Syawalan, Warga Demaan Jepara Gelar Panjat Pinang di Laut

Sejumlah warga di Jepara mengukti panjat pinang yang digelar di laut, Minggu (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Selain lomban atau larungan kepala kerbau untuk merayakan syawalan, adapula acara unik yakni panjat pinang dilaut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh warga yang berada di Kelurahan Demaan RT 3/5, Kecamatan Jepara, Minggu (2/7/2017). Acara panjat pinang laut ini tak jauh beda dengan panjat pinang konvensional. Sekelompok orang berusaha meraih hadiah yang diletakan diatas bambu berlumur pelumas, yang dipancang di dalam air.

Hanya saja, untuk memanjatnya perlu usaha lebih keras. Lantaran, air laut yang terkena pelumas tak ayal menyebabkan bambu semakin licin.

Dimas, seorang peserta lomba tersebut mengaku kesusahan memanjat bambu setinggi lebih kurang 10 meter itu. 

“Wah susah, soalnya diolesi oli cair dan oli padat. Tapi tidak apa-apa, seru,” katanya.

Menurutnya, lomba yang diadakan setiap tahun bertujuan merekatkan rasa kekeluargaan antar penduduk. 

Ketua Panitia Panjat pinang laut Kandir mengatakan, kegiatan ini digagas oleh ikatan remaja kampung. Tujuannya memeriahkan syawalan.

“Dilakukan dilaut karena di kampung kami sudah tidak ada lahan lagi. Rumahnya kian padat,” terangnya.

Disamping itu, kegiatan ini juga dalam rangka mensyukuri berkah yang diperoleh warga dari laut. Lantaran, sebagian besar penduduknya merupakan nelayan, yang menggantungkan penghidupannya dari mencari ikan. 

Ia menyebut, kegiatan tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh masyarakat dan dibantu oleh pengusaha setempat.  “Kalau total dana sekitar Rp 4 juta. Hadiahnya tak seberapa memang. Tapi tujuan dari kegiatan ini untuk merekatkan kekeluargaan warga yang penting bisa tercapai,” tutur dia.

Editor: Supriyadi

Cantrang Dibatasi, Panitia Sedekah Laut Rembang Sambat

Sejumlah nelayan mengikuti acara grebek syawalan Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Adanya  pembatasan terhadap operasi jaring cantrang oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) pusat, kini berdampak pada aktivitas seluruh kegiatan nelayan. Salah satunya adalah berkurangnya kelompok nelayan dalam perayaan grebek syawalan yang biasa digelar secara rutin oleh para nelayan pesisir Desa Tasing Agung Rembang.

Ketua Panitia penyelenggara Pujianto mengatakan, pelarangan cantrang mengurangi aktifitas dan pendapatan para nelayan di Rembang.Hal itu memberikan dampak, berkurangnya jumlah peserta perayaan grebek syawalan tahun ini.Meski begitu, hal tersebut juga tak menghilangkan seluruh hiburan yang biasa diadakan.

Hanya saja pada rentetan peringatan sedekah laut kali ini, jumlahnya ada yang dikurangi. Selain itu, panitia memilih mengadakan hiburan yang murah dibandingkan tahun sebelumnya.

“Setelah mengadakan rapat, kami memutuskan untuk tetap mengadakan hiburan seperti ketoprak, dangdut, dan yang lainnya tapi tetap hiburan yang lebih murah biayanya,” jelasnya.

Pria yang akrab dengan panggilan Antok itu menyebutkan, jika jumlah peserta tidak lebih dari 60 peserta atau kelompok. Hal itu jauh dibawah jumlah peserta pada tahun-tahun sebelumnya yang diikuti lebih dari 200 peserta atau kelompok.

“Jumlah pesertanya menyusut banyak mas, kalau tahun lalu lebih dari 200 peserta. Tetapi tahun ini, hanya sekitar 60 peserta atau kelompok saja” pungkas Antok.

Berdasarkan pantauan, arus lalu lintas pantura, terpaksa dialihkan melalui jalan lingkar Waru – Galonan – hingga Tireman, atau pertigaan soklin, untuk menghidarkan macet keramaian perayaan grebek syawalan.

Editor: Supriyadi

Ini Dia Sejarah Tradisi Lomban Jepara yang Wajib Kamu Tahu

Para nelayan dan warga ikut memeriahkan pesta lomban Jepara, Minggu (2/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Hari Raya Lebaran di Jepara tak hanya dirayakan pada tanggal 1 Syawal. Tujuh hari berselang, pesta berlanjut dengan tradisi syawalan yang dirayakan dengan pembuatan penganan tradisional kupat-lepet dan pesta Lomban. Lalu bagaimana sejarah tradisi tersebut bermula?

Sumber literatur yang diperoleh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara menyebut, tradisi lomban telah berlangsung pada paruh kedua abad XIX. Hal ini sesuai dengan tulisan pada majalah bertajuk Slompret Melayu yang terbit pada 12 dan 17 Agustus 1893. 

Gunungan Kupat Lepet Lomban Jepara Ludes Diserbu Warga dalam Hitungan Menit

Adapun tradisi larung kepala kerbau dimulai sekitar tahun 1920, saat Kelurahan Ujung Batu dikepalai oleh Haji Sidik. Pada masa itu, sebelum tumbal kepala kerbau dilarung, akan didoakan oleh pemuka agama setempat. Lantas, para nelayan akan mengangkat sesaji tersebut keatas kapal dan diantar ke tengah laut, menuju Teluk Jepara. 

Di tengah laut, sesaji itu akan dilempar dan diperebutkan oleh para nelayan. Sesuai kepercayaan, mereka yang berhasil mendapatkan kepala kerbau tersebut akan mendapatkan kemudahan rezeki dari Tuhan. 

Kasi Penangkapan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Paat Efendi mengatakan, dulu pada tahun 1970an, partisipasi nelayan sangat tinggi. Hal itu karena, semua persiapan, dari akhir hingga selesai dilakukan oleh mereka. 

“Namun sekarang nelayan hanya sebagai penonton saja. Keterlibatan nelayan dalam proses persiapan menurun. Namun dari sisi peserta ada sekitar 200 kapal yang mengikuti acara tersebut,” tuturnya. 

Meriah, Pesta Lomban Jepara Diikuti Ratusan Nelayan dan Warga

Dikatakannya, hingga kini masyarakat nelayan masih percaya ketika mengikuti lomban akan mendapatkan kelimpahan rezeki. “Harapannya kedepan keterlibatan nelayan bisa lebih ditingkatkan,” ungkapnya.

Kini tradisi lomban di Jepara tak hanya dinikmati warga Kelurahan Ujung Batu saja. Event tersebut, saat ini menjadi daya tarik wisata yang digarap secara serius oleh Pemda Jepara.

Editor: Supriyadi

Gunungan Kupat Lepet Lomban Jepara Ludes Diserbu Warga dalam Hitungan Menit

Warga langsung merebut gunungan kupat lepet, usai pemotongan secara simbolis oleh Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Keriaan syawalan tak hanya berakhir dengan pesta lomban atau larungan kepala kerbau, di laut. Setelah acara tersebut, dilanjutkan dengan Festival Kupat Lepet di Pantai Kartini, Minggu (2/7/2017).Kontan saja acara tersebut menyedot perhatian pengunjung wisata yang tengah berliburan di obyek wisata tersebut. Seperti tahun sebelumnya, festival kupat lepet ditandai dengan rebutan gunungan berisi penganan yang terbungkus dengan janur.

Setelah Bupati Jepara memotong kupat lepet secara simbolis, gunungan berisi lebih kurang 1438 penganan itu, langsung ludes diserbu warga.

Meriah, Pesta Lomban Jepara Diikuti Ratusan Nelayan dan Warga

Seperti Siti Solekhah (45),yang menyempatkan datang dari Purwodadi untuk mengikuti acara itu. “Kabarnya bisa buat tambah rezeki, jadi saya ikut merebut gunungan tersebut. Saya sudah ikut acara ini selama tiga tahun terakhir,” ujarnya.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menyatakan, rangkaian acara syawalan tersebut sebagai bentuk suka cita dan syukur nelayan Jepara. Dengan ritual tersebut, warga berharap mendapatkan rezeki yang melimpah. 

Panitia acara Festival Kupat Lepet Rustam Eka Jalu menyebut, penganan tradisional kupat dan lepet mengandung filosofi yang mendalam. Ia mengatakan, setelah berpuasa, diharapkan semua kesalahan dapat dimaafkan.

“Harapannya setelah lebaran semua bentuk kesalahan mendapatkan pengampunan,” ungkapnya. 

Editor: Supriyadi

Ratusan Polisi Bakal Amankan Lomban di Laut Jepara

Kapal nelayan melintas di Pelabuhan Ujung Batu, Sabtu (1/7/017), sehari sebelum pelaksanaan tradisi lomban. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara akan menerjunkan 300 personel untuk mengamankan prosesi syawalan atau lomban, esok Minggu (2/7/2017). Selain itu, Polair Polda Jateng juga berencana menurunkan bantuan pasukan pada tradisi tahunan itu. 

“Dari polres, untuk personel kita akan menurunan lebih kurang 300 personel. Selain itu, kita juga akan dibantu dari Satpol PP, TNI, melibatkan Basarnas dan pemda. Untuk gabungan ya sekitar 300 lebih, nanti ada tupoksinya masing-masing. Kita juga ada Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Polair Polda Jateng, sekitar dua kapal besar,” kata Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho, Sabtu (1/7/2017). 

Ia menekankan pada para nelayan dan warga yang mengikuti acara tersebut, agar menaati peraturan. Satu di antaranya menggunakan jaket pelampung atau life vest saat menumpang kapal. Di samping itu, pihaknya juga telah menyosialisasikan agar pemilik kapal tidak mengangkut orang melebihi dari kapasitasnya.

“Nanti juga kami akan ingatkan lagi pada saat acara berlangsung agar memakai pelampung dan muatan penumpang tidak melebihi 20 orang,” ujarnya. 

Kapolres menuturkan, pihaknya juga akan menggandeng Polres Demak, Rembang dan sekitarnya. Hal itu karena peserta lomban diperkirakan juga berasal dari wilayah tersebut. 

Ia mengungkapkan, konsentrasi penambahan keamanan fokus pada pantai-pantai penyelenggara acara. Di antaranya, Pantai Kartini, Tempat Pelelangan Ikan, Pantai Bandengan dan Pulau Panjang.

Penempatan pasukan juga dilakukan di sumber-sumber kemacetan. Termasuk penempatan personel di perempatan yang menuju Pantai Bandengan.

“Untuk antisipasi kemacetan kita sudah buat satu jalur untuk Pantai Kartini. Di Pantai Bendengan dialihkan belok kiri ke Kedung Cino untuk keluarnya,” tutup Yudianto.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Jepara Mendadak Jadi Jagal Kerbau

Bupati Jepara Ahmad Marzuki saat bersiap untuk menyembelih kerbau di rumah potong hewan. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi jadi jagal kerbau dadakan di Rumah Potong Hewan (RPH), Sabtu (1/7/2017). Ini dilakukannya untuk menyongsong perayaan Syawalan atau lomban yang akan diselenggarakan esok, Minggu (2/7/2017). 

Sebelum menjadi jagal Marzuqi bersama jajaran pemkab dan unsur muspika, mengikuti prosesi kirab kerbau. Acara itu dimulai dari Tempat Pelelangan Ikan Ujung Batu dan berakhir di RPH Jepara, Sabtu (1/7/2017) pagi tadi. 

Setibanya di RPH, bupati lantas mengeksekusi kerbau yang telah disiapkan. Adapun bagian kepala hewan tersebut rencananya akan dilarung di laut pada acara lomban. Sedangkan dagingnya akan dibagikan kepada warga.

Dalam sambutannya, ia mengatakan prosesi tersebut sebagai bentuk syukur masyarakat nelayan Jepara atas hasil laut yang diberikan Tuhan.

“Selain sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia Allah, prosesi kirab kerbau dan larungan juga bermanfaat menggugah rasa senang bersedekah. Karena sedekah dapat menjadi penolak bala’ (malapetaka),” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara Deni Hendarko mengatakan, kirab tersebut dimaksudkan satu di antaranya untuk menarik partisipasi masyarakat. 

Selain di Jepara, ia mengungkapkan, pesta Syawalan juga di gelar di Karimunjawa. “Adapula penyembelihan hewan, namun kita hanya membantu untuk menyediakan dua ekor kambing di pulau tersebut,” tutur Deni.

Editor : Ali Muntoha

Pantai Kartini Jepara Optimistis Capai Target Rp 800 Juta

Pintu masuk dan loket di pantai Kartini dipenuhi pengunjung. Pihak pengelola pantai optimistis bisa lampaui target yang dipatok Pemkab Jepara sebesar Rp 800 juta per tahun. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pintu masuk dan loket di pantai Kartini dipenuhi pengunjung. Pihak pengelola pantai optimistis bisa lampaui target yang dipatok Pemkab Jepara sebesar Rp 800 juta per tahun. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Manajer Pantai Kartini Jepara, Joko Wahyu mengemukakan, selama pekan Syawalan, pengunjung didominasi warga luar kota di antaranya Demak, Kudus, Semarang, Ungaran, Magelang dan beberapa daerah lain yang tidak ada pantai. Meski demikian, pengunjung lokal Jepara juga cukup banyak.  Lanjutkan membaca

Wisatawan Jepara Membludak, Aparat Buat Rekayasa Lalin

Pengunjung membludak di tempat-tempat wisata di Kabupaten Jepara, aparat membuat skema arus satu arah, Sabtu (25/7/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Pengunjung atau wisatawan yang datang dari dalam dan luar kota Jepara ke sejumlah tempat wisata di Kabupaten Jepara membludak sejak pekan lebaran hingga hari ini, Sabtu (25/7/2015). Untuk mengatasi kemacetan, aparat dari kepolisian dan dinas perhubungan membuat rekayasa lalu lintas dengan skema jalur satu arah.

Kasatlantas Polres Jepara AKP Andhika Wiratama menerangkan, pihaknya membuat skema arus satu arah di sejumlah arah ke tempat wisata di Jepara, terutama di tempat wisata Pantai Bandengan dan Kartini. ”Jika pada hari biasa jalur masuk ke tempat wisata dapat dilalui dua arah, maka untuk momen pekan Syawalan dan tradisi Lomban ini kami atur untuk satu arah,” ujar Andhika.

Dia menjelaskan, arus searah untuk jalur masuk Pantai Kartini melalui pertigaan Bulu hingga memasuki pintu masuk. Bila pengunjung wisata meninggalkan lokasi pantai melalui pintu keluar dan wajib belok ke kiri melalui jalan Cik Lanang. ”Ini dilakukan agar pengunjung wisata yang membeludak tak terjadi kemacetan,” katanya.

Sedangkan di Pantai Bandengan, pengunjung wisata dapat melalui Kelurahan Bulu dengan mengikuti petunjuk arah yang disiapkan. Jalur tersebut menyambung hingga pertigaan Stadion GBK, terus ke arah utara hingga ke arah Pantai Bandengan. Sedangkan pengunjung wisata yang keluar meninggalkan area wisata, dapat melalui jalan Desa Kedungcino hingga jalur utama. ”Kami telah menempatkan navigasi di lokasi-lokasi strategis seperti di perempatan dan pertigaan. Misalnya di pertigaan Bulu,” imbuhnya.

Pihaknya menempatkan pula puluhan hingga ratusan personel untuk mengatur lalu lintas. Ini untuk mengurai apabila terjadi kemacetan. (WAHYU KZ/TITIS W)

Prosesi Lomban Gunakan Kepala Kerbau Bertanduk Panjang

Amin Ayahudi Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Amin Ayahudi Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Kepala Bidang Kebudayaan pada Disparbud Amin Ayahudi menerangkan, mengenai perbedaan jadwal pelaksanaan tersebut, tahun-tahun sebelumnya juga pernah terjadi. Bahkan, tak hanya pernah diundur namun juga pernah maju dari jadwal pelaksanaannya yang biasanya satu pekan setelah hari raya Idul Fitri. Lanjutkan membaca

Jadwal Pelaksanaan Lomban Jepara Mundur, Tak Masalah

Amin Ayahudi Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Amin Ayahudi Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Sementara itu, terkait dengan mundurnya jadwal pelaksanaan lomban, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara (Disparbud) Amin Ayahudi menjelaskan, sejauh ini tidak ada masalah. Sebab, mundurnya jadwal tersebut telah dilakukan pertimbangan yang matang. Lanjutkan membaca

40 Persen Target Pendapatan Pertahun Jepara Diperoleh dari Pekan Syawalan

Zamroni Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Zamroni Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Tiga objek kawasan pantai yang menjadi sasaran wisata pekan Syawalan dan lomban yakni pantai Bandengan, pantai Kartini dan Benteng Portugis biasanya mampu meraih pendapatan sekitar 40 persen dari target pendapatan selama satu tahun. Jika satu tahun ketiga objek wisata tersebut ditarget total Rp 2,4 miliar, di pekan Syawalan dan lomban biasanya mampu mendapatkan Rp 1 miliar lebih. Lanjutkan membaca

Puncak Syawalan, Kendaraan Dilarang Melintas di Pantura Kota Rembang

Sejumlah pengendara melintas di jalur Pantura Kota Rembang tepatnya di kawasan TRPK Dampo Awang Beach pada Kamis (23/7/2015). Selama dua hari atau tepatnya mulai Jumat (24/7/2015) hingga Sabtu (25/7/2015) pengguna kendaraan dilarang melintas di jalur setempat. (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

Sejumlah pengendara melintas di jalur Pantura Kota Rembang tepatnya di kawasan TRPK Dampo Awang Beach pada Kamis (23/7/2015). Selama dua hari atau tepatnya mulai Jumat (24/7/2015) hingga Sabtu (25/7/2015) pengguna kendaraan dilarang melintas di jalur setempat. (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

REMBANG – Demi mengantisipasi kemacetan parah saat puncak perayaan Syawalan, aparat kepolisian bakal menerapkan larangan melintas di jalur Pantura Kota Rembang. Polisi bakal membuat rekayasa lalu lintas di jalur setempat selama dua hari, tepatnya pada Jumat (24/7/2015) hingga Sabtu (25/7/2015) untuk mengantisipasi macet parah di ruas tersebut. Potensi kemacetan arus lalu lintas cukup tinggi mengingat di waktu tersebut berlangsung puncak perayaan Syawalan dan sedekah laut. Lanjutkan membaca

101 Kapling Pedagang Syawalan di TRPK Dampo Awang Beach Tak Terjual

Sejumlah pedagang berjualan di kapling Syawalan yang disediakan oleh Dinbudparpora di kawasan Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK) Dampo Awang Beach. Dari total 183 kapling yang disediakan, sebanyak 101 diantararnya tak terjual alias hanya 83 kapling yang laku terjual. (MuriaNewsCom/AHMADFERI)

REMBANG – Sebanyak 183 kapling yang disediakan oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparora) pada momen Syawalan ternyata tidak seluruhnya terjual. Sebab ada 101 kapling pedagang yang disiapkan di kawasan Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK) Dampo Awang Beach setempat tercatat tidak laku. Hal ini terungkap saat Launching Syawalan di halaman parkir TRPK Dampo Awang Beach pada Kamis (23/7/2015).

”Dari total kapling yang kita siapkan sebanyak 184 kapling, yang terjual dan ditempati pedagang sebanyak 83 kapling, yang tidak terjual sebanyak 101 kapling, sebagian besar yang menempati kapling adalah pedagang berasal dari kabupaten Rembang dengan menjual barang berupa gerabah, souvenir, kuliner, pakaian, mainan anak dan oleh-oleh,” ujar Sunarto, Kepala Dinbudparpora, Kamis (23/7/2015).

Sunarto mengatakan, tema syawalan tahun ini adalah ”Melalui acara Syawalan 2015, kita tingkatkan sarana promosi pariwisata Kabupaten Rembang”. Menurutnya, agenda tahunan ini bermaksud dan memiliki tujuan utama untuk melestarikan budaya dan tradisi pada bulan Syawal. Selain itu, acara ini juga diharapkan mampu menumbuhkembangkan rasa cinta terhadap budaya daerah.

”Selain itu kami juga berharap agenda syawalan ini bisa meningkatkan kunjungan wisata dalam rangka untuk menunjang PAD (Pendapatan Asli Daerah). Pelaksanaan Syawalan akan digelar selama lima hari, tepatnya dimulai pada Kamis (23/7/2015) hari ini sampai dengan Senin (27/7/2015). Agar kegiatan berlangsung sukses, kita telah melakukan berbagai persiapan dengan melakukan koordinasi dengan instansi terkait,” kata Sunarto. (AHMAD FERI/TITIS W)

Syawalan di Gua Terawang Dimeriahkan Musik

Sejumlah pengunjung yang hadir untuk menikmati pesona wisata alam Gua Terawang dengan di hibur musik reggae. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah pengunjung yang hadir untuk menikmati pesona wisata alam Gua Terawang dengan di hibur musik reggae. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA –  Momen hari raya masih terasa pada masyarakat Blora, khususnya di wilayah Kecamatan Todanan. Pada momen Lebaran tahun ini masyarakat sekitar Todanan mengadakan Gebyar Syawalan di wisata Gua Terawang dengan dimeriahkan musik reggae. Hiburan tersebut digelar di area wisata Gua Terawang, Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan.

“Setiap tahun pasti ada acara Gebyar Musik Syawalan dan ini sudah menjadi angenda rutin selama Lebaran di area wisata Gua Terawang,” jelas Ketua Panitia Gebyar Syawalan, Soni, Minggu (19/7/2015).

Menurutnya, agenda Gebyar Syawalan di Gua Terawang diselenggarakan secara rutin Karang Taruna desa setempat. “Acara ini setiap tahunya digelar setiap dua hari pada H+1 hingga H+2 Lebaran. Tiap tahun grup musik yang dihadirkan berbeda-beda. Dan untuk tahun ini kami gelar dengan musik reggae. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya kami yang mendatangkan orkes melayu dari daerah Jawa Timuran,” ungkapnya.

Pihaknya berharap dengan kegiatan rutin yang diselenggarakan pada tiap tahun ini bisa terus berlangsung dengan menampilkan inovasi-inovasi baru agar bisa menarik pegunjung.

“Kami barharap dengan adanya gebyar musik di area Gua Terawang ini sedikit banyak bisa membawa dampak positif untuk mempromosikan wisata ini,” imbuhnya. (PRIYO/SUWOKO)