Soal Pengembangan Sektor Pariwisata, Begini Rencana Pemkab Grobogan ke Depan

Warga menikmati Sendang Coyo di Kabupaten Grobogan, akhir pekan lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga menikmati Sendang Coyo di Kabupaten Grobogan, akhir pekan lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain perbaikan sarana dan prasarana umum, sektor pariwisata juga sudah mulai mendapat perhatian dari Pemkab Grobogan. Hal itu dilakukan karena dari sektor ini bisa mendatangkan pendapatan yang tidak sedikit jika dikelola dengan baik.

Di samping itu, berkembangnya sektor pariwisata akan membawa dampak langsung bagi perekonomian sekitar. Yang mana, akan muncul usaha besar maupun kecil dengan adanya objek wisata yang bisa mengundang daya tarik banyak orang.

“Di beberapa daerah, kontribusi dari sektor pariwisata ini cukup besar. Nah, hal ini akan coba kita tiru agar sektor pariwisata di Grobogan semakin maju dan mambawa dampak positif bagi banyak pihak,” kata Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Upaya terbaru yang dilakukan untuk mengembangkan sektor pariwisata adalah menetapkan beberapa desa sebagai desa wisata. Seperti Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus dan Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo. Kedua desa ini memiliki potensi yang layak dikembangkan jadi destinasi wisata.

Sebelum penetapan desa wisata, terlebih dahulu sudah diawali dengan membuat sebuah peraturan. Yakni, menyiapkan sebuah peraturan bupati (Perbup) sebagai acuan khusus untuk memaksimalkan potensi pariwisata yang dimiliki.

“Sebelum mengembangkan pariwisata lebih lanjut, pedomannya harus kita siapkan dulu. Dengan adanya pedoman berupa Perbup maka upaya pengembangan destinasi pariwisata akan bisa lebih mudah dilakukan,” terang mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Dia menyadari, untuk mengembangkan sektor pariwisata ini bukan pekerjaan mudah. Di samping juga butuh dukungan anggaran yang tidak sedikit.

Khususnya, untuk perbaikan sarana jalan menuju lokasi wisata tersebut. Oleh sebab itu, skala prioritas utama dalam tahun 2017 adalah perbaikan akses jalan. Khususnya, jalan desa yang terhubung dengan jalan kabupaten. Untuk tahun depan, anggaran perbaikan jalan sudah dialokasikan lebih dari Rp 200 miliar melalui APBD 2017.

“Akses jalan harus kita benahi dulu. Setelah itu, baru menangani objek wisatanya,” cetus Sri.

Kendala berikutnya yang dihadapi adalah status lahan obyek wisata. Sebagian besar objek wisata yang ada di Grobogan statusnya bukan milik desa atau pemkab.

Kebanyakan, obyek wisata alam yang ada tempatnya berada di lahan milik Perhutani. Seperti air terjun gulingan dan widuri serta Sendang Coyo.

Kemudian, ada juga objek wisata yang milik Keraton Surakarta. Yakni, kawasan Makam Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Tarub.

“Karena statusnya bukan milik pemkab maka kita tidak bisa begitu saja menangani potensi wisata itu. Oleh sebab itu, dinas terkait sudah saya perintahkan untuk koordinasi lebih lanjut dengan para pemilik lahan objek wisata supaya bisa dikembangkan bersama,” sambungnya.

Sementara itu, Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Ngadino menyatakan, tahun depan pihaknya memang sedang menyiapkan upaya kerja sama dengan pemilik lahan yang ada objek wisatanya. Terutama dengan pihak Perhutani, baik KPH Gundih maupun Purwodadi. Sebab, di lahan hutan itu banyak potensi wisata yang mulai dilirik pengunjung. Termasuk objek wisata Sendang Coyo di Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon yang berada di kawasan hutan KPH Gundih.

“Pengelolaan sektor pariwisata akan kita persiapan lebih baik. Tahun depan, kami mau bikin MoU dengan pemilik kawasan,” katanya.

Menurutnya, sejauh ini kontribusi dari sektor pariwisata selama ini masih belum menggembirakan. Tiap tahun pendapatan yang diraup sekitar Rp 50 juta. Dijelaskan, dari objek wisata yang ada hanya ada dua lokasi yang menyumbang pendapatan. Yakni, obyek wisata Bledug Kuwu di Kecamatan Kradenan, serta Gua Macan dan Gua Lawa yang tempatnya jadi satu lokasi di Desa Sedayu, Kecamatan Grobogan.

“Untuk objek wisata Waduk Kedungombo dan Api Abadi Mrapen sekarang pengelolaannya masuk ke Pemprov Jateng. Yang dikelola pemkab hanya dua objek wisata itu,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ribuan Warga Andalkan Air Bersih dari Sendang

 Instalasi pengolahan air PDAM Grobogan di Sendang Coyo yang masih menggunakan mesin diesel menimbulkan suara bising. (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Instalasi pengolahan air PDAM Grobogan di Sendang Coyo yang masih menggunakan mesin diesel menimbulkan suara bising. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Debit air Sendang Coyo saja terus mengalami penurunan. Objek wisata alam di Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, kini mulai kehilangan pesonanya.

Misalnya, suara bising dari mesin diesel di dekat sendang ternyata juga jadi keluhan pengunjung. Mesin diesel ini milik PDAM Grobogan unit Pulokulon yang selalu dinyalakan untuk memompa air ke saluran distribusi pelanggan. Lokasi pengolahan air yang berada di sebelah timur sendang ini menyebabkan suara bising dari mesin itu jelas terdengar.

“Selama ini, kami memang masih pakai mesin diesel untuk mengolah air. Namun, dalam waktu dekat mesinnya akan kita sambungkan pakai aliran listrik PLN sehingga suaranya tidak bising lagi,” kata Direktur PDAM Grobogan Bambang Pulunggono.

Bambang menjelaskan, saat ini, jumlah pelanggannya yang pasokan airnya diambil dari Sendang Coyo sekitar 2.000 sambungan rumah. Selain di Kecamatan Pulokulon, pelanggannya juga menjangkau beberapa desa di Kecamatan Kradenan.

Kapasitas air yang diambil dari mata air tidak begitu banyak. Yakni, sekitar 8 liter per detik atau masih jauh dari debit mata air yang mencapai 50 liter per detik.

Sebagai pihak yang ikut memanfaatkan mata air tersebut, Bambang menyatakan, siap berkomitmen untuk menjaga kelestarian mata air Sendang Coyo.

“Keberadaan mata air Sendang Coyo ini harus kita lestarikan karena manfaatnya sudah dirasakan banyak orang. Kami selalu mendukung upaya pelestarian kawasan Sendang Coyo,” sambungnya. 

Editor : Akrom Hazami

Akses Jalan ke Lokasi Sendang Rusak Parah

Kondisi jalan menuju Sendang Coyo masih banyak kerusakan sehingga bikin pengunjung enggan kesana. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kondisi jalan menuju Sendang Coyo masih banyak kerusakan sehingga bikin pengunjung enggan kesana. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ternyata tidak hanya debit air Sendang Coyo saja yang mengalami penurunan. Jumlah pengunjung yang datang ke objek wisata alam di Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon juga ikut menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Meski akurasi angkanya tidak ada, namun indikasi penurunan pengunjung itu dilontarkan banyak pihak. Turunnya pengunjung sendang alami berusia ratusan tahun yang ada di kawasan hutan Perum Perhutani KPH Gundih tersebut disebabkan banyak faktor. Sebab utamanya adalah kondisi jalan menuju lokasi wisata alam itu.

Jarak objek wisata alam itu dari Kota Purwodadi sekitar 40 km. Untuk menuju lokasi, dari Purwodadi melewati jalan Danyang-Kuwu hingga sampai pertigaan Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon. Dari pertigaan ini, masih menempuh perjalanan sekitar 10 km ke arah selatan.

Dari pertigaan itu, melewati wilayah Desa Jatiharjo dan dilanjutkan masuk kawasan hutan Perhutani KPH Gundih.

Jalan menuju arah Sendang Coyo, sebagian besar kondisinya rusak parah. Memang ada sebagian yang sudah dicor beton. Rusaknya kondisi jalan menyebabkan perjalanan menuju Sendang Coyo harus ditempuh cukup lama, terutama bagi kendaraan roda empat.

“Selama ini, kondisi jalan masuk menuju ke Sendang Coyo selalu jadi keluhan. Ini, salah satu kendala yang menyebabkan orang mulai enggan berkunjung kesini,” kata Sekretaris Desa Mlowokarangtalun Wahyu Hudiyono.

Dia berharap, ruas jalan dari itu diperbaiki hingga wilayah Desa Randurejo yang posisinya di selatan Desa Mlowokarangtalun. Sebab, posisi Desa Randurejo itu berbatasan dengan wilayah Sragen. Jika ruas jalannya bagus maka pengunjung dari Sragen dan sekitarnya bisa tertarik datang ke Sendang Coyo.

Selain faktor jalan, menurunnya jumlah pengunjung juga disebabkan kurang terawatnya sarana pendukung di sekitar kawasan sendang. Seperti, ada bekas kolam renang kecil berukuran 10 x 10 meter yang sudah tidak terawat. Lokasi kolam renang ini ada di selatan sendang.

“Kolam renangnya sudah lama mangkrak karena tidak diisi air. Kalau kolam itu bisa difungsikan lagi seperti dulu setidaknya bisa jadi daya tarik pengunjung. Kemudian, sarana pendukung lainnya yang bisa bikin pengunjung merasa nyaman juga perlu ditambahi,” kata Riyanto, salah seorang pengunjung Sendang Coyo.

Faktor lain yang secara tidak langsung dinilai mengurangi minat pengunjung adalah banyaknya wisata air yang muncul di Grobogan dalam beberapa tahun terakhir. Baik berupa kolam renang maupun waterboom.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Upaya Perhutani KPIH Gundih Lestarikan Mata Air Sendang

img_20161222_202947_509

Warga menikmati pemandangan di Sendang Coyo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom /Dani Agus) 

MuriaNewsCom, Grobogan – Banyaknya masukan masyarakat terkait pelestarian sumber mata air Sendang Coyo mendapat respons positif dari pemilik kawasan, yakni Perum Perhutani KPH Gundih. Sebab, keberadaan mata air di petak 21 E, BKPH Panunggalan, RPH Coyo itu memang sangat dibutuhkan masyarakat sekitar.

“Keberadaan mata air di kawasan hutan itu harus kita pertahankan. Makanya, upaya pelestarian sumber mata air juga sudah mulai kita lakukan,” kata Wakil Administratur/ KSKPH Kradenan Eko Teguh Prasetyo.

Menurutnya, upaya dari KPH Gundih yang sudah dilakukan selama ini antara lain menetapkan sekitar kawasan Sendang Coyo sebagai Kawasan Perlindungan Setempat (KPS). Penepatan KPS ini fungsi utamanya untuk memberikan perlindungan pada lokasi sempadan mata air, sempadan sungai, sempadan danau, waduk, dengan maksud melindungi dan mempertahankan keberadaan mata air serta ekosistem yang hidup di dalamnya.

Pengelolaan KPS ini dilakukan dengan pengkayaan tanaman jenis rimba lokal pada sekitar mata air Sendang Coyo agar fungsi hidrologi dapat optimal. Kemudian, ada pula sosialisasi dan pemasangan plang larangan pencegahan kebakaran maupun penggarapan liar.

“Di samping itu, pengamanan patroli rutin juga lebih diintensifkan karena di kawasan KPS didominasi tanaman yang sudah besar dan berumur tua. Total luasan KPS di Coyo sekitar 5,8 hektare. Tanaman di areal KPS ini umurnya di atas 50 tahun dan jenisnya ada Mahoni, Kepoh, nyamplung, salam, serta Rimba campur,” jelasnya.

Perhutani ke depan, lanjut Eko, tetap berkomitmen untuk menjaga kelestarian sumber mata air Sendang Coyo melalui kegiatan reboisasi. Penghijauan ini tidak hanya melalui pengkayaan tanaman dalam KPS saja tetapi juga pada areal hutan di sekitar. 

“Fokus kita memang baru pada upaya menjaga kelestarian sumber mata air dengan reboisasi di sekitar hutan. Upaya ini memang kita prioritaskan guna menjaga sumber mata air tetap mengalir terus. Untuk upaya lain, seperti penyiapan sarana dan prasarana pendukung di sekitar sendang jadi skala prioritas berikutnya,” sambung Eko.

Sumber mata air di Sendang Coyo itu dinilai sangat potensial. Di mana, debit yang keluar dari mata air itu volumenya berkisar 50 liter per detik. Dengan kapasitas sebanyak ini, mata air itu mampu memenuhi kebutuhan masyrakat di sekitarnya selama ratusan tahun.

Eko menyatakan, hingga saat ini, sumber mata air dimanfaatkan bagi beberapa pihak selain perorangan. Seperti untuk sumber air baku PDAM atau Pamsimas setempat serta pengairan areal sawah.

“Siapa saja boleh memanfaatkan mata air yang ada di sana. Bagi yang mengambil air di situ, dari perhutani hanya mengimbau supaya mereka ikut menjaga ekosistem dan keberlangsungan tegakan yang tumbuh di sekitar Sendang Coyo,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami 

Debit Air Mulai Menurun, Upaya Pelestarian Alam Mendesak Dilakukan

sendang-coyo-maning2

Warga menikmati Sendang Coyo di Desa Mlowokarangtalun, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski airnya masih terlihat cukup banyak, namun dari keterangan warga dan pengunjung, debit air di Sendang Coyo saat ini dinilai sudah turun dibandingkan beberapa waktu lalu. Menurunnya, debit air sendang ini disebut-sebut disebabkan beberapa hal.

Antara lain, sumber mata air Sendang Coyo ternyata juga digunakan untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat sekitar. Yakni, lewat program Pamsimas maupun PDAM.

Program Pamsimas ini jangkauan layanannya terbatas hanya lingkungan warga di sekitar kawasan sendang saja. Sementara untuk jangkauan PDAM mencakup dua kecamatan. Yakni, Kecamatan Pulokulon dan Kradenan.

“Sumber mata air Sendang Coyo ini memang digunakan oleh banyak orang untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, airnya juga dialirkan pula untuk irigasi pertanian di beberapa desa,” kata Sekretaris Desa Mlowokarangtalun Wahyu Hudiyono.

Menurutnya, beberapa waktu lalu, sumber air disitu memang cukup tinggi. Dimana, ketinggian air bisa sampai batas atas fondasi sekeliling sendang. Saat ini, ketinggian airnya hanya tinggal separuhnya saja.

Banyaknya pengguna air bisa jadi salah satu faktor menurunnya debit air sendang. Namun, bisa juga disebabkan sumber mata airnya yang memang mulai mengecil sehingga tidak bisa menggelontorkan air sebanyak dulu.

“Apapun sebabnya, upaya pelestarian mata air Sendang Coyo harus segera kita lakukan bersama. Sebab, keberadaan mata air ini dibutuhkan banyak orang,” katanya.

Waktu menyatakan, untuk melestarikan alam sekitar sendang tidak bisa dikerjakan pihak Desa Mlowokarangtalun saja. Tetapi perlu melibatkan instansi lainnya, seperti PDAM, Pemkab Grobogan dan juga Perhutani KPH Gundih selaku pemilik kawasan yang didalamnya terdapat Sendang Coyo tersebut.

Editor : Akrom Hazami

Pantangan Ini Harus Dipatuhi, Atau Akan…

Warga menikmati air yang jernih di Sendang Coyo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga menikmati air yang jernih di Sendang Coyo, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Berdasarkan keterangan pengunjung maupun warga sekitar, dulunya sempat ada pantangan ketika berada di Sendang Coyo, Kabupaten Grobogan.  Di antaranya, tidak boleh mengambil ikan di dalam sendang yang berada di wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon itu.

Namun, pantangan ini sudah tidak berlaku lagi. Bukan karena orang sengaja melanggar tetapi karena di dalam sendang sudah tidak terdapat ikan lagi.

“Dulu ketika sama masih SMA, dalam sendang banyak terdapat beberapa jenis ikan. Namun, sudah lama ikannya menghilang,” kata Sekretaris Desa Mlowokarangtalun Wahyu Hudiyono.

Ia menceritakan, ketika masih remaja, sendang itu sekelilingnya dibuatkan fondasi dari tatanan batu dan dikasih pagar kawat. Jadi, waktu itu orang tidak bisa mandi dalam sendang setiap saat. Namun, masih diperbolehkan untuk mengambil airnya.

Sendang baru boleh dipakai mandi atau kungkum dua kali dalam setahun. Pertama, tiap malam satu suro (Muharam) dan malam Jumat Legi di bulan yang sama. Jika pada bulan Muharam itu tidak terdapat hari Jumat Legi maka acara mandi atau kungkum sendang diganti pada hari Selasa Legi.

“Jadi, dulunya orang tidak bisa bebas masuk dalam sendang kayak sekarang. Barangkali aturan itu dulu diterapkan untuk menjaga supaya air alam sendang terjamin keasliannya,” jelasnya.

Pantangan lainnya yang masih terjaga sampai sekarang adalah soal mengadakan hiburan atau keramaian. Yang mana, acara keramaian tidak boleh dilakukan dekat lokasi sendang.

Setidaknya, acara diselenggarakan dalam radius 200 meter dari sendang. Menurut kepercayaan warga, kalau ada berani yang melanggar maka hiburannya tidak akan sukses.

“Cerita orang-orang tua dulu seperti itu kalau berani melanggar. Namun, kalau dipikir-pikir hal ini juga masuk akal. Soalnya, kalau hiburannya dilakukan dekat sendang pasti akan mengganggu pengunjung yang berwisata. Selain itu, aturan tidak tertulis ini juga merupakan upaya mencegah kerusakan alam disekitar sendang,” kata Wahyu.

Editor : Akrom Hazami

Khasiat Air Sendang, Dipercaya Bikin Awet Muda

Wisatawan menikmati air di Sendang Coyo di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Wisatawan menikmati air di Sendang Coyo di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebagian besar pengunjung Sendang Coyo yang berada di wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan,  menyempatkan untuk mandi ketika berkunjung.

Setidaknya, mereka membasuh muka dengan air sendang yang berada di kawasan hutan Perum Perhutani KPH Gundih itu.

Perilaku pengunjung ini ternyata ada kaitannya dengan kabar yang menyebutkan jika air sendang itu punya khasiat khusus. Yakni, bisa membikin awet muda bagi yang mandi atau sekadar membasuh muka dengan air sendang itu.

“Saya pertama kali kesini, gara-gara penasaran dengan omongan banyak orang yang mengabarkan kalau air sendang ini bisa bikin awet muda. Pertama kali kesini sekitar 10 tahun lalu. Sampai sekarang, saya sudah 15 kali berkunjung kesini, baik sendirian atau bareng keluarga,” ujar Rahmanto, pengunjung Sendang Coyo yang mengaku berasal dari Blora.

Saat datang pertama, pria yang sudah memiliki dua anak itu sempat mandi bareng banyak pengunjung. Saat pertama menceburkan diri ke dalam sendang, ia mengaku kalau badannya langsung terasa segar. Kondisi air yang jernih dan sejuk membuatnya betah berendam dalam air.

“Pertama kali kesini, saya sempat berendam sampai satu jam lamanya. Rasanya, betah banget kalau sudah nyemplung dalam sendang,” katanya.

Menurutnya, sumber mata air alami dari kawasan hutan itu bisa jadi memiliki khasiat. Kemungkinan, ada kandungan zat atau vitamin alami dari proses alam. Hal inilah yang bisa menjadikan air sendang terasa segar ketika digunakan mandi atau membasuh muka.

“Air dari sumber alami ini biasanya ada kandungan zat yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Barangkali, air di Sendang Coyo juga memiliki kandungan zat itu. Kalau airnya bisa bikin awet muda, rasanya kok kurang tepat. Buktinya, saya yang sering mandi kesini juga sudah kelihatan tua,” cetusnya sembari tertawa.

Komentar lainnya soal adanya khasiat air Sendang Coyo disampaikan Endang Supriyani. Pengunjung dari Purwodadi itu mengatakan jika air sendang yang sudah berusia ratusan tahun tersebut dinilai punya khasiat istimewa dan kesehatan kulit.

Ia sudah membuktikan sendiri setelah sering membasuh muka dengan air sendang tersebut selama belasan tahun. Setiap datang ke sendang, perempuan berusia 35 tahun itu selalu membawa membawa pulang air yang dimasukkan dalam jeriken kecil kapasitas 10 liter.

“Meski sudah sering kesini tetapi saya belum pernah mandi dalam sendang. Soalnya, yang mandi campur antara laki-laki dan perempuan jadi saya merasa kurang nyaman saja. Kalau kesini paling hanya cuci muka saja,” kata perempuan berambut panjang dan berparas cantik itu.

Ibu satu anak itu menyatakan, air yang diambil dari sendang dipakai untuk membasuh muka. Biasanya, dilakukan menjelang tidur malam.

Air yang segar dan alami itu diyakini bisa membersihkan kotoran yang menempel di wajah. Baik karena bekas kosmetik atau debu.

“Sumber air Sendang Coyo itukan masih alami dan belum banyak terkontaminasi polusi atau zat berbahaya lainnya. Barangkali inilah yang menjadikan air ini bagus buat kesehatan kulit. Jadi bukan lantaran mistis,” imbuhnya.

Beberapa pengunjung yang masih tergolong ABG saat dimintai komentarnya mengaku belum sepenuhnya percaya dengan mitos air yang bisa bikin awet muda itu. Sebab, selama ini, belum pernah bertemu dengan orang awet muda gara-gara sering mandi di Sendang Coyo itu.

“Nanti akan saya buktikan mitos ini. Kira-kira 15 atau 20 tahun lagi, saya masih tetap kelihatan muda apa tidak, setelah mandi disini,” cetus gadis yang memperkenalkan dirinya dengan nama Fitri itu.

Selain dipakai mandi, banyak pula pengunjung yang biasa mengambil air untuk diminum. Mereka meyakini jika air dari Sendang Coyo yang rasanya segar bisa dipakai obat beberapa penyakit.

“Beberapa waktu lalu, saya sering mengalami gangguan pencernaan. Kemudian, disarankan teman untuk minum air Sendang Coyo. Setelah beberapa kali minum, gangguan pencernaan jadi jarang kambuh. Barangkali ini karena airnya yang memang masih segar jadi tidak banyak mengandung kuman penyakit,” kata Sumantoyo, pengunjung asal Kecamatan Gabus.

Editor : Akrom Hazami

Keunikan Sendang yang Luar Biasa

Warga berada di lokasi Sendang Coyo yang berada di kawasan hutan Perum Perhutani KPH Gundih. Tepatnya, di petak 21 E, BKPH Panunggalan, RPH Coyo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga berada di lokasi Sendang Coyo yang berada di kawasan hutan Perum Perhutani KPH Gundih. Tepatnya, di petak 21 E, BKPH Panunggalan, RPH Coyo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kalau dilihat sekilas, objek wisata Sendang Coyo yang berada di wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, memang biasa-biasa saja. Namun, jika dicermati lebih lanjut, banyak keunikan yang terdapat di sekitar tempat wisata itu.

Salah satunya adalah masih terjaga keaslian lingkungan alam di sekitar sendang yang berada di kawasan hutan Perum Perhutani KPH Gundih. Tepatnya, di petak 21 E, BKPH Panunggalan, RPH Coyo.

Di sekitar lokasi wisata alam ini, masih terdapat banyak pohon berukuran besar dan menjulang tinggi. Jenis pohon rimba ini beraneka macam. Diperkirakan, usia pohon itu ada yang sudah mencapai 100 tahun.

“Pohon yang ada di sekitar sini diperkirakan sudah puluhan tahun dan bahkan ada yang seratusan tahun. Keberadaan pohon ini memang dipertahankan agar bisa menjaga sumber mata air Sendang Coyo biar tidak terhenti,” kata Endro, warga Mlowokarangtalun.

Adanya puluhan pohon besar ini menjadikan lokasi wisata terasa sejuk dan asri. Pohon besar itu juga dijadikan tempat berteduh dan bersantai bagi sebagian pengunjung.

Keunikan lainnya adalah sumber mata air sendang yang tidak pernah berhenti. Termasuk pada saat puncak musim kemarau panjang, sendang itu tetap terisi air.

“Selama ini, belum pernah sekalipun sendang ini kering. Saat kemarau panjang, sumbernya tetap mengalirkan air. Saya tahu persis karena sering kesini,” kata Suliyah, warga Kradenan.

Bagi warga Grobogan, selama ini selalu mengalami kesulitan air ketika kemarau datang. Dari 19 wilayah kecamatan, 10 kecamatan di antaranya mengalami kesulitan air saat kemarau sehingga butuh droping air dari Pemkab Grobogan.

“Bagi daerah lain, keberadaan sumber air seperti ini barangkali sesuatu yang biasa. Tetapi diwilayah Grobogan jadi hal yang istimewa dan sebuah karunia dari Sang Pencipta,” imbuhnya.

Satu hal lagi adalah kualitas air sendang yang dinilai istimewa. Bahkan, disebut-sebut mirip sumber air yang keluar dari sekitar gunung. Di mana, airnya rasanya terasa segar ketika dipakai membasuh muka atau mandi.

“Air Sendang Coyo ini sejuk sekali rasanya. Bahkan, saya sempat mencoba meminumnya. Rasanya mak nyes,” kata Ridwan, pengunjung lainnya. 

Editor : Akrom Hazami

Dari Sunan Kalijaga hingga Angling Darma Dikaitkan dengan Asal Usul Sendang

Warga menikmati air di Sendang Coyo, wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga menikmati air di Sendang Coyo, wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Mengenai asal-usul Sendang Coyo, Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, ada beberapa versi yang berkembang di masyarakat.

Ada yang menceritakan, jika sendang itu dibuat oleh Raja Malwapati Prabu Anglingdarmo untuk memadamkan api yang dipakai istrinya Dewi Setyawati untuk melakukan aksi bakar diri.

Tindakan nekat itu dilakukan lantaran Prabu Anglingdarmo tidak mau menurunkan ilmu yang bisa mendengar pembicaraan hewan. Karena tidak diajari ilmu yang dimiliki suaminya akhirnya ia nekat melakukan aksi bakar diri.

“Konon ceritanya, kolam yang airnya dipakai untuk memadamkan api yang membakar Dewi Setyawati akhirnya jadi Sendang Coyo ini. Mengenai benar tidaknya cerita ini masih perlu dibuktikan secara ilmiah,” kata Riyanto, warga di sekitar.

Versi lainnya, munculnya Sendang Coyo itu secara tidak langsung merupakan jasa dari Sunan Kalijaga. Ceritanya, pada saat itu, Sunan Kalijaga beserta beberapa muridnya sedang mengembara untuk menyiarkan agama Islam dan sempat melewati kawasan hutan yang ada.

Pada saat tiba, para pengikut Sunan Kalijaga merasa kehausan karena tidak menemukan sumber air. Padahal mereka baru saja melakukan perjalanan jauh. Kemudian, Sunan Kalijaga meminta para muridnya untuk beristirahat.

Sementara ia akan mencoba mencari sumber air di sekitar kawasan hutan tersebut. Sebelum beranjak pergi, Sunan Kalijaga sempat menancapkan sebuah tongkat bambu didekat sebuah pohon besar.

Lama ditunggu, Sunan Kalijaga tidak kunjung kembali. Kemudian, salah seorang muridnya secara tidak sengaja mencabut tongkat bambu yang sebelumnya ditancapkan gurunya.

Saat tongkat dicabut, muncul sebuah keajaiban. Di mana, dari lubang bekas tancapan tongkat itu memancar air dari dalam tanah. Kemudian, murid segera minum air sampai puas. Usai minum air, mereka merasa badannya menjadi segar dan tenaganya pulih kembali.

Setelah puas minum, para murid Sunan Kalijaga mencari tempat teduh untuk istirahat sambil menanti kedatangan gurunya. Dalam masa istirahat ini, tanpa mereka ketahui air yang keluar dari bekas tancapan tongkat bambu terus mengucur deras sehingga akhirnya menjadi sebuah kolam kecil.

Ketika Sunan Kalijaga akhirnya kembali, para murid menceritakan keanehan yang dialami ketika tanpa sengaja mencabut tongkat bambu. Selanjutnya, Sunan Kalijaga melihat lokasi air yang muncul dan sudah menjadi sebuah kolam itu.

Sunan Kalijaga melihat air dalam kolam terlihat memancarkan aneka cahaya akibat pantulan sinar matahari. Dari peristiwa ini, Sunan Kalijaga menamakan tempat itu Sendang Coyo (bercahaya).

Setelah itu, Sunan Kalijaga menempatkan salah satu muridnya tinggal untuk menjaga sendang sekaligus menyiarkan agama Islam di sekitar. Beberapa tahun kemudian, muridnya itu diketahui meninggal dunia dalam kondisi terapung di tengah sendang.

Jasad murid setia ini akhirnya dimakamkan di sebelah barat sendang dan warga setempat menyebutnya dengan makam Eyang Gabus. Penamaan ini diberikan lantaran saat meninggalnya dalam kondisi terapung di atas air seperti sebuah Gabus.

“Makam Eyang Gabus ini masih ada sampai sekarang. Selain mengunjungi sendang, sebagian pengunjung ada yang berziarah ke makam Eyang Gabus,” kata Endro, warga Mlowokarangtalun.

Editor : Akrom Hazami

Sumber Mata Air Berusia Ratusan Tahun

Warga menikmati air di Sendang Coyo, wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga menikmati air di Sendang Coyo, wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selama ini, ada banyak objek wisata yang terdapat di Kabupaten Grobogan yang sudah dikenal luas. Salah satunya adalah objek wisata Sendang Coyo yang berada di wilayah Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon.

Objek wisata alami ini berada di kawasan hutan Perum Perhutani KPH Gundih. Tepatnya, di petak 21 E, BKPH Panunggalan, RPH Coyo. Di sebelah utara sendang terdapat papan bertuliskan Kawasan Perlindungan Setempat Perum Perhutani KPH Gundih.

Sendang Coyo sekarang ini bentuknya mirip kolam renang. Ukurannya sekitar 20×25 meter dengan kedalaman sekitar 2,5 meter. Fondasi yang dibuat menggelilingi sendang dibangun belasan tahun lalu.

Air di dalam sendang ini berasal dari sumber mata air alami yang muncul. Lokasi sumber air ini bisa terlihat keluar dari dasar sendang sebelah barat. Dari airnya yang sangat jernih, sumber mata air itu bisa terlihat dengan jelas.

Dari keterangan sejumlah warga, Sendang Coyo itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Hal itu berdasarkan cerita turun-temurun yang didengar dari nenek moyangnya.

“Mbah buyut saya dulu sudah pernah cerita soal keberadaan Sendang Coyo itu. Sendang itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Bedanya, dulu bentuknya kecil, kalau sekarang sudah diperlebar seperti ini,” kata Mbah Wartejo, salah seorang warga setempat yang ditemui di dekat lokasi wisata tersebut.

Editor : Akrom Hazami