Begini Reaksi Ganjar ketika Ada Siswa SMAN 1 Mlonggo Minta Sekolahannya Diperluas

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat berkunjung ke SMAN 1 Mlonggo, Kamis (19/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat berkunjung ke SMAN 1 Mlonggo, Kamis (19/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendatangi SMAN 1 Mlonggo, Kamis (19/1/2017). Hal ini sebagai bagian dari kegiatan program “Gubernur Mengajar” yang sudah berjalan sejak dirinya menjabat.

Dalam kesempatan ini, Ganjar juga melakukan dialog dan tanya jawab dengan siswa. Ada yang cukup menarik, ketika salah satu siswa mengajukan usulan kepada Ganjar. Yakni terkait dengan perluasan sekolah.

“Sebenarnya saya punya usul, yakni bagaimana caranya untuk melebarkan sekolah ini. Sebab, di sebelah barat gedung SMAN 1 Mlonggo ini masih ada tanah milik desa. Nah, apakah tanah itu bisa dibeli provinsi untuk dihibahkan ke sekolah?, ” tanya Ahmad Baharudin, siswa kelas XI kepada Ganjar.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Ganjar pun tersenyum dan menanggapinya dengan guyonan. “Memangnya Kamu berani ketemu ketemu Pak Kadesnya untuk meminta supaya tanah desa bisa dibeli? Kalau memang Pak Kades membolehkan, maka nantinya bisa dilaporkan ke pihak terkait supaya ditindak lanjuti. Akan tetapi, bila kadesnya tak membolehkan untuk dijual maka ya tidak jadi,”  jawan Ganjar.

Pada kesempatan tersebut, siswa juga merespon positif terkait dengan beberapa hal yang disampaikan oleh Ganjar. Di antaranya terkait dengan berita hoax, yang diminta agar siswa tidak mudah percaya dengan hal tersebut.

“Sebagai siswa yang memang sering mengakses internet, kita harus pintar-pintar menyaring berita dengan cara membuktikan kebenarannya. Kita harus mau bertanya kepada orang yang memang mengerti, agar kita tidak salah menangkap dari isi berita,” ujar Wildan, siswa kelas XII IPA.

Ia juga mengakui, bahwa dengan adanya berita hoax, semua masyarakat bisa dibingungkan. Sehingga, setiap pengguna media sosial harus bisa melihatnya dari berbagai sudut. Tak kalah penting menurutnya adalah, memiliki pikiran positif terhadap sesuatu hal, sehingga tidak terjerumus.

Editor : Kholistiono

Ganjar Imbau Siswa untuk Tidak Percaya Berita Hoax

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengajar di SMAN 1 Mlonggo, Kamis (19/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengajar di SMAN 1 Mlonggo, Kamis (19/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajar di SMAN 1 Mlonggo, Jepara, Kamis (19/1/2017). Dalam kesempatan ini, Ganjar menyampaikan berbagai hal kepada siswa, di antaranya terkait dengan berita hoax atau berita bohong.

Gubernur meminta, agar siswa untuk tidak percaya terhadap berita hoax. “Orang itu harus pintar memilah dan memilih sebuah berita. Dan jangan langsung percaya berita yang ada di media sosial. Kita harus cerdas untuk aktif mencari kebenaran informasi tersebut, supaya tak jadi fitnah,” ucapnya.

Dirinya juga mengakui bahwa dengan adanya teknologi berupa hand phone, maka setiap hari seseorang bisa melihat serta mengakses berita, apakah itu berita hoax atau tidak.

Untuk itu, ketika membaca atau melihat berita, diimbau untuk tidak langsung membagikan ke teman atau publik. Sebab, bisa saja berita itu hoax atau palsu.  Sehingga,harus benar-benar dicermati sebelum dibagikan, karena jika tidak benar, bisa menimbulkan fitnah.

Dalam kesempatan ini, Ganjar juga menyampaikan mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba. “Jadi, pelajar itu harus bisa berani mencegah adanya narkoba. Sebab bila narkoba itu dikonsumsi, maka akan bisa menghancurkan masa depan. Bahkan bisa membuat gila pemakainya, dan juga bisa memutuskan persahabatan serta pasangan masing-masing,” ujarnya.

Di hadapan siswa, Ganjar juga bercerita bagaimana masa lalunya ketika masih mengenyam pendidikan di SMA. “Ketik saya SMA dulu, tidak punya sepeda motor kayak siswa sekarang ini. Dulu saya masih ngekos, masak sendiri dan masih bekerja sampingan menjual bensin eceran,” bebernya.

Editor : Kholistiono

Tantangan Guru di Zaman Kekinian

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

GURU merupakan seorang pembimbing dan penuntun untuk menjadikan seseorang menjadi pintar dan dewasa dalam berpikir maupun bersikap. Peran seorang guru menjadi sangat vital bagi perkembangan generasi muda, sebab, mereka adalah “orang tua” bagi anak-anak yang sebagian waktunya, setiap hari dihabiskan di sekolah.

Maka tak heran, jika peran guru mendapatkan sorotan dari masyarakat luas. Sebab, guru menjadi kunci vital terhadap maju atau tidaknya dunia pendidikan. Mereka yang menjadi nahkoda untuk membawa anak didiknya ke sebuah tujuan pendidikan yang berkarakter dan bermoral, dengan jalur atau proses yang belum tentu sama antara satu guru dengan guru lain.

Tak dapat dipungkiri pula, dalam proses tersebut, terkadang ada tindakan yang “kurang wajar” dan justru bisa berdampak adanya ketidaksesuaian dengan kondisi masa kini. Bahkan, bisa pula mengakibatkan fatal terhadap kondisi psikis dan fisik dari peserta didik. Dapat dibayangkan, jika hal seperti ini dapat memicu reaksi dari publik, apalagi, kini zamannya sudah era sosial media, yang sangat memungkinkan informasi-informasi terkait apa yang terjadi dalam dunia pendidikan menyebar dengan sangat cepat.

Contoh saja, dalam beberapa hari terakhir ini, dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik. Bukan soal prestasi tentunya, sebab, jika hal seperti itu terkadang tak terlalu “dihebohkan” oleh publik, khususnya netizen.

Kali ini terkait dengan insiden adanya belasan siswa SMAN 1 Mlonggo, Jepara, yang pingsan akibat menjalankan sanksi atau hukuman yang diperintahkan oleh kepala sekolahnya. Sanksinya berupa lari, baris berbaris dan bersih-bersih dalam kondisi diguyur hujan deras. Mereka, yang fisiknya tak kuat karena kedinginan, lantas pingsan dan harus dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan. Bahkan, dua di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit.

Peristiwa ini bermula, ketika, pada hari itu ada puluhan siswa yang terlambat masuk sekolah, yang memang jam masuk dimajukan setengah jam lebih awal, yakni pukul 06.30 WIB. Hal ini tak lepas adanya program bersih lingkungan atau yang disebut Jumat Bersih.

Kepala sekolah sendiri menyampaikan, jika jam masuk dimajukan lebih awal, agar tidak mengganggu jam kegiatan belajar mengajar dengan adanya Program Jumat Bersih tersebut. Namun, yang terjadi hari itu, ada lebih dari 50 siswa yang datang terlambat dan tidak dapat masuk karena pintu gerbang sudah dikunci. Selanjutnya, mereka pun terkena sanksi.

Dalam hal ini, sang kepala sekolah juga mengatakan jika sanksi yang diberikan kepada siswanya itu bukan dimaksudkan untuk menyiksa dan tidak menginginkan peristiwa pingsannya belasan siswa itu terjadi. Sanksi tersebut dimaksudkan untuk memberikan pendidikan disiplin dan pendidikan karakter.

Namun demikian, hal tersebut sudah terlanjur terjadi. Gelombang protes pun muncul dari berbagai lini, khususnya orang tua dan siswa. Bahkan, pada hari berikutnya, siswa melakukan aksi demontrasi layaknya mahasiswa atau ormas yang membawa beragam karton yang bertuliskan tuntutan, yang intinya menuntut agar Kepala SMAN 1 Mlonggo lengser.

Sikap serius juga ditunjukkan oleh Pemkab Jepara Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat secara langsung melaporkan adanya peristiwa ini kepada Pemprov Jateng, dan memberikan rekomendasi kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jateng untuk mengganti posisi kepala sekolah yang saat ini dijabat Gunawan.

Dari peristiwa ini, setidaknya, bisa menjadi pembelajaran bagi dunia pendidikan untuk melakukan pembenahan dalam proses mendidik dan mengajar. Sehingga, ke depan tidak muncul lagi cara mendidik yang sebenarnya dimaksudkan untuk kebaikan, namun, justru pola yang diterapkan tidak sesuai. Pola-pola lama, yang terkadang cara pengajarannya “disisipkan” kekerasan fisik, sudah seharusnya tidak lagi muncul dalam pola pendidikan saat ini dan ke depannnya.

Seperti halnya yang disampaikan Anies Baswedan, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beberapa waktu lalu, bahwa, tantangan besar guru saat ini adalah bisakah guru menjadi teladan soal integritas? Bisakah kepala sekolah membuat sekolahnya menjadi zona berintegritas?

Untuk mewujudkan hal tersebut, salah satu di antaranya, adalah bagaimana cara berpikir guru yang harus diubah dari yang hanya sekadar menjalankan kewajiban untuk mendapatkan gaji. Menjadi guru harus punya kreasi dalam mendidik.

Dalam mendidik, guru juga seyogyanya tak menerapkan sikap otoriter, sehingga hal itu berakibat terhadap berkembangnya kreatifitas siswa. Seorang guru memiliki kewenangan untuk mendidik dengan cara mereka, namun, bukan semaunya mereka, yang justru tidak menghasilkan proses pembelajaran yang membuat nyaman siswa, sehingga tidak memacu siswa untuk lebih kreatif akibat ketidaknyamanan tersebut.

Namun demikian, guru tidak pula harus bersikap permisivisme. Dalam hal ini, guru tidak harus memberikan keleluasaan yang sebebas-bebasnya, sehingga justru menabrak aturan dan tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Sebab, fungsi guru adalah membimbing dan mengarahkan anak didiknya menjadi pribadi yang baik dan berkarakter.

Jika begitu, ternyata berat ya menjadi seorang guru? Ya, guru bukan hanya sebuah profesi, tetapi guru merupakan tugas mulia yang membutuhkan keikhlasan untuk mengabdikan diri mendidik siswa, seperti halnya mereka mendidik anak-anak mereka di rumah. Mereka punya kewajiban menyanyangi anak didiknya seperti halnya anak mereka sendiri. Maka ada baiknya, yang kini mengabdikan diri menjadi pendidik, menoleh kembali, apakah selama ini sudah benar-benar sesuai tujuan sebagai seorang guru, ataukan hanya sekadar menjalankan kewajiban.

Mengetahui beratnya tanggung jawab seorang guru seperti itu, tentulah, kita patut memberikan apresasi yang tinggi terhadap guru dan memuliakan guru. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk ikut dalam mengurangi beban guru, khususnya terkait dengan kesejahteraan mereka.

Kita berharap, ke depan, dunia pendidikan di Indonesia semakin maju dalam tatanan moral yang beradab dan tidak melepaskan nilai-nilai budaya yang dimiliki. (*)

Siswa SMAN 1 Mlonggo Sebut “Mr Bravo” Sering Marah-marah di Sekolah

Audiensi antara perwakilan siswa dan perwakilan Pemkab Jepara serta guru SMAN 1 Mlonggo pagi tadi, terkait tuntutan siswa yang menginginkan agar Gunawan lengser dari jabatannya sebagai kepsek. (MuriaNewsCom/Edy Suatriyono)

Audiensi antara perwakilan siswa dan perwakilan Pemkab Jepara serta guru SMAN 1 Mlonggo pagi tadi, terkait tuntutan siswa yang menginginkan agar Gunawan lengser dari jabatannya sebagai kepsek. (MuriaNewsCom/Edy Suatriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Ratusan siswa SMAN 1 Mlonggo melakukan aksi unjuk rasa menuntut Kepala Sekolah Gunawan Amrillah untuk mundur dari jabatannya, Senin (9/1/2017).

Aksi ini, buntut daripada adanya belasan siswa yang pingsan karena dihukum pada Jumat (6/1/2017) lalu. Ketika itu, lebih dari 50 siswa datang terlambat, yang seharusnya pukul 06.30 WIB sudah masuk, karena ada Program Jumat Bersih. Akibat keterlambatan tersebut, mereka mendapatkan hukuman berlari, baris berbaris dan bersih-bersih dalam kondisi di bawah guyuran hujan deras. Akibatnya, belasan siswa pingsan karena kedinginan, dan harus mendapatkan perawatan di puskesmas dan rumah sakit.

Salah satu siswa yang tidak disebutkan namanya menyatakan, jika tuntutan mereka kali ini hanya ingin kepala sekolahnya mundur. Dirinya menilai, jika kepala sekolahnya yang juga sering dijuluki Mr Bravo tersebut terlalu sewenang-wenang saat memberikan sanksi kepada siswa, khususnya dalam kasus kemarin.

“Kita memang menuntut Pak Gunawan mundur, karena sudah sewenang-wenang. Apalagi, ia juga sering marah-marah, bahkan berbicara kotor saat memarahi muridnya.Kita  berharap, ke depannya sekolahnya dipimpin oleh pimpinan yang bijaksana,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, aksi demo tersebut bukan dimaksudkan untuk memojokkan pihak guru atau membuat almamater sekolah menjadi buruk di masyarakat. Namun, aksi tersebut hanya sebuah cara untuk menyuarakan agar ada perubahan di sekolah.

Editor : Kholistiono

“Om Lengser Om”, Ratusan Siswa SMAN 1 Mlonggo Demo Tuntut Kepala Sekolah Mundur

Ratusan siswa SMAN 1 Mlonggo melakukan aksi demo menuntut Kepala Sekolah Gunawan turun dari jabatannya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ratusan siswa SMAN 1 Mlonggo melakukan aksi demo menuntut Kepala Sekolah Gunawan turun dari jabatannya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Ratusan siswa SMAN 1 Mlonggo melakukan aksi unjuk rasa menuntut Kepala Sekolah Gunawan Amrillah untuk mundur dari jabatannya, Senin (9/1/2017).

Aksi ini, buntut daripada adanya belasan siswa yang pingsan karena dihukum pada Jumat (6/1/2017) lalu. Ketika itu, lebih dari 50 siswa datang terlambat, yang seharusnya pukul 06.30 WIB sudah masuk, karena ada Program Jumat Bersih. Akibat keterlambatan tersebut, mereka mendapatkan hukuman berlari, baris berbaris dan bersih-bersih dalam kondisi di bawah guyuran hujan deras. Akibatnya, belasan siswa pingsan karena kedinginan.

Dua di antaranya, bahkan harus dirujuk di RSI Sultan Hadlirin lantaran harus ditangani secara cukup serius. Sebanyak 10 siswa lainnya menjalani perawatan di Puskesmas Mlonggo.

Pada aksi demo yang dimulai sekitar pukul 06.30 WIB pagi tadi, siswa membentangkan karton yang bertuliskan beragam pernyataan dan tuntutan. Seperti halnya, “om…lengser om..”, “sekolah ini bukan milik perorangan bung”, dan lain sebagainya.

Dalam aksi ini, juga dilakukan pengumpulan tanda tangan agar Kepala SMAN 1 Mlonggo Gunawan Amrillah lengser dari jabatannya. “Yang Bertanda Tangan Setuju Gunawan Dilengserkan.”

Salah seorang siswi kelas XII Kintan mengatakan, tulisan-tulisan tersebut sudah dibuat sejak Jumat lalu, secara spontan, yang kemudian hari ini diadakan aksi. “Bukan berarti kita mendemo guru, namun dengan aksi ini kita hanya menginginkan perlakuan yang dilakukan oleh kepala sekolah itu bisa dihindari,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, perlakuan kepala sekolah tersebut tak hanya menghukum siswa siswi saat hujan deras seperti kemarin saja, melainkan juga ada perlakuan yang lainnya. “Tahun lalu, ada salah satu danton atau pemimpin barisan upacara tiba-tiba ditendang. Kami juga tak tahu apa alasannya. Padahal yang lainnya tak diapa- apakan,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan salah satu siswa lainnya.“Dalam dua tahun ini kita sudah diam atas kebijakan yang membuat proses pembelajaran di sekolah menjadi tak nyaman. Tuntutan kami tidak muluk-muluk, yaitu, Pak Gunawan agar tak lagi menjabat sebagai kepala sekolah di tempat kami. Kami ingin ada kegembiraan dan senyum kembali di sekolah ini,” ujar siswa.

Aksi ini, kemudian juga dilanjutkan dengan pertemuan perwakilan siswa dan sejumlah pejabat Pemkab Jepara. Di antaranya, Sekda Jepara Sholih, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara Khusairi, Kabag Kesra Setda Jepara Lukito Sudi Asmoro, Kapolsek Mlonggo AKP Maryono dan guru SMA N 1 Mlonggo sert Wakil Ketua Komite Sekolah Arief Ma’sum.

Sekda berjanji, dalam waktu sepekan kedepan status Kepsek Gunawan akan jelas. “Hari ini Pak Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat ke provinsi untuk melapor hal ini ke Gubernur. Sebab, kewenangan SMA saat ini kan sudah ada di provinsi. Dalam hal ini, kami hanya melaporkan dan memberikan rekomendasi agar Gunawan tak lagi menjadi Kepala SMA N 1 Mlonggo,” katanya.

Editor : Kholistiono

Kepala SMAN 1 Mlonggo Ternyata Juga Punya Julukan Mr Bravo

Audiensi yang dilakukan oleh Plt. Bupati Ihwan Sudrajat dengan Kepala SMAN 1 Mlonggo serta beberapa wali murid beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Audiensi yang dilakukan oleh Plt. Bupati Ihwan Sudrajat dengan Kepala SMAN 1 Mlonggo serta beberapa wali murid beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Dalam tiga hari ini belakangan ini, nama SMAN 1 Mlonggo viral di media sosial dan juga di berbagai media online maupun elektronik. Bukan soal prestasi kali ini, tetapi, terkait adanya belasan siswa yang pingsan dan harus dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Mereka ini mendapatkan hukuman dari kepala sekolah akibat datang terlambat. Lebih dari 50 siswa yang datang terlambat disuruh lari dan baris berbaris di bawah guyuran hujan.

Gunawan Amrillah Kepala SMAN 1 Mlonggo menyatakan, jika hukuman tersebut sebagai bentuk pendidikan disipilin dan karakter, serta tidak bertujuan untuk menyiksa siswa. Sebelumnya, dirinya juga telah meminta maaf, dan pasrah jika dirinya mendapatkan sanksi dari instansi terkait.

Dan, tahukan Anda, jika Kepala SMAN 1 Mlonggo ini, ternyata di sekolah sering dijuluki sebagai Mr Bravo. Kepala sekolah yang sering membawa tongkat komando ketika di sekolah ini, memerintahkan kepada seluruh siswa untuk mengucapkan “Bravo” ketika berpapasan dengannya.

“Kalau ketemu atau berpapasan dengan Pak Gunawan siswa memang disuruh mengucapkan kata “Bravo.” Itu katanya adalah kata penyemangat, tetapi, kalau menurut saya itu agak kurang pas dengan keadaan. Yang lebih bijak ya mengucap salam, atau “Selamat Siang” dan sejenisnya,” ujar Yuni, siswi SMAN 1 Mlonggo.

Bahkan katanya, di dalam ruangan kepala sekolah juga terdapat foto Gunawan yang mengenakan kacamata hitam yang bertuliskan “Mr Bravo.” Namun demikian, tulisan tersebut katanya sudah tidak ada lagi kini. “Tulisan Mr Bravo yang tertempel di papan nama atau di atas pintu ruangan kepala sekolah itu sudah dikelupas. Mungkin lantaran ada kasus kemarin,” imbuhnya.

Terpisah, Wakil Kepala SMAN 1 Mlonggo Bagian Kesiswaan Laili Rosyad mengatakan, kata Bravo itu memang kata-kata penyemangat bagi SMAN 1 Mlonggo. Bahkan di sekolah tersebut terdapat tulisan Bravo Smansag, yang artinya Bravo SMAN 1 Mlonggo.

“Ya sih, kalau berpapasan memang memang mengucapkan kata “Brav”, tetapi  sebelumnya juga mengucap salam. Baik itu “Selamat Pagi”, “Assalamualaikum” atau lainnya. Namun salam Bravo itu juga tak serta merta dilakukan oleh semua guru, atau juga oleh semua siswa. Ya tergantung mereka juga,” pungkasnya.

Baca juga : Soal Adanya Belasan Siswa SMAN 1 Mlonggo yang Pingsan saat Dihukum, Plt Bupati Jepara Minta Disdik Bentuk Tim Investigasi

Editor : Kholistiono

KBM di SMAN 1 Mlonggo Hari Ini Tak Berjalan Efektif, Banyak Siswa Tak Masuk Sekolah

Kondisi di SMAN 1 Mlonggo yang hari ini terlihat cukup sepi, karena banyak siswa yang tak masuk sekolah. KBM juga tak berjalan efektif. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kondisi di SMAN 1 Mlonggo yang hari ini terlihat cukup sepi, karena banyak siswa yang tak masuk sekolah. KBM juga tak berjalan efektif. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Suasana di SMAN 1 Mlonggo, Jepara, hari ini, Sabtu (7/1/2017) terlihat cukup sepi. Ternyata, banyak siswa yang tak masuk sekolah hari ini, meski bukan hari libur. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) juga tak berjalan efektif.

Wakil Kepala SMAN 1 Mlonggo Bagian Kesiswaan Laili Rosyad menuturkan, jika sebenarnya hari ini sekolah tidak libur atau hari tenang. Tetapi, memang diakuinya banyak siswa yang tak masuk sekolah, dengan alasan bajunya basah dan belum kering, akibat aksi hujan-hujanan sebagai bentuk solidaritas kepada teman-temannya yang dihukum di bawah guyuran hujan.

“Hari ini, KBM juga tak berjalan efektif. Selain banyak siswa yang tak masuk sekolah, hari ini juga ada audiensi antara pihak sekolah dan orang tua, serta pihak Pemkab Jepara dan juga DPRD Jepara,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (7/1/2017).

Sementara itu, Kintan, salah satu siswi kelas XII mengatakan, memang saat teman-temannya dihukum di bawah guyuran hujan dan ada beberapa yang pingsan, secara spontanitas semua siswa langsung keluar untuk ikut hujan-hujan. Hal itu sebagai bentuk solidaritas antarsesama teman.

“Saat itu memang kita hujan-hujanan di dalam gerbang untuk solidaritas. Sedangkan yang dihukum itu berada di luar gerbang dengan cara lari bolak balik mulai dari gerbang sekolah hingga gapura sekolah sejauh 100 meter. Untuk siswa laki laki sebanyak 10 kali dan perempuan sebanyak 5 kali,” ungkapnya.

Di sisi lain, dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, saat ini siswa yang masih dirawat di Puskesmas Mlonggo dan RSI Sultan Hadlirin masing-masing ada 2 siswa. Yakni, Elizabeth (17) asal Karanggondang  RT 1 RW 7, dan  Zahrotul Ula (17) asal Suwawal RT 3 RW 3 dirawat di Puskesmas Mlonggo. Sedangkan yang ada di RSI Sultan Hadlirin yakni Rafika Dwi Pratiwi (18) asal Suwawal RT 2 RW 1
dan Kent Ariski (18) asal Jambu Timur RT 18 RW 4. Sedangkan yang lainnya sudah pulang ke rumah.

Rafika Dwi Pratiwi (18), salah satu siswi yang kini masih dirawat di RSI Sultan Hadlirin mengatakan, jika kepala sekolahnya memang sangat tegas dan disiplin. Dia menambahkan, sebenarnya hukuman yang diberikan kepadanya dan puluhan temannya baru selesai, lantaran banyak guru yang ikut menangis melihat beberapa siswa pingsan.

“Banyak siswa dan guru yang menangis melihat hukuman itu.Kemudian, Pak Gunawan menghentikan hukuman tersebut. Dengan adanya kejadian itu, saya harap ada pembenahan terhadap  sistem yang selama ini dijalankan,” pungkasnya.

Baca juga : Kepala SMAN 1 Mlonggo Pasrah Jika Dirinya Dikenakan Sanksi

Editor : Kholistiono

Kepala SMAN 1 Mlonggo Pasrah Jika Dirinya Dikenakan Sanksi

Audiensi yang dilakukan di SMAN 1 Mlonggo, Sabtu (7/1/2017) terkait adanya belasan siswa yang pingsan akibat menjalankan sanksi dari kepala sekolah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Audiensi yang dilakukan di SMAN 1 Mlonggo, Sabtu (7/1/2017) terkait adanya belasan siswa yang pingsan akibat menjalankan sanksi dari kepala sekolah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Kepala SMAN 1 Mlonggo Gunawan Amrillah mengaku pasrah jika menerima sanksi atas sikapnya, terkait tindakan sanksi disiplin yang diberikan kepada puluhan siswanya berupa lari dan baris berbaris di bawah guyuran hujan, sehingga, menyebabkan belasan siswa ada yang pingsan.

“Saya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak terkait. Itu pelajaran bagi saya, dan saya akan ambil hikmahnya. Apapun sanksinya, saya pasarah saja. Sebab, ini juga akan menjadi bahan evaluasi untuk ke depannya dan membenahi sistem yang ada,” ungkapnya.

Dirinya juga menyatakan, jika, dirinya memberikan sanksi kepada puluhan siswanya awalnya masih dalam cuaca yang cerah. “Kemarin itu sekitar pukul 06.30 WIB memang belum turun hujan, dan cuacanya juga cerah.Nah, setelah pukul 07.00 WIB, tiba-tiba hujan turun. Ketika itu, saya juga mengimbau kepada siswa yang dihukum, bila ada yang tak kuat, maka boleh berhenti. Namun saat itu siswa tak ada yang berhenti. Nah terjadilah kejadian pingsan itu,” paparnya.

Ia juga menilai, jika sanksi yang diberikan kepada siswanya tersebut bukan bertujuan untuk menyiksa, namun, lebih untuk memberikan pendidikan disiplin, pendidikam karakter dan lainnya. “Saya juga punya hati nurani Mas. Makanya, saya juga mengimbau kepada anak untuk berhenti bagi yang sudah tidak kuat. Namun siswa itu tidak berhenti, dan tetap melanjutkan menjalankan sanksi,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi C DPRD Jepara Sunarto mengatakan, pihaknya akan mengimbau kepada yang bersangkutan untuk bisa menggunakan sistem pendidikan yang ada.

“Ini merupakan bentuk pembelajaran bagi yang bersangkutan juga, sebagai bentuk instrospeksi. Sehingga kedepannya bisa menggunakan aturan pendidikan yang ada. Dan bukan menggunakan sistem hukuman siswa seperti ini,” kata Narto.

Salah satu wali murid SMAN 1 Mlonggo Yusuf Mualim mengatakan, kasus ini seharusnya diproses dengan sesuai aturan, sehingga kedepannya tak ada kejadian yang serupa.

“Meskipun anak saya tak di hukum, namun anak saya juga terkena imbasnya. Yakni sakit panas. Sebab, rata- rata siswa ikut solidaritas hujan-hujanan, lantaran tidak tega melihat temannya yang dihukum di saat hujan. Mereka secara spontanitas ikut hujan-hujanan di luar,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Soal Adanya Belasan Siswa SMAN 1 Mlonggo yang Pingsan saat Dihukum, Plt Bupati Jepara Minta Disdik Bentuk Tim Investigasi

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat (tengah) dan Kepala SMAN 1 Mlonggo Gunawan Amrillah (dua dari kiri) saat melakukan audiensi dengan wali murid, Sabtu (7/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat (tengah) dan Kepala SMAN 1 Mlonggo Gunawan Amrillah (dua dari kiri) saat melakukan audiensi dengan wali murid, Sabtu (7/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Terkait adanya belasan siswa SMAN 1 Mlonggo yang pingsan saat menjalani hukuman lari, baris berbaris dan bersih-bersih lingkungan sekolah dalam kondisi diguyur hujan pada Jumat (6/1/2017), Plt Bupati Jepar Ihwan Sudrajat pada Sabtu (7/1/2017) pagi tadi datang ke sekolahan.

Dalam kesempatan ini, dirinya langsung menggelar audiensi dengan pihak SMAN 1 Mlonggo. Audiensi tersebut dilakukan di ruang komputer SMA N 1 Mlonggo yang juga dihadiri Ketua Komisi C DPRD Jepara Bidang Pendidikan Sunarto, Kepala BKD Abdul Syukur, Kepala Satpol PP dan Damkar Trisno Santosa serta perwakilan wali murid.

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat mengatakan, pertemuan tersebut sebagai salah satu bentuk keseriusan dari pemerintah untuk memperhatikan kondisi sosial yang terjadi di masyarakat. “Meski saya jadi pelaksana tugas, namun saya akan terus mengawasi apa yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya yang terjadi di SMAN 1 Mlonggo ini. Hasil pertemuan ini, nantinya kita sampaikan ke gubernur,” katanya.

Dirinya juga mengusulkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi untuk membentuk tim investigasi terkait sanksi yang diberikan kepala sekolah kepada siswa, sehingga berakibat belasan siswa dan harus mendapatkan perawatan di puskesmas dan rumah sakit.

“Kita juga sudah mengusulkan kepada  pihak Disdik Provinsi untuk bisa membentuk tim khusus untuk menangani hal ini. Sehinga nantinya, bisa menghasilkan penyelidikan yang maksimal,” ungkapnya.

Terkait apakah ada sanksi terhadap kepala sekolah atau tidak terkait permasalah tersebut, pihaknya belum bisa memutuskan. Sebab, hal tersebut butuh pertimbangan dari berbagai aspek. “Itu ada mekanismenya tersendiri, sehingga kita tidak bisa gegabah menjatuhkan sanksi. Namun, yang jelas, kita serius memperhatikan persoalan ini,” katanya.

Dia melanjutkan, sebenarnya sanksi itu ada tiga jenis. Pertama yakni sanksi ringan berupa teguran, kedua sanksi sedang berupa penurunan pangkat dan yang ke tiga yakni sanksi berat atau pemecatan.

Sebelumnya, seperti diberitakan MuriaNewsCom pada Jumat (6/1/2017) menyebut bahwa siswa yang dihukum ada sebanyak seratusan dengan mengeliling lapangan. Namun saat dikonfirmasi lebih lanjut hari ini, Kepala SMAN 1 Mlonggo Gunawan Amrillah menyatakan, jika siswa yang dihukum ada sekitar 50-an dan tidak mengelilingi lapangan.

“Di sini tak ada lapangan Mas, larinya itu mulai dari gerbang hingga ke gapura sekolah dengan cara bolak balik. Jadi itu bukan mengelilingi lapangan lho. Kalau jumlah pastinya saya tak tahu. Namun yang dihukum itu sekitar 50-an anak. Ada yang kelas X, XI dan XII. Semua campur,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Soal Belasan Siswa yang Pingsan Ketika Menjalani Sanksi Fisik di Bawah Guyuran Hujan, Ini Jawaban Kepsek SMAN 1 Mlonggo

 Siswa SMAN 1 Mlonggo saat menjalani hukuman di bawah guyuran hujan, Jumat (6/1/2017). (Istimewa)

Siswa SMAN 1 Mlonggo saat menjalani hukuman di bawah guyuran hujan, Jumat (6/1/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom,Jepara – Belasan siswa SMAN 1 Mlonggo pingsan saat menjalani hukuman fisik dari kepala sekolah, karena terlambat masuk, Jumat (6/1/2017) pagi. Mereka dihukum keliling lapangan, bersih-bersih dan baris berbaris dalam kondisi di bawah guyuran hujan.

Terkait hal ini, Kepala SMA 1 Mlonggo Gunawan mengakui, jika ada belasan siswanya yang pingsan akibat hukuman yang langsung diberikannya kepada siswa yang terlambat masuk. Dia menilai, hukuman itu diberikan sebagai salah satu bentuk pendidikan kedisiplinan dan pembentukan karakter kepada siswa.

Ia juga mengutarakan, bahwa dalam menghukum siswa, dirinya sudan mempertimbangkan kondisi siswa masing-masing. Dirinya menyebut, jika mempersilakan siswa yang tak kuat menjalankan hukuman untuk keluar dari barisan dan tidak menjalankan hukuman seperti lainnya.

“Beberapa anak sudah keluar, tapi yang lainnya tidak. Saya minta maaf kepada semua pihak, khususnya kepada orang tua siswa. Saya siap menanggung semua biaya perawatan,” kata Gunawan.

Dia menambahkan, setiap Jumat, pihaknya memang memajukan jam masuk, karena ada Program Jumat Bersih. “Gerbang sekolah mulai ditutup pada pukul 06.30 WIB. Alasan jam masuk  sekolah dimajukan, yakni agar Program Jumat Bersih berupa kerja bakti itu tak mengganggu jam pelajaran,” pungkasnya.

Baca juga : Datang Terlambat, Ratusan Siswa SMAN 1 Mlonggo Dihukum Lari Keliling Lapangan saat Hujan, Belasan Siswa Pingsan

Editor : Kholistiono

Datang Terlambat, Ratusan Siswa SMAN 1 Mlonggo Dihukum Lari Keliling Lapangan saat Hujan, Belasan Siswa Pingsan

Belasan siswa SMAN 1 Mlonggo pingsan usai dihukum lari keliling lapangan, bersih-bersih dan baris berbaris saat hujan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Belasan siswa SMAN 1 Mlonggo pingsan usai dihukum lari keliling lapangan, bersih-bersih dan baris berbaris saat hujan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Sedikitnya ada 12 siswa SMAN 1 Mlonggo, Jepara, pingsan ketika mendapatkan hukuman dari kepala sekolah pada Jumat (6/1/2017) pagi.

Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, insiden tersebut bermula, ketika ada ratusan siswa datang terlambat. Sejak pagi sekitar pukul 06.30 WIB, pintu pagar sekolah sudah dikunci, lantaran pada hari Jumat, jam masuk sekolah dimajukan karena ada Program Jumat Bersih.

Karena pada pagi hari tadi cuaca hujan, ada ratusan siswa yang ternyata terlambat masuk. Saat tiba di sekolah, pintu pagar pun sudah terkunci, dan akibatnya mereka tidak diperbolehkan masuk dan berdiri di luar pagar dalam kondisi hujan-hujanan.

Setelah itu, mereka kemudian mendapatkan hukuman berlari keliling lapangan. Untuk siswa laki-laki, harus lari keliling lapangan sebanyak 10 kali, dan untuk siswa perempuan lari keliling lapangan sebanyak lima kali.

Bukan hanya itu saja, mereka yang terlambat masuk ini juga dihukum untuk bersih-bersih lingkungan sekolah, dalam kondisi yang pakaian basah kuyup karena diguyur hujan. Mereka pun dihukum untuk baris berbaris.

Setelah hukuman yang dijalankan siswa tersebut berlangsung sekitar 1,5 jam, beberapa siswa kemudian pingsan karena tak kuat kedinginan. Bahkan, informasinya, hukuman tersebut baru dihentikan ketika beberapa siswa yang tidak kena hukuman menangis minta agar hukuman tersebut dihentikan, karena banyak temannya yang dihukum jatuh pingsan.

Ada 12 siswa yang kemudian dibawa ke Puskesmas Mlonggo dan dua siswa dirujuk ke RSI Sultan Hadlirin Jepara untuk mendapatkan perawatan.

Adapaun 12 siswa tersebut, yakni Ismi, Dina, Rafika, Rama, Ken Ariski, Zahwa, Zahrofiq, Reni Noor, Yunia, Eka, Aini, Aisabel.

Akibat kejadian tersebut, sempat membuat situasi di sekolahan gaduh. Sehingga, aparat dari Polsek Mlonggo pun turun tangan untuk melakukan pengamanan.

Kapolsek Mlonggo AKP Maryono menjelaskan, usai kejadian itu pihaknya melakukan pengamanan di lokasi kejadian. “Sebab memang sempat terjadi aksi protes baik oleh siswa maupun orang tua. Satu per satu orang tua siswa datang ke sekolah menuntut pertanggungjawaban dari pihak sekolah. Tapi belum ada upaya hukum dari wali murid yang dirugikan,” kata Maryono.

Editor : Kholistiono