Malam Ini, FASBuK Bakal Dimeriahkan Musikalisasi Puisi Cempaka Putih

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) kembali digelar. Pada edisi Februari 2018 akan ditampilkan pertunjukan musik, puisi dan diskusi “Cempaka Putih” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Bae, Selasa (20/2/2018).

Acara yang menampilkan kelompok musik Cempaka Putih itu akan digelar mulai pukul 19.30 WIB. Dalam event tersebut, kelompok beranggotakan lima musisi muda itu akan membawakan musikalisasi puisi, yang dicipta oleh personel-personel mereka sendiri.

Ketua Badan Pekerja FaSBuk Arifin AM melalui siaran Persnya mengatakan, sebelum fokus bermusik sastra, Cempaka Putih terlebih dahulu memainkan musik dalam berbagai genre. Seperti Pop, Bossa Nova, Jazz dan rebana.

Nama Cempaka Putih sendiri‎ sendiri diambil dari makna bunga cempaka atau kantil. “Diartikan sebagai tali rasa sebuah kasih sayang secara mendalam tiada terputus. Hal tersebut terkait langsung dengan jiwa spiritual para personil yang kuat dalam meraih sebuah kesuksesan secara lahir batin,” ujarnya.

Selain pertunjukan, nantinya akan ada dialog interaktif terkait proses aktif yang dilakukan oleh grup Cempaka Putih.

FaSBuk sendiri rutin menggelar acara sastra dan seni budaya yang meliputi, sarasehan, pertunjukan musik, tari dan pementasan drama dan teater.

Editor: Supriyadi

Teater Minatani Pati Pentaskan Karyanya di UMK Malam Ini

Sejumlah pemain dalam lakon Widji, teater Minatani Pati tampil begitu ekspresif saat memanggungkannya di Gedung Juang Pati beberapa waktu lalu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Setelah mementaskan karyanya di Pati, Teater Minatani kini melirik Kota Kudus sebagai tempat pementasannya yang kedua. Pentas dengan lakon “Widji” ini bakal digelar di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) pada Sabtu (9/12/2017) malam ini.

Lakon yang dibawakan itu sendiri merupakan hasil dari adaptasi naskah berjudul Buried Child yang ditulis pada tahun 1979 oleh Sam Shepard penulis terkemuka Amerika. Naskah itu kemudian diterjemahkan oleh Lacahya dan kemudian diadaptasi kembali.

Kata “Widji” yang berarti biji itu sendiri menjadi gagasan pokok dalam pertunjukan teater yang bakal dibawakan. Sutradara pertunjukan, Beni Dewa, mengatakan, lakon Widji merupakan gambaran kondisi masyarakat dalam skala kecil yakni keluarga, imbas dari perubahan sosial masyarakat agraris menjadi industri.

“Dalam membawakan naskah ini memang ada sejumlah tantangan. Apalagi dalam balutan pertunjukan realis, Sam Shepard dikenal sangat kental dengan nuansa absurditas,”ujarnya. 

Tak hanya itu, dalam naskah yang dibawakan dalam pertunjukan yang didukung oleh Djarum Foundation tersebut juga memiliki ciri yang kuat. Yakni konflik yang ada pada kekuatan kata-kata bukan sekadar pada pengadeganan.

“Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi kami bagaimana membawakan pementasan ini agar pesannya dapat tersampaikan,”ujarnya.

Diharapkan dengan adanya pementasan itu bisa turut menjadi pilihan baru dalam pewarnaan panggung teater Kudus. Sehingga gaya penggarapan teater dapat semakin ramai dan kaya.

“Silahkan hadir di Auditorium UMK untuk menyaksikan pementasan tersebut,”ujarnya.

Editor : Supriyadi

Begini Innayah Wahid Melihat Kualitas Teater Pelajar di Kudus

Innayah Wahid saat bicara penampilan peserta di Festival Teater Pelajar Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Salah seorang putri mantan Presiden RI,  Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Innayah Wahid, merasa senang dipercaya menjadi satu dari tiga juri dalam Festival Teater Pelajar 2017 di Kudus. Bagi dia, ini merupakan kesempatan langka memegang posisi juri teater.

Innayah mengatakan, sebelum menjadi juri pada final Festival Teater Pelajar X ini dia pernah menjadi juri pada Festival Teater Pelajar VIII. Sama halnya kini, dulunya juga menjuri saat grand final.

“Perkembangan sangat terlihat pada para peserta. Banyak ide-ide baru yang muncul dari pementasan yang dilakukan itu,” katanya saat konferensi pers di GOR Djarum Kaliputu, Minggu (26/11/2017).

Menurut dia, pementasan kali ini terlihat lebih matang ketimbang sebelumnya. Seolah itu bukan  merupakan pementasan dari para pelajar SMP dan SMA. Dia melihat kalau pementasan itu terlihat seperti penampilan teater yang profesional.

“Ini akan menjadikan Indonesia mendatang kaya dangan aktor yang profesional,” ujarnya.

Juri lainya, Sita Nursanti selaku pemain oper, menilai pertunjukan yang disuguhkan sangat apik dan kompak. “Ini akan menjadi ikon baru di Kudus, yaitu sebagai kota teater,” ungkapnya. 

Editor : Akrom Hazami

Petaka Mempermasalahkan Beda Kasta Tampak di Pementasan Teater Keset Kudus

Salah satu adegan di pementasan Teater Keset di Kudus, Sabtu malam. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

MuriaNewsCom, Kudus – Mempermasalahkan perbedaan kasta di Bali, kadang bisa membutakan akal sehat. Sampai semua itu harus mengorbankan diri, mengorbankan cinta, hingga mengorbankan segalanya.

Itu tampak dalam pementasan teater Kelompok Segitiga Teater (Keset) Kudus, dengan naskah Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya, di Universitas Muria Kudus, Sabtu (18/11/2017) malam.

 

Salah satu adegan di pementasan Teater Keset di Kudus, Sabtu malam. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

“Dia pura-pura saja tidak tahu siapa laki-laki yang selalu tidur dengan dia. Sebab sesungguhnya kami saling mencintai sejak kecil, sampai tua bangka ini. Hanya kesombongannya terhadap martabat kebangsawanannya menyebabkan dia menolakku, lalu dia kawin dengan bangsawan, penghianat itu, semata-mata hanya soal kasta. Meninggalkan tiyang yang tetap mengharapkannya. Tiyang bisa ditinggalkannya, sedangkan cinta itu semakin mendalam.”

Cuplikan dialog salah satu tokoh Wayan, menjadi salah satu bukti, mempersoalkan perbedaan kasta menjadi penghalang perjalanan cinta. Tingginya kasta, lantas menyombongkan diri, menjadi hal yang dipegang erat janda tua Gusti Biang, di pementasan itu.

 

Salah satu adegan di pementasan Teater Keset di Kudus, Sabtu malam. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

Kultur sosial di Bali tentang membeda-bedakan kasta, agaknya menjadi kegelisahan Putu Wijaya. Maka dengan lantang, penulis menentang melalui naskah karya sastranya. Karena, cinta yang berujung pada pernikahan suci akan lebih baik, ketimbang terjebak pada kasta yang berujung pada kesombongan.

 “Saya pernah bertemu dengan Putu Wijaya. Dia mengatakan jika naskah ini dilatarbelakangi oleh adanya pertentangan perkawinan, hanya gara-gara beda kasta,” kata sutradara Jessy dalam diskusi usai pementasan.

Kisah lakon ini diceritakan terjadi di Tabanan Bali. Adalah, Gusti Biang, janda almarhum I Gusti Rai, seorang bangsawan yang dulu sangat dihormati karena dianggap pahlawan kemerdekaan. Gusti Biang tinggal bersama dengan Wayan, seorang lelaki tua yang merupakan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai, dan Nyoman Niti, seorang gadis desa yang selama kurang lebih 18 tahun tinggal di puri itu.

Sementara putra semata wayangnya, Ratu Ngurah, telah bertahun meninggalkannya karena sedang belajar. Sikap Gusti Biang yang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta, membuatnya sombong dan memandang rendah orang lain.

Gusti Biang ingin anaknya, Ngurah, menikah dengan wanita yang satu kasta. Bukan dengan Nyoman yang berasal dari kasta Sudra. Sikap itulah yang dipegangnya. Meski harus diakui, dulu Gusti Biang rela mengorbankan cintanya dengan Wayan, hanya karena menikah dengan I Gusti Rai. 

Pementasan sendiri berjalan apik. Sutradara berhasil menyuguhkan budaya Bali di atas panggung. Seperti tata panggung bangunan yang memperlihatkan bangunan pada umumnya Pulau Dewata. 

Editor : Akrom Hazami

Santri TBS Senang Pentaskan Puisi Kedamaian dalam Acara FASBuK

Anggota Teater Oncor perpoto bersama sebelum pentas. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah santri Madrasah Aliyah TBS, yang tergabung dalam Teater Oncor sangat senang mendapat kesempatan mementaskan puisi bertema perdamaian. Mereka bertambah senang, manakala yang dipentaskan adalah puisi karya pribadi.

Seperti diungkap M Rizal Arifuddin, siswa kelas 10 Madrasah Aliyah TBS. Puisi berjudul indahnya perdamaian sengaja dibuat olehnya untuk pementasan FASBuK di Auditorium UMK Rabu (20/9/2017) malam.

“Puisi ini juga diciptakan untuk mengajak sesama berdamai, sehingga dalam sebuah negara tak ada permusuhan, kekerasan dan tercipta kedamaian,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, belakangan ini santer terdengar kabar adanya kekerasan di Rohingya di Myanmar. Akibat kekerasan tersebut negara menjadi bergejolak dan jauh dari kata damai. Padahal, diakui atau tidak, damai tentu sangat indah.

Seperti kalimat dalam puisi “Damai, indahnya perdamaian, ciptakanlah perdamaian, pasti tenteram hidup ini.

Sementara, panitia pementasan Arfin menyebut, Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus  pertunjukan musik, puisi, dan diskusi dengan menghadirkan tema “Lantunan Kedamaian”.

“Puisi seringkali memuat beberapa pesan dan kesan yang mendalam pada setiap daya tangkap beberapa orang, melalui kata demi kata Sang Penyair akan mengungkapkan segala daya imajinasi kreatif yang ditujukan pada suatu keadaan atau perasaan tertentu,” ujarnya

KrogerFeedback Fuel Points win for free

Bertepatan dengan tanggal 21 September yang merupakan Hari Perdamaian Dunia, para penyair muda ini akan membawakan puisi karya mereka yang sesuai dengan tema bulan ini “Lantunan Kedamaian“ berisi tentang sajak-sajak yang akan memberikan makna luas tentang indahnya persatuan dan kesatuan.

Editor: Supriyadi

Kelompok Kajian Teater Tigakoma FKIP UMK Sukses Pentaskan Naskah Los

Salah satu adegan dalam pementasan naskah Los karya sastrawan Putu Wijaya di Auditorium UMK, Rabu. (MuriaNewsCom/Faiso Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kelompok Kajian Teater Tigakoma FKIP UMK mementaskan naskah berjudul Los karya Putu Wijaya di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (5/4/2017) malam. Dalam pementasan itu, Bandot, menjadi sosok sentral, yang tak juga mati meski telah dieksekusi.

Secara garis besar, naskah ini menceritakan tentang eksekusi mati yang akan dijalankan pada Bandot. Hukuman tesebut didapatkan akibat sikap dan perbuatannya. Namun anehnya menjelang eksekusi mati Bandot tidak gentar dan tidak takut sedikitpun, ia malah tertidur dengan pulas.

Lebih anehnya lagi setelah dieksekusi puluhan kali ternyata jantung Bandot masih berdetak, Bandot belum mati. Si Tua dan Gembrot sebagai sipir penjara dibuat kebingungan, juga tokoh-tokoh lain yang hadir seperti dokter, seseorang, dan kawan-kawan ikut merasakan kebingungan yang semakin mengacaukan suasana.

A Saiful Anam, sutradara pementasan mengatakan pementasan berjudul Los tersebut merupakan bentuk kritik Teater Tigakoma terhadap sistem, kekuasaan atau rezim yang selalu mengatur segala tingkah laku manusia. Dan dalam pentas, sosok Bandot mewakilinya.

“Sosok Bandot mewakilkan itu semua. Dirinya tetap melawan meski  telah disetrum mati berkali–kali. Namun pada kenyataannya dia tak pernah mati,” kata Anam usai pementasan.

Sosok Bandot itu sendiri digambarkan sebagai sosok pemimpin kelompok punk. Dialah yang menyebarkan ideologi perlawanan ke kawanannya. Dan caranya menyebarkan adalah lewat orasi puisi karya Widji Tukul.

Dikatakan, konsep penggarapan dalam naskah ini menghadirkan banyak kejutan. Mulai pemilihan bentuk panggung semi arena, konsep multimedia, hingga pemilihan properti yang apik.

Sementara, Miftahul Umam, panitia pentas produksi menyebutkan rencananya pentas tak hanya berhenti di UMK Kudus stapi juga ke Magelang pada Sabtu (15/4/2017). “Kami sudah menjalin kerja sama dengan Teater Fajar untuk menggelar pementasan itu di Auditorium kampus I Universitas Muhammadiyah Magelang yang berada di jalan Tidar nomor 21 Magelang,” ujarnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Kelompok Kajian Teater Tigakoma FKIP UMK Pentaskan Naskah Los Karya Putu Wijaya

MuriaNewsCom, Kudus – Kelompok Kajian Teater Tigakoma yang berada di bawah naungan FKIP Universitas Muria Kudus akan mementaskan sebuah pertunjukan karya teatarawan modern Indonesia, Putu Wijaya.

Bertajuk “Pentas 2 Kota Produksi Ke-XII”  akan dipentaskan pada Rabu (5/4/2017) di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) dan Sabtu (15/4/2017) di Auditorum Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Magelang mendatang.

Setelah sukses pada tahun lalu menggarap naskah “Macbeth”  karya William Shakespeare terjemahan WS Rendra, di Kudus dan Jepara. Dalam usia yang kesepuluh pada tahun 2017 ini Teater Tigakoma mencoba mewarnai perjalanan kreatifnya dengan mengangkat naskah Los karya Putu Wijaya yang disutradarai oleh A Saiful Anam.

Pimpinan Produksi, Miftahul Umam mengatakan, pilihan naskah kali ini tidak lepas dari ceritanya yang menarik untuk divisualisasikan ke dalam pertunjukan panggung teater. Terlebih naskah yang diketik pada tahun 1980 ini memiliki gagasan dan isu sosial yang relevan dengan keadaan sekarang juga masih sangat jarang dipentaskan oleh pelaku teater di Kudus.

Secara garis besar, naskah ini menceritakan tentang eksekusi mati yang akan dijalankan pada Bandot, sosok tokoh utama. Hukuman tesebut didapatkan akibat sikap dan perbuatannya. Namun anehnya menjelang eksekusi mati Bandot tidak gentar dan tidak takut sedikitpun, ia malah tertidur dengan pulas.

Lebih anehnya lagi setelah dieksekusi puluhan kali ternyata jantung Bandot masih berdetak, Bandot belum mati. Si Tua dan Gembrot sebagai sipir penjara dibuat kebingungan, juga tokoh-tokoh lain yang hadir seperti dokter, seseorang, dan kawan-kawan ikut merasakan kebingungan yang semakin mengacaukan suasana.

Besar harapan pementasan kali ini mampu menambah khasanah pelaku seni teater di Kudus, Magelang, dan sekitarnya. Tak hanya masyarakat yang sudah lama menggeluti teater, namun juga bagi umum, mahasiswa, dan pelajar yang memiliki antusiasme tersendiri untuk mengembangkan potensi di bidang seni khususnya teater.

Editor : Akrom Hazami

Teater Ganesha Kudus Pentaskan 3 Naskah

Salah satu adegan di pentas tiga naskah yang digelar di aula SMA N 2 Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu adegan di pentas tiga naskah yang digelar di aula SMA N 2 Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Teater Ganesha, SMA 2 Kudus, mementaskan tiga naskah secara maraton di aula SMA 2 Kudus, 15 Desember-17 Desember 2016. Yakni naskah Timun Mas karya Lare Angon,  naskah Orang Kasar karya Anton Chekov, dan Mega Mega karya Arifin C Noer.

Sesuai jadwalnya, Timun Mas dipentaskan pada 15 Desember 2016. Di tanggal itu, naskah Orang Kasar juga dipentaskan. Naskah Timun Mas kembali dipentaskan Jumat 16 Desember 2016, dan Sabtu 17 Desember naskah Mega Mega.

Pimpinan produksi pementasan, Ainuna Fauzia mengatakan, pementasan kali ini merupakan pentas produksi ke 43.  Usia teater Ganesha sudah memasuki usia ke 25 tahun. Rata-rata, tiap tahun, kelompok teater itu mementaskan naskah selama dua kali.

Untuk persiapan pentas, kata dia hanya membutuhkan sekitar dua pekan saja. Hal itu disebabkan, para aktor sebelumnya pernah menentaskan naskah tersebut, sehingga sudah menguasai sedikit banyak tata pementasan. “Seperti saat pentas di Djarum saat festival Teater, kami juga mementaskan naskah ini. Jadi tidak butuh waktu lama guna melaksanakan pementasan ini,” ujarnya .

Dijelaskan, pementasan yang dilakukan dihadiri tidak hanya dari kalangan siswa. Tapi juga dihadiri oleh kalangan umum, dan pencinta seni lainnya.

Editor : Akrom Hazami

Teater NSA Kudus, Potret Seniman Muda Hebat yang Taat Alam

Anggota Teater NSA menunjukkan adegan saat pentas, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

Anggota Teater NSA menunjukkan adegan saat pentas, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Siswa SMP N 3 Satu Atap Gebog Kudus mempunyai kelompok seni teater. Teaternya dinamai Negeri Satu Atap (NSA). Sampai saat ini, Teater NSA sudah mementaskan empat karya.

Sugiarto, pelatih teater NSA mengatakan, kelompok teaternya baru berusia sekitar dua tahun. Meski tergolong baru, namun mereka sudah mementaskan naskah. “Jadi setahun bisa berproses selama dua kali pentas. Dan anak-anak juga puas dengan hal tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, meski aktif berproses, tapi dia sadar jika faktor alam juga menjadi penunjang. Lokasi sekolah berada di dataran tinggi di Desa Rahtawu, Gebog. Potensi alamlah yang banyak digunakan untuk melatih kemampuan siswa dalam berteater.

Potensi alam yang dimaksud, seperti pembuatan properti pentas dan juga latihan. Jika mengandalkan semuanya dari sekolah atau membeli, maka untuk sekali pentas membutuhkan biaya sampai Rp 5 – 6 juta. “Kami paling butuh sekitar Rp 1,5 juta saja. Selebihnya dari siswa yang tergabung dalam teater dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar,” ungkapnya.

Teater NSA sejauh ini juga banyak menorehkan prestasi. Prestasi paling anyar adalah pemenang lomba teater dalam Festival Teater Pelajar (FTP) 2016, beberapa waktu lalu. Teater NSA berhasil menjadi pemenang dalam perlombaan. Tak tanggung-tanggung, mereka memborong tujuh kategori perlombaan dari delapan yang ada.

Antara lain adalah kategori Teater Terbaik, Teater Favorit, Sutradara, Aktor Utama, Aktris Utama, Aktris Pembantu, dan Penata Artistik. “Kami pentas Malin Kundang, namun kami kemas agak berbeda dengan sedikit humor. Jika terlalu monoton malah bisa membuat penonton lesu,” ungkapnya.

Dia menjelaskan kalau dengan berteater, para siswa lebih percaya diri. Tak hanya itu, peserta juga lebih mengenal potensi dirinya dan juga mengembangkannya.

Wahyuningtyas, Aktris Terbaik FTP 2016 mengatakan, ketertarikan teater sebenarnya sudah muncul sejak lama.  Bahkan sejak kelas VII, dia juga sudah aktif dalam dunia teater . “Kami semangat menunjukkan, meski kami di daerah pinggiran, namun kami yakin akan dapat membuktikan. Dan memang sudah terbukti kami menang,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Ikut Ekstrakurikuler Teater, Dua Siswa SMK Duta Karya Tunjukkan Prestasi

Siswa SMK Duta Karya menunjukkan adegan teater yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

Siswa SMK Duta Karya menunjukkan adegan teater yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Dwi Aji Leksono, siswa kelas XII SMK Duta Karya Kudus mengaku ikut berteater karena motivasi dari temannya yang sudah lulus. Akhirnya dia mengikuti jejaknya dengan mengikuti ekstra teater di SMK itu.

“Di sini namanya Teater Apotek. Saya dulunya pemalu, bahkan ngomong saja tidak berani. Dan setelah mengikuti teater mampu lebih pede dan mampu mengolah kata,” ungkapnya.

Menurutnya, dia tidak menyesal ikut bergabung dalam teater. Bahkan dia senang karena mendapatkan pengalaman yang tidak didapatkan dalam pendidikan formal.

Pengalaman serupa juga ditujukan oleh Arjuna Akniyanto Wibowo. Siswa yang masih duduk kelas X itu juga mengaku lebih lantang saat bicara setelah ikut teater. Dia juga pandai mengolah rasa setelah aktif dalam teater. Dia memilih berkegiatan di ekstra teater lantaran diajak kakak kelasnya.

Waka Kurikulum ‎SMK Duta Karya, Supriyanto, mengatakan, dengan teater maka siswa akan memiliki karakter. Sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam dunia nyata di dalam masyarakat. Sebab tanpa dilatih, maka akan susah dalam berinteraksi.

“Jadi ini akan sangat membantu dalam perkembangan siswa. Untuk itulah dibutuhkan ektra semacam ini supaya siswa lebih matang,” ujarnya

Ekstrakurikuler Teater Apotek adalah kepanjangan dari Apresiasi Soesastra Teater Kudus. Mereka mampu mengaplikasikannya dengan cerdas di akademiknya. Kurang lebih ada 40 piala telah mereka raih.

Puluhan piala ditaruh di almari piala, baik tingkat lokal, tingkat regional, dan tingkat nasional. Baik di dunia kesenian, penulisan, ataupun sub-disiplin ilmunya.

‎Pembina Teater Apotek, Muchammad Zaini, mengatakan pihanya sudah ketiga kali ini menjuarai Festival Teater Djarum (FTP). Sejak 2009, 2010, dan 2016 ini. Di samping itu, ‎dua kali juara nasional berturut-turut dalam festival teater yang digelar persatuan guru di UPGRIS di Kota Semarang, pada periode 2014 dan 2016.

“Bahkan kami sempat mendapatkan tawaran untuk pentas di Brunei Darussalam dulu. Namun karena alasan finansial, maka kami tidak bisa terbang kesana,” ungkapnya

Selain itu, bebebepa kali tawaran tampil juga sudah sering diterima. seperti tawaran pentas di Bali dan Bandung, tapi waktu itu kendalanya karena waktunya mepet dengan ujian nasional, kami juga tak bisa hadir.

Editor : Akrom Hazami

Teater Gembleng Mental Pelajar

Suasana Teater Pelajar Djarum. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono).

Suasana Teater Pelajar Djarum. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono).

 

KUDUS – Teater tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Kudus yang digelar Djarum Foundation dalam rangka bakti budaya di sekolah masing-masing pada 2 hingga 10 November 2015 bertujuan untuk mendidik siswa supaya bisa mempunyai karakter yang baik.

Dalam jumpa persnya pada Minggu (22/11/2015) bertempat di GOR Djarum Kaliputu, Kecamatan Kota, salah satu dari team Djarum Foundation Adi Pardianto mengatakan, bila setiap daerah mengadakan teater di sekolahan atau lomba teater semacam ini, maka pihaknya meyakini bahwa mental seluruh anak didik bisa mempunyai mental baik.

“Selain mental baik, kegiatan siswa juga bisa terwadahi sehingga ke depannya mereka bisa menunjukan jiwa kreatif, serta berbudaya,” katanya.

Kepala Bidang Pemuda dari Disdikpora Kudus Didik Hartoko mengatakan, mental memang kunci utama, setelah mental tangguh lantaran terbangun dari teater, maka nantinya akan bisa bermuara pada akademiknya.

Pihaknya sangat berantusias, bahkan mendukung penuh kegiatan tersebut.

“Selain itu, kami juga mewajibkan setiap sekolah bisa mengadakan kegiatan ekskul. Di mana kegiatan ekskul tersebut bisa mewadahi kreativitas anak serta bisa membimbing moral anak,” ujarnya.

Kegiatan yang diikuti oleh sebanyak 5 SMP dan 23 SMA ini hanya menyisakan 10 finalis saja yang nantinya akan bertanding pada Minggu (22/11/2015) ini. Yakni untuk SMP antara lain, SMP 3 Satu Atap Gebog, SMP 1 Mejobo
dan MTs NU Nahdlotul Athfal. Sedangkan untuk SMA ada 7 finalis. Di antaranya ialah SMA N 1 Bae, SMA N 1 Mejobo, SMA N 1 Kudus, SMA N 2 Kudus, SMK Duta Karya, SMK NU Miftahul Falah Dawe, dan MA NU Ibtidaul Falah Dawe.

Dalam penilain lomba teater nantinya akan dipilih tetaer terbaik, sutradara terbaik, pemeran utama
terbaik, pemeran pembantu terbaik dan artistik terbaik.

Oey Riwayat Slamet selaku koordinator Teater Djarum mengatakan, dahulunya memang pihaknya hanya memilih juara teater terbaik dan aktor terbaik. Namun untuk tahun ini pihaknya memilih juara secara lengkap dan mendalam.

“Untuk tahun ini memang kami memilih juara yang lebih berfariatif lagi. Supaya para sutradara, aktor dan lainnya bisa bersemangat,” paparnya.

Dewan Juri Putu Fajar Arcana mengungkapkan, kegiatan lomba teater ini tidak serta merta utnuk mencari calon bintang. Namun. Hal yang paling inti ialah bagaimana bisa membuat teater ini menjadi pendidikan bagi pelajar. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Teater Jadi Solusi Pendidikan Karakter di Sekolah

Para anggota teater Apotek menggelar pentas di depan para penonton. (MuriaNewsCom/HANA RATRI)

Para anggota teater Apotek menggelar pentas di depan para penonton. (MuriaNewsCom/HANA RATRI)

KUDUS – Muhammad Zaini, guru SMK Duta Karya Kudus menyatakan, penerapan teater dalam lingkungan sekolah merupakan media yang tepat. Terlebih saat ini di wilayah Kabupaten Kudus, ekstrakurikuler teater mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari sekitar 30 kelompok teater, kini berkembang kurang lebih sekitar 48 kelompok. Lanjutkan membaca

Malam Ini, Teater Garuda dan Sanggar Seni Saka Pentaskan Opera Kolosal

Para pemain Teater Garuda Kudus dan Sanggar Seni Saka Yogyakarta melakukan gladi bersih. Mereka akan mementaskan opera kolosal di gedung JHK Jalan Agil Kusumadya, Kudus, Senin (1/6), pukul 19.00. (MURIANEWS)

KUDUS – Pagelaran opera kolosal, kolaborasi antara Teater Garuda Kudus dan Sanggar Seni Saka Yogyakarta, akan digelar di gedung JHK Jalan Agil Kusumadya, Kudus, Senin (1/6), pukul 19.00.

Lanjutkan membaca