Pas Lewat Ada Tanggul Jebol di Demak, Ganjar Langsung Turun Mobil Sambil ‘Nyeker’

MuriaNewsCom, Demak – Calon gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, sedianya Kamis (22/2/2018) pagi ini meninjau banjir di Desa Sayung,Kecamatan Sayung, Demak. Namun ketika menuju lokasi ia tiba-tiba berhenti dan turun dari mobil karena melihat air meluap menggenani Jalan Onggorawe, Sayung, Demak.

Dengan bertelanjang kaki (nyeker), Ganjar menuju kerumunan warga yang sedang menangani tanggul bedah itu. Posisi sungai ternyata lebih tinggi dari jalan sehingga ketika air meluap langsung menggenangi jalan yang menjadi akses utama dari Demak menuju Mranggen itu.

Perangkat Desa Tambakroto, Ahmad Jumali mengatakan banjir tersebut terjadi setiap tahun saat musim hujan. Sebabnya, di tengah jembatan ada tiang penyangga yang berukuran cukup besar.

“Adanya tiang tersebut menghambat aliran air dan juga sampah yang berasal dari daerah atas,” terangnya, Kamis (22/2/2018) pagi.

Sampah tersebut aneka macam, namun yang paling parah adalah buangan batang pisang serta kayu-kayu.  Jumali mengungkapkan banjir mulai pukul 02.00 WIB dan mencapai puncaknya sekitar pukul 06.00 WIB.

“Air bisa sampai selutut orang dewasa. Apalagi kalau daerah Ungaran hujan deras, lima sampai enam jam kemudian di sini pasti langsung banjir. Tidak hanya menganggu jalan yang memisahkan Desa Pilangsari dan Tambakroto ini, tapi juga sampai ke pemukiman warga,” jelasnya.

Perangkat Desa Pilangsari dan Tambakroto, lanjutnya, sudah mengusulkan ke Pemkab Demak untuk merenovasi jembatan tersebut. Tapi hingga saat ini belum ada respon. “Saat banjir warga bersama BPBD, TNI, dan polisi pasti kerja bakti menyingkirkan sampah agar air lancar,” papar Jumali.

Sementara Ganjar yang melihat warga kesusahan menyingkirkan sampah, langsung menelepon Bupati Demak, Natsir. Dia meminta agar Dinas Pekerjaan Umum Demak mengirimkan alat berat untuk mengangkut sampah.

“Saya juga menghubungi BPBD Demak dan BPBD Provinsi untuk menyumbang tanggul darurat, nanti biar karung diisi pasir atau padas. Selain itu juga logistik jika ada yang mengungsi harus disiapkan. Warga tadi sudah siap gotong royong,” ucapnya.

Setelahnya, Ganjar mengunjungi siswa kelas VI SD Sayung 1 yang selama dua pekan belajar di Balai Desa Sayung karena banjir. Dia mengajak para siswa menyanyi macapat.

Sebelumnya Ganjar menginap rumah warga di Desa Waru Kecamatan Mranggen. Hari ini ia masih berkeliling seharian di Demak dan mengunjungi beberapa lokasi.

Editor : Ali Muntoha

Tanggul Sungai Klampisan Jebol, Puluhan Rumah di Desa Nampu Grobogan Terendam

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir menerjang wilayah Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kamis (15/2/2018). Banjir yang datang mulai pukul 17.00 WIB itu disebabkan meluapnya akibat tanggul sungai Klampisan jebol.

Akibat jebolnya tanggul, air sungai meluap ke persawahan. Guyuran hujan makin menambah volume air yang meluap hingga akhirnya menjangkau ke perkampungan warga.

Musibah banjir menerjang wilayah Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung akibat tanggul jebol, Kamis (15/2/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Wilayah yang terdampak banjir bandang berada di Dusun Ploso. Dari pendataan yang dilakukan, ada sekitar 30 rumah yang kemasukkan air.

“Rumah yang kemasukan air ada di dua RT. Ketinggian air berkisar 10-40 cm,” jelas Camat Karangrayung Hardimin, petang tadi.

Ia menyatakan, beberapa waktu lalu, sempat terjadi banjir di lokasi yang sama. Penyebabnya juga tanggul jebol di sungai Klampisan.

“Tanggul yang jebol sama dengan penyebab banjir beberapa minggu lalu. Untuk sementara masih dilakukan pendataan dan informasi terkini, air sudah mulai surut,” katanya.

Editor : Supriyadi

Tinggal 1,5 Meter, Tanggul Sungai Wulan di Medini Kudus Terancam Jebol

MuriaNewsCom, Kudus – Tergerus aliran air, tanggul Sungai Wulan di Desa Medini, Kecamatan Undaan kini hanya menyisakan luas 1,5 meter. Jika tak segera ditangani, bisa saja bangunan tersebut jebol.

Camat Undaan Rinardi Budiyanto mengatakan, kondisi tanggul sungai tersebut memang sudah sangat kritis. Lantaran gerusan air yang begitu deras. Sebelumnya, tanggul tersebut sudah menampakan tanda-tanda kerapuhan.

“Tanggul yang kritis memiliki panjang 100 meter, dari total panjang tanggul yang mencapai 200 meter dari gang 14 hingga 17. Bagian yang kritis kini tinggal menyisakan luas sekitar 1,5 meter dari mulanya 4 meter,” kata Rinardi.

Namun demikian, pihaknya tak lantas bisa mengambil tindakan. Hal itu karena kewenangan perbaikan tanggul berada di tangan BBWS Pemali Juwana. Menurut Rinardi, sudah ada petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai yang turun ke lokasi tanggul kritis di Desa Medini.

Ia menuntut, perbaikan segera dilakukan mengingat musim hujan tengah mencapai puncaknya. Pihak Desa Medini mengaku telah mengirimkan surat terkait hal tersebut kepada BBWS Pemali Juwana jauh jauh hari.

“Pengalaman di tahun 2002 dan 2007 silam tanggul pernah jebol. Kini tanggul tengah dalam kondisi kritis, hal itu tentu mengancam ribuan warga Medini. Maka dari itu harus segera ditangani.” tegasnya.

Editor: Supriyadi

Hujan Lebat Jebolkan Tanggul Sungai Piji, Kudus Terendam Banjir

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan lebat di Kota Kretek mengakibatkan sejumlah wilayah terendam air, Senin (5/2/2018) sore. Menurut data sementara BPBD Kudus, ada beberapa wilayah yang terimbas.

“Banjir melanda sejumlah titik seperti Pladen, Ngembalrejo dan Perum Barisan di Kudus. Ketinggian bervariasi antara 10 centimeter hingga 75 centimeter,” kata Bergas C Penanggungan, Kepala BPBD Kudus.

Selain itu, ia membenarkan adanya informasi terkait jebolnya tanggul di Sungai Piji, Hadiwarno, Kecamatan Mejobo.  Ia mengatakan saat ini sedang turun ke lapangan guna menentukan langkah selanjutnya.

Ia mengatakan, jebolan tanggul sepanjang 10 meter dan ketebalan sekitar dua meter. Dirinya memperkirakan jebolnya tanggul karena kondisinya yang telah retak-retak.

“Itu (tanggul) memang mulai retak-retak, sedangkan volume airnya meningkat. Kami saat ini belum bisa mengonfirmasi terkait warga yang terimbas dengan jebolnya tanggul tersebut,” tuturnya.

Bergas menuturkan, aliran sungai tersebut berasal dari pegunungan Muria. Dengan intensitas hujan yang turun sekitar 300 milimeter.

Editor Supriyadi

Waduh, Tanggul Sungai SWD II di dekat Bendung Bumpis Jepara Longsor

MuriaNewsCom, Jepara – ‎Tanggul Sungai Serang Welahan Drainage (SWD) II yang ada di dekat bendungan Bumpis, Desa Gerdu, Pecangaan longsor.  Untuk sementara, pemerintah desa setempat memasang tanggul darurat.

Adapun kondisi longsoran, memiliki panjang hingga empat meter dengan kedalaman sekitar setengah meter. Akibatnya, banyak warga yang memiliki sawah di sekitar longsoran ketar ketir saat hujan lebat tiba.

“Tanggul longsor sudah terjadi sejak November lalu. Namun belum mendapatkan perbaikan serius,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara, Pujo Prasetyo Rabu (10/1/2018).

Agar langkah penanganan berlangsung cepat, ia menyarankan pemdes untuk melakukan pengajuan proposal kepada instansi terkait, yakni BBWS. Hal itu mengingat kondisi debit air di SWD II deras terutama saat musim penghujan seperti ini.

Ia menyebut, yang dibutuhkan untuk perbaikan sementara adalah karung plastik. Selain itu, untuk memperbaikinya, diperlukan alat berat.

“Jika tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan tanggul ambrol dan air dari sungai tersebut tumpah ke area persawahan warga. Selain itu kandang ternak milik warga juga terancam,” tuturnya.

Editor: Supriyadi

10 Desa di Dua Kecamatan di Pati Terendam Banjir

MuriaNewsCom, Pati – Bencana banjir kembali menerjang Kabupaten Pati. Setidaknya ada 10 desa di dua kecamatan yang terendam banjir dan melumpuhkan aktivitas warga lantaran ketinggian air mencapai 30 hingga 60 sentimeter.

Berdasarkan data, dua kecamatan yang terendam banjir tersebut adalah Kecamatan Jaken dan Kecamatan Jakenan. Hanya banjir paling parah terdapat di Desa Trikoyo dan Mojoluhar, Kecamatan Jaken. Di dua desa tersebut, ketinggian air mencapai selutut orang dewasa.

Selain itu, di Desa Arumanis, Mantingan, Sumberagung, Sumberejo, Lundo, Tegalarum, Kebonturi, dan Sumberan ketinggian air masih berkisar 30 – 50 sentimeter.

Kapolsek Jaken AKP Heri Teguh Rusianto menjelaskan, terjadinya bencana alam banjir tersebut disebabkan karena adanya hujan lebat yang terjadi mulai siang sampai petang, pada hari Jumat kemarin.

”Sehingga air mulai menggenangi wilayah Jaken pada malam hari hingga Sabtu dini hari,” kata Heri dilansir dari detik.com, Sabtu (6/1/18).

Meski begitu, aa memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Hanya saja kerugian materi terbilang cukup banyak. Area persawahan di kawasan tersebut direndam banjir.

Sejumlah relawan menyiapkan perahu karet untuk melakukan aktivitas di tengah kepungan banjir. (Facebook)

Rumah warga yang terbuat dari gebyok/papan kayu, ada yang hanyut. Barang-barang milik warga juga ada yang rusak dan sampai saat ini masih didata.

Sementara itu, di Kecamatan Jakenan, Kapolsek Jakenan AKP Suyatno menambahkan banjir mulai menerjang sekitar pukul 22.00 WIB malam hingga Sabtu (6/1/18) dini hari. Ketinggian air rata-rata 10 sampai 40 sentimeter.

”Di Jakenan terdapat tiga titik tersebut yang terendam banjir,” tegasnya.

Tiga titik tersebut yakni, Jembatan Glonggong sampai pertigaan Glonggong sepanjang 200 meter, dengan ketinggian air kurang lebih 10-40 sentimeter. Pertigaan Glonggong sampai Gereja Glonggong sepanjang 100 meter, dengan ketinggian air kurang lebih 15 sentimeter.

”Yang terakhir di jalan Jakenan-Winong turut Dukuh Bangklean Desa Tambahmulyo juga tergenang,” ujar Suyatno.

Ia memperkirakan, kejadian tersebut akibat luapan sungai Desa Glonggong karena hujan deras yang mengguyur cukup lama. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

“Banjir di daerah tersebut sering terjadi dikarenakan meluapnya air dari sungai. Sungai yang bersebelahan dengan jalan raya Jakenan-Winong ketika meluap langsung memenuhi jalan. Hal itu juga diakibatkan sungai tidak mampu menampung debit air kiriman dari Kecamatan Pucakwangi maupun Kecamatan Winong,” paparnya.

Saat ini, para relawan dari BPBD, kepolisian, dan TNI masih melakukan evakuasi warga di lokasi banjir tersebut. Hingga Sabtu (6/1/2018) siang, para relawan masih bersiaga di sekitar lokasi banjir.

Editor: Supriyadi

Dampak Banjir Grobogan, 5 Ribu Rumah Warga Terendam

Sejumlah warga menerjang banjir untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banjir yang melanda sebagian wilayah Grobogan sejak Kamis kemarin ternyata cukup parah kondisinya. Berdasarkan data yang sudah direkap BPBD Grobogan, bencana banjir sudah menjangkau 5.840 rumah penduduk.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono mengungkapkan, dari hasil pendataan terakhir, banjir melanda 27 desa di 7 kecamatan. Jumlah tersebut kemungkinan masih bisa bertambah karena masih ada beberapa desa yang baru saja terkena dampak banjir.

“Pendataan sampai pagi ini ada 5.840 rumah warga yang kena dampak banjir sejak Kamis kemarin. Sebagian besar sudah mulai surut airnya,” kata Agus, Jumat (29/12/2017).

Wilayah yang terkena banjir ada di Kecamatan Karangrayung. Masing-masing, di Desa Mojoagung yang menyebabkan 1.471 rumah terendam air. Kemudian, Desa Sumberejosari (806 rumah), Termas (75), Rawoh (50), Mangin (45) dan Pangkalan (181).

Banjir juga melanda dua desa di Kecamatan Penawangan. Yakni, Desa Tunggu dan Guyangan yang menyebabkan 130 rumah kebanjiran. Di Desa Katong, Kecamatan Toroh ada 30 rumah yang terkena dampak banjir.

Seorang lansia dievakuasi karena air semakin tinggi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Selanjutnya, ada dua desa di Kecamatan Tegowanu. Yakni, Desa Kejawan (50) dan Gebangan (10).Di Kecamatan Gubug, ada sembilan desa yang kena musibah banjir. Masing-masing, Desa Saban (50), Rowosari (500), Jeketro (165), Mlilir (75), Ginggangtani (285), Kunjeng (23), Kemiri (170), Gubug (283), dan Kuwaron (573).

Kemudian, bencana banjir juga menimpa wilayah Kecamatan Purwodadi. Yakni, di Desa Candisari, Cingkrong dan kawasan Sambak yang menyebabkan 330 rumah kemasukan air.

Bencana banjir yang baru datang melanda lima desa di Kecamatan Godong. Yakni, Desa Tinanding (19), Tungu (5), Karanggeneng (49), Sumurgede (15), dan Werdoyo (450).

“Ketinggian air yang masuk rumah berkisar 20 cm hingga 1 meter. Selain tanggung jebol di beberapa titik, banjir juga disebabkan luapan air sungai karena tidak mampu menampung kapasitas air,” jelas Agus.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya sudah mengerahkan tim SAR untuk bersiaga di lokasi banjir. Kemudian, pengiriman logistik makanan juga sudah dikirimkan ke lokasi banjir sejak kemarin. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan tanggul jebol penyebab banjir.

Editor: Supriyadi

Puluhan Rumah di Perumahan RSS Purwodadi Grobogan Terendam Banjir

Banjir melanda komplek Perumahan RSS Purwodadi yang mengakibatkan puluhan rumah kemasukan air, Kamis (28/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganJumlah kecamatan yang wilayahnya terkena bencana banjir bertambah lagi. Terbaru, banjir melanda wilayah Kecamatan Purwodadi.

Salah satu titik banjir ada di sekitar komplek Perumahan RSS Sambak Indah Purwodadi. Banjir di perumahan ini sudah menggenangi puluhan rumah yang ada dilokasi tersebut.

Datangnya banjir menjelang Dhuhur ini tak ayal bikin kaget warga setempat. Soalnya, pada pagi hari, hanya selokan di timur perumahan yang terlihat penuh air.

Sejumlah warga, terpaksa harus memutar masuk ke lokasi perumahan lewat pintu utara di seberang Mapolres Grobogan. Mereka tidak berani memaksakan lewat karena air dijalan perumahan sudah setinggi lutut.

“Lho, kapan datangnya air ini. Tadi pagi jalan perumahan masih kering,” cetus Siswati, warga setempat yang baru pulang dari tempat kerjanya, Kamis (28/12/2017).

Selepas Dhuhur, ketinggian air terus bertambah. Luapan air juga terlihat hampir menyentuh lantai didepan masjid yang ada di perumahan.

“Saya amati dari tadi, ketinggian airnya bertambah. Mudah-mudahan segera surut dan tidak turun hujan,” kata Latif, warga perumahan yang sedang mengepel lantai masjid.

Selain di perumahan RSS, banjir juga terjadi di Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi. Dilaporkan, ada beberapa rumah yang mulai kemasukan air setinggi 20 centimeter.

Luapan air yang berasal dari sungai Serang juga menggenangi ruas jalan Candisari-Pengkol. Akibatnya, kendaraan dari kedua arah harus berjalan pelan saat melintasi ruas jalan yang tergenang air.

Editor: Supriyadi

5 Kecamatan di Grobogan Terendam Banjir

Sejumlah rumah di Grobogan terendam banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir di Grobogan ternyata tidak hanya melanda wilayah Kecamatan Karangrayung saja. Berdasarkan laporan yang masuk ke BPBD Grobogan, ada 4 Kecamatan lainnya yang wilayahnya terkena bencana banjir. Yakni, Kecamatan Godong, Gubug, Penawangan, Tegowanu, dan Toroh.

”Jadi totalnya ada 5 kecamatan yang wilayahnya terkena banjir hari ini,” kata Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Grobogan Budi Prihantoro, Kamis (28/12/2017).

Banjir paling parah ada di Kecamatan Karangrayung karena melanda beberapa desa. Yakni, Desa Mojoagung, Pangkalan, Rawoh, Putatnganten. Di wilayah Kecamatan Karangrayung ada ratusan rumah penduduk di tujuh dusun yang kemasukan air hingga 50 centimeter.

”Jumlah rumah yang terendam ada ratusan. Tetapi angka pastinya belum bisa kita sampaikan karena masih dilakukan pendataan lapangan. Banjir disini disebabkan tanggul jebol di Dusun Krasak, Desa Mojoagung,” jelasnya.

Untuk banjir di Kecamatan Toroh lokasinya ada di Desa Katong. Dari hasil pengecekan lapangan, sudah ada 80 rumah warga yang kemasukan air akibat meluapnya sungai Serang.

Banjir juga terjadi di Desa Tunggu dan Karangwader di Kecamatan Penawangan akibat ada ruas tanggul jebol sungai Tracak. Jumlah rumah yang sudah terdampak ada 130 KK.

Selanjutnya, banjir juga melanda Desa Mlilir dan Jeketro di Kecamatan Gubug akbat luapan sungai Tuntang. Laporan terkini, air yang sebelumnya hanya menggenangi sawah, suadh mulai masuk rumah penduduk dengan ketinggian hingga 50 centimeter.

Untuk Kecamatan Tegowanu, ada dua desa yang terkena banjir. Yakni, Desa Kejawan dan Desa Tajemsari yang sudah mulai masuk rumah penduduk.

”Desa-desa disekitar lokasi banjir saat ini sudah siaga menerima kiriman air dari atas. Seperti di Desa Kemloko, Kecamatan Godong serta Desa Kramat dan Watupawon di Kecamatan Penawangan,” ungkap Budi.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya sudah mengerahkan tim SAR untuk bersiaga di lokasi banjir. Kemudian, pengiriman logistik makanan juga sudah dikirimkan ke lokasi banjir sejak pagi tadi. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan tanggul jebol penyebab banjir.

Editor: Supriyadi

Tanggul Jebol, Wilayah Kecamatan Karangrayung Grobogan Dikepung Banjir

Sejumlah warga terpaksa beraktivitas di tengah kepungan air. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Karangrayung, Kamis (28/12/2017). Banjir terjadi akibat ada ruas tanggul sungai Jajar yang jebol pada dinihari tadi. Titik tanggul jebol ada di Desa Mojoagung.

Akibat tanggul jebol, air sungai meluap ke perkampungan. Selain areal sawah, luapan air juga masuk ke dalam rumah penduduk. Selain di Desa Mojoagung, luapan air juga mengalir ke sejumlah desa lainnya.

Banjir juga mengakibatkan tergenangnya jalan raya Karangrayung-Juwangi setinggi hampir 50 cetimeter. Akibatnya, arus kendaraan dari kedua arah tersendat. Sebagian pengendara memilih mencari jalur alternatif karena khawatir kendaraannya mogok.

Camat Karangrayung Hardimin menyatakan, banjir kali ini dinilai cukup parah karena areal yang terkena dampak cukup luas. “Banjir terjadi setelah Subuh tadi. Penyebabnya ada tanggul jebol di Desa Mojoagung. Ada beberapa desa yang terkena dampak banjir. Kita masih lakukan pendataan,” jelasnya.

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, ketinggian air di wilayah Karangrayung mulai menurun. Air mulai bergerak ke arah utara menuju wilayah Kecamatan Godong.

“Ini kita masih monitor di lokasi. Air mulai bergerak ke arah Godong. Untuk jalan raya Karangrayung-Juwangi masih terendam, terutama di depan SPBU,” katanya.

Editor: Supriyadi

Tanggul Sungai SWD Ketileng Jepara yang Jebol Segera Diperbaiki

Pekerja sedang memuat tanah kedalam karung untuk melakukan perkuatan pada tanggul yang ambrol, Kamis (21/12/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom,Jepara – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jratun Seluna akan segera memperbaiki tanggul Sungai Serang Welahan Drainage (SWD) di Desa Ketileng Singolelo, Jepara yang ambrol tempo hari. Kamis (21/12/2017) upaya perbaikan mulai dilakukan dengan menyiapkan karung-karung berisi tanah.

Kepala Desa Welahan HM Sumarno mengatakan, tanggul yang ambrol berada di perbatasan antara wilayahnya dan Desa Ketileng Singolelo.

“Tadi dari BBWS sudah datang untuk melakukan pengecekan. Rencananya, perbaikan tanggul menggunakan alat berat akan dilakukan pada hari Sabtu (23/12/2017),” ucapnya.

Untuk sekarang, lanjut Sumarno, tengah dilakukan pemberian karung-karung berisi tanah, untuk kemudian dipasang pada lokasi yang ambrol.

Menurut dia, kerusakan yang terjadi pada tanggul tersebut telah dideteksi oleh BBWS. Rencananya, pada tahun 2018 akan dilakukan perbaikan permanen pada tanggul tersebut. 

Namun karena debit air yang terlalu besar, dan kerusakan pada bangunan tanggul, sehingga ambrol. Saat ini di bagian atas tanggul hanya tersisa sedikit tanah, sekitar 40 cm yang bisa dilewati oleh petani.

“Tapi itu ya bahaya kalau dilewati oleh warga, apalagi motor. Untungnya, lokasi ini akan segera diperbaiki karena ini juga sebagai jalur yang dilewati oleh petani jika hendak tandur (menanam padi),” tambahnya. 

Diberitakan sebelumnya, tanggul tersebut ambrol dan mengancam sekitar 30 hektare sawah yang telah ditanami. Penyebabnya diduga karena bangunan pintu air tidak kuat menahan arus air yang berasal dari pertemuan Sungai Mayong Kidul, pengairan sawah dan Sungai SWD. 

Editor : Ali Muntoha

Baca  Tanggul Sungai Desa Ketileng Jepara Ambrol, Puluhan Hektare Padi Terancam Puso

Dilembur Hingga Dinihari, Tanggul Jebol di Kemloko Grobogan Akhirnya Bisa Ditutup

Warga Desa Kemloko, Kecamatan Godong saat mencoba menutup tanggul yang jebol. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses penutupan tanggul jebol di Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Grobogan, akhirnya bisa tuntas, Kamis (30/11/2017). Tanggul Sungai Jajar yang jebol sepanjang 10 meter saat ini sudah tertutup rapat seperti sebelumnya.

“Perbaikan tanggul jebol di Desa Kemloko akhirnya selesai. Sampai dinihari proses penutupannya baru rampung,” kata Kepala DPUPR Grobogan, Subiyono.

Dalam penutupan tanggul jebol ada banyak pihak yang terlibat. Selain masyarakat, dukungan juga diberikan personel TNI, Polri, DPUPR, BPBD dan instansi terkait lainnya.

“Selain itu kita juga kerahkan satu unit alat berat. Kalau tidak pakai alat berat cukup susah untuk menutup tanggul sampai rapat. Kita harapkan, sungai jajar tidak meluap lagi,” jelasnya.

Tanggul di sebelah utara Dusun Margomulyo, Desa Kemloko itu sebelumnya sudah jebol dua kali. Yakni, pada Kamis (23/11/2017) dinihari. Jebolnya tanggul menyebabkan puluhan hektare areal sawah yang ada tanaman padi berusia tiga minggu terendam.

Tanggul jebol sudah sempat ditutup secara gotong royong pada Minggu (26/11/2017). Namun, sehari kemudian, tanggul itu jebol lagi akibatnya meluapnya sungai jajar.

Camat Godong, Bambang Haryono menyatakan, dengan selesainya perbaikan tanggul membuat warga merasa tenang. Sebelumnya, warga sempat was-was karena tanaman padinya terendam air selama beberapa hari.

“Perbaikan tanggul di Desa Kemloko sudah selesai. Kita harapkan tidak ada banjir lagi,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha

Begini Langkah DPUPR Grobogan untuk Penanganan Tanggul Jebol di Desa Kemloko

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono (dua dari kanan) sedang memberikan pengarahan pada stafnya di lokasi tanggul jebol di Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Senin (27/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganKepala DPUPR Grobogan Subiyono menegaskan, penanganan tanggul jebol Sungai Jajar di Desa Kemloko, Kecamatan Godong akan segera diprioritaskan. Hal itu disampaikan Subiyono saat meninjau lokasi tanggul jebol di sebelah utara Dusun Margomulyo, Senin (27/11/2017).

”Hari Minggu kemarin, tanggul ini sudah ditangani bersama masyarakat. Namun, pada dini hari tadi tanggul kembali jebol karena meluapnya Sungai Jajar setelah hujan deras,” katanya.

Menurut Subiyono, panjang tanggul jebol mencapai 10 meter, lebar 5 meter dengan kedalaman sekitar 4 meter. Selain melibatkan berbagai instansi dan masyarakat, penanganan tanggul jebol ini juga akan didukung alat berat.

”Sore ini alat berat akan kita siapkan dilokasi. Kemungkinan, baru besok pagi mulai dilakukan penutupan tanggul. Sekarang kondisi debit air sungainya masih tinggi. Kita juga sudah koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana dalam penanganan tanggul jebol,” jelas mantan Kepala Dinas Pengairan tersebut.

Baca: Banjir Bandang di Penawangan dan Karangrayung Grobogan, Ratusan Rumah Tergenang

Disinggung penanganan tanggul Sungai Tracak yang menyebabkan banjir di Desa Tunggu, Kecamatan Penawangan, Subiyono menyatakan, sudah mulai dilakukan penanganan. Pihaknya, sudah menyiapkan ribuan karung di lokasi tersebut untuk dipakai menutup tanggul.

Sebelumnya, tanggul tersebut sudah jebol pada Kamis (23/11/2017) dinihari. Pada hari Minggu kemarin, warga melakukan gotong royong menutup tanggul dari pagi hingga sore.

Baca: Ini Biang Kerok Penyebab Banjir di Kemloko Godong Grobogan

Penutupan tanggul jebol juga didukung personil TNI, Polri, DPUPR, BPBD dan instansi terkait lainnya. Rencananya, pada pagi ini, perbaikan tanggul tersebut akan disempurnakan.

”Minggu kemarin, tanggul yang jebol kita tutup dengan 1.100 karung yang diisi tanah. Sekarang, semua karung itu sudah hilang terkena arus air. Selain itu, 60 tiang bambu untuk menahan karung juga hanyut,” cetus Kades Kemloko Suyatin.

Menurut Suyatin, jebolnya lagi tanggul tersebut menyebabkan air sungai Jajar kembali mengalir ke areal sawah dan kawasan perkampungan. Namun, hingga pagi ini belum ada laporan rumah yang kebanjiran.

”Air menggenangi sawah dan pekarangan. Tidak ada rumah yang kemasukan air,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ini Biang Kerok Penyebab Banjir di Kemloko Godong Grobogan

Ratusan warga didukung personel dari berbaga instansi saat melakukan penutupan tanggul jebol di Desa Kemloko, Minggu (26/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir kembali melanda Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Grobogan, Senin (27/11/2017). Penyebab banjir berasal dari jebolnya ruas tanggul Sungai Jajar yang ada di sebelah utara Dusun Margomulyo.

Padahal tanggul itu sehari sebelumnya baru saja diperbaiki oleh ratusan warga dibantu personel TNI, Polri, DPUPR, BPBD dan instansi terkait lainnya.

“Tadi malam (Minggu 26/11/2017), tanggul yang kemarin diperbaiki jebol lagi. Kali ini jebolnya tambah panjang hingga 10 meter,” kata Kades Kemloko Suyatin.

Sebelumnya, tanggul tersebut sudah jebol pada Kamis (23/11/2017) dinihari. Pada hari Minggu kemarin, warga melakukan gotong royong menutup tanggul dari pagi hingga sore. Rencananya, pada pagi ini, perbaikan tanggul tersebut akan disempurnakan.

“Minggu kemarin tanggul yang jebol kita tutup dengan 1.100 karung yang diisi tanah. Sekarang, semua karung itu sudah hilang terkena arus air. Selain itu, 60 tiang bambu untuk menahan karung juga hanyut,” cetus Suyatin.

Menurut Suyatin, kembali jebolnya tanggul tersebut menyebabkan air Sungai Jajar kembali mengalir ke areal sawah dan kawasan perkampungan. Namun, hingga pagi ini belum ada laporan rumah yang kebanjiran.

“Air menggenangi sawah dan pekarangan. Tidak ada rumah yang kemasukan air,” jelasnya.

Suyatin berharap agar tanggul jebol segera ditangani lagi. Pihaknya berharap dukungan alat berat untuk penutupan tanggul.

Editor : Ali Muntoha

Tanggul Jebol, 3 Desa di Kecamatan Godong Terendam Banjir Setinggi 50 Sentimeter

Seorang warga tengah mengambil pakaian yang sempat terbawa banjir, Kamis (23/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah banjir melanda wilayah Kecamatan Godong, Kamis (23/11/2017). Sedikitnya, sudah ada 3 desa yang terdampak bencana banjir sejak siang tadi. Yakni, Desa Jatilor, Kemloko, dan Werdoyo.

Banjir ini disebabkan ada tangul Sungai Jajar yang jebol. Jumlah jebolan tanggul ada beberapa titik. Dampak banjir paling banyak melanda areal persawahan. Meski demikian, sudah ada beberapa rumah penduduk yang dilaporkan kebanjiran.

Camat Godong Bambang Haryono mengungkapkan, dari pendataan yang dilakukan, sedikitnya sudah ada 10 rumah warga yang kebanjiran. Yakni, tiga rumah di Desa Werdoyo dan tujuh rumah di Desa Jatilor.

”Laporan sementara ada 10 rumah yang kebanjiran. Ketinggian air yang masuk rumah mencapai 50 sentimeter. Kalau di Desa Kemloko, dampak banjir baru menimpa 25 hektare areal sawah,” jelasnya.

Menurut Haryono, banjir datang setelah ada ruas tanggul jebol pada dinihari. Tanggul jebol ada sebelah utara Dusun Margomulyo, Desa Kemloko dengan panjang jebolan sampai 6 meter. Kemudian, masih ada sekitar lima titik tanggul jebol lagi di Desa Werdoyo.

Air merendam area persawahan di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

”Kondisi bencana sudah kita laporkan pada bupati serta dinas terkait. Informasi terbaru, mulai sore air sudah berangsur surut. Kita harapkan tidak turun hujan hari ini. Ini juga sudah kita siapkan karung untuk persiapan menutup tanggul jebol kalau kondisi air bisa surut,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono ketika dikonfirmasi menyatakan, laporan tanggul jebol sudah diterima. Petugas lapangan juga sudah mengecek kondisi tanggul jebol. Meski demikian, upaya penanganan tanggul jebol belum bisa dilakukan dengan cepat.

”Kondisi sungai masih deras airnya. Jadi belum memungkinkan untuk kita tutup tanggul yang jebol. Nanti, kalau airnya sudah berkurang langsung kita tangani,” katanya.

Editor: Supriyadi

Banjir di Desa Mayahan Grobogan Ternyata Disebabkan Tanggul Jebol

Jebolnya ruas tanggul Kali Alam di Desa Plosorejo menyebabkan banjir di Desa Mayahan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banjir yang melanda sebagian wilayah Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, sempat bikin heran warga setempat. Soalnya, sudah cukup lama tidak pernah terjadi musibah seperti itu.

”Dulu memang pernah ada banjir besar. Tapi sudah lama sekali. Kira-kira tahun 90 an,” kata Murtiyani, warga setempat.

Sejak banjir terakhir, tidak pernah ada lagi musibah serupa. Saat ada hujan lebat dalam kurun waktu lama, areal yang kebanjiran biasanya hanya sawah dan pekarangan.

”Beberapa hari sebelum banjir ini, sempat turun hujan deras sekali dan cukup lama. Tapi, tidak sampai terjadi banjir kayak ini,” cetus Siswanti, warga lainnya.

Baca: Banjir Landa Desa Mayahan Grobogan, Ratusan Rumah Warga Terendam

Dari penelusuran dilapangan, banjir tersebut ternyata berasal dari jebolnya ruas tanggul Kali Alam di Desa Plosorejo yang letaknya ada di timur Desa Mayahan. Tanggul disisi barat tersebut jebol sepanjang 8 meter dan lebar jebolannya sekitar 3,5 meter. Akibat ada tanggul jebol, sebagian air dari Kali Alam tersebut meluap ke areal persawahan dan berlanjut hingga ke perkampungan warga di Desa Mayahan.

Kepala Desa Mayahan Sairozi membenarkan jika banjir di desanya disebabkan adanya ruas tanggul jebol di Desa Plosorejo tersebut. Ia sudah sempat mengecek ke lokasi jebolnya tanggul tersebut.

Baca: Sekolahan Terendam Air, Ratusan Siswa SDN 01 Mayahan Grobogan Diliburkan

”Sebelumnya tidak pernah ada banjir meski hujan deras. Banjir kali ini penyebabnya ada tanggul jebol di sebelah barat Desa Plosorejo. Adanya tanggul jebol membuat volume air yang menuju ke Desa Mayahan jadi bertambah besar sehingga bikin banjir,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono ketika dimintai komentarnya menyatakan, laporan tanggul jebol sudah diterima. ”Saya sudah perintahkan agar dicek dan segera ditangani,” katanya.

Editor: Supriyadi

BPBD Grobogan Bakal Libatkan Aparat Pemdes untuk Lakukan Monitoring Tanggul

Penanganan tanggul Sungai Tuntang yang jebol dilakukan secara darurat dengan memakai karung yang diisi tanah (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Penanganan tanggul Sungai Tuntang yang jebol dilakukan secara darurat dengan memakai karung yang diisi tanah (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono menyatakan, pihaknya secepatnya akan melakukan langkah monitoring kondisi tanggul di sejumlah sungai besar dengan melibatkan aparat pemerintahan desa sekitar kawasan sungai. Hal itu dilakukan karena penyebab banjir selama ini adalah jebolnya tanggul ketika elevasi sungai tersebut melebihi ambang batas.

Selain itu, kondisi tekstur tanah di Grobogan yang relatif labil menyebabkan kondisi tanggul yang sebelumnya kering bisa longsor setelah terguyur hujan deras.

Ditambahkan, berdasarkan hasil pendataan, sedikitnya ada sembilan kecamatan yang masuk wilayah rawan bencana  banjir. Yaitu Kecamatan Purwodadi, Ngaringan, Klambu, Brati, Grobogan, Gubug, Tegowanu, Kedungjati dan Godong. Kesembilan kecamatan tersebut rentan banjir karena dilewati sungai besar.

Hasil monitoring itu nantinya akan dikoordinasikan dengan pihak BBWS. Sebab, kewenangan penanganan sungai lintas kabupaten tersebut ada pada BBWS.

Editor : Kholistiono

Cegah Banjir Lagi, Perbaikan Tanggul Jebol Sungai Tuntang Dibikin Permanen

Titik tanggul Sungai Tuntang yang jebol dan jadi penyebab banjir beberapa hari lalu akan diperbaiki secara permanen menggunakan batu dan semen (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Titik tanggul Sungai Tuntang yang jebol dan jadi penyebab banjir beberapa hari lalu akan diperbaiki secara permanen menggunakan batu dan semen (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Beberapa titik tanggul Sungai Tuntang di wilayah Kecamatan Gubug yang jebol dan sempat ditutup, namun akhirnya jebol kembali, kini terus diperbaiki. Kali ini, perbaikannya tidak bersifat darurat tetapi dibikin permanen.

Hal itu dilakukan supaya kondisi tanggul bisa makin kuat dan bisa mencegah terjadinya banjir lagi di kemudian hari. Saat ini, material untuk perbaikan tanggul masih terus didatangkan ke lokasi tanggul jebol beserta alat berat.

“Empat titik tanggul Sungai Tuntang yang jebol dan jadi penyebab banjir beberapa hari lalu akan dibuat secara permanen. Perbaikan tanggul menggunakan batu dan semen sehingga lebih kuat. Sebelumnya, penanganan tanggul jebol dilakukan secara darurat dengan memakai karung yang diisi tanah dan kemudian di atas tumpukan karung ditimbun lagi pakai tanah,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Ni Made Sumiarsih pada wartawan, saat meninjau lokasi tanggul di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Kamis (20/10/2016).

Dijelaskan, saat bencana banjir lalu ada empat titik tanggul yang jebol. Masing-masing ada dua titik di Desa Ngroto, satu titik di Desa Papanrejo dan di Desa Kemiri. Setiap tanggul ini panjang jebolannya sekitar 30 meter.

Pengerjaan tanggul tersebut ditarget selesai selama sebulan. Adapun besarnya dana yang dikeluarkan dalam penanggulan tersebut sekitar Rp 190 juta. “Semua tanggul jebol sudah kami tangani. Kami sudah mulai bergerak untuk memperbaiki tanggul sehari banjir datang sampai saat ini,” katanya.

Sejumlah warga ketika dimintai komentarnya mengaku senang dengan perbaikan tanggul secara permanen tersebut. Soalnya, kondisi tanggul bakal semakin kuat dan membuat mereka merasa lebih tenang.

“Harapan kami, tanggul itu memang diperbaiki permanen biar kuat. Kalau bisa, tidak hanya tanggul yang jebol kemarin saja. Tetapi kalau bisa seluruhnya meski dilakukan bertahap,” kata Ahmadi, warga setempat.

Editor : Kholistiono

Warga Bandungsari Grobogan Kompak Tutup Tanggul Jebol untuk Cegah Banjir

Puluhan warga Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan bergotong royong memperbaiki tanggul bendungan yang jebol (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Puluhan warga Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan bergotong royong memperbaiki tanggul bendungan yang jebol (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan warga Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan, Grobogan melakukan gotong royong memperbaiki tanggul bendungan yang jebol, Jumat (26/2/2016). Tindakan itu dilakukan guna mencegah terjadinya banjir ke areal sawah maupun pemukiman penduduk.

”Sejak pagi tadi kita kerahkan banyak orang untuk menutup tanggul menggunakan karung yang diisi tanah. Hal ini merupakan upaya darurat guna mencegah terjadinya banjir. Penutupan tanggul ini juga didampingi pegawai dari dinas pengairan,” kata Kades Bandungsari Heriyanto.

Akibat hujan deras yang mengguyur beberapa hari terakhir, menyebabkan salah satu sisi tanggul jebol sedalam 3,5 meter dengan panjang mencapai 25 meter.

Jebolnya tanggul bendungan yang berada di Dusun Tegal itu sudah dilaporkan pada Dinas Pengairan Grobogan. Namun, lantaran proses perbaikan dari dinas butuh waktu, maka upaya darurat dilakukan terlebih dahulu.

“Yang penting, jebolnya tanggul ini kita tutup dulu sebisa mungkin. Kita harapkan, perbaikan secara lebih permanen bisa secepatnya dilakukan oleh dinas terkait,” cetusnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Waspada! Jika Elevasi Sungai Lusi Capai 9 Meter, Banjir Bisa Landa Sebagian Wilayah Grobogan

Ambrol, Tanggul Sodetan di Kemadu Sulang Rembang Dibendung dengan Karung Berisi Tanah

Warga bersama anggota TNI dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, bergotong-royong memperbaiki tanggul sodetan yang ambrol di Kemadu, Jumat (19/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Warga bersama anggota TNI dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, bergotong-royong memperbaiki tanggul sodetan yang ambrol di Kemadu, Jumat (19/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Puluhan warga bersama anggota TNI dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, bergotong-royong memperbaiki tanggul Sodetan yang ambrol dengan karung sak yang diisi tanah di Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jumat (19/2/2016).

Pelaksana Tugas (Plt) Camat Sulang Agung Budi Santoso menjelaskan, Sodetan itu sebelumnya dibuat untuk mengantisipasi terulangnya banjir di tahun 2014. Saat itu, luapan air sungai yang banjir langsung melimpas ke permukiman. Namun setelah ada tanggul Sodetan tersebut, tidak lagi terjadi banjir.

Hanya saja, tanggul Sodetan itu ambrol pada Desember 2015. Agar ambrol tidak meluas, warga setempat memasang potongan bambu yang dibuat sebagai penahan (rajek bambu). ”Warga gotong royong membuat dan memasang rajek bambu dan menyediakan makanan. Kami juga dibantu oleh BPBD, TNI, dan PT Sadana Arifnusa,” katanya.

Komandan Komando Rayon Militer (Koramil) Sulang Kapten Infanteri Kun Muhandis mengaku menerjunkan 30 orang personelnya untuk ikut serta bergotong royong dengan warga guna membenahi tanggul Sodetan Sungai Kemadu yang ambrol.

Ia berharap gotong royong mengantisipasi banjir dicontoh oleh daerah lain yang memiliki kerawanan yang sama. Sebab menurutnya, banjir tidak datang begitu saja, tetapi dipicu oleh budaya salah dari sebagian masyarakat. ”Misalnya kebiasaan membuang sampah sembarangan di sungai,” ujarnya.

Danramil mengimbau masyarakat menggalakkan budaya tertib membuang sampah. Jangan sampai selokan mampet akibat sampah, sehingga air meluber dan membanjiri permukiman. ”Gotong royong pembersihan dan pembenahan sarana antisipasi banjir mestinya dilakukan tanpa harus disuruh-suruh,” himbaunya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Tanggul Rawan Retak, Camat Jati Siapkan Sak Pasir

Pengguna kendaraan melintasi banjir beberapa waktu lalu di jalan sekitar Kecamatan Jati. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengguna kendaraan melintasi banjir beberapa waktu lalu di jalan sekitar Kecamatan Jati. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sebagai daerah yang rawan terjadi banjir, Kecamatan Jati juga harus bersiap dalam menghadapi risiko yang ditimbulkan. Seperti halnya adanya tanggul yang rawan retak, pihak Camat Jati menyiapkan sak berisi pasir untuk membendungnya.

Camat Jati Harso Widodo mengatakan, pihak kecamatan sudah menyiapkan sak pasir untuk menanggulangi bencana yang mungkin terjadi di Jati. Sebagai daerah bawah, potensi banjir dan genangan lebih mudah terjadi.

”Kita antisipasi adanya tanggul yang retak, sehingga membahayakan para warga. Untuk itu kami juga sudah menyiapkan sak guna membendung tanggul yang berpotensi retak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya sosialisasi dengan pihak desa juga sudah dilakukan, sebab pihak desa yang lebih tahu tentang bencana yang mungkin terjadi di Kecamatan Jati. Sehingga, komunikasi juga terus dibuatkan.
Beberapa daerah yang rawan adanya banjir, kata dia, tercapai di beberapa titik. Seperti di sekitar Proliman Tanjung, Pasuruan Lor, Megawon, Ngembal, jati Kulon, Jati Wetan, dan juga sekitar Ngembal.
Untuk antisipasi, pihak kecamatan mengajak masyarakat melakukan kerja bakti berupa membersihkan lokasi sekitar dari sampah yang dapat mengganggu arus air.

”Bahkan untuk pernahkah desa, juga dilakukan antisipasi bencana. Sehingga Jika ada bencana dapat segera diungsikan,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Warga Blimbing Kidul Tunggu Bantuan untuk Tinggikan Tanggul SWD 2

Warga Blimbing Kidul, Kecamatan Kaliwungu secara bergiliran mengecek tanggul SWD 2. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga Blimbing Kidul, Kecamatan Kaliwungu secara bergiliran mengecek tanggul SWD 2. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sempat terendam banjir di tahun 2013 silam lantaran tanggul sungai SWD 2 jebol, sehingga menjadi trauma bagi warga yang terkena dampaknya. Untuk mengatasi kejadian tersebut agar tidak terulang, warga Desa Blimbing Kidul, Kecamatan Kaliwungu hingga saat ini selalu mengecek keadaan kondisi tanggul tersebut.

Salah satu warga Desa Blimbing Kidul, Ali Mahfud mengatakan, setiap warga rutin mengontrol memastikan tanggul yang berada di bantaran sungai SWD 2 jurusan Jepara tersebut dalam kondisi aman dan tidak jebol.

”Kami beserta warga yang lain, jalan sejauh 80 meter mengitari kawasan tanggul. Sebab kerawanan longsor yang menimbulkan jebol tanggul ini sepanjang 80 meter,” jelasnya.

Dia menilai, pengkroscekan tersebut selalu dilakukan secara bergilir. Baik dilakukan oleh warga yang berdekatan dengan tanggul maupun para petani yang sawahnya berada di lereng tanggul tersebut.
”Kami lakukan pengecekan itu, supaya bocoran air atau rembesan air yang melewati tanggul ini bisa kita benahi. Sebab bila air merembes melalui bawah tanggul dan tidak ditangani segera, maka tanah tanggul ini bisa terong-rong. Sehingga memudahkan jebolnya tanggul,” paparnya.

Hal senada dibenarkan kepala Desa Blimbing Kidul Poernomo. Dia menuturkan, sebenarnya pihak desa berupaya untuk meminta bantuan kepada dinas terkait. Akan tetapi saat ini pihaknya masih menunggu bantuan itu. Yakni berupa mendatangkan alat berat untuk meninggikan tanggul.
Memang disaat hujan deras yang mengguyur Kudus kemarin, tanggul tersebut sempat dihawatirkan jebol. ”Semoga tanggul yang sudah dibenahi warga dengan cara membendung dengan karung di tahun lalu tersebut masih kokoh. Meskipun terkadang ada rasa kehawatiran tersendiri disaat hujan lebat melanda,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Besok BPBD Bakal Bersihkan Lokasi Banjir Grobogan

Warga Desa Tajemsari usai melakukan pembersihan akses jalan. Rencananya besok (12/5/2015) BPBD Grobogan akan ikut melakukan bersih-bersih. (MURIA NEWS/DANI AGUS)

GROBOGAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan, Selasa (12/5) rencananya akan melakukan kegiatan bersih-bersih di lokasi yang sempat terkena bencana banjir. Yakni, di Desa Tajemsari dan Karangpasar yang selama dua minggu kemarin “tenggelam” oleh luapan air dari Kali Cabean.

Lanjutkan membaca

Tanggul Kali Cabean Akhirnya Berhasil Ditutup

Alat berat dikerahkan untuk menutup tanggul Kali Cabean yang jebol. (MURIANEWS/DANI AGUS)

GROBOGAN – Tidak turunnya hujan selama dua hari terakhir, dimanfaatkan petugas dengan baik untuk menutup tanggul di Kali Cabean, Tegowanu, Grobogan, yang jebol. Hingga Jumat (8/5/2015) hari ini, tanggul yang jebol sudah berhasil ditutup seluruhnya, oleh petugas gabungan dibantu warga Desa Tajemsari, dan Karangpasar.

Lanjutkan membaca