Tim SAR Siaga Cari Korban Lain di Tambang Maut Kaliurang yang Tewaskan 8 Orang

Tim SAR BPBD Kabupaten Magelang saat melakukan evakuasi korban longsor di area penambangan pasir Merapi di Kaliurang, Kabupaten Magelang, (Foto : Antara Jateng)

MuriaNewsCom, Magelang – Longsor di kawasan penambangan pasir di aliran Sungai Bebeng, Desa Kaliurang, Kabupaten Magelang, Senin (18/12/2017) kemarin menyebabkan delapan orang meninggal dunia dan delapan lain mengalami luka serius.

Delapan korban meninggal, yakni lima orang warga Dusun Kemburan, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang atas nama Ahmad Zaenudin, Iwan Dwi, Heri Setyawan, Yuni Supri, Muhammad. Kemudian tiga lainnya Suparno, Martono, Sumarno warga Dusun Dermo, Desa Bringin, Kecamatan Srumbung.

Dilansir Antara Jateng, hingga Selasa (19/12/2017) hari ini, petugas BPBD masih siaga di lokasi longsor, jika sewaktu-waktu ada laporan korban lain yang belum ditemukan.

“Petugas kami hari ini tetap siaga di lokasi longsor untuk menunggu jika masih ada laporan orang hilang akibat longsor kemarin. Kami akan bertindak melakukan pencarian,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto.

Ia menuturkan hingga pagi ini tidak ada laporan orang hilang akibat longsor tersebut.

“Sementara ini kami hanya bersiaga, tidak ada aktivitas di lokasi longsor sebelum ada laporan orang hilang, karena percuma kalau melakukan pencarian, tetapi tidak ada yang dicari,” ujarnya.

Baca : 8 Penambang Pasir Tewas Tertimbun Longsor di Kaliurang Magelang

Namun, kalau memang masih ada laporan orang hilang di lokasi bencana tersebut pihaknya akan segara melakukan pencarian. 

Ia menuturkan sebanyak delapan orang meninggal akibat bencana tersebut tadi malam sudah diserahkan semua kepada keluarganya untuk dimakamkan.

Editor : Ali Muntoha

Miliki Potensi Tambang Pasir yang Banyak, Pemkab Blora Diminta Siapkan WPR

semen

MuriaNewsCom, Blora – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Blora menegaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora, perlu menyiapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Sebab, Kabupaten Blora, memilki potensi besar tambang pasir khususnya sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. Terutama di wilayah Blora bagian selatan, yakni di Kecamatan Kradenan, Kecamatan Kedungtuban, dan Kecamatan Cepu.

Menurut Teguh Wiyono, Kepala Bidang Pertambangan dan Migas pada Dinas ESDM Blora, pertambangan pasir di Blora sampai saat ini belum pernah ada perizinan. Padahal, seharusnya tambang pasir sepanjang Bengawan Solo menjadi pertambangan rakyat, tapi belum ditentukannya WPR di wilayah Blora.

Pihaknya meyakini, jika sudah ditentukan WPR tersebut maka tidak dipungkiri banyak masyarakat yang megurus perizinan.“Memang nantinya ada konsekuensinya, yakni perihal Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), titik larangan dan reklamasi yang masuk rencana kerja pertambangan,” katanya.

Ia juga menjelaskan, sampai saat ini hanya ada 6 Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) yang masuk di Dinas ESDM, selain izin eksplorasi bahan semen. “Rinciannya, lima titik berada di Kecamatan Kradenan dan satu titik berada di Kecamatan Todanan. Lima titik di Kradenan bergerak di bidang pasir dan kerikil, sementara yang di Todanan bergerak pada penambangan pasir urug ataupun gamping,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono