Sudirman Said Bakal Persempit Langkah Spekulan, Ini Cara yang Ditawarkan

MuriaNewsCom, Semarang – Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said memiliki trik khusus untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di pasar. Yakni memotong atau menyederhanakan matai rantai distribusi.

“Sebenarnya kalau harga naik dan turun itu hal yang biasa, yang penting jangan terlalu ekstrim, seperti harga bawang merah, di Brebes itu harganya Rp 7.000 saja, tapi di tenpat lain ternyata bisa mencapai Rp24 ribu,” kata Sudirman.

Menurutnya, spekulan tidak boleh mendominasi atau mendikte harga. Salah satu konsep yang bisa dilakukan adalah  Jateng sebagai produsen makanan, seperti sayur mayur, beras dan sebagainya bisa kerja sama, umpamanya dengan Provinsi DKI Jakarta.

Kerja sama tersebut, bisa dalam bentuk kerja sama antar Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). “Kalau dipercaya masyarakat Jateng memimpin, saya ingin menggandengkan dua BUMD, Jateng-DKI Jakarta. Kalau pasokannya bisa terus menerus kan harga lebih stabil,” ujarnya.

Sudirman juga mengaku sangat menaruh perhatian pada keberadaan pasar tradisional. Karena pasar tradisional merupakan denyut nadi ekonomi masyarakat di daerah.

Oleh sebab itu dalam setiap kunjungan ke daerah ia selalu menyempatkan diri mengunjungi pasar tradisional di Jateng.

Editor : Ali Muntoha

Menengok Pasar Rambutan Jepara, Tempatnya Wisatawan dan Tengkulak Berburu Buah Lokal

MuriaNewsCom, Jepara – Tak hanya buah durian, salah satu buah yang sangat melimpah di Kabupaten Jepara ini adalah rambutan. Bagi kalian yang sedang menikmati liburan di kota sejuta pantai ini, jangan lupa menyempatkan diri untuk mampir di pasar rambutan, tepatnya di area Pasar Baru Ngabul.

Setiap hari, pasar ini selalu ramai lalulalang antara petani rambutan, tengkulak dari berbagai kota hingga wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh buah yang keluarnya berbarengan dengan buah durian ini.

Di sini, kita tidak hanya akan menemukan satu jenis saja buah rambutan seperti di kota-kota lainya. Beberapa jenis rambutan di antaranya yaitu rambutan lokal, rambutan tempel, rambutan binjai, rambutan rafia dan juga rambutan kelengkeng.

Untuk rambutan lokal Jepara, rasanya khas. Ada asam manis namun kurang ngelotok. Berbeda dengan rambutan tempel. Ia memiliki rasa asam manis, dagingnya tebal, dan juga ngelotok.

Sementara untuk rambutan binjai memiliki kulit lebih tebal, daging buahnya juga tebal, ngelotok dan rasanya manis.

Sedangkan rambutan yang paling memiliki rasa yang sangat manis adalah rambutan rafia dan rambutan kelengkeng. Banyak orang mengatakan dua jenis rambutan ini sama. Padahal bagi petani rambutan di Jepara, dua jenis rambutan ini berbeda.

Meski keduanya sama-sama sangat manis, namun untuk membedakanya rambutan jenis rafia ini kulitnya memiliki rambut sedikit panjang dan bentuknya agak oval. Sedangkan rambutan jenis kelengkeng ini memiliki bentuk yang bulat, dan kulitnya tipis, rambutnya pendek dan bagian tengahnya memiliki belahan.

Sejumlah pedagang rambutan menjajahkan barang dagangannya di Pasar Ngabul Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Kamsani (53), salah seorang petani rambutan mengaku, tahun ini musin rambutan di Jepara cukup panjang. Ia memiliki sekitar 20 pohon rambutan, dan mulai dipanen dari bulan November 2017 hingga Maret 2018 ini masih ada buah rambutan yang dipanen.

“Kali ini musimnya lumayan panjang, buahnya juga melimpah, jadi dalam satu pohon kami bisa memanennya hingga beberapa kali” ungkap laki-laki asal Ngabul ini.

Menurut dia, setiap selesai memetik rambutan, dia membawanya ke Pasar Ngabul yang baru untuk dijual kepada konsumen langsung ataupun tengkulak yang datang dari luar kota.

“Kalau tidak hujan, biasanya harganya agak murah, tapi kalo pagi hujan, harga rambutanya bisa naik,” katanya.

Kamsani mengatakan jika pagi turun hujan, hanya sedikit petani yang memetik dan menjualnya ke Pasar Ngabul, sehingga harganya bisa naik. “Karena sedikit yang petik, jadinya harganya bisa sampai Rp 12 ribu pergendel (sekitar 5kg). Tapi jika panas, semua petani memetik dan membawanya ke Ngabul jadinya harganya murah Rp 8- Rp 10 ribu pergendel” jelasnya.

Selain itu, H Imron, tengkulak yang memiliki kios di Pasar Ngabul ini mengaku dirinya mengumpulkan rambutan berjenis binjai dan kelengkeng untuk dikirim ke Jakarta dan Surabaya.

“Para petani langsung setor ke sini. Biasanya permintaan dari Jakarta itu yang jenis binjai dan kelengkeng. Kalau ke Surabaya rambutan tempel dan kelengkeng. Setelah kumpul banyak saya titipkan bus, disana sudah ada yang ambil,” katanya.

Sedangkan Darwati (40), tengkulak asal Wonosobo ini mengaku rambutan asal Jepara ini lebih mudah dijual di daerahnya. Pasalnya buahnya rata-rata manis dan daging buahnya tebal. “Selain itu ngelotok, jadi lebih mudah jualnya dari pada rambutan dari daerah lain” jelasnya.

Setiap dua hari sekali, Darwati dan suaminya datang ke Jepara untuk kulakan rambutan, “Minimal ya satu bak L300 ini harus penuh, sampainya di Wonosobo sudah ditunggu sama pedagang-pedagang buah lainya” kata ibu dua anak ini.

Tak hanya tengkulak, ani (28) wisatawan asal Demak beserta rombonganya ini juga tak mau ketinggalan untuk membeli rambutan sebagai oleh-oleh untuk keluarganya itu.

“Saya tidak menyangka teŕnyata ada pasar khusus rambutan di Jepara. Saat melintas saya pikir hanya pasar biasa, ternyata isinya pedagang rambutan semua. Harganya sangat murah dibandingkan di tempat saya, juga banyak pilihan jadinya saya sangat senang,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Ini Kiat Gubernur Ganjar Agar Petani Tak Dikibuli Tengkulak

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat memaparkan tentang regopantes.com, yang dinilai mampu memutus rantai tengkulak. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut, petani di provinsi ini banyak yang dirugikan oleh para tengkulak. Ia menyebut, tengkulak atau pengepul justru yang mendapat keuntungan hingga berlipat-lipat.

Mantan anggota DPR RI ini menyebut, fakta ini selarasa dengan survei yang dirilis Bank Indonesia, di mana tengkulak pertama bisa meraup keuntungan 100 persen bahkan lebih. Oleh sebab itu, Ganjar menilai pentingnya sistem informasi komoditas pertanian agar dapat mendongkrak nilai tukar petani.

“Perlu sistem informasi pertanian, siapa menanam apa, kapan, dan dimana. Kalau ini bisa, maka kita bisa menghitung. Misalnya kedelai ditanam di Gombong, bisa tahu kapan panennya. Nanti harganya kira-kira berapa,” katanya dalam dialog interaktif di Rumah Dinas Puri Gedeh, Semarang, Selasa (26/9/2017).

Ganjar menambahkan, pemerintah dapat berperan sebagai perantara antara petani dengan konsumennya. Yakni dengan mendata siapa dan berapa konsumen potensialnya.

“Misalnya, koperasi tahu tempe di Jawa Tengah kita data. Kemudian kita menjadi perantara untuk mempertemukan petani dengan siapa penggunanya. Sehingga tidak melalui perantara yang terlalu banyak. Ketika nanti petani kedelai akan panen, siapa nanti yang akan membeli dengan harga yang pantas,” ujarnya.

Ganjar pun memperkenalkan e-commerce bernama regopantes.com, yang memperdagangkan komoditas pertanian berkualitas dari para petani.

Menurutnya, regopantes.com mampu mendorong etika perdagangan komoditas pertanian yang adil atau fair trade, sekaligus memangkas rangtai tengkulak atau pengepul. Di satu sisi, petani ditantang untuk mampu menjual komoditas pertanian unggulan.

Di sisi lain, konsumen memeroleh komdoitas pertanian berkualitas dan membelinya dengan harga yang layak.

“Banyak etika perdagangan yang bisa kita dorong dari jualan online regopantes.com itu. Pertama, petani belajar bagaimana menjaga kualitas produk. Kedua, dari sisi harga yang pantas, maka membeli (komoditas) itu jangan awur-awuran. Hargai kerja keras petani yang luar biasa dengan harga yang bagus,” jelasnya.

Ia mencontohkan, keuntungan yang bisa diraup oleh petani apabila berdagang komoditasnya secara online bahkan bisa mencapai lebih dari 100 persen.

“Ada orang yang membeli cabai merah secara online itu harganya Rp 32.300 per kilo. Itu petani terima bersih keuntungannya Rp 23.300 per kilogram. Harganya lebih bagus 291 persen daripada dia jual ke tengkulak yang hanya Rp 8.000 per kilogram,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha