Putra Daerah Diharap Kembali untuk jadi Guru di SLB Negeri Rembang

ilustrasi

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Untuk saat ini, Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Rembang masih kekurangan guru yang berasal dari lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Sehingga, untuk mengatasi kekurangan tersebut, diambilkan guru yang bukan dari PLB.

Untuk itu, putra daerah yang saat ini sedang menempuh studi di PLB, nantinya setelah lulus mau kembali ke Rembang untuk mengabdi menjadi guru di SLB.

“Ada beberapa putra daerah yang saat ini kuliah mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa. Tentunya hal ini sangat positif untuk perkembangan pendidikan di Rembang, jika mereka nantinya mau mengabdi menjadi guru di Rembang,” kata Suwarto, Kepala SLB Negeri Rembang.

Dirinya menyatakan, jika nantinya memang mau kembali ke kota kelahirannya, maka, guru yang ada di SLB Negeri Rembang akan semakin maksimal dengan tambahan guru yang bertalarbelakang PLB.

Lebih lanjut dia mengatakan, teknik atau cara untuk mendidik siswa berkebutuhan khusus sangat berbeda dengan siswa pada umumnya. Ada berbagai teknik, agar pembelajaran bisa berjalan maksimal dan siswa juga bisa menerima pelajaran tersebut dengan baik.

Apalagi katanya, setiap siswa terkadang memerlukan penanganan yang berbeda dalam pola pembelajarannya. Sehingga, hal seperti ini sangat memerlukan tenaga pengajar yang memang memiliki latar belakang pendidikan luar biasa.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Sebelum UN, Ternyata Siswa SLB di Rembang Melakukan Hal Ini

Sebelum UN (e)

Siswa SLBN Rembang sedang mengikuti UN (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Seperti halnya sekolah reguler, peserta ujian nasional (UN) tingkat SMP yang diikuti siswa berkebutuhan khusus di Rembang juga melaksanakan ujian sesuai dengan jadwal, yakni pada 9-11 Mei.

Kepala SLBN Rembang Suwarto mengatakan, mengenai waktu pelaksanaan UN tak ada perbedaan dengan sekolah reguler. Begitupun dengan persiapan sebelum UN, pihaknya juga telah menyiapkan anak didiknya, salah satunya dengan mengadakan try out.

“Kami juga mengadakan try out, karena ini memang penting, supaya peserta didik kita juga tahu cara pengisian LJK yang benar itu seperti apa. Baik cara penulisan nama atau lain sebagainya,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Ia katakan, untuk jumlah peserta UN semuanya ada tujuh siswa, yakni penyandang tunanetra, tunarungu, tunawicara dan tunadaksa. “Sebenarnya ada 17, namun yang sepuluh mengikuti ujian sekolah, karena penyandang tunagrahita dan ganda,” imbuhnya.

Dirinya yakin, peserta didiknya dapat mengikuti UN dengan maksimal.Bahkan, katanya, semangat anak didiknya untuk mengikuti UN sangat tinggi.

“Semangat mereka luar biasa untuk mengikuti UN, dan jauh-jauh hari mereka memang sudah tahu akan ikut UN. Sehingga, mereka juga mempersiapkan diri dengan baik, dan semoga hasilnya juga baik,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : 7 Siswa SLBN di Rembang Ikuti UN SMP  

7 Siswa SLBN di Rembang Ikuti UN SMP 

slb (e)

Siswa SLB Rembang sedang mengikuti ujian nasional (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Tujuh siswa Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Rembang mengikuti Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 2016.

Kepala SLBN Rembang Suwarto, mengatakan, untuk siswa SMPLB terdapat 17 orang. Namun, hanya tujuh siswa penyandang tunarungu,tunawicara, tunanetra dan tunadaksa yang ikuti UN. Sepuluh siswa lainnya hanya mengikuti ujian sekolah karena menyandang tunagrahita dan ganda.

“Hanya tujuh siswa yang ikut UN hingga hari ketiga ini. Sebenarnya ada sepuluh siswa lagi, namun karena tunagrahita dan ganda, sesuai peraturan hanya menjalani ujian sekolah,” paparnya, Rabu (11/5/2016).

Ia merinci, dari 17 siswa SMPLB, baik yang mengikuti ujian nasional maupun ujian nasional, yakni penyandang tunanetra ada dua orang, tunarungu dan wicara empat orang, tunadaksa satu orang, tunagrahita delapan orang dan ganda dua orang.

Ia mengungkapkan, untuk jalannya pengawasan UN, pihaknya memberlakukan pengawasan silang internal sekolah. Kemudian, untuk waktu pelaksanaan ujian, untuk masing-masing mata pelajaran, katanya, diberikan waktu hingga dua jam.

Sejauh ini, dirinya juga menyatakan, jika tak ada kendala yang berarti terhadap pelaksanaan UN yang diikuti siswanya.

Editor : Akrom Hazami