25 Mantan TKI Diajari Ternak Kelinci di Tlogowungi Pati

 Puluhan mantan TKI mengikuti pelatihan ternak kelinci di Sekretariat Asosiasi Peternak Kelinci Kembang Joyo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Puluhan mantan TKI mengikuti pelatihan ternak kelinci di Sekretariat Asosiasi Peternak Kelinci Kembang Joyo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya ada 25 orang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sudah pulang dari luar negeri diajari ternak kelinci di Sekretariat Asosiasi Peternak Kelinci Kembang Joyo, Desa Tlogorejo, Kecamatan Tlogowungu, Pati, Selasa (24/5/2016).

Ketua Asosiasi Peternak Kelinci Kembang Joyo, Serda Suparman mengatakan, para purna TKI sepulang dari luar negeri diharapkan bisa hidup mandiri dengan bekal keterampilan yang diperoleh dari pelatihan kelinci. Lebih dari itu, para peserta diharapkan bisa menjadi enterpreneur di bidang peternakan kelinci yang bisa menjaga ketahanan dan kemandirian pangan di dalam negeri.

“Di satu sisi, pelatihan ternak kelinci akan membuat mantan TKI berdaya, menjadi peternak, sekaligus wirausahawan yang bisa hidup secara mandiri. Dengan menjadi wirausahawan, mereka bukan hanya bisa menghidupi diri sendiri, tetapi juga orang lain sehingga perekonomian bisa maju,” kata Serda Suparman.

Di sisi lain, lanjutnya, mereka akan menjadi salah satu “duta” untuk menciptakan sumber ketahanan dan kemandirian pangan di dalam negeri yang saat ini menjadi program utama pemerintah. Dengan demikian, sumber ketahanan pangan alternatif bisa menopang sumber ketahanan pangan utama, sekaligus memberdayakan masyarakat menjadi wirausahawan yang bisa meningkatkan ekonomi warga.

“Harga bibit kelinci, mulai dari Rp15 ribu hingga Rp 20 ribu. Pakan ternak per kelinci setiap harinya hanya Rp 70 karena olahan sendiri. Dalam seratus hari, kita bisa jual per ekor Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu. Dagingnya sendiri bisa dijual Rp 30 ribu per kilogram. Ini jelas sangat prospektif,” ungkapnya.

Selain masalah ternak dan daging, mereka juga diajari pemanfaatan kotoran kelinci yang bisa dijadikan pupuk dan gas alternatif. Pupuk bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman, sedangkan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Budi Daya Kelinci di Pati Terkendala Geografis, Begini Cara Antisipasinya

Budi daya kelinci di daerah Tlogowungu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Budi daya kelinci di daerah Tlogowungu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Budi daya hewan piaraan kelinci memang lebih sukses jika dikembangkan di dataran tinggi atau menengah. Namun, Kepala Dispertanak Pati Mochtar Efendi optimistis jika ternak kelinci di dataran rendah seperti Pati bisa berhasil asal tahu caranya.

”Daerah dataran rendah memang sulit untuk dijadikan ternak kelinci. Tapi, itu bukan halangan. Asal tahu caranya dan bisa merekayasa kandang yang nyaman untuk kelinci,” ujar Mochtar kepada MuriaNewsCom, Kamis (28/1/2016).

Kendala itu juga akan disiasati dengan penggunaan pakan penguat. Sejumlah teknologi ternak juga perlu disiapkan agar kelinci bisa tumbuh dan beranak dengan baik.

”Saat ini, kami bekerja sama dengan Perkumpulan Petani Muda Indonesia (PPMI) untuk menyukseskan program ternak kelinci di Pati. Tak hanya soal ternak, tetapi juga pemasaran atau market bagaimana kelinci itu bisa menghasilkan,” imbuhnya.

Ia menilai, kesuksesan ternak kelinci tidak akan berhasil jika tidak disertai dengan ilmu kewirausahaan yang baik. Karena itu, ilmu peternakan mesti dipadu dengan ilmu enterpreneurship untuk menghasilkan potensi ekonomi yang baik melalui budi daya kelinci.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pati Mulai Kembangkan Budi Daya Kelinci

Seorang anggota TNI tengah menunjukkan kelinci yang sekarang mulai dikembangkan di Pati, terutama di Tlogowungu Farm Rabbit. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang anggota TNI tengah menunjukkan kelinci yang sekarang mulai dikembangkan di Pati, terutama di Tlogowungu Farm Rabbit. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Blora – Kabupaten Pati selama ini dikenal dengan potensi perikanan dari Juwana dan wilayah Pati utara. Namun, saat ini Pemkab Pati mulai mengembangkan sektor peternakan di bidang ternak kelinci.

Hal itu diharapkan agar kelinci bisa menjadi salah satu pendongkrak potensi peternakan di Pati, sekaligus sumber pangan alternatif yang prospektif selain daging ayam, kambing dan sapi.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati Mochtar Efendi kepada MuriaNewsCom mengatakan, budi daya kelinci saat ini mulai dilirik banyak pihak sebagai salah satu sumber pangan alternatif yang potensial.

“Ada banyak sekali pertimbangan kenapa budi daya kelinci itu sangat potensial. Pertama, ternaknya sangat mudah dan murah. Kedua, kelinci berkembang biak cukup cepat dengan jumlah yang besar,” tuturnya, Kamis (28/1/2016).

Untuk merealisasikan program tersebut, pihaknya mengaku sudah memberikan pelatihan dan pembinaan kepada sejumlah kalangan. Salah satunya, memberikan pembinaan kepada Perkumpulan Petani Muda Indonesia terkait dengan pengembangan budi daya kelinci.

Editor : Kholistiono