Warga Gunungwungkal Tewas Mendadak saat Mengambil Pasir di Sungai

Petugas sedang memeriksa kondisi mayat korban, yang merupakan warga Sungai Bedol, Desa Gunungwungkal, Selasa (16/5/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Dukuh Dungwatu RT 3 RW 2, Desa Gunungwungkal, Supat (55), mendadak meninggal dunia di Sungai Bedol, Selasa (16/5/2017). Korban mendadak meninggal dunia, sesaat setelah mencari pasir.

Parwi (50), seorang saksi yang merupakan penduduk setempat mengatakan, saat itu dia pergi ke sungai untuk mengambil pasir. Sementara korban sudah berada di sungai terlebih dulu, sejam sebelum dia sampai di sungai.

“Waktu itu, korban terlihat akan sarapan pagi dengan bekal yang ia bawa. Sebelum sempat memakan bekal yang dibawa, dia jatuh dalam keadaan telentang. Saya langsung teriak minta tolong,” ungkap Parwi.

Kapolsek Gunungwungkal AKP Sutopo yang mengetahui informasi tersebut langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dia menduga, korban terkena serangan jantung atau angin duduk.

Pasalnya, hasil visum menunjukkan tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban. Indikasi pembunuhan juga tidak ditemukan.

“Dari keterangan istri korban, Wagini, suaminya itu memang sudah mengeluhkan sakit pada dada sebelah kiri sejak setahun yang lalu. Pun, korban berangkat mengambil pasir dalam keadaan tidak enak badan,” tutur AKP Sutopo.

Hal itu dibenarkan petugas medis dari Puskesmas Gunungwungkal, dr Rusdi yang melakukan pemeriksaan medis pada tubuh korban. Saat diperiksa, mayat korban tidak mengeluarkan kotoran, tidak ada memar maupun luka.

“Kondisi tubuh korban drop, sedang sakit, tidak enak badan dan kurang fit, tapi dipaksakan untuk kerja. Korban, kami perkirakan terkena serangan jantung atau warga menyebutnya angin duduk,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pria Paruh Baya Tewas Tenggelam di Sungai Somalang Pati

Proses evakuasi korban tenggelam di Sungai Somalang Gabus sempat menjadi tontotan warga setempat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Desa Bandengan RT 19 RW 6, Jepara, Ahmad Shodiq (50), ditemukan tewas di Sungai Somalang, Desa Pantirejo, Gabus, Pati, Senin (13/3/2017).

Hasyim, salah satu saksi setempat mengatakan, saat itu ia berada di warung miliknya. Tiba-tiba, ia melihat ada seseorang yang berada di sungai sedang melambai-lambaikan tangannya.

“Dalam waktu sekejap, korban tenggelam. Saya langsung meminta bantuan warga sekitar untuk menolong dan mencari korban. Lebih dari sejam melakukan pencarian, korban berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” ungkap Hasyim.

Setelah mengetahui keberadaan korban, warga bersama polisi dan TNI melakukan evakuasi. Proses evakuasi berlangsung cukup singkat, jenazah langsung dibawa ke RSUD Soewondo untuk dilakukan visum.

“Kami menghubungi keluarga korban agar jenazah bisa dijemput di RSUD Soewondo. Sementara menunggu keluarga korban, visum dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian korban,” kata Kapolsek Gabus AKP Sudarsono.

Dari hasil pemeriksaan dokter Puskesmas Karaban, dr Vindi Kurniawati, korban meninggal murni karena tenggelam, kehabisan oksigen dan kemasukan air. Korban diduga tidak bisa berenang, sehingga hanyut saat terpeleset di sungai.

Editor : Kholistiono

Warga Desa Gebang Pati Tewas Terseret Arus di Sungai Silugangga

Anggota TNI membawa jenazah korban yang hanyut di Sungai Silugangga, Senin (13/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Desa Gebang, Kecamatan Gabus, Pati, Partono (46) terpeleset dan tercebur ke Sungai Silugangga, Senin (13/2/2017) sekitar pukul 10.00 WIB.

Dari informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi saat Partono tengah beristirahat untuk makan, usai bekerja memanen padi dengan alat dos. Nahas, korban terpeleset dan terjatuh ke sungai.

Mendapatkan informasi tersebut, petugas dan relawan melakukan pencarian. Korban akhirnya ditemukan meninggal dunia, sebelas meter dari lokasi kejadian sekitar pukul 12.30 WIB.

“Volume air di Sungai Silugangga memang cukup tinggi, menyusul hujan yang terjadi kemarin. Korban tercebur di kedalaman lima meter dan terseret hingga sebelas meter. Arusnya  juga cukup deras,” ujar Ketua RAPI Pati, Gunawan.

Usai dilakukan visum, jenazah korban dibawa mobil Polsek Gabus untuk dibawa ke rumah duka. Dari hasil visum, korban meninggal dunia akibat kekurangan oksigen dan menelan banyak air.

Kapolsek Gabus AKP Darsono mengimbau kepada warga untuk berhati-hati saat beraktivitas di bantaran Sungai Silugangga. Pasalnya, kondisi arus sungai yang deras bisa menyeret badan kendati bisa berenang. Karena itu, butuh kehati-hatian saat berada di bantaran sungai agar tidak terpeleset dan tercebur sungai.

Editor : Kholistiono

Ini Penyebab Tewasnya Pencari Katak di Persawahan Desa Bodeh Pati

Petugas kepolisian menunjukkan belati yang diduga mengenai tuannya sendiri di areal persawahan Desa Bodeh, Pucakwangi, Pati, Sabtu (28/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian menunjukkan belati yang diduga mengenai tuannya sendiri di areal persawahan Desa Bodeh, Pucakwangi, Pati, Sabtu (28/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jayus, warga Desa Gondorio, Kecamatan Todanan, Blora ditemukan warga meninggal dunia di areal persawahan Desa Bodeh, Kecamatan Pucakwangi, Pati, Sabtu (28/1/2017).

Pria yang diketahui sebagai pemburu ular dan katak tersebut diduga tewas terkena senjata tajam yang dibawanya sendiri. Senjata semacam belati dengan gagang kayu yang biasa digunakan untuk berburu itu melukai pangkal pahanya, hingga mengalami robek selebar 3,5 cm sedalam 10 cm.

“Setelah dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), korban diduga terjatuh saat berburu katak. Senjata tajam yang dibawanya menusuk pangkal paha yang cukup dalam, sehingga mengalami pendarahan hebat dan meninggal dunia,” ungkap Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Saat itu, korban diduga berupaya mendekati sepeda motor yang diparkir di jalan. Namun, korban tidak kuat dan jatuh dalam keadaan tertelungkup dan tidak mendapatkan pertolongan, karena tidak ada orang pada malam hari.

Sementara itu, keterangan medis dari petugas Puskesmas setempat, Siti Rukayah menyebutkan, tidak ada tanda-tanda penganiayaan pada korban. Korban meninggal, murni karena mengalami luka dan pendarahan hebat, serta tidak segera mendapatkan pertolongan.

Pada saat ditemukan, korban membawa sejumlah peralatan untuk berburu, antara lain sepatu boat karet, senter yang dikaitkan di kepala, senapan angin yang masih tersandang di badannya, dan tas yang berisi belati dan katak hasil tangkapan. Jenazah sempat dibawa ke RSUD Soewondo untuk dilakukan autopsi, sebelum dipulangkan ke Blora.

Baca juga :Pencari Katak Asal Blora Ditemukan Tewas di Persawahan Desa Bodeh Pati

Editor : Kholistiono

Pencari Katak Asal Blora Ditemukan Tewas di Persawahan Desa Bodeh Pati

Polisi melakukan olah TKP penemuan mayat di areal persawahan Desa Bodeh, Pucakwangi, Pati, Sabtu (28/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Polisi melakukan olah TKP penemuan mayat di areal persawahan Desa Bodeh, Pucakwangi, Pati, Sabtu (28/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sesosok mayat pria yang diketahui bernama Jayus (45), warga Desa Gondorio, Kecamatan Todanan, Blora ditemukan di areal persawahan Desa Bodeh, Kecamatan Pucakwangi, Pati, Sabtu (28/1/2017).

Pada saat ditemukan, korban memakai kaos rangkap tiga warna biru lengan pendek, kaos lengan panjang warna ungu, kaos warna coklat lengan pendek, kaos dalam warna putih, celana panjang warna coklat, celana pendek warna merah, dan celana dalam warna cokelat. Korban juga membawa senapan angin, tongkat bambu sepanjang tiga meter dengan jaring pada bagian ujung, serta tas warna biru yang berisi pisau panjang 35 cm bergagang kayu.

Kapolsek Pucakwangi AKP Sumadi mengatakan, korban merupakan pencari katak di sawah. Hal itu terlihat dari tongkat bambu yang dibawa terdapat jaring sebagai alat penangkap katak.

“Pada saat ditemukan, terdapat luka pada paha atas sebelah kiri bagian depan. Dari hasil identifikasi dan olah tempat kejadian perkara (TKP), luka korban sepanjang 3 cm, sedalam 10 cm,” ungkap AKP Sumadi.

Sementara itu, tim medis dari Puskesmas setempat, Siti Rukayah menuturkan, korban meninggal dunia karena mengalami pendarahan hebat sehingga kehabisan darah. Namun, belum diketahui penyebab luka di paha korban.

Hingga berita ini turun, polisi masih melakukan autopsi terkait penyebab meninggalnya korban. Polisi juga masih melakukan penyelidikan terkait luka korban pada paha, apakah tertusuk sendiri oleh pisau yang dibawa  atau ada faktor lain.

Editor : Kholistiono

Seorang Pemuda di Growong Pati Ditemukan Tewas Membusuk

Polisi tengah melakukan olah TKP di rumah korban, Desa Growong Kidul, Kecamatan Juwana, Pati, Rabu (25/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Polisi tengah melakukan olah TKP di rumah korban, Desa Growong Kidul, Kecamatan Juwana, Pati, Rabu (25/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Eko Kuswanto (31), pemuda Desa Growong Kidul, Kecamatan Juwana, Pati ditemukan meninggal dunia di rumahnya sendiri. Namun, mayat Eko sudah membusuk saat ditemukan, Rabu (25/1/2017) pukul 13.30 WIB.

Jafar (64), ayah korban menuturkan, anaknya itu memang sudah menempati rumah sendiri. Namun, dia biasanya berkunjung ke rumah orang tuanya untuk makan.

“Kami curiga. Beberapa hari dia tidak datang ke rumah untuk makan. Padahal, dia biasanya makan di rumah kami, meski tinggal sendirian di rumahnya,” ungkap Jafar.

Setelah dia mendatangi rumah korban, pintu rumah ternyata dalam keadaan tertutup dan terkunci dari dalam. Dia juga mencium bau busuk yang sangat menyengat. Terpaksa, Jafar bersama anaknya,yakni adik Eko mencongkel paksa pintu rumah.

Mereka terkejut setelah melihat Eko sudah meninggal dunia dalam keadaan membusuk. Keluarga korban kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desa setempat, Narso dan Polsek Juwana.

Kapolsek Juwana AKP Sumarni mengatakan, korban sudah kaku dan mengalami pembusukan positif saat ditemukan. “Posisinya tidak mengenakan baju, panjang 166 cm, mengenakan celana pendek jeans warna biru, kaku dan membusuk,” kata AKP Sumarni.

Korban sudah beberapa tahun tinggal di rumah sendirian. Namun, identitas diri korban masih ikut orang tuanya di Desa Growong Kidul RT 4 RW 3, Juwana. Jarak rumah korban dengan rumah orangtuanya sekitar 100 meter. Keluarga tidak menyangka bila korban meninggal dalam keadaan tragis.

Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan autopsi terkait dengan penyebab kematian korban. “Belum tahu, kita masih menunggu proses autopsi untuk mengetahui penyebab kematian korban,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Perempuan Paruh Baya Tewas Tenggelam di Embung Desa Pantirejo Pati

Petugas medis tengah memeriksa korban yang meninggal dunia terpeleset di embung Dukuh Plosmalang RT 4 RW 1, Desa Pantirejo, Kecamatan Gabus, Pati, Sabtu (14/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas medis tengah memeriksa korban yang meninggal dunia terpeleset di embung Dukuh Plosmalang RT 4 RW 1, Desa Pantirejo, Kecamatan Gabus, Pati, Sabtu (14/1/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang perempuan paruh baya, Pinasih (48), warga Dukuh Plosomalang RT 4 RW 1, Desa Pantirejo, Kecamatan Gabus, meninggal dunia di sebuah embung setempat, Sabtu (14/1/2017).

Kejadian bermula, ketika Pinasih pergi ke embung untuk mencuci pakaian. Nahas, Pinasih terpeleset, terjebur ke embung dan tenggelam. “Embung biasa digunakan untuk mencuci. Lantaran licin, korban terpeleset dan jatuh ke embung,” kata Zubaidin, salah seorang warga setempat.

Petugas kepolisian yang mendapatkan informasi langsung tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi datang bersama tim medis dari Puskesmas Gabus II untuk melakukan visum.

Dari hasil pemeriksaan, tidak ada pendarahan saat korban ditemukan di embung. Telapak tangan sangat dingin, bagian punggung bersih dan tidak ada tanda-tanda penganiayaan. Tim medis menyimpulkan, korban meninggal karena kehabisan oksigen karena tenggelam.

“Korban meninggal dunia, murni karena sebuah kecelakaan, terpeleset pada saat mencuci pakaian. Pihak keluarga menerima kepergian korban dan langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat,” tukas Kapolsek Gabus AKP Sudarsono.

Editor : Kholistiono