Ratusan Siswa SMA di Kudus Diajari Jadi Jurnalis TV

Salah satu narasumber memberi kiat-kiat sukses menjadi jurnalis tv. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu narasumber memberi kiat-kiat sukses menjadi jurnalis tv. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 300 siswa SMA Sederajat di Kudus, dibekali keterampilan jurnalistik TV. Kegiatan tersebut, dilakukan oleh Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya yang bekerja sama dengan Humas Pemkab Kudus.

Ketua IJTI Muria Raya, Indra Winardi mengungkapkan, seminar yang baru pertama kali diadakan di Kudus ini bertujuan menyiapkan generasi muda yang melek informasi. Khususnya dalam bidang per televisian.

”Banyak yang harus dipelajari, melalui media. Khususnya media televisi yang berupa audio visual,” katanya yang juga karyawan Trans TV kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, di era digital seperti sekarang informasi sudah menjadi bagian utama kehidupan masyarakat. Setiap hari, bahkan setiap detik,  informasi mengalir dari berbagai saluran media, termasuk salah satunya media televisi.

”Melalui seminar ini, diharapkan pelajar mendapat wawasan mengenai bagaimana proses pengolahan berita televisi, baik dari pengambilan gambar hingga tersaji di layar televisi,” ujarnya.

Pelajar juga mendapat keterampilan mengenai teknik pengambilan gambar yang  baik sesuai standar pertelevisian. Disini pelajar juga diasah untuk peka terhadap peristiwa disekitar mereka yang memiliki nilai berita.

”Output yang diharapkan, selain mengetahui isi dapur media televisi, pelajar juga dapat menjadi jurnalis televisi dadakan ketika mendapat momen menarik,” imbuhnya

Bahkan, Syukur dapat menghasilkan sebuah produk informasi yang memiliki nilai berita, seperti feature. Bagi pelajar yang bercita-cita menjadi jurnalis, seminar ini diharapkan menjadi bekal dasar untuk menjadi jurnalis di sekolah masing-masing.

Editor: Supriyadi

14 SMA di Kudus Beradu jadi PBB Terbaik

Siswa melakukan latihan PBB di salah satu sudut di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Siswa melakukan latihan PBB di salah satu sudut di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perlombaan jenis PBB, tiap tahun sekali diselenggarakan oleh Disdikpora Kudus. Seperti halnya yang dilakukan pada tahun ini, yang bertepatan di Kompleks GOR Kudus.

Pelaksanaan lomba yang dilakukan, berlangsung selama dua hari, yakni pada Selasa (16/2/2015) hingga Rabu (17/2). Dan tahun lalu, SMA 1 Jekulo menjuarai kegiatan tersebut.

“Yang menang tahun lalu SMA 1 Jekulo. Namun tahun ini belum diketahui. Hanya, yang menang akan mewakili Kudus di tingkat Eks Keresidenan Pati,” kata Kasi Pengendalian Sumber Daya Manusia pada Disdikpora Kudus Wagiman Sutrisno Kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, dalam kegiatan tahunan itu diikuti semua jenjang pendidikan SMA khususnya sekolah negeri. Dan tahun ini, yang mengikuti perlombaan itu sejumlah 14 sekolah.

Ke-14 sekolah itu, beradu dalam melakukan perlombaan PBB. Selama dua hari merek wajah memperlihatkan kemampuan yang terbaik guna menjadi pemenang perlombaan.

“Karena ini kegiatan rutin, maka sekolah itu pasti sudah mempersiapkannya. Jadi tahun ini pasti lebih matang dan lebih siap ketimbang tahun sebelumnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Guru SMA dan SMK di Kudus, Bersiaplah untuk Dipindah Daerah Kerja

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus Joko Susilo (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus Joko Susilo (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Dengan diambil alihnya SMA dan SMK Negeri oleh provinsi, otomatis tenaga pengajar pun akan diawasi langsung provinsi. Jika tidak disiplin dan melakukan kesalahan yang menyebabkan sanksi. Tidak menutup kemungkinan adanya pemindahan daerah kerja.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan, bagi guru yang rentan melakukan kesalahan disiplin, bukan tidak mungkin akan dipindah jauh dari rumah.

“Ya kemungkinan itu bisa, soalnya pengelolaannya diatur langsung oleh provinsi. Jadi misalnya yang tadi kerja di Kudus, bisa dipindah ke daerah lain, seperti Pati, Jepara dan daerah lainnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Ia katakan, untuk jumlah guru PNS yang ada di Kudus cukup banyak. Tercatat untuk SMA sebanyak 388 orang, SMK 163, admin 89 dan guru bantu di swasta sejumlah 90 orang.

Meski demikian, untuk tenaga Dikmen pada Disdikpora masih tetap ada. Meski dikelola provinsi, tidak membuat pemkab diam dan tetap melanjutkan progam wajib belajar 12 tahun. Sehingga Kabid Dikmen juga ada.

Hanya, di Kantor Disdikpora, disediakan ruangan khusus untuk petugas dari provinsi untuk mengelola. “Soal ruangannya sudah disediakan dan dalam waktu dekat dan siap digunakan.Kalau saya lihat lebih bagus ya, seperti SLB di Kudus, setelah dikelola provinsi lebih diperhatikan lagi dan lebih berkembang,”katanya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

SMA dan SMK Negeri di Kudus Bakal Dikelola Provinsi

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus Joko Susilo (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus Joko Susilo (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – SMA dan SMK Negeri di Kabupaten Kudus siap melakukan transisi pengalihan dan kewenangan, dari Pemerintah Kabupaten Kudus menjadi Provinsi Jawa Tengah. Pengalihan kewenangan ini, bakal dilakukan secara serentak pada 2017 mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kudus Joko Susilo mengatakan, berdasarkan hasil pertemuan dengan stake holder, memastikan kalau mulai awal 2017 semua sekolah tingkat SMA bakal dikelola Provinsi.

“Dari pembahasan terkahir kemarin dengan provinsi, yang diambil ke provinsi hanya sekolah negeri saja. Jadi untuk di Kudus, nanti ada sembilan SMA Negeri dan tiga SMK Negeri bakal dikelola provinsi pada 2017 mendatang,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, dalam pembahasan itu, verifikasi untuk sekolah akan dilaksankan pada Maret 2016. Kemudian, penyerahan aset dari kabupaten ke provinsi akan dilakukan pada Oktober 2017 mendatang.

“Penyerahan aset yang dilaksanakan, merupakan semua aset milik kabupaten yang terdapat di sekolah. Sehingga untuk ke depan, semua pengelolaan langsung dari provinsi,” imbuhnya.

Meski pengelolaan dan aset nantinya bakal bakal dikelola provinsi, namun tahun 2016 nanti, masih tetap akan ada pembenahan berupa rehab untuk gedung sekolah. Hal itu dilakukan, lantaran pemkab tidak mau ada kesalahan pendidikan selama 2016.

“Kalau tidak dibenahi, kalau ada atap yang roboh atau bangunan yang rusak bagaimana? Soalnya selama 2016 masih dikelola Pemkab Kudus,” imbuhnya.

Pengalihan kewenangan dari kabupaten ke provinsi ini, ternyata disambut baik oleh pihak sekolah. Seperti halnya SMK 1 Kudus yang pasrah oleh aturan pemerintah termasuk juga dengan pengelolaan yang diambil provinsi. “Kalau kami dari pihak sekolah mengikuti aturan, yang jelas apapun aturannya kami siap mengikutinya,” katanya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Para Siswa SMA Ini Punya Tips Cegah Permusuhan Bahkan Tawuran

Pertandingan voli antar kelas campuran di SMA Hidayatul Mustafidin Lau, Dawe bertujuan cegah permusuhan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pertandingan voli antar kelas campuran di SMA Hidayatul Mustafidin Lau, Dawe bertujuan cegah permusuhan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Olahraga merupakan sarana kegiatan menyehatkan badan, namun hal itu juga bisa dijadikan sebagai sarana pencegah permusuhan. Seperti halnya SMA Hidayatul Mustafidin, Lau, Dawe yang selalu menggalakkan olahraga untuk mempererat tali silaturahim antar siswanya.

Salah satu siswa kelas XI SMA Hidayatul Mustafidin Ah. Rosadi menjelaskan, biasanya untuk kegiatan olahraga ini digelar OSIS disaat awal bulan. Kegiatan itupun difokuskan pada olahraga voli, karena banyak siswa yang berminat.

Olahraga voli juga dinilai mudah mempererat persaudaraan, karena tiap timnya terdiri dari 6 orang. Selain itu sangat mudah dan mjurah memperoleh fasilitasnya. ”Dalam olahraga voli tersebut setiap tim dicampur. Baik itu gabungan antara kelas X dengan XII, kelas XI gabungan dengan X atau sebaliknya,” paparnya.

Kegiatan yang digelar di lapangan voli sekolah tersebut, juga telah berjalan selama tiga tahun ini. Sehingga rasa akrab, saling menghargai antara siswa juga terjaga.

”Bila tim voli itu dicampur antar kelas, maka suporternya juga tidak bisa membela kelasnya masing-masing. Sebab setiap kelas dipecah-pecah personelnya. Maka mereka mensuporteri secara bebas,” ujar Rosadi.

Meski kegiatan ini tidak berhadiah, namun rasa suka cita antara pemain dan suporter tidak kalah seru dengan ajang perlombaan. ”Dalam kegiatan ini terdiri dari tiga tim, yaitu tim A terdiri dari gabungan kelas X dan XII, tim B gabungan kelas XI dengan X, dan tim C gabungan kelas XII dengan XI,” paparnya.

Rosadi menambahakn, meskipun hanya tiga tim, tetapi permainan tersebut bisa membuat suasana meriah. Dan yang menjadi tujuan utama ialah bukan kemenangan, namun rasa rukun bersama dan meminimalisir permusuhan. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Regulasi Sekolah, Buat Bidang Dikmen Tidak Jelas

Agus Nuratman, Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Agus Nuratman, Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Bergabungnya pendidikan tingkat menengah di Kudus ke provinsi, bakal berpengaruh terhadap satu bidang dalam dinas terkait. Untuk itu, besar kemungkinan bidang pendidikan menengah bakal dihapuskan dari tingkat dinas.

Kabid Dikmen Disdikpora Kudus Agus Nuratman mengatakan, besar kemungkinan penghapusan bidang tersebut bakal dilakukan. Sebab, tidak ada lagi kegunaan dari bidang pendidikan menengah (Dikmen) dalam Disdikpora Kudus.

”Justru masalah itu di kami, petugas dari dinas di Dikmen. Kalau guru dan tenaga sekolah jelas ikut provinsi, namun belum ada aturan soal dinasnya. Nantinya yang menangani semua dari provinsi, makanya pasti bidang yang menangani juga langsung dari provinsi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, meski tidak ada bidang dalam satuan dinas terkait, namun dipastikan masih terdapat hal yang menanganinya. Hal itu diyakini lantaran nanti akan ada kordinator yang mengatur jenjang pendidikan SMA dan SMP tersebut.

”Sekarang masih pendataan, yang membutuhkan waktu lama itu soal sarana dan prasarananya,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Regulasi Sekolah, Ratusan PNS Pendidikan dan Aset Bakal Langsung Dikelola Provinsi

Agus Nuratman, Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Agus Nuratman, Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ratusan tenaga pengajar dan aset di Kudus, nantinya juga bakal mengikuti aturan dari provinsi. Sehingga semuanya nanti akan langsung mengacu pada aturan provinsi.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, Agus Nuratman mengatakan, meski masih menunggu regulasi lantaran wewenang provinsi yang mengaturnya, namun dengan ikutnya sekolah ke provinsi maka semua aturan juga mengikuti pusat.

”PNS masih tetap, mengenai status kepegawaian ikut provinsi, termasuk juga gurunya, tenaga kerjanya, serta aset-asetnya dan dokumen-dokumen juga ikut provinsi,” katanya.

Menurutnya, jumlah guru PNS yang ada di Kudus juga sangat banyak. Tercatat untuk tingkat SMA 388 guru, SMK 163, admin 89, dan guru bantu di swasta sejumlah 90 tenaga. Nantinya semuanya akan masuk ke pegawai provinsi.

Tidak hanya itu, mengenai aset sekolah dan bangunan nantinya juga bakal langsung dikelola dari provinsi. Sebab 2016 dilakukan pendataan tentang aset tersebut. (FAISOL HADI/TITIS W)

SMA Se Kudus Bakal Dikelola Provinsi

Agus Nuratman, Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Agus Nuratman, Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Aturan pemerintah dalam merombak pendidikan juga bakal dirasakan Kudus, termasuk dalam satuan pendidikan. Khusus untuk jenjang sekolah menengah atas, pengelolaannya bakal dikelola langsung oleh provinsi.

Hal itu diutarakan Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, Agus Nuratman kepada MuriaNewsCom. Menurutnya, mulai 2017 mendatang kewenangan sekolah bakal langsung dikelola provinsi.

”Ini masih menunggu regulasi, dan menunggu aturan dalam penyerahan, jadi nanti semua bakal dikelola langsung oleh provinsi khusus tingkat SMA sederajat,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Bukan hanya sekolah negeri saja, namun aturan tersebut dimungkinkan juga untuk sekolah swasta juga. Hanya yang pasti sekolah negeri pasti nantinya ikut provinsi.

”Sebentar lagi akan dilakukan verifikasi, rencananya dilakukan pada 9 hingga 14 November 2015, jadi 2017 sudah positif ikut ke provinsi,” imbuhnya.

Untuk itu, sampai pada aset sekolah dan keperluan juga langsung diambil alih dari provinsi. Setelah itu, Kudus akan fokus pada pendidikan tingkat dasar.

”Ini sudah dalam proses pendataan, memungkinkan besar akhir tahun sesuai dengan jadwal sudah selesai pendataannya, kemudian kami serahkan kepada provinsi,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Siapkan Karnaval Saja, SMK Wisuda Karya Habiskan Jutaan Rupiah

Pelatih kegiatan HUT Kudus Sunarno (kanan) dan Pelda Ali Imron, pelatih kegiatan SMK Wisuda Karya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pelatih kegiatan HUT Kudus Sunarno (kanan) dan Pelda Ali Imron, pelatih kegiatan SMK Wisuda Karya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – SMK Wisuda Karya Kudus bersiap mengikuti kegiatan karnaval HUT ke-466 Kudus, pada Sabtu 10
Oktober 2015. Sekolah ini akan mempersiapkan segalanya dengan matang. Tidak heran jika SMK Wisuda Karya menghabiskan dana karnaval hingga Rp 8 juta.

Salah satu pelatih kegiatan SMK Wisuda Karya Kudus, Sunarno mengatakan, persiapan yang dilakukan untuk karnaval sangat matang. ”Tetapi uang itu dari sekolah dan kami tidak memungut biaya dari siswa,” kata Sunarno.

Adapun untuk dana karnaval akan dipergunakan sebagai biaya konsumsi peserta karnaval, sewa kostum, tata rias dan belanja perlengkapan lampu. Sebab perayaannya Sabtu malam Minggu.

Sekolah ini akan menyuguhkan teatrikal prosesi pengantin atau tradisi pernikahan ala militer. “Berhubung di SMK ini ada jurusan pelayaran, maka nantinya kami akan menyuguhkan prosesi pengantin Hasta Pora. Yaitu prosesi penghormatan pengantin ala militer angkatan laut,” paparnya.

Dengan adanya suguhan prosesi penghormatan pengantin militer tersebut, secara tidak langsung sekolah juga akan memperkenankan jurusan terbarunya. Yaitu di bidang pelayaran.

Dalam teatrikal tersebut, nantinya akan diperankan oleh dua orang mempelai pengantin, dua keluarga dari pengantin tersebut, dan para pengiring pengantin. Oleh karenanya, kata dia, sekolah akan mempersiapkan tata rias, serta kostum untuk pelaksanan tersebut.

”Yang terpenting ialah bagaimana bisa ikut serta menyemarakkan HUT Kudus dan memperkenalkan jurusan pelayaran ini,” ungkapnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

SMKN 3 Kudus Jatuh Cinta dengan Barang Bekas

Kepala SMK N 3 Kudus Saifulhadi (kanan) dan Wakil Kepala Bagian Kesiswaan SMK N 3 Kudus Aris Setyabudi tampak berfoto di sekolahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala SMK N 3 Kudus Saifulhadi (kanan) dan Wakil Kepala Bagian Kesiswaan SMK N 3 Kudus Aris Setyabudi tampak berfoto di sekolahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – SMK N 3 Kudus sudah menyiapkan diri mengikuti karnaval perayaan Hari Ulang
Tahun (HUT) ke-466 Kudus. Mereka akan menyiapkan diri menggunakan konsepnya dari barang bekas.
Kepala SMK N 3 Kudus Saifulhadi mengatakan, persiapan karnaval akan menggunakan peralatan dari barang bekas berupa bambu.

“Seperti barang bekas berupa kipas bambu yang dibawa siswa dari rumah, kurungan ayam, serta pernak pernik lainnya. Ini untuk menghindari penggunaan kertas warna, kertas emas, kertas plastik dan sebagainya,” kata Saiful.

Hal senada disampaikan Wakil Kepala Bagian Kesiswaan SMK N 3 Kudus Aris Setyabudi. Dia mengatakan, selain menggunakan barang bekas berupa produk bambu, secara tidak langsung produk tersebut juga bisa diperkenalkan kepada masyarakat, bahwa kipas bambu, kurungan ayam, dan saringan santan bambu itu adalah produk asli Kudus.

Sementara itu, disinggung mengenai kostum bagi peserta karnaval, pihaknya juga lebih memilih pakaian yang sederhana.Sehingga tidak menggantungkan dari sewa kostum.

“Untuk kostum ke 40 peserta karnaval ini, kita lebih memilih mempersilakan siswa untuk membawa baju batik yang mereka punya (sederhana,red).Selain itu,nantinya juga anak anak tersebut akan mengenakan kostum kreasi dari kurungan ayam atau kipas angin bambu bekas yang sudah disulap menjadi pakaian,” imbuhnya. (EDY SUTRIONO/AKROM HAZAMI)

Keren, Semua Siswa di Sekolah Ini Wajib Punya BMW

Siswa melakukan kegiatan belajar di SMK NU Maarif Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa melakukan kegiatan belajar di SMK NU Maarif Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – SMK NU Maarif Kudus mewajibkan siswa-siswinya harus mempunyai BMW. Tapi jangan dianggap BMW di sini adalah mobil mewah itu. BMW adalah komitmen Belajar, Melanjutkan, dan Wirausaha (BMW). Tujuannya agar lulusannya bisa lebih terarah.

Kepala SMK NU Maarif Kudus A Nadlif menjelaskan, BMW itu menjadi pegangan siswa dan lulusannya.
“Sehingga siswa yang masih bersekolah di sini harus semangat, bersungguh-sungguh serta bisa
meraih prestasi.Setidaknya bisa sampai tamat atau lulus,” kata Nadlif.

Sementara bagi mereka yang mampu, jika ingin berkuliah maka agar mengambil jurusan yang sesuai dengan apa yang diambilnya selama di SMK.

Bagi yang berkuliah bisa disambi dengan berwirausaha. Sebab mereka selama di sekolah, telah digembleng sesuai dengan jurusannya.

Dengan penekanan ketiga sistem tersebut maka siswa bisa diharapkan bisa hidup sukses atau terarah. Kesuksesan itu, menurutnya, bagimana bisa memanfaatkan ilmunya dan berguna bagi sesamanya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Para Pelajar Qudsiyyah Kudus Ini Budayakan Pamer

Beberapa siswa tengah membuat karya alat musik tradisional dari bambu di lokasi pameran. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa siswa tengah membuat karya alat musik tradisional dari bambu di lokasi pameran. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Pamer memang suatu perbuatan tidak baik, namun justru para siswa ini diharuskan oleh pihak sekolahnya. Karena pamer yang satu ini bernilai positif, yaitu berupa pameran karya siswa. Kegiatan yang diadakan pelajar Qudsiyyah Kabupaten Kudus merupakan serangkaian kegiatan rutin bakti sosial di bulan Hijriyah.

Selain membagikan daging kurban, pemeran tersebut menampilkan beberapa karya siswa. Baik mulai dari kaligrafi, album rebana Qudsiyyah Al Mubarok, maupun buku Islami. Ketua persatuan pelajar Qudsiyyah Kudus Muhammad Tajjudin Nur Hafa menjelaskan, untuk pelaksanaan kegiatan ini dimulai Rabu tanggal 9 hingga 11 Dzulhijjah 1436, atau 23 hingga 25 September 2015.

Selain itu, lanjut Tajjudin, dalam pameran itu nantinya siswa diharapkan memberikan kontribusi berupa hasil karyanya. Yaitu mulai dari menampilkan kaligrafi, aneka kerajinan, ragam piagam penghargaan, lukisan, dan foto tokoh-tokoh pendiri Qudsiyyah.

Dengan adanya pameran yang diadakan di lapangan Desa Peganjaran, Bae, tersebut semua siswa mempunyai semangat untuk berkarya lebih baik lagi. Karena hasil karyanya, dipamerkan ke seluruh masyarakat luas, yang tak jarang banyak yang tertarik untuk membelinya.

”Bila setiap siswa dapat berkarya. Baik mulai dari mendapatkan piala, membuat kaligrafi, atau yang lain, maka hasil tersebut bisa mendongkrak nama baik sekolah Qudsiyyah ini,” paparnya.

Dia menilai, kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh pelajar Qudsiyyah di bulan Dzulhijjah ini bukan sekadar menyembelih dan membagikan daging kurban saja. Namun waktu tersebut juga bisa dijadikan momen untuk menyelengarakan pameran karya siswa. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Jurus Ampuh SMA di Kudus Cegah Siswa Putus Sekolah

Siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain memberikan arahan wajib belajar 12 tahun,SMA Hidayatul Mustafidin, Lau, Kecamatan Dawe, Kudus juga selalu memberikan penjelasan pentingnya sekolah kepada wali murid.

Kepala SMA Hidayatul Mustafidin Nurul Badri mengatakan, sekolah yang ada di wilayah Dawe memang rawan putus sekolah. Di antaranya karena letak geografisnya, yakni rata rata tempat tinggal siswa memiliki jarak yang jauh dari sekolah.

“Jadi rawan siswa yang putus sekolah,” kata Badri.

Selain itu, lanjut Badri, dengan adanya kondisi semacam itu, pihak sekolah selalu memberikan arahan bagi wali muridnya. Supaya mereka juga ikut serta memberikan semangat kepada putra putrinya agar sekolah.

Dengan demikian, sekolah yang berdiri tahun 2004 tersebut mampu mencegah siswanya putus sekolah.

“Selain jarak yang jauh, rumah mereka juga ada yang berada di pelosok (wilayah pegunungan,red) sehingga bila tidak mempunyai kendaraan maka mereka terkadang tidak berangkat. Bahkan tidak mau bersekolah. Akan tetapi sejauh tidak sampai terjadi siswa putus sekolah. Namun memang guru BK dan wali kelas harus intens memantaunya,” paparnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)