Keberadaan Taman Kota Bikin Pegiat Film di Grobogan Lebih Bersemangat

Pegiat film di Grobogan sedang melakukan proses pengambilan gambar di Taman Kota Purwodadi,Rabu (2/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pegiat film di Grobogan sedang melakukan proses pengambilan gambar di Taman Kota Purwodadi,Rabu (2/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Keberadaan ruang terbuka hijau atau lebih dikenal dengan Taman Kota Purwodadi di Jl Dr Soetomo Purwodadi makin dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak. Salah satunya adalah para pegiat film. Dengan adanya taman ini bisa dipakai untuk lokasi pengambilan gambar ketika mereka membuat sebuah film.

“Terus terang, saya baru tahu kalau ada sebuah taman kota yang bagus ini. Begitu lihat suasana, saya langsung putuskan untuk ambil gambar di sini. Di dalam kawasan ini, banyak titik yang bisa jadi lokasi pengambilan gambar,” kata Alex Poerwo, salah seorang pegiat film di Grobogan, disela-sela pengambilan gambar di Taman Kota, Rabu (2/11/2016).

Alex menyatakan, kebetulan pada bulan ini, dia ada pesanan membuat belasan film pendek dengan berbagai tema pendidikan. Kebanyakan, film yang akan dibuat bertema tentang lingkungan. Khususnya, aneka macam tanaman.

“Adanya Taman Kota ini, saya bisa bikin pengambilan gambar untuk beberapa film sekaligus dengan latar belakang yang berbeda. Lokasi di sini sangat memungkinkan,” kata pria yang pernah meraih prestasi sebagai sutradara terbaik dalam ajang Festival Film Pendek Jawa Tengah tahun 2015 itu.

Alex menyatakan, dia sangat mengapresiasi adanya taman kota yang dibangun Pemkab Grobogan melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) itu. Sebab, keberadaan Taman Kota itu bisa dipakai untuk beraktivitas banyak orang. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua.

Sementara itu, Sekeretaris BLH Grobogan Nugroho Agus Prastowo ketika dimintai komentarnya menyatakan, pihaknya ikut merasa senang jika keberadaan Taman Kota itu bisa membawa manfaat bagi banyak orang. Dia juga mengapresiasi adanya pegiat film yang sudah menjadikan taman kota sebagai lokasi pengambilan gambar.

Menurut Agus, pembangunan RTH itu salah satu tujuannya adalah untuk menyediakan pusat aktivitas warga. Sebab, selain aneka tanaman, kawasan tersebut dilengkapi berbagai sarana dan prasarana yang bisa digunakan untuk menggelar beragam kegiatan.

“Selain lokasinya luas, yakni sekitar 3,2 hektar, ada banyak fasilitas yang kita sediakan dalam RTH. Antara lain, sport center, gazebo, jogging area, taman dan tempat bermain anak-anak. Jadi, tempat ini memang disediakan buat publik,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

Bukan Saatnya Lagi Kita Menjadi Generasi Perusak

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

KEBERADAAN Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau taman kota di Purwodadi, pada awal Oktober ini sudah mulai bisa dimanfaatkan masyarakat untuk beraktivitas. Hal ini setelah adanya kucuran dana sebesar Rp 5 miliar dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk penataan lingkungan, dengan menambah berbagai fasilitas penunjang. Di antaranya, penataan saluran air, area jogging dan sarana pendukung lainnya.

Realisasi pengerjaan proyek dari pusat yang dimulai sejak Mei hingga awal Oktober 2016 ini, kini sudah menjelma sebagai area publik yang menawarkan keindahan dan kenyamanan bagi masyarakat untuk sarana rekreasi maupun edukasi.

Namun demikian, taman seluas 3,2 hektare yang dimaksudkan untuk memberikan area rekreatif bagi warga di tengah kota dan telah menghabiskan anggaran miliaran rupiah tersebut, justru mendapatkan perlakuan yang kurang terpuji dari oknum yang kurang bertanggung jawab.

Contoh saja, gazebo yang terdapat di taman tersebut penuh dengan corat-coretan ala ABG alay  dengan menggunakan setipo atau tipe-x. Alhasil, bangunan yang seharusnya menambah keindahan dan kenyamanan pengunjung, berubah bentuk seperti halnya bangunan poskamling yang penghuninya mulai malas untuk berlama-lama di tempat sosialis itu.

Tak cukup sampai di situ, ada pula segelintir orang yang juga sengaja merusak tempat sampah yang tersedia. Beberapa kali sudah diganti oleh pengelola taman, namun tak lama kemudian, tempat sampah yang tersedia juga berakhir mengenaskan. Entah apa tujuan dan kepuasan yang didapat dari oknum perusak itu, tetapi, apapun itu adalah sebuah tindakan yang sangat tidak terpuji.

Jika melihat polanya, sangat mungkin tindakan-tindakan kurang terpuji ini dilakukan oleh oknum pelajar, yang memang cenderung latah terhadap tindakan yang dianggapnya sebagai sebuah eksistensi dan pencarian jati diri. Meskipun, tindakan tersebut terkadang justru merugikan orang lain.

Ke depan, harapannya, tentu tak akan ada lagi aksi-aksi vandalisme seperti itu, yang ditinjau dari sudut pandang manapun tetaplah kurang etis. Alangkah eloknya, fasilitas umum yang tersedia dirawat bersama dan dimanfaatkan sesuai peruntukkannya.

Pun demikian dengan RTH yang ada di Kota Purwodadi, seyogyanya juga digunakan sesuai dengan fungsi dan manfaatnya. Yakni, sarana umum yang mempunyai fungsi utama (intrinsik) yakni fungsi ekologis dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi arsitektural, fungsi sosial dan fungsi ekonomi.

Sebuah catatan penting bagi pengelola RTH atau taman kota, untuk meminimalisasi adanya tindakan-tindakan jahil seperti itu, hendaknya meningkatkan pengawasan yang lebih ekstra lagi. Penempatan closed circuit television (CCTV) di beberapa titik strategis, sebaiknya perlu ada. Sehingga, nantinya petugas di situ dapat mengambil tindakan lebih cepat ketika ada pengunjung yang sengaja membuat tempat itu menjadi tidak nyaman atau merusak.

Selanjutnya, perlu adanya sanksi tegas terhadap pelaku yang telah melakukan tindakan buruk oknum yang menyebabkan taman tersebut rusak atau lainnya. Sanksi yang diberikan terhadap oknum perusak tersebut, adalah dengan cara memberi sanksi sosial.

Keberadaan media sosial (medsos) bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan sanksi bagi pelaku. Yakni, siapapun pelaku yang ketahuan merusak atau melakukan tindakan vandalisme di tempat tersebut, akan diupload ke medsos. Sehingga, masyarakat tahu apa yang telah dilakukan tersebut bukanlah sikap terpuji. Dengan adanya CCTV di tempat tersebut, tentunya hal seperti ini bisa untuk memudahkan siapa pelakunya.

Hal ini, juga untuk memberikan efek jera terhadap pelaku. Sebab, sanksi sosial biasanya memiliki konsekuensi lebih berat bagi pelaku.

Selanjutnya, reward, selayaknya juga ada untuk masyarakat yang memiliki komitmen kuat untuk tidak merusak fasilitas di tempat tersebut, dan juga melakukan tindakan nyata. Misalnya, tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencorat-coret atau lainnya.

Mengingat besarnya manfaat RTH, dalam pengelolaan RTH pun sebaiknya melibatkan masyarakat melalui event dengan lebih aktif, agar masyarakat memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk menjaga RTH yang ada. Seiring dengan perkembangan informasi dan sosial media yang begitu pesatnya pasti akan mampu menjangkau seluruh elemen masyarakat terutama generasi muda untuk ikut aktif berperan serta dalam mengembangkan RTH melalui komunitas maupun event-event.

Kemudian, sudah saatnya pula kita tidak menjadi generasi perusak. Mari bersama-sama untuk menjaga kelestarian alam. Mari bersama-sama untuk merawat fasilitas umum yang ada, agar kota kita layak dan nyaman untuk beraktivitas. (*)

Lihat, Ulah Jahil Orang-orang di Taman Kota Purwodadi Ini Sungguh Keterlaluan

Papan imbauan agar pengunjung tidak corat-coret (kiri). Inilah corat-coretan yang dilakukan orang tidak bertanggungjawab pada gazebo yang ada di Taman Kota Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Papan imbauan agar pengunjung tidak corat-coret (kiri). Inilah corat-coretan yang dilakukan orang tidak bertanggungjawab pada gazebo yang ada di Taman Kota Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sejumlah pengunjung Taman Kota Purwodadi menyayangkan ulah sebagian orang yang membikin kotor taman kota. Yakni, dengan melakukan aksi corat-coret di kawasan yang saat ini sedang jadi pilihan warga untuk beraktivitas bersama keluarga tersebut.

“Ulah tangan-tangan jahil yang bikin corat-coret ini sungguh keterlaluan. Harusnya, mereka ini ikut merawat tempat ini agar selalu nyaman dan bersih. Bukan malah mengotori dan bikin rusak,” cetus Sinta, salah seorang pengunjung Taman Kota, Sabtu (22/10/2016).

Dari pengamatan di lapangan, keluhan pengunjung ini memang ada benarnya. Sebab, banyak sekali coretan yang terdapat di kawasan ruang terbuka hijau tersebut. Coretan paling banyak terdapat di beberapa gazebo yang disediakan buat bersantai para pengunjung. Hampir semua titik gazebo yang dibuat dari kayu itu terdapat coretan, baik berupa tulisan atau gambar.

Sebagian besar coretan dibuat dari tipe x. Ada juga yang menggunakan spidol permanen serta cat.“Coretan yang ada didalam gazebo ini makin tambah tiap hari. Sayang sekali, tempat yang nyaman ini jadi terlihat kotor,” kata Irawan, pengunjung lainnya.

Kabid Konservasi dan Informasi Lingkungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Grobogan Latifawati ketika dimintai komentarnya juga menyayangkan adanya ulah orang yang tidak bertanggungjawab tersebut. Padahal, pihaknya juga sudah memasang imbauan pada para pengunjung agar tidak merusak kawasan tersebut.

“Saya berharap aksi mengotori kawasan lewat corat-coretan ini dihentikan. Mari kita rawat bersama agar kawasan ini selalu nyaman dan bersih,” katanya.

Selain coretan, ada pula segelintir orang yang merusak tempat sampah di situ. Meski sudah diganti namun beberapa hari kemudian dirusak lagi. Menurutnya, pembuatan RTH itu mulai dilakukan pada tahun 2014 lalu setelah mendapat kucuran dana Rp 800 juta melalui dana alokasi khusus (DAK).

Kemudian, pada tahun lalu ada kucuran dana lewat APBD Grobogan sebesar Rp 500 juta. Alokasi dana yang diterima itu digunakan untuk pengurukan lahan, pemasangan batako dan penanaman pohon peneduh.

Penataan lingkungan RTH itu dimulai lagi bulan Mei hingga awal Oktober lalu setelah ada kucuran dana sekitar Rp 5 miliar dari pusat. Tepatnya, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Dana tersebut dialokasikan untuk membuat penambahan beberapa sarana publik di lokasi tersebut. Seperti, penataan saluran air, penanaman pohon, jogging area dan beberapa sarana pendukung lainnya.

“Luas lahan untuk RTH itu sekitar 3,2 hektar. Sesuai rencana yang sudah dibuat, pembuatan RTH keseluruhan membutuhkan dana Rp 18 miliar,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono