Polisi Rembang Buru Pemilik Ratusan Terumbu Karang Ilegal yang Ditinggal di Halte

Terumbu karang yang ditemukan tergeletak di pinggir jalan ditanam di perairan Pulau Gede, Rembang. (Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom, Rembang – Aparat Polsek Kaliori, tengah memburu pemilik ratusan bungkus terumbu karang yang diduga ilegal. Terumbu karang itu ditemukan tergelat di halte tepi jalan pantura, di sebelah utara masjid Desa Tambak Agung, Kaliori, Rembang, Jumat (8/12/2017) lalu.

Kapolsek Kaliro, AKP Susatyo mengatakan, penemuan terumbu karang sekitar pukul 13.30 WIB. Ia menyebut ada 332 terumbu karang yang dibungkus dalam plastic.

“Saat itu ada perangkat desa, Pak Sutomo lewat di depan masjid. Dia mengaku melihat di halte depan masjid ada dua mobil pikap parkir bersama Avanza menurunkan lima kardus besar dengan tertutup rapi dan terlihat mencurigakan,” katanya, Selasa (12/12/2017).

Karena merasa curiga, ia mengajak sejumlah warga untuk memeriksa kardus-kardus tersebut. Ternyata saat dibuka, isinya adalah terumbu karang yang masih hidup.

Temuan itu pun langsung dilaporkan ke pihak kepolisian. Kapolsek menyebut, pihaknya telah meminta keterangan sejumlah saksi, dan tengah memburu mobil yang digunakan untuk mengangkut terumbu karang itu.

Sementara untuk menjaga terumbu karang itu agar tak mati, pihaknya menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng dan Kabupaten Rembang untuk menanam ratusan terumbu karang tersebut.

”Ratusan terumbu karang itu kami tanam di wilayah perairan Pulau Gede di Dukuh Wates, Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori,”pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Kasus Rusaknya Karang di Karimunjawa Tak Tuntas

Wisatawan sedang menikmati snorkeling di Karimunjawa. Pemerintah kini menegaskan, jika siapapun yang merusak terumbu karang diwajibkan mengganti. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Kasus rusaknya karang di perairan Karimunjawa nampaknya belum tuntas. Pada tahun ini Balai Taman Nasional Karimunjawa mencatat ada tiga kasus kerusakan karang yang disebabkan oleh kapal tongkang yang bersandar. 

Kejadian teranyar berlangsung di Dukuh Telaga, Desa Kemujan-Karimunjawa, akhir Agustus lalu. Sebuah kapal tongkang bermuatan alat berat yang bersandar menghindari cuaca buruk, yang mengakibatkan karang rusak. Sementara awal tahun 2017 di Pulau Tengah dan Pulau Cilik ada kapal tongkang bermuatan batu bara yang juga merusak ekosistem laut. 

“Tindak lanjut (kasus awal kerusakan karang Karimunjawa) sudah ada namun belum ada realisasi (penggantian karang), hal itu karena masih berproses di Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kami menunggu apa yang akan dilakukan, mudah-mudahan tidak ditutup (kasus tetap berlanjut). Kita tunggu saja karena hal itu tak muah siapa yang merusak karang harus mengganti,” kata Kepala Balai Taman Nasional Karimunjawa Agus Prabowo, Kamis (7/9/2017). 

Untuk mencegah kejadian berulang lagi, dirinya mengatakan akan meningkatkan koordinasi antar pihak terkait seperti Syahbandar, pihak navigasi, Pol Airud dan pemerintah desa setempat. “Koordinasi penting agar kedepan kejadian serupa tidak terulang lagi,” ujarnya. 

Terpisah Sekretaris Komisi B DPRD Jateng Messy Widiastuti menuntut aparat keamanan dan pihak terkait lebih tegas dalam mengatasi kasus itu. Lantaran, kawasan Karimunjawa sebenarnya sudah menjadi zona terlarang kapal berat.

“Sudah dilarang (berlayar di kawasan BTN Karimunjawa) namun mereka tetap membandel. Saya harap polisi lebih yakin dan bertaring dalam menegakan peraturan,” tegasnya dihubungi MuriaNewsCom lewat sambungan telpon. 

Editor: Supriyadi

Duh, Karang di Karimunjawa Rusak Lagi Ditabrak Kapal Tongkang

Salah satu penyelam menunjukkan terumbu karang yang rusak karena kena tongkang. (Inatagram/@jackkarimun)

MuriaNewsCom, Jepara – Karang di kepulauan Karimunjawa rusak akibat ditabrak kapal tongkang. Peristiwa itu bukan kali pertama terjadi, menurut catatan Balai Taman Nasional Karimunjawa, tahun ini tercatat tiga kali kapal tongkang yang bersandar di perairan tersebut merusak ekosistem laut pulau tropis itu. 

Adapun kejadian terakhir terjadi pada akhir bulan Agustus 2017, ketika sebuah kapal tongkang bermuatan alat berat, bersandar berlindung dari cuaca buruk di perairan Dukuh Telaga, Desa Kemujan-Karimunjawa. Akibatnya, karang pun rusak. 

Baca Juga: Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

“Ini yang kasus ketiga kalinya di tahun ini. Yang pertama dan kedua adalah tongkang yang memuat batubara, sementara kasus ini mengangkut crane mau di bawa ke Pare-pare. Namun berlindung di Karimunjawa,” ujar Agus Prabowo Kepala Balai Taman Nasional Karimunjawa, Kamis (7/9/2017).

Menurutnya, setelah mendapatkan informasi dari masyarakat dirinya langsung mengecek ke lapangan dan kemudian melaporkannya ke Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Agus mengungkapkan, minggu depan dijadwalkan tim dari kementrian akan turun ke Karimunjawa untuk menentukan titik karang yang rusak serta luasan yang rusak. 

Baca juga: Merusak Terumbu Karang, Larangan Tongkang Masuk Karimunjawa Harus Dijalankan

Dirinya mengatakan, lokasi kerusakan berada di Zona Tradisional Perikanan. “Namun berbeda dengan lokasi pertama dan kedua karang rusak yang merupakan tempat pariwisata. Akan tetapi mereka yang merusak harus tetap bertanggungjawab karena wilayah tersebut termasuk dalam Balai Taman Nasional Karimunjawa,” katanya. 

Hal ini juga dikeluhkan oleh seorang netizen (warganet) @jackkarimun. Dalam akun instagramnya ia mengeluhkan, kawasan perairan Kemujan yang mulanya dipakai sebagai tempat berkembang biak ikan kini menjadi hancur berantakan. 

Pada unggahannya di instagram miliknya, ia juga menyertakan video miliknya dimana memperlihatkan penyelam yang melihat serpihan-serpihan karang akibat ditabrak tongkang. 

Editor: Supriyadi

BKSDA Jateng  Pertimbangkan Penghentian Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara

Sejumlah pekerja UD Sumber Rezeki melakukan pengambilan karang di perairan Pantai Bondo Jepara. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah akan menghormati putusan rapat dengar pendapat, terkait pengambilan terumbu karang di perairan Jepara. Namun demikian, pihaknya mengklaim telah melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas tersebut. 

Hal itu dikatakan oleh Haris Yunanto Kabag Tata Usaha BKSDA Provinsi Jateng, usai pertemuan di Pendapa Kabupaten Jepara, Jumat (11/8/2017). 

“Berdasarkan pembicaraan tadi disepakati untuk menghentikan (pengambilan terumbu karang,red), maka kami pertimbangkan untuk lakukan pemberhentian,” ucapnya.

Baca Juga : DPRD Jateng Minta Pengambilan Terumbu Karang di Jepara Dihentikan Sementara

Namun pada pertemuan lanjutan, ia berharap agar pengusaha terumbu karang ikut serta, dalam pertemuan selanjutnya. Dirinya juga tidak bisa serta merta melakukan penghentian ekspoitasi terumbu karang secara sepihak. 

“Yang harus kami terima adalah alasan untuk menghentikan, kami sebagai pelayan masyarakat tak bisa menghentikan secara sewenang-wenang. Jadi kami mengharapkan UD (Usaha Dagang-pengusaha) datang (dalam pertemuan di Semarang) agar bisa mendengarkan apa yang bisa diinginkan forum dalam hal ini DPRD Jateng,” imbuhnya. 

Baca Juga : Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

Disinggung tentang surat izin pengambilan terumbu karang, dirinya mengakui pihaknya memang memberikan izin tersebut. Akan tetapi hal itu berdasarkan peraturan yang masih berlaku. 

“Karena undang-undang yang kami anut no 5 tahun 1990 (tentang Konservasi SDAH dan E) sebelumnya tidak dicabut atau dikecualikan, kemudian peraturan pemerintah nomor 8/1999 (tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar) tidak ada yang mencabut maka tetap kita berlakukan. Dan kami selalu bicara tentang jenis yang diboleh dimanfaatkan jenis tertentu, atau yang dilindungi jenis tertentu. Bukan semua jenis terumbu karang itu dilarang,” imbuhnya.

Terkait pengawasan, ia menyebut telah melakukannya secara rutin. Hal itu dilaksanakan dengan pengecekan melalui laporan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Selain itu, pihaknya mengklaim telah mengawasi pengambilan terumbu karang secara langsung ke perairan Jepara. Selain itu, BKSDA juga telah mewajibkan pengusaha terumbu karang untuk melakukan transplantasi karang.

Editor: Supriyadi

Satpolair Dalami Eksploitasi Karang di Perairan Bondo Jepara

Terumbu karang hasil tangkapan UD Sumber Rezeki saat tertangkap basah oleh kelompok pengawas masyarakat “Jinking” Desa Bondo. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polres Jepara mendalami eksploitasi terumbu karang di perairan Bondo. Dalam waktu dekat, pihaknya akan mengumpulkan pihak terkait tentang peristiwa tersebut. 

“Kami akan mengumpulkan pihak terkait, Badan Keamanan Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan, TNI AL, serta BKSDA, terkait adanya izin pengambilan karang di wilayah Jepara. Surat sudah naik pada hari Jumat (4/8/2017) lalu. Harapannya dari BKSDA provinsi Jawa Tengah bisa hadir minggu depan,” ujar Kasatpolair Polres Jepara AKP Hendrik Irawan, Senin (7/8/2017).

Menurutnya, sesuai peraturan di seluruh wilayah Indonesia sudah tak diperbolehkan lagi mengambil terumbu karang, jenis apapun. Oleh karenanya, ia ingin melakukan pendalaman terkait izin yang dikantongi UD Rejeki, dari BKSDA untuk dapat mengambil karang yang diklaim tak dilindungi. 

Hendrik juga menyebut, pengambilan karang bisa menciderai alam. Lantaran pengambilan karang menggunakan alat berat.

“Bukan izinnya yang dipermasalahkan, namun cara pengambilannya yang bisa merusak terumbu karang lain. Misalnya diinjak-injak atau dicongkel,” lanjutnya. 

Dirinya menyebut, pengambilan karang di perairan Jepara bukanlah hasil penangkaran, namun karang-karang tersebut menempel pada karang alam lain. 

“Saat ini sekitar 100 buah karang masih kami simpan di Markas Polair. Ada beberapa diantaranya (karang) yang masih hidup,” pungkas Hendrik.

Sebelumnya, nelayan di sekitar Pantai Bondo-Bangsri mempertanyakan aktifitas pengambilan karang di perairan itu. Nanang Cahyo Hadi koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jixnking’s” Desa Bondo mengeluhkan hal tersebut pada awak media. Menurutnya, warga nelayan di desa itu bingung dengan aktifitas yang telah berlangsung sejak lama tersebut.

“Kami nelayan disuruh menjaga kelestarian karang, namun disisi lain ada pengambilan karang yang dilakukan oleh sebuah usaha dagang (UD) Rejeki di kawasan kami. Namun saat kami tanyai orang yang beraktifitas mengambil karang, ternyata mereka mengantongi izin,” kata dia Jumat (4/8/2017). 

Menurutnya, warga tak bisa melarang karena mereka mengantongi izin dari BKSDA Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, Nanang juga mempermasalahkan tentang pengawasan terkait pengambilan karang tersebut. 

Baca Juga: Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha 

Baca Juga: Nelayan Bondo Pertanyakan Aktivitas Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara 

Baca Juga: Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah, Ini Respons Pemkab

Editor: Supriyadi

Nelayan Bondo Pertanyakan Aktivitas Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara

Sejumlah pekerja UD Sumber Rezeki melakukan pengambilan karang di perairan Pantai Bondo Jepara. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Nelayan Desa Bondo, Kecamatan Bangsri mempertanyakan eksploitasi terumbu karang yang dilakukan oleh pengusaha UD Sumber Rezeki di kawasan laut sekitar desa itu.

Warga pun tak kuasa melarang, karena mereka mengantongi izin eksploitasi koral dari Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah.  

Nanang Cahyo Hadi koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jixnking’s” Desa Bondo mengatakan, izin tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah itu bernomor 57/IV-K.11/KKH/2017.

Baca Juga: Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

Di dalamnya memuat 37 jenis koral tak dilindungi yang dapat diekploitasi, berikut kuota maksimalnya. Seperti jenis base rock (unidentified scleractinian) live rock yang memiliki kuota se Jawa Tengah 100.000 buah dan hanya boleh diambil 38.166 buah.

Adapula jenis caulastrea sp yang berkuota 1.500 namun boleh ditangkap sebanyak 549 buah saja. Karena izin tersebut, ia bersama warga di Desa Bondo bingung dan tak bisa melakukan apa-apa. Padahal aktivitas telah berlangsung sejak lama.

“Maka dari itu kami ingin kejelasan, apakah boleh mengambil karang sedangkan itu tempat berkembang biak ikan. Apalagi kami ingin menjadikan wilayah tersebut sebagai destinasi wisata bawah air,” ujarnya.

Kalaupun itu benar diizinkan, lanjutnya, ia berharap ada pengawasan intensif dari pihak terkait. Terlebih lagi, terumbu karang tersebut merupakan rumah bagi ikan untuk  berkembang biak. Jika itu rusak, ia khawatir jumlah ikan berkurang dan ekosistem bawah laut rusak.

“Karena itu pengawasannya bagaimana harus jelas. Soalnya kami sendiri tidak tahu jenis-jenis koral yang dapat diambil dan tidak. Wong saya tanya jenis-jenis karangnya kepada yang ambil pas waktu dipergoki dia mengaku tidak tahu,” tambah dia.

Sebelumnya, tambah Nanang, pihaknya sempat menangkap basah aktivitas tersebut di perairan sekitar PLTU Tanjung Jati B dan Ujung Pantai Bondo. Dari situ, pihak pekerja pun tak bisa menjelaskan jenis-jenis item yang dimaksud.

Editor: Supriyadi

Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

Terumbu karang hasil tangkapan UD Sumber Rezeki saat tertangkap basah oleh kelompok pengawas masyarakat “Jinking” Desa Bondo. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Nelayan di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri dibuat berang dengan aktivitas penjarahan terumbu karang yang diduga dilakukan pengusaha yang bernaung di bawah Usaha Dagang (UD) Sumber Rezeki.

Selain merusak ekosistem laut, aktivitas tersebut sangat merugikan nelayan. Ini lantaran, terumbu karang yang diambil akan berdampak pada ikan-ikan kecil karena ekosistem rusak pasca penjarahan.

Nanang Cahyo Hadi, koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jinking” Desa Bondo mengeluhkan hal tersebut pada awak media, Jumat (4/8/2017).

Menurutnya, warga nelayan di desa itu bingung dengan aktifitas yang telah berlangsung sejak lama tersebut.

“Kami nelayan disuruh menjaga kelestarian karang, namun disisi lain ada pengambilan karang yang dilakukan oleh sebuah usaha dagang (UD) Rejeki di kawasan kami. Namun saat kami tanyai orang yang beraktivitas mengambil karang, ternyata mereka mengantongi izin,” katanya. 

Ia mengungkapkan, pengambilan karang tersebut dilakukan secara tradisional menggunakan perahu kecil dan linggis. Setelah mengambil karang dari dalam laut, mereka lantas menaruhnya di dalam wadah.

Wadah yang digunakan juga dilengkapi dengan pelindung dari paparan sinar matahari. Hal itu dilakukan supaya terumbu karang tidak mati dan bisa digunakan. Ia pun menduga, terumbu karang tersebut akan dimanfaatkan sebagai penghias aquarium air asin.

“Saat mereka mengambil, lalu terumbu karang itu diwadahi ember yang diberi air agar tidak mati. Selain itu , ketika mengemas mereka juga menggunakan kotak dari gabus,” ungkap dia.

Nanang menyebutkan, pihaknya sempat menangkap basah aktifitas tersebut di perairan sekitar PLTU Tanjung Jati B dan Ujung Pantai Bondo. Hanya, ia tak bisa melakukan apa-apa karena UD tersebut bisa menunjukkan izin.

“Maka dari itu kami ingin kejelasan, apakah boleh mengambil karang sedangkan itu tempat berkembang biak ikan. Apalagi kami ingin menjadikan wilayah tersebut sebagai destinasi wisata bawah air,” ujarnya.

Editor: Supriyadi