Kembangkan Ekonomi Pertanian, Bupati Kudus Timba Ilmu ke Qaryah Thayyibah Salatiga

Rombongan Bupati Kudus Musthofa berbincang dengan pengelola Qaryah Thayyibah, Rabu (27/12/2017). (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa berkunjung untuk ngangsu kaweruh dan mengadopsi konsep sekolah alam Qaryah Thayyibah untuk penguatan ekonomi rakyat di bidang pertanian di Kalibening, Salatiga, Rabu (27/12/2017).

Bupati disambut hangat dan akrab oleh pemilik Qaryah Thayyibah, Kang Din, sapaan Ahmad Bahruddin, bersama punggawa lembaga pendidikannya.

“Saya akan segera kerjasama dengan Kang Din untuk memberdayakan pertanian dengan konsepnya,” kata Musthofa.

Dia mengaku segala sesuatu harus diserahkan pada ahlinya apabila ingin menuai hasil secara optimal. Menurutnya, Kang Din ini sosok yang tepat yang segera didatangkan di Kudus.

“Lha, kalau saya sederhana saja. Serahkan saja sama yang paham. Yang terpenting ini ihtiar saya demi masyarakat,” imbuh Bupati yang juga menyosialisasikan tentang ihtiarnya dalam Pilgub Jateng tahun depan.

Menanggapi hal ini, Kang Din menyambut positif kehadiran dan niat Bupati Kudus tersebut. Menurutnya ini sebuah niat positif bagi keberkuasaan ekonomi rakyat khususnya pertanian.

“Bagus sekali yang disampaikan Pak Musthofa ini. Tentu ini bagus untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Karena mayoritas masyarakat desa adalah petani,” kata Kang Din.

Kapasitas sebagai Bupati yang berihtiar bagi peningkatan ekonomi masyarakat Kudus, sangat layak dicontoh.

“Namun demikian, kalau memang di Kudus berhasil dan Pak Musthofa bisa memimpin wilayah yang lebih luas. Tentu ini juga akan dikembangkannya,” imbuhnya.

Sekadar informasi, Qaryah Thayyibah merupakan sekolah alternatif/alam yang kini juga ada serikat paguyuban petani. Di Qaryah, Kang Din ingin mendekatkan anak dengan alam, desa dan lebih peduli lingkungan. 

Di sini juga untuk memberdayakan ekonomi rakyat melalui pertanian dan konsep alam/lingkungan. Ini yang membuat Kang Musthofa ingin mengembangkannya di Kudus. Mengingat potensi pertanian/alam di Kudus yang begitu besar.

Editor: Supriyadi

Bupati Nias Barat Belajar ke Grobogan, Ini yang Dipelajari

Bupati Grobogan Sri Sumarni menerima kunjungan kerja Bupati Nias Barat Faduhusi Daely, Senin (11/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganBupati Nias Barat, Provinsi Sumatera Utara Faduhusi Daely melangsungkan kunjungan kerja ke Grobogan, Senin (11/12/2017). Dalam kunjungannya, Faduhusi didampingi istri dan sejumlah pejabat serta salah satu adik kandungnya yang kebetulan bekerja disalah satu bank swasta di Grobogan.

Rombongan Bupati Nias Barat diterima langsung Bupati Grobogan Sri Sumarni didampingi sejumlah pejabat. Antara lain, Asisten III Padmo, Kepala DPUPR Subiyono, dan Kepala DPPKAD Wahyu Susetijono.

Menurut Faduhusi, pihaknya sengaja melakukan kunjungan ke Grobogan karena banyak keberhasilan yang sudah diraih selama ini. Terutama, dalam bidang pertanian, pembangunan infrastruktur dan inovasi dalam menggali sumber pendapatan asli daerah (PAD).

”Saya banyak terima informasi keberhasilan di Grobogan ini. Salah satunya dari adik saya yang kebetulan bekerja disini,” katanya.

Faduhusi menyatakan, Kabupaten Nias Barat baru berdiri sekitar delapan tahun lalu, pasca terjadinya bencana tsunami. Sejauh ini, masih banyak hal yang perlu dibenahi agar tidak tertinggal dengan wilayah lainnya.

Kabupaten Nias Barat memiliki 8 kecamatan dengan 115 desa. Jumlah penduduknya hanya sekitar 92 ribu jiwa.

”PAD kami juga masih minim, cuma sekitar Rp 15 miliar. Sedangkan APBD kami nilainya berkisar Rp 500 miliar saja. Dibandingkan dengan Grobogan, PAD dan besaran ABPB kami jauh sekali. Di Grobogan punya PAD sampai Rp 450 miliar dan APBD nya lebih Rp 2 triliun,” tambah Faduhusi.

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyatakan, sejauh ini, potensi pertanian memang jadi andalan. Soalnya, sebagian besar penduduk bergelut dalam bidang pertanian.

”Kabupaten Grobogan saat ini merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional. Komoditas andalan kita adalah padi, jagung, dan kedelai atau pajale. Dalam bidang pertanian ini kita sering dapat juara nasional,” ungkapnya.

Untuk pembangunan infrastruktur khususnya jalan, memang jadi skala prioritas. Upaya untuk membangun jalan rusak juga dilakukan dengan dana pinjaman dari pihak ketiga.

”Tahun 2017 ini, alokasi dana perbaikan jalan sekitar Rp 400 miliar. Dari jumlah ini, sekitar Rp 200 miliar didapat dari dana pinjaman. Untuk meningkatkan PAD, kami memang meminta agar terus menggali potensi yang bisa didapat,” sambungnya.

Editor: Supriyadi

Pejabat Bappeda Kota Serang Timba Ilmu ke Grobogan, Ini Tujuannya

Kepala Bappeda Grobogan Anang Armunanto (baju merah) saat menerima tamu dari Kota Serang, Banten di ruang rapat bupati. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pejabat dari Bappeda Kota Serang, Banten, melangsungkan kunjungan kerja ke Grobogan, Kamis (26/10/2017). Ketua Bappeda Kota Serang Joko Sutrisno memimpin langsung rombongan yang melangsungkan studi banding tersebut. Rombongan diterima Kepala Bappeda Grobogan Anang Armunanto di ruang rapat bupati.

Menurut Joko, ada beberapa hal yang ingin dipelajari dalam kunjungannya ke Grobogan tersebut. Antara lain mengenai keberhasilan Pemkab Grobogan dalam meraih penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) hingga enam kali.

Kemudian, soal penanganan gender, kepeludian pada HAM, dan komoditas ungulan bidang pertanian di Grobogan. Khususnya, padi, jagung dan kedelai.

“Banyak hal yang ingin kita pelajari dari kunjungan ini. Nantinya, hasil dari sini akan kita coba aplikasikan di Kota Serang,” katanya.

Kepala Bappeda Grobogan Anang Armunanto menyatakan, prestasi yang kita capai dibidang KLA ini boleh dibilang membanggakan. Sebab, pengharaan KLA ini sudah enam kali berhasil didapat.

Dijelaskan, penghargaan KLA  didapat tahun 2009, 2011, 2012, 2013, 2015 dan 2017. Penghargaan itu diberikan karena pemkab dinilai telah melakukan upaya konkret terhadap pemenuhan hak sipil anak dan adanya forum anak dari tingkat desa sampai kabupaten.

Menurut Anang, ada beberapa kebijakan lain yang mendukung diraihnya penghargaan KLA itu. Yakni, pembangunan taman cerdas dan pembentukan peraturan Bupati Grobogan Nomor 7 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, juga telah dibentuk lembaga perlindungan anak berbasis masyarakat desa (LPAD) dan adanya peran karang taruna dalam perlindungan anak.

Untuk komoditas unggulan di Grobogan masih terdapat di sektor pertanian. Sejak beberapa waktu lalu, penanganan sektor pertanian juga dikembangkan dengan program techno park.  

“Kita punya rumah kedelai Grobogan (RKG) yang jadi tempat pembelajaran lengkap masalah kedelai dari hulu hingga hilir. Nanti, akan kita ajak singgah kesana biar tahu persis kondisinya dan bisa belajar banyak hal. Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan kerja ke Grobogan dan semoga yang didapat dari sini bisa membawa manfaat,” katanya.

Editor: Supriyadi

Pejabat dan Pelaku Usaha dari Kalteng Timba Ilmu Budidaya Kedelai ke Grobogan

Kabid Tanaman Pangan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Tengah Sumarli (baju merah) mendapat penjelasan proses pembuatan tempe higienis di RKG. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pengembangan tanaman kedelai lokal yang dilakukan Dinas Pertanian Grobogan dalam beberapa tahun terakhir ternyata mengundang daya tarik dari di sejumlah pihak.

Salah satunya dari pejabat Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan pelaku usaha dari Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang menyempatkan datang ke Grobogan untuk belajar soal kedelai.

Rombongan sebanyak 20 orang belajar kedelai di Rumah Kedelai Grobogan (RKG) di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh. Rombongan dari Kalteng dipimpin Kabid Tanaman Pangan Sumarli.

Kedatangan tamu dari Kalteng diterima Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Grobogan Sunanto. Ikut mendampingi rombongan dari Kalteng, Kasi Pasca Pangan dan Pengolahan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jateng Cisilia Sunarti.

Selama berada di RKG, mereka mendapat banyak penjelasan dari Sunanto mengenai budidaya kedelai lokal varietas Grobogan. Setelah itu, rombongan diajak melihat proses produksi tempe dan tahu higienis serta beragam makanan ringan dari bahan kedelai.

“Selama berada disini, kita bantu semaksimal mungkin apa yang dibutuhkan tamu kita dari Kalteng ini. Terus terang, saya merasa bangga ada rombongan dari jauh yang memilih Grobogan sebagai lokasi belajar budidaya kedelai. Harapan saya, apa yang didapat dari sini bisa secepatnya diaplikasikan di Kalteng,” cetusnya. 

Sementara itu, pimpinan rombongan dari Kalteng Sumarli menyatakan, tujuan utama datang ke Grobogan ingin menimba ilmu masalah kedelai. Namun, pihaknya juga ingin belajar budidaya tanaman pangan lainnya, seperti Jagung dan Padi. Sebab, selama ini Kabupaten Grobogan merupakan salah satu sentra penghasil padi, jagung, dan kedelai 

atau Pajale.

Dijelaskan, salah satu hal yang ingin dikembangkan di Kalteng adalah penanganan produk pasca panen. Seperti membuat aneka makanan dari hasil tanaman pangan. Salah satunya, membuat tempe dari bahan kedelai lokal. Oleh sebab itu, dalam rombongannya ada beberapa pelaku usaha pembuatan makanan dari bahan pangan.

“Apa yang sudah dilakukan Dinas Pertanian Grobogan ini sangat bagus. Jadi, tidak hanya budidaya saja tetapi juga pengembangan hingga pasca panennya. Hal inilah nantinya akan coba kita terapkan, yakni pengembangan komoditas sekaligus terintegrasi dengan pengolahan pasca panen,” terangnya.

Editor: Supriyadi

150 Pelaku IKM di Kudus Timba Ilmu ke Boyolali

Sejumlah pekerja industri rumahantengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom)

Sejumlah pekerja industri rumahantengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Kudus mengajak 150 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) ke Boyolali. Ratusan pelaku usaha tersebut ditujukan untuk belajar lebih serius tentang pengembangan produk.

Kabid Industri Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Koesnaeni mengatakan, Boyolali merupakan kabupaten yang memiliki pengembangan usaha cukup bagus. Karena itu pelaku usaha diharapkan bisa menimba ilmu untuk membuat usahanya laris manis.

”Rencananya selain pelatihan, para pelaku usaha akan melakukan kunjungan sesuai dengan bidang usahanya masing-masing. Misalkan, pengusaha tahu ya mereka kunjungannya ke IKM yang mengolah tahu. Begitupun yang lainnya,” katanya

Ia mengatakan, acara nimba ilmu ke Boyolali ini, merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan Dinas. Sebelum diajak ke sana, peserta dilatih terlebih dahulu guna mendapatkan bekal, barulah diajak studi lanjut.

”Pelatihan dimulai Senin (9/5) sampai kemarin. Para pelaku diberikan materi teori mulai Senin (9/5) sampai Rabu (11/5),” ungkapnya.

Ia mengakui, dengan adanya kunjungan IKM ke Boyolali untuk mengetahui kreasi dan inovasi pengusaha di sana. Sehingga, peserta pelatihan memiliki pengetahuan tentang hal tersebut.

Harapannya, dengan adanya studi banding mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Yang nantinya akan membuat produk semakin menarik dan berkembang.

Editor: Supriyadi