Konyol, Ini Alasan Warga Kudus Teror Bom Java Mall Semarang

Norman (kaos hitam) bercerita tentang kasus teror bom yang dilakukan terhadap Java Mall Semarang (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Norman (kaos hitam) bercerita tentang kasus teror bom yang dilakukan terhadap Java Mall Semarang (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Peneror bom Java Mall Semarang, Norman Dwiantoro (48), rupanya mempunyai alasan melakukan aksi konyolnya itu. Warga Desa Banget, RT 02/ RW 01, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, itu mengaku aksinya dilatarbelakangi persoalan remeh temeh.

“Lha wong saya hanya iseng saja kok, karena ketimbang marah-marah, ngamuk, mending saya telepon Java Mall. Lagi pula saya tidak punya niatan buruk sama sekali,” katanya kepada MuriaNewsCom di rumahnya, Selasa (13/12/2016).

Awal kekesalannya yaitu saat meminta uang lebih kepada orang tuanya di Semarang. Tapi orang tuanya tidak memberi. Ia mengaku selama ini sebagai pengangguran. Orang tuanya menjatah tiap bulannya sebanyak satu juta rupiah. “Tiga ratus ribu rupiah buat saya, tujuh ratus ribu rupiah buat istri saya,” ujar Norman.

Diketahui, Norman merupakan warga Kota Semarang. Norman tinggal di daerah belakang Java Mall.

Dia pindah domisili ke Kudus setelah menikah dengan warga Banget, Kecamatan Kaliwungu.

Sulami (43) istri Norman mengatakan, suaminya memang mengalami gangguan jiwa. Suaminya dulu kerap balapan liar saat masih di Semarang. Norman beberapa kali jatuh, dan kepalanya terbentur.

“Suami saya baik, tidak ada niatan apa-apa. Hanya iseng saja itu,” kata Sulami yang merupakan buruh di salah satu pabrik rokok di Kudus.

Keduanya telah dikaruniai satu orang anak. Sulami menjadi tulang punggung keluarganya tersebut. Mengingat, suaminya tak bisa bekerja dengan kondisi kejiwaan yang kurang baik.

Sementara, Suswono, kakak ipar pelaku juga menjelaskan kalau Norman adalah orang yang patuh. Namun karena mengalami kondisi kejiwaan yang tidak stabil, membuatnya kadang bertingkah aneh.

“Sudah ada kalau 25 tahun seperti ini. Tapi orangnya baik, tidak pernah mencuri. Hanya kalau kumat saja gayanya demikian. Bahkan bisa menelpon siapapun juga dan berkata seenaknya,” jawabnya.

Editor : Akrom Hazami

Peneror Bom Java Mall Semarang Ternyata Warga Banget Kaliwungu Kudus

Norman Dwiyantoro (48), pelaku teror bom Java Mall Semarang saat diwawancarai di rumahnya di Desa Banget, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Norman Dwiyantoro (hitam), pelaku teror bom Java Mall Semarang saat diwawancarai di rumahnya di Desa Banget, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang warga Desa Banget, RT 02/ RW 01, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Norman Dwiyantoro (48), benar-benar kelewatan tingkahnya. Norman mengirim ancaman teror bom di supermaket Java Mall Kota Semarang.

Sontak hal itu membuat masyarakat resah. Sebab, ancaman bom tersebut berakibat pengunjung mal ketakutan. Rupanya aksi iseng Norman telah dilakukannya empat kali, selama tiga bulan terakhir dengan mal yang sama.

Modus yang dilakukan pelaku adalah menelepon reseptionis Java Mall mengenai adanya bom di supermaket Java Mall. Aksi terakhir Norman, yakni 10 Desember 2016 lalu.  Gara-gara isengnya itu, Norman pun diburu Polrestabes Semarang.

Norman dibekuk Polrestabes Semarang pada Senin (12/12/2016) pukul 03.00 WIB dini hari. Karena Norman mengalami gangguan kejiwaan, polisi memulangkannya pada Senin malam.

Ditemui di rumahnya, Norman terlihat linglung. Sesekali dia tertawa, tapi Norman tampak masih tanggap dengan pertanyaan yang dilontarkannya. “Sudah empat kali melakukan ancaman. Terakhir saya lakukan Sabtu (10/12/2016) yang lalu, dengan melakukan ancamannya menggunakan telepon genggam,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (13/12/2016).

Dia mengaku, ancaman dilakukan dengan perkataan pertama, “Awas, dalam gedung ini sudah tertanam bom, dalam hitungan dua menit bom akan meledak”, ujarnya mengucapkan kalimat terornya yang dipraktikannya selama empat kali.

Dia mengaku, mendapatkan nomor Java Mall dari nomor penerangan di 108. Dari sanalah dia kemudian memutuskan untuk menelpon dan mengancam kalau dalam mal ada bom yang hendak meledak.

Editor : Akrom Hazami