Tiga Orang Pembunuh Warga Desa Kembang Dukuhseti Divonis Penjara 15 Tahun

Suasana sidang putusan kasus pembunuhan warga Desa Kembang, Dukuhseti, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana sidang putusan kasus pembunuhan warga Desa Kembang, Dukuhseti, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tiga orang bernama Karwanto, Sumartono, dan Imam Ashadi yang terbukti melakukan pembunuhan terhadap Arif Pranoto yang merupakan warga Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Pati akhirnya divonis hukuman pidana 15 tahun penjara. Vonis itu dibacakan majelis hakim di Pengadilan Negeri Pati, Kamis (10/3/2016).

Ketua Majelis Hakim Haruno Patriadi di meja persidangan mengatakan, ketiga terdakwa tidak terbukti melakukan pembunuhan berencana. Hal itu yang membuat ketiga pelaku lolos dari pidana penjara seumur hidup.

Sementara itu, jaksa penuntut umum (JPU) Ari Kuswadi mengaku sudah menuntut ketiga terdakwa dengan Pasal 340 junto 55. Hanya saja, majelis hakim tidak mengabulkan dan terdakwa akhirnya diputuskan dengan Pasal 388 KUHP.

”Kami sudah tuntut dengan Pasal 340 junto 55. Hanya saja, majelis hakim tidak sependapat dengan tuntutan saya. Padahal, menurut saya, ketiganya terlibat pembunuhan berencana,” kata Ari kepada MuriaNewsCom singkat.

Dengan putusan tersebut, JPU dan terdakwa masih diberikan waktu selama tujuh hari untuk mengajukan banding atau tidak. Bila tidak ada yang keberatan, keputusan itu dianggap final.

Septi Herlina Saputri, istri korban mengaku kurang puas dengan putusan hakim. Ia tidak terima dengan perlakuan ketiga terdakwa yang menghilangkan nyawa suaminya. Saat ini, Septi hidup sendiri bersama dengan anak semata wayangnya.

Kasus itu bermula ketika korban dan ketiga terdakwa terlibat dendam, usai menonton pertunjukan dangdut. Korban dihabisi ketiga pelaku di dermaga Banyutowo menggunakan senjata tajam hingga mengalami luka leher mengaga, kemudian meninggal dunia.

Editor : Titis Ayu Winarni

Lagi, Pocong Hantui Pengadilan Negeri Pati

Replika pocong dihadirkan di depan Pengadilan Negeri untuk mengawal sidang putusan kasus pembunuhan warga Desa Kembang, Dukuhseti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Replika pocong dihadirkan di depan Pengadilan Negeri untuk mengawal sidang putusan kasus pembunuhan warga Desa Kembang, Dukuhseti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ada tren yang tak biasa dari warga Pati saat mengawal persidangan di Pengadilan Negeri Pati. Replika pocong acapkali dijadikan simbol matinya keadilan di meja hijau tersebut.

Setelah replika pocong hadir saat mengawal kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan pendekar PSHT beberapa waktu lalu, kini giliran puluhan warga Desa Kembang, Dukuhseti, Pati membawa replika pocong untuk mengawal kasus pembunuhan yang mengorbankan warganya bernama Arif Pranoto.

Septi Herlina Saputri yang merupakan istri korban saat ditanya MuriaNewsCom, Kamis (10/3/2016) mengatakan, replika pocong itu menjadi aksi simpatik dari tetangga untuk mengawal sidang putusan.

“Ini aksi dari tetangga yang simpatik kepada kami. Pocong menjadi simbol bahwa kami menuntut agar terdakwa dihukum mati atau setidaknya seumur hidup,” tuturnya.

Hukum mati. Begitu tuntutan warga yang dituliskan dalam replika pocong berbalut kain kafan. Mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan “Preman Kampung Membantai dengan Kejam, Merampas Nyawa. Tindakan Tidak Manusiawi.”

Karena itu, mereka tidak puas setelah majelis hakim akhirnya memberikan vonis pidana 15 tahun penjara untuk ketiga terdakwa yang terbukti membunuh korban. “Kami tidak puas. Menghilangkan nyawa harus mendapatkan hukuman yang setimpal,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Hii….Keranda Mayat Muncul di Depan Pengadilan Negeri Pati 

3 Pembunuh Pasutri dan Tamunya di Gabus Pati Divonis Hukuman Seumur Hidup

 

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pati Wiyanto memutuskan hukuman seumur hidup untuk tiga terdakwa yang melakukan pembunuhan terhadap pasutri dan tamunya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pati Wiyanto memutuskan hukuman seumur hidup untuk tiga terdakwa yang melakukan pembunuhan terhadap pasutri dan tamunya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tiga pembunuh pasangan suami istri dan tamunya di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati diganjar majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Pati dengan hukuman penjara seumur hidup, Selasa (5/1/2016).

Ketiga terdakwa tersebut, yakni Mardikun, Suwarno alias Mbah To, dan Eko Sutaryo. Putusan tersebut disambut dengan rasa syukur dari pihak keluarga.

Ketua Majelis Hakim Wiyanto kepada MuriaNewsCom mengatakan, ketiga terdakwa berbelit-belit selama proses persidangan. Tak hanya itu, ketiga terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan tidak menyesal atas perbuatannya.

”Ketiga terdakwa terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap tiga orang sekaligus. Ketiganya tidak menyesal, berbelit-belit selama proses persidangan, dan tidak mengakui perbuatannya. Itu sebabnya tidak ada yang meringankan ketiga terdakwa,” kata Wiyanto.

Ketiganya dijerat Pasal 340 KUHP jo pasal 55 KUHP, karena terbukti melakukan pembunuhan berencana. ”Ketiga terdakwa bersama-sama melakukan pembunuhan, bukan yang satu membantu atau apa,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Pembunuh Pasutri di Pati Dituntut Hukuman Seumur Hidup, Ini Fakta Persidangannya

Sejumlah petugas mengamankan jalan Mardikun menuju ruang sidang karena ingin dihadiahi bogem mentah dari pihak keluarga korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petugas mengamankan jalan Mardikun menuju ruang sidang karena ingin dihadiahi bogem mentah dari pihak keluarga korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Mardikun, terdakwa kasus pembunuhan berencana pasangan suami istri di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati dan tamunya dituntut hukuman seumur hidup. Hal itu dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di PN Pati, Senin (14/12/2015).

Dalam fakta persidangan, JPU menyatakan ada banyak hal yang menguatkan keterlibatan Mardikun dalam pembunuhan berencana terhadap tiga orang sekaligus. Salah satunya, kedua terdakwa lainnya yang mengaku secara bersama-sama dengan Mardikun.

Selain itu, hasil laboratorium juga mengungkapkan, racun yang berada di lambung korban sama dengan racun dalam botol yang dibawa terdakwa. Dari fakta persidangan tersebut, JPU akhirnya menuntut agar terdakwa dihukum seumur hidup.

“Salah satu fakta yang membuat terdakwa kami tuntut hukuman seumur hidup, antara lain racun sianida yang mengindikasikan pembunuhan berencana dan kesaksian dari terdakwa lainnya,” kata JPU Sri Harna.

Ia mengatakan, terdakwa dijerat dengan Pasal 340 jo 55 ayat 1 KUHP, yakni ikut serta melakukan pembunuhan berencana dengan korban tiga korban. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Pembunuh Kejam di Pati Ini Dituntut Hukuman Seumur Hidup

Mardikun menjalani sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Mardikun menjalani sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jaksa penuntut umum (JPU) Sri Harna menuntut agar Mardikun, terdakwa pembunuh pasangan suami istri di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati dihukum seumur hidup. Hal itu disampaikan dalam sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Pati, Senin (14/12/2015).

Sri Harna menyatakan, Mardikun terbukti telah melakukan pembunuhan berencana terhadap tiga orang, yakni pasangan suami istri beserta dengan tamunya.

Kendati begitu, Miftahul Huda, menantu korban mengaku tidak puas dengan tuntutan yang dibacakan JPU. Ia berharap, Mardikun yang telah menghabisi nyawa kedua mertuanya dengan racun jenis sianida tersebut dihukum mati.

“Kami ingin pembunuh itu dihukum mati. Tiga orang dihabisi menggunakan racun itu jelas biadab. Kami menyesalkan tuntutan JPU yang hanya menuntut hukuman seumur hidup,” kata Huda.

Usai persidangan digelar, sejumlah keluarga korban sempat mengejar terdakwa untuk dihadiahi bogem mentah. Kericuhan sempat terjadi. Namun, sejumlah petugas kepolisian berhasil mengamankan jalannya persidangan hingga selesai. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Istri Korban Pembunuhan Jepang Pakis Kudus Histeris Dengar Vonis untuk Terdakwa

Istri korban pembunuhan Jepang Pakis histeris saat menghadiri sidang vonis untuk terdakwa (MuriaNewsCom/Merie)

Istri korban pembunuhan Jepang Pakis histeris saat menghadiri sidang vonis untuk terdakwa (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Sidang putusan atas terdakwa kasus penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, pada Rabu (4/11/2015) berlangsung singkat. Termasuk tertib sepanjang sidang, meski dijaga ketat aparat kepolisian.

Namun suasana ruang sidang menjadi ramai, saat istri korban bernama Siti Khoiriyah, mendadak menangis kencang meratapi nasib suaminya.Khoiriyah yang semula tenang duduk di bangku pengunjung, mendadak histeris dan menangis, setelah majelis hakim menutup sidang.

“Kowe salahmu opo. Kok dipateni. Ya Allah, salahmu opo kok dipateni,” katanya sambil menangis.
Berulangkali kalimat itu meluncur dari Khoiriyah. Tidak ada hujatan kepada kedua terdakwa. Dia lebih banyak meratapi nasib suaminya, Novianto, yang ditusuk kedua terdakwa di depan dirinya dan anak-anaknya yang masih kecil.

“Kok mesakke awakmu, pak. Kenopo kowe dipateni. Salahmu opo kok dipateni. Mesakke kowe, pak,” serunya dalam tangis yang terus meledak.

Beberapa keluarga yang ikut mendampingi Khoiriyah segera mengangkat tubuh perempuan itu, keluar dari dalam ruang sidang. Dia lantas dibawa ke musala kantor pengadilan, yang terletak di belakang kantor.

Sejumlah perempuan yang termasuk kerabat korban, berusaha menenangkan Khoiriyah. Mereka mencoba menghibur dan memintanya untuk lebih tabah dan ikhlas.

Khoiriyah termasuk rajin mendatangi sidang pengadilan, yang mengadili dua terdakwa pembunuh suaminya. Yakni Sugiyanto alias Bureng dan Dani alias Dan. Kedua terdakwa sendiri divonis 9 tahun penjara atas perbuatannya yang dianggap melanggar pasal 170 ayat 2 ketiga, yaitu penganiyaan yang mengakibatkan orang meninggal.

Pengacara keluarga korban Yusuf Istanto mengatakan, istri korban cukup kecewa mendengar putusan majelis yang menghukum terdakwa 9 tahun penjara.

“Kami anggap hal itu wajar. Karena kan, memang keluarga korban berharap supaya terdakwa dihukum seberat-beratnya,” katanya yang ditemui seusai sidang.

Yusuf mengatakan, pihaknya mengapresiasi apa yang sudah menjadi keputusan hakim. Apalagi hukuman yang dijatuhkan termasuk sudah maksimal.

“Kalau dalam pasal yang dilanggar, maksimal hukumannya memang 12 tahun. Jaksa sudah menuntut 10 tahun, hakim memutus 9 tahun. Sudah bagus saya kira. Sudah maksimal. Meski memang belum sesuai harapan kami,” terangnya.

Sayangnya, menurut Yusuf, ada beberapa orang yang sedianya dijadikan saksi, tidak mau melakukannya. Padahal, dari sana bisa diketahui apakah penganiayaan itu sudah direncanakan atau tidak. “Kalau misalnya saksi yang kami inginkan mau bersaksi, maka bisa diketahui apakah itu pembunuhan berencana atau tidak. Tuntutan hukumannya akan lebih tinggi kalau itu terjadi. Sayangnya saksinya tidak bersedia,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, Novianto dianiaya kedua terdakwa pada 5 Juli 2015 lalu, di depan rumah korban. Penyebabnya karena terdakwa dendam pernah diingatkan oleh korban. Meski korban sempat dirawat, namun nyawanya tidak tertolong. (MERIE/KHOLISTIONO)

Pembunuh Warga Jepang Pakis Kudus Divonis 9 Tahun Penjara

Kedua terdakwa divonis 9 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kudus (MuriaNewsCom/Merie)

Kedua terdakwa divonis 9 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kudus (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Dua orang terdakwa kasus penganiayaan yang berujung meninggalnya korban di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, divonis 9 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kudus, dalam sidang lanjutan yang berlangsung Rabu (4/11/2015).

Kedua terdakwa yaitu Sugiyanto alias Bureng, dan Dani alias Dan, dinilai majelis hakim terbukti melakukan penganiayaan yang menyebabkan korbannya meninggal dunia.

“Kedua terdakwa berdasarkan persidangan telah terbukti melanggar pasal 170 ayat 2 ketiga, hingga menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Ketua Majelis Hakim PN Kudus Wijawiyata, saat membacakan amar putusannya, didampingi hakim anggota Moch Nur Azizi dan Dedy Adi Saputra.

Kasus penganiayaan sendiri terjadi pada 5 Juli 2015 lalu. Korban sendiri bernama Novianto, yang ditusuk terdakwa saat petang. Meski sudah dirawat di rumah sakit, namun nyawa korban tidak bisa diselamatkan. Vonis hakim sendiri, lebih ringan satu tahun dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum. Jaksa sendiri menuntut keduanya sepuluh tahun penjara.

Vonis 10 tahun penjara itu dipotong masa tahanan keduanya selama dipenjara sebelumnya. Kedua terdakwa juga diwajibkan membayar biaya perkara sebesar Rp 2 ribu. (MERIE/KHOLISTIONO)

Istri Korban Pembunuhan di Jepang Pakis Ngotot Hukuman Pembunuh Ditambah

Terdakwa kasus pembunuhan warga Desa Jepang pakis, Kecamatan Jati, Bureng dan Dani, saat mendengarkan tuntutan dari JPU, dalam sidang lanjutan yang berlangsung, Rabu (28/10/2015). (MuriaNewsCom/Merie)

Terdakwa kasus pembunuhan warga Desa Jepang pakis, Kecamatan Jati, Bureng dan Dani, saat mendengarkan tuntutan dari JPU, dalam sidang lanjutan yang berlangsung, Rabu (28/10/2015). (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Jaksa Penuntut Umum (JPU) di PN Kudus menuntut Sugianto alias Bureng dan Dani alias Ndan, dua terdakwa perkara pembunuhan atas Novianto, warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati dengan hukuman 10 tahun penjara. Pembacaan tuntutan tersebut dilakukan JPU dalam sidang lanjutan yang digelar PN Kudus, Rabu (28/10/2015).

Khoriyah isteri Novianto korban dalam perkara ini, kembali menangis tersedu-sedu usai mengikuti jalannya persidangan.

Selain ingat atas kejadian yang menimpa suaminya, Khoriyah juga mengaku kecewa dengan tuntutan JPU yang dinilainya masih terlalu ringan. ”Harusnya bisa dituntut lebih berat. Keduanya telah berencana membunuh suami saya,” katanya.

Yusuf Istanto, pengacara korban mengatakan, pada dasarnya pihaknya kecewa dengan pasal yang dikenakan pada terdakwa yakni pasal pengeroyokan. Sebab, ada indikasi kalau sebelumnya kedua terdakwa sudah merencanakan aksi pembunuhan tersebut dengan menyiapkan pisau itu sebelumnya.

”Kalau nanti ada fakta persidangan mengarahkan adanya indikasi pembunuhan berencana, kami akan membuat laporan baru,” ujar Yusuf.

Kasus pengeroyokan yang berakibat meninggalnya Novianto terjadi 5 Juli 2015 lalu. Dalam kejadian tersebut, Novianto dikeroyok kedua terdakwa dan hingga akhirnya ditusuk dengan pisau oleh terdakwa Sugiyanto, persis di depan isteri dan anak-anaknya yang maish kecil. Meski sempat dirawat selama enam hari, korban akhirnya meninggal dunia. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Dituntut 10 Tahun Penjara, 2 Terdakwa Kasus Pembunuhan di Jepang Pakis Mengiba

Terdakwa kasus pembunuhan warga Desa Jepang pakis, Kecamatan Jati, Bureng dan Dani, saat mendengarkan tuntutan dari JPU, dalam sidang lanjutan yang berlangsung, Rabu (28/10/2015). (MuriaNewsCom/Merie)

Terdakwa kasus pembunuhan warga Desa Jepang pakis, Kecamatan Jati, Bureng dan Dani, saat mendengarkan tuntutan dari JPU, dalam sidang lanjutan yang berlangsung, Rabu (28/10/2015). (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Sugianto alias Bureng dan Dani alias Ndan, dua terdakwa perkara pembunuhan atas Novianto, warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan hukuman 10 tahun penjara. Pembacaan tuntutan tersebut dilakukan JPU dalam sidang lanjutan yang digelar PN Kudus, Rabu (28/10/2015).

Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum Mahrus menyatakan tersangka secara terang-terangan telah terbukti melakukan tidakan kekerasan secara bersama-sama hingga mengakibatkan lenyapnya nyawa seseorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 KUHP. ”Atas dasar tersebut, kedua terdakwa dituntut hukuman pidana selama 10 tahun penjara,” kata JPU di persidangan.

Atas tuntutan tersebut, kedua terdakwa yang tanpa didampingi penasihat hukum langsung melakukan pembelaan. Dalam pembelaannya yang disampaikan secara sendiri-sendiri, Bureng menyatakan kalau dirinya adalah tulang punggung keluarga. ”Isteri saya telah meninggal lima bulan lalu dan saya harus menanggung biaya hidup empat orang anak,” kata Bureng di depan majelis hakim.

Hal yang sama juga disampaikan terdakwa Dani alias Ndan. Pihaknya berharap majelis hakim mempertimbangkan kondisinya yang juga merupakan tulang punggung keluarga. Selain itu, Ndan juga mengaku kalau isterinya saat ini dalam kondisi sakit akibat penyakit diabetes yang dideritanya.

Usai pembacaan tuntutan dari JPU dan pembelaan dari terdakwa, majelis hakim yang dipimpin Wijawiyata memutuskan sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan putusan. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Terdakwa Bantah Lakukan Pembunuhan Berencana Terhadap Novianto

Khoriyah, isteri Novianto, korban yang tewas ditikam, histeris usai persidangan, Rabu (21/10/2015). Khoriyah harus ditenangkan petugas kepolisian. (MuriaNewsCom/Merie)

Khoriyah, isteri Novianto, korban yang tewas ditikam, histeris usai persidangan, Rabu (21/10/2015). Khoriyah harus ditenangkan petugas kepolisian. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan terhadap Novianto, warga Jepangpakis, yang dipimpin Wijawiyata, dan dua hakim anggota Moch Nur Azizi dan Dedy Adi Saputra, pada Rabu (21/10/2015) beragendakan memeriksa kedua terdakwa.

Dalam keterangannya di depan majelis hakim, baik Ndan yang merupakan warga Jepangpakis, Kecamatan Jati, maupun Bureng yang merupakan warga Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, mengaku kalau mereka tidak merencanakan pembunuhan terhadap korban Novianto sebelumnya. ”Awalnya kami tidak berniat untuk mendatangi Novianto,” kata Ndan.

Namun demikian, baik Bureng maupun Ndan mengakui kalau pisau yang digunakan untuk menusuk korban dibawa Bureng dari rumah. Pisau tersebut merupakan milik Ndan yang sudah sekitar satu bulan dibawa Bureng.

Majelis hakim memutuskan untuk menunda persidangan minggu depan dengan agenda pembacaan tuntutan dari JPU.

Yusuf Istanto, pengacara korban mengatakan, pada dasarnya pihaknya kecewa dengan pasal yang dikenakan pada terdakwa yakni pasal pengeroyokan. Sebab, ada indikasi kalau sebelumnya kedua terdakwa sudah merencanakan aksi pembunuhan tersebut dengan menyiapkan pisau itu sebelumnya.

”Kalau nanti ada fakta persidangan mengarahkan adanya indikasi pembunuhan berencana, kami akan membuat laporan baru,” ujar Yusuf. (MERIE/KHOLISTIONO)

Istri Korban Pembunuhan Jepang Pakis Histeris Lihat Terdakwa

Khoriyah, isteri Novianto, korban yang tewas ditikam, histeris usai persidangan, Rabu (21/10/2015). Khoriyah harus ditenangkan petugas kepolisian. (MuriaNewsCom/Merie)

Khoriyah, isteri Novianto, korban yang tewas ditikam, histeris usai persidangan, Rabu (21/10/2015). Khoriyah harus ditenangkan petugas kepolisian. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Sidang lanjutan pengeroyokan yang berakibat meninggalnya Novianto , warga Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kudus, pada Rabu (21/10/2015).

Perkara yang menyeret dua terdakwa, Sugianto alias Bureng dan Dani alias Ndan tersebut, sempat diwarnai sejumlah insiden yang melibatkan keluarga korban.
Insiden pertama terjadi beberapa saat setelah kedua terdakwa turun dari mobil tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus. Isteri korban, Khoriyah dan beberapa anggota keluarganya, sempat merangsek dan memukul kedua terdakwa.

Beruntung beberapa petugas kepolisian yang berjaga berhasil mengamankan situasi. Hingga akhirnya kedua terdakwa bisa diamankan dan dimasukkan ke ruang tahanan PN sembari menunggu persidangan dimulai.

Insiden yang menarik perhatian juga kembali terjadi usai persidangan. Usai majelis hakim menutup sidang, Khoriyah yang semula duduk tenang di kursi pengunjung, tiba-tiba histeris dan berteriak-teriak meminta agar kedua terdakwa dihukum seberat-beratnya.

”Pokoknya saya masih tidak diterima suami saya dibunuh oleh kedua orang ini. Bahkan di depan anak-anak saya yang masih kecil,” teriak Siti Khoriyah, yang membuat seluruh pengunjung sidang ikut tegang.

Beberapa keluarga Khoriyah, berusaha menenangkannya. Namun, upaya tersebut gagal dilakukan. Akhirnya, Khoriyah pun digotong petugas kepolisian bersama petugas PN Kudus, untuk ditenangkan di musala yang terletak di belakang gedung PN.

”Istri korban histeris karena merasa apa yang disampaikan kedua terdakwa di persidangan, banyak yang bertolak belakang dengan kenyataan,” kata Yusuf Istanto, pengacara hukum korban. (MERIE/KHOLISTIONO)

Bocah 10 Tahun Ini Minta Pembunuh Ayahnya Dihukum Seberat-beratnya

Sidang kasus pembunuhan dengan korban Novianto, warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sidang kasus pembunuhan dengan korban Novianto, warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Anak pertama korban yang masih berusia 10 tahun, meminta kepada agar pelaku pembunuh ayahnya dihukum seberat-beratnya. Bahkan, sebelum persidangan dimulai dan ketika melihat pelaku, anak korban sempat mengeluarkan ancaman mau membunuh pelaku.

Pengacara keluarga korban Yusuf Istanto mengatakan, anak korban sangat marah kepada pelaku dan emosinya meledak ketika melihat pelaku. Bahkan beberapa warga sempat melerai anak korban yang hendak memukul pelaku karena tidak kuasa membendung kemarahannya.

“Iya namanya juga lagi emosi berat, tadi juga mengancam akan membunuh jika pelaku tidak dihukum secara adil,” jelasnya.

Ibu korban Rani menjelaskan, bahwa kematian anaknya meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi keluarganya. Sebab kematian korban tersebut meninggalkan istri dan tiga anak yang masih kecil. “Anak pertama baru umur 10 tahun, anak kedua baru kelas 2 SD dan yang terakhir baru umur empat bulan,” imbuhnya.

Dia berharap kasus pembunuhan yang menimpa anaknya, yakni Novianto, warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati tersebut, dapat diproses dengan adil, sehingga pelaku dapat dijatuhi hukuman yang berat. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)