Terduga Teroris di Lereng Gunung Lawu Ditangkap Usai Salat Maghrib, Ini yang Didapat Densus 88

Densus 88 dan personel Polres Karanganyar melakukan penggeledahan di rumah terduga teroris di Desa Karang Karangpandan, Karanganyar. (Tribratanews)

MuriaNewsCom, Karanganyar – Tim Detasemen Khusus 88 Mabes Polri melakukan penggerebekan terduga teroris bernama Ahmad Ramadhan Deny (31), di Lereng Gunung Lawu, Desa Karang Karangpandan, Karanganyar. Terduga teroris itu ditangkap usai menjalankan salat Maghrib di Masjid At Taqwa, tak jauh dari rumahnya.

Penangakapan dilakukan pada Minggu (13/8/2017) sekitar pukul 18.15 WIB. Selasa (15/8/2017) sore, Densus bersama Polres Karanganyar melakukan penggeledehan di rumah terduga teroris tersebut. Dari hasil penggeleledahan itu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti.

Ada 18 item barang bukti yang diamankan, di antaranya beberapa dokumen, buku-buku, rompi, kaos, delapan keping VCD, dan dua HP.

Perangkat Desa Karang Tarso mengatakan, penggeledahan dilakukan tim Densus sekitar pukul 15.00 WIB. Polisi mengerahkan pasukan bersenjata lengkap untuk menggeledah rumah tersebut. Polisi juga memasang garis batas polisi agar masyarakat tidak bisa mendekat lokasi.

Menurut Tarso, warga mengetahui yang bersangkutan tinggal di desa ini  bersama istrinya, Ns, dan anaknya yang berusia tiga tahun sejak 2014 hingga sekarang. Namun menurutnya, warga tidak tidak mengetahui aktivitas sehari-hari yang bersangkutan.

“Dia orangnya tertutup dan sering ikut pengajian-pengajian di luar daerah ini,” kata Tarso dikutip dari Tribratanews Polda Jateng.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjutak mengatakan, anggotanya ikut mengamankan dan mendukung pelaksanaan penggeledahan di rumah terduga teroris, pihaknya akan mendukung Densus 88 dalam penggeledahan di rumah pelaku tersebut.

Hal tersebut, kata Ade Safri, menindaklanjuti dari hasil penangkapan tersangka oleh Densus 88, usai shalat Magrib di Mesjid At Taqwa sekitar 100 meter dari rumahnya, pada Senin (14/8), sekitar pukul 18.15 WIB.

”Ada 18 item barang bukti yang diamankan. “Barang-barang itu dibawa oleh Densus untuk dipelajari dan dilakukan pendalaman,” kata Kapolres kepada Antaranews.com.

Editor : Ali Muntoha

2 Terduga Teroris Ditangkap di Tegal

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Tegal –  Densus 88 Antiteror Polri, menangkap dua orang terduga teroris di Kabupaten Tegal, Minggu (13/8/2017). Aksi itu sontak menggegerkan wilayah kabupaten tersebut.

Kedua terduga teroris itu bernama Gilang, warga RT 01 RW II, Kelurahan Kudaile, Kecamatan Slawi. Satu lagi adalah Ahmad Goni, warga RT 07 RW II Kelurahan Kudaile.

Keduanya ditangkap Densus, pukul 13.00 WIB. Densus ditangkap di wilayah Kota Tegal, dan Goni ditangkap di rumahnya di Kudaile.

Ibu Ahmad Goni, Rusmiyati (48) mengatakan dia tak percaya dengan penangkapan. Rusmiyati baru tahu jika anaknya ditangkap, dari salah satu keponakan dan ketua RT setempat.

“Saya tahunya dari keponakan dan Pak RT. Kata keponakan, ‘bulik, Goni itu dibawa polisi’. Pakai mobil. Dia lihat dari kejauhan,” ungkap Rusmiyati.

Sedangkan kata Ketua RT 07, Edi Mainur kepada Rusmiyati, Abdul Goni ditangkap polisi. Bahkan Edi juga bertemu dengan Densus saat penangkapan.

Sementara itu, Ketua RT 01 RW II Kelurahan Kudaile, Gunawan mengatakan, keseharian Gilang adalah tukang servis.”Gilang itu tukang servis. Setahu saya orderan kerjanya. Kesehariannya seperti apa, saya tidak tahu persis, saya tidak mantau,” ujarnya.

Kapolres Tegal, AKBP Heru Sutopo mengatakan, Densus memang melakukan penangkapan dua warga Tegal. “Memang betul ada penangkapan dua warga Tegal. Keduanya ditangkap Minggu (13/8/2017) sekitar pukul 15.00 WIB,” kata Heru, Senin (14/8/2017).

Heru mengaku tak tahu apakah yang ditangkap itu terlibat terorisme atau tidak.”Kami hanya menerima pemberitahuan penangkapan itu,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Polres Jepara Perketat Pengamanan Usai Teror Blok M

 

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho  (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara memperketat penjagaan seusai teror yang penusukan yang menimpa anggota Brimob, di Masjid Falatehan Kebayoran Baru-Jakarta, Jumat (30/6/2017) lalu. Pengetatan termasuk pada fasilitas layanan umum seperti pembuatan SKCK, SIM dan masjid Kholilurahman yang ada di kompleks Mapolres. “Polda Jateng sudah memberikan direktif (arahan) untuk meningkatkan kewaspadaan. Ada peningkatan jumlah personel yang mengamankan. Sistem pengamanan juga diberlakukan sistem covering. Jadi yang mengamankan lalulintas ada itu personel pengamanan terbuka atau tertutup yang melindungi,” kata Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho.

Ia mengatakan pengetatan pengamanan Mapolres  tidak lantas mengurangi kenyamanan pelayanan masyarakat. Ia menyebut, akan ada pemeriksaan khusus bawaan warga yang ingin membuat surat keterangan. 

Masjid polres digunakan umum untuk salat jumat, pelayanan umum sim dan perpanjangan stnk dan sebagainya agar tetap dilayani secara ramah, namun ditingkatkan pengamanannya. Tasnya ditinggalkan diluar,” imbuhnya. 

Ia menambahkan, peningkatan pengamanan juga dilakukan di jajaran Polsek yang ada di Jepara. 

Editor: Supriyadi

Tukang Tambal Ban Ini Ternyata Terduga Teroris Grobogan

Suasana rumah terduga teroris yang ditangkap di Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Selasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Suasana rumah terduga teroris yang ditangkap di Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Selasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Densus 88 Antiteror dalam kurun waktu Senin malam hingga Selasa (31/1/2017) dini hari menangkan tiga terduga teroris di Jateng. Salah satunya di Grobogan.

Informasi yang didapat menyebutkan, terduga teroris yang diamankan di Grobogan ini bernama Sugiyono (36) yang berasal dari Ngawi, Jawa Timur. Pria ini diamankan tanpa perlawanan saat berada di rumah mertuanya di Desa Ketangirejo, Kecamatan Godong pada Senin (30/1/2017) sekitar pukul 22.00 WIB. Selain itu, istri Sugiyono, Siti Maesaroh, juga diamankan.

Suyati (54), ibu mertua Sugiyono mengatakan, menantunya sudah berada di rumahnya sekitar seminggu. Menurutnya, saat tiba di rumah, kondisi menantunya dalam keadaan sakit panas. Selain itu, Sugiyono dikabarkan mengalami ancaman kebutaan akibat ada beberapa biji gotri yang bersarang di kedua matanya.

“Saya tahunya Sugiyono ke sini mau berobat. Saya juga sempat belikan obat-obatan agar panasnya turun. Pada mata sebelah kirinya masih ada satu gotri yang belum diambil. Beberapa gotri sebelumnya sudah di operasi di Jogjakarta,” katanya pada wartawan.

 Baca juga : Terduga Teroris Ditangkap di Grobogan

Suyati menjelaskan, setahunya kebutaan yang menimpa menantunya itu disebabkan adanya gotri yang tertanam di kedua matanya akibat ledakan ban. Menurutnya, pekerjaan sehari-hari Sugiyono yang dia ketahui adalah sebagai tukang vulkanisir ban.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Djarod Padakova dalam jumpa pers mengatakan, Polda Jateng telah melakukan proses penangkapan, termasuk di Grobogan.

“Tadi malam (Senin) sekitar pukul 22.00 WIB ditangkap S di Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan,” kata Djarod saat konferensi pers di Ruang Humas Mapolda Jawa Tengah.

Penangkapan bermula pada Minggu 11 Desember 2016 lalu, sempat terjadi ledakan bom di rumah kontrakannya. Sugiyono menderita luka di syaraf matanya sehingga mengalami gangguan penglihatan usai bom meledak.

Editor : Akrom Hazami

Terduga Teroris Ditangkap di Grobogan

Inilah rumah di Desa Ketangirejo, Kecamatan Godong, Grobogan, yang jadi tempat penangkapan terduga teroris. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Inilah rumah di Desa Ketangirejo, Kecamatan Godong, Grobogan, yang jadi tempat penangkapan terduga teroris. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Beberapa terduga teroris berhasil ditangkap oleh Densus 88 Antiteror dalam kurun waktu Senin malam hingga Selasa (31/1/2017) dini hari. Dari beberapa terduga teroris tersebut salah satunya ternyata ditangkap di wilayah Grobogan.

Informasi yang didapat menyebutkan, terduga teroris yang diamankan di Grobogan ini bernama Sugiyono (36) yang berasal dari Ngawi, Jawa Timur. Pria ini diamankan tanpa perlawanan saat berada di rumah mertuanya di Desa Ketangirejo, Kecamatan Godong pada Senin (30/1/2017) sekitar pukul 22.00 WIB. Selain itu, istri Sugiyono dikabarkan juga ikut diamankan.

Kabar penangkapan terduga teroris di Desa Ketangirejo tersebut sempat bikin kaget warga. Sebab, mereka tidak mengenal sosok Sugiyono.

Dari keterangan warga, Sugiyono dan istrinya, sama-sama bukan berasal dari desa itu. Ibu mertuanya yang bernama Suyati saat ini memang tinggal di Desa Ketangirejo setelah menikah lagi dengan Suhadi, warga setempat. Sebelumnya, Suyati merupakan warga dari Kecamatan Karangrayung.

Sugiyono bersama istri dan ketiga anaknya belum lama berada di rumah mertuanya. Selama berada di rumah mertuanya, pasangan suami istri itu jarang berinteraksi dengan warga sekitar.

Kepala Desa Ketangirejo Slamet Susanto kepada wartawan menyatakan, proses penangkapan berlangsung lancar tanpa ada perlawanan. Menurutnya, pada Senin malam sekitar pukul 19.00 WIB, dia didatangi personel kepolisian berpakaian sipil.

“Sekitar lima sampai enam orang yang datang ke rumah untuk memberitahukan penangkapan. Terkait ini, saya minta agar penangkapan tidak menimbulkan kegaduhan dan kepanikan warga,” jelasnya pada wartawan.

Menurut Slamet, Sugiyono bukan warganya tetapi berasal dari Ngawi, Jawa Timur. Dia berada di desanya untuk bertamu ke rumah mertuanya. “Selama ada di sini tidak pernah keluar rumah dan laporan ke RT atau RW,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Teroris Masuk Blora Akan Dibinasakan

 

teror

Bupati Blora Djoko Nugroho saat memberikan imbauan kepada warga setempat terkait bahayanya paham radikalisme. (Dok Pemkab Blora)

 

MuriaNewsCom, Blora – Bupati Blora Djoko Nugroho menegaskan bahwa daerahnya harus bersih dari kegiatan terorisme yang belakangan kembali marak.

Hal itu ditegaskan Djoko saat memimpin apel pagi, Senin, (25/7/2016). Apel itu tidak seperti kegiatan pagi sebelum-sebelumnya.

Kegiatan itu diberi tajuk Apel Bersama Kewaspadaan Masyarakat Blora terhadap Faham Radikalisme dan Terorisme, di Alun-alun Blora.

Di apel itu, juga hadir beberapa perwakilan elemen ormas, hingga kepemudaan se-Blora, serta beberapa pejabat daerah setempat.

“Blora harus waspada terhadap faham radikalisme dan terorisme,” ujar bupati.

Bupati meminta, semua pihak berperan aktif dan bertanggung jawab menyebarkan penolakan paham radikalisme.

Seluruh elemen masyarakat harus memahami bagaimana bahayanya paham tersebut. Menurutnya, setiap organisasi dan ormas yang baru, harus dipantau dan diteliti, atau tidak diberi izin sama sekali.

Dengan catatamn, seandainya diduga kuat membawa paham baru yang bertolakbelakang dengan Pancasila.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Begini Cara Kudus Cegah Teroris

Peserta dialog Lintas Iman Deradikalisasi dan Anti Narkoba yang digelar tim Ekspedisi Islam Nusantara di Setda Kudus, Rabu (6/4/2016).(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Peserta dialog Lintas Iman Deradikalisasi dan Anti Narkoba yang digelar tim Ekspedisi Islam Nusantara di Setda Kudus, Rabu (6/4/2016).(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus berupaya mencegah adanya terorisme masuk ke wilayahnya. Hal itu disampaikan saat dialog Lintas Iman Deradikalisasi dan Anti Narkoba yang digelar oleh tim Ekspedisi Islam Nusantara di Setda Kudus, Rabu (6/4/2016).

Asisten II Pemkab Kudus Budi Rakhmat mengatakan pihaknya terus berupaya mengendalikan kegiatan yang negatif seperti terorisme, hingga paham radikal. Di antaranya adalah memaksimalkan peran organisasi kemasyarakatan atau mengintensifkan perannya.

“Yang penting ialah semua organisasi kemasyarakatan itu bisa ditingkatkan lagi. Supaya para remaja atau warga lain, bisa terdidik moralnya. Sehingga serangan narkoba, terorisme dan radikalisasi bisa terbendung. Kita sebagai pemerintah sangat mengapresiasi kegiatan diskusi tim Ekspedisi Islam Nusantara ini,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan itu juga menjadi fasilitas pendidikan.”Terutama mereka para pelajar supaya bisa memahami arti kebersamaan di antara sesama umat. Selain itu juga pendidikan terhadap bahaya narkoba,” paparnya.

Di saat yang sama Pimpinan Cabang NU Kudus Abdul Hadi mengatakan, kedatangan tim Ekspedisi Islam Nusantara menyambangi Kudus itu dinilai sangat cocok.”Sebab di sini ada dua makam Walisongo yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria. Karenanya, bisa dipelajari dari jejak kedua wali. Yang mampu menyebar agama dengan baik, tentang kehidupan kerukunan antarsesama,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Kudus juga Disambangi Tim Ekspedisi Islam Nusantara

Jajaran Kepolisian Siap Lawan Teroris Pembawa Racun Sianida

Kapolda Jateng beserta jajaran Polres Kudus dan Polsek Wilayah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kapolda Jateng beserta jajaran Polres Kudus dan Polsek Wilayah Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Polri (Kapolri) Jendral Badrodin Haiti mengintruksikan kepada seluruh jajarannya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap terorisme, yang beraksi menggunakan racun sianida. Saat berkunjung ke Polres Kudus pada Selasa (16/2/2016) ini, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Nur Ali mengantisipasi hal serupa dengan cara memberikan instruksi terhadap jajaran yang ada di bawahnya.

”Kami selalu mengantispasi itu. Baik melalui pengejaran, penindakan hal-hal yang mencurigakan,” kata Nur Ali.

Selain itu, pihaknya juga menginstruksikan kepada Polres di seluruh Jawa Tengah. Supaya meningkatkan kewaspadaan, dan antisipasi dari tindakan atau ancaman terorisme yang menggunakan rancun sianida.

Disaat yang sama Kapolres Kudus AKBP M Kurniawan mengutarakan, saat ini pihaknya rutin menggelar operasi. ”Sebelumya kami menggerakan 400 personel. Namun saat ini kita menguranginya. Jadi personel kita sebnayk 200 orang yang menggelar operasi disaat pagi dan sore serta malam. Di lokasi atau hal-hal yang mencurigakan,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk saat ini wilayah Kudus bisa dikatakan aman. Meski begitu kewaspadaan selalu digalakan. Baik barang atau benda yang mencurigakan di sekitar Kudus.

Editor : Titis Ayu Winarni

Aksi Tolak ISIS dan Terorisme Berlangsung di Grobogan

Aliansi Masyarakat Peduli Grobogan Damai saat menggelar aksi damai tolak ISIS di depan Kantor Pemkab Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Aliansi Masyarakat Peduli Grobogan Damai saat menggelar aksi damai tolak ISIS di depan Kantor Pemkab Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Aksi damai menolak keberadaan paham ISIS dan gerakan terorisme, dilakukan Aliansi Masyarakat Peduli Grobogan Damai (AMPGD), Rabu (27/1/2016).

Selain dalam bentuk penyataan sikap, aksi penolakan paham radikalisme dilakukan dengan mendatangi beberapa instansi.

Seperti di Kantor DPRD, Kejaksaaan Negeri Purwodadi dan Pemkab Grobogan. Selain itu, peserta aksi damai juga mengunjungi Polres Grobogan dan sejumlah sekolah.

Kasi Intelijen Kejari Purwodadi Wisnu Respati sempat menemui peserta aksi damai dan melakukan dialog singkat ketika anggota AMPGD mendatangi kantornya. Sementara saat berada di depan Kantor Pemkab Grobogan, peserta aksi ditemui Kepala Kesbanglinmas Yudhi Sudarmunanto.

Meski hanya menggelar aksi damai namun sejumlah petugas keamanan ikut melakukan pengawalan cukup ketat. Hal itu terlihat dengan banyaknya petugas yang memantau jalannya aksi damai tersebut.

Koordinator aksi Sugiyanto menyatakan, gerakan terorisme dan paham radikalis seperti ISIS sangat bertentangan dengan dengan ajaran agama Islam yang mengajarkan kedamaian dan kasih sayang. Jika gerakan ISIS itu tidak dicegah maka akan mengganggu keamanan dan pertahanan negara. Untuk itu keberadaan gerakan ISIS harus ditolak dan semua elemen masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan demi keutuhan NKRI.

“NKRI berdiri dari hasil perjuangan para pejuang yang terdiri dari seluruh suku, agama dan ras. Ini menjadi bukti kalau NKRI bukan milik satu golongan saja tetapi milik seluruh rakyat Indonesia. Aksi ini kami lakukan sebagai salah satu bentuk dukungan dalam menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Biar Enggak Ketularan jadi Teroris, Aksi Pemuda Loram Kulon Kudus Patut Ditiru

Kegiatan IPNU-IPPNU yang selalu difasilitasi oleh Pemdes Loram Kulon, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kegiatan IPNU-IPPNU yang selalu difasilitasi oleh Pemdes Loram Kulon, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah seorang pemuda Loram Kulon, Jati, Kudus, Ah Farizi mengatakan, kegiatan keagamaan itu sangat positif, karena akan membuat otak lebih kreatif. Hal itu bisa berdampak pula mencegah adanya pemahaman tentang radikalisme.

“Setidaknya bila ikut berorganisasi IPNU-IPPNU, Ansor, fatayat atau rebana, maka kreativitas tentang agama bisa berkembang. Khususnya kreativitas atau pemikiran yang positif serta bermanfaat bagi semua orang,” katanya.

Diketahui, semua kegiatan keagamaan yang berada di Desa Loram Kulon, ini memang telah tersentral menjadi tanggung jawab pemuda.

“Ya memang pemuda harus bisa kreatif. Sebab kegiatan agama di desa ini ya para pemuda. Seperti halnya Ampyang Maulid, pengajian pengajian, ataupun yang lainnya,” tambahnya.

Hal serupa juga diiyakan oleh pemuda lain, Hartono. Dia mengatakan, yang terpenting ialah para pemuda itu bukan hanya berkegiatan keagamaan tapi mereka juga harus bisa menciptakan kreasi dan bermanfaat bagi semua.

“Kreasi tersebut meliputi, apakah menjadi panitia pengajian, panitia Ampyang Maulid, atau panitia kegiatan lain. Sehingga pemuda itu bisa dipandang positif, serta bisa membuat pihak desa semakin bangga. Bahkan bisa diajak kerja sama untuk mencegah aliran sesat, radikal atau teroris sekalipun,” tegasnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Membentengi Pelaku Teroris (Baru) dengan Sosialisasi Apa dan Siapa Itu Teroris?

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Faktor keterlibatan seseorang dalam teror di antaranya menurut Moh Rosyid, dosen STAIN Kudus karena ketidaktahuannya tentang tindak teroris.

Perpu No.1/2002 tentang Pemberantasan tindak pidana teroris, Perpu diperkukuh dalam UU No.15/2003. Pasal 6 teroris adalah setiap orang yang sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau hilangnya nyawa dan harta benda atau obyek vital yang strategis baik lingkungan hidup atau fasilitas publik atau internasional, dipidana mati atau seumur hidup atau minimal 4 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara.

Pasal 13 setiap orang yang sengaja memberi bantuan (sebelum atau pada saat teror) atau kemudahan (membantu setelah teror) terhadap pelaku teroris berupa memberi, meminjami uang atau barang atau harta pada pelaku teroris, menyembunyikan informasi terhadap teroris, dipidana minimal 3 tahun, maksimal 15 tahun penjara.

Selanjutnya, pasal 14 setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan tindakan teroris dipidana mati atau hukuman seumur hidup. Pasal 15 setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan atau membantu teroris, dipidana yang sama dengan pelaku teroris.

Muatan pasal tersebut menurut Rosyid, harus disosialisasikan pemerintah/pemda pada publik agar dipahami sebagai langkah pencegahan/preventif. ”Sudahkah pemda menyosialisasikan? apakah warga sudah memahami apa itu tindak teroris?” ungkapnya.

Rosyid menambahkan, ini upaya awal untuk mendeteksi dini sebagai tugas pemerintah yang diamanatkan dalam UU No.7/2012 tentang Penanganan Konflik. ”Pasal 10 pemerintah dan pemda membangun sistem peringatan dini untuk mencegah konflik di daerah yang diidentifikasi sebagai daerah potensi konflik atau sedang berkonflik,” tandas Rosyid. (TITIS W)

Video – Polisi Bersenjata Amankan Pati dari Pergerakan Teroris

Sejumlah personel keamanan ditambah di dua titik untuk menyekat ruang gerak teroris. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah personel keamanan ditambah di dua titik untuk menyekat ruang gerak teroris. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Puluhan polisi bersenjata dari Polres Pati mulai disiagakan untuk mengantisipasi adanya pergerakan teroris di Kabupaten Pati. Mereka mulai disiagakan di dua titik, Sabtu (16/1/2016).

Titik pertama berada di Pos Keamanan Jalan Pati-Kudus Km 7 dekat Dua Kelinci. Titik kedua berlokasi di Pos Penjagaan Jalan Pati-Juwana km 2 dekat pabrik Garuda.

Penyekatan ruang gerak teroris tersebut juga melibatkan dua anjing pelacak. “Kami lakukan penebalan dan penambahan personel di dua titik untuk mempersempit gerak teroris yang melewati jalan pantura di Pati,” kata Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo kepada MuriaNewsCom.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengamanan di tingkat daerah, usai tragedi bom Sarinah di Jakarta dua hari lalu. “Meski kami belum mendeteksi adanya teroris atau jaringan ISIS di Pati, tetapi kami diperintahkan untuk siaga satu setelah tragedi bom Sarinah,” imbuhnya.

Ia menambahkan, penebalan pengamanan di dua titik di Jalan Pantura Pati tersebut akan berlangsung selama seminggu. “Rencananya penebalan ini berlangsung selama seminggu, kecuali ada perintah selanjutnya,” pungkasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)