Polisi Indikasikan Ada Motif Penggandaan Uang pada Kasus Upal di Sluke Rembang

Sumani, tersangka pembuat uang palsu menunjukkan mesin yang digunakan untuk mencetak uang palsu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Polres Rembang terus melakukan pengembangan terkait temuan uang palsu di rumah Sumani Khakim, Desa Sluke RT 1 RW 3 Kecamatan Sluke pada 24 Mei 2017 lalu. Setelah dilakuan penyidikan, polisi telah menetapkan Sumani sebagai tersangka.

Tak berhenti di situ, polisi masih terus mengembangkan adanya kemungkinan jika kasus uang palsu tersebut juga mengarah adanya penggandaan uang.

Indikasi motif penggandaan uang tersebut, menurut polisi, dihubungkan dengan profesi Sumani yang seorang dukun, serta dikuatkan dengan temuan dan pengakuan tersangka mengenai benda-benda tuah di rumah tersebut untuk meyakinkan para tamu sekaligus calon korban yang bersangkutan.

“Namun indikasi tersebut masih harus kami dalami. Terlebih belum ada laporan dari korban penipuan yang terkait dengan tersangka. Sementara kami kenai tersangka pasal tentang tindak memproduksi uang palsu,” ujar Kasatreskrim Polres Rembang AKBP Ibnu Suka.

Kemudian, pihaknya juga masih mendalami adanya kemungkinan pelaku lain dalam kasus uang palsu tersebut. Dugaan tersebut berdasarkan pengakuan pelaku, jika dirinya memberi peralatan dari seseorang bernama Suyono dari Solo, yang kini dikabarkan sedang berada di Jakarta.

“Kalau dilihat dari peralatan pencetak uang yang canggih dan mahal, artinya dilakukan oleh lebih dari satu orang. Sebab peralatannya sendiri seharga Rp 300 juta, setara dengan utang pelaku yang ada di bank,” imbuhnya.

Saat gelar perkara beberapa waktu lalu, pelaku yakni Sumani menyatakan, sudah memproduksi uang palsu sebanyak 250 lembar pecahan seratus ribu rupiah. Rencananya uang palsu akan digunakan untuk membayar utang, selain utangnya di bank yang membuat rumahnya disita.

“Uang itu sudah saya bakar karena setelah tercetak ternyata tidak ada nomor serinya. Tersisa dua lembar yang ditemukan polisi itu, rencana saya buat kenang-kenangan,” katanya.

Akibat perbuatannya memproduksi uang palsu, Sumani yang seorang sarjana teknik, terancam hukuman pidana penjara seumur hidup. Ia dijerat Pasal 37 Ayat 1 dan Ayat 2 juncto Pasal 27 Ayat 1 dan Ayat 2 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dan atau Pasal 250 KUH Pidana.

Editor : Kholistiono

Sumani Ngaku Upal yang Dibuatnya Akan Digunakan untuk Bayar Utang

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto menunjukkan uang palsu yang disita dari rumah Sumani. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Masih ingat dengan ditemukannya uang palsu (upal) dari rumah Sumani Khakim warga Sluke RT 1 RW 3 Kecamatan Sluke, Rembang, beberapa waktu lalu. Ketika itu, Pengadilan Negeri (PN) Rembang melakukan proses eksekusi rumah milik Sumani karena memiliki pinjaman dengan bank yang tidak bisa dilunasi.

Dalam proses eksekusi tersebut, pihak pengadilan dikawal oleh petugas kepolisian dari Polres Rembang. Pada saat itu pula, petugas pengadilan menemukan adanya banker yang ternyata di dalamnya terdapat uang palsu dan alat cetakan uang. Atas penemuan ini, petugas kepolisian kemudian langsung melakukan pendalaman dengan memeriksa Sumani.

Di hadapan polisi, Sumani mengaku jika alat cetak uang tersebut miliknya dan sudah digunakan untuk mencetak uang. Katanya, uang itu akan digunakan untuk melunasi utang yang ditanggunggnya di bank.

“Sebenarnya saya ingin melunasi utang dengan uang palsu ini. Namun ternyata, uang ini malah hasil cetakannya tidak persis dengan aslinya. Sehingga saya hentikan proses pencetakan ini sejak 2016 silam,” akunya.

Dirinya juga mengatakan, jika bahan baku untuk uang palsu tersebut didapatkannya dari toko roti. “Kalau kertasnya itu kertas roti atau kertas minyak. Di toko roti juga ada. Di Semarang juga banyak. Namun mesin cetaknya saya beli dari orang Solo yang bernama Suyono yang kini berada di Jakarta dengan harga Rp 300 juta,” bebernya.

Mengenai sosok Suyono sendiri, dirinya mengaku baru kenal sekitar satu tahun lalu.

Editor : Kholistiono

Polres Rembang Terus Dalami Temuan Uang Palsu di Rumah Sumani

Uang palsu yang ditemukan dari rumah milik Sumani. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Polisi terus mendalami temuan uang palsu dari rumah Sumani (46) di Desa/Kecamatan Sluke, Rembang.

Saat ini terus menggali keterangan terhadap Sumani terkait uang palsu yang sudah tercetak ratusan lembar tersebut. Hasil penyidikan sementara, pelaku sudah mencetak 250 lembar kertas dengan tiap lembar kertas berisi gambar uang pecahan Rp100.000 atas bantuan Suyono.

Oleh tersangka, Suyono dikatakan sebagai warga Solo yang beralamat di Jakarta, yang sekaligus disebut sebagai pihak yang menjual mesin cetak kepada Sumani.

“Dari hasil pemeriksaan, yang bersangkutan belum terbuka soal uang palsu yang diedarkan. Tapi kami pelan-pelan mengorek,” kata Kapolres Rembang, AKBP Sugiarto.

Disebutkan, mesin cetak uang palsu diakui diperoleh Suyono dengan harga Rp300 juta, setahun lalu. “Terkait hal ini, kami juga berkoordinasid engan instansi berwenang, dalam hal ini Bank Indonesia,” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau kepada warga Rembang supaya bisa lebih waspada akan adanya uang palsu. Terebih di saat bulan Ramadan dan mendekati Hari Raya Idul Fitri.

Untuk diketahui, sebelumnya polisi menemukan dua lembar kertas bergambar uang kertas pecahan Rp100.000 yang belum dipotong, saat melakukan pengamanan eksekusi rumah dari Sumani.  Rumah yang berlokasi di RT 1 RW 3 milik Sumani dieksekusi setelah dilelang oleh pihak bank lantaran yang bersangkutan memiliki kredit macet di BRI pada tahun 2010.

Namun saat petugas pengadilan mengecek kamar anak angkat Sumani, petugas yang dikawal polisi menemukan dua lembar kertas bergambar uang kertas palsu tersebut.

Editor : Kholistiono

Polres Rembang Ungkap Praktik Pembuatan Uang Palsu saat Kawal Eksekusi Rumah

Uang palsu yang ditemukan dari rumah milik Sumani. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Kepolisian Resor Rembang mengungkap praktik pembuatan uang palsu ketika mengawal eskekusi sebuah rumah pada Rabu (24/5/2017) siang.

Terungkapnya kasus ini, berawal ketika juru sita dari Pengadilan Negeri (PN) Rembang hendak mengeksekusi sebuah rumah milik Sumani, warga RT 3 RW 1 Desa Sluke, Kecamatan Sluke, Rembang.

Sumani merupakan nasabah kredit macet BRI Cabang Rembang dengan besaran Rp 350 juta pada sekitar tahun 2010.

Karena tidak bisa menutupi kewajibannya itu, akhirnya agunan milik Sumani berupa rumah dilelang oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Semarang. Rumah itu jatuh pada Japari, warga setempat.

Japari, kemudian mengajukan permohonan eksekusi kepada Pengadilan Negeri Rembang. Eksekusi terhadap rumah tersebut, sempat berlangsung ricuh.Pihak keluarga Sumani dan massa sempat melakukan perlawanan.

Dari pantauan MuriaNewsCom, Kapolres Rembang AKBP Sugiarto tampak turun tangan melakukan pengamanan eksekusi, guna mengatasi ricuh dan ketegangan meluas.

“Sebelum kita eksekusi dan mengeluarkan barang-barang keluar rumah, kita foto-foto dulu ruang per ruang. Kita temukan ruang bawah di bawah tanah,” kata Jatmiko, salah seorang juru sita dari PN Rembang.

Menurutnya setelah diperiksa dengan pengawalan petugas kepolisian, di ruang bawah tanah berkedalaman sekitar tiga meter, ditemukan uang palsu cetakan baru, berikut printer, dan alat cetakan cukup besar dengan berat satu ton.

“Tadi uang palsu berikut yang sudah dicetak dibawa ke Mapolres, termasuk Pak Sumani. Selebihnya saya tidak tahu, termasuk berapa jumlah uang palsu yang disita. Yang jelas pecahan 100.000-an, alat cetakan masih di bungker dan belum bisa dikeluarkan,” bebernya.

Kepala Urusan Bina Operasi Satuan Reserse Kriminal Polres Rembang Iptu Edy Sismanto membeberkan, hasil penyelidikan sementara, Sumani mengelak telah mencetak uang palsu, tetapi pihak kepolian tidak begitu saja percaya.

“Kami masih dalami dulu motif mencetak uang palsu tersebut, termasuk apakah uang palsu tersebut sudah beredar atau belum beredar, serta sudah diedarkan kemana kalau sudah beredar. Nanti perkembangannya kami sampaikan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono