SMK 1 Rembang Tempati Peringkat Tujuh Kompetisi Logika Nasional

MuriaNewsCom, Rembang – Tim RBG12 dari SMK 1 Rembang berhasil finish di urutan ketujuh se-Indonesia di Final Kompetisi Logika Nasional bertajuk Uisi Logic Competion (ULC) 2018 yang diselenggarakan oleh Universitas Internasional Semen Indonesia pada 10 Februari 2018 di Gresik Jawa Timur.

Keberhasilan Tim RBG12 yang digawangi oleh David Septian dan Abdul Aziz Irfan Mei Fahrudin cukup membanggakan mengingat kompetisi ini melibatkan 161 tim dari seluruh Indonesia.

Pembimbing Tim, Anisa Rahmanti menjelaskan, Isi Logic Competition 2018 merupakan kompetisi tingkat Nasional yang menguji kemampuan logika. Setiap peserta (tim) harus mampu menyelesaikan permasalahan yang diberikan dengan cara yang paling efisien.

”Penyisihan dilakukan secara serentak dan online dengan menggunakan sistem simulasi logika. Peserta diminta untuk menggerakkan robot sesuai dengan alur yang telah ditentukan,” katanya melalui surat elektronik kepada MuriaNewsCom.

Peserta yang lolos tahap penyisihan selanjutnya mengikuti tahap final secara offline di kampus Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Gresik Jawa Timur. Semua soal yang diberikan pada tahap final merupakan soal logika bukan soal hafalan maupun hitungan menggunakan rumus.

Editor: Supriyadi

Puluhan Pelajar di Karimunjawa Diangkut Polisi ke Sekolah, Ada Apa?

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan pelajar di Kepulauan Karimunjawa, Jepara terpaksa diangkut menggunakan mobil polisi ke sekolah. Hal itu dilakukan lantaran tak adanya pasokan BBM di Karimunjawa akibat cuaca buruk hingga melumpuhkan transportasi ke sekolah yang jaraknya mencapai belasan kilometer.

Kapal tanki pengangkut bahan bakar minyak (BBM) yang berlayar dari Semarang terhalang ombak dan angin kencang. Akibatnya pasokan BBM untuk masyarakat tak bisa diantar.

Hal itu praktis memengaruhi pasokan bahan bakar khususnya pertalite dan premium di SPBU Karimunjawa dan persediaan bensin milik masyarakat termasuk para pelajar, yang tak bisa masuk sekolah.

“Kami akhirnya menempuh solusi untuk menjemput siswa yang tidak bisa sekolah karena ketiadaan BBM di motor-motor milik mereka. Ada lima kendaraan yang disiapkan, dua milik Taman nasional, dua milik masyarakat dan satu milik Kapolsek,” ujar Sekretaris Kecamatan Karimunjawa Noor Sholeh, Rabu (31/1/2018).

Menurutnya, ada sekitar 100 pelajar berikut pengajar yang terkendala transportasi ke sekolah. Dengan lima kendaraan yang disiapkan, pihak kecamatan mengaku hal itu sudah mencukupi.

Sholeh menyebut, antar jemput siswa dan pengajar akan dilakukan selama tiga hari ke depan, hingga Jumat (2/2/2018). Saat itu, diharapkan kapal tanki pengangkut BBM dari Semarang bisa berlabuh di Karimunjawa dan bisa menyuplai kebutuhan bahan bakar untuk warga.

“Untuk antar jemput siswa dan pelajar berasal dari MTS dan setingkat SMA yang ada di pulau utama Karimunjawa. Mereka sebagian berasal dari Kemujan. Adapun lima kendaraan yang digunakan menggunakan jenis bahan bakar solar, yang masih tersisa,” jelasnya.

Terkait pasokan bahan makanan, Sholeh menyebut hingga saat ini masih aman. Hal itu karena wilayah kepulauan tersebut sudah mendapatkan droping beras.

“Cadangan beras masih aman, begitu pula dengan gas, karena kami terakhir mendapatkan pasokan elpiji pada tanggal 22 Januari lalu. Beras juga demikian masih aman, kalau untuk lauk disini melimpah ikan,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Dhuh! Puluhan Siswa di Karimunjawa Tak Bisa Sekolah Karena BBM Habis

MuriaNewsCom, Jepara – Stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di Karimunjawa habis, puluhan siswa sekolah tak bisa masuk sekolah. Hal itu lantaran, tidak berfungsinya moda transportasi seperti sepeda motor akibat tak terisi oleh bahan bakar.

Hal itu dialami oleh sebuah sekolah tingkat SMP MTS Safinatyul Huda. Alwiyah, wakil kepala sekolah di tempat tersebut mengaku tidak hanya siswa yang terhambat kegiatan belajarnya, tercatat ada enam guru yang tak bisa melaksanakan kewajiban mengajar.

“Siswa yang tak masuk sekolah ada 35 anak, sementara gurunya ada enam. Adapun jumlah murid di sekolah kami ada 112, sejak Senin (29/1/2018) ada banyak siswa yang tak bisa berangkat akibat tak tersedia bahan bakar pada kendaraan yang biasa dipakai sebagai sarana ke sekolah,” ujarnya, Selasa (30/1/2018).

Baca: Pasokan BBM di Karimunjawa Habis, Aktifitas Belajar Siswa Terhenti

Dirinya menyebut, kebanyakan dari mereka yang tak bersekolah hari ini merupakan siswa dari Pulau Kemujan. Dari rumah ke sekolahan, jarak yang ditempuh adalah 15 kilometer. Menurutnya, kesulitan bahan bakar sudah terjadi sejak akhir pekan lalu.

Pasokan bahan bakar di kendaraan pribadi kian menipis. Sedangkan, persediaan BBM di SPBU tak kunjung terisi karena cuaca buruk sehingga kapal pengangkut tak berani menuju Karimunjawa.

Dirinya menuturkan, kondisi bisa saja bertambah buruk ketika pasokan BBM tak kunjung datang. “Hari ini saya masih bisa berangkat ke sekolah, namun kalau tidak kunjung ada pasokan BBM, bisa saja saya tidak berangkat,” keluhnya.

Menurut Sekretaris Kecamatan Karimunjawa, Nor Sholeh Eko Prasetyawan pasokan BBM terakhir ke pulau tersebut adalah 13 Januari 2018.

“Kami sedang mencari solusi agar anak-anak sekolah dapat kembali beraktifitas. Satu diantaranya adalah menyiagakan mobil pemerintah yang menggunakan solar untuk mengantarkan ke sekolah. Kami sedang mencari formulasinya dengan Muspika,” ungkap Sholeh.

Editor: Supriyadi

Kurang Siswa, 12 SD di Kudus Di-regrouping di Tahun 2017

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus mencatat telah melakukan regrouping (penggabungan) terhadap 12 SD selama tahun 2017.Itu terpaksa dilakukan lantaran sekolah lantaran  tidak memiliki siswa yang cukup untuk satu kelas.

Sekertaris Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, ke-12 SD yang di-regrouping tersebut berada sejumlah kecamatan. Hanya, beberapa regrouping membutuhkan proses yang cukup lama hingga sekolah menyadari harus digabungkan dengan sekolah terdekat.

“Beberapa SD yang di-regrouping adalah SDN 3 dan 4 Mlati Norowito, SDN 4 Bulungkulon, SDN 3 Getas Pejaten, SDN 5 Tanjungrejo, SDN 2 Klumpit, SDN 6 Kedungsari, SDN 2 Colo, SDN 5 Gribig, SDN 2 Lau, SDN 4 Rejosari, dan SDN 4 Margorejo,” katanya kepada awak media

Menurut dia, dinas terpaksa melakukan regrouping setelah turunnya Permendikbud No. 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik. Aturan dari Kemendikbud itu berbunyi dalam satu rombongan belajar (Rombel) minimal 20 siswa, dan maksimal 28 siswa. Jika tidak memenuhi, maka harus dilakukan regrouping.

Dikatakan, saat ini proses pendataan masih terus dilakukan untuk data siswa yang di-regrouping. Pihaknya khawatir, jika data siswa masih belum tertata akan menyulitkan instansi dan siswa di kemudian hari.

Disinggung soal kemungkinan regrouping di tahun 2018 ini, pihaknya menyatakan ada kemungkinan melakukan regrouping kembali. Semuanya tergantung jumlah siswa yang ada di SD di Kudus. Jika jumlahnya memenuhi, maka sekolah akan dipertahankan.

“Jumlah SD di Kudus sebanyak 461 sekolahan baik negeri dan swasta. Kami akan terus memantau agar semuanya berjalan sesuai aturan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Unik, SD di Wirosari Grobogan ini Punya Bangunan Kelenteng dalam Komplek Sekolahan, Ini Sejarahnya

Sejumlah siswa bermain di depan halaman sd yang memiliki bangunan kelenteng. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada pemandangan unik dan menarik saat berada di SDN 06 Wirosari, Grobogan. Yakni, keberadaan sebuah tempat ibadah kelenteng di komplek sekolahan yang berada di pinggir jalan raya Purwodadi-Blora itu.

Kelenteng Hok Sioe Bio yang menghadap ke arah selatan itu letaknya persis ditengah bangunan utama. Di sebelah kanan kelenteng ada dua ruangan yang dipakai siswa kelas II dan IV.

Sedangkan disamping kirinya juga ada dua ruangan yang digunakan siswa kelas VI dan ruang guru. Untuk ruang kelas lainnya dan perpustakaan lokasinya ada dibelakang bangunan utama.

”Kelenteng ini masih digunakan untuk ibadah. Tapi, aktivitasnya dilakukan diluar kegiatan sekolah,” ungkap Agus, pria yang sudah 20 tahun jadi penjaga sekolahan itu.

Saat ditanyakan kapan kelenteng itu didirikan, Agus menyatakan tidak tahu. Kemungkinan, kelenteng itu sudah ada 100 tahun lalu.

”Yang saya dengar, kelenteng itu bangunan kuno. Mungkin dibangun zaman Belanda dulu,” jelasnya.

Kepala UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Wirosari Narto ketika dimintai komentarnya mengatakan, dari informasi yang didapat, bangunan kelenteng sudah lebih dulu ada sejak lama.

Kemudian, beberapa tahun kemudian disamping kelenteng didirikan beberapa bangunan untuk sekolahan yang dikelola masyarakat sekitar. Seiring perkembangan waktu, sekolahan itu akhirnya jadi SDN 06 Wirosari sampai sekarang.

”Keberadaan kelenteng tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolahan tersebut. Soalnya, kegiatan dikelenteng selalu dilakukan ketika sekolahan tidak ada kegiatan pembelajaran. Saat ini, aktivitas di kelenteng juga jarang dilakukan, tidak seperti beberapa tahun lalu,” jelasnya.

Status lahan sekolahan tersebut baru diserahkan negara kepada Pemkab Grobogan tahun 2016 lalu. Sebelumnya, lahan seluas 1.911 meter persegi itu statusnya bekas milik warga negara asing (WNA) Tionghoa yang dikuasai negara.  Penyerahan aset ini dilakukan Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Jawa Tengah dan DIY Tavianto Nugroho pada Bupati Grobogan Sri Sumarni, Senin (14/11/2016).

”Di Jawa Tengah total masih ada 62 aset bekas milik asing yang dikuasai negara. Untuk di Grobogan hanya ada satu ini saja dan hari ini sudah diserahkan pada Pemkab,” kata Tavianto saat itu.

Bupati Grobogan Sri Sumarni mengucapkan terima kasih dengan adanya kejelasan status aset tersebut yang sudah diserahkan pada Pemkab Grobogan. Hal itu berdasarkan keputusan Menteri Keuangan No 169/KM.6/2016 tentang penyelesaian status kepemilikan aset bekas milik asing tersebut.
Selanjutnya, Sri meminta pada SKPD terkait, khususnya dinas pendidikan agar menindaklanjuti penyerahan aset ini. Yakni, dengan mencatat aset tanah tersebut dalam buku inventarisasi aset SKPD.

”Kemudian, pada pihak DPPKAD, saya minta untuk segera memproses lebih lanjut dengan mengajukan pengurusan sertifikat. Hal ini perlu dilakukan agar kita punya bukti kepemilikan yang sah dan kuat. Nantinya, juga perlu dibicarakan dengan pengelola klenteng tentang status aset tersebut dan mereka tetap bisa menjalankan aktivitasnya disitu,” tegasnya.  

Editor: Supriyadi

APKJ Minta Seni Ukir Jepara Dijadikan Mulok Wajib di Sekolah

Ketua APKJ Achmad Zainudin saat menyampaikan orasinya terkait keinginan perajin agar seni ukir jadi mulok wajib di sekolahan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Asosiasi Perajin Kayu Jepara (APKJ) mendesak pemerintah kabupaten mengambil langkah strategis terkait pelestarian seni ukir di Bumi Kartini. Langkah itu terutama pada sektor pendidikan untuk menghadirkan kembali muatan lokal tentang motif ukir kepada pelajar. 

Achmad Zainudin Ketua APKJ menyebut, langkah tersebut penting untuk mengenalkan seni ukir tersebut secara dini kepada generasi muda Jepara. Menurutnya, hal itu penting untuk menumbuhkan rasa memiliki (handarbeni) terhadap kerajinan ukir. 

“Kami mohon kepada bupati agar mengajak dinas terkait dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk menjadikan pengetahuan tentang ukir sebagai muatan lokal (mulok) wajib untuk siswa SD dan SMP. Hal itu harapannya menjadikan pelajar mengenal motif-motif ukiran,” kata Zainudin, saat dilantik sebagai Ketua APKJ periode 2017-2022, kemarin di Pendapa Pemkab Jepara. 

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengaku akan segera mewujudkan aspirasi itu. Menurutnya, ia akan segera menginstruksikan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan olahraga untuk merealisasikannya.

“Kami akan menindaklanjuti hal tersebut dengan berkoordinasi dengan Disdikpora. Supaya apa yang menjadi aspirasi ini benar-benar terlaksana,” janji bupati.

Di kesempatan lain, Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara Hadi Priyanto menyebut Pemkab Jepara perlu serius menyusun peta pelestarian dan pengembangan seni ukir. Ia mengatakan, saat ini telah ada Perda no 1/2011 tentang pendidikan, yang mewajibkan semua satuan pendidikan menempatkan seni ukir sebagai muatan lokal wajib. Namun hal itu menurutnya tidak sepenuhnya berjalan dengan baik. 

“Selain itu adapula Perbup no 10/2014 tentang pemberian ornamen ukiran pada semua bangunan milik pemerintah. Akan tetapi hal itu tak diimplementasikan secara baik,” urainya. 

Disamping masalah kependidikan, animo generasi muda Jepara untuk mempelajari ukir-ukiran secara langsung drastis menurun. “Animo pemuda untuk nyantrik di brak-brak meubel semakin berkurang,” ungkap hadi. 

Editor: Supriyadi

Ratusan Guru SD dari Blora Timba Ilmu ke SDN 04 Purwodadi Grobogan

Anggota Pocil SDN 04 Purwodadi menyuguhkan atraksi menyambut kedatangan rombongan guru dari Kecamatan Kedungtuban, Blora yang melangsungkan studi banding, Kamis (7/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSDN 04 Purwodadi mendapat tamu istimewa, Kamis (7/12/2017). Yakni, sekitar 120 guru SD beserta kepala sekolah, pengawas dan kepala UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Kedungtuban, Blora. Kedatangan ratusan guru tersebut dalam rangka studi banding ilmu pembelajaran.

“Beberapa hari lalu kita ada kunjungan guru dari Jepara. Hari ini, gentian rekan guru dari Blora yang datang ke sini,” kata Kepala SDN 04 Purwodadi Widarti.

Kedatangan banyak guru itu SDN 04 Purwodadi itu cukup beralasan. Soalnya, salah satu SD favorit di Grobogan tersebut yang baru saja meraih prestasi juara I tingkat nasional dalam Lomba Budaya Mutu untuk kategori komponen pembelajaran.

“Sebelumnya, jarang ada studi banding di sekolah kami. Setelah jadi juara, banyak yang ingin kesini. Keberhasilan jadi juara menjadi berkah bagi kami karena bisa berbagi ilmu pada rekan guru dari kabupaten lain,” cetus Widarti.

Dari pantauan di lapangan, sebelum mendapat penjelasan dari pihak sekolah, ratusan guru sudah menyebar ke beberapa ruang kelas dan sekitar halaman. Mereka mengamati proses belajar mengajar dari luar kelas. Selain itu, para guru dari Blora juga tampak serius melihat siswa yang sedang mengerjakan prakarya di teras kelas dan halaman.

Rombongan studi banding yang datang dengan dua bus dan beberapa mobil juga sempat melihat kebolehan polisi cilik (Pocil) siswa SDN 04 Purwodadi. Berbagai atraksi yang ditampilkan di halaman sempat membuat decak kagum sejumlah guru dari Blora itu. Bahkan, banyak diantaranya yang mengabadikan atraksi pocil lewat kamera handphone.

“Wah, kemampuan pocil SDN 04 Purwodadi ini bagus sekali. Gerakan yang dilakukan terlihat sangat kompak,” kata Sujarwo, salah satu guru dari Blora yang ikut acara studi banding tersebut.

Menurutnya, peserta studi banding sebagian besar adalah guru kelas I dan IV. Kemudian, ditambah guru olahraga dan agama.

Editor: Supriyadi

Puluhan Sekolah di Pati Dapat Anugerah Adiwiyata dari Bupati

Bupati Pati Haryanto berfoto bersama perwakilan sekolah yang mendapatkan penghargaan Adiwiyata di Pendapa Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 88 sekolah di Kabupaten Pati mendapatkan anugerah Adiwiyata. Anugerah itu diberikan Bupati Pati Haryanto, Selasa (28/11/2017) malam.

Anugerah Adiwiyata diberikan kepada instansi sekolah yang selama ini dinilai punya kontribusi di bidang lingkungan. Melalui penghargaan tersebut, kepala sekolah, guru dan siswa dipacu untuk meningkatkan kecintaannya pada alam.

“Kami memberikan apresiasi kepada pihak sekolah yang selama ini sudah berkontribusi pada lingkungan. Selain itu, penghargaan ini diharapkan bisa memacu sekolah lain agar ikut berkompetisi memberikan yang terbaik untuk lingkungan,” ujar Haryanto.

Selama ini, lanjut Haryanto, Pemkab sudah sangat konsen pada agenda peningkatan kualitas lingkungan di Pati. Karena itu, dia menepis bila ada anggapan yang menyebut Pemkab tidak prolingkungan.

“Selama ini, ada beberapa pihak yang sering menyebut kita tidak prolingkungan. Anggapan itu keliru, karena kita sangat konsen pada agenda lingkungan, termasuk pemberian penghargaan kepada pegiat lingkungan dan instansi sekolah,” imbuhnya.

Menurutnya, pembelajaran lingkungan membuat siswa akan semakin kreatif dan inovatif saat mereka jenuh dengan suasana pembelajaran di ruang kelas. Siswa bisa diajak ke taman sekolah atau menanam pohon bersama.

Kepala SD Slungkep 02 Kayen Subadi yang menjadi salah satu penerima Anugerah Adiwiyata mengaku senang dengan penghargaan tersebut. Anugerah itu dinilai menjadi penyemangat bagi pihak sekolah untuk terus mengagendakan kegiatan lingkungan.

“Sekolah kami sudah membuat hutan kecil di belakang sekolah. Penanaman bibit pohon yang dilakukan guru dan siswa juga bukan hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi juga lingkungan sekitarnya,” kata Subadi.

Pihaknya ingin siswa SD Slungkep 02 menjadi agen-agen pencinta lingkungan dimanapun berada. Berbagai lokasi yang pernah menjadi sasaran aksi tanam pohon, di antaranya kawasan wisata Gua Pancur, Bukit Pandang, dan lingkungan perkampungan sekitar sekolah.

Editor: Supriyadi

Sekolahan Terendam Air, Ratusan Siswa SDN 01 Mayahan Grobogan Diliburkan

Sejumlah guru bersama sejumlah anggota kepolisian dan kodim saat meninjau sekolah yang terendam banjir. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan siswa SDN 01 Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan terpaksa tidak bisa masuk sekolah, Jumat (17/11/2017). Hal itu terjadi setelah gedung sekolahnya kebanjiran sehingga tidak memungkinkan untuk dipakai kegiatan belajar mengajar.

”Sebenarnya ada sebagian siswa yang sudah datang. Tapi kita minta belajar dirumah karena sekolahan banjir,” kata Kepala SDN 01 Mayahan Siti Nurchayati.

Dari pantauan di lapangan, halaman sekolahan yang ada di pinggir jalan raya Purwodadi-Blora itu penuh air hampir setinggi lutut orang dewasa. Sedangkan semua ruangan kelas, kantor guru dan perpustakaan juga kemasukan air setinggi 10-20 centimeter.

Baca: Puluhan Rumah di Nambuhan Grobogan Terendam Banjir Semalaman

Air yang masuk ke komplek sekolahan berasal dari limpasan parit yang ada di depannya. Parit yang lebarnya sekitar 3 meter tidak mampu menampung debit air dari arah hulu.

Menurut Siti, banjir mulai datang dinihari sekitar pukul 03.00 WIB. Setelah dapat kabar, ia langsung meninjau sekolahan selepas Subuh. Kebetulan, rumahnya lokasinya hanya sekitar 1 km dari sekolahan sehingga bisa cepat datang ke lokasi.

”Habis subuh, saya langsung kesini. Waktu itu air masih dihalaman belum masuk ruangan. Saya dan penjaga serta beberapa guru langsung menaikkan dokumen dan peralatan ke tempat aman,” katanya.

Setelah semuanya aman, perlahan-lahan debit air terus naik. Selanjutnya, air akhirnya masuk ke ruangan kelas dan kantor.

Terkait kondisi itu, aktivitas pembelajaran terpaksa diliburkan. Jumlah siswa keseluruhan ada 169 orang.

”Sebagian siswa rumahnya juga kena banjir. Disekitar sekolahan ini, banyak rumah yang kemasukan air,” imbuhnya. 

Editor: Supriyadi

Melihat Ramainya SMKN 1 Purwodadi Saat Idul Adha. Begini Suasananya

Guru dan murid SMKN 1 Purwodadi menata daging kurban yang akan dibagi ke masyarakat, Jumat (1/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana SMKN 1 Purwodadi terlihat ramai seperti hari biasanya pada Hari Raya Idul Adha, Jumat (1/9/2017). Jika di sekolah lain banyak yang libur, di sekolah ini justru semua siswa dan guru masuk seperti biasa.

Masuknya guru dan siswa itu bukan untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Mereka berada di sekolah karena ada dua agenda yang dilangsungkan hari itu.

Yakni, melaksanakan salat Idul Adha di halaman sekolah. Setelah itu, dilanjutkan dengan membantu menangani pembagian hewan kurban.

Pada Idul Adha kali ini, pihak sekolah memotong dua ekor sapi. Satu ekor dari pihak sekolah dan satu lagi hewan kurban dari patungan tujuh orang guru.

“Untuk pengadaan hewan kurban, kita tidak memungut iuran dari siswa,” ungkap Kepala Sekolah SMKN 1 Purwodadi Sukamto.

Para siswa SMKN 1 Purwodadi saling bekerjasama memotong daging kurban yang akan dibagi ke masyarakat, Jumat (1/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dalam pembangian hewan kurban, ratusan siswa dilibatkan. Yakni, untuk mengiris daging dan kulit serta membungkusnya dalam plastik. Untuk penyembelihan sapi dan proses pengulitan diserahkan pada ahlinya.

“Ratusan siswa memang sengaja kita libatkan. Tujuannya supaya mereka mengerti bagaimana caranya menangani pembagian hewan kurban,” jelasnya.

Dari pantauan di lapangan, suasana penanganan daging kurban terlihat ramai. Puluhan siwa tampak sibuk mengiris daging dan kulit sapi dalam potongan kecil menggunakan pisau tajam.

Setelah itu ada petugas yang mengambil daging dan kulit itu menuju ke lokasi pembungkusan. Beberapa guru yang bertugas jadi panitia tampak memberikan instruksi pada anak didiknya. Pada proses pembungkusan dalam plastik ini ada puluhan siswa yang terlibat.

Sebelum dibagikan, daging yang sudah dibungkus plastik kemudian dibawa dalam ruangan kelas yang sudah disiapkan untuk tempat transit. Siswa yang terlibat dalam kepanitiaan terlihat sangat bersemangat melakukan tugasnya masing-masing.

Para siswa khusyuk mengikuti khotbah salat idhul adha di jhalaman sekolah, Jumat (1/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

“Daging kurban kita bagi pada semua siswa, guru dan karyawan. Selain itu, tetangga di sekitar sekolahan juga kita beri dagingnya,” imbuhnya.

Sejumlah siswa yang dimintai komentarnya mengaku senang bisa dilibatkan dalam panitia kurban. Dengan jadi panitia, mereka merasa mengerti tentang rumitnya menangani hewan kurban pasca disembelih.

“Tenyata cukup susah juga motong daging jadi ukuran kecil. Selain itu, butuh kehati-hatian supaya pisaunya tidak kena tangan. Saya senang bisa terlibat jadi panitia karena ini merupakan pengalaman baru dan sangat bermanfaat,” kata Siti, salah seorang siswa. (NAO)

 

Berikut Detail Pembangunan SD 1 Barongan Kudus

Siswa SD 1 Barongan Kudus melakukan kegiatan belajar mengajar di bangunan SD 1 Wergu Wetan, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bangunan SD 1 Barongan Kudus, diklaim bakal lebih bagus dari sebelummya. Bahkan anggaran yang besar sudah disiapkan untuk mendirikan bangunan gedung lantai tiga tersebut.

Kabid Dikdas pada Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, anggaran sudah disiapkan dalam APBD murni tahun ini. Anggaran yang disiapkan sekitar Rp 3 miliar. Anggaran sebesar itu akan dibangunkan ruangan di SD 1 Barongan.

“Jadi yang akan dibangun adalah bagian timur dengan tiga lantai. Bangunan nanti akan ada kamar mandi pada tiap lantai, misalnya lantai dasar ada tiga ruang dengan diapit kamar mandi. Begitupun juga dengan lantai dua dan lantai tiga ada tiga ruang dengan kamar mandi di tiap ujungnya,” katanya di Kudus, Selasa (11/4/2017.

Menurut dia, khusus untuk lantai satu dan tiga, penyekat bangunan tidak menggunakan tembok. Penyekat menggunakan bahan yang bisa digeser-geser, Sehingga dapat dimanfaatkan sebagai ruang serbaguna atau aula. 

Pembangunan kata Kasmudi memakan waktu sampai dengan enam hingga tujuh bulan lamanya. Selama masa itu, maka siswa akan melakukan pembelajaran di SD 1 Wergu Wetan dengan memanfaatkan ruang bekas SD Panjunan yang kena regrup.

Sebelumnya, SD 1 Barongan diwacanakan juga akan dilengkapi kolam renang. Namun setelah dikaji dan direncanakan, pembangunan kolam renangnya batal. Diganti dengan ruang serbaguna yang lebih bermanfaat.
Editor : Akrom Hazami

 

Progam Sekolah Gratis 12 Tahun di Kudus Dikeluhkan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kudus merasa progam Bupati Kudus Musthofa gratis sekolah 12 tahun saat ini tak lagi relevan. Karena saat ini tidak ada lagi dana pendamping BOS SMA/SMK  yang berakibat berkurangnya anggaran sekolah.

Ketua MKKS SMA Kudus Shodiqun mengatakan, pihaknya sudah melakukan pembahasan dengan sejumlah kepala sekolah terkait masalah tersebut. MKKS meminta kepada bupati supaya membantu mencari solusi.

“Kami bingung dengan kondisi  sekarang. Di satu sisi Kudus dilarang menarik iuran kepada siswa karena gratis 12 tahun. Di sisi lain, masalah keuangan sangat berpengaruh, tanpa adanya dana pendamping BOS,” kata Shidiqun.

Pihaknya telah meminta izin kepada Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga. Yaitu izin agar boleh menarik sumbangan guna memecahkan solusi berkurangnya anggaran sekolah. Hanya sampai kini, MKKS belum melangkah karena belum jelas.

Pihaknya merasa iri dengan kabupaten lain, yang memperbolehkan menarik iuran siswa. Seperti halnya di Kota Semarang. Kendati pemerintah provinsi telah mengambil alih pengelolaan, tapi pemerintah memperbolehkan adanya penarikan sumbangan.

“Dasar kami untuk diperbolehkan menarik yakni Permen No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Permen No 75 Tahun 2016 tentang Komite. Ini hanya menunggu persetujuan bupati saja,” ucapnya

MKKS juga berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan Jawa Tengah namun tidak mendapatkan solusi, karena tetap menunggu Pergub. “Sekarang ini saja sudah krisis, apa harus sampai menunggu anggaran perubahan APBD yang menurut informasi ada BOS Pendamping untuk SMA/SMK. Namun  itu baru rencana. Belum pasti karena menunggu Pergub juga. Kami meminta kejelasan atas hal itu,” keluhnya.

Dampak dari persoalan tersebut, juga dialami sampai prestasi siswa. selama dana tidak ada, maka pengiriman beragam perlombaan seperti olimpiade sains nasional (OSN), festival dan lomba seni siswa nasional (FLS2N) dan sebagaianya tidak diikuti.

Editor : Akrom Hazami

 

Kelas Terendam Banjir, Siswa SDN 01 Klambu Grobogan Tak Bisa Belajar

Siswa dan guru membersihkan kelas usai terendam banjir di SDN 01 Klambu, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Siswa dan guru membersihkan kelas usai terendam banjir di SDN 01 Klambu, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain rumah penduduk, dampak banjir bandang di Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan, ternyata juga melanda sekolahan. Salah satu sekolah paling parah terkena dampak banjir adalah SDN 01 Klambu. Bahkan, akibat terkena terjangan banjir, kegiatan belajar diliburkan. Gara-garanya, semua bangunan sekolahan terendam air.

“Tadi pagi pas jam masuk sekolah semua ruangan masih penuh air setinggi 10 cm. Anak-anak terpaksa kita liburkan Saat ini airnya mulai surut dan kita sedang kerja bakti membersihkan sisa air dan lumpur,” kata Kusiyati, guru kelas IV yang ditemui di lokasi, Senin (6/2/2017).

Menurutnya, banjir yang melanda sekolahnya datang sekitar pukul 22.00 WIB. Air yang merendam sekolah berasal dari limpasan di utara jalan raya di depan bangunan sekolah. “Tadi malam ketinggian air di ruangan sekitar 30 cm. Semua ruangan kelas dan kantor kemasukan air. Halaman sekolah juga penuh air tadi malam. Air berangsur surut menjelang subuh,” jelasnya.

Selain kegiatan belajar, dampak banjir bandang juga mengakibatkan terganggunya pelaksanaan seleksi Popda cabang olahraga bola voli dan sepak takraw. Sedianya, seleksi dilangsungkan di halaman SDN 01 Klambu. “Hari ini harusnya ada seleksi Popda SD di sini. Lantaran lokasi tidak memungkinkan, tempatnya dipindahkan ke SDN 01 Wandankemiri,” ungkap Rajin, guru olahraga SDN 01 Klambu.

Dari pantauan di lapangan, selain guru dan penjaga sekolah, puluhan siswa juga ikut membantu kegiatan bersih-bersih sisa banjir. Baik yang ada di ruangan maupun di halaman. Kegiatan pembersihan sisa banjir juga dibantu sejumlah personel dari Perhutani KPH Purwodadi. Bahkan, Administratur KPH Purwodadi Damanhuri dan Wakilnya Ronny Merdyanto ikut hadir di sekolahan yang ada di sebelah timur kantor Kecamatan Klambu tersebut.

“Kita memang mengerahkan anggota untuk bakti sosial menyusul adanya bencana membantu warga yang kena musibah,” ungkap Ronny.

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Madrasah di Kudus Siap Ikuti UNBK

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Peserta UNBK tak hanya diikuti oleh sekolah negeri. Namun puluhan sekolah swasta tingkat madrasah, juga siap mengikutinya. Puluhan madrasah itu meliputi tingkat MA dan MTs.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kudus Hambali melalui Kasi Pendidikan Madrasah Su’udi mengatakan, sekolah di lingkup madrasah sudah ada yang ikut UNBK. Yakni ada 13 MA. Sedangkan tingkat MTs berjumlah 7 madrasah. “Tahun ini cukup banyak dari madrasah yang siap UNBK. Jadi ini merupakan tingkat kemajuan dalam jenjang pendidikan di tingkatkan madrasah,” katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Sabtu (21/1/2017).

Biasanya sebuah MTs, juga ada MA. Untuk itu, kebanyakan dari MTs yang melaksanakan UNBK karena MA-nya menyelenggarakan. Jadi mereka bergabung. Kalau untuk MTs yang belum ikut UNBK, pihaknya masih mencari solusi.

Dia mengaku, saat mengikuti rapat di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah untuk ujian manual, soal memang dikirim dalam bentuk softcopy. Tiap kelas akan menyediakan satu printer. Hal itu tergolong baru dalam hal pemberian soal UN. Hanya untuk teknis secara resmi masih menunggu aturan. “POS Unas belum jadi, dan konsep yang ada di dalamnya, sementara seperti itu. Itu bisa saja berubah. Dalam waktu dekat ini kami akan mengundang kepala MTs dan MA untuk sosialisasi mengenai Unas,” ujarnya.

Sementara itu, jumlah MA secara keseluruhan ada 35 unit dan MTs sekitar 65 sekolah.  Perbandingannya yang ikut UNBK dan yang tidak sangat jauh. Kalau memang tidak memungkinkan UNBK, terpaksa memang manual. “Kami tetap upayakan MTs yang belum bisa UNBK, memang harus bergerak cepat karena mencari sekolah yang sudah UNBK, kalau digabung-gabungkan melihat kapasitasnya, ini yang perlu kami ketahui,” imbuhnya.

Dia menambahkan, kendala yang paling banyak ditemukan adalah fasilitas komputer yang terbatas. Untuk itulah dicari solusi untuk mengatasi persoalan komputer tersebut.

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Sekolah di Kudus Siap Gunakan UNBK Tahun Ini

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan sekolah di Kudus kembali menerapkan sistem Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun ini. Saat ini, ada puluhan sekolah dari tingkat SMP hingga SMA/SMK Sederajat akan menerapkannya.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kudus Joko Susilo, mengatakan berdasarkan data sementara dari Disdikpora Kudus, ada puluhan sekolah yang siap UNBK. Sejauh ini, paling banyak dari tingkat SMK. “SMK ada 26 unit. Semuanya siap menggunakan Komputer saat UN. Itu merupakan kemajuan bidang SMK di Kudus ini,” kata Joko kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, untuk tingkat SMP juga ada yang menerapkan UNBK. Untuk SMP negeri dan swasta yang menggunakan UNBK ada lima sekolah. Di antaranya SMPN 1 Kudus, SMPN 2 Kudus, SMPN 1 Jati, SMPIT Assa’idiyyah dan SMP Muhammadiyah 1.

Sementara tingkat SMA jumlahnya ada lima. Di antaranya SMA NU Al Ma’ruf, dan SMAN 1 Kudus. Berikutnya untuk MA ada lima. Salah satunya MA Umar Said. SMK jumlahnya ada 26 sekolah. “Sementara ini yang masuk ke kami, sekolah yang sudah melakukan persiapan sejak awal dan melakukan simulasi. Namun besar kemungkinan sekolah lain juga siap melakukan sistem UNBK,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebenarnya di dalam juknisnya sudah disebutkan sekolah yang menggunakan UNBK bisa sekolah lain, yang berada di sekitarnya. Atau dengan jarak kurang 5 kilometer. Dia yakin bakalan ada lagi sekolah yang melakukan hal serupa.

Mengenai jadwal dan pelaksanaan UNBK, hingga kini pihak dinas juga belum mengetahui secara persis. Hal itu disebabkan, belum adanya pembahasan secara spesifik mengenai pedoman UN di 2017 ini. “Rencananya pekan depan baru ada pembahasan terkait hal itu. Jadi, baru bisa tahu segala sesuatu tentang UN, pekan depan,” ungkapnya.

Dia berharap pada UN tahun ini dapat berjalan dengan lancar. Meskipun terbilang persiapan untuk UN tahun cukup mepet ketimbang tahun sebelumnya.

Editor : Akrom Hazami

Lapuk, Atap Kelas SD 3 Demaan Kudus Nyaris Timpa Siswa

Petugas sekolah menunjukkan atap kelas di salah satu ruang kelas di SD 3 Demaan Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas sekolah menunjukkan atap kelas di salah satu ruang kelas di SD 3 Demaan Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan siswa SD 3 Demaan, Kudus, dikagetkan dengan atap yang nyaris menimpa. Beruntung dalam kejadian itu hanya sebagian atap yang roboh, sedangkan sisanya masih menggantung tertahan plafon kelas.

Kabid Dikdas Disdikpora Kasmudi mengatakan, kejadian tersebut tidak memakan korban. Sebab siswa langsung diungsikan ke tempat yang aman guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

“Tadi pagi saya sudah meninjau langsung ke lokasi. Hari ini juga akan segera dibereskan dan dibenahi, sehingga aktivitas dapat secepatnya kembali seperti semula,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (11/10/2016).

Menurutnya, atap yang ambruk adalah atap ruang kelas satu. Pembenahan dilakukan dengan biaya BOS dari pusat. Yang mana dalam aturan diperbolehkan mengambil maksimal 10 persen guna perbaikan sekolah dalam kategori rusak ringan.

Untuk target selesai perbaikan diharapkan bisa selesai secepatnya. Biar siswa bisa segera kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas tanpa rasa khawatir.

“Sekolah di sana mendapatkan BOS Rp 160 juta, jadi sejumlah Rp 16 juta dapat digunakan untuk membenahinya. Jumlah tersebut dianggap cukup guna memperbaikinya,” ujarnya

Berdasarkan pantauan, ruang kelas satu tersebut langsung dikunci guna mengurangi kejadian. Selain itu, atap juga nampak hampir ambruk semuanya lantaran kayu sudah mulai lapuk.

Editor : Akrom Hazami

 

Sekolah di Jepara Dipacu Raih Adiwiyata Nasional

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat menebar benih lele di SDN 4 Kaliaman (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat menebar benih lele di SDN 4 Kaliaman (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sekolah yang berada di Kabupaten Jepara dipacu agar semakin banyak yang meraih penghargaan Adiwiyata Nasional. Selain bisa membanggakan, penghargaan itu juga memacu untuk memperhatikan lingkungan.

“Tahun 2015 ada dua sekolah di Jepara yang mendapat penghargaan Adiwiyata Nasional, yakni SDN 4 Kaliaman dan SMA N 1 Nalumsari,” kata Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat hadir pada acara gathering and sharing sekolah Adiwiyata Nasional di SDN 4 Kaliaman, Kecamatan Kembang, Rabu (20/1/2016).

Marzuqi mengapresiasi pelaksanaan program Adiwiyata di sekolah, karena sangat penting untuk menanamkam cinta lingkungan sejak dini. Anak-anak akan semakin sadar arti pentingnya kelestarian lingkungan hidup bagi manusia. Dengan demikian, pengalaman buruk berupa banyaknya penebangan hutan, diharapkan tidak lagi terulang.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jepara Fatkhurrahman mengatakan, dalam catatannya, implementasi program Adiwiyata di sekolah ini sudah dilakukan dalam berbagai kegiatan. Mulai dari pembuatan resapan air, pengelolaan sampah, pemanfaaatan lahan pekarangan dan kebun, serta pelestarian flora dan fauna.

Di Jepara, penghargaan sekolah Adiwiyata Nasional bukan hal baru. SDN 4 Panggang merupakan sekolah Adiwiyata Mandiri pertama di Jawa Tengah. Prestasi itu diraih tahun 2010, setelah sebelumnya tercatat tiga kali mendapat penghargaan Adiwiyata Nasional.

Pada tahun 2013, SD N 2 Pendem, Kecamatan Kembangjuga mendapat penghargaan Adiwiyata Nasional. Tahun berikutnya, verifikasi program ini di tingkat nasional diikuti MIN Cepogo,Kecamatan Kembang. “Itu belum termasuk sekolah-sekolah lain yang prestasinya baru sampai di tingkat provinsi,” katanya.

Di tingkat sekolah yang lebih tinggi, Adiwiyata tingkat provinsi juga diraih SMP N 1 Donorojo pada tahun 2015, SMA Negeri 1 Bangsri tingkat provinsi pada tahun 2015 dan tentu saja Adiwiyata Nasional untuk SMA N 1 Nalumsari tahun ini.

Sementara itu, Kepala SD N 4 Kaliaman Hadi Sutrisno mengakui program Adiwiyata di sekolahnya telah banyak merubah perilaku anak didik menjadi semakin mencintai lingkungan. Anak-anak dilibatkan dalam berbagai kegiatan penghijauan.

“Lingkungan sekolah yang rindang ini, taman-taman, serta tanaman obat dan sayuran di kebun belakang, banyak melibatkan anak-anak. Tidak hanya sejak penanaman. Mereka pula yang piket memupuk, menyiram, dan merawat,” katanya.

Sekolah juga mengelola sampah dengan baik. Anak-anak dibiasakan dalam kegiatan memilah sampah. “Sampah organik kami jadikan pupuk. Yang anorganik, sebagian kami jual. Tapi banyak yang kami manfaatkan untuk membuat barang-barang menarik,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Penyerahan SMA/SMK Rembang ke Pemprov Jateng, Pj Bupati Minta Nasib Guru Diperhatikan

Penjabat Bupati Rembang, Suko Mardiono memberikan arahan dalam rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wahid)

Penjabat Bupati Rembang, Suko Mardiono memberikan arahan dalam rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wahid)

 

REMBANG – Serah terima aset SMA/SMK dari Pemerintah Kabupaten Rembang ke Pemerintah Provinsi Jateng yang ditargetkan selesai pada Oktober 2016. Pj Bupati Rembang berpesan agar nasib guru diperhatikan dengan serius.

Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). Rakor tersebut sebagai tindaklanjut terkait UU Nomor 23 tahun 2014 tentang pelimpahan kewenangan pendidikan menengah kepada Pemerintah Provinsi.

Pj Bupati Rembang, Suko Mardiono berharap dalam rakor tersebut dijadikan sebagai wadah belanja permasalahan terkait pelimpahan kewenangan. Pasalnya di masing-masing kabupaten/ kota masalahnya bisa saja berbeda.

”Jangan sampai ketika pelimpahan kewenangan sudah selesai, ternyata masih ada hal atau permasalahan yang tercecer. Utamanya terkait nasib guru maupun dari institusinya itu,” pesannya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, Noor Effendy mengaku dari 4 hal terkait personel, pendanaan, prasarana, dan dokumen (P3D) yang paling memerlukan kerja ekstra yakni tentang aset.

Pasalnya ada beberapa sekolah yang lahannya dipakai bersama, seperti di SMK Gunem, lahan yang digunakan milik SMP Gunem. ”Nah rakor ini salah satu tujuannya untuk mencari solusi permasalahan tersebut. Pencatatan dan dokumennya seperti apa. Apakah nanti SMK dicarikan lahan sendiri atau yang lahan itu apakah bisa ditata bersama,” ujarnya.

Ada empat hal yang menjadi fokus pembahasan dalam rakor tersebut, yakni personel guru, tenaga karyawan dan siswa, pendanaan, sarana prasarana, serta dokumen. (AHMAD WAHID/TITIS W)

9 SMA dan 6 SMK di Rembang Akan Diserahkan ke Provinsi Jateng, Ada Apa?

Rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Sebanyak 9 Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 6 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berstatus negeri, akan diserahkan kepada pihak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, Noor Effendy menjelaskan, total ada 9 SMA dan 6 SMK yang berstatus negeri terkait dengan penyerahan aset.

”Sedangkan yang swasta tetap milik yayasan dan hanya pengelolaannya saja yang beralih,” ujarnya.
Selain persoalan penyerahan aset, rakor tersebut juga membahas persoalan lainnya terkait personel, pendanaan, prasarana, dan dokumen (P3D). Hal itu dalam rangka menindaklanjuti UU Nomor 23 tahun 2014 tentang pelimpahan kewenangan pendidikan menengah kepada provinsi.

Effendy menambahkan, terkait personel guru dan tenaga karyawannya menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi. Menurutnya, sekitar 650 guru SMA dan SMK yang berada di Kabupaten Rembang, terkait penggajian dan pembinaannya akan berasal dari Pemerintah Provinsi mulai 2017 nanti.

”Sementara untuk sarana prasarana seperti aset tanah, peralatan dan gedung nanti pencatatannya akan diserahkan. Namun, gedung sekolahnya dan muridnya tetap di sini. Hanya pengelolaannya dan pencatatannya yang berpindah,” imbuhnya.

Untuk penganggaran mulai 2017, lanjut Effendy, sudah diback up melalui Pemerintah Provinsi. Sedangkan yang terakhir penyerahan dokumen-dokumen untuk melengkapi aset dan personel. ”Serah terima aset SMA/SMK dari Kabupaten ke Provinsi ditarget Oktober 2016,” tandasnya.

Rakor tersebut juga dihadiri oleh seluruh kepala Sekolah SMA/SMK baik negeri maupun swasta. Dengan mendatangkan narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi, BKD Provinsi dan Dinas PPAD Provinsi Jawa Tengah. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Video – Siswa SMP Islam di Jepara Ini Gelar Pilkosis Layaknya Pemilihan Presiden

SMP Islam Asy-Syafi’iyah Batealit, Jepara sedang menggelar pemilihan ketua OSIS (Pilkosis) layaknya pemilihan umum (Pemilu) Presiden. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

SMP Islam Asy-Syafi’iyah Batealit, Jepara sedang menggelar pemilihan ketua OSIS (Pilkosis) layaknya pemilihan umum (Pemilu) Presiden. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Asy-Syafi’iyah Batealit Jepara ini menggelar pemilihan ketua OSIS (Pilkosis) layaknya pemilihan umum (Pemilu) Presiden. Pasalnya, selain prosedur yang digunakan pemilihan sama, antusiasme siswa juga besar.

Pelaksanaan Pilkosis ini digelar di dalam ruang kelas, diikuti 208 siswa dan 20 guru. Mereka melaksanakan pemilihan secara transparan, dan demokratis. Seperti pemilu pada umumnya, ada surat suara, kotak suara hingga tinta tanda mencoblos.

Kepala SMP Islam Asy-Syafi’iyah, Abdul Manan mengatakan, dengan berakhirnya masa tugas kepemimpinan OSIS yang lama, pada Rabu 6 Januari 2016 mengadakan pemilihan ketua OSIS baru. Menurutnya, kegiatan bertujuan untuk meningkatkan jiwa nasionalisme dan demokratisasi antar warga sekolah dan untuk mengembangkan peran peserta didik untuk dapat melaksanakan dan mengerti arti pemiliham umum, khususnya bagi pelajar secara langsung. Seperti pada pemilihan umum yang diselenggarakan oleh komisi pemilihan umum (KPU).

”Ini sebagai pelatihan kepada anak-anak, melatih untuk berdemokrasi. Sebab dalam sekolah adalah pembelajaran, pelatihan pembiasaan agar suapaya anak bisa melaksanakan pembelajaran dan pelatihan berdemokrasi di masyarakat dan berpolitik,” ujar Abdul Manan kepada MuriaNewsCom, Rabu (6/1/2016).

Sedangkan para siswa merasa senang dengan praktik pemilihan umum tersebut. Hal itu seperti yang dikatakan salah seorang siswa, Rizki. Menurutnya, dia baru kali pertama mengikuti proses pemilihan secara langsung layaknya pemilu. Sehingga, dia merasa bangga.

Bak pemilihan sesungguhnya, ruang kelas disulap dan dijadikan tempat pemungutan suara. diawali dengan menukarkan blangko undangan pemilih dengan surat suara, kemudian para pemilih menggunakan hak pilihnya di bilik suara dan kemudian dimasukkan ke kotak suara. Yang terakhir tidak lupa memberi tanda tinta bagi pemilih yang selesai menggunakan hak pilihnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

 

Siswa di Jati Pulang Gasik, Guru Bertahan di Sekolah

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kejadian banjir yang berdampak pada siswa yang dipulangkan lebih awal, nampaknya tidak berlaku bagi gurunya. Sebab meski sekolahnya kosong tanpa siswa, para guru lebih memilih bertahan di sekolah tersebut.

Hal itu diungkapkan Kepala UPT Kecamatan Jati Sulardi. Menurutnya, meski para siswa dipulangkan, namun para pendidik dan penjaga sekolah masih bertahan di sekolah.

”Mereka menunggu banjir surut. Kemudian bersama-sama membersihkan sekolah dari sampah dan lumpur yang terbawa banjir,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kegiatan bersih sekolah itu dilaksanakan secara gotong royong. Dengan cara itu, maka dalam membersihkan sekolah terselesaikan dengan cepat.

Alasan lain juga, lanjutnya karena PNS harus disertai dengan absensi. Bukan hanya absen berangkat saja, melainkan absen pulang. Hal itu juga membuat pendidik PNS bertahan disekolah.

Jumlah sekolah yang terendam tergolong banyak. Sebab dari 47 SD yang ada, 5 sekolah terendam air. Jumlah itu menjadi langganan setiap tahunnya.

”Hampir setiap musim hujan semacam ini. Jadi butuh kerja sama semua pihak untuk menanganinya,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Berikut Daftar Sekolah di Jati yang Terendam Banjir

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ratusan siswa yang terdapat di enam sekolah di Kecamatan Jati, terpaksa dipulangkan lebih awal. Hal itu terjadi lantaran sekolah terendam air sehingga proses Kegiatan Belajar Mengajar tidak dapat dilaksanakan.

Sulardi, kepala UPT Kecamatan Jati mengatakan, dalam Kecamatan Jati terdapat setidaknya enam sekolah yang harus dipulangkan siswanya. Pihak UPT terpaksa menyetujui kebijakan itu lantaran kondisi yang tidak memungkinkan untuk kegiatan KBM.

”Air sampai masuk kedalam kelas. Jadi bagaimana siswa mau nyaman belajar jika kondisinya semacam itu,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dampaknya, ratusan siswa menjadi korban banjir. Hak mereka untuk menimba ilmu harus tertunda sampai kelas kembali aman untuk digunakan aktivitas belajar.

Beberapa sekolah yang menjadi korban, lanjutnya, seperti di SD 1, 3 dan 4 Jati Wetan. SD tersebut terkena air hingga masuk ke dalam kelas. Bahkan, SD 1 Jati Wetan sampai terkepung air banjir, sehingga bukan hanya sekolahnya namun juga aksesnya juga terkendala.

Kemudian SD lain yang terkepung banjir adalah SD 1 Tanjung Karang. Sama dengan SD 1 Jati Wetan, di SD tersebut juga memiliki akses yang tergenang air. Berikutnya adalah SD 1 Jati Kulon dan SD 4 Loram Wetan. Sedangkan untuk tingkat SMP, SMP 2 Jati siswanya juga pulang terlebih dahulu lantaran terkena banjir.

”Saya sudah komunikasi dengan pihak sekolah, mereka menyatakan akibat banjir jadi tidak dapat dilanjutkan KBM,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Memprihatinkan, 5 Tahun Berdiri MI di Rahtawu Ini Tak Beratap

Kondisi bangunan MI NU Wahid Hasyim Rahtawu Kecamatan Gebog yang belum mampu membangun atap sehingga KBM masih dilaksanakan di gedung TPQ setempat secara bergantian. (ISTIMEWA)

Kondisi bangunan MI NU Wahid Hasyim Rahtawu Kecamatan Gebog yang belum mampu membangun atap sehingga KBM masih dilaksanakan di gedung TPQ setempat secara bergantian. (ISTIMEWA)Ra

 

KUDUS – Minimnya fasilitas yang dialami MI NU Wahid Hasyim Rahtawu, Kecamatan Gebog tidak menyurutkan semangat kegiatan belajar mengajar (KBM) para murid di Madrasah Ibtidaiyah tersebut. Semangat itulah yang menjadi kekuatan sekolah yang berdiri pada tahun 2011 itu untuk tetap mendidik para penerus bangsa di desa sekitar.

Kepala MI NU Wahid Hasyim Rahtawu, Kecamatan Gebog Ubaidillah Dwi Lazuardi mengatakan, memang disaat penerimaan siswa baru (PSB) pada tahun 2011 lalu, para murid terlebih dahulu ditampung di rumah warga sekitar RT 5 RW 3, Rahtawu, Gebog.

Setelah satu tahun berjalan, jumlah murid meningkat. Sehingga KBM tersebut dipindah di gedung TPQ Raudlatul Athfal yang letaknya tidak jauh dari rumah warga tersebut. Pemindahan KBM ke gedung TPQ tersebut diharapkan dapat menampung murid lebih banyak lagi, dan membuat nyaman belajar.

”Setelah ditampung di TPQ, tahun 2013 kami mendapat bantuan Rp 50 juta dari Kemenag pusat. Dan bantuan itu langsung kami gunakan membangun 4 lokal. Pembangunan lokal tersebut juga masih dibantu swadaya masyarakat hingga Rp 20 jutaan. Akan tetapi bangunan ini belum bisa diberikan atap yang layak,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, sekolah yang berada di bawah Badan Pelaksana Pendidikan Ma’arif NU Wahid Hasyim Kudus tersebut terdapat 74 murid. Sejumlah murid tersebut terbagi dalam 5 kelas yang nampak semangat dalam menempuh pendidikan. Meskipun KBM dilaksanakan di gedung TPQ.

”Alhamdullillah meskipun dalam kondisi bangunan seadanya, tetapi anak didik kami bisa menunjukan prestasinya. Diantaranya Juara II Putri lomba puisi dan juara 3 putri menggambar di hari pendidikan yang diselenggarakan IPNU IPPNU Kudus 2013. Dan yang terakhir yakni juara II Tingkat Kecamatan lomba Pramuka yang diadakan UPT Kecamatan Gebog belum lama ini,” tuturnya.

Meski dengan kondisi fasilitas sekolah yang belum memadai, pihak guru serta masyarakat setempat tetap optimistis bisa memajukan sekolah dan juga murid yang berprestasi. ”Yang penting kita harus semangat. Supaya anak didik juga semangat. Selain itu, kami juga telah membeli tanah seluas 300m dengan harga Rp 20 juta. Dana tersebut kami peroleh dari jerih payah menggandeng masyarakat setempat dan bantuan PR Sukun,” tuturnya.

Dia menilai, perjuangan mendidik anak belum cukup sampai di sini. Pihaknya berharap dinas terkait bisa ikut berpartisipasi dalam mendidik generasi bangsa. Sehingga kesejahteraan warga negara dalam menempuh dunia pendidikan terjamin.

”Pendidikan itu bukan sekadar urusan dari guru dan warga setempat. Akan tetapi dinas terkait juga kami harapkan bisa ikut serta. Sehingga masyarakat Rahtawu ini bisa menikmati pendidikan yang baik dan lebih layak,” terangnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Hari Pertama Masuk Sekolah, Murid MI Miftahut Tholibin Antusias Ikuti KBM

MI Miftahut Tholibin, Mejobo, Sholikhul Anwar bersama dengan para murid barunya bersiap memasuki kelas untuk memulai KBM, Senin (27/7/2015). (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

MI Miftahut Tholibin, Mejobo, Sholikhul Anwar bersama dengan para murid barunya bersiap memasuki kelas untuk memulai KBM, Senin (27/7/2015). (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Senin (27/7/2015) ini merupakan hari pertama masuk sekolah di wilayah Kudus. Libur semesteran yang disambung dengan libur Lebaran yang cukup panjang ini membuat murid-murid nyaris melupakan waktunya sekolah. Namun, pada hari ini mereka masuk ke sekolah lagi untuk menuntut ilmu.  Lanjutkan membaca

Museum Tak Laku, Pihak Sekolah Minta Dilibatkan

Pengunjung museum sedang melihat-lihat benda purbakala. (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

Pengunjung museum sedang melihat-lihat benda purbakala. (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Sepinya pengunjung museum purbakala ternyata mendapat perhatian dari beberapa pihak. Mereka ini merasa sangat prihatin dengan kondisi museum yang didalamnya terdapat aset yang sangat berharga bagi sejarah Grobogan. Untuk itu, perlu dilakukan pengelolaan yang lebih serius dengan melibatkan beberapa pihak. Lanjutkan membaca