membeli rokok, di Desa Mindahan Kidul RT 5 RW 6, Kecamatan Batealit, awal minggu ini.

Kasatreskrim Polres Jepara AKP Suharta mengatakan, terakhir kali warga Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan itu mengedarkan upal untuk membeli satu slot rokok. Ia membeli rokok tersebut dengan pecahan dua lembar 50 ribu upal dan sisanya adalah uang asli.

“Kejadiannya Selasa (27/3/2018) saat itu tersangka membeli rokok merek Sukun Exucutive satu slot. Namun istri korban curiga dengan uang yang diserahkan. Tak terima, pemilik Toko Deni tersebut mengejar pelaku dan menghentikannya di Desa Raguklampitan. Saat itu pemilik toko memberitahukan bahwa uang yang dibelanjakan palsu. Pelaku sedianya akan menukarnya, namun karena korban takut diberi upal lagi, tersangka kemudian diserahkan kepada Polsek Batealit,” jelasnya, Kamis (29/3/2018).

Dari kantong tersangka, disita empat lembar upal dengan pecahan 50 ribu. Masing-masing memiliki nomor seri TKM868822 sebanyak dua buah, selembar berseri FMH437311 dan nomor seri FMH437315.

Berdasarkan pengakuan tersangka, ia membeli rokok tak hanya di Batealit. Ternyata ia juga membeli rokok di dua toko di Nalumsari, di Desa Pancur dan dua lainnya di Desa Raguklampitan. Menurutnya, modus yang digunakan adalah menyisipkan dua lembar upal pecahan 50 ribu di antara uang asli. Adapun satu slot rokok ia beli dengan harga Rp 115 ribu sampai Rp 120 ribu.

“Saya mendapatkan uang palsu ketika berbelanja di Pasar Tanah Abang. Kemudian saya ditawari upal. Mulanya saya tolak karena tak punya uang, tapi orang itu memberikan uang palsu senilai 700 ribu dan meminta saya membelanjakannya. Setelah berhasil, saya diminta menghubungi orang itu lagi untuk menebus uang palsu,” tutur tersangka Dhorikin.

Dirinya mengaku, menyasar toko-toko dikawasan perdesaan. Hal itu karena, pedagang toko di desa tidak begitu memerhatikan uang asli dan upal.

Editor: Supriyadi

Sekeluarga di Sragen Jadi Sindikat Pembuat Uang Palsu, Barang Bukti Dibuang di Pinggir Kali

MuriaNewsCom, Sragen – Seorang bapak bernama Sujintoro (51), anak dan menantunya di Sragen menjadi dalang pengedar dan pembuat uang palsu. Kelompok ini membuat dan mengedarkan uang palsu di pasar-pasar tradisional dengan modus membelanjakan uang palsu dan mendapat keuntungan dari uang kembalian.

Sindikat keluarga pengedar upal itu diketahui terdiri dari Sujintoro (51) warga Dukuh Jimbar Kulon, Guworejo, Karangmalang, Sragen, putrinya Hartatik (30), Yunarmi alias Yunna (20).

Yunna ditangkap bersama kakaknya,  Hartatik alias Tatik saat melakukan aksinya di di wilayah Sukodono, Rabu (21/3/2018) pagi. Keduanya beraksi dengan menyamar sebagai pembeli yang bergerilya membelanjakan upalnya ke sejumlah pedagang Pasar Jatitengah, Kecamatan Sukodono.

Dari pengembangan penangkapan itu diketahui peran keluarga ini sebagai sindikat pembuat dan pengedar uang palsu. Kamis (22/3/2018) kemarin, petugas gabungan dari Polres Sragen melakukan penggerebekan di rumah Sujiantoro.

“Dari hasil pemeriksaan terhadap dua tersangka Tatik dan Yunna oleh Polsek Sukodono, kemudian diungkap jaringan peredaran uang palsu yang ternyata masih satu keluarga, anak dan bapak yakni tersangka Yunna dan Sujintoro,“ kata Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman.

Sujintoro dihadirkan dengan dikawal ketat petugas. Sontak kedatangannya dalam kondisi terborgol bersama puluhan polisi membuat keluarga di rumah kaget. Tak sedikit para tetanggapun juga ikut penasaran dengan datangnya puluhan polisi di rumah Sujintoro.

Penggerebegan dan penggeledahan berlangsung dramatis. Melihat suaminya dalam keadaan terborgol dengan pengawalan ketat polisi, ia langsung menangis histeris.

Temuan barang bukti pembuat uang palsu yang dibuang di pinggir sungai. (Polres Sragen)

Dari hasil pengembangan diketahui jika Sujiantoro merupakan aktor dari pembuatan dan peredaran uang palsu itu. “Sujintoro, diduga tak hanya sebagai dalang peredaran uang palsu di Sragen. Namun juga pembuat uang palsu yang telah diedarkan oleh anaknya Yunna bersama istri kakaknya yang bernama Hartatik alias Tatik,“ kata AKBP Arif Budiman.

Dari penggeledahan yang dilakukan di rumah tersangka Kamis (22/3/2018) pagi, awalnya polisi hanya menemukan master CD, printer, tas dan sejumlah kuitansi. Tidak ada brankas atau temuan upal dalam jumlah besar di rumah yang terletak di tepi sungai itu.

Namun, temuan menggemparkan datang petang hari ketika tim berhasil mengorek keterangan dari anak tersangka, Ahmad (32). Ahmad yang merupakan suami dari putri sulung Sujintoro, Hartatik alias Tatik, akhirnya buka suara bahwa sehari sebelumnya, dirinya sempat diminta ayahnya untuk membuang sekarung barang ke sungai di samping rumahnya. Karung itu berhasil ditemukan jarak 500 meter dari rumah tersangka.

“Dari pengembangan tersebut, kemudian terbongkar peralatan pembuatan uang palsu berupa printer dan alat sablon berikut pernak pernik peralatan lain, justru dari keterangan anak Sujintoro. Hal ini ia akui setelah dimintai keterangan oleh penyidik pascapenggeledahan di rumah orang tuanya, “ jelas AKBP Arif.

Kapolres menjelaskan, dengan temuan sekarung alat-alat printer dan sablon itu pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kemungkinan Sujiantoro memproduksi sendiri atau memiliki pabrik upal di rumahnya.

“Itu masih kita dalami dan terus kita kembangkan. Yang jelas, ada temuan signifikan yaitu alat-alat yang memang mengarah untuk mencetak uang palsu,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Uang Palsu Beredar Jelang Pilbup Kudus, Begini Kata Polres

MuriaNewsCom, Kudus – Polres Kudus mengingatkan warga agar waspada dengan peredaran uang palsu, jelang Pilkada 2018. Hal itu seiring ditemukannya pelaku pengedar uang palsu, yang beroperasi sebulan belakangan.

“Bahwa fenomena uang palsu banyak beredar pada momen-momen besar yang terjadi di Indonesia. Terutama pileg, pilpres, kita sedang menghadapi pilkada (Pilbup Kudus 2018). Dan menjelang pilkada uang palsu banyak beredar di pasar tradisional,” tutur Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning, Kamis (15/3/2018).

Ia menyebut, penangkapan pengedar uang palsu di Kudus didahului oleh informasi masyarakat. Para tersangka yang ditangkap, mengaku memang sengaja mengedarkan uang tersebut di pasar tradisional.

Pihaknya menduga, ada ratusan lembar upal yang telah beredar di Kudus. Hal itu berdasarkan pengakuan pelaku pengedar, yang telah mengedarkan 24 juta (240 lembar) uang palsu pecahan 100 ribu.

“Dalam kasus tersebut kami dapat menyita 69 lembar uang palsu pecahan 100 ribu. Sementara sisanya sudah beredar di masyarakat,” tambahnya.

Baca : Edarkan Uang Palsu di Pasar Dawe, Aswati Nangis di Kantor Polisi

Dirinya mengingatkan, jika dilihat sekilas mata uang palsu tersebut hampir mirip dengan uang asli. Hanya saja, bila warga mau melihat lebih jeli, uang palsu tersebut memiliki warna kuning (di balik logo Garuda) yang lebih menyolok. Jika diraba dengan teliti, terdapat perbedaan tekstur dengan yang asli.

“Bila diterawang seksama pasti kelihatan. Namun bila transaksi dilakukan malam atau dini hari pasti tidak kelihatan,” jelasnya.

Oleh karenanya, ia mengimbau warga berhati-hati jika ada orang yang membelanjakan uang pecahan 100 ribu. “Harap diteliti dengan lebih cermat,” imbau Gurning.

Editor : Ali Muntoha

Edarkan Uang Palsu di Pasar Dawe, Aswati Nangis di Kantor Polisi

MuriaNewsCom, Kudus – Polres Kudus mencokok lima orang yang mengedarkan uang palsu pecahan Rp 100 ribu, di Pasar Dawe. Modus operandi yang dilakukan tersangka, dengan membelanjakan uang palsu di pasar-pasar tradisional, untuk mendapatkan kembalian.

Kelima tersangka itu adalah Eko Purwanto (35) warga Desa Klumprit, Kecamatan Gebog, Aswati (41) warga Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Risky Pamungkas (21) warga Desa Klumprit, Kecamatan Gebog, Muhammad Sumardi (27) warga Singocandi, Kecamatan Kota dan Suripan (59) warga Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu.

Dalam kasus itu, masing-masing tersangka memunyai peran tersendiri. Seperti Suripan (59), ia bertindak sebagai pemasok uang palsu dari Surabaya. Di depan pewarta ia menyebutkan, hanya menjadi suruhan untuk membeli uang palsu.

“Saya sudah dua kali transaksi, sekali transaksi saya beli dengan uang asli sebesar Rp 5 juta,dapat uang palsu Rp 15 juta. Lalu saya setorkan kepada Eko, karena yang menyuruh dia,” ujarnya.

Ia mengaku sudah sebulan ini bertransaksi uang palsu, dengan warga Surabaya itu. Menurutnya, ia tidak mengedarkan ke pasar-pasar, tugas itu menurutnya dijalankan oleh Eko.

Sementara seorang tersangka lain, Aswati (41) mengaku terpaksa mengedarkan upal karena terjerat utang. “Saya terpaksa karena saya banyak utang. Saya sudah belanjakan uang palsu sebesar Rp 200 ribu ujarnya sambil terisak.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, kelima tersangka menggunakan modus membeli sesuatu di pasar tradisional. Lalu uang kembalian (asli) dari pedagang tersebut menjadi untung bagi para pelaku.

“Mereka membelinya dengan perbandingan 1:3, artinya satu juta uang asli ditukar tiga juta uang palsu. Mereka membelanjakan uang pecahan Rp 100 ribu di pasar tradisional, untuk menghindari kecurigaan,” jelas Gurning.

Selain kelima tersangka, turut disita pula 69 lembar pecahan seratus ribu uang palsu senilai (Rp 6.900.000). Sebuah kendaraan bermotor, tiga buah telepon genggam, uang tunai Rp 164.000 dan 20 sachet kopi bubuk yang diduga hasil transaksi uang palsu.

Mereka terancam pidana kurungan 15 tahun penjara, karena melanggar pasa 36 (3) UU RI No 7/2011 tentang mata uang subsider pasal 245 KUHP.

Editor : Ali Muntoha

Musim Pilkada, Peredaran Uang Palsu Meningkat

MuriaNewsCom, Semarang – Seiring masuknya tahun politik di 2018 dan 2019, peredaran uang palsu di Jawa Tengah ternyata meningkat. Pada awal tahun saja, Bank Indonesia menemukan 3.250 lembar uang palsu dari berbagai daerah di provinsi ini.

Kebutuhan uang pada tahun ini memang meningkat seiring meningkatnya belanja untuk kegiatan politik. Apalagi di Jateng pada tahun ini digelar Pilgub dan pilkada di tujuh daerah.

Meningkatnya kebutuhan uang ini karena praktik politik uang masih belum bisa dihilangkan. Oleh karenanya, Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah mengimbau warga untuk mewaspadai beredarnya uang palsu.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Hamid Ponco Wibowo mengatakan, uang palsu yang berhasil diamankan berasal dari bank-bank yang ada provinsi ini. Penemuannya terjadi saat bank umum menyetorkan yang ke Bank Indonesia.

Pihaknya meminta kepada bank umum untuk lebih mengetatkan pengawasan terhadap uang yang beredar.

“Sosialisasi kepada masyarakat sangat perlu. Karena banyak yang belum mengetahui bagaimana cara mengenali uang asli. Padahal mudah untuk bisa mengenali uang asli, tanpa menggunakan alat,” katanya.

Anggota DPR RI komisi XI, H Alamudin Dimyati Rois meminta warga untuk lebih berhati-hati dan teliti saat menerima uang. Masyarakat pedesaan menjadi sasaran mudah peredaran uang palsu karena minimnya pengetahuan.

“Ini tahun politik pasti banyak beredar uang palsu. Makanya agar tidak menerima uang palsu warga harus hari-hati dan lebih mengenali cirri-ciri uang asli,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

 

Pasangan Suami Istri di Tegal Nekat Edarkan Uang Palsu, Kapok Setelah Dikecrek Polisi

MuriaNewsCom, Tegal – Sepasang suami istri Turiah dan Acmad Sodikin, warga Kecamatan Grinsing, Kabupaten Batang, dibekuk aparat Polres Tegal Kota karena mengedarkan uang palsu. Mereka ditangkap dari hasil pengembangan penangkapan tiga orang pengedar uang palsu, yang lebih dulu dibekuk polisi.

Pasangan suami istri ini ditangkap polisi saat berada di wilayah Purbalingga. Kapolres Tegal Kota, AKBP Jon Wesly Arianto mengatakan, pasangan suami istri ini ditangkap Selasa (6/2/2018) sore, setelah pagi harinya berhasil menangkap tiga pelaku.

Tiga pengedar upal yang pertama kali ditangkap yakni Suryani, warga Jalan Bawal, Kelurahan Tegalsari, Kota Tegal, Ahmad Suko Basuki dan Nurman Hakim, warga Bumiayu, Kabupaten Brebes.

”Ketiganya ditangkap saat melintas di Jalan Lingkar Utara (Jalingkut) daerah Tegalsari, Kota Tegal, Selasa pagi, dan sore harinya menangkap dua pengedar lain,” katanya.

Menurutnya, pengungkapan kasus uang palsu ini terungkap berdasarkan laporan masyarakat, yang selanjutnya segera melakukan penyelidikan hingga akhirnya dapat menangkap pelaku. Dalam pengungkapan kasus ini, pihaknya juga bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) untuk mengidentikasi sejumlah uang palsu.

Kapolres menjelaskan, modus operandi yang dilakukan pelaku, yakni membeli uang palsu senilai Rp 3 juta, dengan harga Rp 1 juta. Dari hasil penangkapan lima pelaku, polisi berhasil mengamankan uang palsu pecahan 100 ribu senilai Rp 72.300.000.

Selain itu, juga mengamankan uang asli hasil kejahatan sebanyak Rp 1.098.000, tiga buah tas dan 5 buah Handphone serta 1 unit Toyota Agya warna putih Nopol G-8807-BJ.

Salah satu pelaku, Suryani diketahui sebagai residivis kasus yang sama. Bahkan ia belum lama ini baru keluar dari penjara, dan nekat kembali mengedarkan uang palsu.

”Saya dapat keuntungan Rp 1,5 juta dari mengedarkan uang palsu senilai Rp 10 juta, yang saya beli dengan harga Rp 3 juta,” akunya.

Akibat perbuatan tersebut para pelaku bakal dijerat dengan pasal 36 ayat 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang juncto pasal 245 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Hingga saat ini aparat kepolisian masih mengembangkan kasus ini. Terutama untuk memburu bandar besar jaringan pengedar upal ini.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan BI Tegal, Suyatno memastikan, bahwa barang bukti yang telah diamankan merupakan uang yang tidak asli dan disalahgunakan. Masuk kategori palsu dan tidak bernilai.

Lebih lanjut Suyatno menyampaikan, selama kurun waktu tahun 2017, di wilayah Kota Tegal telah diamankan kurang lebih 4.000 lembar uang palsu yang beredar.

”Jenis pecahan dimoninasi nominal besar antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu karena disebabkan nilai ekonomis tinggi,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Berantas Peredaran Uang Palsu di Pati, Kapolsek Sukolilo Ini Nyamar Jadi Pembeli Upal dan Kehilangan Rp 2 Juta

Jajaran Polsek Sukolilo berhasil membekuk dua pelaku pengedar uang palsu yang beroperasi di kawasan Sukolilo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kapolsek Sukolilo Iptu Supriyono harus kehilangan uangnya senilai Rp 2 juta untuk menjebak pengedar uang palsu yang beroperasi di wilayah Sukolilo, Pati.

Dia bersama anggota juga harus menyamar sebagai warga biasa, sebelum akhirnya bisa membekuk dua orang pengedar uang palsu. Dua pengedar uang palsu asal Maitan, Tambakromo dan Japah, Blora itu dibekuk di kawasan Grobogan.

“Awalnya kami mendapatkan informasi dari masyarakat. Kami lantas menindaklanjuti dengan mencari barang bukti. Kami akhirnya memutuskan untuk menyamar untuk membekuk pelaku,” ungkap Iptu Supri, Sabtu (14/10/2017).

Baca: Edarkan Uang Palsu, Warga Pati dan Blora Diciduk Polisi

Saat itu, dia bersama anggotanya pura-pura menukarkan uang asli dengan uang palsu senilai Rp 2 juta. Ada dua pelaku yang berperan sebagai penerima uang asli dan pemberi uang palsu.

Setelah uang senilai Rp 2 juta itu diserahkan, pelaku kabur menggunakan motor Sport berkecepatan tinggi. Sementara satu rekannya berperan memberikan uang palsu kepada anggota polisi yang menyamar.

“Penerima uang asli kabur, kami kejar tidak tertangkap akhirnya kami bekuk pelaku yang berperan sebagai pemberi uang palsu. Akibatnya, kami harus kehilangan uang Rp 2 juta. Itu tidak masalah karena demi warga Sukolilo yang menjadi sasaran peredaran uang palsu,” jelasnya.

Baca: CBR Hantam Truk Dam di Bumiayu Pati

Uang palsu yang diedarkan pelaku merupakan jenis KW 1 yang sangat mirip dengan uang asli. Bahkan, uang itu sepintas sama dengan uang asli bila tidak dicermati dengan seksama.

Uang palsu yang diamankan polisi berupa pecahan Rp 100 ribu sebanyak 50 lembar. Rencananya, uang palsu itu akan dilakukan uji laboratorium Polda Jawa Tengah.

Pihaknya mengimbau kepada warga Sukolilo untuk berhati-hati saat bertransaksi dengan seseorang. Pasalnya, pengedar uang palsu menyasar ke pasar-pasar tradisional di mana orang bertransaksi tanpa menggunakan mesin detektor.

Editor:Supriyadi

Edarkan Uang Palsu, Warga Pati dan Blora Diciduk Polisi

Polisi berpakaian sipil membekuk pengedar uang palsu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dua pengedar uang palsu berinisial SB (59) warga Maitan, Tambakromo dan KJ (55) warga Padakan, Japah, Blora diciduk petugas Polsek Sukolilo.

Penangkapan kedua pelaku tersebut, setelah polisi mendapatkan laporan dari Bambang Kusman (55) yang saat itu menjadi korban peredaran uang palsu.

“Korban datang ke rumah KJ untuk pijat, karena profesinya sebagai tukang pijat. Saat memberikan uang kembalian, pelaku memberinya uang pecahan Rp 50 ribu palsu,” ujar Kapolsek Sukolilo Iptu Supriyono, Kamis (12/10/2017).

Sebelumnya, korban tidak tahu bila uang yang diberikan pelaku ternyata palsu. Dia baru tahu saat membelanjakan uang tersebut dan ditolak pemilik warung karena palsu.

Merasa jadi korban, Bambang lantas melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Tak butuh waktu lama, polisi kemudian menangkap pelaku.

“Kami lakukan penggeledahan di rumah pelaku untuk mencari barang bukti. Sedikitnya ada 50 lembar pecahan Rp 100 ribu dan satu lembar Rp 50 ribu. Uang palsu itu diamankan untuk barang bukti dan pelaku kami tangkap,” jelas Iptu Supriyono.

Penangkapan KJ yang merupakan warga Maitan berbuntut pada penangkapan SB, warga Japah, Blora. Sebab, uang palsu itu didapatkan KJ dari SB.

Saat ini, polisi masih terus melakukan pendalaman kasus. Hal itu untuk melacak kemungkinan adanya sindikat peredaran uang palsu di Pati dan sekitarnya.

Editor: Supriyadi

Bayar PSK Cantik dengan Uang Palsu, Lelaki Hidung Belang di Blora Ini Dicokok Polisi

 

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Blora – Nasib nahas dialami Sunardi alias Brewok warga Desa Pilang, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora. Pria berusia 30 tahun itu dicokok polisi setelah mengencani PSK cantik di Blora. Gara-garanya, ia ketahuan menggunakan uang palsu untuk pembayaran.

Kejadian itu bermula ketika Sunardi alias Berok (30) datang ke lokalisasi Sumber Agung, Cepu. Di sana Sunardi mengencani perempuan PSK muda dan beli miras.

Begitu syahwatnya terpuaskan pemuda itu membayar perempuan tersebut beserta miras sebesar Rp 700 ribu. Namun uang kertas yang dipakai untuk membayar ternyata palsu.

“Waktu itu tersangka datang sendirian, dengan membeli minuman dan mengencani sorang PSK,” kata Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Herry Dwi dalam rilis Humas Polres Blora, Selasa (10/10/2017).

Baca Juga: Polisi di Rembang Pergoki Istrinya Asyik Berduaan dengan Oknum TNI di Rumahnya

Sebelumnya, lanjut Kasat Reskrim, saat di wisma tersangka menyuruh seorang PSK untuk membeli minuman dan menemaninya dengan menyodorkan uang 200 ribu.

“Tanpa curiga uang palsu itu diterima dan memberikannya minuman,” terang Kasat Reskrim.

Selanjutnya tersangka mengajak seorang PSK untuk kencan berhubungan badan dengan membayar Rp 300 ribu. Tanpa curiga juga PSK tersebut menerima uang palsu dari tersangka, setelah melayani di ranjang.

Alangkah terkejutnya korban saat hendak membeli pulsa paketan Internet uangnya ditolak karena uangnya palsu.

Merasa tidak terima, PSK tersebut bersama saksi Subandriyo (30) melaporkannya ke Polsek Cepu dengan membawa barang bukti uang palsu dan identitas tersangka.

“Korban melaporkan kejadian yang dialaminya ke Polsek Cepu, dan langsung ditindak lanjuti. Kurang dari 48 jam pelaku berhasil di amankan Tim Buser,” terang AKP Herry Dwi.

Dari hasil pemeriksaan sementara, ternyata Sunardi merupakan sindikat peredaran uang palsu yang ada di Kabupaten Jepara.

Atas perbuatannya tersangka dijerat dengan Pasal 26 ayat 2 dan 3 juncto Pasal 36 ayat 2 dan 3, UU RI nomor 7 tentang Mata Uang, sub Pasal 245 KUHP dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

“Kasus ini masih kami kembangkan, untuk mengungkap sindikat uang palsu lainnya,” tutup AKP Herry Dwi.

Untuk keperluan pemeriksaan, tersangka dijebloskan ke ruang tahanan Polres Blora. Barang bukti yang disita antara lain uang pecahan Rp 100 ribu sebanyak 7 lembar.

Editor: Supriyadi

Beli Rokok dengan Uang Mainan, Pelajar di Pati Ini Berurusan dengan Polisi

Petugas Polsek Wedarijaksa memberikan pembinaan kepada AU, pelajar salah satu SMK di Pati yang membelanjakan uang mainan untuk membeli rokok, Jumat (16/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas Polsek Wedarijaksa memberikan pembinaan kepada AU, pelajar salah satu SMK di Pati yang membelanjakan uang mainan untuk membeli rokok, Jumat (16/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pelajar di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Pati berinisial AU (17), terpaksa berurusan dengan polisi, lantaran membeli rokok dengan uang mainan. AU yang merupakan warga Langen, Juwana, langsung diamankan polisi, Jumat (16/12/2016).

Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum mengatakan, AU membelanjakan uang mainan yang mirip uang asli senilai Rp 380 ribu di sebuah kios sembako di Desa Bumiayu, Wedarijaksa. Semua uang mainan pecahan Rp 100 ribu, Rp 20 ribu dan Rp 10 ribu tersebut dibelanjakan untuk membeli rokok.

“Saya mendapatkan informasi dari kepala desa setempat. Informasi yang kami terima merupakan uang palsu. Namun, setelah kami cek bersama dengan enam anggota kami, uangnya ternyata bertuliskan uang mainan,” ungkap AKP Rochana.

Untuk menghindari amukan massa, pelajar tersebut dibawa ke Mapolsek Wedarijaksa untuk diberikan pembinaan. Kades setempat dan orang tua AU dihadirkan untuk membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Uang mainan yang digunakan pelajar salah satu SMK di Pati untuk membeli rokok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Uang mainan yang digunakan pelajar salah satu SMK di Pati untuk membeli rokok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Terhitung, uang pecahan yang diamankan, antara lain Rp 100 ribuan sebanyak dua lembar, empat lembar uang pecahan Rp 10 ribu, dan sisanya uang pecahan Rp 20 ribu hingga berjumlah Rp 380 ribu. Pemilik kios sembako sendiri sadar, setelah uang yang diterima ternyata tebal, licin, dan bertuliskan uang mainan.

Dia mengimbau kepada masyarakat, terutama pedagang untuk jeli menerima uang yang dibelanjakan dari pembeli. Kendati sepintas sama, tetapi uang mainan sangat mudah dibedakan. Sebab, uang mainan dipastikan lebih licin ketika dipegang dan ada keterangan uang mainan.

Editor : Kholistiono

Polisi Buru Bandar Pengedar Uang Palsu di Pati

Uang palsu pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 yang disita polisi dari pelaku sebagai barang bukti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Uang palsu pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 yang disita polisi dari pelaku sebagai barang bukti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati terus memburu bandar atau pelaku yang terlibat dalam jaringan pengedar uang palsu di Pati. Hal itu dilakukan, setelah polisi membekuk Kulnaim, warga Tlogorejo, Tlogowungu yang tertangkap saat mencoba mengedarkan uang palsu di kawasan toserba SPBU Joyokusumo, Pati, Jumat (21/10/2016) malam.

“Pelaku sudah diamankan di Mapolres Pati. Dia sudah disidik dan diinterogasi terkait dengan asal usul uang palsu yang diedarkan hingga jumlahnya mencapai Rp 30,75 juta. Jaringan itu akan diburu, diberantas hingga tuntas,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Sabtu (22/10/2016).

Saat ini, pihaknya tengah mengembangkan kasus tersebut untuk mencari pelaku lain yang terlibat dalam pengedaran uang palsu. Pengembangan kasus juga diharapkan bisa membongkar bila ada kemungkinan bandar yang memproduksi uang palsu.

“Kami tidak mengenal kompromi untuk pelaku kejahatan di Pati. Pelaku, baik pengedar, bandar atau produsen uang palsu akan terus kami kejar. Ini sudah meresahkan masyarakat,” imbuh Kompol Sundoyo.

Karena itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada bila ada kemungkinan uang palsu dalam melakukan transaksi. Pasalnya, uang palsu saat ini bentuknya hampir mirip dengan uang asli, sehingga butuh kejelian.

“Cara paling sederhana untuk membedakan uang asli dan palsu dengan 3D, dilihat, diterawang dan diraba. Uang asli warnanya lebih terang. Di pojok kanan bawah ada optical variabel ink, sisi belakang uang asli pasti ada benang pengaman yang ditanam dalam uang,” tuturnya.

Bila diraba, angka, huruf dan gambar pahlawan akan terasa kasar pada uang asli. Beda dengan uang asli yang terasa licin. Uang asli juga terdapat gambar pahlawan bila diterawang.

Pihaknya juga mengimbau kepada warga untuk tidak segan melaporkan kepada polisi bila ada indikasi peredaran uang palsu. Bila dibiarkan, mereka akan melenggang dengan bebas dan menikmati transaksi dari uang palsu yang diedarkan.

Editor : Kholistiono

Masyarakat Jepara Diminta Waspadai Uang Palsu

 Salah satu kasus uang palsu yang ditangani Polres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)


Salah satu kasus uang palsu yang ditangani Polres Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

  MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat di Kabupaten Jepara diminta untuk lebih waspada terhadap peredaran uang palsu di momen bulan suci Ramadan sampai lebaran nanti. Meski sampai saat ini belum ditemukan uang palsu, namun, jika mengaca tahun-tahun sebelumnya, menjelang lebaran ditemukan banyak beredar uang palsu.

Hal ini disampaikan Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin. Menurutnya, Meskipun pihaknya belum menerima laporan dari masyarakat terkait peredaran uang palsu, namun, informasi terkait beredarnya upal di tengah-tengah masyarakat sudah didapat.

“Kasus peredaran uang palsu di Jepara bukan termasuk kasus yang menonjol. Namun bukan berarti luput dari perhatian. Kami meminta masyarakat untuk selalu waspada terhadap peredaran uang palsu,” ujar Kapolres.

Selain berkaca dari tahun-tahun lalu, pihaknya juga mengaca dari sejumlah kasus di kota-kota lain. Menjelang lebaran seperti saat ini uang palsu banyak beredar. “Saat Ramadan seperti sekarang, perputaran uang cepat sekali. Nah, biasanya para pelaku memanfaatkan momentum seperti saat ini,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, biasanya para pelaku mengedarkan uang palsu pada malam hari. Terget sasaran peredarannya tidak lagi toko-toko besar, melainkan warung-warung kecil di tepi jalan. Modusnya, uang palsu digunakan untuk berbelanja barang-barang kebutuhan.“Apalagi sekarang para pelaku pemalsu uang ini sudah canggih-canggih. Kalau dilihat sekilas, upal benar-benar menyerupai uang asli,” ungkapnya.

Ia menambahkan, agar tidak menjadi korban peredaran uang palsu, masyarakat diminta jeli meneliti uang. Minimal dengan melihat, meraba dan menerawang. Uang asli, jika diraba memiliki permukaan kasar. Itu karena angka nilai uang dicetak timbul.

Berdasarkan catatan MuriaNewsCom, sepanjang tahun 2015, tercatat tiga kasus peredaran upal berhasil diungkap jajaran Polres. Jumlahnya mencapai puluhan juta. Seperti kasus pada April 2015, belasan juta uang palsu dari Kabupaten Kudus diedarkan di wilayah Kabupaten Jepara berhasil diungkap. Modus peredarannya dengan membelanjakan uang palsu di warung-warung kecil.

Editor : Kholistiono

 

Niat Cari Dukun di Pati, Pria Asal Banyuasin malah jadi Pengedar Uang Palsu

Tiga pelaku pembuat uang palsu di Pati yang sudah diamankan polisi di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tiga pelaku pembuat uang palsu di Pati yang sudah diamankan polisi di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang berinisial TA yang merupakan warga dari Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan nekat menjadi pengedar uang palsu, karena gagal mencari dukun di Pati. Hal itu dikatakan Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi.

Ia mengatakan, TA awalnya jauh-jauh datang ke Pati untuk mencari dukun. Hal itu diharapkan bisa menjadikannya kaya, karena memang Pati dikenal sebagai ‘Kota Seribu Paranormal’.

Di tengah jalan, TA bertemu dengan orang Pati berinisial YN. Dari pertemuan tersebut, TA akhirnya tergiur untuk membeli uang palsu dan mengedarkannya di kampung halamannya di Banyuasin.

“Daripada cari dukun, lebih baik bikin uang palsu. Nanti diedarkan di sana. Itu sama-sama bisa bikin kaya,” ujar Agung menirukan pengakuan TA dalam penyidikan.

Saat digerebek polisi, sedikitnya ada uang palsu Rp 50 juta yang sudah disablon dan siap dipotong-potong menjadi selebar uang asli. Biasanya, pengedar rela membeli uang palsu satu banding tiga. Artinya, uang Rp 10 juta asli bisa ditukar dengan uang Rp 30 juta palsu.

“Mereka pindah-pindah, dari satu kos ke kos yang lain sehingga sulit dilacak. Terakhir, mereka ngekos di Desa Geritan, Kecamatan Pati saat kami tangkap,” tuturnya.

Akibat perbuatannya, pelaku pembuat dan pengedar uang palsu diancam dengan pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang jo Pasal 55 ayat 1. “Mereka terancam mendapatkan pidana maksimal 15 tahun penjara,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami

Terbongkar! Modus Pengedaran Uang Palsu di Pati Sasar Pasar Tradisional

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menunjukkan uang palsu hasil sablonan yang berhasil diamankan di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menunjukkan uang palsu hasil sablonan yang berhasil diamankan di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pasar modern seperti swalayan yang dilengkapi mesin deteksi uang elektronik membuat pengedar uang palsu memilih pasar tradisional sebagai sasaran utamanya. Hal itu diungkap Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi, usai menggerebek rumah kos di Desa Geritan, Kecamatan Pati yang digunakan sebagai tempat produksi uang palsu, Rabu (27/1/2016).

”Sasarannya pasar tradisional dan toko-toko yang tidak dilengkapi mesin deteksi uang. Mereka membelanjakan dalam jumlah kecil, sehingga tidak terlalu ketahuan,” ujar Agung kepada MuriaNewsCom, Kamis (28/1/2016).

Ia mengatakan, uang yang dibelanjakan biasanya satu lembar Rp 50 ribuan hingga Rp 100 ribuan dengan nominal belanja mulai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. ”Selain dapat barang, mereka juga menukar uang palsu menjadi uang asli. Lagipula, belanja dalam nominal sedikit tidak terlalu ketahuan. Begitu modus dari pelaku,” imbuhnya.

Saat ini, pihaknya masih terus mendalami kasus peredaran uang palsu tersebut. Kendati modusnya sangat konvensional, tetapi peredaran uang palsu sangat meresahkan masyarakat.

Dari hasil penyidikan sementara, polisi menetapkan YN sebagai pengedar uang palsu yang didapat dari Pati ke berbagai pasar tradisional di Banyuasin, Sumatera Selatan. Sementara itu, SKD berlaku sebagai otak di balik pembuatan uang palsu.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kasus Rumah Produksi Uang Palsu di Pati Diduga Ada Sindikat

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menjelaskan kasus rumah produksi uang di Desa Geritan, Pati di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menjelaskan kasus rumah produksi uang di Desa Geritan, Pati di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menyebut kasus peredaran uang palsu di luar Jawa yang dipasok dari “rumah produksi” di Pati terlibat jaringan atau sindikat.

Pasalnya, kasus tersebut ada tiga mata rantai yang saling bekerja. Ada pembuat yang memproduksi uang palsu, ada pengedar, dan ada pasar sebagai tempat untuk mengedarkan.

“Sepertinya ini sindikat. Itu jelas ada pembuat, pengedar dan pasar. Namun, saat ini kami bekerja sama dengan Polres Banyuasin, Sumatera Selatan masih mendalami kasus ini,” ujar Agung kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/1/2016).

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu hati-hati dalam menerima dan transaksi uang. Perhatikan ketebalan dan kelenturan uang untuk menghindari adanya uang palsu yang beredar.

“Sepintar-pintarnya orang meniru uang palsu, tidak akan tetap sama karena uang asli dibuat dengan kertas khusus dengan ketebalan dan kelenturan tertentu. Gunakan metode 3D, dilihat, diterawang dan diraba. Kalau pedagang, sebaiknya gunakan mesin deteksi uang elektronik,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono 

Tukang Sablon Uang Palsu di Pati Sebut Ada ‘Bos Besar’

Uang palsu Rp 50 ribuan yang diamankan di Mapolres Pati dari rumah kos-kosan Desa Geritan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Uang palsu Rp 50 ribuan yang diamankan di Mapolres Pati dari rumah kos-kosan Desa Geritan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Salah satu pelaku yang menyablon uang palsu di Desa Geritan, Kecamatan Pati menyebut ada “bos besar” di balik pembuatan uang palsu yang pernah diedarkan di Pati, Tambakromo dan Luar Jawa.

“Saya cuma nyablon. Saya tidak tahu uang hasil sablonan itu dikirim ke mana saja. Saya cuma nyablon. Ada bos besarnya,” kata salah satu pelaku di depan awak media, Rabu (27/1/2016).

Dalam sehari, pelaku mengaku bisa memproduksi sekitar 50 lembar kertas yang di dalamnya berisi empat potong uang palsu Rp 50 ribuan. Praktis, mereka bisa mencetak Rp 10 juta setiap harinya.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi kepada MuriaNewsCom mengatakan, penggerebekan pelaku pembuat uang palsu dilakukan setelah mendapatkan laporan dari Polres Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Pengedar uang palsu di daerah Banyuasin dibekuk Polres Banyuasin. Dari hasil pengakuan, beli uang palsu tersebut dari Pati. Dari laporan itu, kami kemudian melacak dan berhasil menggerebek tiga orang yang sedang bekerja menyablon uang palsu. Ketiganya warga Pati,” tutur Agung.

Sampai berita ini diturunkan, ketiga pelaku masih dalam pemeriksaan. Sementara itu, sejumlah barang bukti berupa uang palsu pecahan Rp 50 ribuan dan peralatan sablon lengkap diamankan di Mapolres Pati.

Editor : Kholistiono 

Polisi Buru Sindikat Pengedar Uang Palsu di Pati

KNT diamankan petugas di Mapolres Pati atas ulahnya mengedarkan uang palsu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

KNT diamankan petugas di Mapolres Pati atas ulahnya mengedarkan uang palsu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jajaran Polres Pati saat ini tengah memburu sindikat pengedar uang palsu di Pati, setelah satu pengedar berinisial KNT dibekuk. KNT merupakan warga Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Pati yang dibekuk petugas di Kecamatan Tambakromo saat hendak melancarkan aksinya, Rabu (16/12/2015) kemarin.

”Dalam penangkapan itu, kami berhasil membekuk satu orang yang diduga mengedarkan uang palsu. Sementara itu, tiga orang lainnya berhasil kabur. Saat ini, kami tengah memburunya,” ujar Kanit Idik Rimsus II Polres Pati Aiptu Slamet Haryono kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/12/2015).

Saat ditanya, KNT mengaku baru sekali membelanjakan uang palsu itu. Pria yang bekerja sebagai tukang kayu ini juga mengaku hanya disuruh ketiga rekannya yang saat ini masuk daftar pencarian orang (DPO).

”Saya baru pertama kali mengedarkan uangpalsu. Itupun hanya disuruh ketiga rekan saya untuk membeli barang-barang,” akunya.

Atas perbuatannya, KNT terancam dengan pasal berlapis, yakni Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1952 tentang Kepemilikan Senjata Tajam dengan ancaman maksimal 10 tahun dan UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun pejara. (LISMANTO/TITIS W)

Pengedar Uang Palsu Diancam Denda Rp 10 miliar dan 15 Tahun Penjara

Uang-palsu 3

Tersangka pengedar upal diancam denda Rp 10 miliar dan 15 tahun penjara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Tersangka pengedar uang palsu (Upal) asal Blora yang tertangkap di Desa Tunggulpandean, Kecamatan Nalumsari, Jepara diancam denda sebesar Rp 10 miliar dan 15 tahun penjara. Hal itu sesuai dengan pasal yang dikenakan kepada tersangka tentang uang palsu.

”Pasal yang disangkakan, yakni pasal 36 ayat (2) dan (3) Undang-undang RI nomor 7 tahun 2011 jo pasal 245 KUHP. Ancamannya hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 10 miliar,” ujar Kapolsek Nalumsari Iptu Sugiono kepada MuriaNewsCom, Rabu (16/9/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, kini tersangka untuk sementara waktu diamankan di Mapolsek setempat. Barangbukti akan dikoordinasikan dengan pemeriksaan secara laboratoris dan riksa saksi ahli dari Bank Indonesia cabang Semarang.

Sementara itu, tersangka pengedar Upal, Febri Siswantoro mengaku hanya sebagai pengedar. Dia mengaku dihadiahi uang sebesar Rp 1.000.000, untuk setiap transaksi pembelian sepeda motor menggunakan uang palsu.

”Saya tidak tahu asal uang itu dari mana. Saya hanya disuruh membeli motor dengan uang palsu,” kata Febri. (WAHYU KZ/TITIS W)

 

Pelaku Edarkan Uang Palsu Lewat Lapak Jual Beli Facebook

uang-palsu

Uang palsu yang dijadikan barang bukti. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Polsek Nalumsari Jepara berhasil mengamankan pelaku pengedar uang palsu (Upal) asal Blora bernama Febri Siswantoro. Pelaku ternyata mengedarkan Upal dengan cara membeli barang yang dijual melalui media sosial Facebook.

”Pelaku tertangkap ketika melakukan transaksi jual beli sepeda motor dengan korban bernama Alex Sembara, warga Desa Tunggulpandean Nalumsari. Ketika Alex (korban) menerima uang dari tersangka merasa curiga. Kebetulan waktu itu sepeda motor yang dijual sedang tidak ada di lokasi, sehingga Alex leluasa untuk meneliti uang yang dia terima,” terang Kapolsek Nalumsari, Iptu Sugiono kepada MuriaNewsCom, Rabu (16/9/2015).

Lebih lanjut, dia menceritakan, korban ternyata memiliki sodara yang punya sinar yang bisa mengecek keaslian uang. Setelah dicek ternyata diduga palsu dan selanjutnya menghubungi Polsek Nalumsari. Dengan sigap, anggota Polsek Nalumsari mendatangi lokasi dan mengamankan tersangka.

”Sebenarnya tersangka bersama tiga rekannya. Tapi, ketiga rekannya hanya di dalam mobil. Setelah mengetahui korban curiga dengan uang yang diberikan tersangka, mereka melarikan diri,” ungkapnya.

Sementara itu, tersangka Febri Siswantoro mengaku disuruh oleh rekannya untuk membeli sepeda motor yang dijual di lapak jual beli Facebook. (WAHYU KZ/TITIS W)

 

Pelaku Mencetak Uang Sendiri, Kemiripan Hampir Sama dengan Asli

Wakapolres Kudus, Kompol Yunaldi dan Kasat Reskrim Kudus AKP Hepi Pria Ambara bersama tersangka Sumartiyono tengah menunjukkan uang Rp 50 ribu palsu yang belum dipotong. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Wakapolres Kudus, Kompol Yunaldi dan Kasat Reskrim Kudus AKP Hepi Pria Ambara bersama tersangka Sumartiyono tengah menunjukkan uang Rp 50 ribu palsu yang belum dipotong. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Aksi pemalsuan uang yang dilakukan Sumartiyono warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, merupakan pemalsuan uang yang canggih. Sebab dari tangan pelaku, polisi mendapatkan kualitas uang yang hampir sama dengan aslinya.

Kasat Reskrim Kudus AKP Hepi Pria Ambara mengatakan, tindakan pelaku dalam memalsukan uang sangat lihai. Bahkan sangat mirip dengan aslinya, mulai benang air, tembus ketika diterawang hingga nomor seri yang berbeda.

”Pelaku sangat lihai, upal ini hampir sama dengan yang asli. Tinggal cara mengenalnya saja yang membedakannya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pelaku menjalankan aksinya secara sendiri. Dari keterangan yang dilakukan petugas, pelaku mendapatkan keahlian dari Semarang, yang kini masih dalam pengejaran.

”Kami menyita printer yang rusak dalam perbaikan, lalu kertas lembut, alat set sablon dan juga uang Rp 50 ribu palsu yang belum dipotong,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Ditipu Pembeli, Mbok Darmi Belum Berniat Lapor ke Polisi

Darmi penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diperoleh dari pembeli yang menipu dirinya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Darmi penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diperoleh dari pembeli yang menipu dirinya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Meskipun penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara, Darmi (50) warga Kelurahan Pengkol, RT 01 RW 01, Kecamatan Jepara, Kota ditipu pembeli dengan uang palsu. Mbok Darmi (sapaan akrabnya) mengaku belum berniat untuk lapor ke polisi.

Perempuan penjual jajan keliling dengan berjalan kaki ini lebih memilih menunggu sampai kembali ketemu pembeli, yang diduga memberikan uang palsu tersebut. Dia mengaku, hanya ingin menegur dan mengembalikan uang palsu yang telah diterimanya itu.

”Saya masih ingat ciri-ciri orangnya. Kalau ketemu lagi, saya mau menegurnya dan minta ganti uang palsu ini dengan uang asli,” kata Darmi kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/9/2015).

Dia menambahkan, ketika nanti sudah ketemu dan sudah ditegur, namun pembeli itu masih tidak bersedia untuk mengganti. Maka tidak menutup kemungkinan, dirinya akan lapor ke polisi. Sebab, kasus tersebut cukup meresahkan terutama bagi pedagang-pedagang kecil seperti dirinya.

”Ini pengalaman buat saya agar lebih berhati-hati kalau menerima uang dengan pecahan besar, agar tidak terulang lagi,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ini Ciri-ciri Pembeli yang Bayar dengan Uang Palsu

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara, Darmi (50) warga Kelurahan Pengkol, RT 01 RW 01, Kecamatan Jepara, Kota, kini harus menerima kenyataan pahit. Pasalnya, penjual kecil ini ditipu oleh seorang pembelinya di kawasan Shopping Centre Jepara (SCJ) yang bayar dengan uang palsu pecahan Rp 50 ribu.

Darmi dengan yakin membeberkan ciri-ciri pembelinya yang menipu dirinya tersebut. Menurut dia, ciri-ciri dari pembeli tersebut adalah seorang wanita berumur sekitar 40 tahun, mengenakan jilbab dan bersepeda motor.
”Tapi saya tidak ingat sepeda motornya warna apa. Yang saya ingat hanya itu,” kata Darmi kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/9/2015).

Menurutnya, wanita tersebut ketika membeli dagangannya berlaga sok akrab. Bahkan, dia juga banyak bercerita tentang berbagai hal sambil memilih-milih jajan yang mau dibeli. Dia menduga, lagak sok akrab tersebut dilakukan untuk mengelabuhi dirinya agar tidak mencermati uang palsu yang diberikan untuk membayar.

”Gayanya sok akrab. Saya juga heran, kok bisa seperti itu padahal saya baru pertama ketemu. Tapi kata dia, dia sering melihat saya di lewat di SMPN 2 Jepara,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Duh, Penjual Jajan Keliling ini Ditipu Pembeli

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Darmi seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara menunjukkan uang palsu yang diberikan dari seorang pembeli jajannya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Nasib malang menimpang seorang penjual jajan keliling alias tenongan di Jepara, Darmi (50) warga Kelurahan Pengkol, RT 01, RW 01, Kecamatan Jepara, Kota. Pasalnya, penjual kecil ini ditipu oleh seorang pembelinya di kawasan Shopping Centre Jepara (SCJ).

Darmi mengaku menerima uang dari pembeli dengan pecahan Rp 50 ribu, ketika pembeli membayar jajan yang diambil seharga Rp 15 ribu. Kemudian, dia memberi kembalian senilai Rp 35 ribu. Namun tak disangka, ketika beberapa jam kemudian, dia baru menyadari jika pecahan Rp 50 ribu dari pembeli tadi ternyata palsu.

”Ada pembeli seorang wanita sekitar umur 40 tahun. Dia membayar dengan uang Rp 50 ribu. Setelah beberapa jam, uang itu saya tukarkan ke tukang parkir. Lha tukang parkirnya kok bilang kalau uang itu palsu,” kata Darmi kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/9/2015).

Menurutnya, dia semakin yakin dan percaya jika uang tersebut palsu ketika dia cermati betul-betul pecahan Rp 50 ribu tersebut. Dari kualitas kertasnya sudah sangat berbeda, dan warna biru dari uang tersebut juga agak luntur.

”Awalnya saya tidak tau karena setelah menerima uangnya langsung saya masukkan tas kecil. Setelah diberitahu tukang parkir, saya cermati ternyata memang palsu,” tandasnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Heboh, Uang Palsu di Kudus Persis dengan Uang Aslinya

Polisi meminta keterangan pelaku kejahatan uang palsu di Mapolres Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Polisi meminta keterangan pelaku kejahatan uang palsu di Mapolres Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Uang palsu yang disita oleh pihak Polres Kudus merupakan uang palsu yang sangat mirip dengan aslinya. Bahkan, tingkat kemiripan uang palsu tersebut sampai 70 persen jika dibandingkan dengan uang asli.

Hal itu diungkapkan oleh Wakapolres Kudus Kompol Yunaldi. Menurutnya uang tersebut sangat mirip dengan aslinya. Bahkan terdapat benang air yang nampak pada uang palsu tersebut.
“Sangat mirip, ketika dicek pakai laser infra red juga nampak hologramnya. Namun ada yang membedakan uang tersebut yakni pada cetakan yang terlalu tajam dan seri yang yang sama,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya uang tersebut berasal dari Semarang, dan keterangan pelaku uang palsu, terdata dua orang yang masih dalam pengejaran. Pihaknya mengimbau masyarakat lebih hati hati dengan mengecek uang yang ada. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Nekat Tenan, Pensiunan PNS di Kudus Ini Tebus Motor di Pegadaian Pakai Uang Palsu

Polisi meminta keterangan pelaku kejahatan uang palsu di Mapolres Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Polisi meminta keterangan pelaku kejahatan uang palsu di Mapolres Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pensiunan PNS di Kudus, melakukan tindak kejahatan dengan mengedarkan uang palsu. Modus yang dilakukan oleh pelaku, yakni dengan menggunakan uang palsu dalam menebus kendaraan bermotor yang digadaikan.

Hal itu diungkapkan Wakapolres Kudus Kompol Yunaldi. Menurutnya pelaku menebus kendaraan yang digadaikan dengan uang palsu senilai pecahan Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu.

“Pelaku mengedarkan uang palsu, alasannya dia para pelaku mau menebus kendaraan yang sedang digadaikan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia menceritakan, Moch Soekarno (63) seorang pensiunan PNS Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, dan Maskan (44) warga Desa Hadipolo Jekulo pada 4 Agustus lalu datang ke Suwandi untuk menggadaikan kendaraan shogun dengan ganti Rp 1,5 juta. Namun belum genap satu hari, malamnya sekitar pukul 22.00 pelaku datang untuk menebus kendaraannya.

Kejadian tersebut bukanlah aksi pertama, selanjutnya pada 18 Agustus kejadian kembali terjadi. Kali ini dua kendaraan sekaligus digadaikan, yakni Shogun Rp 2 juta dan Supra Fit Rp 1,5 juta. Bedanya pada kedatangan kali ini beserta satu orang asing yakni Karsumi (52) Asal Desa Payaman Mejobo kemudian malamnya sama pelaku mengembalikan uang tersebut.

Karena merasa curiga, lanjutnya, Suwandi segera mengecek uang tersebut. Dan ditemukan bahwa pelaku menggunakan uang palsu dalam aksi yang dilakukan. Setelah itu pelaku langsung dilaporkan ke pihak kepolisian.

“Dari tangan pelaku, polisi mengamankan uang palsu senilai Rp 6 jutaan. Dan kasus tersebut sedang dikembangkan,” ujarnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)