Tiba Dini Hari, Jenazah TKI Grobogan yang Meninggal di Malaysia Langsung Dimakamkan

MuriaNewsCom, GroboganHarapan pihak keluarga agar jenazah Ika Ratna Desi Oktavia, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Desa Taruman, Kecamatan Klambu, akhirnya terpenuhi. Setelah proses administrasi rampung, jenazah TKI berusia 20 tahun itu akhirnya bisa dipulangkan ke kampung halamannya, Rabu (28/2/2018) dini hari.

Jenazah Ika yang dibawa pulang menggunakan mobil ambulans warna silver milik RS Sedyo Rahayu Yogkakarta tiba di rumah duka sekitar pukul 00.10 WIB. Isak tangis langsung terdengar begitu jenazah Ika yang sudah dikemas dalam peti kayu diturunkan dari mobil ambulans. Kedua orang tua serta adik TKI yang baru bekerja sekitar setahun itu sudah meninggal.

Setelah disemayamkan di rumah duka, dilanjutkan proses penyerahan jenazah pada pihak keluarga. Penyerahan jenazah dilakukan petugas dari BP3TKI Jateng didampingi pegawai Disnakertrans Grobogan serta perwakilan biro jasa yang menyalurkan Ika bekerja ke Malaysia. Usai penyerahan, jenazah Ika langsung dimakamkan dipemakaman umum desa setempat.

”Alhamdulillah, proses pemulangan jenazah TKI atas nama Ika Ratna Desi Oktavia dari Malaysia berjalan lancar. Pemulangan jenazah dilakukan dengan penerbangan dari Malaysia ke Jakarta dan berlanjut ke Jogjakarta. Dari Jogja, jenazah akan dibawa pulang ke rumah duka dengan ambulans.,” kata Kepala Disnakertran Grobogan Nurwanto.

Nurwanto menyatakan, pemberitahuan meninggalnya TKI itu disampaikan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia melalui surat tertanggal Minggu (25/2/2018) kemarin.  Berdasarkan pemberitahuan tersebut, korban meninggal karena sakit TBC pada hari Sabtu (24/2/2018) pukul 15.05 waktu setempat di RS Sultanah Aminah Johor Baru, Malaysia.

”Setelah proses pemulangan dan pemakaman selesai, kami akan membantu mengupayakan agar semua hak-hak TKI itu bisa dipenuhi dan diserahkan pada pihak keluarga,” katanya.

Editor: Supriyadi

TKI Asal Taruman Grobogan Meninggal di Malaysia

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Grobogan dikabarkan meninggal dunia di Malaysia. TKI yang meninggal tercatat atas nama Ika Ratna Desi Oktavia (20), warga Desa Taruman, Kecamatan Klambu.

Kepala Disnakertran Grobogan Nurwanto membenarkan adanya kabar TKI yang meninggal di Malaysia tersebut. Pemberitahuan meninggalnya TKI itu disampaikan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia melalui surat tertanggal Minggu (25/2/2018) kemarin.

Berdasarkan pemberitahuan tersebut, korban meninggal karena sakit TBC pada hari Sabtu (24/2/2018) pukul 15.05 waktu setempat. Saat ini, jenazahnya masih berada di RS Sultanah Aminah Johor Baru, Malaysia.

Kabar duka itu langsung disampaikan pada pihak keluarga di Desa Taruman. Namun, pihak keluarga ternyata juga sudah mendapat kabar duka dari rekan korban yang ada di Malaysia.

“Berdasarkan pemberitahuan tersebut, korban meninggal karena sakit TBC. Saat ini, jenazahnya masih berada di rumah sakit,” jelasnya.

Menurut Nurwanto, jenazah TKI tersebut rencananya akan dipulangkan ke tanah air, Selasa (27/2/2018) besok. Pemulangan jenazah dilakukan dengan penerbangan dari Malaysia ke Jakarta dan berlanjut ke Jogjakarta. Dari Jogja, jenazah akan dibawa pulang ke rumah duka dengan ambulans.

“Jenazah diterbangkan dari Malaysia, Selasa siang. Kemungkinan, sampai di rumah duka menjelang tengah malam,” katanya.

Editor: Supriyadi

Biar Terjamin, Warga Grobogan yang Minat Jadi TKI Diminta Berangkat Sesuai Prosedur

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada sejumlah faktor yang menyebabkan masih ada tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tersandung masalah ketika bekerja di luar negeri. Salah satu penyebabnya, para TKI itu ternyata banyak yang berangkat melalui prosedur yang tidak resmi, tanpa melibatkan dinas atau instansi terkait.

”Pemerintah membolehkan warganya untuk bekerja ke luar negeri sebagai TKI. Tetapi, perlu diingat agar mengurus keberangkat sebagai TKI sesuai prosedur yang sudah ditentukan. Hal ini untuk menjamin keamanan dan perlindungan pada TKI itu sendiri,” kata Deputi Perlindungan BPN2TKI Teguh Hendro Cahyono, saat menyampaikan sosialisasi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, Sabtu (27/1/2018).

Sosialisasi dengan tema ‘Peluang Kerja ke Luar Negeri dan Migrasi Aman’ di Balaidesa Kedungrejo itu juga dihadiri Anggota Komisi IX DPR RI Sri Wulan. Hadir pula, Direktur Sosialisasi Kelembagaan BPN2TKI Agustinus Gatot Hermawan, Kepala BP3TKI Semarang Suparjo dan Kabid Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnakertrans Grobogan Hadi Purmiyanto dan Kades Kedungrejo Miftahul Huda.

Teguh menyatakan, banyaknya TKI yang tidak menempuh prosedur itu tentunya sangat disayangkan. Soalnya, jika TKI berangkat tidak melalui prosedur resmi maka besar kemungkinan identitas yang bersangkutan dipalsukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab atau calo. Kondisi itu akan menyulitkan pihak keluarga atau pemerintah jika dikemudian hari ada masalah yang menimpa TKI tersebut.

“Jadi, ketika ada orang yang menawarkan iming-iming kerja jadi TKI dengan gaji tinggi, jangan langsung percaya. Teliti dulu kebenarannya. Bila perlu konsultasi dengan Pak Kades atau kantor Dinas Tenaga Kerja setempat,” cetusnya.

Sosialisasi tersebut dihadiri sekitar 300 orang yang sebagian besar adalah ibu-ibu dan remaja putri setempat. Diantara undangan perempuan ini, ternyata ada puluhan orang yang sebelumnya sudah pernah merasakan suka duka jadi TKI di berbagai negara. Bahkan, ada yang sampai bekerja jadi TKI sampai enam tahun di Saudi Arabia.

“Saya sudah pernah enam tahun kerja di Riyadh, Arab Saudi. Hasilnya, bisa beli sawah, bangun rumah dan biaya sekolah anak. Sekarang sudah tidak pingin lagi jadi TKI,” kata Tami, mantan TKI yang hadir dalam sosialisasi itu.

Kabid Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnakertrans Grobogan Hadi Purmiyanto menambahkan, minat warga Grobogan bekerja jadi TKI masih cukup tinggi. Indikasinya, tiap tahun masih ada sekitar 500 orang yang mengurus proses keberangkatan jadi TKI.

“Animo kerja jadi TKI memang masih tinggi. Berdasarkan data kami, saat ini ada sekitar 3 ribu warga Grobogan yang kerja jadi TKI di berbagai negara,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Jenazah TKI Asal Desa Jambon Grobogan yang Meninggal di Korea Dipulangkan Malam Ini

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses pemulangan jenazah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Grobogan yang meninggal dunia di Korea Selatan berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Info terbaru, proses pemulangan jenazah TKI atas nama Yosi Ashari sudah dimulai hari ini di Korea.

Kepala Disnakertrans Grobogan Nurwanto menyatakan, pemberitahuan pemulangan jenazah sudah diterima lewat faximile. Kemudian, surat itu sudah diteruskan pada perangkat Desa Jambon, Kecamatan Pulokulon hingga sampai keluarganya yang tinggal di Dusun Mangsulan.

TKI berusia 28 tahun itu dikabarkan meninggal Minggu (21/1/2018). Yosi meninggal di Rumah Sakit Fatimah Kota Dong Daegu, Korea Selatan. Kabar meninggalnya Yosi saat ini juga sudah banyak diunggah lewat media sosial.

Nurwanto menjelaskan, jenazah TKI tersebut diterbangkan dengan pesawat dari Bandara Incheon Korea pukul 10.35 waktu setempat. Diperkirakan pesawat sampai bandara Soekarno-Hatta pukul 15.45 WIB.

Baca : TKI Asal Desa Jambon Grobogan Meninggal di Korea Selatan

”Dari Jakarta, jenazah akan diterbangkan dengan pesawat terakhir menuju bandara A Yani Semarang. Kita perkirakan tiba di Semarang jam 20.50 WIB. Setelah itu, jenazah diantarkan pulang ke kampung halamannya pakai ambulans. Kemungkinan, sampai rumah duka tengah malam atau dinihari ini,” jelasnya.

Nurwanto menjelaskan, dari data yang didapat, Yosi merupakan TKI legal atau resmi. Identitasnya sudah tercatat dalam data base BNP2TKI. Yosi tercatat berangkat kerja ke Korea tahun 2014.

Editor: Supriyadi

TKI Asal Desa Jambon Grobogan Meninggal di Korea Selatan

MuriaNewsCom, GroboganSeorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Grobogan dikabarkan meninggal dunia di Korea Selatan. TKI yang meninggal tercatat atas nama Yosi Ashari, warga Dusun Mangsulan, Desa Jambon, Kecamatan Pulokulon.

TKI berusia 28 tahun itu dikabarkan meninggal Minggu (21/1/2018). Yosi meninggal di Rumah Sakit Fatimah Kota Dong Daegu, Korea Selatan. Kabar meninggalnya Yosi saat ini juga sudah banyak diunggah lewat media sosial.

Kepala Disnakertrans Grobogan Nurwanto ketika dimintai komentarnya membenarkan kabar adanya seorang TKI yang meninggal tersebut. Informasi yang didapat, Yosi meninggal karena sakit.

Menurutnya, pihaknya sudah mendatangi keluarga korban di Desa Jambon untuk menyampaikan kabar duka. Namun, pihak keluarganya ternyata sudah tahu karena mendapat telepon dari rekan korban yang masih bekerja di Korea.

Nurwanto menjelaskan, dari data yang didapat, Yosi merupakan TKI legal atau resmi. Identitasnya sudah tercatat dalam data base BNP2TKI. Yosi tercatat berangkat kerja ke Korea tahun 2014.

Pihaknya sedang berkoordinasi dengan BNP2TKI dan BP3TKI Jateng untuk mengurus kepulangan jenazahnya. “Kita akan berupaya semaksimal mungkin agar jenazahnya bisa segera dipulangkan dan mengurus hak-hak korban. Tapi, ini mesti butuh proses dan kita sedang siapkan dukungan administrasi yang diperlukan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Jenazah TKI Sumberagung Grobogan yang Meninggal di Malaysia Tiba di Kampung Halaman

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya pemerintah untuk memulangkan jenazah Tasmi (43), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Desa Sumberagung, Kecamatan Godong, Grobogan yang meninggal di Malaysia membuahkan hasil. Setelah menempuh proses panjang, jenazah Tasmi akhirnya bisa dipulangkan ke kampung halamannya, Jumat (19/1/2018) malam.

Proses pemulangan jenazah dari Malaysia dimulai sejak Jumat Pagi. Oleh pihak KBRI, jenazah dibawa pulang menuju Jakarta menggunakan pesawat. Dari Jakarta, jenazah kembali dinaikkan pesawat penerbangan terakhir menuju bandara A Yani Semarang.

Baca: TKI Asal Sumberagung Grobogan Meninggal di Malaysia

Kemudian, dari Semarang jenazah dibawa pulang menggunakan mobil ambulans milik Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jateng menuju Desa Sumberagung.

Ambulans warna hitam dengan nomor polisi H 9592 RG tiba dirumah duka sekitar pukul 23.10 WIB. Suasana haru langsung terlihat ketika jenazah Tasmi yang sudah dikemas dalam peti kayu warna putih diturunkan dari mobil ambulans.

Sebelum jenazah datang, sanak keluarga dan ratusan warga sudah berada dirumah duka. Rencananya, proses pemakaman akan dilangsungkan siang ini, Sabtu (20/1/2018).

”Alhamdulillah, proses pemulangan jenazah dari Malaysia hingga rumah duka berjalan lancar. Sebelumnya, proses pemulangan jenazah sempat terkendala karena harus melengkapi berbagai persyaratan administrasinya,” kata Kepala Disnakertrans Grobogan Nurwanto yang ikut hadir dalam proses penyerahan jenazah pada pihak keluarga tersebut.

Baca: Gelar Razia, Polisi di Grobogan Kaget Ada Emak-emak jadi Sopir Truk

Menurut Nurwanto, dukungan admnistrasi diperlukan karena dari hasil penelusuran yang dilakukan, Tasmi diduga berangkat ke Malaysia tidak lewat jalur resmi atau ilegal. Dari keterangan pihak keluarga, Tasmi berangkat ke Malaysia sekitar tahun 2012.

Sebelumnya, Tasmi sempat kerja di Kudus dan kemudian berkenalan dengan seorang teman asal Surabaya. Oleh temannya itulah, Tasmi kemudian diajak pergi ke Malaysia.

”Pihak keluarga juga tidak tahu berangkatnya lewat perusahaan mana. Mereka tahunya, Tasmi pergi kerja ke Malaysia karena diajak temannya,” jelasnya.

Nurwanto menjelaskan, dari pemberitahuan yang diterima, Tasmi sudah meninggal pada tanggal 2 Desember 2017 karena sakit. Pihak rumah sakit sempat kesulitan untuk menemukan indentitas lengkapnya karena yang bersangkutan ternyata tidak memiliki paspor. Setelah hampir satu bulan ditelusuri, identitas Tasmi akhirnya bisa diketahui. Yakni, dari adanya salinan ijazah SD milik Tasmi.

Editor: Supriyadi

TKI dari Sumberagung Grobogan yang Meninggal di Malaysia Sudah Bekerja 4 Tahun

MuriaNewsCom, GroboganProses keberangkatan Tasmi (43), warga Desa Sumberagung, Kecamatan Godong menjadi TKI ke Malaysia masih terus dilacak. Pihak keluarganya juga tidak begitu mengerti dengan perusahaan yang menyalurkannya bekerja ke Malaysia.

”Seingat saya, dulu ada yang menawari kerja ke Malaysia. Kira-kira, sudah ada empat tahun berangkatnya ke Malaysia,” kata Sripah (70), ibu kandung Tasmi saat ditemui wartawan dirumahnya, Jumat (5/1/2018).

Selama berada di Negeri Jiran, Tasmi sempat berkomunikasi beberapa kali dengan pihak keluarganya. Komunikasi terakhir dilakukan akhir November 2017 lalu. Saat itu, Tasmi meminta kiriman uang untuk biaya berobat karena sedang sakit.

”Permintaan itu tidak bisa dituruti karena keluarga disini juga tidak punya uang. Setelah itu, tidak ada lagi komunikasi dari Tasmi. Kalau komunikasi biasanya lewat saya,” kata Sukarman (54), salah satu kerabat korban.

Sripah yang selama ini tinggal sendirian dirumah karena suaminya sudah tiada. Sripah hanya dikaruniai satu orang anak, yakni Tasmi yang dikabarkan sudah meninggal di Malaysia tersebut.

Tasmi sebelumnya sempat menikah tetapi tidak dikaruniai anak. Setelah bercerai dengan suaminya, Tasmi kemudian memutuskan bekerja jadi TKI ke Malaysia.

Kades Sumberagung Susilo menyatakan, kabar meninggalnya Tasmi diterima pihak keluarga, Kamis (4/1/2018) kemarin. Selain keluarga, pihak desa juga mendapat pemberitahuan perihal meninggalnya Tasmi yang disampaikan petugas dari Disnakertrans Grobogan.

Berdasarkan pemberitahuan tersebut, korban meninggal karena sakit yang juga dilengkapi dengan hasil otopsi dari pihak rumah sakit. Saat ini, jenazahnya masih berada di RS Malaka, Malaysia.

Pihak keluarga berharap agar jenazah Tasmi bisa segera dipulangkan untuk dimakamkan dikampung halamannya.

”Pihak keluarga berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka berharap agar jenazahnya bisa dipulangkan untuk dimakamkan di kampung halaman. Ini, saya sedang membantu menyiapkan kelengkapan administrasi yang dibutuhkan,” katanya.

Editor: Supriyadi

TKI Asal Sumberagung Grobogan Meninggal di Malaysia

MuriaNewsCom, GroboganSeorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Grobogan dikabarkan meninggal dunia di Malaysia. TKI yang meninggal tercatat atas nama Tasmi (43), warga Desa Sumberagung, Kecamatan Godong.

Camat Godong Bambang Haryono menyatakan, pemberitahuan meninggalnya TKI itu disampaikan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia melalui surat, Kamis (4/1/2018) siang kemarin. Kabar duka itu juga sudah disampaikan pada pihak keluarga di Desa Sumberagung.

Berdasarkan pemberitahuan tersebut, korban meninggal karena sakit yang juga dilengkapi dengan hasil otopsi dari pihak rumah sakit. Saat ini, jenazahnya masih berada di RS Malaka, Malaysia.

“Pihak keluarga berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka berharap agar jenazahnya bisa dipulangkan untuk dimakamkan di kampung halaman,” katanya.

Kepala Disnaker Grobogan Nurwanto ketika dikonfirmasi membenarkan adanya kabar TKI yang meninggal di Malaysia tersebut. Setelah dapat kabar, pihaknya segera memberitahu keluarganya untuk menyampaikan berita duka.

Selanjutnya, pihaknya juga masih melacak jejak keberangkatan korban sebagai TKI. Yakni, untuk memastikan perusahaan jasa tenaga kerja yang memberangkatkannya jadi TKI.

“Kita masih mengumpulkan kelengkapan administrasi terkait proses keberangkatan korban. Termasuk perusahaan yang memberangkatan kerja ke luar negeri. Hal ini kita perlukan untuk memudahkan proses pemulangan jenazah dan meminta pemenuhan hak-hak korban selama bekerja,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Joko Samuel, TKI yang 12 Tahun Hilang Dipastikan Belum Berganti Data Kependudukan

Keluarga dari TKI yang hilang Joko Samuel, berfoto bersama, saat didatangi wartawan, di rumahnya di Desa Mangin, Kecamatan Karangrayung, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski keberadaannya belum juga diketahui, namun Joko Samuel (27), warga Desa Mangin, Kecamatan Karangrayung, Grobogan yang 12 tahun belum pulang setelah jadi TKI, diketahui belum berganti data kependudukan. Hal ini berdasarkan pelacakan yang dilakukan melalui kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Grobogan.

“Dari nomor induk kependudukannya (NIK), yang bersangkutan tercatat masih beralamat di Desa Mangin. Artinya, belum pernah berganti data, misalnya pindah domisili ke daerah lain,” jelas Kepala Dispendukcapil Grobogan Moh Susilo, Selasa (15/8/2017).

Baca jugaVIRAL, Kondisi Ibu Akibat Anaknya jadi TKI dan 12 Tahun Tak Pernah Ngabari 

Menurut Susilo, identitas seseorang bisa dilacak lewat sistem administirasi kependudukan yang dimiliki. Dalam sistem tersebut, Joko Samuel juga belum terdeteksi melakukan perekaman data di tempat lain.

“Kalau yang bersangkutan pindah atau melakukan perekaman data E-KTP di tempat lain, pasti bisa kita ketahui,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasi Penempatan Penempatan Tenaga Kerja Dinakertrans Grobogan Sugiyarto saat dimintai komentarnya menyatakan, pihaknya tidak memiliki data terkait nama Joko Samuel yang dikabarkan pernah berangkat jadi TKI tahun 2005 lalu. Menurutnya, untuk menelusuri jejak Joko tersebut, salah satu upayanya adalah mengetahui perusahaan jasa penyalur tenaga kerja yang memberangkatkan ke luar negeri.

“Kalau tahu penyalur atau agennya bisa kita telusuri dari awal. Di tempat kami, belum ditemukan data TKI atas nama Joko Samuel. Nanti, kami akan coba membantu menelusuri jejak orang itu supaya bisa ketemu,” jelasnya.

Seperti diberitakan, Joko Samuel merupakan anak pasangan Sudardi (65) dan Kasmi (63). Sekitar tahun 2005, Joko diajak beberapa temannya untuk bekerja jadi TKI di Brunai Darussalam. Namun, hingga saat ini, Joko tidak pernah pulang ke kampung halamannya. 

 

Editor : Akrom Hazami

VIRAL, Kondisi Ibu Akibat Anaknya jadi TKI dan 12 Tahun Tak Pernah Ngabari

Sudardi (65) menunjukkan ijazah SD Joko Samuel, putranya yang tidak pernah pulang selama 12 tahun terakhir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pasangan suami istri, Sudardi (65) dan Kasmi (63), warga Desa Mangin, Kecamatan Karangrayung, Grobogan, saat ini sedang dilanda kesedihan. Karena keduanya sudah hilang kontak dengan anaknya Joko Samuel (27) selama hampir 12 tahun lamanya.

Tidak jelas kabar dari sang buah hati bahkan sempat membuat Kasmi jatuh sakit. Diagnosa medis, Ibunda Joko Samuel ini mengalami gejala stroke.

Akibat sakit ini, Kasmi sehari-hari praktis tidak bisa beraktivitas berat. Untuk pergi ke kamar kecil, ia harus dipapah suaminya.

“Istri saya mulai sakit sejak empat bulan lalu. Semenjak sakit saya tidak bisa kerja jauh-jauh. Untuk sementara kerja apa saja dan makan juga seadanya,” kata Sudardi saat dikunjungi di rumahnya, Senin (14/8/2017).

Pasangan yang tinggal di rumah sederhana dari papan dan berlantai tanah ini memiliki dua orang anak. Anak pertama bernama Daryati sudah meninggal dunia sekitar dua tahun lalu pada usia 38 tahun. Meninggalnya Daryati yang sudah memiliki dua orang putra ini makin menambah kesedihan kedua orang tua itu.

Sudardi menceritakan, sekitar tahun 2005, Joko Samuel yang saat itu duduk di bangku kelas III SMP dr Soetomo Karangrayung tidak lulus ujian akhir. Karena merasa malu, Joko tidak mau ketika diminta untuk ikut ujian ulang.

Tidak lama kemudian, ada beberapa teman dan tetangganya yang mengajaknya kerja jadi TKI ke Brunei Darussalam. Sebenarnya, Dardi sempat mencegah karena Joko diminta menamatkan sekolahnya dulu. Namun, karena anaknya punya kemauan kuat, akhirnya ia pun menyetujui rencana tersebut. Bahkan, sebagai bekal untuk bisa kerja jadi TKI, Dardi sempat menjual sepetak sawahnya.

“Waktu itu, sawahnya laku Rp 8 juta. Uangnya buat ongkos Joko kerja ke luar negeri,” kenang Dardi.

Beberapa tahun kemudian, teman Joko yang sebelumnya mengajak kerja ke luar negeri sudah pulang ke kampung. Saat ditanyakan kabar anaknya, mereka menyatakan jika Joko masih ada di Brunei dan mau tetap kerja. Selama di Brunei, Joko dan teman-temanya ternyata tidak bekerja dalam satu tempat. Tetapi berpencar lokasi.

Dardi menceritakan, sekitar tahun 2008, sempat kontak dengan anaknya lewat telepon di rumah salah satu perangkat desanya. Saat itu, samar-samar Dardi sempat mendengar kalau Joko posisinya ada di Pontianak dan hendak diajak kerja ke Malaysia oleh teman perempuannya. “Ceritanya, ketika sampai di Pontianak, Joko dapat kenalan. Katanya, mau kerja nanam pohon di Malaysia,” jelas Dardi.

Kedua orang tua itu hanya berharap agar keberadaan anaknya bisa terlacak. Dengan demikian, mereka bisa merasa tenang.

“Saya berharap, Joko bisa segera pulang. Kami sangat merindukannya,” kata Dardi.

Saat diminta menunjukkan foto anaknya, Dardi mengaku tidak punya. Satu-satunya barang yang ada foto Joko adalah ijazahnya saat lulus SD.

“Foto Joko sudah hilang. Dulu sempat ada beberapa. Sebelum tinggal di sini, saya sempat pindah tempat dua kali. Jadi, waktu pindahan banyak barang yang tercecer,” imbuhnya.

Sementara itu, Kades Mangin Budiono yang menemani kunjungan ke rumah Sudardi menyatakan, pihaknya akan mencoba mencari informasi lebih lanjut dengan teman-teman Joko saat awal pergi ke luar negeri. Dengan cara itu diharapkan, jejak untuk mencari keberadaan Joko akan bisa ditelusuri lagi.

Editor : Akrom Hazami

 

Pemerintah Pusat Buka Lowongan Perawat Ikuti Kursus Bahasa Inggris 

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nusron Wahid saat berada di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah pusat membuka peluang bagi perawat yang mahir berbahasa Inggris. Itu dilakukan agar tenaga perawat di Indonesia mampu bersaing dan dapat diterima di rumah sakit di tingkatan internasional di luar negeri.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nusron Wahid, mengatakan tahun ini pemerintah pusat memiliki progam mengkursuskan tenaga perawat di Indonesia. Namun tenaga tersebut harus benar-benar bersedia bekerja di luar negeri, dengan mengikuti tes.

“Ada 1.000 tenaga perawat yang dibutuhkan.  Mereka akan dikursuskan Bahasa Inggris. Mereka semua akan dikursuskan hingga lulus dan mendapatkan sertifikatnya. Jadi jika kursus kemudian tak lulus, akan dikursuskan lagi sampai lulus,” kata Nusron di pendapa Pemkab Kudus dalam kegiatan Sosialisasi Progam Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, Jumat (24/3/2017).

Menurutnya, para perawat harus bersedia mengikuti program pemerintah untuk bertugas di luar negeri. Karena, dengan menjadi perawat di luar negeri, selain mendapatkan penghasilan yang tinggi, juga mengharumkan nama bangsa dengan jadi perawat tingkat dunia.

Dia mengatakan, kursus akan dilakukan di luar negeri. Dan dalam sekali kursus, biaya yang seharusnya dikeluarkan kisaran Rp 16 juta. Dengan biaya yang besar itulah diharapkan perawat mampu bekerja dil uar negeri.

Bagi yang berminat, dapat mendaftar di tempat yang disediakan.  Bahkan di DKK saja, dapat digunakan sebagai tempat pendaftaran tersebut. Ini berlaku di seluruh Indonesia, termasuk di Kudus.

Dia menjelaskan, sebelumnya banyak para perawat yang ikut tes dalam bekerja di luar negeri. Namun sebagian besar gagal lantaran tes Bahasa Inggrisnya, khususnya Bahasa Inggris medis.

Bupati Kudus Musthofa mengatakan, pihak pemerintah mendukung penuh akan progam tersebut. Bahkan dia berterima kasih kepada Nusron, yang mana bersedia pulang ke kampung halaman demi hal tersebut.

“Bangga punya warga yang sukses di nasional. Kami mendukung penuh progam tersebut. Dan bagi warga Kudus, ini merupakan peluang yang sangat langka,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Puluhan Ribu Lulusan Perawat Nganggur Tiap Tahun

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nusron Wahid, saat hadir di Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sedikitnya 28 ribu lulusan perawat, menganggur setiap tahunnya. Kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Bahkan sampai sekarang hal itu bukannya berkurang, tapi justru sebaliknya.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Nusron Wahid, menuturkan tentang hal tersebut saat di Kudus, Jumat (24/3/2017). Saking banyaknya yang nganggur, membuat mereka kurang sejahtera. Terlihat dari lulusan perawat yang akhirnya menjadi tenaga honorer, dengan gaji seadanya, serta ada yang bertahan menjadi pengangguran.

“Tiap tahun, lulusan perawat baru mencapai jumlahnya 43.150 orang. Sedangkan, yang terserap  dan mendapatkan kerja hanya 15 ribu, dengan jumlah maksimal. Jadi, rata-rata tiap tahun 28 ribu nganggur,” katanya di pendapa Kabupaten Kudus dalam kegiatan Sosialisasi Progam Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia.

Menurutnya, semakin banyak lulusan tiap tahun, maka pengangguran juga semakin banyak. Hingga kini jumlah perawat yang menganggur sekitar 422 ribu orang. Melihat hal itu, dia mengajak para lulusan perawat dapat bekerja lebih layak dil uar negeri. Bukan sebagai TKI yang berprofesi pembantu, namun lebih sebagai TKI yang memiliki penghasilan lebih lantaran sebagai perawat. 

Selain itu, perawat diluar negeri sangat dihormati dan memiliki gaji yang amat banyak. Yaitu mencapai Rp 20 hingga Rp 40 juta dalam rupiah. Jumlah tersebut sangat berbalik jika menjadi perawat dengan status yang tak jelas, apalagi pengguran.

“Jangan jadi perawat tak tetap gaji seadanya dan berharap PNS. Apalagi sampai nyogok sana-sini dengan jual tanah, kerbau, sapi dan sebagainya. Tidak bisa,” ujarnya.

Dia mengatakan, perawat di Indonesia merupakan perawat yang unggul di luar negeri. Bahkan kebutuhan sangat tinggi akhirnya ada pihak yang meminta tenaga dari Indonesia. Ada sejumlah negara yang siap menerima tenaga perawat Indonesia, seperti Amerika, Arab bahkan Jepang.

Editor  : Akrom Hazami

Bingung Kerja? Jadi TKI saja, kata Pemkab Blora

Chris Hapsoro Kepala Diana tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Chris Hapsoro Kepala Diana tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Minimnya peluang kerja yang ada di Blora membuat pemkab mendorong masyarakat setempat untuk jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara Asia Timur dan Australia.
Karena negara-negara itu dalamnya memiliki aturan kerja yang baik.

Dari data yang dihimpun MuriaNewsCom, pada 2014 ada 40 warga Blora yang menjadi TKI pada 2015 naik menjadi 70 warga. Ini artinya ada peningkatan yang signifikan. Naiknya jumlah TKI tersebut disebabkan oleh meningkatnya kualitas ekonomi TKI yang telah bekerja di negara itu. Hingga membuat mereka yang belum meningkat secara ekonominya, tergiur mengikuti langkahnya.

Di Blora sendiri persebaran TKI terbanyak di Kecamatan Todanan, Banjarejo, Randublatung dan Japah.

“Sebagian besar mereka jadi sopir dan penjaga panti jompo,” ungkap Chris Hapsoro, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) kepada MuriaNewsCom (18/01/2016).
Pihaknya, lanjut Hapsoro, tidak sembarangan dalam memberangkatkan TKI. Harus melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang direkomendasi dari Disnakertransos. “Harus melalui kami untuk diberi pembekalan terlebih dahulu,” ujarnya.

Dari pembekalan, menurutnya, selalu diberikan kepada para TKI yang mau diberangkatan. Pembekalan meliputi regulasi kerja dan pengetahuan umum. Jadi, TKI sudah matang dan siap terkait pekerjaaanya.

Meski begitu, Hapsoro mengaku, tidak ada pekerjaan yang lebih menyenangkan selain bekerja dekat dengan rumah sendiri. Menjadi TKI adalah alternatif jika tidak ada peluang kerja di daerah.
Ia juga berharap, bagi TKI agar tidak lena bekerja di luar negeri. Bagi yang sudah mumpuni untuk berwirausaha memutuskan kembali ke daerah dan berwirausaha. “berharap sepulang dari sana bisa mengumpulkan modal untuk berwirausahaujarnya. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)

TKI Rembang Tewas Terjatuh dari Gedung Tinggi di Malaysia

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Rembang tewas mengenaskan terjatuh dari lantai IV sebuah proyek bangunan di Malaysia. Insiden nahas tersebut terjadi pada hari Minggu (13/12/2015) kemarin.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, korban bernama Muhammad Syaiful Anshori (22) warga Desa Manggar, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang. Diduga korban berangkat secara ilegal, lantaran nama yang bersangkutan tidak terdaftar di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Rembang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinsosnakertrans Rembang Waluyo ketika dihubungi MuriaNewsCom, Senin (14/12/2015). Saat ini, pihaknya sedang mengirimkan anggotanya untuk ke rumah duka guna mengetahui identitas sekaligus memastikan status korban. “Kami kirim tim ke Desa Manggar,” ujarnya.

Terlepas dari legal atau tidaknya status korban, Waluyo menegaskan, Dinsosnakertrans tetap akan membantu pemulangan jenazah korban sampai rumah duka. Waluyo menyatakan sudah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia dan Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Jawa Tengah. “Kami segera bergerak cepat, sudah menghubungi KBRI di Malaysia dan BP3TKI Jawa Tengah terkait pemulangan jenazah korban,” tandasnya.

Waluyo menyampaikan setibanya jenazah korban di Bandara Ahmad Yani Semarang, pihak BP3TKI Jawa Tengah akan memfasilitasi mobil ambulance gratis sampai ke rumah duka. Selain itu, Waluyo mengimbau agar warga Rembang yang ingin kerja di luar negeri agar menempuh jalur resmi alias legal. “Selain nyaman dalam mencari nafkah, TKI resmi juga berhak mendapatkan asuransi apabila mengalami kecelakaan kerja,” himbaunya. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Puluhan Mantan TKI Grobogan Diberikan Motivasi Bisnis dan Pelatihan Wirausaha

Pelatihan untuk para mantan TKI Grobogan yang diselenggarakan BNP2TKI melalui BP3TKI Provinsi Jawa Tengah di LPK Koreanindo yang ada di Dusun Semen, Desa Pulokulon, Kecamatan Pulokulon. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pelatihan untuk para mantan TKI Grobogan yang diselenggarakan BNP2TKI melalui BP3TKI Provinsi Jawa Tengah di LPK Koreanindo yang ada di Dusun Semen, Desa Pulokulon, Kecamatan Pulokulon. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Sebanyak 25 orang mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Kecamatan Pulokulon mendapat pelatihan kewirausahaan selama sepekan. Yakni, mulai hari ini hingga Sabtu (24/10/2015) mendatang. Pelaksanaan pelatihan mantan TKI tersebut dilangsungkan di LPK Koreanindo yang ada di Dusun Semen, Desa Pulokulon, Kecamatan Pulokulon.

Acara pelatihan yang diselenggarakan BNP2TKI melalui BP3TKI Provinsi Jawa Tengah itu dibuka Kepala Desa Pulokulon Kandar. Setelah itu para peserta mendapat motivasi bisnis yang disampaikan Arif Budianto dari UMKM Center Jawa Tengah.

Menurut Arif, para mantan TKI tersebut sebenarnya sudah punya salah satu bekal untuk memulai usaha. Yakni, bekal berupa uang hasil dari jerih payahnya mengais rezeki di negeri orang. ”Kebanyakan mereka ini mengirimkan gaji yang didapat selama bekerja ke rumah. Jadi, sedikitnya modal usaha sudah mereka miliki,” kata Arif.

Meski demikian, syarat lain yang diperlukan untuk membuat usaha belum dimiliki para mantan TKI itu. Yaitu, keberanian dan tekad untuk memulai usaha meski hanya skala kecil. Selain itu, kebingungan menentukan jenis usaha juga dialami para mantan TKI.

Oleh sebab itu, dalam pelatihan tersebut, pihaknya sempat memberikan banyak gambaran jenis usaha yang bisa dilakukan. Terutama, usaha yang membutuhkan modal sedikit dan tidak perlu keterampilan khusus. Antara lain, usaha pembuatan makanan ringan, minuman, jasa, dan peternakan.

”Tahap pertama, para mantan TKI ini harus kita beri motivasi dan wawasan dulu. Setelah itu, mereka diberikan pelatihan teknis lebih lanjut. Jika mereka mau berusaha, kami dari UMKM Center Jateng siap membantu pemasaran produk yang dihasilkan,” cetus pria asal Kudus itu.

Ditambahkan, kegiatan serupa juga dilakukan di Desa Wolo, Kecamatan Penawangan. Selain dari UMKM Center Jateng, pelatihan wirausaha untuk mantan TKI juga diberikan dari lembaga lain. Seperti, lembaga perbankan, dinas peternakan, dan pengusaha peternakan ayam Jowo Super (Joper). (DANI AGUS/TITIS W)

Calon TKI Harus Waspada Modus Penyelundupan Narkoba

Para calon TKI sedang diberikan penyuluhan tentang Narkoba, agar mereka selalu waspada. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para calon TKI sedang diberikan penyuluhan tentang Narkoba, agar mereka selalu waspada. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Para calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) diminta waspada terhadap masalah narkoba. Sebab, banyak sekali terjadi kasus penyelundupan narkoba yang memanfaatkan tenaga TKI. Padahal, TKI ini sebenarnya tidak tahu jika dirinya dimanfaatkan oknum tertentu untuk membawa narkoba.

”Ada beragam modus penyelundupan narkoba yang melibatkan TKI. Antara lain dititipi dus atau paket yang isinya ternyata narkoba. Untuk itu, calon TKI kami harapkan agar tidak segan-segan melihat lebih dulu barang yang dititipkan ketika akan pulang ke tanah air,” ungkap Kaur Mintu SatNarkoba Polres Grobogan Aiptu Yuni Hastuti saat menyampaikan penyuluhan pada 60 calon TKI di PJTKI Rimba Ciptaan Indah Purwodadi.

Selain masalah penyelundupan, para calon TKI itu juga dikenalkan dengan jenis narkoba dan efek yang ditimbulkan dari barang terlarang tersebut. Antara lain, jenis ganja yang memberi efek halusinogen atau berkhayal. Kemudian, narkoba jenis shabu-shabu dan morphine yang memberi efek menekan sistem saraf pusat, sehingga pengguna menjadi lemas dan ekstasi yang memberi efek stimulan.

”Obat-obatan terlarang itu memberi rangsangan bagi sistem saraf pusat, sehingga pengguna bisa memacu tubuhnya melebihi keadaan normal. Padahal efek-efek ini hanya bersifat sementara atau biasa disebut euphoria narkoba. Inilah yang perlahan-lahan membuat organ-organ tubuh manusia rusak,” imbuhnya. (DANI AGUS/TITIS W)

Gaji Lebih Tinggi, Asia Tenggara Jadi Ladang Emas TKI Grobogan

pembantu-rumah-tangga.jpg (e)GROBOGAN – Sebagian besar TKI asal Grobogan memilih bekerja di sejumlah negara yang berada di kawasan Asia Pacific. Seperti di Hongkong, Taiwan, Malaysia, Korea dan Singapura yang dirasa lebih dekat jaraknya dan gajinya dinilai cukup tinggi.

Kepala Bidang Penempatan Perluasan dan Produktifitas Kerja (Penluker) Dinsosnakertrans Grobogan Sugeng Mulyanto menyatakan, beberapa waktu lalu, negara tujuan utama TKI adalah kawasan Timur Tengah khususnya Arab Saudi. Namun, pengiriman TKI di Arab Saudi sudah tidak dilakukan karena ada moratorium pemerintah. Pilihan TKI saat ini beralih ke Taiwan dan Hongkong sebagai negara tujuan bekerja.

Sugeng menjelaskan, dari 1.344 TKI yang berangkat pada tahun 2014 sebanyak 740 orang bekerja di Taiwan. Disusul kemudian ke Hongkong 296 orang dan Singapura 217 orang. Sedangkan lainnya tersebar di enam negara lainya, Malaysia, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Bahrain, dan Korea. (DANI AGUS/SUPRIYADI)

Duh, Perempuan Grobogan Masih Suka ”Mbabu” ke Luar Negeri

pembantu-rumah-tangga.jpg (e)GROBOGAN – Meski banyak masalah yang menimpa TKI di luar negeri namun hal itu tidak mengurangi minat masyarakat Grobogan untuk mengaiz rezeki di negeri orang. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya orang yang mendaftarkan diri untuk bekerja jadi TKI.

Bahkan, tidak jarang, mereka rela mengeluarkan biaya besar sekalipun nantinya hanya ditempatkan menjadi pembantu rumah tangga.

”Sejauh ini, kerja jadi TKI masih banyak peminatnya, utamanya kaum perempuan. Setiap tahun, lebih 1.000 orang yang kerja jadi TKI di berbagai negara,” ujar Kepala Bidang Penempatan Perluasan dan Produktifitas Kerja (Penluker) Dinsosnakertrans Grobogan Sugeng Mulyanto.

Dia menyebutkan, pada tahun 2012 dan 2013 lalu ada sekitar 2.000 orang yang bekerja jadi TKI. Dari jumlah ini, sebanyak 1500 orang atau sekitar 75 persennya perempuan.

Sementara pada tahun 2014 lalu tercatat ada 1.344 warga Grobogan yang kerja jadi TKI. Terdiri 1.118 perempuan dan 226 laki-laki. Sedangkan hingga pertengahan tahun 2015 ini, jumlah TKI sekitar 500 orang. (DANI AGUS/SUPRIYADI)

Minat Jadi TKI di Jepara Masih Tinggi, Taiwan Jadi Primadona

M Subkhan, Kepala Bidang Penempatan, Perluasan dan Transmigrasi (Pentatrans) pada Dinsosnakertrans Jepara. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Dinas Sosial Tenaga Kerja Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Jepara  mencatat minat warga Jepara untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri masih tinggi. Padahal risiko menjadi TKI sangat besar.

Lanjutkan membaca

Jangan Coba-coba Jadi TKI Melalui Jalur Ilegal, Ini Alasannya

M Subkhan, Kepala Bidang Penempatan, Perluasan dan Transmigrasi (Pentatrans) pada Dinsosnakertrans Jepara. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Dinas Sosial Tenaga Kerja Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara memperketat pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Jepara. Hal ini dilakukan untuk memastikan TKI asal Jepara melalui jalur yang resmi agar dapat meminimalisir resiko menjadi TKi di luar negeri.

Lanjutkan membaca