Beli Rokok dengan Uang Mainan, Pelajar di Pati Ini Berurusan dengan Polisi

Petugas Polsek Wedarijaksa memberikan pembinaan kepada AU, pelajar salah satu SMK di Pati yang membelanjakan uang mainan untuk membeli rokok, Jumat (16/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas Polsek Wedarijaksa memberikan pembinaan kepada AU, pelajar salah satu SMK di Pati yang membelanjakan uang mainan untuk membeli rokok, Jumat (16/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pelajar di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Pati berinisial AU (17), terpaksa berurusan dengan polisi, lantaran membeli rokok dengan uang mainan. AU yang merupakan warga Langen, Juwana, langsung diamankan polisi, Jumat (16/12/2016).

Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum mengatakan, AU membelanjakan uang mainan yang mirip uang asli senilai Rp 380 ribu di sebuah kios sembako di Desa Bumiayu, Wedarijaksa. Semua uang mainan pecahan Rp 100 ribu, Rp 20 ribu dan Rp 10 ribu tersebut dibelanjakan untuk membeli rokok.

“Saya mendapatkan informasi dari kepala desa setempat. Informasi yang kami terima merupakan uang palsu. Namun, setelah kami cek bersama dengan enam anggota kami, uangnya ternyata bertuliskan uang mainan,” ungkap AKP Rochana.

Untuk menghindari amukan massa, pelajar tersebut dibawa ke Mapolsek Wedarijaksa untuk diberikan pembinaan. Kades setempat dan orang tua AU dihadirkan untuk membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Uang mainan yang digunakan pelajar salah satu SMK di Pati untuk membeli rokok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Uang mainan yang digunakan pelajar salah satu SMK di Pati untuk membeli rokok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Terhitung, uang pecahan yang diamankan, antara lain Rp 100 ribuan sebanyak dua lembar, empat lembar uang pecahan Rp 10 ribu, dan sisanya uang pecahan Rp 20 ribu hingga berjumlah Rp 380 ribu. Pemilik kios sembako sendiri sadar, setelah uang yang diterima ternyata tebal, licin, dan bertuliskan uang mainan.

Dia mengimbau kepada masyarakat, terutama pedagang untuk jeli menerima uang yang dibelanjakan dari pembeli. Kendati sepintas sama, tetapi uang mainan sangat mudah dibedakan. Sebab, uang mainan dipastikan lebih licin ketika dipegang dan ada keterangan uang mainan.

Editor : Kholistiono

Polisi Buru Bandar Pengedar Uang Palsu di Pati

Uang palsu pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 yang disita polisi dari pelaku sebagai barang bukti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Uang palsu pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 yang disita polisi dari pelaku sebagai barang bukti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati terus memburu bandar atau pelaku yang terlibat dalam jaringan pengedar uang palsu di Pati. Hal itu dilakukan, setelah polisi membekuk Kulnaim, warga Tlogorejo, Tlogowungu yang tertangkap saat mencoba mengedarkan uang palsu di kawasan toserba SPBU Joyokusumo, Pati, Jumat (21/10/2016) malam.

“Pelaku sudah diamankan di Mapolres Pati. Dia sudah disidik dan diinterogasi terkait dengan asal usul uang palsu yang diedarkan hingga jumlahnya mencapai Rp 30,75 juta. Jaringan itu akan diburu, diberantas hingga tuntas,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Sabtu (22/10/2016).

Saat ini, pihaknya tengah mengembangkan kasus tersebut untuk mencari pelaku lain yang terlibat dalam pengedaran uang palsu. Pengembangan kasus juga diharapkan bisa membongkar bila ada kemungkinan bandar yang memproduksi uang palsu.

“Kami tidak mengenal kompromi untuk pelaku kejahatan di Pati. Pelaku, baik pengedar, bandar atau produsen uang palsu akan terus kami kejar. Ini sudah meresahkan masyarakat,” imbuh Kompol Sundoyo.

Karena itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada bila ada kemungkinan uang palsu dalam melakukan transaksi. Pasalnya, uang palsu saat ini bentuknya hampir mirip dengan uang asli, sehingga butuh kejelian.

“Cara paling sederhana untuk membedakan uang asli dan palsu dengan 3D, dilihat, diterawang dan diraba. Uang asli warnanya lebih terang. Di pojok kanan bawah ada optical variabel ink, sisi belakang uang asli pasti ada benang pengaman yang ditanam dalam uang,” tuturnya.

Bila diraba, angka, huruf dan gambar pahlawan akan terasa kasar pada uang asli. Beda dengan uang asli yang terasa licin. Uang asli juga terdapat gambar pahlawan bila diterawang.

Pihaknya juga mengimbau kepada warga untuk tidak segan melaporkan kepada polisi bila ada indikasi peredaran uang palsu. Bila dibiarkan, mereka akan melenggang dengan bebas dan menikmati transaksi dari uang palsu yang diedarkan.

Editor : Kholistiono

6 Peristiwa yang Hebohkan Pati Selama Januari 2016

MuriaNewsCom, Pati – Selama Januari 2016, ada berbagai peristiwa penting di Pati yang menjadi perhatian publik. Berikut ini kami sajikan kembali rangkuman beberapa kejadian tersebut:

1.Pembunuh Pasutri dan Tamunya di Gabus Pati Divonis Hukuman Seumur Hidup

Tiga pembunuh pasangan suami istri dan tamunya di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati diganjar majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Pati dengan hukuman penjara seumur hidup, Selasa (5/1/2016).

Ketiga terdakwa tersebut, yakni Mardikun, Suwarno alias Mbah To, dan Eko Sutaryo. Putusan tersebut disambut dengan rasa syukur dari pihak keluarga.

Jpeg

 

2. Di Trangkil Pati, 2 Anak Tewas Saat Mencari Ikan di Sungai Kedung Kendil

Dua anak meninggal dunia saat mencari ikan di Kedung Kendil, Dukuh Galombo RT 11 RW 1, Desa Tegalrejo, Kecamatan Trangkil, Pati, Jumat (8/1/2016) pukul 10.30 WIB.Dua anak tersebut, masing-masing bernama Wahyu Dwi Saputra (8), warga Dukuh Tlogowiru RT 7 RW 3, Tegalharjo dan Diky Nova Ariyanto (8), warga Dukuh Tlogowiru RT 8 Rw 3.

Keduanya meninggal dunia, setelah bersama dengan lima anak lainnya hendak mencari ikan di Kedung Kendil dengan panjang 10 meter, lebar 2,5 meter dan kedalaman mencapai 2 meter.

peristiwa (2) (e)

 

3. Kandang Berisi 6 Ribu Ayam Terbakar di Trangkil

Musibah kebakaran terjadi Minggu (10/1/2016) dini hari. Kebakaran menghabiskan kandang ternak ayam milik H. Salim warga Dukuh Galombo, Desa Tegalharjo, Kecamatan Trangkil Pati.

Kobaran api diduga berasal dari tungku pemanas berupa drum berisi kayu bakar dan serbuk kayu atau grajen yang terguling hingga mengenai tumpukan kayu yang ada di sekitarnya

Tidak ada korban dalam kebakaran tersebut. Namun, kerugian material ditaksir mencapai Rp 375,8 juta. Dua los kandang ayam masing-masing berukuran 9×33 meter nilainya mencapai Rp 325 juta.

Sebanyak 6.000 ekor ayam berumur dua hari yang terbakar nilai mencapai Rp 36 juta. Sementara itu, pakan ayam sebanyak 40 karung nilainya mencapai Rp 14,8 juta.

peristiwa (3) (e)

 

4. Banjir dan Puting Beliung Terjang Pati

Peristiwa banjir terjadi pada Januari 2016 di beberapa wilayah di Pati. Banjir cukup besar terjadi di Kecamatan Kayen dan Pati Kota. Bahkan, akibat banjir dan angin tersebut, dua rumah di Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Pati luluh lantak.

Hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang, disusul banjir membuat dua rumah semi permanen yang terbuat dari anyaman bambu roboh dan rata dengan tanah.Satu rumah milik Sukiman (85) berukuran 4×6 meter, sedangkan satu rumah di antaranya milik Waidin (45) dengan ukuran 6×8 meter. Keduanya warga Desa Kayen RT 7 RW 2.

peristiwa (4) (e)

 

5. Ratusan PK Kepung Kantor Satpol PP Pati

Ratusan pemandu karaoke (PK) dari berbagai tempat hiburan karaoke di Pati menggeruduk dan menduduki paksa Kantor Satpol PP Pati, Kamis (21/1/2016) sore.

Aksi tersebut dilakukan untuk melawan upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati yang akan melakukan eksekusi terhadap tempat karaoke di Pati yang melanggar Perda Nomor 8 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.

peristiwa (5) (e)

 

6. Polres Pati Gerebek Kos-kosan Tempat Produksi Uang Palsu

Rumah kos-kosan yang disewakan di Desa Geritan RT 3 RW 1, Kecamatan Pati digerebek polisi karena dijadikan tempat produksi uang palsu, Rabu (27/1/2016).

Polisi menangkap tiga orang pelaku yang tengah beristirahat dari aktivitas membuat uang palsu.

peristiwa (6) (e)

Editor : Kholistiono

Niat Cari Dukun di Pati, Pria Asal Banyuasin malah jadi Pengedar Uang Palsu

Tiga pelaku pembuat uang palsu di Pati yang sudah diamankan polisi di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tiga pelaku pembuat uang palsu di Pati yang sudah diamankan polisi di Mapolres Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang berinisial TA yang merupakan warga dari Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan nekat menjadi pengedar uang palsu, karena gagal mencari dukun di Pati. Hal itu dikatakan Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi.

Ia mengatakan, TA awalnya jauh-jauh datang ke Pati untuk mencari dukun. Hal itu diharapkan bisa menjadikannya kaya, karena memang Pati dikenal sebagai ‘Kota Seribu Paranormal’.

Di tengah jalan, TA bertemu dengan orang Pati berinisial YN. Dari pertemuan tersebut, TA akhirnya tergiur untuk membeli uang palsu dan mengedarkannya di kampung halamannya di Banyuasin.

“Daripada cari dukun, lebih baik bikin uang palsu. Nanti diedarkan di sana. Itu sama-sama bisa bikin kaya,” ujar Agung menirukan pengakuan TA dalam penyidikan.

Saat digerebek polisi, sedikitnya ada uang palsu Rp 50 juta yang sudah disablon dan siap dipotong-potong menjadi selebar uang asli. Biasanya, pengedar rela membeli uang palsu satu banding tiga. Artinya, uang Rp 10 juta asli bisa ditukar dengan uang Rp 30 juta palsu.

“Mereka pindah-pindah, dari satu kos ke kos yang lain sehingga sulit dilacak. Terakhir, mereka ngekos di Desa Geritan, Kecamatan Pati saat kami tangkap,” tuturnya.

Akibat perbuatannya, pelaku pembuat dan pengedar uang palsu diancam dengan pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang jo Pasal 55 ayat 1. “Mereka terancam mendapatkan pidana maksimal 15 tahun penjara,” tukasnya.

Editor : Akrom Hazami

Kasus Rumah Produksi Uang Palsu di Pati Diduga Ada Sindikat

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menjelaskan kasus rumah produksi uang di Desa Geritan, Pati di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menjelaskan kasus rumah produksi uang di Desa Geritan, Pati di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi menyebut kasus peredaran uang palsu di luar Jawa yang dipasok dari “rumah produksi” di Pati terlibat jaringan atau sindikat.

Pasalnya, kasus tersebut ada tiga mata rantai yang saling bekerja. Ada pembuat yang memproduksi uang palsu, ada pengedar, dan ada pasar sebagai tempat untuk mengedarkan.

“Sepertinya ini sindikat. Itu jelas ada pembuat, pengedar dan pasar. Namun, saat ini kami bekerja sama dengan Polres Banyuasin, Sumatera Selatan masih mendalami kasus ini,” ujar Agung kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/1/2016).

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu hati-hati dalam menerima dan transaksi uang. Perhatikan ketebalan dan kelenturan uang untuk menghindari adanya uang palsu yang beredar.

“Sepintar-pintarnya orang meniru uang palsu, tidak akan tetap sama karena uang asli dibuat dengan kertas khusus dengan ketebalan dan kelenturan tertentu. Gunakan metode 3D, dilihat, diterawang dan diraba. Kalau pedagang, sebaiknya gunakan mesin deteksi uang elektronik,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono 

Tukang Sablon Uang Palsu di Pati Sebut Ada ‘Bos Besar’

Uang palsu Rp 50 ribuan yang diamankan di Mapolres Pati dari rumah kos-kosan Desa Geritan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Uang palsu Rp 50 ribuan yang diamankan di Mapolres Pati dari rumah kos-kosan Desa Geritan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Salah satu pelaku yang menyablon uang palsu di Desa Geritan, Kecamatan Pati menyebut ada “bos besar” di balik pembuatan uang palsu yang pernah diedarkan di Pati, Tambakromo dan Luar Jawa.

“Saya cuma nyablon. Saya tidak tahu uang hasil sablonan itu dikirim ke mana saja. Saya cuma nyablon. Ada bos besarnya,” kata salah satu pelaku di depan awak media, Rabu (27/1/2016).

Dalam sehari, pelaku mengaku bisa memproduksi sekitar 50 lembar kertas yang di dalamnya berisi empat potong uang palsu Rp 50 ribuan. Praktis, mereka bisa mencetak Rp 10 juta setiap harinya.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi kepada MuriaNewsCom mengatakan, penggerebekan pelaku pembuat uang palsu dilakukan setelah mendapatkan laporan dari Polres Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Pengedar uang palsu di daerah Banyuasin dibekuk Polres Banyuasin. Dari hasil pengakuan, beli uang palsu tersebut dari Pati. Dari laporan itu, kami kemudian melacak dan berhasil menggerebek tiga orang yang sedang bekerja menyablon uang palsu. Ketiganya warga Pati,” tutur Agung.

Sampai berita ini diturunkan, ketiga pelaku masih dalam pemeriksaan. Sementara itu, sejumlah barang bukti berupa uang palsu pecahan Rp 50 ribuan dan peralatan sablon lengkap diamankan di Mapolres Pati.

Editor : Kholistiono 

Polres Pati Gerebek Kos-kosan Tempat Produksi Uang Palsu

Rumah kos-kosan yang diberi police line karena digunakan untuk memproduksi uang palsu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rumah kos-kosan yang diberi police line karena digunakan untuk memproduksi uang palsu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Rumah kos-kosan yang disewakan di Desa Geritan RT 3 RW 1, Kecamatan Pati digerebek polisi karena dijadikan tempat produksi uang palsu, Rabu (27/1/2016).

Polisi menangkap tiga orang pelaku yang tengah beristirahat dari aktivitas membuat uang palsu. Usai menangkap pelaku, petugas memasang rumah tersebut dengan garis polisi.

“Kami melakukan pengintaian dan langsung menyergap mereka saat beristirahat. Tiga orang yang kami tangkap langsung kami amankan di Mapolres Pati. Ketiganya berinisial YN, PD dan SKD. Semuanya warga Pati,” ujar Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo Budi kepada MuriaNewsCom.

Dari hasil penggrebekan, polisi menyita sejumlah barang bukti, di antaranya lembaran uang palsu senilai Rp 50 ribuan yang belum dipotong dan alat-alat sablon, press, serta lampu. “Tidak ada upaya melarikan diri. Kami tangkap ketiganya dan peralatan sablon yang digunakan untuk membuat uang palsu,” katanya.

Ia menambahkan, kualitas uang palsu yang dihasilkan cukup mirip. Uang palsu tersebut diedarkan di wilayah Pati, Tambakromo dan luar Jawa.

Editor : Kholistiono