Dari Sunan Kalijaga hingga Angling Darma Dikaitkan dengan Asal Usul Sendang

Warga menikmati air di Sendang Coyo, wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga menikmati air di Sendang Coyo, wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Mengenai asal-usul Sendang Coyo, Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, ada beberapa versi yang berkembang di masyarakat.

Ada yang menceritakan, jika sendang itu dibuat oleh Raja Malwapati Prabu Anglingdarmo untuk memadamkan api yang dipakai istrinya Dewi Setyawati untuk melakukan aksi bakar diri.

Tindakan nekat itu dilakukan lantaran Prabu Anglingdarmo tidak mau menurunkan ilmu yang bisa mendengar pembicaraan hewan. Karena tidak diajari ilmu yang dimiliki suaminya akhirnya ia nekat melakukan aksi bakar diri.

“Konon ceritanya, kolam yang airnya dipakai untuk memadamkan api yang membakar Dewi Setyawati akhirnya jadi Sendang Coyo ini. Mengenai benar tidaknya cerita ini masih perlu dibuktikan secara ilmiah,” kata Riyanto, warga di sekitar.

Versi lainnya, munculnya Sendang Coyo itu secara tidak langsung merupakan jasa dari Sunan Kalijaga. Ceritanya, pada saat itu, Sunan Kalijaga beserta beberapa muridnya sedang mengembara untuk menyiarkan agama Islam dan sempat melewati kawasan hutan yang ada.

Pada saat tiba, para pengikut Sunan Kalijaga merasa kehausan karena tidak menemukan sumber air. Padahal mereka baru saja melakukan perjalanan jauh. Kemudian, Sunan Kalijaga meminta para muridnya untuk beristirahat.

Sementara ia akan mencoba mencari sumber air di sekitar kawasan hutan tersebut. Sebelum beranjak pergi, Sunan Kalijaga sempat menancapkan sebuah tongkat bambu didekat sebuah pohon besar.

Lama ditunggu, Sunan Kalijaga tidak kunjung kembali. Kemudian, salah seorang muridnya secara tidak sengaja mencabut tongkat bambu yang sebelumnya ditancapkan gurunya.

Saat tongkat dicabut, muncul sebuah keajaiban. Di mana, dari lubang bekas tancapan tongkat itu memancar air dari dalam tanah. Kemudian, murid segera minum air sampai puas. Usai minum air, mereka merasa badannya menjadi segar dan tenaganya pulih kembali.

Setelah puas minum, para murid Sunan Kalijaga mencari tempat teduh untuk istirahat sambil menanti kedatangan gurunya. Dalam masa istirahat ini, tanpa mereka ketahui air yang keluar dari bekas tancapan tongkat bambu terus mengucur deras sehingga akhirnya menjadi sebuah kolam kecil.

Ketika Sunan Kalijaga akhirnya kembali, para murid menceritakan keanehan yang dialami ketika tanpa sengaja mencabut tongkat bambu. Selanjutnya, Sunan Kalijaga melihat lokasi air yang muncul dan sudah menjadi sebuah kolam itu.

Sunan Kalijaga melihat air dalam kolam terlihat memancarkan aneka cahaya akibat pantulan sinar matahari. Dari peristiwa ini, Sunan Kalijaga menamakan tempat itu Sendang Coyo (bercahaya).

Setelah itu, Sunan Kalijaga menempatkan salah satu muridnya tinggal untuk menjaga sendang sekaligus menyiarkan agama Islam di sekitar. Beberapa tahun kemudian, muridnya itu diketahui meninggal dunia dalam kondisi terapung di tengah sendang.

Jasad murid setia ini akhirnya dimakamkan di sebelah barat sendang dan warga setempat menyebutnya dengan makam Eyang Gabus. Penamaan ini diberikan lantaran saat meninggalnya dalam kondisi terapung di atas air seperti sebuah Gabus.

“Makam Eyang Gabus ini masih ada sampai sekarang. Selain mengunjungi sendang, sebagian pengunjung ada yang berziarah ke makam Eyang Gabus,” kata Endro, warga Mlowokarangtalun.

Editor : Akrom Hazami