Terpeleset di Sungai Lusi, Bocah Berusia 11 Tahun di Kedungrejo Grobogan Dicari Tim SAR

Warga dan anggota Tim SAR gabungan berada di pingggir aliran sungai Lusi di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, untuk mencari korban tenggelam Minggu (9/4/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Belasan anggota Tim SAR gabungan menyisir aliran sungai Lusi di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Minggu (9/4/2017). Tindakan ini dilakukan menyusul adanya laporan anak tenggelam di sungai tersebut sekitar pukul 08.00 WIB. Korban tenggelam seorang bocah berusia 11 tahun bernama Moh Multazam Arrsyad, warga setempat.

Informasi yang didapat menyebutkan, pagi itu korban sedang bermain di pinggiran sungai bersama tiga teman sebanya. Yakni, Kaidar, Moh Faruq, dan Rokhim.

Tenggelamnya korban terjadi saat hendak mengambil sebongkah tanah dipinggiran sungai. Usai mengambil tanah, korban terpeleset dan tercebur ke dalam sungai.

Korban yang tidak bisa berenang sempat berteriak minta pertolongan. Salah seorang temannya yang berdiri di bibir sungai sebenarnya sudah berupaya menarik tangan korban. Namun, setelah pegangan tangan terlepas karena terhempas arus air.

Selanjutnya, rekan korban berteriak minta pertolongan warga. Saat warga berdatangan ke lokasi, korban sudah tidak terlihat karena terseret arus air.

Beberapa warga sempat pula menyelam di sekitar lokasi jatuhnya korban. Namun, hingga tengah hari hasilnya masih nihil.

“Kita masih melakukan pencarian bersama tim SAR. Semoga korban bisa cepat kita temukan,” kata Kapolsek Purwodadi AKP Sugiyanto.

Editor: Supriyadi

Mayat Pengiring Jenazah yang Hanyut di Sungai Lusi Grobogan Akhirnya Ditemukan

Jenazah yang hanyut di Sungai Lusi Grobogan akhirnya ditemukan pada Juma (10/2/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Pencarian dua korban tenggelam di Sungai Lusi yang dilakukan Tim SAR Gabungan akhirnya tuntas, Jumat (10/2/2017). Hal ini menyusul ditemukannya satu korban terakhir sekitar pukul 10.15 WIB.

Korban berjenis kelamin laki-laki ini adalah Jumeno (28), warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari. Korban ini merupakan pengiring jenazah menyeberangi sungai yang terseret arus air pada Rabu (7/2/2017). Peristiwa tragis ini terjadi di Dusun Ndoro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan.

Mayat Jumeno ditemukan sekitar 500 meter di selatan jembatan Bandang Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari. Mayat korban sebelumnya berhasil ditemukan warga setempat yang sedang berada di pinggiran sungai. Saat itu, mayat yang dalam posisi tengkurap dalam air tersebut sudah mengambang di tepian sungai.

Begitu melihat ada mayat di pinggir sungai, warga segera menghubungi Tim SAR yang saat itu tengah menyisir di sekitar lokasi. Selanjutnya, mayat tersebut dievakuasi ke darat oleh Tim SAR Gabungan.

Saat ditemukan, kondisi korban yang mulai membusuk masih dibalut pakaian. Yakni, celana panjang warna hitam dan kaos singlet warna putih. “Lokasi penemuan berada di perengan kebon milik Pak Moch Amin. Saat diketahui warga, posisi mayat sudah ada di pinggiran sungai. Jarak dari tempat korban tenggelam dan lokasi penemuan sekitar 5 km,” terang Susilo Utomo, Anggota Ubaloka Kwarcab Grobogan yang ikut membantu evakuasi korban tenggelam bersama Tim SAR Gabungan.

Sekitar 30 menit sebelumnya, tim SAR juga berhasil mengevakuasi satu korban tenggelam. Korban berjenis kelamin perempuan ini ditemukan di wilayah Dusun Ndoro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan. Lokasi penemuan mayat ini berjarak sekitar 1 km di sebelah barat tempat hanyutnya satu pengiring jenazah yang menyeberangi Sungai Lusi, tiga hari lalu.

Mayat yang ditemukan ini adalah korban tenggelam bernama Lasinah (70), warga Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan yang tenggelam pada Rabu (7/2/2017) lalu. Jarak tempat penemuan mayat dan lokasi tenggelamnya Lasinah ini sekitar 10 km.

“Dua korban terakhir sudah berhasil kita temukan. Setelah diperiksa tim medis dan pihak kepolisian, dua jenazah langsung diserahkan pada keluarganya untuk dimakamkan,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Menurutnya, dengan ditemukannya dua korban pada hari ini maka kegiatan pencarian dinyatakan berakhir. Sebab, tiga korban tenggelam semuanya sudah berhasil ditemukan. Satu korban tenggelam lainnya berhasil ditemukan lebih dulu di dekat Bendung Klambu pada Kamis (9/2/2017).

Editor : Kholistiono

Satu Korban Tenggelam di Sungai Lusi Grobogan Berhasil Ditemukan Lagi

Petugas saat melakukan evakuasi terhadap jenazah seorang perempuan yang tewas tenggelam di Sungai Lusi, Jumat (10/2/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya pencarian dua orang tenggelam di Sungai Lusi hari ketiga akhirnya membuahkan hasil, Jumat (10/2/2017). Satu korban ini ditemukan di wilayah Dusun Ndoro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan. 

Lokasi penemuan mayat ini berjarak sekitar 1 Km di sebelah barat tempat tenggelamnya satu pengiring jenazah yang menyeberangi Sungai Lusi, tiga hari lalu. “Iya ini sudah ada satu korban ditemukan sekitar pukul 09.0 WIB. Korban seorang perempuan,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Dari jenis kelaminnya, diperkirakan mayat ini adalah Lasinah (70), warga Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan yang tenggelam Rabu (7/2/2017). Saat ini, mayat yang sudah dievakuasi tersebut sedang diidentifikasi pihak kepolisian.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum dievakuasi Tim SAR, sejumlah warga sudah melihat keberadaan mayat yang tersangkut pada bekas rumpun bambu.Hanya saja, warga tidak bisa melakukan evakuasi karena terbatasnya peralatan. Akhirnya, warga menghubungi Tim SAR untuk mengabarkan adanya mayat yang sudah terlihat dari kejauhan tersebut.

“Lokasi mayat yang ditemukan tadi memang agak sulit dievakuasi. Soalnya, nyangkut di rimbunan bambu yang posisinya agak ke tengah sungai,” kata Susilo Utomo, Anggota Ubaloka Kwarcab Grobogan yang ikut membantu evakuasi bersama Tim SAR Gabungan.

Dengan ditemukan mayat perempuan ini, tinggal satu korban lagi yang masih dicari. Yakni, korban tenggelam bernama Jumeno (28), warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari. Pria ini merupakan pengiring jenazah menyeberangi sungai yang terseret arus air. 

Editor : Kholistiono

Pencarian Pengiring Jenazah yang Hanyut di Sungai Lusi Kembali Dilanjutkan

Upaya pencarian dua orang yang tenggelam di Sungai Lusi kembali dilanjutkan, Jumat (10/2/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya pencarian dua orang yang tenggelam di Sungai Lusi kembali dilanjutkan, Jumat (10/2/2017). Untuk pencarian hari ketiga ini, Tim SAR berpencar di dua titik.

“Selama dua hari kita sudah melakukan pencarian tetapi belum berhasil. Pagi ini, pencarian korban kita lanjutkan lagi. Tim SAR terbagi jadi dua regu,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Dijelaskan, tim pertama akan menyisir di sekitar Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan. Di lokasi ini, ada satu orang tenggelam atas nama Lasinah (70).

Regu kedua melangsungkan pencarian di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan. Di lokasi ini, ada pengiring jenazah menyeberangi sungai yang terseret arus air. Korban tercatat atas nama Jumeno (28), warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari.

Sebelumnya, pencarian dibagi menjadi tiga titik sesuai jumlah korban tenggelam yang belum ditemukan. Namun, satu orang tenggelam lainnya sudah berhasil ditemukan di dekat Bendung Klambu, Kamis (9/2/2017). Orang yang tenggelam ini adalah pelaku pencurian barang di jok motor seorang petani di Desa Putat, Kecamatan Purwodadi.

Lantaran kepergok aksinya, pencuri akhirnya menceburkan diri ke dalam sungai.Upaya pencarian korban tenggelam pada hari ketiga juga mendapat dukungan dari beberapa pihak. Antara lain dari Tim Basarnas Pos Jepara, Ubaloka, kepolisian, TNI dan warga.

Editor : Kholistiono

Warga Minta Tanda Pengukur Ketinggian Sungai Lusi Dipasang Lagi

 Pada pondasi lama ini, sebelumnya terdapat tanda pengukur ketinggian Sungai Lusi (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Pada pondasi lama ini, sebelumnya terdapat tanda pengukur ketinggian Sungai Lusi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga meminta agar dinas terkait memasang lagi tanda pengukur ketinggian Sungai Lusi yang ada di sebelah utara Kota Purwodadi. Permintaan itu dilakukan, lantaran tanda ketinggian air itu dinilai sangat penting. Sebab, dengan adanya tanda itu warga bisa melihat kondisi riil ketinggian air dengan mudah.

“Dengan adanya tanda itu, kita bisa tahu kondisi sungai masih aman atau sudah membahayakan. Tetapi, sejak beberapa minggu lalu, tanda ketinggian hilang. Kemungkinan hanyut terbawa arus,” kata Cipto, warga di sekitar Sungai Lusi.

Dari pantauan di lapangan, saat ini tanda pengukur elevasi air itu memang sudah tidak terlihat lagi. Tanda ini sebelumnya dipasang menempel pada salah satu pondasi lama yang dulunya dipakai untuk jalur rel kereta api. Pondasi lama ini persis berada di sebelah timur jembatan di atas sungai Lusi.

Bentuk tanda ini seperti penggaris dan angkanya tertulis cukup besar, sehingga mudah dilihat orang. Tanda ini tidak dipasang hingga dasar sungai. Tetapi, mulai dari tengah sampai batas atas elevasi sungai. Angkanya tertulis mulai 5 sampai 10 meter.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono ketika dimintai komentarnya mengakui jika tanda elevasi itu sangat membantu untuk mengetahui kondisi sungai. Baik buat petugas penanggulangan bencana maupun warga.

“Tanda ketinggian air ini ada satu lagi di Kampung Kuripan, Kelurahan Purwodadi. Namun lokasinya tidak dijalur ramai sehingga tidak bisa dilihat lebih banyak orang. Kami akan koordinasi dengan pihak pengairan supaya tanda ini dipasang lagi,”  katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengairan Grobogan Subiyono ketika dimintai tanggapannya menegaskan, wilayah Sungai Lusi itu bukan jadi kewenangannya. Tetapi, kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juwana. “Secepatnya kita akan koordinasi dengan balai besar. Soalnya, itu jadi kewenangan mereka,” katanya.

 Editor : Kholistiono

 

Elevasi Sungai Lusi Mendekati Titik Maksimal, Kota Purwodadi Siaga Banjir

kondisi Sungai Lusi di utara kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya, pagi tadi Rabu (10/2/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

kondisi Sungai Lusi di utara kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya, pagi tadi Rabu (10/2/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kewaspadaan terhadap ancaman banjir saat ini harus lebih ditingkatkan. Khususnya yang tinggal di sepanjang dua sungai besar di kota Purwodadi. Yakni, Sungai Lusi dan Glugu. Kondisi ini dipicu naiknya elevasi sungai itu seiring turunnya hujan deras dalam beberapa hari terakhir.

Dari pantauan di lapangan, kondisi Sungai Lusi di utara kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya. Dimana, elevasi air sudah berkisar 9,5 meter sesuai dengan petunjuk ketinggian air sungai yang berada di sisi timur jembatan utama. Ketinggian air ini cukup rawan karena batas maksimal elevasi Sungai Lusi berkisar 10 meter.

Naiknya elevasi sungai itu menyebabkan sejumlah perkampungan di kawasan kota mulai terancam banjir. Pagi tadi, Rabu (10/2/2016) beberapa jalan kampung di kota mulai tergenang air setinggi 10 sampai 30 cm.

Antara lain, di kampung Jengglong, Jagalan, Jetis, Ngabean, dan Jajar. Meski demikian, belum muncul laporan adanya rumah yang kebanjiran.

”Jalan kampung ini mulai tergenang air sejak Rabu dinihari tadi. Sampai pagi ini ketinggian air terus naik meski belum sempat masuk rumah penduduk,” ujar Habib, warga Kampung Ngabean, Kelurahan Purwodadi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Grobogan Agus Sulaksono menegaskan, ketika elevasi sudah masuk 9 meter, sebagian kawasan biasanya sudah mulai ada yang kebanjiran. Meski demikian, dia meminta supaya warga tetap tenang dan tidak perlu dilanda ketakutan.

Menurut Agus, naiknya elevasi sungai, khususnya Sungai Lusi itu memang sudah diantisipasi jauh hari sebelumnya. Di mana, anggota penanganan bencana sudah diminta siaga serta memonitor elevasi sungai secara rutin. Selain itu, anggota juga sudah menyiapkan peralatan penanganan banjir jika sewaktu-waktu diperlukan.

”Ketinggian air ini memang naik terus meski belum mencapai ambang batas maksimal. Jadi, kita memang siaga terhadap kemungkinan adanya banjir,” kata mantan Kabag Pembangunan itu.

Menurutnya, dari pengalaman banjir dua kali pada akhir tahun 2007 lalu memang bisa dipantau dari tingginya elevasi Sungai Lusi. Di mana, jika elevasi sungai ini tinggi maka aliran air dari Sungai Glugu maupun anakan Sungai Lusi dari arah pegunungan akan tertahan. Akhirnya, air sungai yang tidak bisa masuk ke Sungai Lusi ini akan meluber ke perkampungan penduduk.

Baca juga : Warga Undaan Siap Siaga Hadapi Banjir Luapan Sungai Lusi

Editor : Titis Ayu Winarni

Warga Undaan Diminta Tetap Waspadai Luapan Sungai Lusi

Kondisi Sungai Lusi yang saat ini debit airnya masih rendah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kondisi Sungai Lusi yang saat ini debit airnya masih rendah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Warga yang berada di bantaran Sungai Lusi, khususnya warga Undaan, diminta tetap waspada adanya luapan Sungai Lusi. Hal ini, karena intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir cukup tinggi.

Camat Undaan Catur Widiyatno mengatakan, meski saat ini debit air Sungai Lusi surut, namun tidak menutup kemungkinan akan naik lagi, bahkan meluber, jika intensitas hujan, khususnya di wilayah Purwodadi cukup tinggi.

“Kewaspadaan harus tetap ditingkatkan, karena memang intensitas hujan saat ini cukup tinggi, jadi warga tidak boleh lengah. Karena, dikhawatirkan ketika debit air naik bisa meluap ke pemukiman warga,” ujarnya.

Dalam hal ini, katanya, dirinya bersama warga juga lebih meningkatkan koordinasi terkait kondisi Sungai Lusi. Hal itu, untuk mengantisipasi adanya debit air yang naik.

Salah satu warga Desa Medini, Kecamatan Undaan Sofianto mengatakan, potensi naiknya debit air masih sangat mungkin. Karena musim hujan masih di awal.

“Yang penting, bagi warga Undaan harus bisa waspada. Supaya kejadian banjir di tahun 2007 tidak terulang lagi. Selain itu, tanaman padi yang sudah bersisi juga bisa aman dari hal itu,” katanya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)