Berikut Detail Pembangunan SD 1 Barongan Kudus

Siswa SD 1 Barongan Kudus melakukan kegiatan belajar mengajar di bangunan SD 1 Wergu Wetan, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bangunan SD 1 Barongan Kudus, diklaim bakal lebih bagus dari sebelummya. Bahkan anggaran yang besar sudah disiapkan untuk mendirikan bangunan gedung lantai tiga tersebut.

Kabid Dikdas pada Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, anggaran sudah disiapkan dalam APBD murni tahun ini. Anggaran yang disiapkan sekitar Rp 3 miliar. Anggaran sebesar itu akan dibangunkan ruangan di SD 1 Barongan.

“Jadi yang akan dibangun adalah bagian timur dengan tiga lantai. Bangunan nanti akan ada kamar mandi pada tiap lantai, misalnya lantai dasar ada tiga ruang dengan diapit kamar mandi. Begitupun juga dengan lantai dua dan lantai tiga ada tiga ruang dengan kamar mandi di tiap ujungnya,” katanya di Kudus, Selasa (11/4/2017.

Menurut dia, khusus untuk lantai satu dan tiga, penyekat bangunan tidak menggunakan tembok. Penyekat menggunakan bahan yang bisa digeser-geser, Sehingga dapat dimanfaatkan sebagai ruang serbaguna atau aula. 

Pembangunan kata Kasmudi memakan waktu sampai dengan enam hingga tujuh bulan lamanya. Selama masa itu, maka siswa akan melakukan pembelajaran di SD 1 Wergu Wetan dengan memanfaatkan ruang bekas SD Panjunan yang kena regrup.

Sebelumnya, SD 1 Barongan diwacanakan juga akan dilengkapi kolam renang. Namun setelah dikaji dan direncanakan, pembangunan kolam renangnya batal. Diganti dengan ruang serbaguna yang lebih bermanfaat.
Editor : Akrom Hazami

 

Progam Sekolah Gratis 12 Tahun di Kudus Dikeluhkan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kudus merasa progam Bupati Kudus Musthofa gratis sekolah 12 tahun saat ini tak lagi relevan. Karena saat ini tidak ada lagi dana pendamping BOS SMA/SMK  yang berakibat berkurangnya anggaran sekolah.

Ketua MKKS SMA Kudus Shodiqun mengatakan, pihaknya sudah melakukan pembahasan dengan sejumlah kepala sekolah terkait masalah tersebut. MKKS meminta kepada bupati supaya membantu mencari solusi.

“Kami bingung dengan kondisi  sekarang. Di satu sisi Kudus dilarang menarik iuran kepada siswa karena gratis 12 tahun. Di sisi lain, masalah keuangan sangat berpengaruh, tanpa adanya dana pendamping BOS,” kata Shidiqun.

Pihaknya telah meminta izin kepada Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga. Yaitu izin agar boleh menarik sumbangan guna memecahkan solusi berkurangnya anggaran sekolah. Hanya sampai kini, MKKS belum melangkah karena belum jelas.

Pihaknya merasa iri dengan kabupaten lain, yang memperbolehkan menarik iuran siswa. Seperti halnya di Kota Semarang. Kendati pemerintah provinsi telah mengambil alih pengelolaan, tapi pemerintah memperbolehkan adanya penarikan sumbangan.

“Dasar kami untuk diperbolehkan menarik yakni Permen No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Permen No 75 Tahun 2016 tentang Komite. Ini hanya menunggu persetujuan bupati saja,” ucapnya

MKKS juga berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan Jawa Tengah namun tidak mendapatkan solusi, karena tetap menunggu Pergub. “Sekarang ini saja sudah krisis, apa harus sampai menunggu anggaran perubahan APBD yang menurut informasi ada BOS Pendamping untuk SMA/SMK. Namun  itu baru rencana. Belum pasti karena menunggu Pergub juga. Kami meminta kejelasan atas hal itu,” keluhnya.

Dampak dari persoalan tersebut, juga dialami sampai prestasi siswa. selama dana tidak ada, maka pengiriman beragam perlombaan seperti olimpiade sains nasional (OSN), festival dan lomba seni siswa nasional (FLS2N) dan sebagaianya tidak diikuti.

Editor : Akrom Hazami

 

Kelas Terendam Banjir, Siswa SDN 01 Klambu Grobogan Tak Bisa Belajar

Siswa dan guru membersihkan kelas usai terendam banjir di SDN 01 Klambu, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Siswa dan guru membersihkan kelas usai terendam banjir di SDN 01 Klambu, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain rumah penduduk, dampak banjir bandang di Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan, ternyata juga melanda sekolahan. Salah satu sekolah paling parah terkena dampak banjir adalah SDN 01 Klambu. Bahkan, akibat terkena terjangan banjir, kegiatan belajar diliburkan. Gara-garanya, semua bangunan sekolahan terendam air.

“Tadi pagi pas jam masuk sekolah semua ruangan masih penuh air setinggi 10 cm. Anak-anak terpaksa kita liburkan Saat ini airnya mulai surut dan kita sedang kerja bakti membersihkan sisa air dan lumpur,” kata Kusiyati, guru kelas IV yang ditemui di lokasi, Senin (6/2/2017).

Menurutnya, banjir yang melanda sekolahnya datang sekitar pukul 22.00 WIB. Air yang merendam sekolah berasal dari limpasan di utara jalan raya di depan bangunan sekolah. “Tadi malam ketinggian air di ruangan sekitar 30 cm. Semua ruangan kelas dan kantor kemasukan air. Halaman sekolah juga penuh air tadi malam. Air berangsur surut menjelang subuh,” jelasnya.

Selain kegiatan belajar, dampak banjir bandang juga mengakibatkan terganggunya pelaksanaan seleksi Popda cabang olahraga bola voli dan sepak takraw. Sedianya, seleksi dilangsungkan di halaman SDN 01 Klambu. “Hari ini harusnya ada seleksi Popda SD di sini. Lantaran lokasi tidak memungkinkan, tempatnya dipindahkan ke SDN 01 Wandankemiri,” ungkap Rajin, guru olahraga SDN 01 Klambu.

Dari pantauan di lapangan, selain guru dan penjaga sekolah, puluhan siswa juga ikut membantu kegiatan bersih-bersih sisa banjir. Baik yang ada di ruangan maupun di halaman. Kegiatan pembersihan sisa banjir juga dibantu sejumlah personel dari Perhutani KPH Purwodadi. Bahkan, Administratur KPH Purwodadi Damanhuri dan Wakilnya Ronny Merdyanto ikut hadir di sekolahan yang ada di sebelah timur kantor Kecamatan Klambu tersebut.

“Kita memang mengerahkan anggota untuk bakti sosial menyusul adanya bencana membantu warga yang kena musibah,” ungkap Ronny.

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Madrasah di Kudus Siap Ikuti UNBK

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Peserta UNBK tak hanya diikuti oleh sekolah negeri. Namun puluhan sekolah swasta tingkat madrasah, juga siap mengikutinya. Puluhan madrasah itu meliputi tingkat MA dan MTs.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kudus Hambali melalui Kasi Pendidikan Madrasah Su’udi mengatakan, sekolah di lingkup madrasah sudah ada yang ikut UNBK. Yakni ada 13 MA. Sedangkan tingkat MTs berjumlah 7 madrasah. “Tahun ini cukup banyak dari madrasah yang siap UNBK. Jadi ini merupakan tingkat kemajuan dalam jenjang pendidikan di tingkatkan madrasah,” katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Sabtu (21/1/2017).

Biasanya sebuah MTs, juga ada MA. Untuk itu, kebanyakan dari MTs yang melaksanakan UNBK karena MA-nya menyelenggarakan. Jadi mereka bergabung. Kalau untuk MTs yang belum ikut UNBK, pihaknya masih mencari solusi.

Dia mengaku, saat mengikuti rapat di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah untuk ujian manual, soal memang dikirim dalam bentuk softcopy. Tiap kelas akan menyediakan satu printer. Hal itu tergolong baru dalam hal pemberian soal UN. Hanya untuk teknis secara resmi masih menunggu aturan. “POS Unas belum jadi, dan konsep yang ada di dalamnya, sementara seperti itu. Itu bisa saja berubah. Dalam waktu dekat ini kami akan mengundang kepala MTs dan MA untuk sosialisasi mengenai Unas,” ujarnya.

Sementara itu, jumlah MA secara keseluruhan ada 35 unit dan MTs sekitar 65 sekolah.  Perbandingannya yang ikut UNBK dan yang tidak sangat jauh. Kalau memang tidak memungkinkan UNBK, terpaksa memang manual. “Kami tetap upayakan MTs yang belum bisa UNBK, memang harus bergerak cepat karena mencari sekolah yang sudah UNBK, kalau digabung-gabungkan melihat kapasitasnya, ini yang perlu kami ketahui,” imbuhnya.

Dia menambahkan, kendala yang paling banyak ditemukan adalah fasilitas komputer yang terbatas. Untuk itulah dicari solusi untuk mengatasi persoalan komputer tersebut.

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Sekolah di Kudus Siap Gunakan UNBK Tahun Ini

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan sekolah di Kudus kembali menerapkan sistem Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun ini. Saat ini, ada puluhan sekolah dari tingkat SMP hingga SMA/SMK Sederajat akan menerapkannya.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kudus Joko Susilo, mengatakan berdasarkan data sementara dari Disdikpora Kudus, ada puluhan sekolah yang siap UNBK. Sejauh ini, paling banyak dari tingkat SMK. “SMK ada 26 unit. Semuanya siap menggunakan Komputer saat UN. Itu merupakan kemajuan bidang SMK di Kudus ini,” kata Joko kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, untuk tingkat SMP juga ada yang menerapkan UNBK. Untuk SMP negeri dan swasta yang menggunakan UNBK ada lima sekolah. Di antaranya SMPN 1 Kudus, SMPN 2 Kudus, SMPN 1 Jati, SMPIT Assa’idiyyah dan SMP Muhammadiyah 1.

Sementara tingkat SMA jumlahnya ada lima. Di antaranya SMA NU Al Ma’ruf, dan SMAN 1 Kudus. Berikutnya untuk MA ada lima. Salah satunya MA Umar Said. SMK jumlahnya ada 26 sekolah. “Sementara ini yang masuk ke kami, sekolah yang sudah melakukan persiapan sejak awal dan melakukan simulasi. Namun besar kemungkinan sekolah lain juga siap melakukan sistem UNBK,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebenarnya di dalam juknisnya sudah disebutkan sekolah yang menggunakan UNBK bisa sekolah lain, yang berada di sekitarnya. Atau dengan jarak kurang 5 kilometer. Dia yakin bakalan ada lagi sekolah yang melakukan hal serupa.

Mengenai jadwal dan pelaksanaan UNBK, hingga kini pihak dinas juga belum mengetahui secara persis. Hal itu disebabkan, belum adanya pembahasan secara spesifik mengenai pedoman UN di 2017 ini. “Rencananya pekan depan baru ada pembahasan terkait hal itu. Jadi, baru bisa tahu segala sesuatu tentang UN, pekan depan,” ungkapnya.

Dia berharap pada UN tahun ini dapat berjalan dengan lancar. Meskipun terbilang persiapan untuk UN tahun cukup mepet ketimbang tahun sebelumnya.

Editor : Akrom Hazami

Lapuk, Atap Kelas SD 3 Demaan Kudus Nyaris Timpa Siswa

Petugas sekolah menunjukkan atap kelas di salah satu ruang kelas di SD 3 Demaan Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas sekolah menunjukkan atap kelas di salah satu ruang kelas di SD 3 Demaan Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan siswa SD 3 Demaan, Kudus, dikagetkan dengan atap yang nyaris menimpa. Beruntung dalam kejadian itu hanya sebagian atap yang roboh, sedangkan sisanya masih menggantung tertahan plafon kelas.

Kabid Dikdas Disdikpora Kasmudi mengatakan, kejadian tersebut tidak memakan korban. Sebab siswa langsung diungsikan ke tempat yang aman guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

“Tadi pagi saya sudah meninjau langsung ke lokasi. Hari ini juga akan segera dibereskan dan dibenahi, sehingga aktivitas dapat secepatnya kembali seperti semula,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (11/10/2016).

Menurutnya, atap yang ambruk adalah atap ruang kelas satu. Pembenahan dilakukan dengan biaya BOS dari pusat. Yang mana dalam aturan diperbolehkan mengambil maksimal 10 persen guna perbaikan sekolah dalam kategori rusak ringan.

Untuk target selesai perbaikan diharapkan bisa selesai secepatnya. Biar siswa bisa segera kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas tanpa rasa khawatir.

“Sekolah di sana mendapatkan BOS Rp 160 juta, jadi sejumlah Rp 16 juta dapat digunakan untuk membenahinya. Jumlah tersebut dianggap cukup guna memperbaikinya,” ujarnya

Berdasarkan pantauan, ruang kelas satu tersebut langsung dikunci guna mengurangi kejadian. Selain itu, atap juga nampak hampir ambruk semuanya lantaran kayu sudah mulai lapuk.

Editor : Akrom Hazami

 

Sekolah di Jepara Dipacu Raih Adiwiyata Nasional

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat menebar benih lele di SDN 4 Kaliaman (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat menebar benih lele di SDN 4 Kaliaman (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sekolah yang berada di Kabupaten Jepara dipacu agar semakin banyak yang meraih penghargaan Adiwiyata Nasional. Selain bisa membanggakan, penghargaan itu juga memacu untuk memperhatikan lingkungan.

“Tahun 2015 ada dua sekolah di Jepara yang mendapat penghargaan Adiwiyata Nasional, yakni SDN 4 Kaliaman dan SMA N 1 Nalumsari,” kata Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat hadir pada acara gathering and sharing sekolah Adiwiyata Nasional di SDN 4 Kaliaman, Kecamatan Kembang, Rabu (20/1/2016).

Marzuqi mengapresiasi pelaksanaan program Adiwiyata di sekolah, karena sangat penting untuk menanamkam cinta lingkungan sejak dini. Anak-anak akan semakin sadar arti pentingnya kelestarian lingkungan hidup bagi manusia. Dengan demikian, pengalaman buruk berupa banyaknya penebangan hutan, diharapkan tidak lagi terulang.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jepara Fatkhurrahman mengatakan, dalam catatannya, implementasi program Adiwiyata di sekolah ini sudah dilakukan dalam berbagai kegiatan. Mulai dari pembuatan resapan air, pengelolaan sampah, pemanfaaatan lahan pekarangan dan kebun, serta pelestarian flora dan fauna.

Di Jepara, penghargaan sekolah Adiwiyata Nasional bukan hal baru. SDN 4 Panggang merupakan sekolah Adiwiyata Mandiri pertama di Jawa Tengah. Prestasi itu diraih tahun 2010, setelah sebelumnya tercatat tiga kali mendapat penghargaan Adiwiyata Nasional.

Pada tahun 2013, SD N 2 Pendem, Kecamatan Kembangjuga mendapat penghargaan Adiwiyata Nasional. Tahun berikutnya, verifikasi program ini di tingkat nasional diikuti MIN Cepogo,Kecamatan Kembang. “Itu belum termasuk sekolah-sekolah lain yang prestasinya baru sampai di tingkat provinsi,” katanya.

Di tingkat sekolah yang lebih tinggi, Adiwiyata tingkat provinsi juga diraih SMP N 1 Donorojo pada tahun 2015, SMA Negeri 1 Bangsri tingkat provinsi pada tahun 2015 dan tentu saja Adiwiyata Nasional untuk SMA N 1 Nalumsari tahun ini.

Sementara itu, Kepala SD N 4 Kaliaman Hadi Sutrisno mengakui program Adiwiyata di sekolahnya telah banyak merubah perilaku anak didik menjadi semakin mencintai lingkungan. Anak-anak dilibatkan dalam berbagai kegiatan penghijauan.

“Lingkungan sekolah yang rindang ini, taman-taman, serta tanaman obat dan sayuran di kebun belakang, banyak melibatkan anak-anak. Tidak hanya sejak penanaman. Mereka pula yang piket memupuk, menyiram, dan merawat,” katanya.

Sekolah juga mengelola sampah dengan baik. Anak-anak dibiasakan dalam kegiatan memilah sampah. “Sampah organik kami jadikan pupuk. Yang anorganik, sebagian kami jual. Tapi banyak yang kami manfaatkan untuk membuat barang-barang menarik,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Penyerahan SMA/SMK Rembang ke Pemprov Jateng, Pj Bupati Minta Nasib Guru Diperhatikan

Penjabat Bupati Rembang, Suko Mardiono memberikan arahan dalam rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wahid)

Penjabat Bupati Rembang, Suko Mardiono memberikan arahan dalam rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wahid)

 

REMBANG – Serah terima aset SMA/SMK dari Pemerintah Kabupaten Rembang ke Pemerintah Provinsi Jateng yang ditargetkan selesai pada Oktober 2016. Pj Bupati Rembang berpesan agar nasib guru diperhatikan dengan serius.

Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). Rakor tersebut sebagai tindaklanjut terkait UU Nomor 23 tahun 2014 tentang pelimpahan kewenangan pendidikan menengah kepada Pemerintah Provinsi.

Pj Bupati Rembang, Suko Mardiono berharap dalam rakor tersebut dijadikan sebagai wadah belanja permasalahan terkait pelimpahan kewenangan. Pasalnya di masing-masing kabupaten/ kota masalahnya bisa saja berbeda.

”Jangan sampai ketika pelimpahan kewenangan sudah selesai, ternyata masih ada hal atau permasalahan yang tercecer. Utamanya terkait nasib guru maupun dari institusinya itu,” pesannya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, Noor Effendy mengaku dari 4 hal terkait personel, pendanaan, prasarana, dan dokumen (P3D) yang paling memerlukan kerja ekstra yakni tentang aset.

Pasalnya ada beberapa sekolah yang lahannya dipakai bersama, seperti di SMK Gunem, lahan yang digunakan milik SMP Gunem. ”Nah rakor ini salah satu tujuannya untuk mencari solusi permasalahan tersebut. Pencatatan dan dokumennya seperti apa. Apakah nanti SMK dicarikan lahan sendiri atau yang lahan itu apakah bisa ditata bersama,” ujarnya.

Ada empat hal yang menjadi fokus pembahasan dalam rakor tersebut, yakni personel guru, tenaga karyawan dan siswa, pendanaan, sarana prasarana, serta dokumen. (AHMAD WAHID/TITIS W)

9 SMA dan 6 SMK di Rembang Akan Diserahkan ke Provinsi Jateng, Ada Apa?

Rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Sebanyak 9 Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 6 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berstatus negeri, akan diserahkan kepada pihak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi yang digelar oleh Bappeda Rembang di Lantai IV Setda Rembang, Rabu (13/1/2016). Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, Noor Effendy menjelaskan, total ada 9 SMA dan 6 SMK yang berstatus negeri terkait dengan penyerahan aset.

”Sedangkan yang swasta tetap milik yayasan dan hanya pengelolaannya saja yang beralih,” ujarnya.
Selain persoalan penyerahan aset, rakor tersebut juga membahas persoalan lainnya terkait personel, pendanaan, prasarana, dan dokumen (P3D). Hal itu dalam rangka menindaklanjuti UU Nomor 23 tahun 2014 tentang pelimpahan kewenangan pendidikan menengah kepada provinsi.

Effendy menambahkan, terkait personel guru dan tenaga karyawannya menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi. Menurutnya, sekitar 650 guru SMA dan SMK yang berada di Kabupaten Rembang, terkait penggajian dan pembinaannya akan berasal dari Pemerintah Provinsi mulai 2017 nanti.

”Sementara untuk sarana prasarana seperti aset tanah, peralatan dan gedung nanti pencatatannya akan diserahkan. Namun, gedung sekolahnya dan muridnya tetap di sini. Hanya pengelolaannya dan pencatatannya yang berpindah,” imbuhnya.

Untuk penganggaran mulai 2017, lanjut Effendy, sudah diback up melalui Pemerintah Provinsi. Sedangkan yang terakhir penyerahan dokumen-dokumen untuk melengkapi aset dan personel. ”Serah terima aset SMA/SMK dari Kabupaten ke Provinsi ditarget Oktober 2016,” tandasnya.

Rakor tersebut juga dihadiri oleh seluruh kepala Sekolah SMA/SMK baik negeri maupun swasta. Dengan mendatangkan narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi, BKD Provinsi dan Dinas PPAD Provinsi Jawa Tengah. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Video – Siswa SMP Islam di Jepara Ini Gelar Pilkosis Layaknya Pemilihan Presiden

SMP Islam Asy-Syafi’iyah Batealit, Jepara sedang menggelar pemilihan ketua OSIS (Pilkosis) layaknya pemilihan umum (Pemilu) Presiden. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

SMP Islam Asy-Syafi’iyah Batealit, Jepara sedang menggelar pemilihan ketua OSIS (Pilkosis) layaknya pemilihan umum (Pemilu) Presiden. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Asy-Syafi’iyah Batealit Jepara ini menggelar pemilihan ketua OSIS (Pilkosis) layaknya pemilihan umum (Pemilu) Presiden. Pasalnya, selain prosedur yang digunakan pemilihan sama, antusiasme siswa juga besar.

Pelaksanaan Pilkosis ini digelar di dalam ruang kelas, diikuti 208 siswa dan 20 guru. Mereka melaksanakan pemilihan secara transparan, dan demokratis. Seperti pemilu pada umumnya, ada surat suara, kotak suara hingga tinta tanda mencoblos.

Kepala SMP Islam Asy-Syafi’iyah, Abdul Manan mengatakan, dengan berakhirnya masa tugas kepemimpinan OSIS yang lama, pada Rabu 6 Januari 2016 mengadakan pemilihan ketua OSIS baru. Menurutnya, kegiatan bertujuan untuk meningkatkan jiwa nasionalisme dan demokratisasi antar warga sekolah dan untuk mengembangkan peran peserta didik untuk dapat melaksanakan dan mengerti arti pemiliham umum, khususnya bagi pelajar secara langsung. Seperti pada pemilihan umum yang diselenggarakan oleh komisi pemilihan umum (KPU).

”Ini sebagai pelatihan kepada anak-anak, melatih untuk berdemokrasi. Sebab dalam sekolah adalah pembelajaran, pelatihan pembiasaan agar suapaya anak bisa melaksanakan pembelajaran dan pelatihan berdemokrasi di masyarakat dan berpolitik,” ujar Abdul Manan kepada MuriaNewsCom, Rabu (6/1/2016).

Sedangkan para siswa merasa senang dengan praktik pemilihan umum tersebut. Hal itu seperti yang dikatakan salah seorang siswa, Rizki. Menurutnya, dia baru kali pertama mengikuti proses pemilihan secara langsung layaknya pemilu. Sehingga, dia merasa bangga.

Bak pemilihan sesungguhnya, ruang kelas disulap dan dijadikan tempat pemungutan suara. diawali dengan menukarkan blangko undangan pemilih dengan surat suara, kemudian para pemilih menggunakan hak pilihnya di bilik suara dan kemudian dimasukkan ke kotak suara. Yang terakhir tidak lupa memberi tanda tinta bagi pemilih yang selesai menggunakan hak pilihnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

 

Siswa di Jati Pulang Gasik, Guru Bertahan di Sekolah

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kejadian banjir yang berdampak pada siswa yang dipulangkan lebih awal, nampaknya tidak berlaku bagi gurunya. Sebab meski sekolahnya kosong tanpa siswa, para guru lebih memilih bertahan di sekolah tersebut.

Hal itu diungkapkan Kepala UPT Kecamatan Jati Sulardi. Menurutnya, meski para siswa dipulangkan, namun para pendidik dan penjaga sekolah masih bertahan di sekolah.

”Mereka menunggu banjir surut. Kemudian bersama-sama membersihkan sekolah dari sampah dan lumpur yang terbawa banjir,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kegiatan bersih sekolah itu dilaksanakan secara gotong royong. Dengan cara itu, maka dalam membersihkan sekolah terselesaikan dengan cepat.

Alasan lain juga, lanjutnya karena PNS harus disertai dengan absensi. Bukan hanya absen berangkat saja, melainkan absen pulang. Hal itu juga membuat pendidik PNS bertahan disekolah.

Jumlah sekolah yang terendam tergolong banyak. Sebab dari 47 SD yang ada, 5 sekolah terendam air. Jumlah itu menjadi langganan setiap tahunnya.

”Hampir setiap musim hujan semacam ini. Jadi butuh kerja sama semua pihak untuk menanganinya,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Berikut Daftar Sekolah di Jati yang Terendam Banjir

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seluruh siswa SMP 2 Jati pagi tadi dipulangkan karena kelasnya terendam banjir dan tidak memungkinkan dilaksanakan KBM. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ratusan siswa yang terdapat di enam sekolah di Kecamatan Jati, terpaksa dipulangkan lebih awal. Hal itu terjadi lantaran sekolah terendam air sehingga proses Kegiatan Belajar Mengajar tidak dapat dilaksanakan.

Sulardi, kepala UPT Kecamatan Jati mengatakan, dalam Kecamatan Jati terdapat setidaknya enam sekolah yang harus dipulangkan siswanya. Pihak UPT terpaksa menyetujui kebijakan itu lantaran kondisi yang tidak memungkinkan untuk kegiatan KBM.

”Air sampai masuk kedalam kelas. Jadi bagaimana siswa mau nyaman belajar jika kondisinya semacam itu,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dampaknya, ratusan siswa menjadi korban banjir. Hak mereka untuk menimba ilmu harus tertunda sampai kelas kembali aman untuk digunakan aktivitas belajar.

Beberapa sekolah yang menjadi korban, lanjutnya, seperti di SD 1, 3 dan 4 Jati Wetan. SD tersebut terkena air hingga masuk ke dalam kelas. Bahkan, SD 1 Jati Wetan sampai terkepung air banjir, sehingga bukan hanya sekolahnya namun juga aksesnya juga terkendala.

Kemudian SD lain yang terkepung banjir adalah SD 1 Tanjung Karang. Sama dengan SD 1 Jati Wetan, di SD tersebut juga memiliki akses yang tergenang air. Berikutnya adalah SD 1 Jati Kulon dan SD 4 Loram Wetan. Sedangkan untuk tingkat SMP, SMP 2 Jati siswanya juga pulang terlebih dahulu lantaran terkena banjir.

”Saya sudah komunikasi dengan pihak sekolah, mereka menyatakan akibat banjir jadi tidak dapat dilanjutkan KBM,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Memprihatinkan, 5 Tahun Berdiri MI di Rahtawu Ini Tak Beratap

Kondisi bangunan MI NU Wahid Hasyim Rahtawu Kecamatan Gebog yang belum mampu membangun atap sehingga KBM masih dilaksanakan di gedung TPQ setempat secara bergantian. (ISTIMEWA)

Kondisi bangunan MI NU Wahid Hasyim Rahtawu Kecamatan Gebog yang belum mampu membangun atap sehingga KBM masih dilaksanakan di gedung TPQ setempat secara bergantian. (ISTIMEWA)Ra

 

KUDUS – Minimnya fasilitas yang dialami MI NU Wahid Hasyim Rahtawu, Kecamatan Gebog tidak menyurutkan semangat kegiatan belajar mengajar (KBM) para murid di Madrasah Ibtidaiyah tersebut. Semangat itulah yang menjadi kekuatan sekolah yang berdiri pada tahun 2011 itu untuk tetap mendidik para penerus bangsa di desa sekitar.

Kepala MI NU Wahid Hasyim Rahtawu, Kecamatan Gebog Ubaidillah Dwi Lazuardi mengatakan, memang disaat penerimaan siswa baru (PSB) pada tahun 2011 lalu, para murid terlebih dahulu ditampung di rumah warga sekitar RT 5 RW 3, Rahtawu, Gebog.

Setelah satu tahun berjalan, jumlah murid meningkat. Sehingga KBM tersebut dipindah di gedung TPQ Raudlatul Athfal yang letaknya tidak jauh dari rumah warga tersebut. Pemindahan KBM ke gedung TPQ tersebut diharapkan dapat menampung murid lebih banyak lagi, dan membuat nyaman belajar.

”Setelah ditampung di TPQ, tahun 2013 kami mendapat bantuan Rp 50 juta dari Kemenag pusat. Dan bantuan itu langsung kami gunakan membangun 4 lokal. Pembangunan lokal tersebut juga masih dibantu swadaya masyarakat hingga Rp 20 jutaan. Akan tetapi bangunan ini belum bisa diberikan atap yang layak,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, sekolah yang berada di bawah Badan Pelaksana Pendidikan Ma’arif NU Wahid Hasyim Kudus tersebut terdapat 74 murid. Sejumlah murid tersebut terbagi dalam 5 kelas yang nampak semangat dalam menempuh pendidikan. Meskipun KBM dilaksanakan di gedung TPQ.

”Alhamdullillah meskipun dalam kondisi bangunan seadanya, tetapi anak didik kami bisa menunjukan prestasinya. Diantaranya Juara II Putri lomba puisi dan juara 3 putri menggambar di hari pendidikan yang diselenggarakan IPNU IPPNU Kudus 2013. Dan yang terakhir yakni juara II Tingkat Kecamatan lomba Pramuka yang diadakan UPT Kecamatan Gebog belum lama ini,” tuturnya.

Meski dengan kondisi fasilitas sekolah yang belum memadai, pihak guru serta masyarakat setempat tetap optimistis bisa memajukan sekolah dan juga murid yang berprestasi. ”Yang penting kita harus semangat. Supaya anak didik juga semangat. Selain itu, kami juga telah membeli tanah seluas 300m dengan harga Rp 20 juta. Dana tersebut kami peroleh dari jerih payah menggandeng masyarakat setempat dan bantuan PR Sukun,” tuturnya.

Dia menilai, perjuangan mendidik anak belum cukup sampai di sini. Pihaknya berharap dinas terkait bisa ikut berpartisipasi dalam mendidik generasi bangsa. Sehingga kesejahteraan warga negara dalam menempuh dunia pendidikan terjamin.

”Pendidikan itu bukan sekadar urusan dari guru dan warga setempat. Akan tetapi dinas terkait juga kami harapkan bisa ikut serta. Sehingga masyarakat Rahtawu ini bisa menikmati pendidikan yang baik dan lebih layak,” terangnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Hari Pertama Masuk Sekolah, Murid MI Miftahut Tholibin Antusias Ikuti KBM

MI Miftahut Tholibin, Mejobo, Sholikhul Anwar bersama dengan para murid barunya bersiap memasuki kelas untuk memulai KBM, Senin (27/7/2015). (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

MI Miftahut Tholibin, Mejobo, Sholikhul Anwar bersama dengan para murid barunya bersiap memasuki kelas untuk memulai KBM, Senin (27/7/2015). (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Senin (27/7/2015) ini merupakan hari pertama masuk sekolah di wilayah Kudus. Libur semesteran yang disambung dengan libur Lebaran yang cukup panjang ini membuat murid-murid nyaris melupakan waktunya sekolah. Namun, pada hari ini mereka masuk ke sekolah lagi untuk menuntut ilmu.  Lanjutkan membaca

Museum Tak Laku, Pihak Sekolah Minta Dilibatkan

Pengunjung museum sedang melihat-lihat benda purbakala. (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

Pengunjung museum sedang melihat-lihat benda purbakala. (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Sepinya pengunjung museum purbakala ternyata mendapat perhatian dari beberapa pihak. Mereka ini merasa sangat prihatin dengan kondisi museum yang didalamnya terdapat aset yang sangat berharga bagi sejarah Grobogan. Untuk itu, perlu dilakukan pengelolaan yang lebih serius dengan melibatkan beberapa pihak. Lanjutkan membaca