Gudang Oven Tapioka di Sidomukti Pati Terbakar, Kerugian Capai Ratusan Juta

Polisi mengecek kondisi gudang oven tepung tapioka di Sidomukti, Margoyoso pascakebakaran. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah gudang oven tepung tapioka milik Sudadi (40), warga Desa Sidomukti RT 5 RW 2, Kecamatan Margoyoso mengalami kebakaran, Selasa (19/12/2017).

Sunar, salah satu saksi mengatakan, kebakaran terjadi berawal dari kepulan asap dan api yang muncul dari gudang oven milik Sudadi.

Tak lama setelah kepulan asap muncul, api berkobar semakin besar dan membakar tepung tapioka. Sunar lantas meminta bantuan pekerja dan warga sekitar untuk memadamkan api.

Empat unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api. Sekitar 45 menit setelah petugas menyemprotkan air, api berhasil dipadamkan.

“Kerugian material yang diderita pemilik gudang diperkirakan mencapai Rp 100 juta. Sebab, selain gudang oven yang terbakar, dua ton tepung tapioka juga ikut terbakar,” kata Kapolsek Margoyoso AKP Amlis Chaniago.

Belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran gudang oven tersebut. Namun, polisi menduga kebakaran terjadi saat suhu ruang oven tepung tapioka terlalu tinggi.

Editor: Supriyadi

Tepung Tapioka Produksi Ngemplak Pati Diminati Perusahaan Belanda

Manajer Pengembangan Fair Trade Original Martin Boon (kanan) saat mengunjungi UD Surya Abadi di Ngemplak Kidul yang memproduksi tapioka. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tepung tapioka produksi Ngemplak, Margoyoso, Pati ternyata diminati perusahaan Belanda Fair Trade Original Group.

Manajer Pengembangan Fair Trade Original Martin Boon saat mengunjungi UD Surya Abadi di Ngemplak Kidul mengatakan, tepung tapioka di Pati masih alami dan belum dimodifikasi. Hal itu yang membuat Martin tertarik untuk mengambil tepung di sana.

“Tapiokanya masih original tanpa obat dan belum dimodifikasi, sehingga cocok dibuat kerupuk. Setelah saya cek, produknya sudah sesuai dengan standar internasional,” ujar Martin, Selasa (21/11/2017).

Baca: Hebat, Jagung Krispi dan Kripik Bonggol Pisang Buatan Warga Pati Tarik Perhatian Ani Yudhoyono

Rencananya, Martin akan mengambil tepung tapioka dari Pati untuk bahan baku kerupuk. Selanjutnya, kerupuk yang diproduksi di Indonesia akan dijual di Belanda.

Customer Service Paguyuban Pengolah Singkong Pati Mashuri Cahyadi yang mendampingi kunjungan Martin mengatakan, kerja sama dengan perusahaan asing membuktikan bila tapioka dari Ngemplak Kidul memenuhi standar internasional.

Sebab, selama ini masih ada pihak yang enggan mengambil tepung dari Pati dengan alasan kurang memenuhi standar. “Perusahaan Belanda saja beli di sini. Padahal dia pakai sertifikat internasional standar Eropa,” kata Mashuri.

Karena itu, minat perusahaan Belanda terhadap tapioka Pati diakui membawa angin segar bagi keberlangsungan pelaku UMKM tapioka di Ngemplak Kidul. Dia berharap, kerja sama tersebut menegaskan bahwa tapioka lokal sudah memenuhi standar yang diperlukan perusahaan.

Editor: Supriyadi

Pati Bakal Punya 3 Oven Tapioka Berkapasitas 30 Ton Sehari

Seorang pekerja tengah mengeringkan tepung tapioka basah di tempat penjemuran secara manual di Desa Ngemplak, Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati akan memiliki tiga oven berteknologi mutakhir yang digunakan untuk mengeringkan tapioka. Masing-masing oven yang mengusung compressed natural gas (CNG) tersebut memiliki kapasitas hingga 30 ton tapioka kering.

Penggiling tapioka asal Ngemplak, Margoyoso, Khoirul Umam mengatakan, sudah ada tiga investor yang menyatakan kesediannya membangun oven tapioka. Dua orang dari Jawa Timur, satu orang dari Jakarta.

“Sudah ada tiga investor yang menyatakan ketertarikan dan akan menginvestasikan oven pengering di Pati. Rencana ini tentu kita sambut dengan baik, karena nantinya membuat produksi tapioka menjadi stabil dan tidak mengenal cuaca,” ujar Umam, Senin (21/8/2017).

Dia yang sudah berkomunikasi dengan investor menegaskan, mesin pengering yang akan dibangun di Pati mengusung teknologi terbaru dan ramah lingkungan. Dengan demikian, keberadaan oven tapioka di Ngemplak selain akan membantu petani dan penggiling untuk terus berproduksi, juga tidak mengganggu lingkungan.

Hal yang sama disampaikan Cahyadi. Penggiling ketela di kawasan Ngemplak ini menuturkan, keberadaan oven membuat ketersediaan tapioka bagi industri terjamin.

“Keberadaan oven memang penting. Ada jaminan stok tapioka bagi perusahaan dan industri. Petani dan penggiling juga akan hidup, karena masih bisa beroperasi meski musim penghujan,” kata Cahyadi.

Selama ini, industri kecil dan menengah (IKM) tapioka di Pati mendapatkan pasokan ketela dari wilayah Karesidenan Pati, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Dengan tiga oven yang masing-masing berkapasitas 30 ton kering setiap hari, produksi tapioka di Pati bisa mencapai 90 ton per hari secara stabil.

Jika sudah berjalan, roda perekonomian petani dan penggiling ketela di Pati akan berjalan dengan baik tanpa terkendala cuaca. Terlebih, siklus tanam ketela bisa nyambung sehingga tapioka lokal bisa terus berproduksi tanpa mengandalkan impor.

Editor: Supriyadi