Warga Nglobar Grobogan yang Hanyut di Sungai Lusi Ditemukan Tak Bernyawa

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya pencarian terhadap Cipto, warga Desa Nglobar, Kecamatan Purwodadi akhirnya membuahkan hasil. Sekitar pukul 15.00 atau menjelang Asar, mayat pria berusia 38 tahun itu berhasil ditemukan.

Jarak penemuan dengan tiik korban hanyut sekitar 4 km. Mayat yang terapung dipinggiran sungai ditemukan oleh warga yang ikut mendukung proses pencarian.

Warga kemudian mengabarkan penemuan mayat itu pada tim SAR gabungan yang berkonsentrasi melakukan penyisiran disekitar titik hanyut. Selanjutnya, mayat yang mengenakan celana pendek dan kaos panjang warna biru langsung dievakuasi tim SAR gabungan. Setelah dimasukkan dalam kantong, jenazah korban kemudian diserahkan pada pihak keluarganya.

“Alhamdulillah, korban yang dilaporkan hanyut sudah berhasil ditemukan. Rencananya, hari ini juga akan dilakukan proses pemakaman,” kata Kades Nglobar Mugiyono, Sabtu (24/3/2018).

Seperti diberitakan, sehari sebelumnya, korban sempat pamit cari rumput dipinggiran sungai Lusi. Namun, hingga malam hari, korban belum kunjung pulang.

Diduga, korban terpeleset ke sungai saat mencari rumput. Warga setempat sempat melakukan pencarian disekitar aliran sungai tetapi hasilnya nihil. Akhirnya, warga meminta bantuan tim SAR untuk melakukan pencarian.

Setelah mendapat laporan, tim SAR BPBD Grobogan langsung melakukan pencarian di lokasi ditemukannya sabit dan keranjang yang digunakan korban mencari pakan ternak. Upaya pencarian juga mendapat bantuan dari tim Basarnas Pos Jepara yang datang ke lokasi sekitar pukul 13.00 WIB.

Editor: Supriyadi

Diduga Terpeleset saat Cari Rumput, Warga Nglobar Grobogan Hanyut di Sungai Lusi

MuriaNewsCom, GroboganTim SAR BPBD Grobogan didukung relawan dan masyarakat saat ini sedang melakukan pencarian orang hanyut di aliran Sungai Lusi di Desa Nglobar, Kecamatan Purwodadi, Sabtu (24/3/2018). Pencarian dilakukan menyusul adanya warga setempat yang dilaporkan hanyut di sungai.

”Laporan baru siang tadi kita terima. Selanjutnya, kami langsung terjunkan tim untuk melakukan pencarian,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Orang yang dilaporkan hanyut disebutkan bernama Cipto (38). Pria ini diduga hanyut pada Jumat (23/3/2018) sore sekitar pukul 17.00.

Sebelumnya, korban sempat pamit cari rumput di pinggiran sungai Lusi. Namun, hingga malam hari, korban belum kunjung pulang.

Diduga, korban terpeleset ke sungai saat mencari rumput. Warga setempat, sempat melakukan pencarian disekitar aliran sungai tetapi hasilnya nihil.

”Ini tim masih melakukan pencarian. Semoga bisa segera ditemukan,” sambung Masrichan.

Editor: Supriyadi

Bantaran Sungai Longsor, Jalan di Desa Kedungrejo Grobogan Terancam Patah

MuriaNewsCom, GroboganJumlah titik bantaran sungai Lusi di wilayah Grobogan yang terkena longsor makin bertambah. Hal ini menyusul adanya bantaran longsor di Dusun Ngrebo, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi.

Sebelumnya, bantaran longsor sudah terdapat di Kecamatan Ngaringan, Wirosari, Kradenan, Pulokulon, dan Tawangharjo. Selain mengancam pemukiman, longsornya bantaran juga membahayakan infrastruktur jalan dan jembatan.

Longsornya bantaran di Dusun Ngrebo itu berdampak pada fondasi atau talud penahan bahu jalan. Secara bertahan, fondasi penahan itu tergerus dan saat ini panjang gerusan sudah berkisar 10 meter.

Jika tidak segera ditangani, longsornya bantaran bisa menyebabkan konstruksi jalan dari cor beton patah. Soalnya, pada titik fondasi yang tergerus, terlihat rongga dibawah bahu jalan.

“Untuk sementara, sebagian ruas jalan pada titik itu kami beri pembatas agar ada kendaraan melintas diatasnya. Hal ini kita lakukan karena jika ada kendaraan berat lewat bisa membahayakan konstruksi jalan,” kata salah satu perangkat Desa Kedungrejo Suprat, Jumat (23/3/2018).

Sebelumnya, ada 13 keluarga yang tinggal disekitar lokasi longsoran. Namun, saat hanya tinggal tujuh keluarga yang masih bertahan. Sedangkan enam keluarga lainnya sudah pindah ke lokasi yang lebih aman.

Suprat menjelaskan, pada awal tahun lalu pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana sudah meninjau lokasi longsoran tersebut. Mereka juga sudah mengambil contoh tanah untuk diteliti.

”Sampai sekarang, kami tak mengetahui hasilnya. Saat mereka ke sini, kami disarankan untuk membuat proposal langsung ke BBWS Pemali Juana,” katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono mengatakan, saat ini memang banyak laporan adanya tebing maupun bantaran sungai Lusi yang longsor. Selain aset kabupaten, bencana longsor tersebut juga mengancam perumahan warga.

”Kami sudah berkirim surat ke BBWS Pemali Juana dan sampai saat ini memang belum ada tindakan penanganan yang signifikan. Untuk badan jalan yang mulai longsor di Dusun Ngrebo, akan segera kami perbaiki dengan dana pemeliharaan,” terangnya.

Editor: Supriyadi

Seorang Kakek di Kalangdosari Grobogan Tewas Bunuh Diri di Sungai Lusi

MuriaNewsCom, GroboganMayat seorang pria kembali ditemukan tersangkut sampah dipinggiran sungai Lusi yang masuk wilayah Desa Kalangdosari, Kecamatan Ngaringan, Kamis (22/3/2018). Korban diketahui merupakan warga setempat yang bernama Mbah Wiharjo (73).

Sehari sebelumnya, peristiwa penemuan mayat juga terjadi di aliran sungai lusi di desa tersebut. Korbannya juga warga setempat yang bernama Doni Irawan (21).

Informasi yang didapat menyebutkan, penemuan mayat Mbah Wiharjo terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Mayat tersebut kali pertama diketahui oleh dua orang kerabat korban. Yakni Muh Komari (20) dan Mustajab (22).

Saat itu, keduanya memang sedang mencari keberadaan korban karena sejak semalaman tidak pulang ke rumah. Saat dicari didalam rumah, ditemukan tulisan diatas meja berbunyi “Timbang panas, luwih becik mati’ yang ditulis menggunakan arang. Selama beberapa waktu terakhir, korban tinggal sendiri karena istrinya berada di Samarinda.

Pencarian Mbah Wiharjo sengaja dilakukan dengan menyusuri aliran sungai Lusi disebelah timur Bendung Dumpil. Tindakan itu dilakukan karena diduga korban bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam sungai.

Setelah menyusuri sungai hampir dua jam, mereka akhirnya menemukan tubuh korban tersangkut sampah dipinggiran sungai. Selanjutnya, peristiwa itu dikabarkan pada warga sekitar dan diteruskan hingga pihak kepolisian.

Kabar ditemukannya mayat tak ayal langsung membikin geger warga setempat. Setelah berada dilokasi, warga kemudian mengevakuasi mayat karena khawatir terseret arus sungai.

Kapolsek Ngaringan AKP Sumardi ketika dimintai komentarnya menyatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan bersama tim inafis Polres Grobogan dan puskesmas, tidak ditemukan bekas penganiayaan. Korban dinyatakan meninggal tenggelam akibat tindakan bunuh diri.

“Tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan. Korban bunuh diri ke dalam sungai,” jelasnya.

Menurutnya, selain pesan yang ada di meja rumahnya, tindakan bunuh diri itu diperkuat dengan penemuan barang bukti yang melekat pada tubuh korban. Yakni, sarung berisi tiga buah batu cukup besar yang diikatkan pada bagian leher korban.

“Jadi, korban dengan sengaja mengaitkan sarung berisi batu ke lehernya. Setelah itu, korban menyeburkan diri ke sungai dan akhirnya meninggal. Korban sudah kita serahkan pada pihak keluarganya untuk dimakamkan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Pamit Nonton Dangdut, Warga Kalangdosari Grobogan Ditemukan Tewas di Sungai Lusi

MuriaNewsCom, GroboganMayat seorang pria ditemukan tersangkut rubuhan pohon bambu di pinggiran Sungai Lusi yang masuk wilayah Desa Kalangdosari, Kecamatan Ngaringan, Rabu (21/3/2018). Korban diketahui merupakan warga setempat yang bernama Doni Irawan (21).

Informasi yang didapat menyebutkan, penemuan mayat terjadi sekitar pukul 09.30 WIB. Mayat tersebut kali pertama diketahui oleh dua warga Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan Rubiyanto (29) dan Sudaryanto (28).

Saat itu, keduanya sedang mencari ikan dialiran sungai lusi yang kondisi airnya sedang surut. Saat sampai di Dusun Dumpil, Desa Kalangdosari, keduanya melihat ada sosok orang yang tersangkut rumpun bambu dipinggiran sungai.

Ketika didekati, sosok orang itu sudah dalam kondisi meninggal dunia. Selanjutnya, kedua pencari ikan mengabarkan peristiwa itu pada warga sekitar dan diteruskan hingga pihak kepolisian. Kabar ditemukannya mayat tak ayal langsung membikin geger warga setempat.

Kapolsek Ngaringan AKP Sumardi ketika dimintai komentarnya menyatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan bersama tim inafis Polres Grobogan dan puskesmas, tidak ditemukan bekas penganiayaan. Korban dinyatakan meninggal karena tenggelam.

“Tidak ada bekas kekerasan. Meninggalnya korban, murni akibat tenggelam,” jelasnya.

Menurutnya, dua hari sebelumnya, Senin (19/3/2018) malam, korban sempat pamit pada keluarganya kalau mau nonton dangdut di kampung seberang sungai. Hingga dua hari, korban tidak kunjung pulang sehingga pihak keluarga sempat mencari ke beberapa tempat. Namun, keberadaan korban tetap tidak ditemukan.

“Korban pergi dari rumah berjalan kaki lewat pinggiran sungai. Kemungkinan saat itu korban terpeleset dan akhirnya tenggelam,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Debit Air Terus Naik, Warga di Sepanjang Aliran Sungai Lusi Grobogan Siaga Banjir

MuriaNewsCom, Grobogan – Kewaspadaan terhadap ancaman banjir saat ini harus lebih ditingkatkan. Khususnya bagi mereka yang tinggal di sepanjang aliran dua sungai besar di kota Purwodadi. Yakni, Sungai Lusi dan Glugu. Kondisi ini dipicu naiknya elevasi sungai itu seiring turunnya hujan deras didaerah hulu dalam beberapa hari terakhir.

Dari pantauan di lapangan, kondisi Sungai Lusi di utara kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya. Kondisi elevasi atau ketinggian air sudah hampir sejajar dengan tanggul sungai.

Naiknya elevasi tersebut sudah menggenangi jalan dan menjangkau ke areal permukiman. Antara lain, di Desa Jono, dan Mayahan (Kecamatan Tawangharjo), Getasrejo dan Rejosari (Kecamatan Grobogan) dan Desa Menduran (Kecamatan Brati). Kemudian, diwilayah Kecamatan Purwodadi ancaman banjir sudah terlihat di Desa Karanganyar serta sebagian wilayah kota. Seperti kampung Jetis, Jajar dan Kemasan.

”Sejak tadi malam, kita sudah diminta waspada. Soalnya, ketinggian air sungai Lusi naik terus,” kata Agus Winarno, warga Kampung Jajar, Purwodadi.

Sejumlah anak kecil bermain ditengah banjir yang melanda Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Agus Sulaksono menegaskan, dalam beberapa hari terakhir, memang terjadi kenaikan elevasi sungai-sungai diwilayahnya. Untuk itu, ia meminta masyarakat agar waspada terhadap ancaman banjir.

Meski meminta waspada, masyarakat diminta tidak perlu panik. Soalnya, pihak BPBD dan instansi terkait lainnya terus melakukan monitoring dan sudah menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan.

Menurut Agus, naiknya elevasi sungai, khususnya sungai Lusi itu memang sudah diantisipasi jauh hari sebelumnya. Semua petugas penanganan bencana sudah diminta siaga serta memonitor elevasi sungai secara rutin. Selain itu, anggota juga sudah menyiapkan peralatan penanganan banjir jika sewaktu-waktu diperlukan.

Dijelaskan, dari pengalaman banjir dua kali pada akhir tahun 2007 lalu memang bisa dipantau dari tingginya elevasi sungai Lusi. Jika elevasi sungai ini tinggi maka aliran air dari sungai Glugu maupun anakan sungai Lusi dari arah pegunungan akan tertahan. Akhirnya, air sungai yang tidak bisa masuk ke sungai Lusi ini akan meluap ke perkampungan penduduk.

Editor: Supriyadi

Belasan Rumah di Pulokulon Grobogan Terancam Ambles ke Sungai Lusi, 1 Rumah Sudah Roboh

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga yang tinggal di Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon, Grobogan, berharap agar segera ada penanganan tanggul Sungai Lusi yang longsor. Hal itu dikarenakan longsornya tanggul sudah mengancam belasan rumah yang ada di bantaran sungai.

Dari keterangan warga, total ada 14 rumah yang terancam longsor. Masing-masing, 5 rumah di RT 02 dan 9 rumah lainnya di RT 05.

Dari pantauan di lokasi, tanggul yang longsor sudah dekat dengan beberapa bangunan rumah warga di bagian belakang. Bahkan, tanggul longsor sudah sempat merobohkan beberapa rumah warga. Beruntung, rumah yang roboh hanya pada bagian belakang yang digunakan sebagai dapur atau kandang.

“Rumah saya dibagian belakang roboh sekitar bulan Maret tahun 2017 lalu saat sungai penuh air. Kejadiannya pas tengah malam. Waktu itu, saya sudah tidak di rumah karena ketakutan,” kata Suwarti, warga setempat, Kamis (8/2/2018).

Tanggul yang longsor itu posisinya berada pada tikungan sungai. Dengan kondisi ini, tanggul memang rawan longsor ketika arus sungai mengalir deras.

Warga berharap, tanggul yang longsor akibat bencana itu segera mendapatkan penanganan. Sebelum ditangani, warga yang rumahnya dekat dengan bantaran sungai selalu dihantui ketakutan. Terutama, saat ada hujan deras.

Untuk pencegahan, warga menimbun tanggul yang longsor dengan tebon atau batang tanaman jagung. Selain itu, warga juga menancapkan puluhan batangan bambu di lokasi longsor.

“Penanganan ini sifatnya darurat saja. Harusnya memang pakai alat berat dan dikasih pondasi batu yang ditutup kawat atau bronjong. Bencana ini sudah dilaporkan pada instansi terkait. Katanya, akan segera ditangani tetapi sejauh ini belum ada realiasi,” kata beberapa warga lain.

Sekretaris Desa Pulokulon Moch Munasir menyatakan, kondisi longsoran memang sudah sangat membahayakan pemukiman warga. Pihak desa hanya bisa memberikan solusi kepada warganya untuk pindah dan menempati tanah desa yang masih ada dengan sistem sewa.

Alternatif lain, bagi yang tidak mau menempati tanah desa, diimbau untuk tinggal di tempat saudara atau kerabatnya.

“Tanah longsor di pinggir sungai ini sudah terjadi sudah cukup lama dan sudah kita laporkan pada dinas terkait. Kami berharap bisa segera ditangani,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Sebentar Lagi Warga Mangunrejo Grobogan Tak Perlu Lagi Naik Perahu Seberangi Sungai

Inilah penampakan jembatan gantung melintasi sungai Lusi yang menghubungkan Desa Mangunrejo, Kecamatan dengan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Kamis (22/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, sebentarlagi tak perlu kesusahan untuk menyeberang menuju desa di seberang sungai.

Karena sebentar lagi jembatan gantung yang dibangun melintasi Sungai Lusi itu akan segera rampung. Jembatan itu menghubungan Desa Mangunrejo dengan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari.

Sebelumnya warga harus menaiki perahu untuk menyeberangi sungai ini.

“Alhamdulillah, pembangunan jembatannya sudah hampir selesai. Sebentar lagi, akses transportasi menuju Wirosari bisa lebih mudah dan cepat,” kata Marjo, warga Mangunrejo, Kamis (22/12/2017).

Menurutnya, selama ini, akses transportasi dari kedua desa memanfaatkan jasa perahu penyeberangan tradisional. Saat ini, perahu masih tetap beroperasi sampai jembatan selesai dibangun dan bisa dimanfaatkan penggunaannya.

“Sehari-hari, warga masih pakai jasa perahu kalau mau ke Wirosari dan sebaliknya. Kalau tidak pakai perahu, kami harus memutar cukup jauh, sampai 20 km,” cetus Gunadi, warga lainnya.

Warga masih menyeberang menggunakan perahu selama jembatan belum jadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Jembatan gantung yang konstruksinya nampak kokoh itu memiliki panjang sekitar 70 meter dan lebarnya 1,8 meter. Alokasi dana untuk pembangunan jembatan nilainya sekitar Rp 5 miliar. Pembangunan jembatan sudah dilakukan sejak awal September 2017 lalu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono menyatakan, dana pembangunan jembatan gantung ini berasal dari Kementerian PUPR. Jumlah jembatan yang dibangun ada dua titik.

Satu lagi adalah pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan dengan Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari. Jembatan ini alokasi dananya sekitar Rp 4 miliar.

“Sebelumnya, kita memang mengajukan bantuan pembangunan jembatan lewat Kementerian PUPR. Kami mengucapkan terima kasih dengan adanya bantuan jembatan ini. Dalam waktu dekat, masyarakat akan memiliki akses transportasi yang lebih cepat dan mudah,” jelasnya. 

Editor : Ali Muntoha

Pencarian Penjaga Pintu Bendung Klambu yang Hanyut di Sungai Lusi Dilanjutkan

Tim SAR gabungan sedang bersiap melakukan pencarian korban hanyut di kawasan Bendung Klambu, Jumat (15/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan Proses pencarian penjaga Bendung Klambu bernama Samirin yang dilaporkan hanyut di Sungai Lusi kembali dilanjutkan, Jumat (15/12/2017). Sehari sebelumnya, upaya pencarian sudah dilakukan dari pagi sampai menjelang petang, tetapi hasilnya masih nihil.

“Ini kita sedang bersiap melakukan pencarian korban tenggelam. Mudah-mudahan, segera ditemukan,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro.

Menurutnya, upaya pencarian akan dibagi dalam dua tim yang masing-masing menggunakan perahu karet. Satu tim akan menyisir sekitar titik tenggelam dan satu lagi menelusuri aliran sungai ke arah barat hingga radius beberapa kilometer.

Pencarian hari kedua dibantu beberapa pihak. Ada TNI, Polri, relawan dan juga dukungan dari Basarnas Pos Jepara dan Tim SAR Kudus serta Demak.

“Rencana hari ini kita akan melakukan penyisiran sampai Bendung Undaan, Kudus,” jelasnya.

Seperti diberitakan, peristiwa keceburnya penjaga pintu bendung terjadi sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, pegawai berusia 50 tahun tersebut sedang berada di atas pintu bendung untuk membersihkan sampah menggunakan tongkat bambu. Diduga, saat membersihkan sampah itulah warga Desa Plosokerep, Kecamatan Sukolilo, Pati tersebut terpeleset sehingga jatuh ke aliran sungai disebelah barat bendung.

Editor: Supriyadi

Bermodal Bambu, Warga Menduran Grobogan Berhasil Selamatkan Orang Hanyut di Sungai Lusi

Korban hanyut di sungai Lusi mendapatkan perawatan di Puskesmas Brati setelah berhasil diselamatan warga, Selasa (12/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang hanyut di aliran Sungai Lusi kembali terjadi, Selasa (12/12/2017). Namun, korban hanyut yang diketahui bernama Purmini (41), berhasil diselamatkan setelah terseret arus selama beberapa jam.

Orang yang pertama menolong korban hanyut diketahui bernama Harsono (54), warga Desa Menduran, Kecamatan Brati. Ceritanya, sekitar pukul 09.30 WIB, Harsono sedang berada dipinggiran sungai.

Saat itulah, ia melihat ada orang hanyut yang hanya terlihat bagian kepalanya saja. Harsono sempat memanggil orang tersebut tetapi tidak ada respon.

Melihat orang hanyut it uterus terseret air, Harsono kemudian berlari mengikuti aliran sungai. Sepanjang jalur yang dilalui untuk mengikuti korban hanyut, Harsono sempat juga berteriak minta pertolongan warga.

Baca: Takut Dirazia, Pemuda Robayan Jepara Ugal-ugalan Hingga Tabrak Polisi

Sesampai di dekat tikungan sungai di Dusun Lembono, Desa Karangsari, Kecamatan Brati, tubuh korban yang terseret arus terlihat menepi. Kemudian, Harsono mencari sebilah bambu cukup panjang dan disodorkan pada korban hanyut.

Beruntung, kondisi korban saat itu masih sadar. Secepatnya, korban langsung meraih bambu tersebut dan akhirnya bisa ditarik ke tepian. Pada saat ini, upaya penyelamatan korban hanyut mendapat bantuan dari Bhabinkamtibmas Desa Karangsari Sigit Gendroyono (41) yang kebetulan saat itu menyambangi Dusun Lembono dan beberapa warga sekitar.

”Saya tadi lihat ada orang tenggelam terus saya ikuti. Setelah agak menepi saya sodorkan bambu. Untungnya, korban dalam keadaan sadar sehingga bisa meraih bambu tadi,” kata Harsono.

Setelah dievakuasi, korban yang masih mengenakan pakaian lengkap itu langsung dibawa ke Puskesmas Brati untuk mendapatkan pertolongan medis. Meski kondisinya sadar, namun korban belum bisa dimintai keterangan karena masih shok dengan peristiwa yang dialami.

”Korban masih dalam keadaan sadar, namun belum bisa diajak komunikasi. Pihak keluarganya sudah kita hubungi,” kata Kapolsek Brati AKP Sugiyanto.

Dijelaskan, dari keterangan yang didapat dari pihak keluarga, korban meninggalkan rumah sekitar pukul 04.30 WIB menuju Sungai Glugu. Korban kemudian jatuh ke dalam sungai dari akhirnya masuk ke Sungai Lusi yang merupakan muara akhir dari Sungai Glugu.

Editor: Supriyadi

Terpeleset, Bocah 7 Tahun Tewas Tenggelam di Sungai Lusi Grobogan

Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Purwodadi menyisir anakan Sungai Lusi untuk mencari bocah yang tenggelam, Jumat (8/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Purwodadi dikagetkan dengan kabar tenggelamnya seorang bocah di anakan Sungai Lusi, Jumat (8/12/2017). Setelah mendengar kabar itu, puluhan warga segera berhamburan menuju lokasi untuk mencari keberadaan bocah berusia 7 tahun bernama  M Zaki Habibillah tersebut.

Informasi yang didapat menyebutkan, kabar tenggelamnya bocah itu tersiar sekitar pukul 11.00 WIB. Sebelumnya, Zaki dan beberapa temannya sedang bermain plorotan dibawah jembatan yang ada diatas anakan sungai itu bersama beberapa temannya.

Saat bermain-main itulah, bocah kelas II SD itu terpeleset dan tercebur ke lokasi sungai yang kondisi airnya cukup dalam dan terseret arus. Melihat kejadian itu, salah seorang temannya yang berdiri di bibir sungai sebenarnya sudah berupaya menarik tangan korban. Namun, pegangan tangan sempat terlepas karena terhempas arus air.

Selanjutnya, rekan korban berteriak minta pertolongan warga. Saat warga berdatangan ke lokasi, korban sudah tidak terlihat karena terseret arus air.Beberapa warga sempat pula menyelam di sekitar lokasi jatuhnya korban. Namun, hasilnya masih nihil.

Tidak lama kemudian, tim SAR dari BPBD Grobogan sudah tiba dilokasi kejadian. Namun, sebelum tim SAR terjun ke sungai, korban tenggelam akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

“Korban sudah ditemukan warga menjelang Jumatan sekitar pukul 12.00 WIB. Lokasi ditemukannya korban sekitar 100 meter dari titik tenggelam. Jenazah sudah dievakuasi dan dibawa ke rumah duka,” jelas Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Editor: Supriyadi

Cari Ikan di Sungai Lusi Grobogan, Para Pemancing Temukan Mayat

Tim SAR BPBD Grobogan dan Basarnas Pos Jepara sedang mengevakuasi korban tenggelam yang ditemukan dipinggiran sungai Lusi di Desa Kronggen, Kecamatan Brati, Jumat (1/12/2/017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Kronggen, Kecamatan Brati, Grobogan digegerkan dengan penemuan sosok mayat di pinggiran Sungai Lusi, Jumat (1/12/2/017). Mayat seorang pria yang mengenakan celana pendek biru dan kaus warna abu-abu tersebut ditemukan sekitar pukul 10.30 WIB.

Mayat  itu kali pertama ditemukan beberapa warga yang saat itu hendak mancing ikan di pinggiran Sungai Lusi.

Saat mencari tempat yang nyaman untuk mancing, warga melihat seperti ada sosok mayat yang terapung di pinggiran sungai dalam posisi tengkurap. Selanjutnya, peristiwa itu dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak BPBD dan kepolisian.

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, begitu dapat laporan, anggotanya dibantu personil dari Basarnas Pos Jepara langsung meluncur ke lokasi untuk mengevakuasi korban.

“Saat terima laporan, kami kebetulan sedang latihan simulasi penyelamatan air di Bendung Sedadi. Setelah sampai dilokasi, mayat bisa segera kita evakuasi ke darat,” katanya.

Dari hasil penyelidikan petugas, tidak ditemukan tanda kekerasan pada mayat tersebut. Saat ditemukan, tidak ada identitas yang melekat atau tertinggal di sekitar lokasi kejadian.

Setelah melakukan penyelidikan lebih lanjut, identitas mayat itu akhirnya terungkap.  Mayat itu diketahui bernama Yasmin (30), warga Kampung Palembahan, Kecamatan Purwodadi.

“Sebelum ditemukan, malam harinya pihak keluarga korban sempat laporan ke BPBD kalau ada saudaranya yang hilang sejak dua hari lalu,” imbuh Masrichan.

Editor : Ali Muntoha

Sudah 3 Hari Pentolan Suporter Persipur Terseret Arus Sungai, Begini Perkembangan Pencariannya

Tim SAR gabungan kembali melanjutkan pencarian korban tenggelam di Sungai Serang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ribut Aula (25), pentolan suporter Persipur Purwodadi yang dikabarkan hilang terseret arus saat balapan renang di Sungai Serang, Desa Sobo, Kecamatan Geyer, Grobogan, hingga kini belum ditemukan.

Sudah tiga hari pemuda yang tingga di Desa Sobo itu hilang terseret arus. Setelah dua hari proses pencarian tak membuahkan hasil, Rabu (15/11/2017), tim SAR kembali melakukan pencarian.

Pada hari ketiga ini, ada tambahan personel yang mendukung pencarian korban tenggelam. Yakni, dari tim SARDA Jateng.

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, tim SARDA Jateng diterjunkan dengan kekuatan lima personel dan dukungan perahu karet.

Dengan demikian, dalam pencarian hari ketiga ini, ada tiga perahu karet yang diterjunkan. Masing-masing, dari tim BPBD Grobogan, Basarnas Pos Jepara dan SARDA Jateng.

Upaya pencarian akan difokuskan lebih dulu di sekitar titik tenggelamnya pemuda berusia 25 tahun tersebut. Setelah itu, ada tim yang akan menyisir aliran sungai ke arah utara hingga Bendung Sedadi di Kecamatan Penawangan.

“Upaya pencarian juga mendapat dukungan dari kepolisian dan TNI serta relawan. Mudah-mudahan, korban segera kita temukan,” jelasnya.

Baca : Balapan Renang, Seorang Warga Sobo Grobogan Tenggelam di Sungai Serang

Baca : Pemuda Hanyut di Grobogan Saat Balapan Renang Ternyata Pentolan Suporter Persipur

Seperti diberitakan, seorang warga Desa Sobo, Kecamatan Geyer dilaporkan tenggelam di Sungai Serang, Senin (13/11/2017). Korban tenggelam disebutkan adalah seorang pemuda bernama Ribut Aula. Pemuda berusia sekitar 25 tahun itu dilaporkan tenggelam sekitar pukul 13.00 WIB.

Informasi warga setempat menyebutkan, sebelum kejadian, korban diketahui sedang berenang di sungai Serang bersama beberapa teman sebayanya. Saat itu, kondisi sungai cukup dalam.

Tidak lama kemudian, korban dan temannya sempat balapan renang menyeberangi sungai, bolak-balik. Di tengah perjalanan korban akhirnya tenggelam. Diduga saat itu, korban kelelahan.

Melihat kejadian itu, beberapa rekan korban sempat berupaya melakukan pertolongan. Namun, tindakan itu tidak membawa hasil, karena arus sungai mengalir cukup deras.

Akhirnya, teman korban meminta pertolongan pada warga sekitar untuk ikut melakukan pencarian.

Setelah dapat kabar itu, beberapa warga sempat pula menyelam di sekitar lokasi jatuhnya korban. Upaya pencarian juga didukung anggota tim SAR gabungan. Namun, hasilnya masih nihil.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Kapal dari Pati yang Tenggelam di Selat Makassar Masuk Kawasan Segitiga Bermuda

Warga Pulokulon Grobogan Harapkan Pembangunan Jembatan Gantung

Warga Pulokulon, Grobogan melintas di atas jembatan berbahan dasar bambu yang dibuat salah satu warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pembuatan jembatan penyeberangan sederhana melintasi sungai Lusi yang diprakarsai Mbah Marno mendapat apresiasi dari banyak orang. Soalnya, banyak warga yang merasa sangat terbantu dengan adanya jembatan bamboo sepanjang 25 meter tersebut.

Meski konstruksinya sangat sederhana, namun adanya jembatan itu bisa menghemat waktu. Yakni, bagi warga dari Kecamatan Pulokulon yang akan melakukan aktivitas ke Kecamatan Wirosari atau sebaliknya.

Tanpa melewati jembatan itu, warga harus memutar arah lewat jalur yang ada jembatan permanen melintasi sungai Lusi. Kalau memilih lewat jalur itu butuh tambahan waktu sampai 30 menit.

“Kalau lewat jembatan ini bisa potong kompas. Waku tempuh menuju Wirosari jadi dekat. Terus terang, saya sangat salut dengan kreatifitas Mbah Marno untuk bikin jembatan ini. Jembatannya memang sedehana tapi manfaatnya luar biasa,” kata Humas Kwarran Pulokulon Andi Patria yang menemani wartawan ke lokasi penyeberangan unik tersebut, Jumat (13/10/2017).

Baca: Mbah Marno, Warga Pulokulon Grobogan Pemilik Jembatan Antarkecamatan

Meski terbantu dengan hasil karya Mbah Marno, namun warga berharap agar dilokasi tersebut dibangunkan jembatan gantung. Harapan ini dilontarkan karena jalur tersebut memang dinilai sangat strategis dan menjadi akses terdekat antar kecamatan.

“Jalur ini memang sangat strategis dan jadi pilihan warga. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengguna jembatan tiap hari. Baik yang pakai motor, sepeda atau jalan kaki. Ada ratusan orang yang memanfaatkan dan kebanyakan adalah warga Pulokulon yang jadi karyawan pabrik di Wirosari dan anak sekolah,” kata Mbah Marno, pemilik jembatan penyeberangan tersebut.

Padatnya arus kendaraan yang melewati jembatan itu memang masuk akal. Soalnya, jembatan itu menjadi akses alternatif antar kecamatan. Yakni, Kecamatan Pulokulon dan Wirosari.

Pada sisi selatan jembatan masuk wilayah Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon. Sedangkan diseberang sungai masuk wilayah Dusun Bugel, Desa Sambirejo, Kecamatan Wirosari.

Jika nantinya dibangun jembatan gantung, Mbah Marno tidak merasa keberatan meski sumber mata pencahariannya bisa terancam. Bahkan, pria 64 tahun itu malah menyatakan dukungannya.

“Kalau dibangun jembatan gantung disisni saya rasa malah bagus. Jadi, makin banyak yang bisa memanfaatkan. Dari penilaian saya, dititik ini paling pas dibangun jembatan gantung,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Mbah Marno, Warga Pulokulon Grobogan Pemilik Jembatan Antarkecamatan

Mbah Marno, pemilik jembatan penyeberangan antar kecamatan sedang bersantai di poskonya di pinggiran sungai Lusi di Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah jembatan sasak dari bambu yang melintasi sungai Lusi ini terlihat ramai. Dalam rentang waktu beberapa menit, ada sepeda motor atau pejalan kaki yang melintas dari kedua arah.

Meski terlihat sangat sederhana, jembatan ini sangat membantu aktivitas banyak orang. Indikasinya, setiap hari ada ratusan motor maupun sepeda yang memanfaatkan jembatan tersebut. Selain itu, jembatan itu juga dimanfaatkan para pejalan kaki yang akan beraktivitas ke sawah.

Padatnya arus kendaraan yang melewati jembatan itu memang masuk akal. Soalnya, jembatan itu menjadi akses alternatif antar kecamatan. Yakni, Kecamatan Pulokulon dan Wirosari.

Pada sisi selatan jembatan masuk wilayah Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon. Sedangkan diseberang sungai masuk wilayah Dusun Bugel, Desa Sambirejo, Kecamatan Wirosari.

Uniknya, jembatan itu ternyata bisa dikatakan milik perorangan. Yakni, Mbah Marno, warga yang tinggal di Dusun Pelem, Desa Pulokulon. Pria 64 tahun itu sudah membuat jembatan bambu sejak tahun 2000.

Sebelum membuat jembatan, Mbah Marno adalah pemilik perahu penyeberangan yang beroperasi di lokasi tersebut. Saat tiba musim kemarau, otomatis perahu miliknya tak bisa beroperasi karena sungai Lusi menjadi dangkal. Dari kondisi alam itulah, kakek lima cucu itu akhirnya punya gagasan untuk membikin jembatan penyeberangan sederhana.

Selain membantu warga, adanya jembatan itu juga bisa mendatangkan penghasilan. Namun, Mbah Marno tidak pernah mematok tarip bagi pengguna jembatan. Hanya saja, ia menyediakan sebuah kotak didekat poskonya.

“Bayarnya sukarela. Yang mau ngasih, tinggal masukkan uangnya ke dalam kotak. Pendapatan setiap hari, rata-rata bisa sampai Rp 100 ribu,” kata bapak empat anak itu saat ditemui di poskonya di pinggiran sungai Lusi, Jumat (13/10/2017).

Mbah Marno mengisahkan, pada awalnya, pembuatan jembatan seluruh konstruksinya dari bahan bambu. Namun, sejak tahun 2012 lalu, ia membuat dua tiang penyangga dari konstruksi cor beton. Kedua tiang sepanjang 4 meter yang separuhnya dibenamkan ke dasar sungai itu ditempatkan di bagian tengah.

“Buat tiang beton itu habisnya Rp 4 juta waktu itu. Adanya tiang beton bikin jembatan tambah kuat. Selain itu, tiang beton saya pasang untuk memudahkan menemukan titik pembuatan jembatan saat sungai dangkal,” jelasnya.

Saat air sungai Lusi mulai berkurang, Mbah Marno dibantu putra pertamanya Puryono biasanya langsung bersiap membikin jembatan baru. Untuk belanja bambu sebagai tiang penyangga dan bahan landasan serta beli paku menghabiskan dana sekitar Rp 1,5 juta. Proses pembuatan jembatan biasanya makan waktu hingga lima hari.

“Saya hanya bikin jembatan kalau kondisi sungai Lusi dangkal seperti ini. Kalau nanti sungainya penuh, jembatannya hanyut. Untuk membantu penyeberangan saya ganti gunakan perahu kayu,” katanya.

Menjelang berakhirnya musim kemarau, Mbah Marno juga punya kesibukan khusus. Yakni, mempersiapkan pembuatan perahu yang akan digunakan saat sungau Lusi penuh air.

“Perahu saya hanyut terbawa banjir. Makanya, saya lagi mau bikin lagi,” cetusnya. 

Editor: Supriyadi

Tanggul Longsor, Belasan Rumah Warga Pulokulon Grobogan Terancam Ambles ke Sungai Lusi

Akibat tanggul longsor, belasan rumah warga Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon terancam ambrol ke sungai Lusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga yang tinggal di Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon berharap agar segera ada penanganan tanggul sungai Lusi yang longsor. Hal itu dikemukakan karena longsornya tanggul sudah mengancam belasan rumah yang ada dibantaran sungai.

“Dari pendataan beberapa waktu lalu, total ada 14 rumah yang terancam longsor. Masing-masing ada 5 rumah warga RT 02 dan rumah lainnya di RT 05,” kata Ketua RT 02, RW 05 Dusun Pelem Kharoikil As’ari, Jumat (13/10/2017).

Dari pantauan di lokasi, tanggul yang longsor sudah dekat dengan beberapa bangunan rumah warga di bagian belakang. Bahkan, tanggul longsor sudah sempat merobohkan satu rumah milik Rusdi. Beruntung, saat kejadian, penghuni rumah sudah mengungsi ke rumah familinya.

“Rumah saya dibagian belakang roboh sekitar bulan Maret lalu saat sungai penuh air. Kejadiannya pas tengah malam. Waktu itu, saya sudah tidak dirumah karena ketakutan,” kata Suwarti, istri Rusdi.

Tanggul yang longsor itu posisinya berada pada tikungan sungai. Dengan kondisi ini, tanggul memang rawan longsor ketika arus sungai mengalir deras.

Warga berharap, tanggul yang longsor akibat bencana itu segera mendapatkan penanganan. Sebelum ditangani, warga yang rumahnya dekat dengan bantaran sungai selalu dihantui ketakutan. Terutama, saat ada hujan deras.

Untuk pencegahan, warga menimbul tanggul yang longsor dengan tebon atau batang tanaman jagung. Selain itu, warga juga menancapkan puluhan batangan bambu di lokasi longsor.

“Penanganan ini sifatnya darurat saja. Harusnya memang pakai alat berat dan dikasih pondasi batu yang ditutup kawat atau bronjong. Bencana ini sudah dilaporkan pada instansi terkait. Katanya, akan segera ditangani,” kata beberapa warga lainnya. 

Editor: Supriyadi

Pencarian Anak MTs yang Tenggelam di Sungai Lusi Dilanjutkan

Tim SAR tengah menyusuri Sungai Lusi untuk mencari tubuh siswa MTs yang dilaporkan hilang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses pencarian siswa kelas I MTs bernama Bagus, yang dilaporkan tenggelam di Sungai Lusi di Kampung/Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwodadi, Grobogan kembali dilanjutkan, Jumat (6/10/2017) pagi.

Sebelumnya, upaya pencarian sudah dilakukan dari sore sampai dinihari, tetapi hasilnya masih nihil.

“Ini kita sedang bersiap melakukan pencarian korban tenggelam. Mudah-mudahan, segera ditemukan,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Groboga Masrichan.

Menurutnya, upaya pencarian akan dibagi dua tim yang masing-masing menggunakan perahu karet. Satu tim akan menyisir sekitar titik tenggelam dan satu lagi menelusuri aliran sungai ke arah barat hingga radius beberapa ratus meter.

“Pencarian hari kedua dibantu beberapa pihak. Ada relawan dan juga dukungan dari Basarnas Pos Jepara,” jelasnya.

Baca : GEGER, Siswa MTs Hanyut di Sungai Lusi Grobogan

Seperti diberitakan, pencarian yang dilakukan tim SAR ini menyusul adanya laporan anak tenggelam di sungai tersebut sehari sebelumnya, sekitar pukul 14.30 WIB.

Sebelumnya, korban sedang bermain dipinggiran sungai bersama tiga teman sebayanya. Saat main asik bermain, korban terpeleset dan tercebur ke dalam sungai.

Korban yang tidak bisa berenang sempat berteriak minta pertolongan. Demikian pula, rekan korban juga ikut berteriak minta pertolongan warga. Saat warga berdatangan ke lokasi, korban sudah tidak terlihat karena terseret arus air.

Beberapa warga sempat pula menyelam di sekitar lokasi jatuhnya korban. Namun, hasilnya masih nihil.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Tenggelamnya Anak MTs di Sungai Lusi ini Bikin Merinding Warga yang Tinggal di Dekat Lokasi

Pencarian Siswa MTs Tenggelam di Sungai Lusi Grobogan Diteruskan Hingga Malam 

Tim SAR BPBD Grobogan dan sejumlah warga melakukan pencarian korban tenggelam di sungai Lusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah melakukan pencarian hampir tiga jam, namun pencarian anak yang tenggelam di sungai Lusi di Kampung/Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, belum membuahkan hasil.

Selain tim SAR BPBD Grobogan, pencarian juga dibantu sejumlah warga dengan melakukan penyelaman tradisional tanpa bantuan peralatan.

Dari pantauan di lokasi, pencarian korban masih difokuskan pada lokasi tenggelamnya siswa kelas I MTs tersebut. Satu perahu karet dikerahkan untuk menyisir radius 100 meter dari lokasi tenggelam.

Saat magrib tiba, upaya pencarian untuk sementara dihentikan. Rencananya, setelah Isak, tim SAR kembali akan menyusuri aliran sungai di sekitar lokasi tenggelamnya anak bernama Bagus (13), warga setempat itu.

Baca :  GEGER, Siswa MTs Hanyut di Sungai Lusi  Grobogan

“Tim kita minta istirahat dulu sambil mempersiapkan lampu penerangan di lokasi. Malam ini, upaya pencarian korban kita lanjutkan lagi,” Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Grobogan Budi Prihantoro.

Menurut Budi, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Basarnas Pos Jepara untuk minta dukungan. “Kita tadi sudah ngontak Basarnas pos Jepara untuk bantu pencarian korban. Sementara, kita maksimalkan dulu personel yang ada untuk mencari korban tenggelam,” katanya.

Seperti diberitakan, pencarian yang dilakukan tim SAR ini menyusul adanya laporan anak tenggelam di sungai tersebut sekitar pukul 14.30 WIB. Sebelumnya, korban sedang bermain di pinggiran sungai bersama tiga teman sebayanya. Saat main asik bermain, korban terpeleset dan tercebur ke dalam sungai.

Korban yang tidak bisa berenang sempat berteriak minta pertolongan. Demikian pula, rekan korban juga ikut berteriak minta pertolongan warga. Saat warga berdatangan ke lokasi, korban sudah tidak terlihat karena terseret arus air.

Beberapa warga sempat pula menyelam di sekitar lokasi jatuhnya korban. Namun, hasilnya masih nihil.

Editor : Akrom Hazami

Terpeleset di Sungai Lusi, Bocah Berusia 11 Tahun di Kedungrejo Grobogan Dicari Tim SAR

Warga dan anggota Tim SAR gabungan berada di pingggir aliran sungai Lusi di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, untuk mencari korban tenggelam Minggu (9/4/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Belasan anggota Tim SAR gabungan menyisir aliran sungai Lusi di Dusun Kedungjago, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Minggu (9/4/2017). Tindakan ini dilakukan menyusul adanya laporan anak tenggelam di sungai tersebut sekitar pukul 08.00 WIB. Korban tenggelam seorang bocah berusia 11 tahun bernama Moh Multazam Arrsyad, warga setempat.

Informasi yang didapat menyebutkan, pagi itu korban sedang bermain di pinggiran sungai bersama tiga teman sebanya. Yakni, Kaidar, Moh Faruq, dan Rokhim.

Tenggelamnya korban terjadi saat hendak mengambil sebongkah tanah dipinggiran sungai. Usai mengambil tanah, korban terpeleset dan tercebur ke dalam sungai.

Korban yang tidak bisa berenang sempat berteriak minta pertolongan. Salah seorang temannya yang berdiri di bibir sungai sebenarnya sudah berupaya menarik tangan korban. Namun, setelah pegangan tangan terlepas karena terhempas arus air.

Selanjutnya, rekan korban berteriak minta pertolongan warga. Saat warga berdatangan ke lokasi, korban sudah tidak terlihat karena terseret arus air.

Beberapa warga sempat pula menyelam di sekitar lokasi jatuhnya korban. Namun, hingga tengah hari hasilnya masih nihil.

“Kita masih melakukan pencarian bersama tim SAR. Semoga korban bisa cepat kita temukan,” kata Kapolsek Purwodadi AKP Sugiyanto.

Editor: Supriyadi

Mayat Pengiring Jenazah yang Hanyut di Sungai Lusi Grobogan Akhirnya Ditemukan

Jenazah yang hanyut di Sungai Lusi Grobogan akhirnya ditemukan pada Juma (10/2/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Pencarian dua korban tenggelam di Sungai Lusi yang dilakukan Tim SAR Gabungan akhirnya tuntas, Jumat (10/2/2017). Hal ini menyusul ditemukannya satu korban terakhir sekitar pukul 10.15 WIB.

Korban berjenis kelamin laki-laki ini adalah Jumeno (28), warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari. Korban ini merupakan pengiring jenazah menyeberangi sungai yang terseret arus air pada Rabu (7/2/2017). Peristiwa tragis ini terjadi di Dusun Ndoro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan.

Mayat Jumeno ditemukan sekitar 500 meter di selatan jembatan Bandang Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari. Mayat korban sebelumnya berhasil ditemukan warga setempat yang sedang berada di pinggiran sungai. Saat itu, mayat yang dalam posisi tengkurap dalam air tersebut sudah mengambang di tepian sungai.

Begitu melihat ada mayat di pinggir sungai, warga segera menghubungi Tim SAR yang saat itu tengah menyisir di sekitar lokasi. Selanjutnya, mayat tersebut dievakuasi ke darat oleh Tim SAR Gabungan.

Saat ditemukan, kondisi korban yang mulai membusuk masih dibalut pakaian. Yakni, celana panjang warna hitam dan kaos singlet warna putih. “Lokasi penemuan berada di perengan kebon milik Pak Moch Amin. Saat diketahui warga, posisi mayat sudah ada di pinggiran sungai. Jarak dari tempat korban tenggelam dan lokasi penemuan sekitar 5 km,” terang Susilo Utomo, Anggota Ubaloka Kwarcab Grobogan yang ikut membantu evakuasi korban tenggelam bersama Tim SAR Gabungan.

Sekitar 30 menit sebelumnya, tim SAR juga berhasil mengevakuasi satu korban tenggelam. Korban berjenis kelamin perempuan ini ditemukan di wilayah Dusun Ndoro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan. Lokasi penemuan mayat ini berjarak sekitar 1 km di sebelah barat tempat hanyutnya satu pengiring jenazah yang menyeberangi Sungai Lusi, tiga hari lalu.

Mayat yang ditemukan ini adalah korban tenggelam bernama Lasinah (70), warga Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan yang tenggelam pada Rabu (7/2/2017) lalu. Jarak tempat penemuan mayat dan lokasi tenggelamnya Lasinah ini sekitar 10 km.

“Dua korban terakhir sudah berhasil kita temukan. Setelah diperiksa tim medis dan pihak kepolisian, dua jenazah langsung diserahkan pada keluarganya untuk dimakamkan,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Menurutnya, dengan ditemukannya dua korban pada hari ini maka kegiatan pencarian dinyatakan berakhir. Sebab, tiga korban tenggelam semuanya sudah berhasil ditemukan. Satu korban tenggelam lainnya berhasil ditemukan lebih dulu di dekat Bendung Klambu pada Kamis (9/2/2017).

Editor : Kholistiono

Satu Korban Tenggelam di Sungai Lusi Grobogan Berhasil Ditemukan Lagi

Petugas saat melakukan evakuasi terhadap jenazah seorang perempuan yang tewas tenggelam di Sungai Lusi, Jumat (10/2/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya pencarian dua orang tenggelam di Sungai Lusi hari ketiga akhirnya membuahkan hasil, Jumat (10/2/2017). Satu korban ini ditemukan di wilayah Dusun Ndoro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan. 

Lokasi penemuan mayat ini berjarak sekitar 1 Km di sebelah barat tempat tenggelamnya satu pengiring jenazah yang menyeberangi Sungai Lusi, tiga hari lalu. “Iya ini sudah ada satu korban ditemukan sekitar pukul 09.0 WIB. Korban seorang perempuan,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Dari jenis kelaminnya, diperkirakan mayat ini adalah Lasinah (70), warga Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan yang tenggelam Rabu (7/2/2017). Saat ini, mayat yang sudah dievakuasi tersebut sedang diidentifikasi pihak kepolisian.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum dievakuasi Tim SAR, sejumlah warga sudah melihat keberadaan mayat yang tersangkut pada bekas rumpun bambu.Hanya saja, warga tidak bisa melakukan evakuasi karena terbatasnya peralatan. Akhirnya, warga menghubungi Tim SAR untuk mengabarkan adanya mayat yang sudah terlihat dari kejauhan tersebut.

“Lokasi mayat yang ditemukan tadi memang agak sulit dievakuasi. Soalnya, nyangkut di rimbunan bambu yang posisinya agak ke tengah sungai,” kata Susilo Utomo, Anggota Ubaloka Kwarcab Grobogan yang ikut membantu evakuasi bersama Tim SAR Gabungan.

Dengan ditemukan mayat perempuan ini, tinggal satu korban lagi yang masih dicari. Yakni, korban tenggelam bernama Jumeno (28), warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari. Pria ini merupakan pengiring jenazah menyeberangi sungai yang terseret arus air. 

Editor : Kholistiono

Pencarian Pengiring Jenazah yang Hanyut di Sungai Lusi Kembali Dilanjutkan

Upaya pencarian dua orang yang tenggelam di Sungai Lusi kembali dilanjutkan, Jumat (10/2/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya pencarian dua orang yang tenggelam di Sungai Lusi kembali dilanjutkan, Jumat (10/2/2017). Untuk pencarian hari ketiga ini, Tim SAR berpencar di dua titik.

“Selama dua hari kita sudah melakukan pencarian tetapi belum berhasil. Pagi ini, pencarian korban kita lanjutkan lagi. Tim SAR terbagi jadi dua regu,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan.

Dijelaskan, tim pertama akan menyisir di sekitar Desa Kalanglundo, Kecamatan Ngaringan. Di lokasi ini, ada satu orang tenggelam atas nama Lasinah (70).

Regu kedua melangsungkan pencarian di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan. Di lokasi ini, ada pengiring jenazah menyeberangi sungai yang terseret arus air. Korban tercatat atas nama Jumeno (28), warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari.

Sebelumnya, pencarian dibagi menjadi tiga titik sesuai jumlah korban tenggelam yang belum ditemukan. Namun, satu orang tenggelam lainnya sudah berhasil ditemukan di dekat Bendung Klambu, Kamis (9/2/2017). Orang yang tenggelam ini adalah pelaku pencurian barang di jok motor seorang petani di Desa Putat, Kecamatan Purwodadi.

Lantaran kepergok aksinya, pencuri akhirnya menceburkan diri ke dalam sungai.Upaya pencarian korban tenggelam pada hari ketiga juga mendapat dukungan dari beberapa pihak. Antara lain dari Tim Basarnas Pos Jepara, Ubaloka, kepolisian, TNI dan warga.

Editor : Kholistiono

Warga Minta Tanda Pengukur Ketinggian Sungai Lusi Dipasang Lagi

 Pada pondasi lama ini, sebelumnya terdapat tanda pengukur ketinggian Sungai Lusi (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Pada pondasi lama ini, sebelumnya terdapat tanda pengukur ketinggian Sungai Lusi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga meminta agar dinas terkait memasang lagi tanda pengukur ketinggian Sungai Lusi yang ada di sebelah utara Kota Purwodadi. Permintaan itu dilakukan, lantaran tanda ketinggian air itu dinilai sangat penting. Sebab, dengan adanya tanda itu warga bisa melihat kondisi riil ketinggian air dengan mudah.

“Dengan adanya tanda itu, kita bisa tahu kondisi sungai masih aman atau sudah membahayakan. Tetapi, sejak beberapa minggu lalu, tanda ketinggian hilang. Kemungkinan hanyut terbawa arus,” kata Cipto, warga di sekitar Sungai Lusi.

Dari pantauan di lapangan, saat ini tanda pengukur elevasi air itu memang sudah tidak terlihat lagi. Tanda ini sebelumnya dipasang menempel pada salah satu pondasi lama yang dulunya dipakai untuk jalur rel kereta api. Pondasi lama ini persis berada di sebelah timur jembatan di atas sungai Lusi.

Bentuk tanda ini seperti penggaris dan angkanya tertulis cukup besar, sehingga mudah dilihat orang. Tanda ini tidak dipasang hingga dasar sungai. Tetapi, mulai dari tengah sampai batas atas elevasi sungai. Angkanya tertulis mulai 5 sampai 10 meter.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono ketika dimintai komentarnya mengakui jika tanda elevasi itu sangat membantu untuk mengetahui kondisi sungai. Baik buat petugas penanggulangan bencana maupun warga.

“Tanda ketinggian air ini ada satu lagi di Kampung Kuripan, Kelurahan Purwodadi. Namun lokasinya tidak dijalur ramai sehingga tidak bisa dilihat lebih banyak orang. Kami akan koordinasi dengan pihak pengairan supaya tanda ini dipasang lagi,”  katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengairan Grobogan Subiyono ketika dimintai tanggapannya menegaskan, wilayah Sungai Lusi itu bukan jadi kewenangannya. Tetapi, kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juwana. “Secepatnya kita akan koordinasi dengan balai besar. Soalnya, itu jadi kewenangan mereka,” katanya.

 Editor : Kholistiono

 

Elevasi Sungai Lusi Mendekati Titik Maksimal, Kota Purwodadi Siaga Banjir

kondisi Sungai Lusi di utara kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya, pagi tadi Rabu (10/2/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

kondisi Sungai Lusi di utara kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya, pagi tadi Rabu (10/2/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kewaspadaan terhadap ancaman banjir saat ini harus lebih ditingkatkan. Khususnya yang tinggal di sepanjang dua sungai besar di kota Purwodadi. Yakni, Sungai Lusi dan Glugu. Kondisi ini dipicu naiknya elevasi sungai itu seiring turunnya hujan deras dalam beberapa hari terakhir.

Dari pantauan di lapangan, kondisi Sungai Lusi di utara kota Purwodadi sudah mulai penuh airnya. Dimana, elevasi air sudah berkisar 9,5 meter sesuai dengan petunjuk ketinggian air sungai yang berada di sisi timur jembatan utama. Ketinggian air ini cukup rawan karena batas maksimal elevasi Sungai Lusi berkisar 10 meter.

Naiknya elevasi sungai itu menyebabkan sejumlah perkampungan di kawasan kota mulai terancam banjir. Pagi tadi, Rabu (10/2/2016) beberapa jalan kampung di kota mulai tergenang air setinggi 10 sampai 30 cm.

Antara lain, di kampung Jengglong, Jagalan, Jetis, Ngabean, dan Jajar. Meski demikian, belum muncul laporan adanya rumah yang kebanjiran.

”Jalan kampung ini mulai tergenang air sejak Rabu dinihari tadi. Sampai pagi ini ketinggian air terus naik meski belum sempat masuk rumah penduduk,” ujar Habib, warga Kampung Ngabean, Kelurahan Purwodadi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Grobogan Agus Sulaksono menegaskan, ketika elevasi sudah masuk 9 meter, sebagian kawasan biasanya sudah mulai ada yang kebanjiran. Meski demikian, dia meminta supaya warga tetap tenang dan tidak perlu dilanda ketakutan.

Menurut Agus, naiknya elevasi sungai, khususnya Sungai Lusi itu memang sudah diantisipasi jauh hari sebelumnya. Di mana, anggota penanganan bencana sudah diminta siaga serta memonitor elevasi sungai secara rutin. Selain itu, anggota juga sudah menyiapkan peralatan penanganan banjir jika sewaktu-waktu diperlukan.

”Ketinggian air ini memang naik terus meski belum mencapai ambang batas maksimal. Jadi, kita memang siaga terhadap kemungkinan adanya banjir,” kata mantan Kabag Pembangunan itu.

Menurutnya, dari pengalaman banjir dua kali pada akhir tahun 2007 lalu memang bisa dipantau dari tingginya elevasi Sungai Lusi. Di mana, jika elevasi sungai ini tinggi maka aliran air dari Sungai Glugu maupun anakan Sungai Lusi dari arah pegunungan akan tertahan. Akhirnya, air sungai yang tidak bisa masuk ke Sungai Lusi ini akan meluber ke perkampungan penduduk.

Baca juga : Warga Undaan Siap Siaga Hadapi Banjir Luapan Sungai Lusi

Editor : Titis Ayu Winarni

Warga Undaan Diminta Tetap Waspadai Luapan Sungai Lusi

Kondisi Sungai Lusi yang saat ini debit airnya masih rendah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kondisi Sungai Lusi yang saat ini debit airnya masih rendah (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Warga yang berada di bantaran Sungai Lusi, khususnya warga Undaan, diminta tetap waspada adanya luapan Sungai Lusi. Hal ini, karena intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir cukup tinggi.

Camat Undaan Catur Widiyatno mengatakan, meski saat ini debit air Sungai Lusi surut, namun tidak menutup kemungkinan akan naik lagi, bahkan meluber, jika intensitas hujan, khususnya di wilayah Purwodadi cukup tinggi.

“Kewaspadaan harus tetap ditingkatkan, karena memang intensitas hujan saat ini cukup tinggi, jadi warga tidak boleh lengah. Karena, dikhawatirkan ketika debit air naik bisa meluap ke pemukiman warga,” ujarnya.

Dalam hal ini, katanya, dirinya bersama warga juga lebih meningkatkan koordinasi terkait kondisi Sungai Lusi. Hal itu, untuk mengantisipasi adanya debit air yang naik.

Salah satu warga Desa Medini, Kecamatan Undaan Sofianto mengatakan, potensi naiknya debit air masih sangat mungkin. Karena musim hujan masih di awal.

“Yang penting, bagi warga Undaan harus bisa waspada. Supaya kejadian banjir di tahun 2007 tidak terulang lagi. Selain itu, tanaman padi yang sudah bersisi juga bisa aman dari hal itu,” katanya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)