Hacker Pembobol Sistem Taksi Online Dibekuk di Semarang

MuriaNewsCom, Semarang – Sindikat penipuan taksi online berhasil diungkap Polda Jateng. Polisi mengamankan sejumlah pelaku, termasuk satu orang hacker yang bertugas membobol dan memanipulasi sistem taksi online.

Selain itu, tujuh orang driver taksi online yang melakukan order fiktif untuk mendapat keuntungan juga diamankan. Tujuh driver taksi online ini diamankan di Pemalang, sementara satu hacker berinisial TN diamankan di Semarang.

“Sindikat tersebut menggunakan modus order fiktif. Yakni dengan memanipulasi aplikasi pemesanan untuk memperoleh keuntungan,” kata Kasubdit Ekonomi Khusus Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah, AKBP Teddy Fanani.

Menurut dia, hacker yang diamankan ini mempunyai kemampuan memanipulasi aplikasi pemesanan dan penerima pesan taksi online Grab.

Menurutnya, dalam beraksi modus yang digunakan pelaku yakni dengan menggunakan tiga aplikasi yang dimanipulasi. Aplikasi-aplikasi yang dimanipulasi itu di antaranya aplikasi pemesanan yang dimiliki konsumen, serta aplikasi penerima pesanan yang dimiliki oleh pengemudi.

“Para pengemudi ini membawa beberapa ponsel yang digunakan untuk memesan dan menerima pesanan,” ujarnya.

Dengan aplikasi yang dimanipulasi ini, para pelaku bisa melakukan pemesanan fiktif yang kemudian diterima sendiri. Order fiktif yang dilakukan biasanya mengambil jarak tempuh pendek.

Dari pesanan-pesanan itu, menurut dia, terdapat mekanisme perolehan poin yang harus dibayarkan oleh Grab kepada mitra kerjanya. “Setiap 14 poin yang diperoleh pengemudi, maka ada Rp 350 ribu yang harus dibayarkan oleh Grab,” ujarnya.

Bonus atas poin dari order fiktif inilah yang menyebabkan kerugian bagi Grab. Selain untuk taksi online, jaringan ini juga melakukan untuk ojek online.

Baca : Sindikat Penipu Taksi Online Dijebak Polisi, Ratusan HP Diamankan

Dia memperkirakan masih ada oknum pengendara taksi online yang menggunakan data fiktif. Dari tujuh driver, ternyata bukan warga Pemalang. Umumnya berasal dari Jakarta.

Sementara untuk tersangka TN sebagai teknisi sekaligus hacker yang menjual jasa memanipulasi aplikasi, kata dia, menjual Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu per aplikasi.

Namun, menurut dia, tersangka biasa menjual satu paket telepon seluler sekaligus berisi aplikasi yang sudah dimanipulasi dengan harga bervariasi. Mulai harga Rp 2 juta, Rp 2,5 juta, hingga Rp 3 juta.

Hacker yang belum lama berdomisili di Semarang ini sebelumnya tinggal di Yogyakarta. Dia sempat mengiklankan diri melalui media sosial.

Atas perbuatannya, para tersangka selanjutnya dijerat dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

Editor : Ali Muntoha

Sindikat Penipu Taksi Online Dijebak Polisi, Ratusan HP Diamankan

MuriaNewsCom, Pemalang – Aksi sindikat yang sering melakukan penipuan terhadap angkutan online dengan modus order fiktif berhasil dibongkar jajaran Polres Pemalang. Tujuh orang anggota sindikat berhasil diamankan bersama ratusan unit HP yang digunakan untuk beraksi.

Penangkapan para pelaku dilakukan di kawasan SPBU Sugihwaras, Pemalang, Rabu (7/3/2018) petang. Para pelaku dibekuk, setelah terperangkap jebakan yang dilakukan polisi.

Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Akhwan Nadzirin mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan dari salah satu driver Grab tentang banyaknya pesanan fiktif. Laporan itu ditindaklanjuti dengan memancing pelaku dengan cara memesan melalui aplikasi.

Para pelaku yang tidak mengetahui hal tersebut akhirnya menjalankan modusnya untuk mengelabui aplikasi dan berhasil ditangkap saat berada di SPBU wilayah Sugihwaras.

“Saat penangkapan berhasil diamankan tujuh pelaku yang menggunakan tiga unit kendaraan roda empat, dan 169 unit telepon genggam sebagai alat operasi mereka,” katanya.

Para pelaku diduga menjalankan aplikasi, tetapi tanpa mengangkut penumpang (order fiktif). Rata-rata mereka mengincar pesanan untuk jarak-jarak yang dekat.

Sebab setiap 15 kali menarik penumpang maka pengemudi atau mitra akan mendapatkan bonus dari penyedia jasa, di mana bonus tersebut akan langsung masuk ke rekening yang sudah ada.

Untuk mengembangkan kasus tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan operator aplikasi angkutan online serta para ahli IT.

Diduga kawanan ini beraksi berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dan menurut pengakuan pelaku mereka beraksi di wilayah Kabupaten Pemalang sudah sejak tanggal 17 Februari yang lalu.

Ade Mustafa, Manager Grab Pemalang, mengatakan para driver taksi online kerap mendapatkan pesanan fiktif. Berangkat dari hal itu pihaknya melaporkan ke pada kepolisian.

“Beberapa kali ada pesanan fiktif. Saat driver berniat untuk menjemput pesanan, yang berlokasi di sekitaran terminal induk Pemalang, namun ternyata pesanan fiktif,” jelas Ade Mustofa.

Editor : Ali Muntoha

Dua Pelajar Pembunuh Sopir Taksi Online di Semarang Dihukum 9 dan 10 Tahun

MuriaNewsCom, Semarang – Kasus pembunuhan sadis Deny Stiawan, sopir taksi online di Semarang yang dilakukan dua pelajar SMK menemui babak akhir. Dua pelaku pembunuhan yakni DR dan IBR divonis hukuman 9 dan 10 tahun kurungan penjara.

Vonis dijatuhkan hakim tunggal Sigit Harianto, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (27/2/2019). Hakim menjatuhi vonis pelaku yang masih berumur 15 tahun itu sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Yakni DR dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara, sementara IBR divonis 10 tahun kurungan penjara. Hakim menyatakan, dua terdakwa terbukti melakukan perencanaan pembunuhan. ” “Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan sengaja,” kata Sigit dilansir Antarajateng.com.

Terdakwa IB mendapatkan vonis yang lebih tinggi, karena dinilai sebagai inisiator aksi pembunuhan. Yakni IBR mengajak DR mencari pengganti uang sekolah sebesar Rp 510 ribu yang sudah selama tiga bulan belum dibayarkan.

Keduanya kemudian merencanakan tindak pidana untuk membegal sopir taksi online. Korban dipilih lantaranan dinilai mudah dieksekusi.

Adapun perencanaan yang dilakukan terdakwa antara lain, IBR menyiapkan pisau sepanjang 40 cm sebelum beraksi. Menurut hakim, kedunya juga sudah menyiapkan posisi duduknya di dalam mobil.

Terdakwa DR sengaja duduk di sebelah kiri korban, sementara IBR duduk di kursi tengah mobil, di belakang korban. Terdakwa DR berperan mengajak korban mengobrol, adapun IBR merupakan pelaku yang menghunuskan pisau ke leher korban.

“Terdakwa juga sengaja membayar ongkos taksi Rp 22 ribu, kurang dari yang seharusnya,” ujarnya.

Baca : 2 Siswa SMK di Semarang Begal dan Gorok Sopir Taksi Online, Alasannya Buat Bayar SPP

Terdakwa berpura-pura mengajak korban untuk mencari rumah bibinya dengan alasan untuk meminta tambahan uang untuk membayar ongkos taksi sebesar Rp 44 ribu.

Korban kemudian dieksekusi di Jalan Cendana Selatan IV, Tembalang, Kota Semarang. Dua telepon seluler dan mobil milik korban dibawa kabur oleh pelaku. Mobil itu direncanakan dijual setelah kondisi aman.

Atas putusan tersebut, baik terdakwa maupun penuntut umum sama-sama menyatakan pikir-pikir. Selanjutnya, kedua terdakwa yang masih di bawah umum tersebut akan ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kutoarjo.

Editor : Ali Muntoha

Taksi Online di Jateng Dibatasi Hanya 2.900 Unit

MuriaNewsCom, Semarang – Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah membatasi jumlah taksi online yang beroperasi di provinsi ini. Kuota yang diberikan hanya sebanyak 2.900 unit untuk wilayah Jawa Tengah.

Kasi Angkutan Tidak Dalam Trayek, Dishub Provinsi Jateng, Dikki Rulli Perkasa kepada wartawan mengatakan, kuota sebanyak 2.900 unit itu berlaku untuk tujuh wilayah di Jawa Tengah. Kuota itu nanti akan dibagi per wilayah di Jateng.

Meski demikian, jumlah ini kemungkinan bertambah atau berkurang, karena harus ada pembahasan dengan kabupaten/kota.

”Jatah untuk taksi online belum sepenuhnya fix. Masih perlu dibicarakan lagi dengan Dishub di tiap kabupaten/kota,” katanya.

Ia menyebut, kuota yang diberikan kepada taksi online cukup banyak. Mengingat dari seluruh kuota angkutan di Jateng yang ditetapkan sebanyak 6.652 unit, 2.900 di antaranya diberikan kepada taksi online.

Apalagi, dari sekian banyak taksi darling yang beroperasi di Jateng masih sedikit yang memenuhi persyaratan itu. Bahkan, di wilayah Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, dan Purwodadi) dari total kuota 600 unit taksi online yang diberikan, baru sekitar 330 unit di antaranya yang telah mengajukan perizinan.

Peraturan Menteri Perhubungan (PM) Nomor 108 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Tidak Dalam Trayek, mengatur tentang syarat dan ketentuan bagi sopir taksi online.

‘’Seperti di antaranya harus melakukan uji kir, mengganti SIM A reguler menjadi SIM A umum, dipasang stiker, dan memiliki badan hukum sekelas koperasi,’’ terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Tak Punya SIM A Umum Sopir Taksi Online Bakal Ditilang

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah mewajibkan seluruh sopir taksi online mempunyai SIM A Umum. Ketentuan ini berlaku mulai 1 Februari 2018. Jika tetap beroperasi dengan SIM A biasa, sopir taksi online bisa ditilang.

Ketentuan tentang hal ini diatur dalam Permenhub Nomor 108 Tahun 2017 yang mengatur tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

Polda Jawa Tengah juga menyosialisasikan aturan ini. Dirlantas Polda Jateng, Kombes Pol Bakharuddin mengatakan, pada tahap awal pihaknya akan menggencarkan sosialisasi mengenai ketentuan ini.

Kepolisian, lanjut dia, akan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, seperti Dinas Pehubungan, Organda, serta pengusaha penyelenggara angkutan.

Menurut dia, sosialisasi akan menyasar pada komunitas pengemudi taksi daring agar tujuan yang akan dicapai lebih efektif. “Sosialisasi akan lebih efektif melalui komunitas,” katanya, Jumat (2/2/2018).

Ia menyebut, pelaksanaan Permenhub 108 berkaitan dengan penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia. Taksi online, dimasukkan dalam kategori angkutan umum, lantaran beroperasi dengan mengangkut penumpang.

Oleh karena itu, kata dia, unsur keselamatan penumpang harus menjadi perhatian. “Taksi online menarik biaya dari penumpang, sehingga secara kaidah masuk dalam kategori angkutan umum,” katanya.

Ia menegaskan aturan tersebut diyakini akan lebih menguntungkan bagi taksi online. Terlebih payum hukum yang mengatur tentang keberadaan angkutan online saat ini sudah jelas.

Editor : Ali Muntoha

Pemkab Kudus Tunggu Aturan Kuota Taksi Online

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah Kabupaten Kudus masih menunggu aturan tentang kuota atau jumlah taksi online, dari Pemprov Jateng. Praktis pelaksanaan Permenhub 108/2017 belum bisa diterapkan sepenuhnya mulai awal Februari 2018.

“Sesuai hasil rapat di Balai Perhubungan Wilayah Pati, intinya pemprov akan mengatur terkait kuota atau jumlah kendaraan yang boleh dioperasionalkan pada tiap-tiap daerah. Baru setelah selesai tahapan itu, akan berlanjut pada pemberlakuan aturan tersebut,” ujar Kabid Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub Kudus Putut Sri Kuncoro, Rabu (1/2/2018).

Selain kuota, nantinya pemerintah juga akan mengatur terkait zonasi, atau wilayah edar dari taksi-taksi online. Dikatakannya, bila tak ada perubahan, maka trayek taksi online akan dibatasi hanya sampai di wilayah eks karisidenan Pati. Sementara untuk taksi konvensional, bisa beredar hingga satu provinsi Jawa Tengah.

Kasi Angkutan Jalan Dishub Kudus Sudarwanto, menyatakan hal senada. Untuk saat ini pihaknya memang masih menunggu aturan terkait kuota taksi online dari pemprov Jateng.

“Di Kudus ada yang namanya Surat Penyelenggaraan Izin Operasional Taksi, itu jumlahnya ada 75 unit. Sedangkan, di Kudus ada dua perusahaan Taksi Konvensional yakni Puri Kencana dan Abadi, masing-masing taksi tersebut telah mengantongi izin 20 dan 25 unit. Nah untuk yang online masih ada kesempatan 30 unit untuk dipergunakan,” tutur dia.

Dirinya menyebut, setelah penentuan kuota dari propinsi jelas, maka akan diterapkan permenhub, yang mengharuskan adanya persyaratan khusus untuk taksi online. Diantaranya, armada yang digunakan taksi online harus diuji KIR terlebih dahulu, pengemudi harus memiliki SIM A Umum, terdaftar di badan usaha hingga dipasangi stiker.

“Taksi kan harus memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat. Maka kami pemerintah mengawasi, tidak boleh terjadi pertentangan dengan taksi konvensional, zonasi pun harus diatur. Intinya kementrian perhubungan masih memperhatikan kearifan lokal,” imbuhnya‎.

Editor: Supriyadi

2 Siswa SMK di Semarang Begal dan Gorok Sopir Taksi Online, Alasannya Buat Bayar SPP

MuriaNewsCom, Semarang – Kasus pembunuhan Deny Setiawan, sopir taksi online yang mayatnya dibuang di daerah Sambiroto, Tembalang, Kota Semarang, Sabtu (20/1/2018) akhirnya terungkap.

Pelakunya ternyata dua orang remaja yang masih duduk di SMKN 5 Kota Semarang. Mereka yakni DR (16) dan IB (16). Mereka adalah teman sekelas di SMK tersebut. Keduanya berhasil dibekuk jajaran Polrestabes Semarang, Senin (22/1/2018) tengah malam.

Dua remaja ini mengaku nekat membegal sopir taksi dan membunuhnya karena butuh uang untuk membayar SPP. Namun pengakuan para pelaku ini disayangkan kepolisian.

Karena menurut Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji, orang tua kedua pelaku terhitung orang yang mampu. Ini diketahui setelah pihak kepolisian memanggil orang tua masing-masing.

”Orangtuanya mampu, dan mengaku rutin memberikan uang SPP, nah ini nanti akan kami kembangkan dan dalami lagi motifnya,” katanya dalam jumpa pers, Selasa (23/1/2018).

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji saat jumpa pers kasus pembunuhan sopir taksi online

Dari hasil pemeriksaan diketahui jika para pelaku memesan taksi online milik korban melalui aplikasi dari rumah IB di daertah Lemah Gempal, Semarang Selatan, Sabtu (20/1/2018) sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka memesan taksi dengan tujuan Sambiroto, Tembalang.

“Sesampai di depan Citra Grand mereka eksekusi, satu duduk di samping sopir, satu di belakang, yang di depan bertugas mengajak ngobrol, yang belakang eksekusi. Korban tidak bisa berbuat apa-apa karena masih mengenakan sabuk pengaman dan konsentrasi menyetir,” ujarnya.

Tubuh korban lantas dibuang di Jalan Cendana Selatan IV, Sambiroto, Tembalang. Sementara identitas barang dan milik korban diambil. Mobil korban Nissan Grand Livina kemudian ditinggal di Jalan Hos Cokroaminoto, Barusari Semarang, tujuannya jika kasusnya sudah reda mobil akan diambil.

Tak hanya itu, HP milik korban juga disembunyikan dengan cara ditanam di kawasan Banjir Kanal Barat, dengan diberi tanda menggunakan bambu.

Sementara itu, Kepala SMK 5 Semarang, Suharto kepada wartawan membenarkan jika kedua pelaku adalah siswa di sekolah tersebut. Menurut dia, keseharian dua pelaku juga tak mencolok dan tak pernah terlibat masalah.

“Keseharian mereka tidak bermasalah di sekolah. Tidak pernah kena surat peringatan. Prestasinya biasa saja dan mereka dari keluarga mampu secara ekonomi,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Taksi Online Wajib Menginduk Pada Koperasi, Begini Tanggapan Organda Jepara

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Taksi berbasis aplikasi (online) wajib menginduk pada perusahaan atau koperasi. Hal itu sesuai dengan amanat Permenhub Nomor 108/2017 yang berlaku 1 November lalu. Hal itu berlaku di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Jepara. Di Bumi Kartini sendiri, beberapa taksi online sudah beroperasi.

Hal itu mendapatkan perhatian khusus dari Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jepara. Ketua Organda Jepara, Samsul Arifin mengatakan, saa ini koperasi angkutan baru dimiliki oleh armada taksi berpelat kuning.

Ia mengatakan, koperasi taksi pelat kuning di Jepara enggan bergabung atau beralih ke taksi berbasis aplikasi. Alasannya hal itu akan menguntungkan aplikasi.

“Kami yang sudah pelat kuning, kesulitan untuk bertahan. Jadi kecil kemungkinan (koperasi taksi pelat kuning) mau bergabung dengan perusahaan aplikasi,” tuturnya, Sabtu (11/11/2017).

Menurutnya, kini mereka tengah bertahan dengan gempuran taksi aplikasi. Selain itu, adapula kendaraan pelat hitam, yang justru digunakan untuk mengangkut pekerja perusahaan.

Samsul mengatakan, telah mengetahui tentang aturan baru menteri perhubungan. Meski demikian, dirinya masih menunggu aturan teknis terkait pelaksanaannya. 

Terpisah, Kabid Perhubungan Darat Dishub Jepara Setyo Adhi mengungkapkan, taksi aplikasi diberikan waktu tiga bulan untuk melaksanakan aturan itu. Terkait sosialisasi, pihaknya telah melakukannya melalui Organda, baik untuk angkutan umum maupun berbasis aplikasi.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Tarif Taksi Online di Jateng Tengah Digodok Dishub dan Organda

Ojek Online di Jateng Dilarang Pakai Seragam, Ini Penyebabnya

Para driver Grab saat melakukan sosialisasi kehadiran ojek online itu di Kabupaten Pati, beberapa waktu lalu. (Facebook)

MuriaNewsCom, Semarang – Ojek online selama ini bisa dibedakan dari jaket berwarna mencolok yang mereka gunakan. Namun para driver ojek online di Jawa Tengah diimbau untuk tak menggunakan seragam ini.

Imbauan ini dikeluarkan Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Tengah setelah melakukan pembahasan bersama Forum Komunikasi Angkutan Umum dan Polda Jateng. Dalam rapat itu dibahas mengenai penerapan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 108 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

Permenhub ini berlaku efektif mulai 1 November 2017.Alasan diambil kebijakan untuk tak mengenakan seragam ini agar tak lagi terjadi benturan antara ojek berbasis aplikasi dengan ojek konvensional.

Kepala Dishub Provinsi Jateng, Satriyo Hidayat menyebut, telah mengirimkan surat edaran ini ke seluruh manajemen ojek online di Jateng. Seperti Grab, Gojek, maupun Uber. Surat telah dikirim pada 31 Oktober 2017 lalu.

”Itu atas permintaan Forum Komunikasi Angkutan Umum. Supaya tak kelihatan supremasinya di mata sopir angkot,” katanya dikutip dari Tribunjateng.com pada Sabtu (4/11/2017).

Aturan ini menurutnya agar bisa ditaati seluruh driver ojek online sejak 1 November 2017 sesuai dengan pemberlakukan permenhub. Aturan ini berlaku sampai dengan adanya pengaturan bersifat lokal yang diterbitkan oleh bupati dan wali kota di masing-masing daerah di Jateng.

Kasi Angkutan Orang Tidak Dalam Trayek Dishub Provinsi Jawa Tengah, Dikki Rulli Perkasa juga menyebut aturan itu dikeluarkan untuk menjaga kondusivitas.

“Karena dalam hal ini kondisinya sangat mendesak. Jadi diimbau untuk tidak memakai seragam demi menjaga suasana kondusif,” terangnya.

Dalam waktu dekat akan mengadakan pertemuan dengan para seluruh penyelenggara angkutan orang roda dua se-Jawa Tengah untuk membahas masalah tersebut.

Dishub Jateng dan Organda juga tengah membahas mengenai besaran tarif batas atas dan bawah, serta kuota taksi online di tiap wilayah di Jawa Tengah. Ada delapan alternatif yang disiapkan untuk penerapan tarif dan kuota ini.

Editor : Ali Muntoha

Tarif Taksi Online di Jateng Tengah Digodok Dishub dan Organda

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah tengah menggodok aturan besaran tarif atas dan bawah taksi online di 35 kabupaten/kota di provinsi ini. Pembahasan yang dilakukan bersama Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) itu juga membahas mengenai kuota taksi online di tiap daerah.

Pembahasan ini untuk menyikapi dikleuarkanyya Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 108 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. Permenhub ini berlaku efektif mulai 1 November 2017.

Kepala Dishub Jateng, Satriyo Hidayat mengatakan, sudah ada delapan alternatif tarif dan kuota untuk operasional angkutan online.

”Akan kita kaji bersama mana kuota yang layak diterapkan serentak di semua daerah,” katanya dikutip dari metrosemarang.com, Jumat (3/11/2017).

Saat ini di tiap daerah tarif taksi online beragam, mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu. Diharapkan nantinya dengan aturan ini nanti tarifnya bisa seragam.

Baca : Taksi Online Berpelat Hitam di Semarang Bakal Ditilang

Menurutnya, ada dua opsi ketentuan tarif taksi online. Yakni apakah nantinya akan dikaji berdasarkan wilayah karesidenan atau sesuai zonase ekonomi setempat.

“Makanya, saya kepengin ketemu Dinas Perhubungan di tiap kabupaten dan kota. Biar kita kompromikan apakah tarifnya ditentukan per wilayah seperti kawasan Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang dan Purwodadi) atau  per-karisidenan. Kita harus bahas hal ini agar kondisi jalan raya enggak macet dan di sisi lain distribusi ekonomi bisa diperjelas,” bebernya.

Satriyo menyatakan semua kabupaten dan kota harus segera menyepakati ketentuan tarif dan kuota taksi online. Sehingga nantinya tidak lagi menimnulkan bentrokan antara pengemudi taksi online dengan konvensional.

Ia mengaku dalam waktu dekat akan berkirim surat untuk mempertemukan Organda dengan operator taksi online. Jika usulan tarif dan kuota telah ditentukan, maka ia akan berkomunikasi dengan Gubernur Ganjar Pranowo.

“Yang pasti hitung-hitungan kuota untuk operasional taksi online akan ditentukan mulai tahun ini dan dikaji sesuai dinamika yang berkembang pada satu atau dua tahun ke depan,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Angkutan Daring di Jepara Wajib Taati Permenhub

Taksi Online Berpelat Hitam di Semarang Bakal Ditilang

Foto : Istimewa

MuriaNewsCom, Semarang – Aksi unjukrasa yang digelar para sopir taksi konvesional di depan Kantor Gubernur Jateng, Kamis (7/9/2017) lalu mendapat respon. Pihak kepolisian memastikan, taksi online yang beroperasi menggunakan pelat nomor hitam bakal ditindak dengan tilang.

Tak terkecuali taksi online yang saat ini sudah beroperasi seperti Gocar, Uber, maupun Grab. Wakapolrestabes Semarang AKBP Raden Setijo Hasto mengatakan, sesuai aturan angkutan umum harus menggunakan pelat polisi berwarna kuning.

Jika taksi online beroperasi menggunakan pelat hitam menurutnya hal ini sama dengan melanggar Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Oleh karenanya, pihaknya memastikan akan mengambil tindakan terhadap mobil pribadi yang digunakan untuk angkutan umum. Meski demikian, ia memastikan penindakan tak akan dilakukan secara sembarangan.

Tindakan tersebut akan dilakukan berdasarkan bukti di lapangan.

“Tidak bisa sembarangan menilang. Harus ada bukti kalau kendaraan pelat hitam itu sudah berbayar dari penumpang. Jadi ada buktinya di HP (hand phone) kalau sudah berbayar dari penumpang,” katanya.

Menurutnya, sopir taksi konvensional bisa membantu aparat kepolisian, dengan menginformasikan mana saja kendaraan yang diindikasikan melanggar.

Penegasan ini juga disampaikan Setijo Hasto saat audiensi dengan pengusaha angkutan umum di Kantor Gubernuran Jalan Pahlawan, Jumat (8/9/2017) petang.

Hasto memastikan, aturan ini telah diberlakukan. Sejauh ini pihaknya telah melakukan penindakan terhadap 128 mobil pelat hitam yang terbukti menarik penumpang. Ia berharap kebijakan penertiban tersebut bisa menjadi yurisprudensi bagi kondisi hukum ke depan.

Saat ditanya dengan kondisi ojek online yang juga mengenakan pelat hitam, pihaknya mengaku belum jauh membahas ke ranah tersebut. Ia menyebut, ojek sementara masih menjadi kebutuhan besar masyarakat.

“Mungkin ke depan ke arah sana. Sementara masih di kendaraan roda empat. Namun semua arahnya menuju tertib seperti yang disampaikan Gubernur,” tandas Hasto.

Editor : Ali Muntoha

Sopir Mobil Ini Nyaris Digebuki Massa Demo Tolak Taksi Online di Kantor Gubernuran

Polisi mengamankan mobil yang diduga taksi online yang dikepung sopir taksi konvensional yang tengah berunjukrasa di depan Kantor Gubernur Jateng, di Jalan Pahlawan Semarang, Kamis (7/9/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Kericuhan pecah di tengah aksi unjuk rasa menolak taksi online, yang digelar di depan Kantor Gubernuran, Jalan Pahlawan, Semarang, Kamis (7/9/2017). Sebuah mobil yang diduga taksi online dikepung para demonstrans dan sopirnya nyaris menjadi bulan-bulanan massa.

Mobil berwarna silver itu dikepung lantaran sopirnya menaikkan penumpang di Jalan Pahlawan. Mobil yang diduga taksi online itu membuat para sopir taksi konvensional berang dan langsung mengejar, menghentikan mobil, dan menggebrak-gebrak kaca dan body mobil.

”Donke..donke sopire…(turunkan sopirnya), ini bukti nyata,” teriak demonstran. Ada juga yang berteriak ”bakar…bakar”.

Beruntung polisi yang tengah menjaga aksi demo, langsung mengamankan mobil beserta sopirnya dari amukan demonstran. Sejumlah sopir taksi juga mencoba menenangkan rekannya yang tengah marah.

Mobil tersebut kemudian dikawal polisi meninggalkan lokasi demo. Polisi juga mengamankan tiga demonstrans yang diduga sebagai provokator. Setelah dimintai identitas, tiga orang itu kembali ke kerumunan massa pengunjukrasa.

Kapolrestabes Semarang AKBP Yuswanto Ardi mengatakan, para pengunjukrasa diberi waktu melakukan aksi hingga pukul 18.00 WIB. Setelah itu mereka harus membubarkan diri.

Baca : Sopir Taksi se-Jateng Geruduk Kantor Gubernuran, Mereka Minta Ganjar Lakukan Ini

Para sopir taksi yang datang dari berbagai daerah itu memang sempat mengancam akan menginap, sebelum ditemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan tuntutannya dipenuhi. Namun Gubernur Ganjar tengah berada di Jakarta.

Asisten Ekonomi Pembangunan, Priyo Anggoro yang menemui perwakilan demonstran memberi kabar jika Ganjar Pranowo akan menemui mereka pada Jumat pukul 16.00 WIB. Setelah beberapa lama, mereka kemudian berangsur-angsur membubarkan diri.

Saat aksi berlangsung juga dilakukan saweran antarsopir taksi untuk membeli makanan dan minuman. Pasalnya, beberapa sopir taksi yang datang dari luar kota tak membawa bekal.

”Kami saweran seadanya, kami kumpulkan uang untuk beli makan dan minum. Nanti jadinya bisa makan minum bersama -sama,” ungkap Purnomo salah satu pengemudi taksi. 

Editor : Ali Muntoha

Dishub Pastikan yang Bakal Mengaspal di Pati Bukan Taksi Online

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pati – Beredar rumor yang menyebutkan, Pati akan memiliki taksi online yang siap mengaspal dalam waktu dekat. Namun, rumor itu ditepis Kepala Seksi Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pati Heru Suyanta.

“Tepatnya bukan taksi online ya, tapi taksi reguler, umum. Ada delapan unit taksi yang sudah diajukan pengusaha kepada kami,” ujar Heru kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/8/2017).

Taksi tersebut akan mangkal di sejumlah titik di kawasan Pati Kota, dengan operasional di seluruh daerah di Jawa Tengah. Salah satu yang diperbolehkan Dishub untuk mangkal, antara lain hotel, rumah sakit, dan tempat strategis yang tidak bersinggungan dengan angkutan umum.

Syarat itu diberlakukan agar tidak terjadi bentrok dengan angkutan umum. Kendati beda segmen, tetapi pihaknya perlu mempertegas aturan tersebut supaya keberadaan taksi dan angkutan umum bisa berjalan bersamaan.

“Surat perintah izin operasional (SPIO) sudah turun, tinggal kelengkapan lain ada yang belum. Mungkin sedang proses,” katanya.

Heru membocorkan, taksi yang akan beroperasi di Pati menggunakan mobil Avanza. Untuk melengkapi syarat, dua kursi di bagian belakang Avanza harus dihilangkan agar seperti taksi pada umumnya.

Sejumlah syarat seperti desain dan cat khusus, lampu dan atribut yang menunjukkan mobil tersebut sebuah taksi juga harus dipenuhi pemohon. Seperti angkutan pada umumnya, taksi yang akan mengaspal di Pati menggunakan pelat kuning.

Editor : Ali Muntoha