Kesal Bau Busuk, Ribuan Warga Sukoharjo Demo Besar-besaran Desak PT RUM Ditutup

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Ribuan orang menggeruduk kantor Pemkab Sukoharjo, Kamis (22/2/2018). Mereka mendesak pemerintah segera menutup PT Rayon Utama Makmur (MUR) karena bau limbah yang busuk dan meresahkan warga.

Demo besar-besaran ini merupakan puncak dari kekesalan warga terhadap pabrik yang merupakan anak perusahaan PT Sritex Gorup tersebut. Selain menutup pabrik, para demontrans juga menuntut pemerintah mencabut izin PT RUM.

“Proses pencarian izin di awal pendirian diduga tidak melibatkan masyarakat sekitar sehingga perizinan PT RUM perlu dikaji ulang,” kata koordinator aksi, Ari Suwarno.

Dalam aksinya mereka membawa spanduk bertuliskan tuntutan untuk menutup PT RUM. Sejumlah spanduk itu antara lain, bertuliskan “PT-RUM Ingkar Janji”, “Tutup Rum Pak Bupati. Mugo-mugo Mlebu Surgo,” dan “Gur Nagih Janji Ora Njaluk Kompensasi.”

Bau busuk dari limbah udara PT Rayon Utama Makmur (RUM) ini sangat meresahkan. Warga juga telah berkali-kali menggelar aksi. Hari ini ribuan warga juga kembali menggelar aksi demo, meskipun Rabu (21/2/2018) kemarin manajemen PT RUM berjanji akan menghentikan produksi untuk sementara waktu.

Presiden Direktur PT RUM, Pramono dalam jumpa pers di kantor bupati Sukoharjo menyatakan, penghentian produksi dimulai Sabtu (24/2/2018). Penghentian produksi baru dilakukan mulai 24 Februari, karena menghabiskan bahan baku yang sudah masuk ke dalam mesin.

“Kita sudah estimasi, bahan baku yang sudah masuk ke dalam mesin akan habis pada 24 Februari nanti. Setelah itu baru bisa kita hentikan,” kata Pramono.

Menurut dia, selama berhenti beroperasi, PT RUM akan melakukan sejumlah uji coba agar bau limbah pabrik serat sintetis itu bisa diminimalkan. Apabila bau masih belum berkurang secara signifikan, produksi akan tetap dihentikan.

“Selama ini sebenarnya sudah dilakukan perbaikan-perbaikan. Tapi warga masih juga mengeluhkan bau,” ujarnya.

PT RUM juga berencana mendatangkan mesin pengolah limbah yang diklaim bisa menghilangkan bau. Bau yang diakibatkan senyawa H2S dapat diubah menjadi H2SO4 yang tidak berbau. Namun untuk mendatangkan mesin hingga beroperasi dibutuhkan waktu hingga satu tahun.

Editor : Ali Muntoha

Bus Wisata Angkut Rombongan SD Terbakar di Sukoharjo

Bus PO Frizha yang mengangkut rombongan siswa SD dari Sidoarjo terbakar saat melintas di Sukoharjo. (Group FB Info Cegatan Solo dan Sekitar)

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Bus pariwisata milik PO Frizha bernomor polisi W 7885 UY, yang tengah mengangkut rombongan siswa SD Negeri Wangkal, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Rabu (20/12/2017) pagi tadi terbakar di jalan raya Solo-Yogya, Desa Tempel, Kecamatan Gatak, Sukoharjo.

Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sebanyak 50 penumpang yang terdiri dari siswa, guru dan orang tua pendamping berhasil menyelamatkan diri. Kebakaran terjadi sekitar pukul 06.00 WIB.

Rencananya, bus itu akan membawa rombongan siswa SD itu untuk piknik ke Yogyakarta. Pembina SDN Wangkal, Muhammad Irfan mengatakan, rombongan berangkat dari Sidoarjo, Selasa malam sekitar pukul 21.00 WIB.

“Awalnya perjalanan baik-baik saja, tapi sampai di lokasi bagian belakang bus tiba-tiba mengeluarkan percikan api,” katanya pada wartawan.

Saat itu menurut dia, anak-anak di dalam bus menciuum bau asap, dan memberi tahu sopir. Setelah bus ditepikan, seluruh penumpang disuruh turun.

Meski semua penumpang selamat, namun barang-barang milik penumpang yang berada di bagian belakang bus hangus terbakar.

Sopir bus, Nugroho menjelaskan, ia tak menduga akan terjadi kebakaran. Ia menyebut, saat berangkat bus sudah dilakukan pengecakan dan dinyatakan dalam kondisi layak.

Namun sesampainya di lampu merah Desa Klewer, ada pengendara mobil lain yang memberitahukan ke sopir, jika di bagian mesin belakang berasap.

“Kami berhenti dan langsung evakuasi seluruh penumpang. Dibantu warga kita padamkan mesin yang berasap. Tapi ternyata api sudah menjalar di bagian atap dan terbakar habis,” ungkap Nugroho.

Saat ini polisi telah membawa bangkai bus ke Polsek Kartasura, Sukoharjo. Sementara para penumpang saat ini ditampung di Balai Desa Tempel. Mereka menunggu bus pengganti yang didatangkan oleh PO Frizha.

Editor : Ali Muntoha

Dokter Gadungan di Sukoharjo Tipu Gadis dan Bawa Kabur Motornya

Dokter gadungan yang membawa kabur motor milik seorang perempuan saat diamankan di Polsek Grogol. (Tribrtanews Polda Jateng)

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Seorang dokter gadungan berinisial PBA alias Aldo Lumut (43), warga Dukuh Puroasri, Desa Puro, Kecamatan Karang Malang, Sragen, berhasil membodohi seorang gadis.

Ia memikat Dewi Angraini, warga Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, dengan diiming-imingi menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Namun nyatanya, dokter gadungan yang mengaku berdinas di RS dr Oen Solo, itu justru membawa kabur sepeda motor milik korban.

Kini, Aldo Lumut telah dibekuk anggota Polsek Grogol, Polres Sukoharjo dan dijebloskan ke penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kapolsek Grogol, AKP Dany Herlambang mengatakan, tersangka dibekuk pada Selasa (5/12/2017). Menurutnya, aksi tipu-tipu ini bukan kali pertama dilakukan oleh tersangka.

“Pelaku sudah berulang kali melakukan aksi penipuan dan penggelapan. Korban terakhir adalah Dewi Angraini warga Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri,” katanya.

Pelaku yang menggunakan kedok sebagai seorang dokter menipu korbannya dengan modus di iming -imingi menjadi PNS. Modusnya, pelaku mengajak korbannya untuk bertemu di suatu tempat, lalu mengajak korbannya untuk berkeliling menggunakan sepeda motor milik korban.

Tas yang berisi surat-surat milik korban seperti KTP, SIM dan STNK, serta sejumlah uang dimasukkan ke dalam jok kendaraan.

“Hingga akhirnya sampai di gerbang Rumah Sakit Dr Oen. Di situ korban disuruh untuk turun sedangkan pelaku membawa sepeda motor milik korban untuk diparkir. Untuk meyakinkan korbanya pelaku beralasan untuk menemui pasienya,” jelas Dany Herlambang.

Namun motor milik korban itu justru dibawa kabur. Korban yang akhirnya sadar telah ditipu langsung melaporkan kasus tersebut ke kepolisian.

Hingga kini, polisi masih terus mengembangkan kasus tersebut. Polisi memeriksa pelaku dan memanggil sejumlah saksi untuk mencari korban lain. ’Untuk sementara tersangka kami jerat dengan pasal 378 dan 372 KUHP,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pabrik di Sukoharjo Ini Diprotes Gara-gara Bau Limbahnya

Warga melakukan aksi unjuk rasa di salah satu pabrik di Sukoharjo. (Facebook)

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Ratusan warga Desa Plesan, Desa Gupit dan Desa Celep, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, menggelar demo  PT Rayon Utama Makmur (RUM) Jalan Songgorunggi-Jatipuro km 3,8, Desa Plesan, Nguter, Kamis (26/10/2017).

Mereka protes lantaran pabrik kapas sintetis itu mengeluarkan limbah udara berbau busuk seperti tinja. Hal itu membuat mereka mengeluh terhadap pabrik yang baru tahap uji coba tersebut, sepekan terakhir.

Warga membawa spanduk bertuliskan ‘Limbahmu Meracuni Masyarakat’ dan’Jangan Korbankan Kesehatan Kami Demi Bisnismu’.

“Baunya seperti septic tank. Ada warga yang muntah,” kata salah satu peserta aksi, Suwardi, di lokasi.

Menurutnya, pabrik itu baru tahap uji coba produksi. Meski baru sepekan, tapi baunya membuat warga jengkel.

Editor : Akrom Hazami

1 Orang Terduga Teroris juga Ditangkap di Sukoharjo, Total Jateng 2 Orang

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Densus 88 tidak hanya melakukan penangkapan di Kendal, tapi juga di Sukoharjo, Selasa (24/10/2017). Densus mengamankan seorang terduga teroris Hasbi alias Hisbullah (18) di Jembatan Mojo, Semanggi, Sukoharjo.

Densus juga menggeledah salah satu ruko yang merupakan tempat tinggal Hasbi di Jalan Pramuka, Dukuh Pabrik RT 01/RW 01 Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban. Dari info yang dihimpun, penggeledahan dimulai pukul 12.30 WIB. Sejumlah polisi dari Polsek Mojolaban mengamankan lokasi.

Kepala Desa Wirun, Ery Suseno Wibowo, mengatakan, pihaknya mendapat pemberitahuan dari Polsek Mojolaban sebelum adanya penggeledehan Densus. “Saya juga diajak melihat barang-barang yang diambil Densus,” kata Ery.

Baca : Guru Ngaji Ditangkap Densus 88 di Kendal 

Sepengetahuannya ada sejumlah barang yang disita seperti busur panah, bendera ISIS, bendera Riwa Raya, pisau lipat, buku, baju Laskah Mujahid, sebilah samurai, dan ponsel. Barang itu disita dan dimasukkan di kardus.

Kapolres Sukoharjo, AKBP Iwan Saktiadi, mengatakan, pihaknyaa telah berkoordinasi dengan Densus 88. Termasuk juga, polres memfasilitasi komunikasi dengan RT dan kades. “Karena prosedurnya harus ada saksi yang tahu,” katanya.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Rikwanto dalam keterangan tertulis, mengatakan, polisi menangkap sembilan orang terduga teroris secara serentak di empat daerah berbeda hari ini.

Mereka adalah Bakri alias Bakri Baroncong dari yang diamankan di Sulawesi Selatan, Yoyok Handoko alias Abu Zaid, Wawan alias Abu Afif, Beni Samsu Trisno alias Abu Ibrohim, Handoko alias Abu Buchori, dan Nanang Kurniawan alias Abu Aisha. Mereka ditangkap polisi di Pekanbaru.

Ada juga Muhammad Khoirudin dan Hasby yang diamankan di Jawa Tengah. Untuk penangkapan di Jawa Tengah, polisi mengamankan M Khoirudin sekitar pukul 07.15 WIB yang diduga menjadi penyandang dana kelompok Hendro Fernando yang terkait dengan MIT Poso pada periode 2015-2016.

Sedangkan Hasbi yang diamankan di Jalan Mojolaban Sukoharjo Jawa Tengah. Namun, belum jelas apa keterlibatannya.

Editor : Akrom Hazami

Railbus Batara Kresna Sambar Pamong Desa di Sukoharjo

Railbus Batara Kresna melintas di salah satu titik. (cc20330.blogspot.co.id)

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Seorang pamong Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, Pardiman, tertabrak Railbus Batara Kresna jurusan Solo-Wonogiri di perlintasan kereta api (KA) tanpa penjaga di Dusun Dompilan, Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari, Jumat (20/10/2017) sekitar pukul 09.00 WIB.

Korban yang terluka langsung dibawa ke RSUI Kustati Solo untuk mendapatkan perawatan medis.

Dilansir dari solopos.com, kejadian bermula saat Pardiman mengendarai sepeda motor Honda Beat AD 2418 AEB dari arah barat menuju timur.

Saat dia melewati perlintasan KA tanpa penjaga menuju Kantor Kepala Desa Gentan, tiba-tiba muncul Batara Kresna dari arah utara atau Solo. Lokomotif kereta api menyambar sepeda motor bagian belakang yang dikendarai Pardiman.

“Korban sempat terseret hingga tiga meter saat ditabrak kereta api. Untungnya, laju kereta api cukup pelan sehingga luka yang diderita korban tak terlalu parah,” kata saksi mata, Sugeng, di lokasi kejadian.

Kepala Desa Gentan, Hartanto, mengatakan Pardiman menjabat sebagai kepala urusan pemerintahan Desa Gentan. Saat kejadian, ia hendak pulang menuju balai desa setelah mengurus keperluan administrasi di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Sukoharjo.

“Saya tadi ikut mengantar Pardiman ke rumah sakit. Korban menderita luka di bagian kaki dan punggung. Sekarang sudah sadar,” ujar dia.

Editor : Akrom Hazami

 

LBH GP Ansor Desak Polisi Usut Penganiayaan di Sukoharjo

FOTO ILUSTRASI (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Kasus penganiayaan yang terjadi di Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, belum juga tuntas tertangani. Kasus penganiayaan terhadap warga yang merayakan peringatan 17 Agustus itu mengakibatkan sejumlah warga luka.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gerakan Pemuda (GP) Ansor mendesak kepolisian melanjutkan penyelidikan kasus. Peristiwa yang terjadi di Desa Siwal, RT 04/RW 03 Kecamatan Baki, Sukoharjo, 19 Agustus 2017 lalu itu, ditangani Kepolisian Resort (Polres) Sukoharjo, namun hingga sepekan kini belum ada perkembangan signifikan pada kasus itu.

Direktur Advokasi dan Litigasi LBH Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Achmad Budi Prayoga, mengatakan, penyerangan dilakukan oleh sekelompok orang bertopeng berjumlah sekitar 30 orang dengan membawa senjata tajam.

“Ini harus mendapatakan perhatian dari semua Instansi Pemerintah, Penegak Hukum maupun Organisasi Masyarakat,” tegasnya, Senin (28/8/2017).

Pada peringatan HUT RI yang awalnya dirayakan dengan suasana damai, gembira, dan suka cita oleh warga Desa Siwal, berubah jadi tragedi yang mengakibatkan jatuhnya korban masyarakat umum serta seorang anak balita yang mengalami luka-luka.

“Peristiwa penyerangan dan penganiayaan tersebut juga merupakan bentuk tindakan premanisme. Patut diduga tindakan tersebut merupakan tindakan yang sudah direncanakan secara terstruktur dan sistematis oleh para pelaku,” tandasnya.

Berdasarkan investigasi tim Litigasi dan Advokasi LBH GP Ansor, ditemukan sejumlah bukti dan fakta di lapangan. Pertama, pelaku berjumlah sekitar 30 orang dengan membawa senjata tajam dan benda tumpul yang telah disiapkan sebelumnya.

Kedua, sebagian besar pelaku telah mempersiapkan diri agar tidak dikenali dengan cara secara seragam menutup muka dan kepala para pelaku. Ketiga, pelaku bergerak dengan komando dari orang yang patut diduga berperan sebagai koordinator. Keempat, pelaku dalam melakukan aksinya terlihat hanya menyasar orang atau sasaran tertentu saja.

Kelima, pelaku saat melakukan tindakan dilakukan secara sistematis.  Pelaku menggunakan sepeda motor dan saling berboncengan, satu orang yang melakukan tindakan dan satu orang tetap di atas sepeda motor sebagai persiapan agar dapat dengan cepat melarikan diri.

Keenam, para pelaku datang kemudian mengancam dengan senjata tajam dan potongan besi serta memukul warga masyarakat dan juga anggota Banser. Kehadiran anggota Banser di acara itu adalah permintaan warga Baki untuk menjaga kemanan acara. Pelaku juga merusak sejumlah kursi.

Ketujuh, pada tanggal 20 Agustus 2017, ketua panitia acara tersebut didampingi oleh anggota banser telah melaporkan dan memberikan keterangan sebagai saksi korban ke Polsek Baki, Sukoharjo, untuk memberikan fakta-fakta peristiwa itu.

Maka, untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa serta untuk menghindari akibat lanjutan terhadap peristiwa berdarah itu, LBH PP GP Ansor meminta polisi mengusut kasus ini dan menindak tegas para pelaku.

 “Karena berdasarkan keterangan saksi di lapangan, sudah ada pelaku yang telah dikenali oleh masyarakat korban, karena yang bersangkutan tidak memakai cadar pada saat penyerangan. Fakta ini telah kami sampaikan kepada jajaran Polsek Baki,” tandasnya. 

Editor : Akrom Hazami