Hujan Deras, 3 Desa di Kecamatan Grobogan Siaga Banjir

MuriaNewsCom, GroboganWarga yang ada di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan saat ini tengah bersiap siaga terhadap kemungkinan terjadinya bencana banjir. Hal itu dilakukan seiring turunnya hujan deras di wilayah pegunungan Kendeng Utara, Senin (26/2/2018).

Hujan yang mengguyur sejak siang hingga sore menyebabkan sungai-sungai dikawasan itu mulai penuh air. Bahkan, sebagian sudah meluap, namun belum menjangkau ke pemukiman warga.

”Iya, ini kita minta warga untuk waspada banjir. Kondisi sungai sudah penuh akibat hujan deras,” kata Kades Lebak Kasman.

Selain Desa Lebak, ancaman banjir juga berpotensi terjadi di Desa Putatsari dan Tanggungharjo. Posisi kedua desa ini berada di bawah Desa Lebak.

Sebelumnya, bencana banjir bandang sempat melanda sejumlah desa di wilayah Kecamatan Grobogan, Jumat malam hingga Sabtu (10/2/2018) lalu. Dampak banjir paling parah terjadi di Desa Lebak, dan Putatsari karena ada ratusan rumah yang sempat kemasukan air hingga 50 centimeter.

Selain itu, ada banjir bandang juga sempat menjangkau wilayah Desa Teguhan, Karangrejo, dan Ngabenrejo. Banjir pada tiga desa ini terjadi akibat pergerakan air dari wilayah Desa Lebak dan Putatsari.

Banjir bandang terjadi akibat hujan deras di wilayah Desa Sumberjatipohon dan Lebengjumuk sejak sore hingga waktu isak. Hujan deras mengakibatkan sungai-sungai di kawasan itu tidak mampu menampung debit air sehingga meluap ke persawahan dan pemukiman penduduk.

Sementara itu, Camat Grobogan Nur Nawanta ketika dimintai komentarnya menyatakan, saat ini, kondisi sungai memang sudah penuh tetapi air masih bisa mengalir normal. Meski demikian, warga disejumlah desa langganan banjir diminta waspada karena debit sungai diprediksi masih bisa naik karena hujan belum berhenti.

”Saya ini sedang keliling ke lokasi. Beberapa ruas jalan sudah kena luapan air. Tapi, belum ada laporan banjir yang menggenangi rumah penduduk,” katanya.

Editor: Supriyadi

Begini Kondisi Terkini Rumah Warga yang Terendam Banjir di Mejobo Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah desa di Kecamatan Mejobo masih tergenang banjir. Di antaranya Desa Mejobo dan Desa Temulus serta Kesambi. Air bahkan masuk ke rumah-rumah warga dan menggenangi areal persawahan, Selasa (6/2/2018).

Seperti di rumah Sukarmi (38), terletak di Dusun Mejobo Kidul air masih terlihat menggenangi teras depan. Sementara di bagian dalam, nampak masih basah karena baru saja dibersihkan.

“Kalau air sampai di rumah saya, itu tengah malam, sekitar pukul 24.00,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, banjir terjadi karena tumpahan air dari sungai yang ada di Desa Mejobo dan Temulus. Selain itu, kiriman banjir juga disebabkan karena tanggul Sungai Piji di Desa Hadiwerno jebol, pada Senin (5/2/2018) sore.

“Ini nanti kalau surut ya bergantung cuaca, kalau hujan tak kunjung reda ya agak lama. Namun kalau cuaca panas sehari sampai dua hari bisa surut,” ungkapnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Sulasih, warga Desa Mejobo. Menurutnya air sudah masuk ke rumahnya sejak pukul 18.00 WIB, Senin petang.

“Ini airnya dari sungai yang ada dibelakang rumah saya. Kemarin itu selutut, tapi sekarang sudah surut,” ucapnya.

Banjir, kata Sulasih, juga berasal dari luapan Sungai yang ada di Dekat Pasar Mbrayung. “Ini paling bisa surut satu dua hari, kalau daerah Kesambi mungkin tiga harian,” tuturnya.

Di Desa Temulus kondisi terbilang lebih parah. Pantauan MuriaNewsCom, banyak rumah yang kemasukan air. Selain itu, air juga masuk ke SD 5 Temulus, dan mengakibatkan sekolah diliburkan.

Air masih menggenang di beberapa desa yang ada di Kecamatan Mejobo, Kudus, Selasa (6/2/2018). (MuriaNewsCom/Padang Pranoto)

Selain itu, kondisi sungai yang membelah desa tersebut juga masih penuh dengan air. Air terlihat merangsek memasuki jalan-jalan kampung, mencari jalan menuju ke persawahan, yang lebih rendah.

Diberitakan sebelumnya, hujan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kabupaten Kudus pada Senin pagi hingga sore. Hal itu menyebabkan debit air di sungai-sungai meningkat. Selain itu, arus lalulintas pada jalur Kudus-Pati sempat tergenang, sehingga menyebabkan kepadatan arus kendaraan.

Editor: Supriyadi

16 Kecamatan di Grobogan Rawan Banjir

BPBD Grobogan melangsungkan rakor penanggulangan bencana dengan berbagai instansi terkait, Kamis (23/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobgan makin meningkakan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana banjir. Hal itu dilakukan karena hampir semua wilayah kecamatan punya potensi terhadap datangnya bencana banjir.

”Dari 19 kecamatan yang ada, sebanyak 16 kecamatan rawan banjir. Sedangkan Kecamatan Gabus, Toroh, dan Kradenan tidak masuk dalam data rawan banjir,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Grobogan Budi Prihantoro, usai menghadiri acara rakor penanggulangan bencana, Kamis (23/11/2017).

Ancaman banjir tersebut bisa berdampak cukup besar. Setidaknya, ada 30.588 kepala keluarga (KK) yang bisa terkena dampak jika terjadi banjir.

Menurut Budi, rawannya wilayah di 16 kecamatan terhadap bencana banjir disebabkan banyak hal. Antara lain, adanya kiriman air dari kawasan dua pegunungan yang mengapit wilayah Grobogan. Yakni, Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan.

”Kondisi banjir bisa terjadi jika curah hujan dikawasan pegunungan sangat tinggi. Karena volume air banyak maka tidak bisa tertampung ke sungai dan akhirnya meluap ke perkampungan penduduk. Wilayah yang rawan banjir kebanyakan berada di sekitar aliran sungai besar,” jelasnya.

Selain banjir, ada juga potensi terhadap terjadinya bencana longsor. Daerah yang rawan longsor antara lain, Desa Katekan dan Tegalsumur di Kecamatan Brati. Kemudian, Desa Sumberjatipohon dan Lebengjumuk di Kecamatan Grobogan), Desa Dokoro (Wirosari). Kelima desa tersebut berada di kawasan Pegunungan Kendeng Utara.

Selanjutnya, ada tiga desa di kawasan Pegunungan Kendeng Selatan yang juga dipetakan rawan longsor. Yakni, Desa Nampu (Karangrayung), Desa Kapung (Tanggungharjo), dan Desa Deras (Kedungjati).

”Dampak longsor ini tidak separah jika terjadi banjir. Soalnya, potensi longsor terjadi di sekitar kawasan yang terdapat aktivitas penambangan galian C. Meski demikian, hal ini tetap jadi perhatian,” terang Budi.

Ia menambahkan, informasi yang diterima dari BMKG, intensitas hujan di Grobogan dan sekitarnya cukup tinggi dalam beberapa pekan mendatang. Kondisi itulah yang menjadi salah satu pertimbangan untuk meningkatkan kewaspadaan karena potensi bencana bisa berawal dari tingginya curah hujan.

”Dalam penanganan bencana tidak bisa dilakukan dari BPBD saja. Kami berharap keterlibatan semua pihak untuk ikut bekerjasama untuk penanggulangan bencana ini,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Dapat Kiriman Air dari Blora dan Purwodadi, Bendung Wilalung Kudus Siaga III

Debit air Bendung Wilalung terus meningkat hingga siaga III, Jumat (17/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan deras yang masih mengguyur kawasan Blora dan Purwodadi  berdampak pada penuhnya air di Bendungan Wilalung, di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan. Kondisi Bendung Wilalung kini sudah penuh dengan air atau peres.

Petugas jaga Bangunan Pengendali Banjir Wilalung Lama (BPBWL) Noor Ali mengatakan, status siaga sekarang adalah status paling gawat atau siaga tiga. Hal itu lantaran kondisi air di waduk sudah mampir memenuhi batas maksimal tampungan air

“Untuk siaga satu, 400 hingga 500 kubik, siaga II 500 hingga 550 dan untuk siaga tiga atau yang paling waspada adalah diatas 550,” katanya

Menurut dia, banyaknya air di sana merupakan kiriman dari Blora atau lebih tepatnya Sungai Lusi. Saat ini debet airnya sejumlah 694 meter kubik per jan 12.45 WIB. Melihat arus yang masih deras, kemungkinan air bertambah sangat memungkinkan. Apalagi, saat Purwodadi dan Blora hujan secara otomatis air bakal bertambah.

Disebutkan, kalau air mencapai 800 meter kubik, maka pintu air arah Pati akan dibuka. Hanya, jika kondisinya tak hujan lebat, pintu belum akan dibuka lantaran masih aman.

“Kalau tak hujan, paling sampai 700 meter kubik saja. Itu masih aman meski air sudah melimpas ke kawasan sawah sekitar Bandung Wilalung,” imbuhnya.

Narto, warga Desa Kalirejo, Undaan mengaku waspada akan adanya limpasan air. Karena kondisi airnya semakin meninggi. Hanya, melihat kondisinya sekarang, dia yakin masih aman selama tak ada hujan lebat lagi.

“Kalau air sudah memenuhi jalan kawasan Bandung Wilalung, maka dipastikan akan melimpas ke pemukiman jadi  bahaya kalau sampai jalan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi