Ratusan Siswa SMA Muhammadiyah Kudus Datangi PN, Ada Apa?

Datangi-PN

Ratusan siswa SMA muhammadiyah Kudus, mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Kudus untuk mengetahui secara langsung proses pengadilan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ratusan siswa SMA muhammadiyah Kudus, mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Kudus. Kedatangan para siswa tersebut untuk mengaplikasikan mata pelajaran PPKN yang didapat di bangku sekolah.

Hal tersebut diungkapkan guru PPKN Sri Rosidah, menurutnya, ratusan siswa kelas X (sepuluh) tersebut datang langsung ke pengadilan guna menyaksikan langsung proses persidangan yang berlangsung.

”Mereka ini masih kelas X, kami bagi jadi dua kelompok, pertama pada Senin lalu sekitar 90 siswa. Dan sekarang sekitar 90 siswa yang datang kali ini untuk menyaksikan proses persidangan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kebetulan dalam materi pelajaran ada tentang persidangan perdata dan pidana. Sehingga momen yang dilakukan juga pas dalam memberikan pelajaran kepada siswa untuk mengetahuinya secara langsung.

Setelah melihat persidangan, para siswa juga diminta membuat laporan hasil persidangan. Hal itu dimaksudkan agar siswa juga mengerti tentang persidangan.

”Selama berangkat kami juga menggunakan angkutan umum. Itu juga digunakan untuk melatih siswa menggunakan kendaraan umum,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

PPL Bermanfaat untuk Proses Menjadi Guru Sebenarnya

PPL-Bermanfaat

Noor dan Afkar bersama volunteers asing menjadi pengajar di SMA Muhammadiyah Kudus. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Mochammad Chasan, kepala SMA Muhammadiyah Kudus, mengatakan adanya mahasiswa PPL di sekolahnya sangat bermanfaat. Menurutnya, manfaat itu secara langsung dibebankan kepada para mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Sebagai contoh kehadiran mahasiswa PPL dari Universitas Muria Kudus (UMK) ke sekolahnya. Mereka datang melakukan praktik mengajar di SMA Muhammadiyah Kudus.

”Mereka terjun langsung dalam proses pembelajaran di hadapan para siswa. Dengan begitu, mereka akan siap terjun ke dunia pendidikan selepas lulus kuliah,” kata Mochmmad Chasan, saat ditemui di SMA Muhammadiyah Kudus, Jalan KHR Asnawi 19, Damaran, Kudus.

Selama tiga bulan, mulai 27 Agustus – 27 Oktober 2015, mahasiswa PPL melakukan praktik mengajar di sekolah tersebut. Di sekolah ini, mereka menggantikan tugas guru yang sebenarnya kepada para siswa. Misalnya Noor Sholikah, mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling, yang PPL di sekolah tersebut. Ia melakukan konsep pembelajaran kepada siswa dengan metode berkelompok. Dibantu teman-temannya, Noor memberikan konseling kepada siswa untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi para siswa. Khususnya bagi mereka yang kurang fokus dalam menerima pelajaran.

”Sampai sekarang ini, ada berbagai permasalahan yang dialami para siswa. Salah satunya ada yang sudah coba-coba merokok atau masalah ekonomi. Saya mengarahkan kepada mereka untuk menjadi siswa yang lebih berprestasi,” kata Noor.

Sementara itu Afkar Damba Fata, mahasiswa PPL jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, mengatakan perlunya dorongan untuk para siswa agar mau belajar bahasa Inggris. Sebab bahasa Inggris merupakan bahasa universal yang perlu dipelajari para siswa.

”Sampai sekarang penemuan saya melihat banyak anak-anak yang malu untuk berbahasa Inggris. Saya menyarankan agar mereka berani untuk salah daripada tidak berani mengucapkan bahasa Inggris. Apalagi di sini ada volunteers asing yang cukup membantu saya dan teman-teman mendorong mereka untuk mengucapkan bahasa Inggris kepada volunteer tersebut,” pungkas Afkar. (HANA RATRI/TITIS W)

 

SMA Muhammadiyah Tekankan Karakter Religius dan Bahasa Inggris Aktif Sebagai Pola Pendidikan Siswa

Mochammad Chasan berfoto bersama Indra, presiden Kresna Youth Peace Generation. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Mochammad Chasan berfoto bersama Indra, presiden Kresna Youth Peace Generation. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Sebagai bentuk menerapkan konsep kearifan lokal, SMA Muhammadiyah Kudus menekankan karakter religius dan umum sebagai pola pendidikan kepada para siswa. Ditemui MuriaNewsCom, Mochammad Chasan, kepala SMA Muhammadiyah Kudus, mengatakan konsep tersebut dibangun agar siswa dapat melatih kepribadian serta kemandirian pada saat mereka akan masuk perguruan tinggi maupun dunia kerja.

”Karakter akhlaqul karimah untuk menjadi generasi Qur’ani menjadi dasar utama bagi siswa-siswi kami. Setiap sepuluh menit sebelum jam pelajaran, kami membiasakan para siswa membaca doa dan surat-surat Alquran. Bacaan salat, doa, dzikir dan keterampilan BTA (Baca Tulis Alquran, red) juga dibiasakan para siswa di sini. Harapannya siswa memiliki karakter tersebut dan mandiri setelah lulus dari SMA Muhammadiyah Kudus ini,” kata Mochammad Chasan.

Selain itu, sekolah yang terletak di KHR Asnawi ini juga menekankan bahasa Inggris kepada para siswa. Harapannya para siswa mampu berbahasa Inggris secara aktif. Bahkan, Mochammad Chasan juga membebaskan para siswanya agar bersaing dalam lomba akademik dan nonakademik.

”Tiga siswa kami tahun ini menjadi delegasi dan mewakili Indonesia ke Jepang. Prestasi itu berasal dari penekanan bahasa Inggris aktif para siswa di sekolah ini,” katanya.

Tidak hanya itu saja, sekolah Islami ini juga bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan seperti Kresna Youth Peace Generation untuk mengakomodasi mereka yang membutuhkan informasi pendidikan dalam maupun luar negeri. Serta LPK untuk membawa para murid mendapatkan keterampilan bersertifikat.

”Kami berharap kepada semua siswa di SMA Muhammadiyah ini agar dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, memperoleh beasiswa pendidikan masuk ke PT, dan mengikuti program bertaraf nasional maupun internasional. Tapi bagi mereka yang tidak bisa berkuliah paling tidak mendapatkan keterampilan bersertifikat dari LPK yang bekerja sama dengan sekolah kami,” pungkasnya. (HANA RATRI/TITIS W)

Bencana Banjir Dipresentasikan Tiga Siswa SMA Muhammadiyah Kudus ke Jepang

Siswa SMA Muhammadiyah Kudus saat berada di Jepang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa SMA Muhammadiyah Kudus saat berada di Jepang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Tiga siswa SMA Muhammadiyah Kudus, Qisthan Arief Hibbatul Haqqi (16), Golda Defanisa Astrid (17), dan Zahra Ul Hasanah (17) mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia untuk tampil mempresentasikan bencana banjir yang terjadi di Indonesia.

Kegiatan yang organisasi PBB, Unesco berlangsung belum lama ini. Acara ini sendiri merupakan acara rutin 10 tahunan.

Qisthan Arief Hibbatul Haqqi, salah satu siswa yang tampil dalam ajang kesempatan tersebut menceritakan, bagaimana asal mula dirinya bersama dua rekannya bisa tampil di Jepang. ”Awalnya bersama dua teman saya mengikuti test yang di adakan oleh lembaga pendidikan Kresna Youth Peace Generation Cabang Semarang,” katanya.
Setelah mengisi dan melampirkan beberapa persyaratan, akhirnya, setelah diverifikasi kami bertiga bisa lolos. Persaingan, katanya, pada saat itu sangat ketat, karena harus bersaing dengan ribuan siswa lainnya di Indonesia.

”Ketika tes, kita disuruh mengisi berbagai macam soal yang ada di formulir. Setelah ada verifikasi, ternyata kami bisa lolos. Selain itu, dalam pertemuan yang ada di Jepang, setiap peserta harus mempresentasikan berbagai macam bencana yang ada di negaranya masing-masing. Nah, kami kemudian mempresentasikan bencana banjir yang ada di Indonesia,” ungkapnya.

Dirinya mengatakan, dalam pertemuan pelajar yang ada di Jepang, secara otomatis dapat memberikan solusi atau wawasan terhadap penangana bencana. Sebab acara ini memang dibawahi dari UNESCO. Dalam perjalannya ke Jepang, ketiga siswa itu disambut baik oleh ikatan pelajar Indonesia yang berada di sana.
”Setidaknya dalam presentasi tersebut, setiap pelajar berbagai negara dapat memberikan masukan atau wawasan ilmu, supaya bisa diterapkan di Indonedia. Selain itu, kita juga boleh memberikan masukan kepada negara lain, cara mengatasi bencana yang ada,” ujarnya.

Salah satu pengetahuan yang katanya bisa diaplikasikan terhadap sekolah ialah pencegahan bencana. Salah satunya menangani seseorang yang trauma atau shock karena bencana. Sebab di Indonesia, bila terdapat orang trauma atau shock, lebih cenderung dibiarkan sendirian. Namun bila di Jepang, orang itu harus ditemani, diajak ngobrol, supaya mereka bisa bangkit meskipun suasana masih dalam duka. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Latih Berbahasa Inggris sejak Dini

Dua turis asing datang ke SMA Muhammadiyah untuk memberikan materi dan pengenalan bahasa Inggris. Usai kegiatan, para siswa langsung menyerbu keduanya untuk berfoto bersama. (MuriaNewscom/Hana Ratri)

Dua turis asing datang ke SMA Muhammadiyah untuk memberikan materi dan pengenalan bahasa Inggris. Usai kegiatan, para siswa langsung menyerbu keduanya untuk berfoto bersama. (MuriaNewscom/Hana Ratri)

KUDUS – Ari Fakhrus Sanny, pengurus yayasan Kresna Youth Peace Generation menjelaskan kegiatan ini diikuti 180 siswa kelas X SMA Muhammadiyah. Alasan memberikan pengenalan bahasa Inggris kepada para peserta didik mulai dari kelas sepuluh, supaya mereka dapat belajar bahasa Inggris sejak dini.

Acara ini sudah dilaksanakan selama tiga hari mulai dari Senin (27/07/2015), dengan memberikan materi-materi yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Dan tepat pada hari ini merupakan acara puncak dengan menghadirkan para turis dalam kegiatan ini.

Berdasarkan pantauan MuriaNewsCom, antusiasme para siswa mulai terasa ketika acara berakhir. Mereka berkerumun mengejar kedua turis tersebut untuk berfoto bersama. Tak pelak, lorong kelas yang sempit menjadi penuh dengan siswa-siswa yang mengantri.

”Bahasa Inggris itu penting dan menyenangkan. Acara ini memang sangat penting sekali,” ujar Noor Akhlis, seorang siswa SMA Muhammadiyah Kudus.

Ke depannya, Kresna Youth Peace Generation tetap mengadakan acara serupa. Sanny menegaskan meski yayasannya ini sering berkeliling di wilayah Jawa Tengah, namun di wilayah Kudus terdapat banyak peluang dan potensi dari peserta didik. Dan SMA Muhammadiyah merupakan salah satu sekolah yang sudah menggunakan pengantar bahasa Inggris. (HANA RATRI/TITIS W)

Ada Turis Asing di SMA Muhammadiyah Kudus

Dua turis asing datang ke SMA Muhammadiyah untuk memberikan materi dan pengenalan bahasa Inggris. Usai kegiatan, para siswa langsung menyerbu keduanya untuk berfoto bersama. (MuriaNewscom/Hana Ratri)

Dua turis asing datang ke SMA Muhammadiyah untuk memberikan materi dan pengenalan bahasa Inggris. Usai kegiatan, para siswa langsung menyerbu keduanya untuk berfoto bersama. (MuriaNewscom/Hana Ratri)

KUDUS – Rabu (29/07/2015) ini, para peserta didik SMA Muhammadiyah Kudus kedatangan tamu dari luar negeri yakni dari Rusia dan Turkmenistan. Keduanya sengaja dihadirkan berbarengan dengan kegiatan Matrikulasi Bahasa Inggris. Kegiatan yang diselenggarakan berkat kerja sama antara Kresna Youth Peace Generation dengan SMA Muhammadiyah Kudus.

Ari Fakhrus Sanny, pengurus yayasan Kresna Youth Peace Generation, menerangkan kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan motivasi kepada siswa di SMA Muhammadiyah Kudus. Terutama kaitannya dengan pengenalan bahasa Inggris.

”Kami ingin memberikan motivasi kepada siswa agar mereka lebih termotivasi untuk belajar bahasa Inggris. Kami mendatangkan kedua turis ini sebagai tujuan agar para siswa tidak takut dalam menghadapi bahasa Inggris, apalagi tentang cara mengucapkan bahasa Inggris,” ungkap Sanny. (HANA RATRI/TITIS W)