Dua Bakal Calon Bupati Kudus Daftar ke KPU Esok Hari

MuriaNewsCom, Kudus – Bakal pasangan calon bupati dan wakil bupati Sri Hartini-Setia Budi Wibowo, rencananya akan mendaftarkan pencalonannya ke KPU Kudus, Rabu (10/1/2017). Diusung oleh Partai Gerindra, PKS dan PBB keduanya yakin dapat diterima.

“Syarat pencalonan dan sebagainya sudah selesai semua, tinggal langkah terakhir yakni pendaftaran,” kata Sri Hartini, Selasa (9/1/2018).

Keyakinan itu didasarkan atas koordinasi yang telah dilakukan mesin partai pengusung hingga ke pelosok desa. Secara faktual, ia mengaku dengan dukungan tiga partai atau 10 kursi di DPRD sudah melebihi syarat minimal pencalonan.

Terkait rekomendasi, dirinya menyebut sudah diterima olehnya dan pasangannya, yang Ketua Komisi D DPRD Kudus.

Dirinya membeberkan, akan diarak oleh sejumlah simpatisan dan relawan ke Kantor KPU Kudus esok hari sehabis waktu salat zuhur.

Bapaslon lain yang direncanakan mendaftarkan keikutsertaannya ke KPU Kudus ialah M. Tamzil dan Hartopo. Pasangan yang dideklarasikan oleh PKB pada Minggu (7/1/2018) itu mengatakan sebelum datang ke komisi pemilihan umum, pihaknya akan bersilaturahmi kepada para kyai.

Jika kedua bapaslon (Sri Hartini-Setia Budi Wibowo dan Tamzil-Hartopo) jadi mendaftar, maka ada lima pasang yang mendaftar ikut serta dalam pilbup Kudus 2018. Tiga pasang diusung oleh partai politik, termasuk Masan-Noor Yasin.

Sementara dua sisanya, yakni Akhwan-Hadi Sucipto dan Hartoyo-Junaidi, berasal dari jalur perseorangan. Ketiganya diketahui memanfaatkan hari pertama untuk melakukan pendaftaran di Kantor KPU Kudus, Jl Ganesha IV Purwosari, Senin (8/1/2018).

Editor: Supriyadi

Ganjar Minta Sri Mulyani Agar Tak Ikut-ikutan Ketangkap KPK

Sri Mulyani, Bupati Klaten. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Sri Mulyani, Senin (27/11/2017) hari ini resmi menjabat sebagai Bupati Klaten, setelah bupati sebelumnya Sri Hartini ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi. Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo melantik Sri Mulyani yang sebelumnya menjabat sebagai wakil bupati Klaten.

Sebelumnya, Sri Hartini ditangkap KPK atas kasus jual beli jabatan di lingkup Pemkab Klaten. Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang mejatuhkan hukuman 11 tahun penjara kepada Sri Hartini.

Dalam pelantikan yang digelar di Gedung Gradhika Bhkati Praja, kompleks kantor gubernuran, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Ganjar berpesan agar Sri Mulyani tak mengikuti jejak pendahulunya melakukan KKN, sehingga harus berurusan dengan KPK.

“Klaten pasti sudah belajar dari kejadian sebelumnya. Maka, yang kita dorong adalah reformasi birokrasinya, bagaimana membangun integritas, penataan sistem. PR Bu Sri Mulyani harus meletakkan kembali dasar-dasar tata kelola pemerintahan yang baik,” kata Ganjar.

Ganjar meminta Bupati Sri Mulyani mengundang KPK untuk melakukan koordinasi, supervisi, dan pencegahan. Agar kasus jual beli jabatan atau kasus korupsi lainnya serupa tak terulang lagi.

“Semua pejabat serahkan LHKPN, anggaran transparan, adanya kanal-kanal informasi sebagai fungsi kontrol masyarakat,” ujarnya.

Ganjar juga meminta Bupati Klaten Sri Mulyani fokus pada penurunan angka kemiskinan di kabupaten setempat yang masih cukup tinggi.

“Setiap melantik kepala daerah, saya selalu minta yang bersangkutan bisa mendeteksi satu per satu warganya yang miskin siapa, kondisinya seperti apa, kira-kira mereka tidak miskin lagi kapan dengan politik anggaran, serta politik legislasi,” katanya.

Baca : Bupati Klaten Sri Hartini Divonis 11 Tahun Penjara

Sementara itu, Sri Mulyani menyatakan siap untuk melakukan penataan birokrasi. Ia menyebut, akan segera melakukan pengisian puluhan jabatan yang kosong, tanpa menggunakan praktiuk jual beli jabatan.

“Ada 80-an jabatan yang kosong, segera kami rapatkan dengan Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan) untuk lakukan pengisian,” terangnya.

Setelah dilantik, Sri Mulyani untuk sementara akan bekerja sendirian tanpa wakil. Sementara untuk pengisian posisi wakil, ia pasrahkan kepada partai pengusungnya yakni PDI Perjuangan dan Partai NasDem.

Namun ia berharap, figur yang nantinya diajukan adalah seorang laki-laki. “Inginnya sih cowok. Harapannya bisa cepat ditentukan wakilnya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Soal Bupati Wanita di Kudus, Begini Reaksi Sri Hartini

Bakal calon bupati Kudus Sri Hartini saat berbincang dengan pedagang kacang rebus beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Bakal Calon Bupati Kudus Sri Hartini, mengaku tak ambil pusing tentang masalah gender dalam perhelatan pemilihan kepala daerah (pilkada). Bahkan ia tak mengambil pusing terhadap kabar penolakan terhadap pemimpin wanita.

Kepada MuriaNewsCom, Kader Partai Gerindra itu mengungkapkan bahwa kemungkinan adanya tentangan terhadap munculnya calon pemimpin perempuan, sangat mungkin. Hanya saja menurutnya, pihaknya telah melakukan antisipasi sejak jauh-jauh hari.

Apalagi menurut dia, dalam survei yang dilakukan, warga Kudus sudah berpikiran terbuka mengenai sosok pemimpin.

“Sebelum menentukan siapa yang maju dalam Pilbup Kudus, kami (Partai Gerindra) sudah menyelenggarakan survei terlebih dahulu. Termasuk survei tentang calon pemimpin perempuan. Hasilnya, masyarakat Kudus tak mempermasalahkan hal tersebut,” katanya.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Jawa Tengah itu menyebut, dari hasil survei dan saran para tokoh, akhirnya Gerindra memutuskan untuk mengusung calon perempuan di Pilkada Kudus.

Dikatakan, pemimpin tak melulu dari kaum adam. Wanita juga bisa memimpin, apalagi dengan dukungan banyak pihak, termasuk juga dari seluruh masyarakat Kudus. Hal itu akan dibuktikannya nanti saat dipercaya menjadi bupati Kudus.

“Yang diinginkan masyarakat itu bukan laki-laki atau perempuan. Namun lebih pada kinerjanya yang baik, serta seorang pemimpin yang lebih merakyat dan berbaur dengan masyarakat bawah,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Warga Getassrabi Kudus Rela Tak Tidur Hingga Subuh Demi Lihat Adegan Ini

Aksi para pemain ketoprak saat sesi perang, yang tak hanya menengangkan kadang juga diisi banyolan yang membuat penonton terpingkal-pingkal. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketoprak masih menjadi hiburan yang ditunggu-tunggu banyak orang di Kabupaten Kudus. Bahkan untuk menyaksikan drama tradisional ini, mereka rela begadang hingga menjelang subuh.

Ini terlihat ketika pertunjukan ketoprak Kridho Caritho asal Pati, dipentaskan di Lapangan Sipengkol, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kudus, Minggu (24-25/9/2017) tadi. Ketoprak memang biasa digelar hingga semalam suntuk.

Pementaan yang dimulai semenjak habis Isya itu, sudah diserbu masyarakat setempat. Tak hanya dari Kecamatan Gebog, masyarakat dari Kecamatan Kaliwungu juga berbondong-bondong untuk menyaksikan.

“Pertunjukan semacam ini sangat jarang, makanya datang untuk menyaksikan. Apalagi ini hiburan yang gratisan,” kata Abdul, warga Getassrabi saat menyaksikan ketoprak.

Warga lain yang juga turut menyaksikan adalah Nasir, warga Kaliwungu. Menurut dia, pertunjukan ketoprak merupakan pertunjukan daerah yang khas dan apik. Untuk itu, saat ada kabar adanya ketoprak dia sering meluangkan waktu guna menyaksikan.

“Sering nonton jika ada pertunjukan ketoprak. Bahkan sampai luar kecamatan juga pasti akan tak datangi untuk menonton,” ungkap dia.

Tak hanya penasaran akan jalannya cerita ketoprak, hal yang paling ditunggu penonton yakni muncul dagelan.  Seperti diungkap M Munir, warga Desa Kaliwungu, Gebog, menurut dia, dalam pertunjukan ketoprak, yang paling ditunggu-tunggu adalah keluarnya pelawak dagelan.

“Biasanya lawakan keluarnya malam, yaitu setelah cerita dari pertunjukan dilaksanakan. Makanya kalau ada ketoprak, biasanya berangkat setelah tengah malam,” terangnya.

Menurut dia, lawakan dianggap lebih menghibur ketimbang cerita  pertunjukan ketoprak, lantaran lebih jelas dan singkat. Lain halnya dengan pertunjukan sendiri, yang memakan waktu  berjam-jam hingga terkadang membuat penonton jenuh.

Selain lawakan, lanjut dia, yang menarik dari pertunjukan juga adanya musiknya. Keberadaan musik dalam ketoprak membuat penonton yang awalnya ngantuk jadi hilang karena adanya musik yang asik.

“Apalagi lagunya banyak layaknya orkes, jadi lebih menarik. Dan jika orkes cenderung ribut, lain halnya dengan musik dalam ketoprak yang lebih damai,” imbuh dia.

Pertunjukan ini juga dihadiri sejumlah tokoh, seperti Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Sri Hartini yang kini maju mencalonkan diri sebagai bakal calon bupati Kudus. Serta Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Ferry Juliantono, yang maju di bursa Pilgub Jateng.

Sri Hartini menjelaskan, pertunjukan ketoprak tersebut, merupakan kegiatan yang digelar Pemprov Jateng. Kegiatan merupakan wujud dari keinginan masyarakat setempat yang menginginkan adanya hiburan saat dewan mengatakan komunikasi dengan masyarakat.

“Selain itu, ini juga upaya melestarikan budaya daerah yang sudah mulai bergeser dengan budaya asing,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Klaten Sri Hartini Divonis 11 Tahun Penjara

Bupati Klaten (nonaktif) Sri Hartini saat menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang. (Antaranews.com)

MuriaNewsCom, Semarang – Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang menjatuhkan vonis 11 tahun penjara kepada Bupati Klaten (nonaktif) Sri Hartini, dalam persidangan, Rabu (20/9/2017).

Sri Hartini dihukum setelah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus jual beli jabatan. Majelis hakim menilai Sri Hartini terbukti melakukan tindak pelanggaran hukum, serta melakukan potongan “fee” atas dana bantuan keuangan desa di Klaten.

Pengadilan  juga menjatuhkan denda Rp 900 juta kepada Sri Hartini. Jika denda tak mampu dibayar diganti dengan kurungan penjara selama 10 bulan. Putusan hakim ini lebih ringan dari tuntutan jaksa selama 12 tahun penjara.

“Terdakwa terbukti bersalah melanggar Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 yang diubah dan ditambahkan dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi,” kata Antonius kata ketua majelis hakim Antonius Wijantono, membacakan amar putusannya.

Hakim menilai, terdakwa terbukti menerima suap dalam pengisian Satuan Organisasi Tata Kerja (SOTK) di Kabupaten Klaten dengan total Rp 2,9 miliar.

Terdakwa menerima usulan titipan pegawai untuk mengisi jabatan dalam penyusunan SOTK baru melalui sejumlah kerabat dekatnya. Sebagai gantinya, orang-orang yang akan ditempatkan pada jabatan yang baru itu memberikan sejumlah uang yang lazim disebut dengan uang syukuran.

Hakim juga menilai, terdakwa terbukti melanggar pasal 12 B Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 yang diubah dan ditambahkan dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Terdakwa dinilai menerima pemberian berupa uang atau gratifikasi yang berkaitan dengan pencairan dana bantuan keuangan desa, titipan dalam penerimaan calon pegawai di BUMD, mutasi kepala sekolah, serta “fee” proyek di dinas pendidikan.

Total gratifikasi yang tidak pernah dilaporkan bupati yang belum genap setahun menjabat saat ditangkap KPK itu mencapai Rp 9,8 miliar.Hakim menilai perbuatan terdakwa tidak mendukung upaya Pemerintah memberantas tindak korupsi.

“Hal meringankan terdakwa belum pernah dihukum, sopan di persidangan,” ujar Antonius.

Jaksa KPK Afni Carolina menyatakan pikir-pikir atas putusan ini. Begitu juga dengan terdakwa juga masih pikir-pikir.

Penasihat hukum terdakwa Deddy Suwadi mengaku vonis terhadap terdakwa cukup berat. Menurut dia, tindak suap tersebut terjadi karena kebiasaan yang terjadi di lingkungan pemerintahan itu.

“Hakim tidak mempertimbangkan fakta-fakta terjadi selama persidangan. Terdakwa dalam posisi pasif. Uang syukuran yang diberikan berkaitan dengan kebiasaan yang terjadi selama ini,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Sri Hartini Paling Awal Kembalikan Berkas ke PKB Kudus

Bakal Calon Bupati Kudus Sri Hartini saat menyerahkan berkas pendaftaran ke PKB, Selasa (5/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bakal Calon (Balon) Bupati Kudus Sri Hartini mengembalikan berkas pendaftaran ke PKB Kudus, Selasa (5/9/2017) siang. Ia menjadi bakal calon Bupati Kudus pertama yang mengembalikan berkas ke partai sejak pendaftaran dibuka, Minggu (27/8/2017) bulan lalu.

Ketua Tim Pendaftaran Balon Bupati dan Wakil Bupati PKB, Nurhadi mengatakan, Sri Hartini menjadi bakal calon yang mengembalikan berkas paling awal ketimbang yang lainya.

Meski begitu, pihak panitia masih harus melakukan pengecekan persyaratan yang dikembalikan dengan verifikasi terlebih dahulu keabsahannya.

”Bagi bakal calon yang lain, kami masih menunggu dikembalikannya formulir pendaftaran ke kantor PKB. Kami tunggu sampai 11 September 2017 mendatang,” katanya kepada MuriaNewsCom

Ia menyebutkan, calon yang mengambil formulir ke PKB jumlahnya mencapai 12 orang. Satu di antaranya, adalah Khariroh, yang baru mengambil berkas siang tadi ke kantor PKB Kudus.

”Tadi memang bu Khariroh mengambil formulir. Tapi yang sudah mengembalikan baru Bu Hartini,” ujarnya.

Sementara, Bakal Calon Bupati Kudus Sri Hartini menyampaikan, kedatangan ke PKB tak hanya untuk mengembalikan formulir. Lebih dari itu, dia  berharap yang paling utama mendapatkan  rekomendasi dari PKB.

Ditambahkan, mengenai dengan calon Wakil Bupati yang akan mendampinginya bisa dibicarakan bersama dengan seluruh partai, yang sudah berkualisi dengan Partai Gerindra. Termasuk dengan PKB, juga diberikan kesempatan.

“Untuk itu, kami sangat berharap PKB mau untuk berkualisi dengan kami di Partai Gerindra dan bersama-sama membangun Kudus,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Sore Ini, 4 Nama Bakal Calon Bupati Kudus Asal Hanura Dikirim ke DPD

Satu dari empat bakal calon Bupati Kudus Akhwan saat mengembalikan berkas pendaftaran ke DPC Partai Hanura. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Proses pendaftaran bakal calon (Balon) Bupati Kudus dari DPC Partai Hanura resmi ditutup 18 Agustus lalu. Dari hasil pendaftaran, terdapat empat nama yang mendaftar dan akan dikirim ke DPD Jateng.

Ketua penjaringan bakal calon Bupati Kudus Partai Hanura, Sutriyono mengatakan, keempat nama tersebut adalah Umar Ali atau Mas Umar, Sri Hartini, Akhwan, dan Djoni Rahardjo. Keempatnya mendaftar sebagai bakal calon Bupati Kudus.

“Sore ini, Selasa (22/8/2017), saya akan mengirimnya ke DPD Jateng. Keempatnya juga sudah dikatakan lengkap sebagai bakal calon Bupati Kudus,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom

Sebelumnya, lanjutnya, satu dari keempat bakal calon, yakni Sri Hartini nyaris gagal karena belum bisa menunjukkan surat dari Pengadilan Negeri (PN) tentang pernyataan tidak pailit atau tidak terlilit hutang.

Beruntung, tim penjaringan memberi batas waktu hingga 19 Agustus sebelum berkas dikirim ke DPD. Dalam waktu yang ditentukan itu, Sri Hartini telah menyelesaikan syaratnya termasuk menyusulkan syarat tersebut.

“Kami dari Hanura agak susah, terdapat 22 persyaratan yang harus dilengkapi oleh bakal calon. Dan keempatnya sudah bisa melengkapinya,” ujarnya.

Disinggung bakal calon lain yang sudah komunikasi, dia mengaku ada dua bakal calon yang sudah komunikasi. Yaitu Masan dari PDIP dan Maesyaroh asal Partai Idaman.

“Tapi, pak Masan hanya mengajak koalisi tanpa mendaftar. Sedangkan Maesyaroh hanya mengambil berkas sebagai wakil dan tidak mengembalikan berkasnya,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Buka Puasa Bareng, Sri Hartini dan Abdul Wachid Bagi-bagi Speaker Masjid

Anggota DPR RI Abdul Wachid dan Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Sri Hartini memberikan bantuan alat pengeras suara kepada pengurus masjid dan musala di Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Anggota DPR RI Abdul Wachid dan Wakil Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sri Hartini, Sabtu (3/6/2017) petang menggelar buka puasa bersama kader Gerindra dan warga Kudus.

Kegiatan buka puasa bersama dilakukan di kediaman Sri Hartini, di Jalan Suryo Kusumo VI, Nomor 99, Desa Jepang, Mejobo, Kudus. Ratusan orang hadir dalam kegiatan yang digelar di hari kedelapan Ramadan tersebut.

Abdul Wachid dan Sri Hartini keduanya menjadi jago Partai Gerindra dalam Pilkada serentak 2018 mendatang. Abdul Wachid dijagokan sebagai bakal calon gubernur Jawa Tengah, sementara Sri Hartini akan diusung sebagai bakal calon bupati Kudus.

Kegiatan ini dihadiri 250 orang, yang terdiri dari kader Partai Gerindra, masyarakat dan sejumlah tamu undangan lainnya.

“Buka puasa ini kami isi dengan dialog untuk menguatkan jalinan silaturahmi antarkader dan juga masyarakat,” kata Wachid yang juga ketua DPD Partai Gerindra Jateng tersebut.

Dalam dialog tersebut, banyak aspirasi yang disampaikan masyarakat. Mulai dari kondisi saat ini di Kudus dan Jawa Tengah, harapan ke depan dan berbagai program dan usulan yang disampaikan kepada dua legislator tersebut.

Sementara Sri Hartini menyatakan silaturahmi adalah hal yang utama. Dari silaturahmi menurutnya, berbagai masalah ataupun persoalan bisa dicarikan solusi dan dipecahkan secara bersama.

Dalam kesempatan itu, Abdul Wachid dan Sri Hartini juga memberikan bantuan seperangkat alat pengeras suara untuk masjid dan musala di Kabupaten Kudus. Pemberian bantuan disampaikan langsung kepada para pengurus masjid dan musala.

Editor : Ali Muntoha