Kekeringan Melanda, Ratusan Siswa di Pati Salat Istisqa Minta Hujan

Sejumlah siswa mengikuti dzikir dan doa bersama seusai salat istisqa di lapangan Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen, Pati, Kamis (7/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan siswa Madrasah Miftahul Ulum menggelar salat istisqa di kawasan lapangan Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen, Pati, Kamis (7/9/2017).

Mereka meminta hujan di tengah musim kemarau yang mulai melanda. Para siswa juga menggelar dzikir dan doa bersama seusai mengikuti salat istisqa.

“Waktu ikut salat di lapangan sangat panas sekali. Tapi tetap semangat, kita minta kepada Allah supaya diberikan hujan,” ujar Alfin, salah satu siswa MI Miftahul Ulum.

Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin Kiai Abdul Latif yang memimpin salat tersebut menuturkan, salat istisqa menjadi ikhtiar manusia untuk meminta rezeki berupa hujan yang memberikan manfaat.

Sebab, sejumlah desa di Kacamatan Kayen saat ini sudah mulai kekurangan air. Beberapa warga harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

“Air yang dibutuhkan saat ini sudah mulai keruh dan aromanya tidak sedap, sehingga benar-benar butuh air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya juga meminta kepada pemerintah supaya memberikan bantuan air bersih di sekolah dan rumah warga yang membutuhkan. Di Madrasah Miftahul Ulum sendiri sudah mulai kekurangan air, sehingga sempat mengganggu proses belajar-mengajar.

Editor: Supriyadi

Ribuan Siswa di Pati Diimunisasi Rubella

Salah seorang murid TK Kartika III-43 mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejak digulirkannya program imunisasi gratis, ribuan siswa di Kabupaten Pati mendapatkan umunisasi rubella. Sebanyak 44 siswa di antaranya berasal dari TK Kartika III-43. Mereka baru mendapatkan imunisasi rubella, Jumat (25/8/2017).

Ketua Cabang Persit Kartika Chandra Kirana Ny Andri Amijaya Kusuma mengatakan, siswa antusias mengikuti imunisasi rubella kendati ada sebagian yang ditunda lantaran kesehatannya kurang fit.

“Kami apresiasi kepada Dinas Kesehatan dan Puskesmas Pati I yang membuat program imunisasi rubella. Program ini sangat bermanfaat agar anak-anak tidak terserang virus Rubella yang berbahaya bagi anak berusia satu hingga sepuluh tahun,” ujar Ny Andri.

Sementara dokter dari Dinkas, dr Luther Selawa menuturkan, imunisasi rubella merupakan bagian dari program pemerintah pusat. Program tersebut menyusul adanya virus berbahaya yang mudah ditularkan.

“Kalau tidak segera kita cegah, dampaknya yang terjadi cukup mengerikan. Anak-anak sebagai penerus bangsa akan mengalami cacat fisik,” ungkapnya.

Karena itu, dia mengimbau kepada orangtua untuk tidak sungkan mengikuti program imunisasi rubella untuk anaknya. Dengan demikian, anak akan menjadi resisten terharap virus yang membahayakan tersebut.

Ia menambahkan, imunisasi rubella juga sudah dilakukan di berbagai sekolah di Kabupaten Pati. Jumlahnya mencapai ribuan siswa. “Setelah diimunisasi, mereka punya resistensi jika sewaktu-waktu virus itu menyerang,” pungkas dr Luther.

Editor: Supriyadi

Ajak Siswa di Pati untuk Kreatif Melalui Taman Baca

 Komunitas Satu Frekuensi menghadirkan relawan dari kalangan jurnalis untuk mengajak siswa SD lebih kreatif. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Komunitas Satu Frekuensi menghadirkan relawan dari kalangan jurnalis untuk mengajak siswa SD lebih kreatif. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Untuk memberikan edukasi kepada siswa sekolah dasar (SD) dengan misi sosial, Komunitas Satu Frekuensi Pati menggagas taman baca dan mengajak siswa SD untuk lebih kreatif.

Selain ikut mengajar mata pelajaran, sejumlah relawan juga memantik semangat siswa untuk kreatif di berbagai bidang. Misalnya, mendorong pemanfaatan barang bekas menjadi produk layak pakai.

“Taman baca ini hanya nama. Selain mengajak siswa untuk gemar membaca, sebetulnya sebagai wadah untuk belajar anak-anak di sekitar Pati Kota. Ada banyak hal yang diajarkan. Kami mengajak beberapa relawan untuk menularkan virus kreatif kepada anak-anak,” ujar Koordinator Komunitas Satu Frekuensi Ratna Ayu Widyaningrum kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/9/2015).

Saat ini, sedikitnya ada 25 siswa dari berbagai desa yang ikut belajar kreatif ini. “Kegiatannya macam-macam. Ada les gratis, pelatihan membuat jepit rambut dan bando dari tutup botol bekas dan masih banyak lagi lainnya,” imbuhnya.

Ke depan, pihaknya akan mengundang trainer dari kalangan profesional yang mau bergabung secara sosial untuk menjadi relawan dengan memberdayakan anak-anak di Pati. (LISMANTO/KHOLISTIONO)