Tak Takut Kotor, Perempuan Cantik di Grobogan Ini Tak Malu Jadi Sopir Traktor

Petugas perempuan dari Dinas Pertanian Grobogan sedang mengoperasikan traktor roda empat di areal sawah di Desa Sumberejosari, Kecamatan Karangrayung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada pemandangan menarik yang terlihat di sebuah areal sawah di Desa Sumberejosari, Kecamatan Karangrayung, Grobogan. Hal ini terkait adanya seorang perempuan berseragam seperti pegawai yang terlihat sedang mengemudikan sebuah traktor roda empat.

Dari kejauhan, perempuan itu terlihat sangat mahir mengemudikan traktor warna biru. Kemahirannya menjalankan alat modern itu tidak kalah dengan dua pria yang juga mengoperasikan traktor tidak jauh dari lokasi itu. Selama hampir 30 menit, perempuan berambut sebahu itu mengarahkan traktor untuk membelah tanah sawah.

Perempuan yang mengenakan setelan celana panjang dan baju lengan panjang warna krem itu ternyata bukan petani. Tetapi seorang Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) Dinas Pertanian Grobogan yang bertugas di Kecamatan Karangrayung.

Petugas bernama Endrowati itu sengaja mengemudikan traktor untuk membantu mempersiapkan lahan yang akan dipakai tanam padi pada musim tanam (MT) labuhan nanti.

“Saya memang lagi belajar untuk bisa mengoperasikan traktor. Dengan begini, saya nantinya bisa mengajari petani bagaimana cara mengoperasikan traktor roda empat,” katanya.

Menurut Endrowati, Traktor yang digunakan untuk mempersiapkan lahan ada 3 unit. Masing-masing, milik Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) dari Desa Mojoagung, Klambu, dan Kemloko.

“Poktan Sumber Rejeki 2 selama ini sudah menjalin kerjasama dengan UPJA tersebut. Traktor ini merupakan bantuan dari pemerintah,” jelasnya, Rabu (23/8/2017).

Dijelaskan, persiapan lahan di Desa Sumberejosari untuk tanam padi MT labuhan memang harus dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Sebab, dalam MT labuhan nanti penanaman padi dilakukan dengan cara diulur atau memasukkan benih padi dalam lubang tanam.

“Areal yang dipersiapkan untuk MT Labuhan luasnya 93 hektare. Lahan tersebut berada di bawah naungan Poktan Sumber Rejeki 2 yang ketuanya dipegang Nur Salim.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto ketika dimintai komentarnya menyatakan, apa yang dilakukan petugasnya itu patut mendapat apresiasi. Terlebih petugas lapangannya tersebut adalah seorang perempuan.

“Saya salut dengan kemauan petugas lapangan itu untuk belajar bagaimana bisa mengoperasikan peralatan modern, seperti traktor roda empat. Tindakan itu patut diapresiasi,” katanya.

Edhie menambahkan, pada saat ini, sektor pertanian sudah mengalami perkembangan pesat. Untuk mendukung hasil produksi dan mempercepat pengolahan lahan, sudah tersedia peralatan modern.

“Pertanian saat ini sudah tidak identik dengan caping dan cangkul. Peralatan dengan teknologi modern sudah digunakan di sektor pertanian,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Dinas Pertanian Grobogan Mulai Antisipasi Serangan Hama pada Tanaman Padi

Sejumlah petani di Grobogan menggunakan alat pengasap untuk membasmi hama tikus (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dinas Pertanian Grobogan sudah mulai melakukan langkah untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya serangan hama pada tanaman padi. Tindakan itu dilakukan dengan harapan jika nanti muncul serangan hama akan mudah ditangani.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto mengungkapkan, antisipasi serangan hama itu memang lebih diintensifkan. Terutama untuk hama tikus dan wereng yang biasa menyerang tanaman padi.

“Kegiatan mengantisipasi hama sudah mulai kita lakukan di Kecamatan Godong, dan Penawangan. Untuk menekan gangguan hama, pihaknya menggandeng kerjasama dengan para petani. Yakni, untuk melakukan gerakan gropyokan tikus dan penyemprotan secara berkala,”

Menurut Edhie, salah satu upaya untuk mencapai target adalah menekan serangan hama sedini mungkin. Untuk itu, dia sudah menugaskan pada petugas penyuluh agar memonitor terus perkembangan di lapangan. Kemudian, semua kelompok tani sudah diminta agar segera melaporkan pada petugas terdekat jika muncul serangan hama di wilayahnya. Baik itu, hama tikus, wereng, penggerek batang dan lainnya. 

Editor : Akrom Hazami 

Banjir, 137 Hektare Lahan Padi Gagal Panen di Kudus

Anak-anak bermain di lahan sawah yang terendam banjir di salah satu sudut di Kabupaten Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Ribuan hektare (Ha) lahan pertanian di Kudus mengalami genangan air akibat hujan yang terus mengguyur, beberapa waktu terakhir. Akibatnya, sekitar 137 Ha lahan padi  mengalami gagal panen puso.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kudus, Catur Sulistiyanto mengatakan, pihaknya mencatat sedikitnya terdapat 1.080 Ha padi yang terendam air. Lahan itu menyebar di sembilan kecamatan di Kudus.

Rinciannya, lahan di 29 desa tersebar di lima kecamatan. Masing- masing di Kecamatan Undaan ada 377 Ha di 12 desa, di Kecamatatan Jati 142 Ha di 5 desa, Mejobo 301 Ha di 7 desa, Jekulo 199 Ha di 2 desa, dan Kecamatan Kaliwungu seluas 61 Ha di tiga desa.

Di Kecamatan Jati, dari lima desa yang sawahnya terendam, paling luas berada di Desa Jetiskapuan dan Pasuruan Kidul, masing- masing 60 Ha dan 55 Ha.  Di Mejobo, genangan terjadi di Desa Kesambi, Kirig, Jojo, Mejobo, Payaman, Gulang dan Temulus. Di Kecamatan Jekulo ada di Bulungcangkring dan Bulung Kulon. Sementara di Kecamatan Kaliwungu ada di Garung Kidul, Banget dan Setrokalangan.

Di Kecamatan Undaan, ada 12 desa yang lahannya terendam. “Tapi paling parah di Desa Wonosoco sekitar 100 Ha dan Ngemplak 70 Ha. Sedangkan sisanya yang terendam luasnya bervariasi,” kata Catur di Kudus, Jumat (17/2/2017).

Dari total yang terendam, sejauh ini memang 137 Ha tanaman padi yang dipastikan puso. Hal itu disebabkan usianya antara 55 hari hingga 85 hari. Serta lama terendamnya lebih dari sepuluh hari.

Sebagai daerah yang lahannya juga mengalami puso, Camat Undaan Catur Widiyanto tak bisa berbuat banyak. Bahkan dirinya juga mendapat kabar ada petani wilayahnya yang sampai tiga kali musim tanam, alami gagal panen.  “Ada yang sampai tiga kali tanam, yaitu di Desa Wonosoco, tapi tidak bisa panen karena tanamannya mati terendam air,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Panen Raya  di Undaan, Alat Perontok Padi Dikerahkan

Bupati Kudus Musthofa naik mobil alat perontok padi di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa naik mobil alat perontok padi di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Para petani di Desa Undaan Lor,  Kecamatan Undaan. Kabupaten Kudus, melakukan panen raya sekarang. Pada panen raya kali ini ada perbedaan dari sebelumnya, yaitu adanya alat canggih yang digunakan.

Suharto, anggota Kelompok Tani Mudi Waluyo Desa Undaan Lor mengatakan, alat tersebut merupakan Combi, yang biasa dikenal dengan nama alat perontok padi di persawahan. Dengan adanya alat tersebut, maka hasil panen bisa lebih maksimal. “Ini dalam satu jam mampu memanen sampai dengan 0,8 hektare. Jadi lebih cepat untuk panennya ketimbang panen manual,” kata Suharto kepada MuriaNewsCom di lokasi panen, Selasa (31/1/2017).

Keuntungan lain selain lebih cepat, alat tersebut juga mampu membuat hasil panen lebih bersih. Dengan alat itu, juga mampu mengurangi angka kehilangan padi saat panen hingga lima persen. Sementara jika panen biasanya, hasil panen yang hilang hingga 10 persen.

Alat tersebut biasanya disewa petani dengan harga Rp 45 ribu per kuintal padi. Alat disewa oleh gapoktan, kemudian dimanfaatkan anggotanya secara maksimal. Untuk kali ini, alat tersebut dipinjam dari PT Pura dengan tanpa biaya alias gratis. “Harapannya paguyuban atau kelompok tani mampu memiliki alat tersebut. Soalnya sangat membantu dan selama ini yang punya penebas besar. Kalaupun beli, juga biayanya besar mencapai Rp 390an juta,” ungkapnya.

Dalam panen raya, juga hadir Bupati Kudus Musthofa beserta SKPD, Ketua DPRD Kudus Mas’an, Kajari Kudus dan Dandim Kudus.

Editor : Akrom Hazami

 

Dintanhut Rembang Dorong Peningkatan Ketersediaan Sumber Air Melalui Jaringan Irigasi

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Ketersediaan air untuk pengairan lahan sawah menjadi salah satu kendala kurang maksimalnya produksi panen berbagai jenis tanaman di Rembang. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Rembang akan terus berupaya untuk memenuhi ketersediaan air guna pengairan sawah.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang Suratmin mengatakan, sebagian besar lahan pertanian di Rembang merupakan tadah hujan. Selain itu curah hujan terhitung masih rendah, sehingga dalam mengatasi hal tersebut perlu dibangun irigasi-irigasi.

“Untuk meningkatkan ketersediaan air bagi petani, tahun ini Dintanhut mengembangkan Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT). Pengembangan dilakukan dengan target 1.700 hektare,” ucapnya.

Sementara itu, untuk pembuatan dam parit, ada tujuh unit yang tersebar di Desa Menoro Kecamatan Sedan, Johogunung Kecamatan Pancur, Mlatirejo Kecamtan Bulu,Gedangan Kecamatan Rembang,Bogorame Kecamatan Sulang,Ngasinan dan Mojokerto Kecamatan Kragan. “Untuk embung, tahun ini ditarget empat unit. Kemudian pembangunan long storage 11 unit, pembuatan irigasi air tanah dangkal sebanyak 95 unit yang  tersebar di Sarang,Kragan dan Sluke,” imbuhnya.

Dia melanjutkan, pihak dinas terkait sudah mendata jalur-jalur yang bakal dibangun. Selain itu, dirinya juga mengakui bahwa untuk meningkatkan produksi pertanian, butuh kerja keras. Apalagi kendala alam seperti curah hujan dan ketersediaan sumber air tak melimpah banyak.

“Untuk itu, pemkab terus mendorong, selain dari anggaran pemerintah, perusahaan melalui CSR juga dipacu untuk ikut berpartisipasi. Yang sudah pasti dibangun sebanyak dua embung hasil dari CSR Semen Indonesia. Yakni embung di daerah Tegaldowo Gunem dan  di Maguan Kaliori,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Meski Sempat Terendam Banjir, Tanaman di Area Persawahan di Kudus Masih Bisa Dipanen

Pemberian beasiswa dari Mata Air Jepara kepada siswa berprestasi belum lama ini. (Istimewa)

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski beberapa waktu lalu area persawahan sempat terendam air. Namun kondisi tersebut dipastikan tidak mengganggu pertanian. Sebab kondisi tanaman masih hidup sehingga tetap dapat dipanen.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Kudus, Budi Santoso. Menurutnya, hingga kini sawah di Kudus masih aman termasuk juga tanaman yang ada di dalamnya.

”Masih aman, bahkan sekarang sudah tidak ada banjir lagi. Sehingga tinggal persiapan untuk panen,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, beberapa titik memang sempat menjadi genangan air akibat banjir. Namun kondisi tersebut tidak lama, sehingga padi masih dapat dipanen.

Seperti halnya daerah Kaliwungu, Undaan dan sebagian kawasan Mejobo. Banjir juga sempat menenggelamkan sebagian tanaman padi yang ada di sana. ”Tapi air tidak lama menggenangi area persawahan, jadi tidak terlalu mengganggu tanaman. Dan kini kondisinya juga semakin membaik,” ujarnya.

Tak hanya tanaman padi, namun juga tebu juga sempat terendam air. Namun dengan air yang cepat hilang, maka tebu dapat diselamatkan dari ancaman gagal panen. ”Kalau tebu malah lebih tinggi dari padi. Jadi kemungkinan hidup juga lebih besar,” ungkapnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Terancam Gagal Panen, Begini Aksi Heroik Pak TNI Blora

Babinsa Koramil 14/Todanan melakukan aksinya di sawah. (ISTIMEWA)

Babinsa Koramil 14/Todanan melakukan aksinya di sawah. (ISTIMEWA)

 

BLORA – Di lahan seluas satu hektare (Ha) milik Daryanto, Poktani Makmur, terancam gagal panen. Ini desebabkan selain kurangnya pengairan, lahan tersebut lahan tadah hujan. Sedangkan musim hujan tahun ini sementara belum merata.

Perlu kerja keras untuk mempertahankan tanaman padi tersebut, yakni Serda Supari Babinsa Koramil 14/Todanan terjun ke lapangan, mereka bersama Daryanto, Ketua Poktani Makmur Dukuh Soronini, Desa Sonokulon, Kecamatan Todanan Blora melakukan pengairan di lahan tanaman padi seluas satu hektare yang hampir mengering.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan pengairan, sambil menunggu hujan turun, pengairan diambilkan dari sumur patek yang ada di sekitar lahan dengan cara, menarik selang sepanjang puluhuan meter. Ini usaha sementara yang harus dilakukan,” kata Babinsa Serda Supari, Kamis (31/12) di rilis pers yang dikirim.

Terpisah, Daryanto pemilik Lahan, menyatakan terima kasih kepada Babinsa Serda Supari yang berperan aktif membantu kesulitan masyarakat desa setempat. “Ini perlu dipertahankan,” ujarnya. (AKROM HAZAMI)

TNI Blora Turun ke Sawah Perangi Hama Blas

Babinsa Banjarejo memberikan penyuluhan bersama UPTD Pertanian Banjarejo, antisipasi hama blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Babinsa Banjarejo memberikan penyuluhan bersama UPTD Pertanian Banjarejo, antisipasi hama blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Serda Sabar Harjono Babinsa Koramil 03/Banjarejo Kodim 0721/Blora bekerjasama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan dan Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) Pertanian kecamatan Banjarejo turun ke sawah. Kegiatan tersebut untuk memberikan penyuluhan dengan melakukan penyemprotan tanaman padi di lahan seluas 2,5 hektare, milik Daman dan Narto kelompok tani Dukuh Temboro, Desa Sumberagung, Kecamatan Banjarejo, Blora. Selasa (22/12/2015).

Salah satu kendala utama dalam peningkatan produksi padi adalah penyakit padi, salah satunya adalah penyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Penyakit blas yang lazim disebut tekek (cekik) ini dapat menurunkan hasil secara nyata. Karena menyebabkan leher malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa. Gangguan penyakit blas leher di daerah endemis, sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso.

”Adapun faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit blas diantaranya adalah iklim makro dan mikro, musim, suhu dan kelembapan, cara budidaya, lokasi, waktu tanam, dan varietas padi,” Jelas Mulyono Kepala UPTD Pertanian Banjarejo.

Terpisah Danramil 03/Banjarejo Kapten Inf Sukemi mengimbau dan mengajak para petani untuk selalu bekerjasama dan koodinasi dengan Babinsa, PPL, dan UPTD. Danramil berharap di kegiatan peyemprotan ini harus tuntas. Agar panen nantinya mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak gagal panen.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Barokah Jaya, Kasturi, mengucapkan banyak terima kasih kepada TNI khususnya Babinsa Koramil 03/Banjarejo Sabar Harjono, yang selalu aktif memberikan penyuluhan juga contoh kepada petani di desa ini. ”Tata cara melaksanakan penanggulangan hama pada tanaman padi agar tahan terhadap serangan hama,” tutur Kasturi. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Normalisasi Saluran Irigasi Bantu Stok Irigasi Lahan Pertanian di Kudus

Salah satu petani di Kudus sedang mengecek kualitas padinya di musim kemarau seperti saat ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu petani di Kudus sedang mengecek kualitas padinya di musim kemarau seperti saat ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS – Berkurangnya debit air persawahan, nampaknya bukan hanya terjadi karena kemarau yang berkepanjangan. Melainkan, kondisi penampungan air yang sudah rusak juga menjadi kendala dalam menahan air.

Kadinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, Budi Santoso mengatakan, dengan menormalisasi sungai Jratun sepanjang sekitar dua kilometer dapat membantu para petani dalam mengairi areal persawahannya. Namun diakuinya hal tersebut tidaklah mudah.

”Normalisasi sungai saat kemarau diharapkan dapat menjadi tandon air untuk berbagai kepentingan termasuk pertanian. Sebaliknya, ketika musim banjir tiba digunakan sebagai pembuang atau mengurangi genangan di lahan pertanian,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, wilayah tersebut merupakan wilayah genangan air. Sehingga sangat diuntungkan jika dilakukan normalisasi. Karena mampu menampung air saat musim penghujan dengan jumlah yang lebih banyak.

Dia mengatakan, masalah normalisasi sulit dilakukan oleh pemkab, selain terkendala biaya yang banyak, normalisasi menjadi kewenangan Balai Besar di Semarang.
Dia menambahkan, pengalaman sebelumnya, air irigasi dimungkinkan baru tersedia pada bulan Oktober. Bila dipaksakan dilakukan proses tanam, panen akan bersamaan dengan musim penghujan. Kesimpulannya, terlalu berisiko untuk memulai tanam bila kondisi di sekitarnya seperti itu.

”Petani baru memulai proses tanam pada Maret atau April tahun berikutnya. Sebenarnya, mereka dapat saja memulai tanam saat sekarang. Hanya saja, untuk mendapatkan air irigasi terpaksa harus menggunakan sumur pantek dan sejenisnya. Upaya seperti itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. (FAISOL HADI/TITIS W)

Kurang Irigasi, 600 Hektare Sawah di Kudus Terpaksa Nganggur

Salah satu petani di Kudus sedang mengecek kualitas padinya di musim kemarau seperti saat ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu petani di Kudus sedang mengecek kualitas padinya di musim kemarau seperti saat ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Musim kemarau yang berkepanjangan, membuat debit air menurun. Termasuk juga dalam hak irigasi persawahan. Dampaknya, sekitar 600 hektare sawah di Kudus sengaja dianggurkan.

Kadinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, Budi Santoso, mengatakan, kemarau tahun ini terjadi lama, sehingga banyak debit air yang digunakan untuk petani berkurang bahkan habis. Kondisi parah juga dialami oleh sektor pertanian yang mengandalkan air hujan dan tampungan sungai untuk kebutuhan irigasi.

”Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, petani baru memulai tanam pada musim tanam berikutnya. Hal itu disebabkan menunggu datangnya air yang digunakan dalam irigasi pertanian,” ungkapnya.

Menurutnya, sejumlah desa pada dua kecamatan, Mejobo dan Jekulo, sengaja tidak diolah pemiliknya. Mereka khawatir proses tanam yang dilakukan berakhir dengan gagal panen. Kondisi tersebut diakibatkan persoalan ketersediaan irigasi dan potensi banjir di kedua wilayah itu.

Dia mengatakan, selama MT I nanti, lahan sengaja tidak digarap oleh pemilik sawah. Saat sekarang, pasokan irigasi di kedua kawasan tersebut belum mencukupi. Biasanya, lahan di kawasan itu mendapatkan irigasi dari sungai Logung di sisi utara dan ada sebagian yang mendapatkan dari sungai Jratun di sisi selatan. Kemarau panjang membuat penurunan debit di kedua sungai tersebut. (FAISOL HADI/TITIS W)

1.010 Hektare Lahan Sawah di Pati Rusak Karena Kekeringan

Kondisi lahan jagung di salah satu kecamatan Winong saat kekeringan panjang melanda. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi lahan jagung di salah satu kecamatan Winong saat kekeringan panjang melanda. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 1.010 hektare lahan sawah di 10 kecamatan di Kabupaten Pati mengalami kerusakan, lantaran kekeringan panjang akibat musim kemarau. Lahan tersebut menjadi keras, nelo (pecah-pecah), dan tandus.

Salah satu kecamatan dengan tingkat kekeringan terparah dialami Kecamatan Winong yang mencapai 17 desa. Karena itu, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati akan membentuk tim reaksi cepat untuk mengatasi masalah tersebut.

”Kami akan membentuk tim reaksi cepat untuk menangani masalah ini. Kami akan menentukan titik kekeringan, kemudian memberikan bantuan kepada petani agar tidak sampai puso lagi,” ujar Kepala Dispertanak Mochtar Effendi kepada MuriaNewsCom.

Ia mengaku, kekeringan di Pati memiliki dampak yang signifikan di bidang pertanian. Hampir sebagian besar sawah petani mengalami puso (tidak mengeluarkan hasil). (Lismanto/TITIS W)

Puluhan Hektare Sawah Terancam Longsor

REMBANG-Puluhan hektare areal pertanian di Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten  Rembang terancam longsor. Kondisi tersebut akibat tidak adanya saluran air  untuk menampung air hujan yang mengalir deras saat curah hujan tinggi seperti sekarang. Sehingga, saat musim hujan,  hampir seluruh area persawahan di Dusun Tanjung Lor terendam air.
Salah seorang petani Sudarjo mengatakan, lahan sawahnya seluas sekitar 20×15 meter longsor akibat tergerus air dan longsoran tanah hanyut terbawa air. Akibat terkena longsor, selain rugi karena luas lahannya berkurang, tanaman padi yang sudah tertanam juga turut amblas.
Menurut warga RT 03/01 Desa Tanjung tersebut, jika tidak ada penanganan khusus, maka ancaman longsor di sekitar lokasi bisa semakin meluas.”Kami hanya pasrah dan berharap agar ada perhatian dari pemerintah untuk melakukan penanganan darurat,” katanya kepada Koran Muria, Selasa (28/1).

Lanjutkan membaca