BPS Kabupaten Diberikan Waktu 35 Hari Kerja untuk Selesaikan Sensus Ekonomi

Kepala BPS Rembang Saichuddin (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Kepala BPS Rembang Saichuddin (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Dokumen pelaksanaan sensus ekonomi yang dilakukan petugas pencacah lapangan (PCL) saat ini sudah masuk seluruhnya ke Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang.

Saat ini petugas organik atau pegawai BPS sedang melakukan editing dokumen yang masuk tersebut. Dalam proses sensus ini sendiri, pihak BPS Kabupaten diberikan tenggat waktu hingga 35 hari kerja.

”Target yang diberikan provinsi itu 35 hari kerja. Makanya, saat ini petugas sedang berupaya secara maksimal untuk menyelesaikan dokumen tersebut, dan ketika masih ada ditemukan kejanggalan, maka secepatnya dikembalikan lagi ke PCL ataupun PML untuk dilakukan pembetulan,” kata Kepala BPS Rembang Saichuddin.

Dirinya mengatakan, hasil dari pelaksanaan sensus ekonomi ini di antaranya untuk menghasilkan pemetaan potensi ekonommi menurut wilayah, jenis  dan pelaku usaha, tersedianya sampel untuk berbagai kegiatan survei bidang ekonomi, seperti harga,  produksi, distribusi maupun jasa.

Selain itu juga untuk mengetahui karakteristik usaha menurut skala usaha, pemetaan daya saing bisnis menurut wilayah dan tinjauan prospek bisnis serta perencanaan investasi.

Sejauh ini, sensus ekonomi yang dilakukan di Rembang cukup berjalan lancar, meski ada beberapa kendala yang ditemui. ”Misalnya ya responden tidak ada di rumah, enggan memberikan data secara jujur ataupun takut jika sensus ekonomi ini berhubungan dengan pajak. Namun, setelah dilakukan pemahaman, responden akhirnya mengerti,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Catat, Tak Boleh Ada Kesalahan untuk Dokumen Sensus Ekonomi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pendataan Sensus Ekonomi 2016 terhadap pelaku usaha di Kabupaten Rembang selama bulan Mei 2016 ini sudah usai. Saat ini, data yang telah dikumpulkan petugas sensus tersebut sedang dilakukan pemeriksaan petugas organik atau pegawai Badan Pusat Statistik (BPS).

Pemeriksaan atau editing terhadap dokumen yang diserahkan petugas pencacah lapangan (PCL) tersebut perlu dilakukan, supaya nantinya ketika dilakukan penyerahan ke provinsi sudah tidak ada sama sekali kesalahan.

”Meskipun sebenarnya dokumen tersebut sudah dilakukan dilakukan pemeriksaan oleh petugas pemeriksa lapangan (PML) ataupun penjamin kualitas, namun, hal ini masih perlu dilakukan pemeriksaan lagi, supaya dokumen ini benar-benar clear,” ujar Kepala BPS Rembang Saichuddin.

Jika memang dalam pemeriksaan yang dilakukan petugas organik tersebut nantinya masih ada ditemukan kejanggalan ataupun kekurangan, maka dokumen tersebut bisa dikembalikan lagi ke PCL atapun PML untuk dilakukan pembetulan, atau bahkan bisa lagi dilakukan pengecekan ke lapangan untuk keakuratan data.

Sebab, pelaksanaan sensus ekonomi yang dilakukan kali ini harus benar-benar akurat. Karena, tujuan dar sensus ekonomi ini untuk memperoleh potret yang utuh perekonomian.

”Data yang masuk memang harus diteliti dengan baik,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Sensus Ekonomi  di Grobogan Belum Sempurna

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Grobogan Manggus Suryono. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Grobogan Manggus Suryono. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2016 yang dimulai sejak 1 Mei lalu dinilai berjalan lancar. Yang mana, menjelang batas akhir pelaksanaan pada 31 Mei mendatang, tidak ada kendala serius yang didapat di lapangan.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Grobogan Manggus Suryono yang ditemui usai salat Jumat di Masjid Agung Baitul Makmur Purwodadi.

“Alhamdulillah, pelaksanaan Sensus Ekonomi di lapangan tidak ada hambatan. Sampai saat ini, progresnya sudah mendekati 100 persen,” tegasnya.

Menurutnya, pelaksanaan sensus tersebut masih menyisakan waktu beberapa hari lagi. Sisa waktu tersebut  akan dimanfaatkan buat melakukan penyempurnaan data.

Sebab, memang masih ada beberapa responden, khususnya perusahaan yang belum memberikan data lantaran beberapa alasan. Seperti, menunggu persetujuan pimpinan dan laporannya baru dilengkapi.

“Tapi jumlahnya tidak banyak karena perusahaan di Grobogan relatif sedikit jika dibandingkan daerah lainnya. Kondisi ini bisa kita maklumi dan juga terjadi di daerah lainnya. Dalam beberapa hari nanti kita upayakan sudah beres semuanya,” cetusnya.

Dia menyatakan, jumlah petugas Sensus Ekonomi 2016 yang dikerahkan cukup banyak, yakni ada 1.192 orang. Terdiri dari 889 petugas pencacah dan 303 petugas pengawas. Selain itu, dalam pelaksanaannya ada pula tim pengawasan. Yakni,  dari BPS Grobogan, Jawa Tengah dan pusat.

Editor : Akrom Hazami

 

Begini Cara Paling Ampuh Hadapi Petugas Sensus Ekonomi ‘Nakal’

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi masyarakat yang merasa ada yang janggal dengan petugas sensus ekonomi, terdapat cara untuk menanganinya. Salah satunya dengan mencatat nama atau mengambil foto petugas kemudian dilaporkan ke BPS.

Kepala BPS Kudus Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, petugas sensus sebelumnya sudah dibekali dengan pelatihan secara rutin. Sehingga jika tidak mematuhi aturan, maka layak dipertanyakan.

”Pertama lihat seragam.yang dikenakan bersama, yakni rompi dan topi. Kalau tidak menggunakan bisa langsung tanya benar atau tidak dari BPS,” katanya

Ia menegaskan, jika petugas tidak mengenakan seragam, masyarakat dapat menolak dilakukan survei. Sebab ketentuan haruslah menggunakan seragam.saat bertugas.

Selain itu, petugas juga dibekali dengan id card yang sudah dibuat berdasarkan standar BPS. Tanda pengenal.itu merupakan hal yang harus selalu dibawa saat bertugas.

”Jika petugas masih mencurigakan, maka masyarakat dapat mencatat namanya dan melaporkan kepada BPS di kompleks perkantoran mejobo. Masyarakat juga dapat menolak jika petugas tidak mengenakan syarat yang ditetapkan BPS,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Warga Mlati Lor Kudus Keluhkan Kelakuan Petugas Sensus Ekonomi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan sensus ekonomi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kudus, sudah berjalan. Namun, dari survei yang dilakukan petugas, ternyata tidak semuanya lancar. Beberapa masyarakat justru mengeluhkan cara petugas survei tanpa mengenakan seragam ataupun identitas.

Dea, warga Mlati Lor, Kecamatan Kota mengatakan, belum lama ini ia kedatangan petugas survei dari BPS. Namun, petugas yang datang mengenakan pakaian bebas tanpa menunjukkan surat tugas ataupun atribut survei lainnya.

”Iya ada yang datang, tidak membawa seragam. Padahal biasanya itu membawa rompi beserta topi yang bertuliskan sensus ekonomi,” katanya kepada MuriaNewsCom

Bahkan, dia juga curiga dengan cara menulis apa yang ditanyakan. Penulisan dilakukan dengan pensil , bukan dari bolpen sepeti sensus dan survey lainnya. Tak hanya itu, petugas juga tidak menunjukkan id card atau tanda pengenal lainnya. Hanya, petugas bilang kalau dia adalah petugas sensus.

Hal yang sama juga terjadi, di Kecamatan Gebog. Takim, warga Klumpit, Kecamatan Gebog juga mengatakan hal yang sama. Petugas agak memaksa untuk mendapatkan data.

”Sudah sepekan lalu. Tapi ya pertanyaannya agak banyak dan tergesa gesa. Jadi akhirnya agak memaksa untuk mendapatkan data,” ujarnya.

Hanya, ia mengakui jika petugas yang datang kepadanya sudah sopan. Selain itu juga mengenakan seragam dan identitas petugas survei.

Editor: Supriyadi

Akhirnya Warga Rembang Tahu Sosok Petugas Sensus Ekonomi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pada awal-awal pelaksanaan Sensus Ekonomi 2016, tak sedikit petugas sensus yang mengalami penolakan ketika melakukan pendataan terhadap responden. Hal itu, dikarenakan, responden mengira jika Sensus Ekonomi tersebut berkaitan dengan pajak.

Namun, setelah petugas menjelaskan dengan detail mengenai tujuan dari Sensus Ekonomi tersebut, responden mulai terbuka untuk dilakukan pendataan.Meskipun, hal itu memang tak mudah untuk memberikan pemahaman.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang Saichuddin mengatakan, jika tak sedikit responden mengira Sensus Ekonomi tersebut terkait pajak. “Padahal ini berbeda dengan sensus pajak, dan hasil pendataan pun diumumkan secara global, bukan per individu,” ujarnya.

Dirinya juga menyampaikan, jika pihaknya beberapa kali menggandeng perangkat desa untuk memberikan penjelasan mengenai sensus ekonomi tersebut. Hal ini sampai perlu dilakukan, sebab, perangkat desa dinilai lebih dekat kepada masyarakat desa setempat.

“Kami berterima kasih kepada kepala dan perangkat desa yang sudah ikut membantu menyukseskan Sensus Ekonomi ini. Karena peran mereka cukup penting dalam ini. Ada beberapa responden, yang memang butuh penjelasan dari perangkat desa terkait Sensus Ekonomi ini,” ujarnya.

Dengan adanya pemahaman itu, dirinya mengaku, saat ini masyarakat sudah terbuka untuk dilakukan sensus. Pemahaman mereka terhadap Sensus Ekonomi yang ada kaitannya dengan pajak, sudah terbantahkan.

Editor : Akrom Hazami

 

Petugas Sensus Ekonomi di Rembang Kecele Ditinggal Warga ke Tiongkok

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2016 dilaksanakan mulai 1 Mei lalu bakal berakhir 31 Mei mendatang. Selama hampir satu bulan berjalan ini, pelaksanaan sensus di Rembang hampir mendekati selesai.

Namun demikian,  Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang masih belum bisa memastikan sensus yang dilakukan bisa selesai 100 persen hingga 31 mendatang. Sebab, hingga saat ini masih ada beberapa rumah yang menjadi sasaran sensus, pemiliknya tidak berada di tempat.

“Di Kecamatan Lasem itu, ada 4 rumah yang hingga kini belum bisa dilakukan pendataan. Sebab, pemiliknya sedang ke China (Tiongkok,red) untuk merayakan Waisak. Petugas sendiri juga belum tahu, hingga kapan pemilik rumah tersebut berada di luar negeri,” ujar Saichuddin, Kepala BPS Rembang.

Meski begitu, untuk pelaksanaan sensus hingga 26 Mei ini, di Rembang sudah mencapi 98 persen. Sehingga, hanya tinggal sedikit lagi untuk bisa menuntaskan pendataan terhadap sasaran sensus.

“Hingga 26 Mei 2016, kami tinggal menyisakan sebanyak 15 blok sensus yang belum dilakukan pendataan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, 15 blok sensus itu terletak di tiga kecamatan berbeda, di antaranya 5 blok di Kecamatan Sedan, 9 blok di Kecamatan Rembang, dan satu blok di Kecamatan Pamotan.Dari 15 blok itu, ada sekitar 80 rumah.

Menurut dia, pendataan 15 blok sensus tersebut memang sedikit lambat dibandingkan blok lainnya, karena wilayah itu merupakan konsentrasi sensus atau warga padat penduduk serta pemilik rumah yang tidak berada di rumah ketika petugas menyambangi.

Editor  : Akrom Hazami

 

Sensus Ekonomi di Jepara Capai 80 Persen

Petugas sensus ekonomi melakukan sensus di rumah Bupati Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas sensus ekonomi melakukan sensus di rumah Bupati Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNEwsCom, Jepara – Terhitung mulai 1 hingga 31 Mei 2016, Badan Pusat Statistik menyelenggarakan Sensus Ekonomi. Berdasarkan data dari BPS Jepara, tercatat sampai tanggal 24 Mei 2016 telah didata sekitar 80 persen seluruh warga Jepara oleh petugas. Harapannya di sisa beberapa hari ini dapat terselesaikan kegiatan sensus ekonomi 2016 di Kabupaten Jepara dengan tepat waktu.

Kepala BPS Kabupaten Jepara, Murdiono mengatakan, program sensus ekonomi ini bertujuan untuk mendapatkan informasi potret utuh perekonomian Jepara khususnya dan bangsa umumnya. Hasilnya akan digunakan sebagai landasan penyusunan kebijakan dan perencanaan pembangunan nasional maupun regional.

”Pendataan seluruh sektor usaha secara menyeluruh (selain sektor pertanian) ini, harapannya akan mampu menghasilkan gambaran lengkap tentang level dan struktur ekonomi non-pertanian berikut informasi dasar dan karakteristiknya. Selain itu juga akan diketahui daya saing bisnis di Indonesia, serta penyediaan kebutuhan informasi usaha,” ujar Murdiono saat melakukan sensus ekonomi di rumah dinas Bupati Jepara, Selasa (24/5/2016).

Mengingat akurasi data amat diperlukan bagi BPS, lanjutnya, diharapkan seluruh masyarakat dapat bekerja sama dengan para petugas mitra BPS di lapangan. Mengingat tantangan yang bakal dihadapi petugas ialah mengenai kebenaran data itu sendiri. BPS ingin data diisi dengan benar dan masyarakat juga bisa menerima petugas dengan baik.  Tercatat secara nasional, sensus ekonomi tahun 2016 merupakan kegiatan sensus yang ke empat kalinya.

”Terakhir kali sensus ekonomi dilakukan pada 2006. Dari hasil itu, tercatat ada 22.656.714 jumlah usaha di 13 sektor usaha non-pertanian. Sedangkan tenaga kerja yang terlibat mencapai 51.490.446 orang. Sensus sebelumnya digelar pada 1986 dan 1996,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengatakan, pihaknya menaruh harapan besar atas keberhasilan pelaksanaan sensus perekonomian. Karena hasilnya adalah data akurat yang dapat dijadikan pijakan dalam mengambil keputusan dan rencana pembangunan kedepan.

”Harapannya seluruh masyarakat  juga dapat memberikan data yang benar dan akurat, sehingga hasilnyapun akurat,” katanya.

Secara pribadi, Ahmad Marzuqi, dalam sesus ini ternyata nihil. Artinya dalam sensus ini Bupati tidak mempunyai usaha lain atau perusahaan di  sekitar rumahnya. Selanjutnya sebagai bukti telah disensus oleh petugas, maka di pintu depan rumahnya dipasang stiker sensus ekonomi 2016 oleh petugas.

Editor: Supriyadi

Begini Trik BPS Kudus Awasi Hasil Sensus Ekonomi, Petugas Sensus Wajib Tau Ini

Kepala BPS Kudus, Endang Tri Wahyuningsih. (MuriaNewsCom)

Kepala BPS Kudus, Endang Tri Wahyuningsih. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Guna memastikan sensus ekonomi dapat berjalan lancar, maka BPS memiliki cara tersendiri dalam memasukan data valid. Hal itu dilakukan agar tidak ada manipulasi data yang dilakukan oleh petugas survey.

Kepala BPS Kudus Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, BPS sudah menyiapkan petugas khusus untuk mensurvey ulang sasaran. Langkah itu diperbuat untuk memastikan responden benar benar didatangi dan di survei.

”Petugas untuk itu sudah kami siapkan. Jadi akan kembali mendatangi lokasi sasaran. Setelah itu di survei ulang dan ditanya apakah sudah di survey apa belum,” katanya.

Jika manipulasi data ditemukan, maka BPS akan bertindak tegas hingga memecat petugas survei. Langkah itu diperbuat agar sensus yang dilakukan benar-benar sesuai kenyataan.

Survei ulang yang dilakukan, diwaktu yang tidak disebutkan. Survei ulang juga dilakukan dengan model sampling, dan diacak di tiap kecamatan dan kategori survey.

”Itu merupakan bentuk pengawasan, jadi setelah sebelum nya di bekali, kemudian di siapkan materi harus diawasi,” ujarnya.

Dia juga menghimbau kepada petugas survei agar dapat melaksanakan sesuai dengan jadwal. Dia juga mengharuskan petugas untuk datang dalam pertemuan yang dilakukan selama tujuh kali selama sebulan ini.

Sensus ekonomi tahun ini, menggunakan 1.185 petugas. Jumlah tersebut terdiri dari petugas survey dan kertas pengawas. Semuanya terkumpul dari seleksi yang sebelumnya dilakukan oleh pihak BPS.

Editor: Supriyadi

Petugas Sensus Ekonomi di Rembang Harus Data Ulang Responden, Ini Penyebabnya

Kepala BPS Rembang, Saichuddin (MUriaNewsCom/Kholistiono)

Kepala BPS Rembang, Saichuddin (MUriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Sejak Minggu (1/5/2016), sensus ekonomi telah dimulai, tak terkecuali di Rembang. Dalam hal ini, beberapa kali petugas terpaksa harus mendata ulang responden, karena adanya penolakan dan ketidakjujuran dari responden.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rembang Saichuddin menyatakan, meski tak banyak, namun memang diakui, ada beberapa responden yang melakukan penolakan ketika didata petugas sensus ekonomi.

”Penolakan memang ada, tapi ya tak banyak lah. Tapi itu sudah kita inventarisir dan kita data ulang. Kita jelaskan lagi apa maksud dan tujuan dari sensus ini. Mungkin saja dari penjelasan petugas pencacah belum dimengerti, sehingga pengawas dalam hal ini juga turun untuk menjelaskan,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Jika memang dari petugas sensus juga masih belum berhasil, pihaknya juga meminta bantuan dari aparat pemerintah untuk ikut berpartisipasi. Dalam hal ini yakni kepala desa setempat atau perangkatnya.

Dirinya juga mengatakan, jika penolakan responden terhadap sensus tersebut, karena dimungkinkan mereka beranggapan ada kaitannya dengan pajak, karena sedang sibuk, atau juga penjelasan dari petugas yang belum begitu jelas.

”Ya namanya juga masyarakat, jadi banyak macamnya. Mungkin takut karena pajak, atau memang lagi sibuk dan tidak mau diganggu. Tapi pastinya, tujuan sensus ini kita jelaskan kepada mereka secara detail, sehingga masyarakat memahami apa maksud dan tujuannya dilakukan sensus ini,” imbuhnya.

Dalam hal ini, ada 519 petugas yang turun ke lapangan. Jumlah tersebut terdiri dari 386 orang Petugas Pencacah Lapangan (PCL), dan 133 orang Petugas Pemeriksa Lapangan (PML).Bukan itu saja, juga ada 32 petugas organik, yang ditugaskan untuk mendampingi 4-8 pemeriksa lapangan.

Editor: Supriyadi

20 Petugas Sensus Dikerahkan untuk Survei Ubinan di Kudus

Jpeg

Logo Badan Pusat Statistik

 

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Pusat Statistik (BPS) Kudus, sedang menggelar survei ubinan. Survei itu dilakukan oleh 20 tenaga survei yang mendatangi ribuan rumah tangga sasaran.

Hal itu disampikan Kepala BPS Kudus Endang Tri Wahyuningsih. Menurutnya, petugas survei itu tidak butuh terlalu banyak. Sebab, secara geografis, Kudus tergolong kecil, sehingga tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga.

“Petugas yang disebar untuk survei ada 20 orang, dan dalam sehari bisa tercapai dua blok survei. 20 petugas survei itu disebar di sembilan kecamatan yang ada di Kudus,” katanya.

Menurutnya, dalam survei, BPS mengambil 39 blok, dan dalam satu bloknya kurang lebih ada 120 rumah tangga.

Lebih lanjut ia katakan, masing-masing petugas sudah dibekali peta blok sensus, yakni Data Computer-Assisted Personal Interviewing (CAPI) yang dimiliki mencakup lokasi, identitas petani, yang ditanam apa saja, dan kapan waktu panen.

“Sebenarnya ini sederhana saja, CAPI ini mencocokkan data yang sudah ada dengan mendatangi langsung ke rumahnya. Kalau data yang dimasukkan sudah benar, maka ada kode hijau, jika merah maka kurang akurat,” imbuhnya.

Dia menerangkan, menggunakan sistem CAPI ini akan berlanjut untuk survei luasan lahan pertanian. Menurutnya, memanfaatkan teknologi ini lebih hemat anggaran dan data yang didapat lebih akurat.

Editor : Kholistiono

Pelaku Usaha Diminta Tak Tutup-tutupi Informasi untuk Keperluan Sensus Ekonomi

f-Sensus (e)

Upacara pembukaan sosialisasi sensus ekonomi 2016. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pelaku usaha di Blora diminta untuk tidak menutup-tutupi informasi yang dibutuhkan petugas, terkait sensus ekonomi 2016.Karena, hal itu merupakan acuan data yang menentukan kebijakan pemerintah.

Hal ini disampaikan Bupati Blora Djoko Nugroho saat menyampaikan sambutannya dalam sosialisasi sensus ekonomi kepada pelaku usaha di Ruang Pertemuan Mr.Green, Kamis (28/4/2016).

“Kalau kalian didatangi petugas sensus ekonomi, sampaikan semuanya secara jelas. Biar data yang diperoleh oleh petugas sensus tidak keliru,” kata Kokok, sapaan Djoko Nugroho.

Ia menjelaskan, bahwa kevalidan data dari hasil sensus ekonomi sangat penting. Karena, sebagai acuan penentu kebijakan secara komprehensif.

Menurutnya, salahnya data yang diterima oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah akan berimbas kepada kebijakan yang salah pula.

“Maka, kami harap, petugas bisa bekerja secara maksimal. Begitu juga, pelaku usaha bisa memberikan informasi secara utuh,” imbuh Kokok.

Sementara, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Blora Heru Prasetyo melalui Kepala Seksi (Kasi) Integrasi Pengolahan dan Desimenasi Satistik Badan Pusat statistik (IPDSBPS) Blora, M Yamani mengungkapkan, bahwa agenda sosialisai kali ini merupakan upaya dalam memberikan pengarahan kepada responden agar terbuka dalam memberikan informasi kepada petugas sensus di lapangan.

“Kaitannya dengan kevalidan informasi berupa data. Kami beri sosialisasi agar setiap pelaku usaha bisa memberikan data secara utuh,” tandasnya.

Dalam sosialisasi tersebut, dihadiri oleh 48 pelaku usaha yang ada di Kabupaten Blora,serta mengundang beberapa narasumber. Diantaranya Arief Rohman Wakil Bupati Blora, Erisman perwakilan dari BPS Jawa Tengah, dan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Blora Abdullah Aminuddin.

Editor : Kholistiono

BPS Perkirakan Sensus Ekonomi Bakal Terkendala

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Blora – Sensus potensi ekonomi tahun 2016 yang akan dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) Blora pada tanggal 1 hingga 31 Mei mendatang, diprediksi bakal menemui kendala. Salah satuny adalah sulitnya mendapatkan informasi dari informan atau responden.

Kepala Seksi (Kasi) Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik Badan Pusat Statistik (IPDBPS) Blora M Yamani mengatakan, di wilayah Kabupaten Blora diperkirakan masih banyak pelaku usaha yang kurang peduli terhadap pendataan ekonomi ini. Bahkan, pengusaha besar adalah yang bakal sulit untuk dimintai keterangan perihal usahanya.

”Banyak mereka yang takut jika pendataan tersebut berhubungan dengan pajak. Padahal tidak. Ini murni untuk melakukan pemetaan potensi ekonomi,” jelas M yamani kepada MuriaNewsCom, Sabtu (9/4/2016).

Dia memprediksi, akibat kurangnya kepedulian pengusaha terhadap pendataan ekonomi itu, para petugas sensus bakal menemui kendala saat melakukan kerja di lapangan. Kendala tersebut salah satunya jika para petugas sensus kesulitan mendapat informasi dari responden.

Untuk mengantisipasi kendala itu, pihaknya akan menurunkan langsung tim Taspos atau petugas dari BPS sendiri. Dengan tujuan, agar semua bisa berjalan lancar. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan sosialisi kepada pelaku usaha di Kabupaten Blora.

”Bulan ini rencananya kami akan undang semua pelaku usaha yang ada di Blora, untuk menyosialisasikan sensus ekonomi. Selain pelaku usaha, asosiasinya juga kami undang. Seperti Gapensi (Gabungan Pemborong Nasional Indonesia) yang ada di Blora. Untuk asosiasi kami minta siapa saja anggotanya agar disampaikan,” jelasnya.

Dia menambahkan, sensus tersebut sangat penting, dan harus dilakukan. Karena untuk memetakan potensi ekonomi di Indonesia. ”Sehingga kami minta semua pihak bekerja sama dengan kami,” imbuhnya.

Editor: Merie

Kisah Rompi Hitam yang Kurang Jos di Mata Bupati Blora

Pelepasan balon seusai apel siaga petugas sensus ekonomi 2016 di halaman pendopo rumah dina Bupati Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Pelepasan balon seusai apel siaga petugas sensus ekonomi 2016 di halaman pendopo rumah dina Bupati Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Bupati Blora Djoko Nugroho menanggapi serius soal rompi hitam yang dikenakan petugas Sensus Ekonomi, saat apel siaga di pendapa rumah dinas bupati, Senin (21/3/2016).
Diketahui, rompi tersebut adalah seragam dari Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai identitas petugas Sensus Ekonomi.

“Mbokya pakai batik khas Blora. Dengan motif Jati, mungkin,” ujar Kokok, sapaan akrabnya, mengkritik rompi hitam petugas.

Dalam sambutannya sebagai pembina apel siaga, menanggap bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang aneh dengan gaya konsumtif warganya yang sangat tinggi. Selain itu tingkat kepercayaan atas kearifan lokal sangatlah tipis. “Bangsa kita ini bangsa yang aneh kok. Nek ono hape anyar buwingung, kalau tidak beli yang baru kita dianggap jadul,” ujar Kokok.

Di situ, Kokok meminta agar semua warga bisa memiliki ras percaya diri sebagai warga Blora. “Maju atau tidaknya Blora, itu tergantung dari kita. Mari percaya diri dengan Blora,” ujar dia.
Ia juga menekankan bagi seluruh pemegang kebijakan yang ada di Blora untuk bisa mendukung adanya Sensus Ekonomi kali ini.

Sementara, Heru Prasetyo, Kepala BPS Blora meminta peran media dalam mengkampanyekan Sensus Ekonomi kali ini. “Peran media di sini sangat penting dalam mengkampanyekan sensus kali ini,” ujar Heru.

Ia juga meminta bagi seluruh responden sensus agar bisa terbuka dalam memberikan informasi kepada petugas. “Keterbukaan responden dalam menginformasikan kepada petugas itu penting sekali, imbasnya nanti ke data yang valid,” pungkasnya.

Seusai apel siaga, ratusan balon diterbangkan oleh para petugas Sensus Ekonomi 2016. Penerbangan balon itu dipimpin langsung oleh Djoko yang diikuti oleh petugas sensus yang lainnya.

Editor : Akrom Hazami

200 Petugas Sensus Ekonomi Ditekan Bupati Blora

Apel siaga petugas sensus ekonomi 2016 di pendapa rumah dinas Bupati Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Apel siaga petugas sensus ekonomi 2016 di pendapa rumah dinas Bupati Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Seiringan dengan adanya program sensus ekonomi, sebanyak 200 petugas sensus ekonomi pada Senin (21/3/2016) mengikuti apel siaga di pendapa rumah dinas Bupati Blora. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kesiapan petugas sensus untuk melakukan tugasnya sesuai dengan porsinya, untuk mendata segala bentuk usaha yang ada di Kabupaten Blora.

”200 petugas ini merupakan perwakilan saja, dari kami punya 752 petugas yang nantinya akan mendata segala bentuk usaha yang ada di Kabupaten Blora,” ujar Heru Prasetyo Kepala Badan Pusat statistik (BPS) Blora.

Dari semua petugas yang bakal mendata segala jenis usaha yang ada di Kabupaten Blora, Heru mengungkapkan mereka siap dan bisa bekerja dengan sebaik-baiknya untuk menyajikan data.

Sedangkan, Bupati Djoko Nugroho mengungkapkan, keberadaan petugas sensus ekonomi 2016 sangatlah penting. Ia menekankan, agar petugas tidak manipulatif dalam menyajikan data nantinya. ”Kalau memang punya usaha dan kaya tulis saja kaya, ojo ngaku ora nduwe kerono wedi pajek,” ungkap Kokok, sapaan akrab Djoko Nugroho.

Menurutnya, kesalahan pemerintah dalam mengambil kebijakan karena salahnya petugas sensus dalam menyajikan data. ”Data itu penting, pemerintah dari pusat hingga daerah dalam mengambil kebijakan selalu mengacu kepada data. Jadi, tolonglah bekerja sebaik mungkin,” ungkap dia.

Apel yang berjalan khidmat dan tertib itu mendapat pujian dari Kokok, dalam akhir sambutannya ia mengapresiasi petugas yang mau tertib dalam apel siaga. ”Apel berjalan tertib dan khidmat, ora kalah karo TNI,” pungkas Kokok.

Editor : Titis Ayu Winarni

Dicuekin, Plt Bupati Grobogan Kesal dengan Petugas Sensus Ekonomi

Plt Bupati Grobogan Sugiyanto menyampaikan amanat saat jadi pembina apel siaga sensus ekonomi 2016. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Plt Bupati Grobogan Sugiyanto menyampaikan amanat saat jadi pembina apel siaga sensus ekonomi 2016. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sempat ada kejadian aneh saat apel siaga Sensus Ekonomi di Gedung Wisuda Budaya, Grobogan, Jumat (18/3/2016). Tepatnya, saat Plt Bupati Grobogan Sugiyanto yang jadi pembina apel tengah menyampaikan amanat.

Sempat dua kali Sugiyanto berhenti sejenak menyampaikan amanat. Terakhir, ia sempat bertanya pada para peserta apel apakah pembacaan amanat perlu diteruskan atau tidak.

“Pembacaan apel ini perlu dilanjutkan atau tidak? Kalau mau dilanjutkan maka tolong diperhatikan,” cetus Sugiyanto.

Teguran yang dilayangkan Sugiyanto itu dilakukan karena saat pembacaan amanat, para petugas sensus yang jadi peserta apel saling berbicara sendiri. Meski Sugiyanto sudah sempat berhenti menyampaikan amanat beberapa saat, namun para peserta apel ternyata tidak tanggap. Akhirnya, Sugiyanto terpaksa memberikan sedikit sentilan pada peserta apel tersebut.

“Saudara-saudara ini mendapat amanat untuk melaksanakan tugas berat dan sangat penting. Jadi jangan sepelekan kepercayaan ini karena tidak semua orang bisa mengemban tugas jadi petugas Sensus Ekonomi,” katanya.

Mengingat pentingnya tugas yang diemban, Sugiyanto meminta para petugas sensus agar memegang amanah sebaik mungkin. Mereka diminta benar-benar terjun ke lapangan dan membuat data secara valid serta melakukan tugas sesuai petunjuk dan aturan yang sudah ditentukan.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Grobogan Manggus Suryono menyatakan, jumlah petugas sensus ekonomi 2016 yang dikerahkan sebanyak 1.192 orang. Terdiri dari 889 petugas pencacah dan 303 petugas pengawas.

“Para petugas ini sebelumnya sudah kita seleksi dan mereka sudah siap kita terjunkan untuk melakukan sensus ekonomi sepanjang bulan Mei nanti. Melalui kegiatan ini akan didapat informasi dasar yang menyangkut semua sektor ekonomi,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

1.192 Petugas Sensus Ekonomi Grobogan Disiapkan

upload jam 11

Plt Bupati Grobogan Sugiyanto mengecek kesiapan petugas Sensus Ekonomi di Gedung Wisuda Budaya Purwodadi, Jumat (18/3/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebanyak 1.192 petugas yang akan melakukan Sensus Ekonomi 2016, mengikuti apel siaga yang dilangsungkan di Gedung Wisuda Budaya Purwodadi, Jumat (18/3/2016).

Para petugas yang menjadi mitra Badan Pusat Statistik (BPS) Grobogan ini akan diterjunkan untuk melakukan sensus mulai 1-31 Mei mendatang. Apel siaga dipimpin Plt Bupati Grobogan Sugiyanto. Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Grobogan Manggus Suryono, perwakilan FKPD dan sejumlah pejabat terkait di lingkup Pemkab Grobogan.

Dalam kesempatan itu, Sugiyanto menyatakan, pelaksanaan apel siaga itu dilakukan untuk memastikan kesiapan para petugas yang akan melaksanakan kegiatan Sensus Ekonomi selama satu bulan tersebut.

“Beberapa tahapan sensus ekonomi sudah dilakukan sebelumnya. Puncaknya adalah pencacahan langsung ke lapangan yang akan dilakukan para petugas tersebut,” kata Sugiyanto.

Menurutnya, tahapan pencacahan ini merupakan fase paling penting dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi. Sebab, dari data yang didapat dari lapangan ini nantinya akan terlihat seberapa besar potensi yang dimiliki. Selain itu, data lapangan itu nantinya juga akan digunakan untuk mengambil berbagai kebijakan yang sesuai dengan kondisi riil.

Terkait pentingnya data tersebut, Sugiyanto meminta agar petugas lapangan benar-benar melakukan tugasnya secara profesional dan penuh tanggung jawab. Ia juga meminta agar para petugas bersikap jujur dan jangan sampai memanipulasi pendataan.

Editor : Akrom Hazami

Biar Jos, Petugas Sensus Ekonomi di Kudus “Digojlok” 3 Minggu

sensus ekonomi

Petugas Sensus Ekonomi sedang melakukan apel di halaman kantor Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus Endang Tri W mengatakan, sebelum menjalankan tugas di lapangan pada 01-31 Mei 2016 mendatang, petugas Sensus Ekonomi akan “digojlok” yaitu dibekali pengetahuan terlebih dahulu, selama tiga pekan.

“Rekrutmen petugas sensus ini sudah selesai dan sudah diapelkan beserta Bupati Kudus. Tapi mereka akan dibimbing terlebih dahulu mulai tanggal 4 hingga 23 April 2016,” katanya Endang, Jumat (18/3/2016).

Dia melanjutkan, pemberian pembekalan itu nantinya akan diisi berupa pengisian data, pendaftaran, bahkan sampai latihan mendata serta memantau di lapangan. Supaya mereka nantinya saat bertugas, bisa beradaptasi secepatnya.

Dengan adanya pelatihan dan pembekalan, diharapkan kegiatan petugas Sensus Ekonomi berjalan tanpa kendala. Untuk Sensus Ekonomi tersebut yang akan disasar yakni usaha perdagangan, industri, keuangan, komunikasi, dan jasa. Kecuali usaha di bidang pertanian.

Sementara itu, pendataan atau Sensus Ekonomi yang berlangsung selama 10 tahun sekali ini nantinya akan memberikan informasi perkembangan perekonomian masyarakat yang ada.
Editor : Akrom Hazami

baca juga :
Data Sensus Ekonomi, Bupati Kudus : Jangan ‘Copy Paste’ http://www.murianews.com/2016/03/18/75628/data-sensus-ekonomi-bupati-kudus-jangan-copy-paste.html#sthash.pLSVESJm.dpuf

Ayo yang Mau jadi Petugas Sensus Ekonomi Blora, Pendaftaran masih Dibuka!

Antusias calon pendaftar petugas sensus ekonomi 2016 BPS Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Antusias calon pendaftar petugas sensus ekonomi 2016 BPS Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Penerimaan petugas sensus ekonomi 2016 di Blora benar-benar disambut antusias oleh warga. Di antaranya adalah kalangan ibu rumah tangga dan karyawan swasta. Mereka mendaftarkan diri untuk direkrut sebagai petugas sensus ekonomi 2016.

Heri Purnomo (40) salah satu pendaftar mengaku dirinya mendaftarkan diri sebagai petugas sensus ekonomi karena ingin menambah penghasilan keluarga. Selain itu, dirinya juga ingin menambah wawasan dengan menjadi petugas sensus ekonomi. “Saya bisa lebih berpengalaman,” jelasnya.

Sementara, Fenny Susanto selaku Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Blora mengatakan sampai saat ini pendaftaran masih dibuka secara umum hingga tanggal 28 Januari 2016. “Sampai hari ketiga pendaftar sudah menembus angka 689 orang, mayoritas swasta dan ibu rumah tangga,” katanya, (25/01/2016).

Diberikan sebelumnya, dalam pembagian calon pelamar dibagi berdasarkan kouta petugas sensus perkecamatan dengan rincian antara lain Kecamatan Jati 23 orang, Randublatung 72 orang, Kradenan 43 orang, Kedung Tuban 30 orang, Cepu 127 orang, Sambong 16 orang ,Jiken 27 Orang, Bogorejo 12 Orang, Jepon 59 Orang, Blora 131 Orang, Banjarejo 36 Orang, Tunjungan 35, Japah 19 Orang, Ngawen 40 Orang, Kunduran 46 Orang, dan Todanan 36 Orang.

Fenny menjelaskan, Selasa kemarin untuk wilayah Blora dan Bogorejo sudah melaksanakan tahapan tes, sedangkan untuk hari Rabu merupakan tes bagi wilayah Kecamatan Japah, Kecamatan Jiken, dan Jepon . “Sedangkan untuk kecamatan yang lain juga akan dilakukan mulai tanggal 25 Januarai sampai dengan 28 Januari 2016 sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa lamaran tersebut juga terbuka bagi kalangan yang telah resmi bekerja pada instansi pemerintahan maupun swasta. Dengan syarat mendapatkan persetujuan dari atasan dengan bukti melampirkan surat. “Selain itu pelamar juga harus mempunyai tulisan rapi dan mudah terbaca, hal ini memudahkan entry data saat memasukkan hasil sensus,” ujar Fenny.

Pihaknya juga mengadakan tes tertulis untuk listing pendaftaran sensus ekonomi menggunakan scan komputer. Di situ akan terlihat tulisan yang benar dan angka huruf yang sesuai aturan.
Sensus Ekonomi tahun ini diadakan sebagai pembaruan data dari 2006, dan akan selalu diperbarui data yang dikumpulkan dengan meliputi nama usaha, alamat, jenis usaha, omset pertahunnya, dan distribusi hasil usaha.

Dalam pendataan, BPS akan mendata jenis usaha yang dilakukan oleh masyarakat, mulai dari tambal ban, pedagang kaki lima sampai dengan perhotelan. Sehingga dengan adanya data tentang jenis usaha dan potensi usaha tersebut, nantinya akan diperoleh acuan bagi para pelaku usaha untuk mengetahui adanya peluang dan persaingan usaha yang ada di sebuah daerah. Jadi manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha akan sangat besar. Data tersebut akan bisa dijadikan acuan untuk menentukan jenis usaha apa yang bisa dijalani.

Editor : Akrom Hazami

BPS Blora Bersiap Laksanakan Sensus Ekonomi 2016

Sosialisasi Sensus Ekonomi 2016 di ruang pertemuan Setda Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sosialisasi Sensus Ekonomi 2016 di ruang pertemuan Setda Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Sehubungan diselenggarakannya Sensus Ekonomi 2016 (SE2016) pada Mei tahun mendatang, Badan Pusat Statistik Blora menggelar sosialisasi di ruang rapat setda Blora pada Kamis (17/12/2015).

Acara tersebut dibuka oleh Samga Utama selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora mewakili Pj Bupati Blora yang tidak bisa hadir dalam sosialisasi, ia mengungkapkan Sensus Ekonomi nantinya menjadi tolok ukur perencanaan juga bisa diketahui karakteristik ekonomi. ”Dengan sensus ekonomi kita ketahui karakteristik ekonomi,” tutur Samga Utama.

Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), ia mengungkapkan Indonesia hanya siap dalam bidang pariwisata dan teknologi informasi. ”Selain pariwisata dan teknologi informasi masih ada yang perlu kita persiapkan dengan matang,” tuturnya.

Tujuan sensus ekonomi yakni, mengumpulkan data dan menyajikan data dasar seluruh kegiatan ekonomi sebagai landasan bagi penyusunan kebijakan, perencanaan dan evaluasi pembangunan, kecuali pertanian. ”Nantinya sembilan belas sektor yang akan didata, kecuali pertanian,” imbuhnya. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Mei 2016, Sensus Ekonomi Akan Dilakukan di Kudus

sensus-ekonomi

Kepala BPS Kudus Endang Tri Wahyuningsih memberikan penjelasan mengenai Sensus Ekonomi di Hotel Griptha. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 2016 mendatang akan menggelar sensus ekonomi. Dengan bentuk kegiatannya adalah survei yang merupakan salah satu progam tahunan.

Hal itu diutarakan Kepala BPS Kudus Endang Tri Wahyuningsih. Menurutnya, progam secara sepuluh tahun tersebut bakal berlangsung pada 2016 saat Mei. “Kegiatan akan dimulai pada Mei mendatang. Dengan berbagai persiapan yang sudah dirancang sebelumya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, di Kudus baru diselenggarakan sensus ekonomi kali keempat. Sebelumnya sensus ekonomi dilaksankan pada 1986, 1896, dan 2006. Sedangkan berikutnya pada 2016 mendatang. Sensus ekonomi merupakan pendataan lengkap seluruh kegiatan ekonomi yang ada di wilayah indonesia. Jadi, katanya, pendataan yang dilakukan akan lebih detail dan mendalam.

“Sensus ekonomi dilaksankan di seluruh wilayah NKRI, dan mencakup semua aktivitas ekonomi dan skala ekonomi. Kecuali dari sektor pertanian,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)