Ratusan Murid TK Penuhi Kantor Polisi Kudus, Ada Apa?

Murid mengayuh sepedanya dalam kegiatan Safety Bike Riding di Mapolres Kudus, Jumat (3/3/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan murid dari TK se- Kudus, diajari Safety Bike Riding di mapolres setempat, Jumat (3/3/2017). Mereka mendapatkan pemahaman tata cara berkendara lalu lintas yang baik oleh Polres Kudus.

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i mengatakan, ratusan murid TK ikut dalam kegiatan. “Kami memberikan edukasi sejak dini tentang memahami lalu lintas yang baik. Jadi sifatnya pengenalan kepada murid sejak masih dini,” katanya kepada MuriaNewsCom di mapolres setempat.

Jika sejak awal murid TK sudah memahami cara berkendara yang baik, tentu itu akan berdampak pada dewasanya kelak. Di antaranya, mereka akan membiasakan diri berkendara yang baik dan tidak melanggar di mana pun.

Pantauan di mapolres, para murid TK naik kendaraaan sepeda motor yang telah disiapkan. Mereka mengayuh sepeda di lintasan yang dipasangi beberapa rambu lalu lintas. Rambu lalu lintas tersebut biasa dipasang di jalan raya. Seperti halnya rambu lampu lalu lintas, rambu belok kanan, rambu belok kiri, dan lainnya.

Praktik semacam itu, kata kapolres, membantu murid mengetahui secara langsung. Lain halnya jika apa yang dilakukan hanya berdasarkan teori, maka mereka akan kurang memahaminya. Kapolres menjelaskan, dalam kegiatan hari ini murni pengenalan rambu saja.

Editor : Akrom Hazami

 

Guru Ini Rela Lenggak Lenggok Demi Anak Didiknya

Guru menggelar sharing (rapat) untuk saling melengkapi karya-karyanya dengan guru lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Guru menggelar sharing (rapat) untuk saling melengkapi karya-karyanya dengan guru lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain menciptakan sistem pendidikan akademik dengan membuat peraga pembelajaran, guru kelompok bermain (KB) Halimatus Sa’diyah, Klumpit, Gebog juga dituntut untuk membuat karya pendidikan non akademik. Pendidikan tersebut merupakan gerak lagu atau tari yang nantinya diberikan kepada anak didiknya. Sehingga mengembangkan kreativitas anak dalam bidang seni.

Kepala kelompok bermain (KB) Halimatus Sa’diyah Ani Mukhoiyaroh mengatakan, guru tingkatan yang ada di tingkatan KB atau TK itu harus lebih jenius lagi. Sebab yang diajari ialah anak usia dini, dimana usia tersebut baru mengenal pendidikan. Sehingga pihak guru harus mampu menciptakan kreasinya masing-masing.

Dia menilai, dengan kreativitas yang baik itulah, anak didik lebih merasa nyaman bersekolah. Sebab untuk membuat anak didik usia dini merasa nyaman menempuh pendidikan itu tidak mudah. Oleh karena itu, pihak guru dituntut kreativ dalam menyampaikan materi pembelajaran. Khsusunya mengembangkan psikomotorik serta mentalitas anak didik.

”Dalam kegiatan pembuatan kreasi ini, biasanya para guru melakukan pertemuan satu bulan sekali. Yaitu untuk saling sharing dan saling melengkapi. Sehingga karya-karyanya tersebut dapat dijadikan media untuk pembelajaran anak didiknya,” ujarnya.

Sistem pendidikan berupa media hasil karya tersebut, rata-rata anak didik tertarik untuk mengaplikasikannya di kegiatannya sehari-hari. Yaitu di luar jam sekolah, atau saat waktu bermain di rumah.

Alhamdulillah, anak didik ini memahami tentang materi yang kita berikan. Seperti halnya membuat hasta karya dari barang bekas, serta melakukan gerak dan lagu (seni) dengan baik,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)