FASBuK Bakal Hadirkan Rhy Husaini dan Ima Yaya

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) kembali digelar. Pada edisi bulan Maret ajang itu akan menghadirkan pertunjukan musik, puisi, cerpen dan diskusi oleh dua sastrawan yakni Rhy Husaini dan Ima Yaya.

Pertunjukan sendiri akan mengambil tempat di Kampus UMK Gondangmanis, Kecamatan Bae, pada hari Jumat (30/3/2018) mulai pukul 19.30 WIB.

Pada kesempatan itu Rhy Husaini akan menampilkan sebuah karya bertajuk “ANAHOM”. Ia sendiri merupakan penulis yang telah menelurkan beberapa karya, berupa antologi puisi dan essai. Selain itu, sastrawan ini juga kerap menampilkan karya-karyanya di Kota Gudeg maupun Kota Kretek.

Sedangkan Ima Yaya merupakan seorang tenaga pendidik di salah satu lembaga pendidikan kota Kudus yang sejak kecil mencintai puisi, terhitung sejak tahun 1998 aktif berteater di kota Solo, semarang dan menjadi pendiri Teater SAKA di Kudus.

Pada kesempatan tersebut, dirinya akan menampilkan sebuah karya yang bertajuk “Si Bola Mata”.

Acara ini sendiri, didukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan Kajian Kreatifitas Seni Obeng Fakultas Tekhnik Universitas Muria Kudus.

FASBuK sendiri adalah, ruang kerja fisik dan pemikiran untuk mencipta inovasi serta varian-varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal. Harapannya, ruang seni ini mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran.

Editor: Supriyadi

Sanggar Gaperto Jepara Sukses Gelar Lomba Baca Puisi Kreatif

Peserta membaca puisi dalam gelaran Lomba Baca Puisi yang diadakan Sanggar Gaperto Art Community (GAC) di Sanggar GAC Mlonggo, Jepara, beberapa waktu lalu. (GAC)

MuriaNewsCom, Jepara – Sanggar Gaperto Art Community (GAC) menggelar agenda Lomba Baca Puisi Kreatif (LBPK) ke-6, di Sanggar GAC Mlonggo,  Jepara, beberapa waktu lalu. 

Hal itu diadakan sebagai bentuk komitmennya terhadap kiprah kesenian Jepara. LBPK tahun 2017 ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Art & Theatre Director GAC, Didid Endro S mengatakan, perbedaan yang sangat mencolok adalah pada kategori Pelajar. LBPK pertama hingga ke-5 tahun lalu, untuk kategori Pelajar tingkat Keresidenan Pati saja. 

“Tetapi untuk tahun ini, kategori Pelajar dan Umum semuanya se-Provinsi Jawa Tengah,” katanya.

Selain itu, yang membedakan adalah kreativitas dan eksplorasi peserta yang semakin berwarna. Bahkan ada anak-anak yang mengikuti lomba pada kategori Umum. Pada pelaksanaan LBPK untuk kategori Pelajar hanya menerima SMA/SMA/MA sederajat, atau tidak melibatkan pelajar SD maupun SMP.

Hal ini sengaja dilakukan umtuk menghindari banyaknya peserta yang mengikuti lomba. Pihaknya membatasi kuota peserta lomba maksimal 100 peserta untuk dua kategori. 

“Kami sengaja membatasi jumlah peserta karena bukan sekadar mengejar kuantitas, tetapi kami butuh waktu yang cukup dalam pelaksanaan lomba ini,” tegas Didid.

Dalam lomba ini, lanjut Didid, sangat berbeda dengan lomba baca puisi pada umumnya. LBPK adalah sebuah lomba baca puisi di ruang terbuka (outdoor). Para peserta diberi kebebasan mengeksplorasi lingkungan sekitar sesuai kemampuan masing-masing.

Setelah registrasi (daftar ulang) peserta diberi waktu untuk memilih titik lomba dengan didampingi panitia. Kemudian peserta juga diberi kebebasan menata titik lomba yang dipilihnya. Bahkan peserta juga diperkenankan membawa atau menggunakan alat musik sebagai ilustrasi pembacaan puisinya.

“Meski sebegitu kreatifnya para peserta, kami tetap tidak melupakan kaidah-kaidah pembacaan puisi pada umumnya. Untuk itulah kami memilih juri juga tidak asal-asalan”, tambahnya

Didid bersama Gaperto berharap, dengan adanya LBPK yang rutin digelar setiap tahun ini ada semangat baru terhadap pengembangan kesusasteraan di Jepara khususnya dan di daerah masing-masing para peserta. Selain itu, Didid juga berharap bahwa yang telah ia lakukan bersama sanggarnya tersebut bukan suatu hal yang mubazir bagi daerahnya.

Komitmen atas alasan tersebut juga dibuktikan Didid bersama Gaperto, yakni trofi para pemenang LBPK dibuat dari kayu jati dan berukir khas Jepara. Trofi tersebut merupakan terbaik dalam lomba baca puisi selama ini. Kemudian, materi lomba juga diambil dari puisi-puisi karya penulis Jepara, dalam buku puisi Membaca Jepara yang sengaja ia terbitkan pula di setiap tahunnya.

Adapun nama juaranya, untuk kategori Pelajar adalah Kinanti, asal SMK N 3 Jepara, Desinta Mutiara Putri asal SMAN 3 Slawi, dan Fitri Ratri asal SMK Kosgoro Kedawung. Sedangkan untuk kategori Umum adalah Noor Arief AR dari Welahan Jepara, Ismi Nurjikha asal Warungasem Batang, dan Siti Magfuroh asal Pangkah Tegal.

Dia menuturkan, LBPK ke-6 sekaligus mengawali peluncuran buku puisi Membaca Jepara jilid 3. Buku tersebut memuat 169 puisi dari 35 penulis asli Jepara yang penerbitannya difasilitasi sepenuhnya oleh Sanggar GAC. Peluncuran buku tersebut juga merupakan bentuk komitmennya sebagai aktifis kesenian di bidang kesusasteraan serta sebagai Komite Sastra Dewan Kesenian Daerah (DKD) Jepara.

Ia bercita-cita setiap tahun akan menerbitkan satu buku puisi untuk Jepara dan menampung penulis-penulis asli Jepara. Kali ini sudah pada jilid yang ke 3. 

“Saya bersyukur sampai hari ini masih bisa menerbitkan buku puisi jilid 3. Saya berharap penerbitan ini hingga jilid yang tak terhingga dan menampung penulis Jepara sebanyak-banyaknya, sehingga perkembangan dunia sastra di Jepara juga semakin terlihat. Tetapi ini bukalah hal yang gampang tanpa didukung dari berbagai pihak yang perduli dengan kesenian Jepara”, tambahnya

Lebih lanjut, dia berharap buku yang ia terbitkan tersebut bisa terakomodasi di perpustakaan-perpustakaan sekolah baik SMP, SMA maupun SMK dan MA.

Editor : Akrom Hazami

Fasbuk Akan Gelar Kegiatan Tari Karya Sanggar Seni Ciptoning Asri Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Info terbaru, Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerja sama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus akan kembali menggelar lawatan rutin sastra dan budaya. Kali ini menampilkan pertunjukan tari dan diskusi budaya dengan menghadirkan judul “Nitik Sasmaya” di auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Sabtu (19/8/2017) pukul 19.30 WIB.

Ketua Badan Pekerja Fasbuk Arfin mengatakan, edisi Agustus 2017 mengangkat sebuah pertunjukan tari karya dari Sanggar Seni Ciptoning Asri Kudus, dengan judul ” Nitik Sasmaya ” (Keindahan dari Gabungan Titik-titik). “Sebuah pertunjukan yang akan menggambarkan keindahan karya batik yang telah ada secara turun temurun dan dilestarikan sampai sekarang. Membatik merupakan salah satu pembelajaran pengendalian diri, mempererat tali persaudaraan dan persatuan,” katanya dalam rilis pers ke MuriaNewsCom.

Proses pembuatan batik dari mulai menggambar pola, nyanting, hingga nglorot yang dilakukan dengan bekerja sama, akan menghasilkan karya yang indah sebagai bukti keindahan dari negeri ini. Dalam pengkaryaan tersebut terdapat nilai-nilai luhur pembelajaran tentang makna dan nilai-nilai kehidupan. Semua itu akan dirangkai dalam sebuah rangkaian koreografi yang akan dimainkan oleh para penari dari Sanggar Seni Ciptoning Asri. Selain pertunjukan nantinya juga akan dilanjutkan dengan sesi bincang-bincang bersama tentang proses penciptaan karya Nitik Sasmaya.

Tentang Fasbuk, adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara kontinyu untuk mencipta inovasi serta varian-varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal yang nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.

Editor : Akrom Hazami

Berteriak Lantank Meriahkan Kegiatan Fasbuk Malam Tadi di UMK 

Grup band Berteriak Lantank tampil apik dalam pentas yang diadakan Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Senin (31/7/2017) malam. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Grup band Berteriak Lantank tampil apik dalam pentas yang diadakan Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Senin (31/7/2017) malam.

Grup band tersebut mampu menyedot massa dan mampu apik berinteraksi dalam pementasan. Sejumlah lagu dibawakan dengan menarik. Lagu-lagu mereka juga sudah akrab di telinga penonton. Sebagian besar penonton ikut bernyani.

Dalam acara yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB tersebut, tak hanya ditampilkan hiburan musik. Tapi ada juga sastra puisi. Seperti halnya penampilan dari SMK Assaidiyah Kudus. Pembacaan puisi nan apik, mampu menghanyutkan suasana.

Acara dibuka Rektor UMK Suparnyo langsung. Dalam kesempatan itu, Suparnyo berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan. Karena kegiatan mampu menjadi wadah untuk berkarya.

Khayati, salah satu penonton Fasbuk mengaku senang atas pementasan semalam.  Dia sangat menyukai grup Berteriak Lantank.

“Lebih senang musik, soalnya kalau pas pementasan musik diusahakan akan datang. Kalau yang lain kadang-kadang saja liatnya,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Sajak Cinta Sapardi Djoko Damono Malam Ini di UMK

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus akan kembali menggelar lawatan rutin sastra dan Budaya.

Kali ini menampilkan diskusi serta pertunjukan dengan menghadirkan tema “Sajak Cinta Sapardi Djoko Damono” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis PO BOX 53 Bae, Kudus, Senin (20/3/2017) pukul 19.30 WIB.

Ketua Badan Pekerja Fasbuk Arfin AM mengatakan, Fasbuk edisi bulan Maret 2017 bertepatan dengan tanggal dan bulan kelahiran dari Sang Maestro, Prof Dr Sapardi Djoko Damono. Salah satu tokoh sastrawan yang sangat populer, tidak hanya di kalangan para penyair, namun juga di kalangan masyarakat umum terutama anak muda, karena sajak-sajak cinta miliknya.

“Dan pada kesempatan kali ini, Fasbuk akan menghadirkan pertunjukan musik dari kelompok Gado-Gado Coustik juga Sikustik milik HMP SI yang akan mengaransemen puisi Sapardi Djoko Damono,” katanya dalam rilis persnya.

Di sela-sela pertunjukan juga akan diadakan diskusi tentang kedalaman makna serta keindahan sajak cinta yang dimainkan oleh para penampil. Pada edisi ini yang akan menjadi narasumber adalah Widya Hastuti Ningrum, guru pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia, yang juga aktif sebagai sekretaris KPK (Keluarga Penulis Kudus).

Sekilas tentang Fasbuk, adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara kontinyu untuk mencipta inovasi serta varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal.  Yang nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.

Secara rutin tiap bulannya Fasbuk menggelar acara sastra dan seni budaya yang meliputi apresiasi sastra, sarasehan budaya, pertunjukan musik, tari dan pementasan drama/teater, dan sebagainya. Acara tersebut di gelar di berbagai tempat kantong-kantong Budaya di Kudus.

Editor : Akrom Hazami

Fasbuk Sukses Gelar Acara Merenda Untaian Karya Aryo Gunawan

Adik seniman Aryo Gunawan dalam acara Fasbuk di Auditorium UMK, Selasa. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation dan bekerjasama dengan KSR PMI milik Universitas Muria Kudus sukses menggelar lawatan rutin Sastra dan Budaya.

Mereka mengangkat tema “Merenda Untaian Karya Aryo Gunawan” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis PO.BOX 53 Kudus,  Selasa, 28 Februari 2017, malam.

Ketua Badan Pekerja Fasbuk Arfin AM mengatakan, pertunjukan edisi bulan Februari 2017 berlangsung sukses. Fasbuk mengangkat tema “Merenda Untaian Karya Aryo Gunawan“.

Diketahui, Aryo Gunawan adalah salah satu sosok seniman, budayawan, dan penulis yang ikut mendirikan Fasbuk.

“Banyak sekali tulisan beliau berupa cerpen, puisi maupun naskah drama. Untuk mengenang beliau, karya-karyanya akan diapresiasi ke atas panggung menjadi sebuah pertunjukan musik sastra yang dibawakan oleh Teater STUDIO ONE,” kata Arfin di rilis persnya ke MuriaNewsCom.

Ada juga pertunjukan, pembacaan karya beliau yang dilakukan oleh komunitas maupun penyair muda perwakilan dari Pena Kampus dan LPM Paradigma STAIN.

Fasbuk adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara kontinu untuk mencipta inovasi serta varian-varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal.

Yang nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.

Editor : Akrom Hazami

Fasbuk Sukses Adakan Kegiatan Sastra “Kreatif itu Keren”

Salah satu penyair muda membacakan karya puisi dalam perhelatan Fasbuk di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis PO. BOX 53 Bae, Kudus, Selasa (31/1/2017) malam. (ISTIMEWA)

Salah satu penyair muda membacakan karya puisi dalam perhelatan Fasbuk di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Kudus, Selasa (31/1/2017) malam. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation, bekerjasama dengan KSR PMI Universitas Muria Kudus,  akhirnya sukses menggelar diskusi serta pertunjukan dengan tema “Kreatif Itu Keren” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Bae, Kudus, Selasa (31/1/2017) malam.

Panitia Arfin AM mengatakan, kegiatan Fasbuk edisi Januari 2017 menghadirkan Sastrawan Aceh dan Tangerang. Selain diskusi, digelar pertunjukan pembacaan puisi dari  penyair muda Kudus yang mengapresiasi atas karya kedua narasumber, Mustafa Ismail dan Iwan Gunadi.

“Mereka merupakan dua sosok sastrawan atau penulis yang mempunyai ciri  khas dalam karyanya. Keduanya mempunyai bekal pengalaman perjalanan yang hampir sebanding dalam hal “menulis”, Mustafa Ismail seorang penulis kelahiran Aceh, sekarang tinggal di Jakarta aktif  di majalah Tempo sebagai Direktur Seni / Budaya. Banyak karyanya yang dimuat di berbagai media cetak lokal maupun nasional,” katanya.

Sedangkan Iwan Gunadi  seorang penulis yang mempunyai  pengalaman menjadi seorang “pendidik” ini sejak tahun 2008 merupakan seorang penulis dan penyunting lepas bagi organisasi dan perusahaan. “Kejujuran dan semangat yang membuat keduanya sekarang bertahan sebagai penyair,” ujarnya.

Diskusi  dimoderatori oleh salah satu satrawan Kudus Jumari HS. Kegiatan berjalan meriah. Fasbuk mengadakan acara rutin setiap bulannya. 

Editor : Akrom Hazami

Fasbuk Gelar Pertunjukan “Kreatif itu Keren”, 2 Sastrawan Dihadirkan

fasebukkk

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang di dukung Bakti Budaya Djarum Foundation, bekerjasama dengan KSR PMI Universitas Muria Kudus,  menggelar lawatan rutin sastra dan budaya. Kali ini, menampilkan diskusi serta pertunjukan dengan menghadirkan tema “Kreatif Itu Keren” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis PO. BOX 53 Bae, Kudus, Selasa (31/1/2017) pukul 19.30 WIB.

Fasbuk edisi Januari 2017 mengangkat apresiasi sastra yang menghadirkan Sastrawan Aceh dan Tangerang. Selain diskusi, akan ada pertunjukan pembacaan puisi dari  penyair muda Kudus yang mengapresiasi atas karya kedua narasumber. Mustafa Ismail dan Iwan Gunadi. Mereka merupakan dua sosok sastrawan atau penulis yang mempunyai ciri  khas dalam karyanya. Keduanya mempunyai bekal pengalaman perjalanan yang hampir sebanding dalam hal “menulis”, Mustafa Ismail seorang penulis kelahiran Aceh, sekarang tinggal di Jakarta aktif  di majalah Tempo sebagai Direktur Seni / Budaya. Banyak karyanya yang dimuat di berbagai media cetak lokal maupun nasional.

Lalu, Iwan Gunadi  seorang penulis yang mempunyai  pengalaman menjadi seorang “pendidik” ini sejak tahun 2008 merupakan seorang penulis dan penyunting lepas bagi organisasi dan perusahaan. Kejujuran dan semangat yang membuat keduanya sekarang bertahan sebagai penyair. Oleh karena itu, bagi seorang pemula atau penulis generasi muda tentu menjadi suatu usaha yang penting dalam mengenal jejak kreatif dari kedua sastrawan ini. Diskusi akan di moderatori oleh salah satu satrawan kudus Jumari HS.

Fasbuk sendiri adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara kontinyu untuk menciptakan inovasi, serta varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal. Yang nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya. Secara rutin tiap bulannya Fasbuk menggelar acara sastra dan seni budaya yang meliputi apresiasi sastra, sarasehan budaya, pertunjukan musik, tari dan pementasan drama/teater, dan sebagainya. Acara tersebut di gelar di berbagai tempat kantong-kantong Budaya di Kudus.

Editor : Akrom Hazami

Pelaku Seni Apresiasi Keberlangsungan Pementasan Budaya di Kudus

Salah satu penampilan dari talen dalam kegiatan yang diselenggarakan FASBuK (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu penampilan dari talen dalam kegiatan yang diselenggarakan FASBuK (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan pementasan kebudayaan yang cukup sering ditampilkan di Kudus, dinilai membawa tren positif untuk keberlangsungan kesenian di Kudus.

Hal itu disampaikan pelaku seni di Kudus Asa Jadmiko, yang juga sebagai narasumber pada kegiatan diskusi tentang budaya yang diselenggarakan Forum Apresiasi Budaya Kudus (FASBuK) pada Rabu (23/3/2016) malam di Gedung Universitas Muria Kudus (UMK).
Menurutnya, kesenian dan kebudayaan di Kudus cukup bagus, sehingga rantai kesenian masih tetap tersambung.

“Kalau di Kudus itu budaya masih bagus, kesenian juga. Terbukti, dari pementasan yang sering dilakukan oleh kelompok seni. Setidaknya, sebulan sekali pasti ada pementasan yang diadakan oleh kelompok seni atau yang lainnya,” katanya.

Kondisi tersebut, menurutnya sangat berbeda dengan keadaan di beberapa kota lainnya. Sebab, di beberapa daerah, kegiatan seni seperti teater dan sastra masih jarang. Bahkan untuk mencapai sebuah pertunjukan juga masih kurang bisa dinikmati.

Hal tersebut mendapatkan tanggapan dari salah satu peserta diskusi, yang menyatakan jika masih banyak pelaku seni di Kudus yang belum tertampung didalam pementasan. Cukup banyak, katanya, budayawan kawakan yang kini tidak memiliki wadah untuk berkreasi lagi.

Editor : Kholistiono

Puluhan Pelajar SMA di Kudus Antusias Ikuti Diskusi Menulis Karya Sastra

Pementasan pembacaan puisi dalam pementasan di Auditorium UMK di acara FASBUK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pementasan pembacaan puisi dalam pementasan di Auditorium UMK di acara FASBUK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan pelajar se Kudus, dalam hal ini yang diwakili oleh teater sekolah sangat antusias mengikuti diskusi tentang penulisan puisi. Para pelajar yang aktif dalam teater, rela datang hingga malam hari guna mengikuti kegiatan di Auditorium UMK.

Panitia penyelenggara Arfin mengutarakan, kegiatan Rabu malam tadi (23/3/2016) merupakan lanjutan dari kegiatan bulan kemarin. Yaitu, tentang kepenulisan karya sastra dan memotivasi para pemuda dalam hal tulisan.

”Jadi peserta bisa menggemari kesusastraan, untuk penampilan hanya apresiator anak muda yang kebetulan masih aktif di teater sekolahnya masing-masing,” katanya kepada MuriaNewsCom.
Menurutnya, siswa yang dimaksud bukan atas nama sekolah. Melainkan atas nama pihak teater sekolah. Sehingga, tidak mematok tingkat pendidikan SMP ataupun SMA.

Dalam kegiatan tersebut juga tidak hanya belajar menulis. Melainkan ada pembacaan puisi yang dibacakan oleh para siswa, serta pemateri yang dihadirkan. ”Pementasan yang berlangsung, berupa pembacaan puisi karya dari penyair nasional Chairil Anwar. Selain itu, karya dari narasumber juga dibacakan yakni dari Mas Asa Jatmiko,” ujarnya.

Narasumber juga seorang seniman, yaitu seorang penulis essay budaya dan juga aktif menulis puisi. Dan yang paling terpenting juga, dia juga dikenal seorang pembaca puisi kawakan. Selain membacakan puisi yang sudah tenar. Peserta juga membacakan puisi karya mereka sendiri, di panggung yang sudah di persiapkan sebelumnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Karya Sastra Klasik Ini Akan Dibedah

Ilustrasi

Ilustrasi

 

BLORA – Upaya penerjemahan Serat Tapel Adam yang kini telah selesai dilakukan Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora dengan Museum Radya Pustaka Solo, direncanakan akan dibedah dan sebarluaskan ke khalayak umum.
Serat Tapel Adam ini merupakan sebuah karya sastra klasik karangan R. Ng. Ranggawarsita, pujangga terakhir di Jawa.

“Dalam waktu dekat kami akan membedah, dan menyebarkuaskan hasil terjemahan tersebut,” ujar Suntoyo, Kepala Bidang Kebudayaan DPPKKI, (06/01/2016).

Dalam bedah Serat Tapel Adam nantinya akan mendatangkan pakar budaya dan tim penerjemah dari museum Radya Pustaka. “Untuk tepatnya kami belum tentukan, yang pasti akan kami laksanakan dalam rangka melestarikan budaya Jawa,” tutur Suntoyo.

Hal itu merupakan bagian dari mempermudah khalayak umum untuk memahami isi dari Serat Tapel Adam.

“Memang maksud dari kami sebagai inisiator untuk mempermudah masyarakat sekarang yang sudah mulai lupa dan tidak tahu akan budaya lokal Jawa,” ungkapnya.

Suntoyo juga bermaksud menyebarkan hasil karya pujangga Jawa ke berbagai kalangan masyarakat. “Kami akan sebarkan setelah nanti kita bedah, kami akan taruh di perpustakaan yang ada agar masyarakat bisa mengetahui dan bisa memahami ajaran yang tetkandung dalam Serat Tapel Adam,” pungkasnya. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)

Sastra, Feminisme, Gender

Oleh Gunoto Saparie
Penyair tinggal di Semarang

Sesungguhnya feminisme lahir awal abad ke-20, dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya A Room of One’s Own (1929). Secara etimologis, feminisme berasal dari kata femme (woman), berarti perempuan yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak kaumnya sebagai kelas sosial. Tujuan feminisme adalah keseimbangan, interelasi gender. Dalam pengertian yang lebih luas, feminisme adalah gerakan kaum perempuan untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya.
Teori feminisme sebagai alat kaum perempuan untuk memperjuangkan hak-haknya, erat berkaitan dengan konflik kelas ras, khususnya konflik gender. Dalam teori sastra kontemporer, feminisme merupakan gerakan perempuan yang terjadi hampir di seluruh dunia. Gerakan ini dipicu oleh adanya kesadaran bahwa hak-hak kaum perempuan sama dengan kaum laki-laki. Keberagaman dan perbedaan objek dengan teori dan metodenya merupakan ciri khas studi feminis. Dalam kaitannya dengan sastra, bidang studi yang relevan, di antaranya tradisi literer perempuan, pengarang perempuan, pembaca perempuan, ciri-ciri khas bahasa perempuan, tokoh-tokoh perempuan, dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan kajian budaya, permasalahan perempuan lebih banyak berkaitan dengan kesetaraan gender. Feminisme, khususnya masalah-masalah mengenai perempuan, biasanya dikaitkan dengan emansipasi. Ini adalah gerakan kaum perempuan untuk menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki, baik dalam bidang politik dan ekonomi, maupun gerakan sosial budaya pada umumnya. Dalam sastra emansipasi sudah dipermasalahkan sejak tahun 1920-an, ditandai dengan hadirnya novel-novel Balai Pustaka, dengan mengemukakan masalah-masalah kawin paksa, yang kemudian dilanjutkan pada periode 1930-an yang diawali dengan Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana.
Contoh-contoh dominasi laki-laki, baik dalam bentuk tokoh-tokoh utama karya fiksi yang terkandung dalam karya sastra maupun tokoh faktual sebagai pengarang dapat dilihat baik dalam sastra lama maupun sastra modern. Kesadaran berubah sejak tahun 1970-an, sejak lahirnya novel-novel populer, yang diikuti dengan hadirnya sejumlah pengarang dan tokoh perempuan. Sebagai pengarang, di Indonesia perempuan memang agak jarang. Sepanjang perjalanan sejarah sastra Indonesia hanya terdapat beberapa pengarang perempuan, antara lain Sariamin, Hamidah, Suwarsih Djojopuspito, Nh. Dini, Rayani Sriwidodo, Tuti Heraty, Upita Agustin, Oka Rusmini, Ayu Utami, Dee Lestari, Abidah El Khalieqy, Evi Idawati, Ulfatin Ch, Dhenok Kristanti, Ernawati, dan lain-lain.

Lanjutkan membaca