Jauh-jauh dari Jayapura, Ini Tujuan SD Inpres Komba Berkunjung ke SDN 4 Purwodadi

MuriaNewsCom, GroboganBelasan guru SD Inpres Komba, Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua Kabupaten Jayapura, Papua berkunjung ke SDN 04 Purwodadi Grobogan, Selasa (13/2/2018).

Kedatangan rombongan dari Papua ke SDN 04 Purwodadi itu dipimpin Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Jayapura Suprojo. Selain itu, ikut pula Kepala Sekolah SD Inpres Komba Agustina Sokoy juga ikut serta dalam kunjungan tersebut.

Kepada MuriaNewsCom, rombongan istimewa dari Jayapura itu rela jauh-jauh ke SDN 04 Purwodadi untuk menimba ilmu. Hal itu dilakukan tak lepas dari prestasi yang baru saja diraih SD favorit di Grobogan tersebut. Yakni, keberhasilan meraih prestasi juara I tingkat nasional dalam Lomba Budaya Mutu untuk kategori komponen pembelajaran.

Dari pantauan di lapangan, sebelum mendapat penjelasan dari pihak sekolah, belasan guru sudah menyebar ke beberapa ruang kelas dan sekitar halaman. Mereka mengamati proses belajar mengajar dari dalam dan luar kelas. Selain itu, para guru dari Papua juga tampak serius melihat siswa yang sedang mengerjakan kegiatan di halaman sekolahan.

Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Jayapura Suprojo menerangkan, kedatangannya ke Grobogan dalam rangka menimba ilmu masalah komponen pembelajaran. Sengaja para guru memilih datang ke Grobogan karena SDN 04 Purwodadi adalah peraih juara I nasilnal dalam lomba budaya mutu kategori komponen pembelajaran pada tahun 2017 lalu.

Keinginan untuk menimba ilmu ke Grobogan juga mendapat dukungan penuh dari Kepala Dinas Pendidikan Jayapura. Rencananya, kunjungan kerja di Grobogan akan dilangsungkan hingga Rabu besok.

”Kami datang jauh-jauh dari Papua kesini untuk menimba ilmu dari SDN 04 Purwodadi. Apa yang sudah dilakukan disini akan coba kita aplikasikan di tempat kami. Jadi, kami kesini bukan dalam rangka rekreasi tetapi melangsungkan studi banding. Semoga banyak manfaat yang bisa kita dapat dari kegiatan ini dan berimbas pada kemajuan pendidikan di Papua, khususnya di Jayapura,” katanya.

Sementara itu, Kepala SDN 04 Purwodadi Widarti mengaku bangga dengan kunjungan yang dilakukan koleganya dari Papua tersebut. Menurutnya, keberhasilan jadi juara menjadi berkah bagi sekolahnya karena bisa berbagi ilmu pada rekan guru dari berbagai daerah.

”Sebelumnya, jarang ada studi banding di sekolah kami. Setelah jadi juara, banyak yang ingin kesini. Beberapa waktu lalu kita ada kunjungan guru dari Jepara, Blora dan daerah lainnya. Hari ini, malah rekan guru dari Papua yang datang kesini,” katanya.

Dijelaskan, selain pembelajaran di sekolah, rombongan dari Papua akan diperlihatkan serangkaian kegiatan ekstra kulikuler para siswa. Kebetulan pada tiap Selasa ada jadwal beberapa kegiatan ekstra kulikuler.

”Tiap Selasa ada kegiatan karate, musik, drumband di sekolahan. Kemudian, ada ekstra karawitan dan ketoprak di pendopo. Nanti akan kita ajak rekan dari Papua untuk melihat kegiatan ekstra kurikuler,” imbuhnya. (NAO)

Editor: Supriyadi

Ratusan Guru SD dari Blora Timba Ilmu ke SDN 04 Purwodadi Grobogan

Anggota Pocil SDN 04 Purwodadi menyuguhkan atraksi menyambut kedatangan rombongan guru dari Kecamatan Kedungtuban, Blora yang melangsungkan studi banding, Kamis (7/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSDN 04 Purwodadi mendapat tamu istimewa, Kamis (7/12/2017). Yakni, sekitar 120 guru SD beserta kepala sekolah, pengawas dan kepala UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Kedungtuban, Blora. Kedatangan ratusan guru tersebut dalam rangka studi banding ilmu pembelajaran.

“Beberapa hari lalu kita ada kunjungan guru dari Jepara. Hari ini, gentian rekan guru dari Blora yang datang ke sini,” kata Kepala SDN 04 Purwodadi Widarti.

Kedatangan banyak guru itu SDN 04 Purwodadi itu cukup beralasan. Soalnya, salah satu SD favorit di Grobogan tersebut yang baru saja meraih prestasi juara I tingkat nasional dalam Lomba Budaya Mutu untuk kategori komponen pembelajaran.

“Sebelumnya, jarang ada studi banding di sekolah kami. Setelah jadi juara, banyak yang ingin kesini. Keberhasilan jadi juara menjadi berkah bagi kami karena bisa berbagi ilmu pada rekan guru dari kabupaten lain,” cetus Widarti.

Dari pantauan di lapangan, sebelum mendapat penjelasan dari pihak sekolah, ratusan guru sudah menyebar ke beberapa ruang kelas dan sekitar halaman. Mereka mengamati proses belajar mengajar dari luar kelas. Selain itu, para guru dari Blora juga tampak serius melihat siswa yang sedang mengerjakan prakarya di teras kelas dan halaman.

Rombongan studi banding yang datang dengan dua bus dan beberapa mobil juga sempat melihat kebolehan polisi cilik (Pocil) siswa SDN 04 Purwodadi. Berbagai atraksi yang ditampilkan di halaman sempat membuat decak kagum sejumlah guru dari Blora itu. Bahkan, banyak diantaranya yang mengabadikan atraksi pocil lewat kamera handphone.

“Wah, kemampuan pocil SDN 04 Purwodadi ini bagus sekali. Gerakan yang dilakukan terlihat sangat kompak,” kata Sujarwo, salah satu guru dari Blora yang ikut acara studi banding tersebut.

Menurutnya, peserta studi banding sebagian besar adalah guru kelas I dan IV. Kemudian, ditambah guru olahraga dan agama.

Editor: Supriyadi

Kepergok Warga, Aksi Tiga Bocah Bobol SD di Dawe Berakhir di Kantor Polisi

Tiga remaja masih usia belasan tahun tepergok warga Dawe Kabupaten Kudus saat melakukan pembobolan SDN 1 Margorejo, Dawe Kudus Jawa Tengah, Senin (20/11/2017) malam. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Aksi tiga bocah di bawah umur yang hendak membobol SD 1 Margorejo, Dawe berakhir di kantor polisi, Senin (20/11/2017) malam. Tiga bocah tersebut berhasil ditangkap setelah dipergoki warga atas aksinya tersebut.

Kapolsek Dawe AKP Suharyanto mengatakan, tiga bocah tersebut adalah ADE (15), MW (15), dan AK (14). Ketiganya merupakan warga Desa Karangmalang, Gebog. Ketiganya datang bersama khusus membobol SD dan berniat menguras barang berharga didalamnya.

”Kejadiannya sekitar pukul 19.30 WIB. Saat itu, para pelaku datang dengan mengendarai sebuah sepeda motor berbonceng tiga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Baca: Perempuan Paruh Baya di Tegalarum Pati Gantung Diri, Ini Penyebabnya

Menurut dia, ketiga pelaku mengendarai sepeda motor Supra Vit bernopol K 2619 KT. Setelah sampai sekolah, ketiganya langsung menjebol jendela ruang guru yang terbuat dari kaca.

Setelah masuk, kata Kapolsek, mereka langsung mengacak-acak isi kantor bermaksud mencari barang berharga. Setelah membuka laci yang ada di dalam, akhirnya mereka menemukan uang sebesar Rp 410.000. Setelah dapat barang  incaran, para pelaku langsung kabur.

”Pada saat itulah ketiga pelaku dipergoki warga. Warga kemudian mengejar pelaku dan akhirnya tertangkap dan diserahkan kepada Polsek Dawe,” ungkap dia.

Saat ini, lanjut dia, ketiga pelaku sudah diserahkan ke Polres Kudus unit PPA. Karena melihat usia pelaku yang masih di bawah umur sehingga membutuhkan penanganan yang khusus.

Editor: Supriyadi

260 SD di Jepara Masih Gunakan KTSP 

Direktur RBI ketika mendongeng dihadapan siswa SD di Jepara (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 260 Sekolah Dasar belum melaksanakan Kurikulum 2013 (Kurtilas). Namun Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara mengklaim kesiapan perangkat sekolah dalam hal ini guru dalam melaksanakan kurikulum tersebut. 

Kesiapan tersebut menurut Kasi Pengendalian Mutu SD Haryanto, karena pihaknya rutin menyelenggarakan Bimbingan Teknis terkait Kurtilas, kepada guru dan kepala sekolah. Akhir pekan ini, ia mengatakan Disdikpora menggelar bimtek untuk guru kelas 4 dan 6 serentak diseluruh kabupaten Jepara. 

Menurutnya, dari 595 SD di Jepara, Kurtilas baru dilaksanakan di 335 SD. Namun ia mengklaim, jumlah sekolah yang menerapkan kurikulum tersebut, selalu bertambah dari tahun pertama pelaksanaan kurikulum 2013. 

“Sebanyak 260 SD masih melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Namun terhitung hari Jumat kemarin hingga Senin lusa kami menyelenggarakan bimtek untuk guru kelas 4 dan 6 serta kepala sekolah. Dengan adanya bimbinban teknis ini artinya semua guru dan kepala sekolah sudah mengikuti bimbinban terkait kurtilas,” ujarnya, Sabtu (21/10/2017).

Ia merinci, pada tahun pelajaran 2015/2016 Kurtilas diterapkan pada 12 SD yang ditunjuk oleh pemerintah. Pada tahun ajaran berikutnya diikuti 144 dan selanjutnya 199 sekolah. Haryanto mengatakan, sekolah-sekolah yang belum melaksanakan kurtilas telah didaftarkan dan diajukan untuk melaksanakan kurikulum 2013 pada tahun ajaran mendatang. 

“Pemerintah pusat menargetkan tuntas di tahun 2019. Artinya masih ada dua kali awal tahun pelajaran. Kami kira tahun pelajaran mendatang bisa tuntas semua. Akan tetapi hal itu bergantung pada penunjukan pusat. 

Terkait buku pendukung, ia mengatakan telah menyiapkan melalui anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Pada tahun ini, sekolah diwajibkan membeli buku Kurtilas dengan alokasi 20 persen dari BOS yang diterima. 

Editor: Supriyadi

Rusak Parah, 147 Ruang Kelas SD di Grobogan Butuh Perbaikan Segera

Inilah salah satu kondisi ruang kelas rusak di SDN 5 Sembungharjo, Kecamatan Pulokulon yang mendesak ditangani. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Jumlah ruang kelas SD di Grobogan yang kondisinya rusak parah ternyata masih banyak. Berdasarkan pendataan terbaru yang dilakukan Dinas Pendidikan Grobogan, jumlah ruang kelas yang rusak parah ada 147 unit. Ruang kelas rusak sebanyak itu berada pada 50 SD.

“Ruang kelas di 50 SD yang kondisinya rusak akan jadi skala super prioritas untuk ditangani. Soalnya, kondisinya kurang representatif untuk kegiatan pembelajaran,” kata Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Grobogan Amin Hidayat, usai menghadiri rakor membahas gedung SD rusak bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni dan pejabat terkait lainnya, Selasa (17/10/2017).

Jumlah kerusakan ruang kelas pada tiap SD bervariasi. Ada SD yang ruang kelasnya hanya rusak parah 1 unit saja. Namun, ada beberapa SD yang 6 ruang kelasnya rusak.

Sekolah yang memiliki ruang kelas rusak itu tersebar di beberapa kecamatan. Yakni, Pulokulon (3), Karangrayung (8), Toroh (5), Geyer (7), Kradenan (3), Gabus (4), Wirosari (3), Tawangharjo (3), Grobogan (8), Klambu (1), Godong (2), Gubug (1), dan Tanggungharjo (2).

Bangunan SD yang rusak kebanyakan dibangun tahun 80 an lewat program Inpres. Sebagian atap bangunan masih menggunakan seng.

Amin menyatakan, pendataan ulang terkait kondisi gedung sekolah itu diperlukan agar perencanaan dan upaya penanganan bisa dilakukan dengan tepat. Dari data yang terkumpul nantinya akan dipilih skala super prioritas. 

Editor: Supriyadi

Anggota DPRD Grobogan Ini Disambut Meriah Saat Pantau  Penerimaan Siswa Baru

Puluhan siswa SDN 04 Tambirejo, Kecamatan Toroh menyambut kedatangan anggota DPRD Grobogan Sarjono (batik merah) dan rombongan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)rd

MuriaNewsCom, Grobogan – Sambutan meriah diberikan siswa dan guru SDN 04 Tambirejo, Kecamatan Toroh, saat menerima kunjungan anggota Komisi D DPRD Grobogan, Selasa (18/7/2017). Terlebih, saat itu ada anggota Komisi D Sarjono yang ikut dalam rombongan.

Bagi guru di sekolahan tersebut, sosok Sarjono dirasa bukan orang asing. Tetapi dianggap sebagai bagian dari keluarga besar SDN 04 Tambirejo.

Ternyata, sebelum menjadi anggota dewan, Sarjono yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah di SDN 04 Tambirejo. Sarjono menjabat kepala sekolah selama beberapa tahun hingga masuk masa pensiun tahun 2007.

Tak berlebihan kiranya jika saat Sarjono dan rombongan datang, sambutan yang dilakukan cukup mengesankan. Bahkan, beberapa wali murid yang kebetulan ada di sekolahan juga masih mengenali sosok Sarjono.

“Boleh dibilang SDN 04 Tambirejo ini seperti rumah sendiri. Soalnya, saya kebetulan pernah jadi kepala sekolah disini sampai masa pensiun,” kata wakil rakyat dari Partai Amanat Nasional itu.

Kunjungan wakil rakyat itu dilakukan dalam rangka monitoring penerimaan siswa baru tahun ajaran 2017/2018. Dalam kunjungan itu, tampak pula Kabid Pendidikan SD Dinas Pendidikan Grobogan Amin Hidayat dan Kepala UPTD Kecamatan Toroh Djoko Suprijanto.

Menurut Sarjono, dalam pantauan yang dilakukan, ada sekolah yang kelebihan pendaftar seperti di SDN 04 Tambirejo. Namun, ada pula sekolah yang tidak dapat siswa baru.

“Untuk sekolah yang tidak dapat murid baru, solusinya memang perlu dimerger atau digabung. Buat sekolah yang kelebihan murid nantinya perlu disiapkan pembuatan ruang kelas tambahan supaya kegiatan belajar tidak memakai ruangan bergantian,” jelasnya. 

 

Editor : Akrom Hazami

 

SD di Grobogan ini Justru Kelebihan Siswa Baru

Siswa SDN 04 Tambirejo, Kecamatan Toroh sedang latihan menyanyi lagu perjuangan di ruang kelas. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Fenomena penerimaan siswa baru tingkat SD di Grobogan ternyata cukup menarik. Sebabnya, ada sekolah yang tidak dapat siswa baru pada tahun ajaran 2017/2018 ini. Seperti di SDN 03 Danyang, Kecamatan Purwodadi yang dalam dua tahun terakhir tidak ada siswa baru untuk kelas I.

Meski demikian, ternyata ada juga sekolahan yang justru kelebihan siswa baru. Salah satunya adalah SDN 04 Tambirejo, Kecamatan Toroh.

Kelebihan pendaftar pada sekolahan ini sudah terjadi tiap tahun. Untuk menyiasati supaya siswa tetap tertampung, masing-masing kelas dipecah jadi dua, dari kelas I sampai VI. Yakni, kelas A dan B.

Dengan kebijakan ini ada konsekuensi yang harus dilakukan. Untuk siswa kelas II terpaksa masuk pelajaran agak siang, setelah siswa kelas I pulang. Para siswa kelas II ini melakukan kegiatan belajar di ruang yang sebelumnya dipakai adik kelasnya.

“Kita memang kelebihan murid tetapi ruang belajarnya yang kurang. Tepaksa ada kegiatan belajar yang kita sif. Jumlah murid keseluruhan ada 309 orang,” jelas Kepala Sekolah SDN 04 Tambirejo Endang Sri Purwati saat menerima kunjungan anggota Komisi D DPRD Grobogan bersama Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Grobogan Amin Hidayat, Selasa (18/7/2018).

Kepala UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Toroh Djoko Suprijanto menyatakan, banyaknya siswa di SDN 04 Tambirejo itu disebabkan beberapa faktor. Antara lain, lokasi sekolahan berada di tengah dua dusun yang jumlah penduduknya cukup banyak. Selain itu, tidak ada SD lain yang berdiri di dekatnya sehingga sekolahan itu jadi pilihan warga sekitar untuk menyekolahkan anaknya.

“Jadi, faktor lokasi sekolahan saya rasa juga ada pengaruhnya dengan banyak atau sedikitnya jumlah pendaftar baru. Untuk lokasi yang terdapat banyak sekolah berdekatan, biasanya ada yang kekurangan siswa,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Alasan SD 1 Barongan Dipindah ke SD 1 Wergu Wetan Kudus

Siswa SD 1 Barongan Kudus melakukan kegiatan belajar mengajar di bangunan SD 1 Wergu Wetan, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dipindahnya proses kegiatan belajar mengajar SD 1 Barongan ke SD 1 Wergu Wetan Kudus, bukanlah tanpa sebab, Senin (10/4/2017).  Ratusan siswa dipindah lantaran bangunan kelasnya sedang dalam proses renovasi.

Sedangkan, alasan menggunakan SD 1 Wergu Wetan, karena lokasinya yang dianggap paling pas. Mulai dari lokasinya, tempat parkir hingga ruang kelasnya yang dianggap sesuai dan cukup untuk kebutuhan sekolah.

Kabid Dikdas Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, para siswa SD 1 Barongan dipindah sementara ke SD 1 Wergu Wetan lantaran lokasi tersebut yang dianggap paling pas untuk pemindahan sementara. Sebelum memutuskan untuk menempati SD 1 Wergu Wetan, sejumlah SD lainnya juga sempat menjadi rujukan.

“Beberapa SD sudah kami datangi, khususnya yang dekat. Seperi SD Glantengan, yang juga terdapat lokasi yang mumpuni, namun kendalanya adalah pada area parkir yang tidak ada. Saat itulah diputuskan untuk menempati SD 1 Wergu Wetan,” katanya kepada MuriaNewsCom saat meninjau siswa.

Menurutnya, kedatangan dia ke lokasi lantaran untuk memastikan keadaan di lokasi baru berjalan dengan lancar dan aman. Dia juga memastikan bahwa kebutuhan para siswa bisa tercukupi selama dipindah ke tempat yang baru itu.

Dia yang juga Ketua PGRI Kudus,  mendatangi satu per satu kelas secara langsung. Dia juga sempat bertanya kepada para siswa di kelas. “Bagaimana kabarnya? Senang tidak dengan lokasi baru? dengan tempat baru?, Apa kalian tahu kenapa dipindah di sini?,” tanyanya saat masuk ke ruang kelas satu.

Para siswa menjawab senang dan nyaman di tempat baru. Siswa juga menjawab kalau sekolahnya sedang dibangun lebih bagus lagi biar nyaman untuk belajar.

Editor : Akrom Hazami

 

Antisipasi Info Hoax, Guru dan Wali Murid SD Al Firdaus Purwodadi Dapat Tips dan Trik Keren

Paur Humas Polres Grobogan Aiptu Teddy Hernomo saat menyampaikan sosialisasi cara bijak menggunakan medsos pada wali murid dan guru SD Al Firdaus Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan guru dan wali murid SD Al Firdaus Purwodadi mendapat pembekalan khusus terkait penggunaan media sosial (medsos) dari Polres Grobogan, Sabtu (25/2/2017). Acara pembekalan disampaikan Paur Humas Polres Grobogan Aiptu Teddy Hernomo tersebut.

“Seperti kita ketahui, medsos ini sudah digunakan oleh berbagai kalangan. Mulai anak-anak sampai orang tua sudah akrab dengan dunia medsos,” kata Teddy.

Hadirnya medos di satu sisi memang banyak sekali manfaatnya. Seperti menambah teman, memperluas jaringan, dan mencari berbagai informasi.

Namun, disisi lain, banyak pula hal-hal negatif yang ada di balik medsos tersebut. Misalnya, banyak berita tidak benar atau hoax yang sering muncul dalam medsos.

“Keberadaan medsos memang seperti dua mata pisau. Banyak manfaat dan juga ada dampak negatifnya. Hal inilah yang harus jadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Untuk menekan dampak negatif, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman tentang keberadaan media sosial tersebut. Termasuk peraturan perundangan yang mengatur masalah tersebut.

Kemudian, hal-hal yang perlu dihindari dalam penggunaan media sosial juga perlu disampaikan. Misalnya, hati-hati berteman dengan akun atau grup yang tidak dikenal, menampilkan konten yang tidak sesuai dengan etika, dan menghujat seseorang.

Selain itu, butuh pula dukungan pengawasan dari orang tua terhadap aktivitas yang dilakukan anaknya menggunakan fasilitas internet. Baik lewat komputer, laptop atau ponsel pintar.

“Penting bagi orangtua untuk dapat memastikan keamanan anak-anaknya saat berinteraksi di media sosial. Jangan biarkan begitu saja ketika anak sudah asyik main internetan,” sambungnya.

Terkait pengawasan dari orang tua tersebut juga terdapat kendala. Banyak orang tua yang justru tidak paham dengan dunia internet termasuk medsos. Bahkan, banyak pula yang tidak menggunakan ponsel canggih seperti yang dipakai anaknya.

“Nah, hal ini juga jadi persoalan tersendiri. Untuk pengawasan, kita juga bisa minta bantuan saudara lainnya yang lebih paham atau guru di sekolahan. Pada prinsipnya upaya pengawasan dan memberikan pemahaman perlu terus dilakukan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Siswa SD 1 Jati Kulon Kudus  Kaget Kedatangan Polisi saat Upacara

 Siswa dan polisi mengikuti upacara sekolah di SD 1 Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Siswa dan polisi mengikuti upacara sekolah di SD 1 Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Upacara bendera kerap dilaksanakan tiap Senin pagi di sejumlah sekolah. Namun ada yang berbeda pada upacara bendera di SD 1 Jati Kulon, Jati, Senin (30/1/2017). Karena upacara bendera kali ini tampak dihadiri petugas kepolisian setempat.

Muhammad Iqbal, siswa kelas VI SD mengaku kaget saat melihat sejumlah petugas kepolisian yang berbaris di depan saat upacara.  Karena hal itu jarang dijumpai di sekolah SD 1 Jati Kulon. “Kaget, pagi ini ada polisi yang datang saat upacara seperti ini. Biasanya hanya guru dan teman-teman di SD ini saja,” katanya usai upacara bendera di SD 1 Jati Kulon.

Kedatangan polisi di upacara sekolah membuat dia dan teman-temannya lebih serius. Sebab dia melihat sosok polisi selama ini dianggapnya sebagai pribadi yang sangar. Namun dengan upacara kali ini, dia mengetahui kalau polisi merupakan sosok yang kalem.

Dalam upacara tersebut, turut hadir Kapolsek Jati AKP Catur Kusuma Adhi bersama babinkamtibmas. Hadir pula dalam upacara Kepala UPT Jati Sulardi, yang mendampingi upacara bendera di SD tersebut. Kegiatan ditutup dengan silaturahmi berupa salaman dengan petugas kepolisian dan juga UPT Jati.  Sulardi menambahkan, pihaknya senang dengan keikutsertaannya dalam upacara. Dengan demikian maka para siswa khususnya SD mengetahui kalau polisi adalah mitra masyarakat, termasuk pelajar.

“Ini bisa dilanjutkan ke sekolah lainnya, dengan pemahaman kepada siswa SD,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Di Kudus, Ada Progam Guru Mengajar Bersama

Siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di salah satu sekolah dasar di Kudus. (MuriaNewsCom).

Siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di salah satu sekolah dasar di Kudus. (MuriaNewsCom).

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah sekolah di Kudus hanya memiliki siswa sedikit. Karenanya, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, berupaya mengefektifkan sistem pembelajarannya.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo mengatakan, pihaknya membuat Progam Guru Mengajar Bersama, khusus di tingkatan SD. Sistem yang diterapkan pada programnya adalah pendidik mengajar beberapa siswa dari masing-masing sekolah, ditempatkan di satu kelas.

“Teknisnya satu kelas diisi dari siswa sekolah lain. Contohnya, SDN 1,3,4 Mlati Norowito yang siswanya sedikit-sedikit, kemudian proses mengajarnya di satu ruang belajar di ruang kelas SDN 4 Mlati Norowito. Nantinya masing-masing kelas diisi guru satu orang, dan asisten diambilkan guru tidak tetap (GTT),” katanya kepada MuriaNewsCom.

Satu kelas berasal dari tiga sekolah. Begitu juga kepala sekolah, tetap ada tiga sekolah. Tapi gurunya hanya enam orang, sesuai dengan jumlah kelas. Awalnya jumlah guru hanya 11 orang dari tiga sekolah. Kini dipangkas jadi enam orang.

Sedangkan guru lain akan dimutasi ke sekolah yang masih kekurangan guru, dan ini dikhususkan guru pegawai negeri sipil (PNS).

Untuk kelebihan ruangan, nantinya bisa dimanfaatkan untuk fasilitas perpustakaan, kesenian dan lainnya. Selain itu kalau pendaftaran sekolah orang tua tetap bisa memilih karena secara administrasi masih sendiri-sendiri, hanya yang membedakan ruang kelasnya jadi satu.

Untuk saat ini, kata dia masih tahap sosialisasi di lingkungan sekolah. Joko menerangkan, sasaran program guru mengajar yakni SDN 2 Rendeng dan SDN 4 Rendeng, SDN 1 Singocandi dan SDN 2 Singocandi.

Editor : Akrom Hazami

Pentingnya Kesadaran Ortu Dalam Pendidikan Anak

Kepala SD 2 barongan Noor Afthina bersama guru Subala. (MURIA NEWS/EDY SUTRIYONO)

KUDUS – Keberhasilan anak dalam pendidikan tak hanya ditentukan di bangku sekolah. Peran orangtua juga memegang peranan penting dalam pengembangan diri seorang anak. Hal itulah yang disadari SD 2 Barongan dalam mendidik siswanya. Orang tua siswa diikutsertakan dalam proses pendidikan anak-anaknya.

Lanjutkan membaca

Juri: Biarkan Siswa Berkreatifitas Secara Mandiri

Para peserta menggambar yang diikuti anak didik PAUD dan siswa SD se-Kabupaten Kudus mengikuti perlombaan di Museum Kretek. (MURIANEWS / EDY SUTRIYONO)

KUDUS – Dewan juri lomba menggambar dan mewarnai tingkat PAUD dan SD/sekolah sederajad meminta setiap orang tua ataupun guru yang mendampingi  peserta lomba untuk tidak membantu anak didiknya dalam menyelesaikan lomba. Hal itu dikhawatirkan akan menghambat kreatifitas anak secara mandiri.

Lanjutkan membaca

Ini Alasan Banyaknya Peserta Menggambar dan Mewarnai di Museum Kretek Kudus

Para peserta menggambar yang diikuti anak didik PAUD dan siswa SD se-Kabupaten Kudus mengikuti perlombaan di Museum Kretek. (MURIANEWS / EDY SUTRIYONO)

KUDUS – Selain menambah ilmu, para peserta lomba menggambar dan mewarnai yang diikuti oleh siswa SD dan PAUD se-Kabupaten Kudus di Museum Kretek (15/5/2015), juga akan diberi hadiah uang tunai. Namun, hadiah tersebut hanya diberikan bagi para pemenang.

Lanjutkan membaca

Museum Kretek Kudus Diserbu Pengunjung

Para peserta menggambar yang diikuti anak didik PAUD dan siswa SD se-Kabupaten Kudus mengikuti perlombaan di Museum Kretek. (MURIANEWS / EDY SUTRIYONO)

KUDUS – Upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus untuk meramaikan Museum Kretek terbilang sukses. Lomba menggambar dan mewarnai tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Kudus berlangsung meriah.

Lanjutkan membaca