Kitab dan Komik Injil Berbahasa Arab Disebar Orang Tak Dikenal di Sekolah dan Pesantren di Jepara

Kitab Injil berbahasa arab ditemukan di salah satu sekolah di Jepara. (MuriaNewsCom/wahyu KZ)

Kitab Injil berbahasa arab ditemukan di salah satu sekolah di Jepara. (MuriaNewsCom/wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kitab Injil berbahasa Arab dan Indonesia tiba-tiba saja disebar oleh orang tak dikenal di SMP N 1 Mlonggo dan SMK N 1 Bangsri, Jepara. Tak hanya di dua sekolah  itu saja, tetapi di satu pesantren, yakni pesantren Darus Salam yang berada di jalanPemuda turut Kelurahan Saripan, Kecamatan Kota Jepara.

Penyebar kitab injil yang dilengkapi dengan komik Injil diketahui dilakukan oleh beberapa orang yang mengendarai mobil. Modusnya, mereka bertamu lalu memberikan kenang-kenangan berupa kitab dan komik Injil terbitan CV Cahaya Hati Jakarta tersebut.

Peristiwa ini mendapatkan perhatian serius oleh sejumlah pihak, terutama aparat dari Polri, TNI, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang terdiri dari para tokoh agama di Kabupaten Jepara. Bahkan semua unsur tersebut telah melakukan pertemuan membahas hal itu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketua FKUB Jepara Kiai Mashudi mengatakan, pihaknya telah menggelar pertemuan dengan pihak-pihak terkait dan menghasilkan sejumlah hal. Hal itu dilakukan agar peristiwa penyebaran buku-buku maupun komik Injil tersebut tidak memicu konflik.

”Pertemuan kami lakukan dengan sesegera mungkin, dan terlaksana pada Selasa 31 Mei 2016 kemarin. Itu kami lakukan untuk mengantisipasi adanya respon yang berlebihan,” ujar Mashudi kepada MuriaNewsCom, Kamis (2/6/2016).

Dia juga mengatakan bahwa saat ini kitab dan komik Injil tersebut tengah diamankan. Rencananya dalam waktu dekat, pihaknya akan mengantar dua sekolah dan satu pesantren untuk mengembalikan kitab dan komik Injil itu ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Agama Kabupaten Jepara.

Sementara itu, Komandan Kodim 0719 Letkol Inf Ahmad Basuki mengatakan, peristiwa penyebaran kitab dan komik Injil tersebut sudah dikonfirmasi dengan pihak agama Kristen. Hasilnya, tidak ada program yang menyebarkan kitab maupun komik Injil di Kabupaten Jepara.

”Peristiwa itu seharusnya tidak terjadi karena bisa memicu konflik. Pihak tokoh agama Kristen juga telah menyampaikan hal demikian dan menyesalkan peristiwa ini. Dikhawatirkan itu dilakukan oleh oknum yang hanya ingin memecah belah persatuan yang selama ini telah terjalin dengan baik,” ungkap Basuki, terpisah.

Dia menambahkan, persoalan tersebut diserahkan kepada FKUB Kabupaten Jepara. Diharapkan tidak ada dampak atau gejolak di masyarakat atas peristiwa tersebut, demi persatuan dan kesatuan yang sudah ada.

Editor: Supriyadi

Ditulis pada Tak Berkategori

Komunitas Lintas Agama Diharapkan Bisa Jadi Wadah untuk Kerukunan

Kegiatan menanam pohon yang dilakukan lintas agama di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kegiatan menanam pohon yang dilakukan lintas agama di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus –Diskusi lintas agama yang digelar di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus, pada Minggu (20/3/2016) diharapkan menjadi media antarumat beragama untuk bisa hidup berdampingan secara damai.

“Kegiatan seperti ini bukan untuk keperluan pribadi. Terlebih dengan adanyakomunitas lintas agama, diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat, dan ini bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Karena, hal ini mewadahi antarumat beragama agar hidup rukun,” ujar M Rosyid, tokoh lintas agama.

Keberagaman antarumat beragama di Desa Kutuk, katanya, juga bisa menjadi contoh, karena di desa ini kerukunan antarumat hingga kini terjaga dengan baik. Warga, juga saling menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing umat.

“Kita harapkan kerukunan umat beragama terus terjaga. Kami, dari komuntias lintas agama juga berharap dapat memfasilitasi untuk tumbuhnya kerukunan antarumat,” ungkapnya.

Sementara itu, tokoh agama Budha Bate Pabakaro mengutarakan, bahwa pihaknya sangat berterimakasih kepada Pemda Kudus yang sudahdapat mengayomi umat beragama.”Umat beragama di Kudus, sejauh ini hidup rukun berdampingan,” sebutnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, untuk menciptakan hidup rukun, perlu ada tiga aspek yang harus diperhatikan.

“Sebenarnya ada tiga aspek yang dapat membuat ketidaknyamanan hidup. Yakni, keserakahan, kebencian, dan kemarahan. Untuk itu, umat beragamaharus bisa menjauhi, dengan cara berpikiran benar, berusahabenar, dan berkonsentrasi dengan benar. Sehingga ajaran agama bisadirealisasikan dengan baik,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

Ditulis pada Tak Berkategori

Kerukunan Antarumat Beragama Diharapkan Terus Terjaga

Diskusi lintas agama yang diselenggarakan di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Diskusi lintas agama yang diselenggarakan di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kerukunan antarumat beragama diharapkan bisa terus terjaga. Dengan hal itu, nantinya juga akan tercipta kenyamanan dan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, kedamaian juga terwujud.

Hal itu disampaikan Kepala Desa Kutuk, Kecamatan Undaan Supardiyono, dalam diskusi lintas agama di Aula Vihara Cakra Purbakala, Desa Kutuk, Minggu (20/3/2016).

“Jika kita rukun, maka pembangunan juga akan berjalan lancar dan hidup tenang, nyaman juga dapat tercipta. Selain itu, kita juga harus bisa akrab dan hidupberdampingan dengan semua kalangan beragama,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan lintas agama seperti ini juga sangat bermanfaat, khususnya, untuk kerukunan. Karena, bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam agama dan keyakinan, penting adanya kerukunan umat.

Dalam hal ini, dirinya juga berharap, generasi muda juga dapat ikut mencontoh tentang pentingnya hidup rukun dan berdampingan antarumat.

“Para pemuda juga harus bisa menjadi contoh nyata. Sehingga dalam pergaulan tidaksaling membeda-bedakan,” kata Supardiyono.

Sementara itu, kegiatan yang diselingi denganpenanaman pohon ditempatpemakaman umum Desa Kutuk ini, diikuti sekitar 250mahasiswa STAIN Kudus, perangktaDesa Kutuk, tokoh agama, Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) dan warga setempat.

“Kita sebagai pihak desa hanya bisa memfasilitasi, mendukung danberharap kepada masyarakat supaya dapat hidup rukun dan salingberdampingan, serta tidak mengkotak-kotakkan agama lainnya dalampergaulan,” ungkapanya.

Editor : Kholistiono

Ditulis pada Tak Berkategori

Wujudkan Sikap Toleran, Tali Akrap Adakan Kemah Pemuda Lintas Agama di Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Upaya mewujudkan toleransi antar dan intern umat beragama memerlukan langkah riil dan perlu tahapan. Hal ini dilakukan oleh Komunitas Lintas Agama dan Kepercayaan Pantura (Tali Akrap) dengan mengadakan kemah pemuda lintas agama di Balai Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu dan Minggu 30 dan 31 Januari 2016.

Acara dihadiri pemuda perwakilan gereja, wihara, IPNU dan IPPNU se-Kudus dan pemuda agama Baha’i dari Pati. Acara juga dihadiri Kesbangpol Kudus, Danramil Undaan, Camat Undaan, Kemenag Kudus dan tokoh agama dan masyarakat Desa Karangrowo.

Materi menyajikan diskusi tentang potensi remaja agar bermartabat oleh Psikolog R.S St. Elisabet Semarang, Ibu Probowati Tjondronegoro, dan materi mengantisipasi dampak bencana alam dari relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus Mashudi.

Sajian materi tersebut, menurut Ketua Tali Akrap, Moh.Rosyid agar pemuda menyiapkan potensi dirinya dan menyikapi bila terjadi bencana alam. Minggu pagi, dilakukan penanaman pohon di makam umum Desa Karangrowo antara pemuda lintas agama, perangkat desa, dan warga masyarakat di tengah gerimis mengguyur. ”Hal yang menarik, makam tersebut yakni satu area terdiri muslim dan nonmuslim, hanya dipisahkan oleh pematang,” ujarnya.

Ia menambahkan, sikap toleran ini karena kesadaran bertoleransi tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat Karangrowo untuk bersesama. Sikap toleran ini karena car berpikir tokoh agama yang tak sempit memahami ajaran agamanya. Imbasnya tak pernah terjadi gesekan antar-umat beragama. ”Hal ini perlu dijadikan contoh bijak bagi warga di daerah lain,” tandas Moh Rosyid yang juga dosen STAIN Kudus.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ditulis pada Tak Berkategori