Bocah Asal Banyumas Tewas Tenggelam di Embung Sambongrejo Rembang

Korban saat dievakuasi warga dan petugas kepolisian. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Arkan Nuha Pratama (13) putra Hari Siswantoro warga Perumahan Karen Indah Blok G No. 20 Desa Klahang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Banyumas, tewas tenggelam saat bermain di embung yang berada di Dukuh Sambongrejo, Desa Jatimudo, Kecamatan Sulang, Rembang, Kamis (6/7/2017) siang.

Informasi yang dihimpun di lapangan, korban sebenarnya sedang menikmati liburan sekolah di rumah kakeknya Wahidi di Desa Jatimudo, Kecamatan Sulang.

Korban yang masih duduk di bangku SMP tersebut, kemudian bermain bersama saudaranya Badai Amade Hutomo (10) di pinggiran sebelah timur embung tersebut. Korban kemudian turun ke air, dan kemudian terpeleset di dalam embung.

Korban yang diduga tidak bisa berenang, kemudian tenggelam. Melihat itu, Badai Amade Hutomo berteriak histeris untuk meminta pertolongan. Teriakan tersebut kemudian didengar oleh Muhtadiun (65) warga setempat.

Tak berapa lama, Muhtadiun menghampiri ke tempat asal suara tersebut beserta warga lainnya untuk mencari korban. Namun sayang, saat sudah ditemukan korban sudah tak bernyawa.Korban diduga meninggal dunia lantaran tidak bisa berenang.

Dari hasil pemeriksaan tim medis Puskesmas Sulang, pada tubuh korban tidak diketemukan luka bekas kekerasan. Korban meninggal dunia karena tenggelam.

Kapolsek Sulang AKP Haryanto mengatakan jika pemakaman korban, pihak keluarga masih berkoordinasi dengan ayah korban yang sedang bersekolah di Italia. “Apakah nantinya akan dikebumikan di Sulang atau dibawa ke Banyumas,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Seorang Siswa SMK di Grobogan Tewas Tenggelam di Kubangan Bekas Galian C

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Grobogan – Nasib tragis menimpa Moh Fitra (15), warga Desa Sindurejo, Kecamatan Toroh. Di mana, siswa salah satu SMK swasta di Purwodadi itu didapati tewas saat mandi di sebuah kubangan bekas galian C, Rabu (05/10/2016).

Informasi yang didapat menyebutkan, sekitar pukul 14.30 WIB, korban bersama empat rekannya tiba di lokasi bekas galian C di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh. Setelah sampai di situ, korban bersama temannya sempat duduk-duduk sambil minum kopi yang sudah dibawa sebelumnya.

Sekitar satu jam kemudian, kelima pelajar tersebut bermain disebuah kolam bekas galian C yang belum sempat diuruk lagi. Saat itu, kondisi kolam sedalam 2 meter memang penuh air akibat adanya hujan dalam beberapa hari terakhir.

Korban semula mengira jika kolam tersebut tidak terlalu dalam sehingga berani menceburkan diri ke situ. Namun, setelah masuk ke dalam air, korban langsung terlihat panik dan berteriak minta tolong. Ternyata, korban selama ini tidak bisa berenang.

Melihat temannya dalam kesulitan, empat rekan korban langsung berlarian minta tolong warga sekitar. Tidak lama kemudian, warga berhasil mengevakuasi korban yang waktu itu sudah hampir tidak terlihat dari permukaan air.

Setelah dievakuasi, warga berupaya memberikan pertolongan darurat. Sayangnya, upaya ini tidak membuahkan hasil karena korban tidak lama kemudian menghembuskan nafas terakhir. Selanjutnya, peristiwa itu dilaporkan warga pada pihak kepolisian.

Kapolsek Toroh AKP Sunaryo ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya peristiwa orang tenggelam di bekas galian C tersebut. Menurutnya, peristiwa itu murni akibat kecelakaan.

“Dari pemeriksaan yang dilakukan, tidak ada bekas luka dan tanda-tanda penganiayaan di tubuh korban. Ini murni kecelakaan lantaran korban tak bisa berenang. Setelah diperiksa, jenazah korban kita serahkan pada pihak keluarga,’” kata Kapolsek Toroh AKP Sunaryo.

Ditambahkan Sunaryo, atas kejadian itu pihaknya mengimbau agar kubangan bekas galian C tersebut ditutup supaya tidak mencelakakan orang lagi. Rencananya, Kamis besok akan dilakukan pengurugan pada kubangan bekas galian C itu. “Pemilik bekas galian C itu kami minta untuk segera melakukan pengurugan di sana. Soalnya, kubangan itu bisa membahayakan orang,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Ini Aksi Heroik Kakak yang Tewas Saat Selamatkan Adik di Jepara  

kronologi tewas

Sri Ningsih berada di Puskesmas Nalumsari Jepara setelah diselamatkan dari dalam sumur. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Budiyono warga dukuh Krajan RT 03 RW 02 Desa Muryolobo, Kecamatan Nalumsari, Jepara bernama Budiyono (38) tewas saat menyelamatkan nyawa adiknya Sri Ningsih (30) ketika terjebur sumur.

Kronologi peristiwa bermula dari sekitar pukul 04.30 WIB, Sri Ningsih hendak mandi namun mesin air yang terpasang di dalam sumur mati, sehingga dia melihat sambil mengocak-ocak mesin air dari samping atas bibir sumur. Saat mencoba memperbaiki mesin dengan cara dikocak-kocak kemudian Sri Ningsih ditegur tetangganya yakni Tinah (48) untuk mengambil air di dalam rumahnya saja.

Selanjutnya Sri Ningsih bersedia mengambil air satu ember di sumur milik Tinah. Setelah mengambil air, kemudian Sri kembali mengocak ocak mesin air dan membuka tutup sumurnya dan terpeleset sehingga masuk ke dalam sumur.

Mengetahui Sri tercebur, Tinah berteriak minta tolong dan didengar oleh korban yakni Budiyono. Kemudian ia mencoba menyelamatkan Sri dari dalam sumur.

“Budiyono berhasil mengangkat Sri dari dalam sumur. Namun Budiyono terjatuh dan tenggelam dalam sumur saat dalam proses pengangkatan tubuh Sri dari dalam sumur,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo kepada MuriaNewsCom, Kamis (28/7/2016).

Mengetahui peristiwa itu, tetanga korban kemudian meminta tolong pada warga. Saat warga mengetahui itu, kemudian melakukan evakuasi korban.

Korban yang pertama kali berhasil dievakuasi adalah Sri Ningsih karena posisinya diatas. Setelah dievakuasi, Sri dibawa ke Puskesmas setempat sekitar pukul 05.30 WIB oleh para warga.

“Sedangkan korban Budiyono yang posisinya di dalam sumur berada di bawah, dievakuasi setelah korban Sri Ningsih. Selanjutnya Budiyono dibawa ke RSI Kudus, namun saat dalam perjalanan, Budiyono meninggal dunia,” terang Kepala Pelaksana BPBD Jepara melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik, Pujo Prasetyo kepada MuriaNewsCom.

Diameter sumur yang menjadi saksi bisu sekitar satu meter. Kedalaman sumur 20 meter, serta kedalaman air dalam sumur sekitar 5 meter.

Editor : Akrom Hazami

 

Kakak Tewas Tenggelam di Sumur saat Tolong Adiknya di Jepara

tenggelam-1

 

 

MuriaNewsCom, Jepara – Peristiwa nahas kembali terjadi di Kabupaten Jepara. Kali ini seorang warga Dukuh Krajan RT 03 RW 02 Desa Muryolobo, Kecamatan Nalumsari, Jepara bernama Budiyono (38) tewas saat menyelamatkan nyawa adiknya ketika terjebur sumur.

Berdasarkan informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, peristiwa terjadi Kamis (28/7/2016) sekitar pukul 04.30 WIB. Mulanya, adik korban bernama Sri Ningsih (30) terjebur sumur karena terpeleset. Kemudian korban Budiyono mengetahui dan mencoba menyelamatkannya.

Tetapi saat Budiyono berusaha mengangkat Sri Ningsih di dalam sumur, dalam perjalanan naiknya tidak kuat menahan. Akhirnya terjatuh ke bawah. Kondisi Budiyono jatuh dan tenggelam ke dalam air sumur sedangkan Sri Ningsih mengapung.

Tetangga korban yang mengetahui kondisi itu mencari pertolongan ke warga lainnya. Kemudian warga melakukan penyelamatan satu persatu korban.

Korban yang pertama kali berhasil dievakuasi adalah Sri Ningsih karena posisinya diatas. Setelah dievakuasi, Sri dibawa ke Puskesmas setempat sekitar pukul 05.30 WIB oleh para warga.

“Sedangkan korban Budiyono yang posisinya di dalam sumur berada di bawah, dievakuasi setelah korban Sri Ningsih. Selanjutnya Budiyono dibawa ke RSI Kudus, namun saat dalam perjalanan, Budiyono meninggal dunia,” terang Kepala Pelaksana BPBD Jepara melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik, Pujo Prasetyo kepada MuriaNewsCom.

Diameter sumur yang menjadi saksi bisu sekitar satu meter. Kedalaman sumur 20 meter. Serta kedalaman air dalam sumur sekitar 5 meter.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Buat Tugas Sejarah, Siswa SMAN 1 Randublatung Ini Malah Tewas Tenggelam

 

 

Korban siswa yang tenggelam di Embung Keruk, Dukuh Keruk, turut Kelurahan Randublatung, Kabupaten Blora, mendapatkan pemeriksaan tim medis di Puskesmas Randublatung, Jumat (20/5/2016). (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Korban siswa yang tenggelam di Embung Keruk, Dukuh Keruk, turut Kelurahan Randublatung, Kabupaten Blora, mendapatkan pemeriksaan tim medis di Puskesmas Randublatung, Jumat (20/5/2016). (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Bermaksud membuat tugas sejarah, seorang siswa SMAN 1 Randublatung, Kabupaten Blora, justru tewas tenggelam. Kejadiannya diketahui pada Jumat (20/5/2016), sekitar pukul 17.00 WIB.

Korban bernama Jeni Alfani Martani Lasmono, (16), warga Desa Doplang, Kecamatan Jati, Blora. Korban meninggal di tempat, setelah tenggelam di Embung Keruk, Dukuh Keruk, turut Kelurahan Randublatung.

Berdasarkan keterangan salah seorang saksi mata bernama Sunaryo (32), warga Dukuh Ngemul, RT 03/RW 3, Kelurahan Randublatung, korban bersama dengan enam temannya, sedang mengerjakan tugas mata pelajaran sejarah dari sekolah.

Dalam tugas sejarah itu, siswa diminta untuk membuat video perang yang berlokasi di embung. Pada saat semuanya sedang akting, korban bertugas mengambil video dengan menggunakan handycam.

Saat mengambil gambar atau video itulah, korban berdiri di plengsengan atau bibir embung yang miring dari bendungan itu. ”Tiba-tiba korban terpeleset masuk ke dalam embung, yang memiliki kedalaman sekitar 3 meter,” katanya.

Saksi mata lainnya, Karisma Adi Satrio, (17), warga Kelurahan Wulung, RT 02/RW 02, Randublatung, mengungkapkan setelah korban terperosok ke dalam Embung, korban tak bisa berbuat apa-apa. Ini dikarenakan korban tidak bisa berenang.

Melihat situasi tersebut, keenam temannya mencoba menolong. Namun, tak satupun di antara mereka yang bisa menolong, karena tidak ada yang bisa berenang juga.

”Kenenam temannya hanya bisa berteriak meminta tolong kepada orang orang di sekitar Embung. Tetapi korban tetap tidak tertolong, dan meninggal dunia,” katanya.

Usai dievakuasi oleh pihak kepolisian bersama tim medis, korban dibawa ke Puskesmas Randublatung untuk mendapatkan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan tim medis, tidak ada tanda-tanda penganiayaan pada diri korban.

Editor: Merie

Kata Polisi Soal Siswa SD Tewas Tenggelam di Getassrabi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus meninggalnya bocah SD pagi, Suyanto (11), warga Desa Getassrabi RT 5 RW 6, Gebog di Sungai Gayam Benduran di Dukuh Srabi Kidul, Desa Getassrabi, Gebog, Kudus, diperiksa polisi setempat.

Kapolres Kudus AKBP M Kurniawan melalui KBO Sat Reskrim Ipda Heri Purwanto mengatakan, korban diangkat dari sungai, dan dibawa ke Puskesmas Gribig guna pengecekan lebih lanjut. Dari hasil pengecekan, polisi tidak menemukan bekas luka pada tubuh korban.

Baca juga : 2 Siswa SD Terseret Arus, 1 Tewas di Getassrabi Kudus

“Berdayakan pekerjaan Dr. Maria Shita Mandaru dari Puskesmas Gribig Gebog, tubuh korban tidak diketemukan tanda bekas penganiayaan. Sehingga akibat kematian korban diperkirakan kehabisan oksigen karena tenggelam,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, setelah diperiksa, korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Keluarga menyambut dengan air mata lantaran kehilangan anaknya.

Dia mengimbau kepada masyarakat, khususnya guru dan siswa untuk lebih mewaspadai tingkah anak-anaknya. Terlebih saat jam belajar sekolah yang masih dalam pantauan guru.

“Kalau tidak penting langsung kembali ke sekolah saja. Jangan bermain di sungai, karena berbahaya. Khususnya pada musim hujan semacam ini,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

2 Siswa SD Terseret Arus, 1 Tewas di Getassrabi Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian nahas terjadi Sabtu, (26/3/2016). Pagi sekitar pukul 11.00 WIB ditemukan dua bocah SD yang hanyut di sungai Gayam Benduran di Dukuh Srabi Kidul, Desa Getassrabi, Gebog, Kudus.

Korban tewas diketahui Suyanto (11), warga Desa Getassrabi RT 5 RW 6, Gebog. Korban dilarikan ke Puskesmas Gribig untuk pengecekan lebih lanjut. Sedangkan korban selamat, sampai saat ini masih dalam proses pendataan petugas.

Mas’an (35) warga Desa Getasrabi RT 13/5 Gebog Kudus mengatakan, dia melihat kejadian tersebut bermula saat hendak menambang pasir. Dia dihampiri dua anak yang mengabarkan ada dua orang siswa yang tenggelam di sungai.

Diketahui bahwa Sabtu pagi tadi aliran sungai tersebut memang meluap. Akibat hujan deras yang mengguyur wilayah setempat.

“Setelah saya mendatangi lokasi untuk menyelamatkam. Syukur satu anak berhasil diangkat dan diselamatkan dalam kondisi masih bergerak. Sedangkan anak kedua berhasil diangkat namun tidak bergerak sama sekali,” katanya kepada petugas kepolisian di lokasi.

Berdasarkan kabar yang dihimpun di lokasi, kedua korban sebelumnya berolahraga di luar sekolah. Setelahnya, mereka mandi di sungai.

Editor : Akrom Hazami

Ini Kronologi Hanyutnya Seorang Nenek di Sungai Serang Jepara

Tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap nenek yang hanyut di Sungai Serang (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap nenek yang hanyut di Sungai Serang (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Seorang nenek berusia 70 tahun, bernama Umi, warga Desa Karangaji RT 16 RW 5, Kecamatan Kedung, Jepara dilaporkan hanyut di Sungai Serang yang melintasi desa setempat. Korban hanyut pada Selasa (15/3/206) sekitar pukul 22.00 WIB.

Menantu korban, Masrukan (50) menjelaskan kronologi peristiwa nahas tersebut. Menurut dia, ingatan korban memang sudah agak terganggu. Keluarga biasanya melarang korban untuk keluar rumah. Namun, malam tadi korban tiba-tiba keluar rumah.

“Biasanya korban dilarang ke luar rumah. Tetapi, malam tadi saat listrik sedang padam,tiba-tiba korban sudah tidak ada di dalam rumah,” ujar Masrukan, Rabu (16/3/2016).

Menurutnya, korban diketahui menuju Sungai Serang, lantaran saat itu kebetulan ada salah seorang remaja mengikutinya. Korban terus berjalan ke sungai hingga sampai di jembatan yang kondisinya sudah rusak. Seketika itu pula korban tercebur ke dalam aliran sungai yang kondisi debit airnya tengah meninggi. “Setelah mengetahui kejadian itu, remaja tersebut langsung melaporkan ke warga,” ungkapnya.

Sementara itu, relawan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Dedi menerangkan, pihaknya memperoleh laporan tersebut sekitar pukul 24.00 WIB. BPBD dan gabungan relawan dari Basarnas, Jepara Rescue, SAR Jepara, Ubaloka, Tagana, Senkom, Bagana, LPBI NU, MDM, KSR PMI bersama warga menujul lokasi untuk melakukan pencarian.

Hanya saja, pencarian dinihari dengan menggunakan perlengkapan terbatas tak membuahkan hasil. Pencarian dilanjutkan pada Rabu (16/3/2016) dengan dengan penyelaman, penyisiran dengan perahu karet dan secara manual dengan menyisir pinggiran sungai. Penyisiran dilakukan dimulai dari titik tempat jatuhnya korban hingga aliran muara sungai di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung. “Sampai dengan pukul 16.11 WIB, pencarian korban masih nihil,” kata Dedi.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Seorang Nenek di Jepara Hanyut di Sungai Serang

Jasad Pemancing yang Hilang di Sungai Lusi Grobogan Akhirnya Ditemukan Pencari Ikan

Petugas mengevakuasi jasad pemancing yang tewas di Sungai Lusi (Dok BPBD Grobogan)

Petugas mengevakuasi jasad pemancing yang tewas di Sungai Lusi (Dok BPBD Grobogan)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Misteri hilangnya Kalijo Tulus, warga Jengglong Timur, Kelurahan Purwodadi yang dilaporakan hilang saat mancing Selasa (8/3/2016) lalu akhirnya terjawab. Ini, setelah Kamis (10/3/2016) dinihari tadi, pria 55 tahun itu berhasil ditemukan. Namun, saat ditemukan, pria tiga anak itu sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Informasi yang didapat menyebutkan, mayat pria yang lebih dikenal dengan nama Mbah Jo itu ditemukan terapung dipinggiran sungai yang masuk wilayah Dusun Ngramut, Desa Menduran, Kecamatan Brati. Lokasi penemuan mayat berada sekitar 1 km disebelah barat tempat tenggelamnya korban.

Sosok mayat tersebut ditemukan oleh beberapa orang pencari ikan di Sungai Lusi sekitar pukul 02.00 WIB. Saat melakukan aktivitas, mereka melihat ada sosok orang terapung dipinggiran sungai. Selanjutnya, peristiwa itu langsung dikabarkan pada petugas BPBD dan kepolisian yang juga masih bersiaga disekitar lokasi korban mancing.

“Sekitar pukul 02.00 WIB kita dapat laporan kalau ada sosok mayat dipinggir sungai. Selanjutnya kita lakukan evakuasi dan menghubungi pihak keluarga korban,” ungkap Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono.

Editor : Kholistiono

Lagi, Nelayan asal Jepara Tenggelam, Dua Hari Baru Ditemukan

Perahu nelayan yang hilang ketika diamankan warga dan petugas. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Perahu nelayan yang hilang ketika diamankan warga dan petugas. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Peristiwa nahas kembali terjadi di Kabupaten Jepara. Kali ini giliran seorang nelayan asal Desa Teluk Awur bernama Multazam (52) tenggelam di perairan Jepara. Multazam sempat menghilang dan baru ditemukan dua hari kemudian pada, Senin (29/2/2016) sekitar pukul 07.00 WIB. Korban diketahui hilang sejak peristiwa tenggelamnya pada Sabtu (27/2/2016) pagi.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun MuriaNewsCom, Multazam dikabarkan hilang saat hendak berbalik setelah melaut di sekitar pulau Karang Bokor Jepara pada Sabtu pagi. Saat itu dia bersama tiga nelayan lainnya yakni, Mulyadi (40), Sodikin (40) dan Salim (50) dengan membawa perahu masing-masing.

”Mereka pergi bersama untuk mencari rajungan pada pukul 7 pagi, menggunakan perahu masing-masing. Karena cuaca makin memburuk dimana hujan deras dan angin kencang, pada pukul 10.00 ke empatnya segera memutuskan untuk kembali,” ujar Koordinator Pos SAR Jepara, Agung Hari Prabowo, Senin (29/2/2016).

Lebih lanjut dia menceritakan, ditengah perjalanan, tepatnya di 4 mil sebelum pulau Karang Bokor atau 7 mil dari pantai Kartini Jepara, tiba-tiba ombak besar menghantam perahu Mulyadi dan Multazam dan langsung terbalik. Sedangkan perahu Sodikin dan Salim berhasil menepi.

Beruntung bagi Mulyadi, ia selamat karena memakai life jacket (pelampung). ”Di perahu Multazam sebenarnya ada pelampung, tapi saya tidak tau apakah dia pakai atau tidak,” ungkap kesaksian Mulyadi.
Basarnas Pos SAR Jepara yang menerima informasi adanya nelayan yang hilang tersebut segera melakukan pencarian. ”Kami mengerahkan Rigid Inflatable Boat (RIB ) untuk segera melakukan pencarian,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno mengatakan, korban ditemukan pagi tadi Senin (29/2/2016). Proses pencarian dilakukan bersama-sama oleh tim SAR gabungan, termasuk BPBD Jepara.
”Proses pencarian lama karena cuaca buruk. Korban ditemukan di dekat dermaga kampus Undip Teluk Awur,” imbuh Lulus.

Editior : Titis Ayu Winarni

Ibu yang Hilang Terseret Arus Sungai di Jepara Ditemukan Dalam Kondisi Tak Bernyawa

Sri Murti Dian Anggraini saat dievakuasi Tim SAR (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Sri Murti Dian Anggraini saat dievakuasi Tim SAR (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Setelah melalui proses pencarian yang cukup panjang, akhirnya seorang ibu bernama Sri Murti Dian Anggraini (50), warga Desa Pecangaan Kulon, RT 5 RW 2, Kecamatan Pecangaan, Jepara, yang terseret arus di Sungai Pecangaaan, ditemukan. Namun, Sri ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa.

Anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Zainudin mengemukakan, korban terseret arus ditemukan di sungai kawasan Desa Karangaji, Kecamatan Pecangaan, Jepara pada sore tadi. Korban ditemukan Tim SAR gabungan, baik dari Basarnas, SAR Pos Jepara, BPBD Jepara, Jepara Rescue, maupun dari relawan lainnya.

“Korban ditemukan di sungai yang ada di Desa Karangaji. Sungai itu merupakan aliran sungai dari Pecangaan,” kata Zainudin, Jumat (26/2/2016).

Baca juga : Ini Kronologi Ibu Hilang Terbawa Arus di Pecangaan Jepara, Terjatuh saat Jalan Kaki Bersama Anaknya
http://www.murianews.com/2016/02/26/72993/kronologi-ibu-hilang-terbawa-arus-di-pecangaan-jepara-terjatuh-saat-jalan-kaki-bersama-anaknya.html

Seperti diberitakan, Sri Murti hanyut saat terpeleset dan jatuh ke dalam parit di depan Kantor Pegadaian Pecangaan, Jepara pada Kamis (25/2/2016) malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Kejadian bermula, saat Sri bersama anaknya bernama William baru pulang dari sebuah acara di rumah temannya. Mereka berjalan beriringan dengan posisi Sri berada di trotoar dan anaknya berjalan di jalan bawah trotoar.

Saat berjalan di trotoar, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh ke parit tepat disebelah trotoar yang lebarnya 1 meter dan berkedalaman 2 meter tersebut. Diduga, ia tidak menyadari telah berada di pinggir trotoar yang berbatasan dengan parit, karena permukaan trotoar dan parit tertutup air setelah hujan turun dengan derasnya.

Ia sempat akan ditolong oleh Torikhul Hadi, seorang penjaja makanan di sekitar lokasi kejadian. Namun karena arus parit deras, Sri tak mampu ditolong dan hanyut ke arah Sungai Pecangaan.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Ibu Hilang Terseret Arus Usai Terpeleset di Pecangaan Jepara

Kronologi Ibu Hilang Terbawa Arus di Pecangaan Jepara, Terjatuh saat Jalan Kaki Bersama Anaknya

Petugas masih melakukan pencarian korban yang terseret arus di Pecangaan Jepara, Jumat (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas masih melakukan pencarian korban yang terseret arus di Pecangaan Jepara, Jumat (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Musibah hilangnya warga karena terseret arus kembali terjadi di Kabupaten Jepara. Kali ini warga Desa Pecangaan Kulon, Sri Murti Dian Anggraini (50) menjadi korban. Namun Sri terseret arus bukan di laut, melainkan dari parit yang kemudian terseret hingga ke aliran sungai.

Berdasarkan data yang dihimpun MuriaNewsCom, Sri Murti hanyut saat terpeleset dan jatuh ke dalam parit di depan kantor Pegadaian Pecangaan Jepara, Kamis (25/2/2016) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Kejadian bermula saat Sri bersama anaknya bernama William baru pulang dari sebuah acara di rumah temannya. Mereka berjalan beriringan dengan posisi Sri berada di trotoar dan anaknya berjalan di jalan bawah trotoar.

Baca Berita Sebelumnya : Ibu Hilang Terseret Arus Usai Terpeleset di Pecangaan Jepara 

Saat berjalan di trotoar, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh ke parit tepat di sebelah trotoar yang lebarnya 1 meter dan berkedalaman 2 meter tersebut. Diduga ia tidak menyadari telah berada di pinggir trotoar yang berbatasan dengan parit karena permukaan trotoar dan parit tertutup air setelah hujan turun dengan derasnya.

Ia sempat akan ditolong oleh Torikhul Hadi, seorang penjaja makanan di sekitar lokasi kejadian. Namun karena arus parit deras, Sri tak mampu ditolong dan hanyut ke arah sungai Pecangaan yang berjarak 50 meter dari lokasi jatuhnya Sri.

Saat ini Basarnas pos SAR Jepara beserta tim SAR gabungan yang tediri dari sejumlah instansi baik pemerintah maupun swasta serta relawan tengah melakukan pencarian terhadap Sri yang berprofesi sebagai petani itu

“Saat ini kami akan melakukan penyisiran di sungai Pecangaan karena diduga ia terbawa sampai kesana” kata salah satu anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Zainudin kepada MuriaNewsCom, Jumat (26/2/2016).

Editor : Akrom Hazami

Ibu Hilang Terseret Arus Usai Terpeleset di Pecangaan Jepara

Proses pencarian korban di sungai Kecamatan Pecangaan, Jepara, dilakukan, Jumat.(MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Proses pencarian korban di sungai Kecamatan Pecangaan, Jepara, dilakukan, Jumat.(MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Seorang warga Desa Pecangaan Kulon, RT 5 RW 2 Kecamatan Pecangaan, Jepara bernama Sri Murti Dian Anggraini (50). Dia hilang terseret arus setelah terpeleset dan jatuh di dalam parit di depan kantor pegadaian Pecangaan Jepara pada Kamis (25/2/2016) malam sekitar pulul 21.00 WIB.

Meski sudah dimulai pencarian sejak malam tadi, namun sampai menjelang Jumat (26/2/2016) siang ini korban masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan, Korban diperkirakan terbawa arus yang deras karena wilayah Kabupaten Jepara tengah terguyur hujan lebat beberapa waktu terakhir. Dimungkinkan korban terbawa arus sampai ke aliran sungai.

Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih menyusuri aliran sungai tersebut. Tak hanya di wilayah Desa Pecangaan saja, namun pencarian sudah sampai di wilayah sungai yang berada di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan.

“Kami telah menyusuri parit tersebut hingga ke muara di sungai pecangaan namun belum membuahkan hasil. Saat ini proses pencarian masih dilanjutkan,” ujar Agung Hari Prabowo, Koordinator Pos SAR Jepara, Jumat (26/2/2016).

Tim Sar gabungan terdiri dari sejumlah instansi baik pemerintah maupun swasta serta relawan. Seperti Basarnas, BPBD Jepara, SAR Jepara, Jepara Rescue, Tagana, Bagana, KSR PMI, Ubaloka dan masih banyak lagi.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Bocah TK Asal Desa Degan Pati Tewas Tenggelam di Sungai 

6 Jam Dicari Tim SAR, Mayat Ibu Asal Gembong Pati yang Terseret Arus Sungai Akhirnya Ditemukan

Suasana di rumah duka saat jenazah korban dibawa dipulang dan dimandikan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana di rumah duka saat jenazah korban dibawa dipulang dan dimandikan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Jenazah Parni (45), buruh tani asal Domo RT 1 RW 1, Desa Klakahkasihan, Kecamatan Gembong, Pati, yang terseret arus sungai akhirnya ditemukan, Kamis (18/2/2016) sekitar pukul 15.15 WIB.

Jenazah itu ditemukan sekitar 3 kilometer dari lokasi terjatuhnya korban, setelah 70 personel Tim SAR gabungan dikerahkan selama lebih dari enam jam.

“Setelah lebih dari enam jam kami melakukan penyisiran dari lokasi jatuhnya korban, kami menemukan jenazah korban yang terbawa derasnya air hingga kurang lebih tiga kilometer, tepatnya di Dukuh Ngablak, Desa Pohgading,” ujar Ketua Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) Pati, Gunawan kepada MuriaNewsCom.

Sementara itu, relawan Tim SAR dari Bakorwil I Pati Anang Afiyana Firdaus mengatakan, penyisiran jenazah korban terkendala dengan arus deras yang tak kunjung surut.

Selain itu, sungai itu terbilang sangat panjang hingga sampai Pati Kota dan bermuara di Sungai Silugangga. “Sungainya memang cukup panjang. Beruntung, jenazah sudah bisa ditemukan setelah kita sisir hingga tiga kilometer,” tambahnya.

Jenazah kemudian dibawa pulang ke rumah duka sekitar pukul 16.00 WIB untuk dimandikan dan dimakamkam. Warga setempat tampak berdatangan untuk mengetahui kondisi jenazah korban, sekaligus mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga korban.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Seorang Ibu Terseret Arus di Sungai Gembong Pati 

Begini Kronologi Ibu Asal Gembong Pati yang Terpeleset dan Terbawa Arus Sungai 

Begini Kronologi Ibu Asal Gembong Pati yang Terpeleset dan Terbawa Arus Sungai

Sejumlah relawan terus melakukan penyisiran untuk menemukan Parni. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah relawan terus melakukan penyisiran untuk menemukan Parni. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang buruh tani bernama Parni (45), warga Dukuh Domo, RT 1 RW 1, Desa Klakahkasihan, Kecamatan Gembong, Pati hilang terseret arus sungai usai terpeleset, Rabu (17/2/2016) sore.

Suyatmini (49), teman korban saat itu pergi untuk menyiangi rumput di sawah. Setelah petang tiba, keduanya kemudian pulang ke rumah dengan menyeberangi sungai Ngembongan melalui sebuah bendungan irigasi.

Baca juga : Seorang Ibu Terseret Arus di Sungai Gembong Pati

”Saat itu, air memang cukup deras. Kami berdua terpeleset dan terjatuh dalam sungai. Teman saya terbawa arus, sedangkan saya sendiri terbawa arus pada bagian pinggir sungai,” aku Suyatmi kepada MuriaNewsCom.

Sontak, Suyatmi yang sempat selamat meminta tolong kepada tetangga untuk mencari Parni. Malam itu juga, tim SAR gabungan bergegas melakukan pencarian, tapi nihil.

Sampai Kamis (18/2/2016), sedikitnya 10 tim relawan dengan jumlah 70 personil dikerahkan untuk menyisir wilayah sungai. Lima jam penyisiran dilakukan, tapi korban belum ditemukan.

Sampai berita ini turun, sejumlah relawan menemukan sejumlah bekal yang digunakan korban untuk menyiangi rumput di sawah berupa satu botol kemasan minuman dan plastik hitam berisi makanan di sungai.

”Ini kami baru temukan bekal yang digunakan korban. Ini kita terus melakukan penyisiran dari ground zero korban jatuh,” kata Ketua Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) Gunawan yang ikut melakukan penyisiran bersama puluhan relawan lainnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Bocah Asal Tambahmulyo Pati Tewas Tenggelam di Bendungan Sungai

Jenazah korban tenggelam di bendungan sungai Tambahmulyo dibawa ke mushola setempat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jenazah korban tenggelam di bendungan sungai Tambahmulyo dibawa ke mushola setempat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang bocah bernama Agus Lauhul Mahfud (12) yang merupakan warga Desa Tambahmulyo, Kecamatan Jakenan, Pati meninggal dunia setelah tenggelam di sebuah bendungan sungai setempat, Senin (15/2/2016).
Kejadian bermula, saat siswa kelas 6 SD Tambahmulyo 1 itu pulang mengikuti les karena akan segera menghadapi ujian sekolah. Belum selesai les, Agus berniat mandi di bendungan sungai.

Ia mengajak temannya bernama Farid. Namun, temannya itu menolak. Akhirnya, Agus mandi di bendungan sungai seorang diri.

“Agus benar-benar ingin mandi di sungai. Meski saya tidak mau, dia akhirnya mandi sendirian,” ujar Farid kepada MuriaNewsCom.

Bahkan, Farid sempat menyaksikan bila Agus melakukan atraksi jungkir ke sungai. Namun, tiba-tiba saja tubuh bocah malang itu tenggelam di sungai.

Sontak, tenggelamnya Agus membuat warga berbondong-bondong menolongnya. Namun, nyawa Agus tak lagi bisa diselamatkan karena kehabisan napas.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Siswi yang Tewas Tenggelam di Pantai Bandengan Ternyata Sedang Rayakan Ultah Temannya 

Ini Misteri Gaib 2 Anak Tewas Tenggelam di Kedung Kendil Pati

Kakak Beradik ini Tewas Tenggelam di Sungai Suromoyo Bangsri Jepara

tenggelam_pantai_kartini-e

Ilustrasi

 

JEPARA – Kakak beradik bernama Septiana Dinda Fitria Sari (5), dan Septian Aditya Putra (3), warga RT 1/RW II Desa Kedungleper, Kecamatan Bangsri diketahui tewas tenggelam di sungai Suromoyo yang berada di desa setempat. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (16/1/2016) kemarin sore.

Peristiwa ini bermula dari sang ayah bernama Mustaghfirin bersama kedua anaknya tersebut mencari pasir di sungai itu sekitar pukul 14.00 WIB. Saat sang ayah sedang mengumpulkan pasir, kedua anaknya tiba-tiba meninggalkan posisi ayahnya. Mustaghfirin mengira jika kedua anaknya meninggalkannya pulang lebih dulu.

Namun, ketika Mustaghfirin pulang ke rumahnya sekitar pukul 15.30 WIB yang hanya berjarak beberapa meter saja dari sungai. Dia tidak mendapati kedua anaknya. Sontak, dia panic dan meminta pertolongan kepada sejumlah warga untuk mencari kedua anaknya tersebut.

”Saat itu kedua anaknya dicari di sungai, dan sekitar pukul 17.00 WIB, keduanya ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa,” ujar salah seorang tetangga korban, Agus Setya.

Menurutnya, kondisi kedua anaknya mengapung di aliran sungai terbawa arus. Posisi ditemukannya di dekat jembatan limpas di wilayah Desa setempat. Diduga kedua bocah tersebut tenggelam saat bermain di sungai karena memang kedalaman sungai terlalu dalam bagi mereka yang masih kecil-kecil.

Sementara itu, ayah korban Mustaghfirin belum bisa dimintai keterangan. Karena mendapati kedua anaknya yang telah meninggal dunia itu, membuatnya sangat terpukul. (WAHYU KZ/TITIS W)

Nelayan Trangkil Pati Tewas Tenggelam di Selat Makassar

Ilustrasi

Ilustrasi

 

PATI – Seorang nelayan asal Desa Karanglegi RT 4 RW 1, Kecamatan Trangkil, Pati meninggal dunia saat melaut di perairan Lumu-lumu Selat Makassar. Jenazah yang diketahui bernama Sutoyo (51) tersebut tiba di rumah duka pada Rabu (13/1/2016) sekitar pukul 07.30 WIB.

Marjono, nelayan asal Desa Tlutup, Kecamatan Wedarijaksa yang menjadi saksi insiden tersebut mengatakan, kecelakaan tersebut bermula saat korban tengah bekerja di atas KM Bintang Mas Champion sebagai anak buah kapal (ABK) yang saat itu bertugas menarik tali jaring belitan balok bagian belakang kapal.

“Saat menarik tali jaring, tiba-tiba talinya putus hingga menyebabkan korban terpelanting ke belakang hingga keluar dari kapal dan jatuh ke laut,” kata Marjono kepada MuriaNewsCom.

Kejadian itu berlangsung pada Minggu (10/1/2016) sekitar pukul 04.00 WITA. “Kami bersama teman-teman langsung melakukan pencarian. Setelah lima belas menit melakukan pencarian, akhirnya ketemu. Namun, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia karena kehabisan napas,” tuturnya.

Setelah insiden tersebut, nahkoda akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja mencari ikan. “Kami memutuskan untuk pulang kembali ke Pelabuhan Juwana. Setelah itu, kami melaporkan kecelakaan itu kepada Satuan Air dan Udara Polres Pati,” tambahnya.

Jenazah langsung dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat. Suasana duka masih menyelimuti keluarga korban. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

ABG di Rembang Tenggelam Ketika Mandi di Laut

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Seorang anak baru gede (ABG) berusia 15 tahun dilaporkan tenggelam ketika sedang mandi di laut, pada Selasa (15/12/2015).

ABG yang hilang diketahui bernama Joko, warga Desa Menoro, Kecamatan Sedan, Rembang. Joko merupakan seorang nelayan yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) Agung Gumelar milik Arun, warga Kragan, Rembang.

Kejadian bermula ketika kapal Agung Gumelar berangkat melaut menuju ke utara Laut Jawa sekitar 35 mil dari pantai, Sabtu (12/12/2015) lalu. Setelah mendapatkan tangkapan ikan cukup banyak, para ABK kapal beristirahat dengan menanam jangkar di laut. Ketika yang lain beristirahat, Joko dan seorang temannya yang bernama Mustain berinisiatif untuk mandi di laut.

“Saudara Mustain dan saudara Joko berniat mandi. Kemudian keduanya langsung menceburkan diri ke laut, karena arus laut yang deras,Joko dan saudara Mustain berteriak minta,” ungkap seorang polisi di Sentra Pelayanan Kepolisian Polsek Kragan, Rabu (16/12/2015).

Seorang ABK yang mendengar teriakan tersebut, segera berupaya menolong dengan melemparkan ban pelampung, namun hanya Mustain yang mampu diselamatkan. Sedangkan korban sudah terlanjur hanyut terbawa air laut yang arusnya sangat deras.

Setelah dilakukan pencarian selama satu hari satu malam, korban tidak ditemukan. Akhirnya kapal Agung Gumelar kembali. Sesampainya di Kragan, pemilik kapal segera melapor ke Polsek Kragan, Selasa kemarin. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)